Tag Archives: robusta

Jelajah Rempah, Ekoturisme Keren dari Desa Sumberurip di Blitar



Blitar

Rempah lebih dikenal sebagai komoditas yang dihasilkan wilayah Indonesia bagian timur. Namun di Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar ini, traveler bisa mengenal lebih dekat beragam tanaman rempah yang melimpah, sebagai pohon kopi sebagai budidaya utama.

Berbeda dengan destinasi wisata kopi di daerah lain, kekayaan rempah yang dihamparkan desa di lereng Gunung Kawi sisi barat ini cukup mengejutkan. Pasalnya, potensi unik ini belum pernah dimunculkan sebelumnya.

Apalagi semua jenis rempah tumbuh begitu subur di dataran dengan ketinggian sekitar 700 MDPL ini, seperti Kapulaga (Elettaria cardamomum), Merica (Pepper nigrum), Pala (Myristica fragrans) dan Vanili (Vanilia planifola).


Untuk menuju ke desa ini, traveler dari luar kota bisa turun di Stasiun Kota Blitar. Kemudian bisa menyewa kendaraan online menuju ke arah Wlingi yang berjarak sekitar 22 KM ke arah timur.

Perjalanan berlanjut ke arah Utara sekitar 15 KM dengan jalanan aspal yang meliuk dan melewati hutan jati. Lanskap Gunung Kelud dan Butak tampak jelas jika cuaca cerah. Hawa sejuk mulai terasa ketika memasuki Desa Sumberurip dengan hamparan hijau dedaunan dan suara burung yang nyaring bernyanyi.

Ekotourism Desa Sumberurip BlitarEkotourism Desa Sumberurip Blitar Foto: Erliana Riady/detikcom

Dengan mengusung konsep ekoturisme, warga lokal berkomitmen tidak akan menambah atau mengubah semua yang dibentangkan semesta, sesuai dengan keasliannya.

Lokasi ini juga masuk klasifikasi wisata dengan minat khusus, bukan mass tourism dengan banyak pengunjung. Cocok banget bagi traveler yang benar-benar ingin menikmati masa libur menyatu dengan alam yang tenang.

Traveler akan menemukan banyak pengalaman empirik, seperti menyentuh dan memetik langsung beragam rempah tersebut dari pohonnya. Sesuatu benda yang selama ini hanya tampak di meja dapur, bentuk tumbuhannya akan dihadapkan langsung di depan kita!

Bahkan, traveler bisa mengetahui bagaimana proses rempah itu diolah hingga siap menjadi bumbu dapur. Apalagi, jika waktu kunjungan bertepatan dengan masa panen rempah, suasana kesibukan warga lokal akan terekam dengan indah dalam balutan tradisi gotong royong yang masih melekat kuat disini.

“Saya gak nyangka, kalau pohon Kapulaga itu ternyata buahnya di bawah semacam umbi. Selama ini saya pikir menggelantung di dahan tumbuhan seperti merica. Panili juga, ternyata pohonnya merambat dan gak tinggi. Ini pengalaman baru yang sangat menarik,” aku Mart, owner Sabatokaliwuan provider adventure dari Yogyakarta, Jumat (4/10/2024).

Menurut Mart, destinasi wisata ekoturisme seperti yang disuguhkan Desa Sumberurip ini sedang menjadi tren baru dalam dunia pariwisata. Para traveler peminat khusus, terutama wisatawan mancanegara, kerapkali membidik tujuan wisata mereka ke lokasi seperti ini agar dapat berbaur dengan warga dengan semua kearifan lokal budayanya.

Beberapa kolega Mart di Eropa mengaku tertarik begitu diperkenalkan dengan destinasi wisata kebun kopi yang terintegrasi dengan tumbuhan rempah ini.

Jelajah rempah dimulai dari titik kumpul di rumah warga. Sebagai welcome drink, traveler disuguhi beragam minuman rempah hangat sesuai pilihan dan jajanan tradisional sebagai camilan.

Perjalanan dimulai dengan treking ringan (soft trekking) menyusuri perkampungan menuju lahan kopi yang ditanam berdampingan dengan tumbuhan rempah.

Karena topografi lahan berada di wilayah perbukitan, maka hawa sejuk dan lanskap sawah terasering akan menjadi bonus pemandangan menuju lokasi lahan. Jalan tanah setapak sangat cocok untuk traveler yang merindukan suasana tenang pedesaan.

Ekotourism Desa Sumberurip BlitarEkotourism Desa Sumberurip Blitar Foto: Erliana Riady/detikcom

Roni Yudiono, pemilik lahan seluas 50 are ini siap memberikan pengalaman baru. Mulai membedakan pohon dan biji kopi Robusta, Arabika dan Liberoid. Kemudian mengenalkan beragam tumbuhan rempah yang menjadi tanaman sela lahan kopi tersebut.

“Tanaman rempah ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Tapi baru massif dibudidayakan sebagai tanaman sela kopi sejak COVID-19 melanda. Banyak orang mencari alternatif pengobatan herbal dan itu mengangkat harga jual rempah. Jadi kami disini juga mulai menanam bersama-sama, karena dulu rempah itu gak punya nilai jual,” tutur pria berusia 32 tahun ini.

Menurut Roni, aktifitas di lahan makin beragam ketika musim petik rempah dilakukan warga. Untuk Merica, musim panen akan tiba sekitar bulan September-Oktober. Kapulaga, musim panen biasanya dilakukan saat musim hujan.

Vanili, musim panennya jatuh di bulan Maret-April. Sedangkan jahe dan cengkeh, panen bisa dilakukan mulai September hingga akhir tahun. Untuk Pala, bisa dipetik setiap saat asalkan cuaca normal.

