Tag Archives: road trip mg 4 ev

Mengenal Wayang Orang Sriwedari, Tradisi Tersohor dari Kota Solo



Solo

Liburan ke Kota Solo belum lengkap bila tak menonton pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Tak cuma menghibur, pertunjukan ini juga sarat budaya.

Suasana syahdu melingkupi Kota Solo selepas matahari terbenam. Kota di Jawa Tengah itu boleh saja sepi menjelang petang tapi tidak dengan kawasan Sriwedari yang menyelenggarakan pertunjukan wayang orang setiap malam.

Ketika detikcom datang ke Sriwedari beberapa waktu lalu, kawasan itu ramai dikunjungi muda-mudi yang hendak menyaksikan pertunjukan wayang orang. Penasaran dengan tradisi ini, detikcom kemudian berbincang dengan salah satu sutradara Wayang Orang Sriwedari yang bernama Harsini.


“Wayang orang adalah wayang yang diperankan orang, yang mengambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata. Di situ ada dalang yang fungsinya sebagai penegas atau memberikan suasana untuk wayang orang,” Harsini menjelaskan.

Wayang Orang SriwedariWayang Orang Sriwedari. Foto: Ari Saputra/detikcom

Sebagai seorang sutradara, Harsini bertugas untuk menyusun alur cerita dan menyiapkan para pemain yang akan memerankan pementasan. Uniknya, dalam gelaran Wayang Orang Sriwedari tidak terdapat script tapi para pemain yang profesional mampu membawakan diri sesuai alur cerita yang dibuat sutradara.

“Tidak ada script. Jadi pemain harus cepat beradaptasi. Kalau masuk di wayang orang, harus siap,” ujarnya.

Sebelum menjadi sutradara mulai 2019, Harsini terlebih dahulu menjadi pemain Wayang Orang Sriwedari sejak 1990. Dengan pengalaman puluhan tahun itu, dia bersama seorang sutradara lainnya, mampu membuat alur cerita yang berbeda-beda untuk pementasan yang dijadwalkan setiap hari Senin – Sabtu.

Wayang Orang SriwedariPemain Wayang Orang Sriwedari. Foto: Ari Saputra/detikcom

Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari semakin mantap dengan pemain-pemain andal yang didominasi anak muda. Mereka yang menjadi pemain Wayang Orang Sriwedari umumnya merupakan lulusan SMKI dan ISI.

“Dari pihak kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberikan peluang bagi yang mempunyai ijazah tari. Waktu dulu pokoknya kamu bisa menjadi wayang, itu bisa diambil. Tapi akhir-akhir ini tidak bisa dan untuk sekarang pun sudah tidak ada penerimaan rekrutmen lagi,” kata dia.

Sutradara Wayang Orang Sriwedari, HarsiniSutradara Wayang Orang Sriwedari, Harsini. Foto: Putu Intan/detikcom

Dengan mengandalkan pemain-pemain muda, Wayang Orang Sriwedari pun semakin diminati generasi muda. Melihat hal ini, Harsini tak khawatir dengan masa depan kesenian tradisional ini.

“Semakin ke sini, semakin banyak peminatnya wayang orang. Terbukti dari sekarang banyak penonton yang muda-muda. Banyak anak kecil dan remaja melihat ke sini karena banyak pemain muda,” kata dia.

(pin/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Wisata ke Museum Batik Pekalongan, Kamu Pantang Lakukan Ini



Pekalongan

Berwisata di Museum Batik Pekalongan, ada sejumlah aturan yang wajib traveler taati. Salah satunya dilarang menyentuh kain batik yang dipamerkan.

Museum Batik Pekalongan menyimpan koleksi batik dari berbagai daerah di Indonesia dan dunia. Museum ini memiliki koleksi sekitar 1.200 kain batik.


Jika berkunjung ke Museum Batik Pekalongan, traveler dapat mengenal berbagai jenis batik yang dipamerkan di tiga ruangan. Selain itu, di sana juga terdapat ruangan workshop untuk belajar membatik.

