Tag Archives: rengasdengklok

4 Spot Wisata Rengasdengklok dan Sekitarnya



Jakarta

Rengasdengklok merupakan salah satu kecamatan di Karawang yang dikenal karena sejarah. Berkunjung ke sini, traveler bisa berwisata di beberapa wisata sekitarnya.

Rengasdengklok menjadi salah satu saksi bisu kemerdekaan Indonesia. Di sanalah tempat Sukarno dan Hatta dibawa oleh kaum muda.

Saat itu, mereka berdua diculik untuk didesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia. Selain itu, diculiknya Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok juga dimaksudkan agar mereka terbebas dari intervensi Jepang.


Hasilnya, kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tak terlepas dari andil kejadian tersebut.

Berkunjung ke Rengasdengklok, traveler bisa berwisata hingga napak tilas ke beberapa spot wisata di sekitarnya.

Berikut 4 spot wisata di sekitar Rengasdengklok.

1. Rumah Djiauw Kie Siong

Rumah Djiaw Kie Siong (Andi Saputra/detikcom)Rumah Djiaw Kie Siong (Andi Saputra/detikcom) Foto: Rumah Djiaw Kie Siong (Andi Saputra/detikcom)

Salah satu yang paling lekat dengan Rengasdengklok adalah keberadaan rumah Djiauw Kie Siong. Rumah inilah yang menjadi tempatnya Sukarno sekeluarga dan Hatta diculik.

Berkunjung ke sini, traveler bisa napak tilas sejarah awal kemerdekaan dengan mendengarkan penuturan sejarah dari keluarga pemilik rumah ini.

Letaknya berada di Dusun Bojong, Rengasdengklok, berdekatan dengan sungai Citarum yang menjadi batas antara Rengasdengklok di Kabupaten Karawang dan Kedungwaringin yang sekarang masuk Kabupaten Bekasi.

Rumah ini dibangun pada 1920, artinya rumah ini telah berusia sekitar 103 tahun. Namun kini, rumah itu telah dipindahkan dari lokasi aslinya pada 1957 karena abrasi.

“Dulu rumah ini ada di dekat sungai. Tapi tahun 1950 itu ada banjir, karena abrasi, rumah dipindah, dicopot satu per satu kayunya dan dibangun ulang di sini,” kata Yanto, selaku cucu Djiauw Kie Siong, mengutip detikJabar, Senin (22/1/2024).

2. Monumen Kebulatan Tekad

Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok.Tugu Kebulatan Tekad Rengasdengklok. (Irvan Maulana/detikJabar)

Salah satu wisata yang identik dengan gerakan perjuangan di Rengasdengklok adalah Monumen Kebulatan Tekad. Itu karena monumen ini berada di bekas markas PETA (Pelindung Tanah Air).

Monumen ini berdiri setelah kemerdekaan, tepatnya 1950 dan diresmikan pada 17 Agustus 1950. Monumen ini memiliki beberapa arti yang melambangkan perjuangan kemerdekaan, antara lain:

  • Tundangan tugu: Menggambarkan perjuangan seluruh masyarakat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan
  • Badan tugu: Memiliki bentuk segi empat yang melambangkan kesatuan perjuangan bangsa.
  • Bulatan tugu: Memiliki bentuk bulat, menggambarkan bulatnya tekad dalam merebut kemerdekaan.
  • Kepalan tangan kiri: adalah aksen paling ikonik yang melambangkan perlawanan dan memegang teguh kemerdekaan.
  • Rantai dan tiang: selain sebagai penjaga monumen, melambangkan pula sebagai ikatan kokoh dan kuat dari seluruh rakyat Indonesia.

Berkunjung ke sini traveler dapat melakukan napak tilas era kemerdekaan hingga berburu foto di beberapa spot di sini.

3. Taman Hud-hud

Wisata Taman Hud-hud KarawangWisata Taman Hud-hud Karawang. (Irvan Maulana/detikJabar)

Berkunjung ke Rengasdengklok, traveler juga bisa mampir ke Taman Hud-hud. Tempat wisata ini memiliki beberapa hal menarik seperti kolam renang hingga taman burung dan beberapa wahana lainnya.

“Di sini ada kolam renang anak, outdoor dan semi indoor, ada lukisan 3D, wahana sepeda, ATV, kolam ikan, mini danau, taman burung, rumah pohon, karaoke di kapal, serta gazebo,” kata pemilik Taman Hud-hud, Iqbal Jamalulail, dikutip dari detikJabar, Senin (22/1/2024).

Menariknya, Taman Hud-hud disebut terinspirasi dari kisah Nabi Sulaiman AS.