Bagi traveler yang ingin mempelajari mengenai sejarah batik dengan lebih menyenangkan, dapat pula mengunjungi ruang audio visual. Di sana, traveler akan menikmati pemutaran film tentang batik.

Karena museum ini menyimpan karya seni dan benda-benda bersejarah, terdapat aturan yang harus dipatuhi ketika berkunjung ke sana. Edukator Museum Batik Pekalongan, Denny, menjelaskan setiap pengunjung wajib menjaga eksistensi benda-benda di sana.

“Tidak boleh memegang koleksi karena nanti berpengaruh untuk kain,” kata Denny.

Selain itu, traveler juga dilarang membawa makanan dan minuman karena dikhawatirkan dapat mengotori kain batik. Kemudian, traveler juga tidak boleh mencoret, merusak, dan mengambil koleksi. Larangan lainnya adalah memotret menggunakan flash.

Sebaliknya, traveler harus menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempat sampah. Traveler juga harus menjaga ketertiban selama berkunjung di Museum Batik Pekalongan.

“Pengunjung harus tertib karena museum adalah tempat publik yang harus dijaga,” ujarnya.

Lebih lanjut, Denny mengajak traveler untuk datang ke Museum Batik Pekalongan. Ia mengatakan, semua pengetahuan mengenai batik ada di sini.

“Apapun yang diinginkan ada di sini. Kita sampaikan terutama ke masyarakat, ayo berkunjung ke Museum Batik,” kata dia.

====

detikTravel bersama detikoto melakukan perjalanan ini bersama MG Motor Indonesia dalam program ‘Ekspedisi 100 Tahun Batik & Wayang – Arti Sebuah Perjalanan’. Ikuti lebih jauh perjalanan tersebut pada tautan ini.

(pin/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Rekomendasi Tempat Wisata di Malioboro: Museum Benteng Vredeburg



Yogyakarta

Berwisata di Malioboro tak sekadar belanja atau nongkrong. Traveler juga dapat belajar sejarah di Museum Benteng Vredeburg.

Museum Benteng Vredeburg berada di kawasan Malioboro atau tepatnya berada dekat Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Museum ini berdiri kokoh di tengah hiruk pikuk Malioboro yang dipenuhi wisatawan tiap musim liburan.

Museum Benteng Vredeburg menyimpan koleksi berupa bangunan peninggalan Belanda serta diorama yang berisi kisah pembentukan negara Indonesia. Pada diorama-diorama itu traveler dapat mempelajari perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka, persiapan menuju kemerdekaan, kondisi pascakemerdekaan, hingga masa Orde Baru.


Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Sejarah ini dijelaskan dengan cara yang cukup menarik menggunakan patung, foto, dan lukisan. Selain itu terdapat fasilitas interaktif termasuk layanan audiovisual untuk membantu pengunjung mendapatkan pengetahuan.

Tak cuma mengenal sejarah, banyak juga pengunjung yang datang untuk berfoto. Benteng bersejarah itu memang memiliki arsitektur yang indah dan megah sehingga kerap diabadikan sebagai latar foto.

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Jam Buka dan Harga Tiket

Museum Benteng Vredeburg buka Selasa-Minggu. Harga tiket bervariasi berdasarkan usia pengunjung. Berikut penjelasan lengkap mengenai jam buka dan harga tiket.

Jam Buka:

  • Selasa – Minggu : 07.30 – 16.00 WIB
Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Harga Tiket:

  • Wisatawan mancanegara : Rp 10.000
  • Wisatawan lokal
    – Dewasa perorangan : Rp 3.000
    – Dewasa rombongan : Rp 2.000
    – Anak-anak perorangan: Rp 2.000
    – Anak-anak rombongan : Rp 1.000

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

Yang Hijau-hijau di Jogja, Wisata Tepi Sawah di Geblek Pari Nanggulan



Yogyakarta

Traveler yang berencana menghabiskan Tahun Baru di Yogyakarta, coba deh mampir ke Kulon Progo. Di sana terdapat restoran tepi sawah yang menarik bernama Geblek Pari.

Geblek Pari belakangan ini viral di kalangan wisatawan pemburu pemandangan hijau. Restoran yang terletak di Nanggulan, Kulon Progo itu memang berdiri di pinggir sawah dan menawarkan nuansa pedesaan.

detikTravel sempat berkunjung ke Geblek Pari beberapa waktu lalu. Untuk menuju Geblek Pari, traveler harus melewati desa yang sempit. Namun perjuangan itu terbayar lunas dengan suasana asri di sana.


Restoran ini cukup luas. Daya tampungnya dapat mencapai 700 orang.

Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaGeblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta. Foto: Putu Intan/detikcom

Selain tempatnya yang nyaman, traveler juga dapat menikmati masakan tradisional khas desa Kulon Progo. Di sini, traveler tak perlu memesan makanan melainkan langsung mengambil nasi dan lauk di dapur.

Menu andalan di sini antara lain bronkos hingga oseng klompong. Jangan lupa juga untuk memesan geblek yang merupakan ikon Kulon Progo.

Geblek adalah makanan tradisional yang terbuat dari tepung tapioka dan bumbu bawang yang digoreng gurih. Geblek ini mirip dengan cireng di Jawa Barat.

Sebagai makanan khas Kulon Progo, geblek juga menginspirasi penamaan restoran ini. Koordinator Geblek Pari, Ardi, menjelaskan nama restoran itu memang mengangkat kekuatan geblek di Kulon Progo.

“Geblek makanan khas Kulon Progo seperti cireng. Pari itu padi. Jadi, Geblek Pari itu artinya makan geblek sambil lihat padi,” kata Ardi.

Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaMakan dengan view sawah di Geblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta (Foto: Putu Intan/detikcom)

Nama ini sangat cocok karena traveler dapat menikmati makanan sambil menikmati hijaunya persawahan dan perbukitan di Nanggulan. Suasananya sungguh syahdu dan menenangkan.

Bila sudah kenyang, traveler juga dapat berkeliling sawah dengan menyewa kendaraan. Geblek Pari menyewakan skuter hingga ATV untuk digunakan pengunjung.

“Harga sewa ATV per jam Rp 100 ribu. Kalau skuter per jam Rp 30 ribu – 40 ribu,” ujar Ardi.

Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaGeblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta. Foto: Putu Intan/detikcom

Sementara itu, traveler juga dapat belajar membatik di Geblek Pari. Untuk harganya bervariasi tergantung media untuk membatiknya. Untuk kipas harganya Rp 40 ribu, totebag Rp 40 ribu, dan kain Rp 25 ribu.

Betah singgah di Geblek Pari, traveler juga bisa menginap di homestay. Geblek Pari memiliki 2 homestay yang masing-masing dilengkapi 4 tempat tidur. Untuk harga sewa per malamnya adalah Rp 400 ribu.

Geblek Pari buka setiap hari dengan jam operasional Senin – Jumat pukul 08.00 – 20.00 WIB. Sedangkan Sabtu – Minggu pukul 07.00 – 20.00 WIB.

(pin/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Megah! Museum Batik Pekalongan, Dulu Kantor Pabrik Gula Belanda



Jakarta

Museum Batik Pekalongan menempati bangunan peninggalan Belanda. Dulu, bangunan megah itu adalah kantor pabrik gula.

Museum Batik Pekalongan diresmikan pada 12 Juli 2006. Sebelumnya, bangunan yang ditempati museum ini sempat berganti-ganti fungsi.

Menurut penuturan edukator Museum Batik Pekalongan, Denny, pada mulanya bangunan museum ini digunakan sebagai kantor keuangan pabrik gula di keresidenan Pekalongan. Gedung itu diperkirakan dibangun antara 1906 hingga 1924.


“Pernah juga dijadikan balai kota Pekalongan, tempat berkantornya wali kota. Pernah juga dijadikan beberapa kantor instansi pemerintah sebelum jadi museum,” kata Denny.