Gus Iqbal menjelaskan dahulu Nabi Sulaiman dianugrahi mukjizat salah satunya dapat berbicara dengan hewan, “Kala itu ada seekor burung yang mengabarkan adanya seorang ratu cantik bernama Balqis penyembah matahari, pembawa kabar itu ialah burung Hud-hud,” kata dia.

Atas peristiwa itu, ratu Balqis kemudian menjadi istri Nabi Sulaiman berawal dari burung Hud-hud sebagai pembawa kabar. Oleh karenanya burung Hud-hud disebut sebagai burung pembawa kabar bahagia.

“Seperti namanya burung Hud-hud mengisyaratkan sebagai pembawa kabar yang bahagia, kita namai taman ini dengan nama burung itu,” kata Gus Iqbal.

Taman ini merupakan wisata ramah keluarga dengan luas sekitar 1,2 hektare. Lokasinya di Jalan Proklamasi, Desa Amansari, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Biaya tiketnya yakni Rp 30 ribu (weekday) dan Rp 50 ribu (weekend).

4. Kompleks Percandian Batujaya

Candi di KarawangCandi Batujaya Karawang. (Luthfiana Awaluddin)

Tak jauh dari Rengasdengklok, terdapat objek wisata yang menarik untuk didatangi, yakni Kompleks Percandian Batujaya.

Kompleks ini ditemukan disebut-sebut sebagai yang tertua di Indonesia dan lebih tua dari Candi Gedong Songo di Semarang. Puluhan candi kuno ini merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan diduga dibangun pada abad ke-4 Masehi.

Kompleks Percandian Batujaya terletak di hamparan seluas 500 hektar. Saking luasnya, hamparan candi tersebar. di antara tiga desa dan dua kecamatan.

Awalnya, situs ini terkubur di bukit kecil. Bukit tersebut menonjol di antara hamparan tanah dan sawah yang luas. Hingga akhirnya beberapa warga menemukan batu bata berwarna merah dan dilakukan ekskavasi dari tahun 1992 hingga 2000.

Selain melihat candi, berkunjung ke sini traveler juga bisa cuci mata lewat panorama hamparan sawah yang luas. Berkunjung ke sini disarankan naik kendaraan pribadi ataupun kendaraan sewaan.

Namun, jika traveler ingin menggunakan transportasi umum bisa naik dari Terminal Tanjungpura, Karawang dan memilih angkot jurusan Tanjungpura-Rengasdengklok. Dari pasar Rengasdengklok, traveler perlu melanjutkan dengan angkot jurusan Rengasdengklok-Batujaya. Lokasi kompleks candi ini berada sekitar 18 km dari Rengasdengklok.

(wkn/fem)



Sumber : travel.detik.com

Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di Karawang



Karawang

Rumah Djiaw Kie Song di Karawang adalah destinasi wisata sejarah yang menyimpan kisah penculikan Soekarno-Hatta. Akses mudah dan tanpa tiket masuk.

Peristiwa bersejarah itu terjadi di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada 16 Agustus 1945 atau sehari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada hari itu, dua tokoh penting Indonesia, Sukarno dan Mohammad Hatta, diculik oleh golongan muda, di antaranya Soekarni, Shodancho Singgih, dan Jusuf Kunto. Mereka mendesak agar segera dilakukan proklamasi kemerdekaan.

Sukarno dan Hatta dibawa ke rumah seorang petani keturunan Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong. Rumah Djiauw Kie Siong itu berada dii Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang.


Rumah itu sudah ditempati Djiauw Kie Siong sejak 1920. Tetapi, rumah itu sudah tidak berada di tempat aslinya. Rumah itu telah dipindahkan dari tepi Sungai Citarum pada 1957

Kini, rumah Djiaw Kie Song itu tidak jauh dari pusat kota Karawang, hanya berjarak sekitar 19,9 km. Kendati telah dipindahkan, banyak elemen asli seperti bata merah, dinding kayu, dan genteng tradisional masih dipertahankan, menambah daya tarik bagi pengunjung.

Kini rumah itu masuk dalam daftar cagar budaya.

Ramai Setiap Agustus

Kini, rumah itu menjadi destinasi wisata. Menurut pemilik rumah, yang merupakan istri dari cucu Djiaw Kie Song, yang akrab disapa Bu Yanto, rumah itu biasa menerima pengunjung. Jam operasional dimulai dari pukul 08.00 hingga 17.00, tetapi jam tersebut dapat diperpanjang saat ada acara komunitas, terutama pada Agustus.

Ya, di bulan Agustus, banyak acara yang digelar di sini. Mereka menjadikan rumah itu tidak hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai tempat ngumpul bareng menjelang 17 Agustus.

“Ramainya biasanya di bulan Agustus. Banyak sekali acara di sini pada bulan Agustus dan September, karena banyak peristiwa yang diperingati. Terakhir, komunitas pecinta alam sempat mengadakan acara di sini,” kata Bu Yanto dalam perbincangan dengan detikTravel.