Meski telah berusia ratusan tahun, bangunan yang ditempati museum ini masih kokoh. Keaslian bangunan juga tetap dipertahankan.

“Sebagian besar orisinil. Untuk renovasi hanya pengecatan tapi secara struktur masih asli,” ujarnya.

Nuansa Belanda memang kental terasa di Museum Batik Pekalongan. Pilar-pilar tinggi besar, dinding batu, hingga ubin abu-abu seolah menjadi napak tilas pendudukan Belanda di masa lampau.

Selain mengagumi kemegahan bangunan peninggalan Belanda, traveler tentunya dapat belajar mengenai batik di Museum Batik Pekalongan. Museum ini menyimpan hampir 1200 koleksi batik dari berbagai daerah di Indonesia dan dunia.

Di sana terdapat 3 ruang pamer, ruang workshop, ruang audiovisual, aula, dan ruang dekranasda yang menjual kain-kain batik.

Traveler yang penasaran dapat berkunjung ke Museum Batik Pekalongan yang terletak di Jalan Jetayu Nomor 3, Panjang Wetan, Pekalongan Utara. Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00 WIB.

Harga tiketnya adalah Rp 5 ribu untuk dewasa, Rp 2 ribu untuk anak-anak dan pelajar, dan Rp 10 ribu untuk turis mancanegara.

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

Menapaki Kampung Batik Kauman yang Legendaris di Pekalongan



Pekalongan

Dikenal sebagai Kota Batik, Pekalongan memiliki sejumlah kampung batik yang eksis dari generasi ke generasi. Salah satunya Kampung Batik Kauman yang legendaris.

Terletak di pusat Kota Pekalongan, tak sulit menemukan Kampung Batik Kauman. detikTravel sempat berkunjung ke Kampung Batik Kauman beberapa waktu lalu dan langsung terbius nuansa vintage di sana.

Mengutip dari situs Pariwisata Kota Pekalongan, Kampung Batik Kauman sejatinya sudah eksis sejak lama. Di sana terdapat sejumlah bangunan kuno seperti Masjid Jami yang didirikan tahun 1852, juga rumah-rumah lawas yang menjadi tempat tinggal para perajin batik.


Kampung Batik Kauman Pekalongan.Omah Lawang Songo di Kampung Batik Kauman. Foto: Disporapar Jateng

Bersama dengan salah satu pemilik usaha batik di sana, M. Fauzi Hidayat, detikTravel sempat diajak masuk ke Omah Lawang Songo yang menjadi ikon Kampung Batik Kauman.

Sama seperti namanya, Omah Lawang Songo memiliki 9 pintu. Pintu-pintu ini tersebar di bagian depan (3), bagian tengah (3), bagian tengah sisi kanan dan kiri (2), dan 1 pintu belakang.

Omah Lawang Songo merupakan peninggalan bersejarah yang menunjukkan arsitektur lintas budaya yakni Jawa, Arab, Eropa, dan China.

Kampung Batik Kauman di PekalonganPerajin batik di Kampung Batik Kauman Pekalongan. Foto: Ari Saputra/detikcom

Pada 2018, Omah Lawang Songo digunakan sebagai Omah Kreatif. Fauzi bercerita, Omah Kreatif dibentuk sebagai wadah pengembangan kreativitas perajin dan pedagang batik di Kampung Batik Kauman. Di sana ada workshop dan showroom bersama. Sayangnya, sejak pandemi COVID-19, rumah itu dibiarkan kosong.

detikTravel kemudian diajak untuk melihat workshop batik milik Fauzi yang letaknya tak jauh dari Omah Kreatif. Di sanalah proses membatik, mulai dari mencanting, mewarna, meluluhkan lilin, hingga mengeringkan batik dilakukan.

“Batik ini sudah tiga generasi,” kata Fauzi.