Di bulan itu para pedagang di sekitar rumah turut ketiban rejeki. Mereka senang penjualan berlipat.

Mengenai perizinan untuk mengadakan acara, Bu Yanto menjelaskan, bahwa komunitas yang mengadakan acara di rumah bersejarah ini biasanya mengurus izin sendiri kepada RT dan RW, serta izin keramaian ke kepolisian.

“Tahapan untuk mengadakan acara di sini biasanya dimulai dengan izin dari saya atau suami. Namun, untuk perizinan di luar, seperti izin RT, RW, hingga izin keramaian ke kepolisian, itu mereka urus sendiri,” kata Bu Yanto.

Traveler tidak perlu khawatir mengenai biaya masuk, karena tidak ada biaya tiket yang dikenakan alias gratis. Pengunjung hanya pelru berdonasi sukarela yang digunakan untuk pemeliharaan bangunan.

Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di KarawangRumah Djiaw Kie Song, hidden gem wisata sejarah di Karawang (Asti Azhari/detikTravel)

Bangunan Tradisional

Bagi para traveler yang menyukai fotografi, rumah ini juga menawarkan banyak spot menarik. Struktur bangunan tradisional dengan bata merah dan atap genteng membuatnya sangat fotogenik, terutama saat matahari mulai terbenam.

Interior rumah yang kaya akan ornamen sejarah, seperti foto-foto lama dan replika kamar Soekarno, menambah daya tarik bagi wisatawan yang ingin menangkap momen unik melalui lensa kamera.

Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di KarawangRumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di Karawang (Asti Azhari/detikTravel)

Lokasi Rumah Djiaw Kie Song sangat strategis di Karawang. Meskipun awalnya terletak di tepi Sungai Citarum, saat ini rumah ini berada di Kalimati, sebuah area yang telah berkembang pesat.

Akses menuju rumah ini cukup mudah dengan kendaraan pribadi, dan area parkir di sekitar rumah juga luas, sehingga nyaman bagi para pengunjung.

Bagi yang ingin membawa pulang oleh-oleh, rumah ini bersebelahan dengan warung yang menjual makanan dan minuman ringan, sehingga traveler dapat beristirahat sejenak sambil menikmati suasana sekitar.

Warung-warung kecil di sekitar lokasi juga menjadi tempat bertemunya pengunjung dan warga lokal, menciptakan suasana yang hangat dan autentik.

Traveler yang ingin belajar lebih banyak tentang sejarah juga akan menemukan bahwa rumah ini menyimpan banyak cerita yang jarang diungkapkan dalam buku sejarah.

Pemandu lokal, seperti Bu Yanto, cucu dari Djiaw Kie Song, siap memberikan wawasan mendalam mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di rumah ini, termasuk penculikan Soekarno-Hatta dan bagaimana rumah ini digunakan sebagai tempat merumuskan strategi perjuangan oleh para pemuda.

Bagi keluarga atau rombongan wisata yang berkunjung, rumah ini menawarkan suasana yang tenang dan nyaman untuk dijelajahi bersama. Lokasinya yang luas membuatnya ideal untuk berjalan-jalan, dan suasana pedesaan yang masih terasa memberikan pengalaman wisata yang berbeda dari hiruk-pikuk kota.

Dengan segala daya tariknya, Rumah Djiaw Kie Song tidak hanya penting dari segi sejarah, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang memperkaya pengetahuan traveler.

Jika Anda seorang traveler yang tertarik dengan wisata sejarah dan ingin memahami lebih dalam perjuangan bangsa Indonesia, rumah ini adalah destinasi yang wajib ada dalam daftar kunjungan traveler di Karawang.

Cara Menuju ke Rumah Djiaw Kie Song

Bagi yang memilih transportasi umum, traveler dapat naik angkot 07 atau 17 dari Stasiun Karawang menuju Tanjung Pura, dengan pemberhentian di daerah Bojong atau lampu merah menuju Rengasdengklok.

Waktu yang ditempuh jika menggunakan kendaraan roda 4 sekitar 40 menit, tetapi menyesuaikan juga dengan keramaian dan kondisi jalan menuju destinasi.

Rumah Djiaw Kie Song bukan hanya sekadar saksi sejarah penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta pada 16 Agustus 1945, tetapi juga telah menjadi destinasi wisata yang menarik bagi para traveler.

Dengan akses yang mudah dan nilai sejarah yang kaya, rumah ini ideal bagi wisatawan yang ingin menjelajahi cerita kemerdekaan Indonesia. Traveler yang tertarik dengan sejarah akan menemukan pengalaman unik di rumah ini, di mana atmosfer perjuangan terasa di setiap sudutnya.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com