Kampung Batik Kauman di PekalonganPerajin batik di Kampung Batik Kauman Pekalongan. Foto: Ari Saputra/detikcom

Dia melanjutkan usaha batik dari kakek dan orang tuanya. Bagi Fauzi, membuat batik bukan sekadar bisnis atau menyalurkan hasrat berkesenian. Lebih dari itu, Fauzi merasa memiliki tanggung jawab sosial dan budaya.

“Kita punya semacam tanggung jawab meneruskan warisan dari leluhur kita. Sayang banget kalau yang ditinggalkan leluhur itu tidak dilanjutkan. Itu akan menjadi kesalahan generasi berikutnya,” ujarnya.

Kendati usaha batiknya masih berjalan, Fauzi memiliki kekhawatiran terhadap kelestarian batik Pekalongan. Terutama di Kampung Batik Kauman, tidak ada anak muda yang tertarik menjadi perajin batik.

Anak-anak muda di sana lebih tertarik untuk bekerja ke kota lain. Saat ini, bekerja di pabrik rokok dianggap lebih menjanjikan daripada membuat batik.

“Mudah-mudahan terutama generasi muda, saya harap lebih mencintai batik, ikut punya keinginan dan tanggung jawab meneruskan heritage leluhur. Jadi batik tetap lestari sampai nggak ada endingnya,” ujar dia.

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ide Liburan Asyik di Pekalongan, Museum Date di Museum Batik



Pekalongan

Momen libur Tahun Baru dapat traveler nikmati dengan berwisata ke Kota Pekalongan di Jawa Tengah. Kamu bisa mengenal batik di Museum Batik.

Museum Batik Pekalongan merupakan salah satu destinasi ikonik yang wajib dikunjungi kala berkunjung ke Kota Batik. Museum ini terletak di Jalan Jetayu Nomor 3, Panjang Wetan, Pekalongan Utara.

Tak sulit menemukan museum itu karena bangunannya megah berdiri di pinggir jalan. Museum Batik Pekalongan ini memanfaatkan bangunan peninggalan Belanda yang sudah ada sejak 1906.


Museum Batik PekalonganMuseum Batik Pekalongan. Foto: Ari Saputra/detikcom

detikTravel sempat berkunjung ke Museum Batik Pekalongan beberapa waktu lalu. Sama seperti namanya, museum ini menyimpan koleksi berbagai jenis batik, tak cuma yang berasal dari Pekalongan tetapi seluruh daerah di Indonesia bahkan dunia.

“Batik dari hampir semua daerah di Indonesia, kita punya dan sebagai perbandingan, ada juga batik mancanegara. Kita punya dari Malaysia, Sri Lanka, dan beberapa negara lainnya,” kata edukator Museum Batik Pekalongan, Denny.

Denny memaparkan, Museum Batik Pekalongan menyimpan sekitar 1200 koleksi batik yang disimpan dalam 3 ruang pamer. Batik-batik ini meliputi jenis batik tulis dan cap.

Museum Batik PekalonganEdukator Museum Batik Pekalongan, Denny. Foto: Putu Intan/detikcom

Selain dapat melihat kain-kain batik yang cantik, traveler juga dapat mengenal proses pembuatan batik. Tak sampai di situ, traveler juga akan diajari cara membatik. Kegiatan ini sangat cocok diikuti traveler yang ingin menikmati museum date di Museum Batik Pekalongan.

“Selain kita melihat-lihat batik, kita juga bisa merasakan sensasinya membuat batik bagaimana. Jadi nanti di ruang workshop akan diajari instruktur mengenai cara-cara membatik. Kalau ikut pelatihannya, akan diajak mengenal proses dari awal sampai pewarnaan dan pelepasan lilin,” kata Denny.

Museum Batik PekalonganMuseum Batik Pekalongan. Foto: Ari Saputra/detikcom

Setelah puas berkegiatan di Museum Batik Pekalongan, traveler juga dapat membeli batik di ruang dekranasda. Di sana, berbagai jenis kain batik dan baju batik karya UMKM Pekalongan dijual. Untuk harganya berkisar dari ratusan hingga jutaan rupiah.

Museum Batik Pekalongan buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00 WIB. Harga tiketnya adalah Rp 5 ribu untuk dewasa, Rp 2 ribu untuk anak-anak dan pelajar, dan Rp 10 ribu untuk turis mancanegara.

====

detikTravel bersama detikoto melakukan perjalanan ini bersama MG Motor Indonesia dalam program ‘Ekspedisi 100 Tahun Batik & Wayang – Arti Sebuah Perjalanan’. Ikuti lebih jauh perjalanan tersebut pada tautan ini.

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

Menikmati Jamu Racikan Leluhur di Desa Wisata Kiringan Yogyakarta



Bantul

Jamu merupakan minuman tradisional yang sarat akan khasiat dan budaya. Traveler dapat menikmati jamu warisan leluhur di Desa Kiringan, Yogyakarta.

Desa Wisata Kiringan di Bantul, Yogyakarta dikenal sebagai desanya para perajin jamu. Hingga kini, tercatat ada 132 perajin jamu yang aktif memproduksi minuman tradisional di sana.

Penasaran dengan desa jamu itu, detikcom berkunjung ke Desa Wisata Kiringan beberapa waktu lalu. Di sana, kami berjumpa dengan salah satu perajin jamu yakni Murjiati.


Murjiati merupakan ketua perajin sekaligus ketua Koperasi Jamu Kiringan. Ia memiliki produk jamu yang dinamakan Riski Barokah.

Di rumahnya yang sederhana, ia setiap hari membuat jamu untuk dijual di Pasar Imogiri. Setiap hari, ia menyiapkan sekitar 100 porsi jamu untuk para penikmat jamu yang sudah menjadi langganannya.

Desa Jamu Kiringan di YogyakartaDesa Jamu Kiringan di Yogyakarta. Foto: Ari Saputra/detikcom

Jamu yang ia jual beragam. Mulai dari kunyit asam, beras kencur, hingga uyup-uyup. Murjiati mengaku, jamu yang ia produksi ini mempertahankan resep dari para pendahulunya.

“Saya penjual jamu dari warisan nenek moyang. Dulu Si Mbah (nenek) saya jualan jamu antara tahun 60-an. Setelah Si Mbah sudah tua, diganti Ibu. Ibu sudah tua, saya yang menggantikan. Saya jualan jamu sejak 1985, sejak usia 15 tahun sudah mulai jualan,” kenangnya.

Menurutnya, resep jamu leluhur yang paling penting adalah menggunakan bahan alami dan tanpa pengawet. Dengan racikan itu, manfaat jamu untuk kesehatan akan menjadi maksimal.

“Semua perajin jamu di Dusun Kiringan tidak ada pengawet sedikit pun. Kita membuat jamu yang segar dan instan (kemasan seduh) secara alami, herbal. Tidak ada sedikit pun bahan yang untuk diawetkan, nggak ada. Jadi semua betul-betul alami,” kata dia.

Desa Jamu Kiringan di YogyakartaKetua perajin jamu di Desa Kiringan, Murjiati. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

detikcom yang penasaran dengan rasa jamu Desa Kiringan memutuskan untuk mencobanya. Keunikan meminum jamu di sini adalah tidak menggunakan gelas melainkan memakai batok kelapa.

Sensasi minum jamu secara tradisional ini yang membuat pengalaman itu semakin menyenangkan. Apalagi dengan pemandangan sawah pedesaan yang membuat hati senang.

Rasa jamu kunyit asam yang detikcom rasakan memang lebih segar dari pada jamu-jamu yang biasa dijual di Jakarta. Rasa rempah-rempahnya lebih mendominasi ketimbang manisnya gula. Setelah meminum sebatok jamu, badan juga terasa lebih bugar.

Sebatok jamu ini dihargai Rp 4.000 – 5.000 tergantung jenis jamunya. Selain menjual jamu segar, Murjiati juga memproduksi jamu instan dalam kemasan yang bisa diseduh sewaktu-waktu. Untuk sebotol jamu instan dihargai Rp 15 ribu.

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com