Durasi dua jam, dirasa cukup untuk traking pendek. Jalan pulang akan berbeda dengan jalur yang dilalui saat berangkat. Traveler akan menjumpai aktifitas warga desa dan berbaur bersama mereka dengan segala kesederhanaan dan keramah-tamahannya.

Sampai di titik kumpul, makan siang dengan menu khas tradisional Desa Sumberurip siap menambah energi yang tersisa. Dan pulangnya, free gift dan sourvernir rempah dengan kemasan yang manis, bisa dibawa pulang sebagai buah tangan yang penuh kenangan.

“Bagi traveler yang berminat menikmati jelajah rempah di sini, registrasi kami satu pintu melalui IG@javasumbercoffe.inc. Karena potensi wisata ini terintegrasi dengan semua potensi di desa kami. Trip kami buka setiap hari dengan minimal 4 orang, kecuali Jumat libur karena jam efektifnya pendek,” pungkasnya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menyelami Dunia Kopi di Pasar Santa



Jakarta

Pecinta kopi pasti sudah tidak asing dengan Kedai Dunia Kopi di Pasar Santa. Kedai kopi ini sederhana tapi istimewa.

Wangi kopi menyeruak dari lantai basement Pasar Santa, Jakarta Selatan. Plang kedai ‘Dunia Kopi’ tampak di tengah bangunan. Jajaran toples kopi dengan kapasitas 5 kg tertata rapi di etalase.

Pak Suradi (53), pemilik Dunia Kopi tampak sibuk menghitung pesanan. Ia pindah dari satu gerai ke gerai lain. Mungkin bagi yang tidak biasa akan bingung, karena ternyata Pak Suradi memiliki banyak gerai dalam satu lantai.


“Sekitar 40an gerai, termasuk untuk gudang,” ucap pria asal Purwodadi itu.

Dunia Kopi ada sejak tahun 2000, saat itu baru satu kios yang ia miliki. Lambat laun, usahanya menapaki tangga kepopuleran, terlihat dari banyaknya wisatawan internasional yang datang ke sana.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Malahan awal-awal itu yang datang bule-bule,” katanya.

Usahanya ini memang sudah lama ia cita-citakan dengan tujuan mengenalkan nama Indonesia lewat kopi.

“Di sini (Indonesia) banyak kopi, masa nggak bisa aku kelola dengan baik,” katanya pada detikTravel, Rabu (30/4).

Saat pertama kali berjualan, hanya dua jenis kopi yang dijual yaitu Arabika dan Robusta. Kopi arabika cenderung dengan citarasa yang kompleks, sementara robusta lebih ke rasa pahit. Kalau pohon arabika tumbuh di ketinggian 1.000-2.000 mdpl, pohon kopi robusta tumbuh di ketinggian lebih rendah, di bawah 700 mdpl.

“Dulu hanya 6 toples saja, sekarang kita buat ekosistemnya, langsung dari petani dari seluruh Indonesia. Jenisnya kita tambah jenisnya, ada robusta, arabika, liberika dan escelsa,” jawabnya.

Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi pemilik Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

Varietas kopi yang ditawarkan juga beragam, mulai dari yellow honey, black honey, sigararutang, sampai yellow bourbon. Bisa dibilang hampir lengkap, tak ayal banyak pelanggan yang hilir mudik di sana.

Di tiap kios, pegawai Dunia Kopi sibuk menimbang kopi. Pelanggan mencatat pesanan mereka dan memilih jenis kopi. Kalau ragu, mereka bisa langsung mencicip kopi di sudut basement, Pak Suradi menyiapkan kios khusus untuk mencicipi kopi. Maklum, kebanyakan pembeli adalah reseller kelas kakap.

“Semua boleh minum kopi, gratis. Ajang promosi lah begitu, bagi-bagi gratis, tidak dibatasi,” ungkap pria kelahiran Blora itu.

Untuk kopi gratis ini saja, ia bisa habis 5-10 kg per hari. Kedai kopi itu beroperasi dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB dengan total karyawan 25 orang, penjualan sehari tak kurang dari satu ton.

Modal yang kuat sudah harus disiapkan. Selidik punya selidik, ternyata Pak Suradi menyuntik usahanya dengan dana pinjaman dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai 4 kali.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Pinjaman pertama itu Rp 100 juta, pinjaman kedua Rp 200 juta, pinjaman ketiga Rp 300 juta dan terakhir lunas tahun ini Rp 500 juta,” ucapnya.

Selain dukungan modal, Pak Suradi juga merasa sangat terbantu dengan syarat-syarat KUR. Saking sibuknya, berkas-berkas it ditandatangani di kedainya, suatu kemudahan bagi UMKM.

Pak Suradi berkata bahwa turis yang paling banyak datang belakangan ini adalah orang Korea dan Jepang. Mereka sengaja memilih kopi sebagai oleh-oleh. Turis China, Malaysia dan Singapura juga masih daftar 5 turis yang paling banyak singgah.

“Kemarin dari Jepang beli sampai dua koper penuh. Mereka suka kopi Toraja, luwak dan gayo. Tapi paling favorit luwak,” ungkapnya.

Sepanjang usahanya, ia ingat akan satu turis asal Rusia. Turis ini beli kopi sampai dua karung, jenis kopi Bali. Satu hari beli satu karung, semua untuk oleh-oleh. Mereka datang saat weekday.

Beda lagi dengan wisatawan domestik, sukanya kopi robusta dan arabika, datangnya saat weekend. Dunia kopi terasa seperti tempat wisata di Sabtu pagi.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Mereka datang naik sepeda, ke sini ngopi gratis. Di sini tempatnya nyaman untuk ngumpul dan nggak dibatasi,” jawabnya.

Per 100 gram, kopi ini dijual dengan harga paling murah Rp 13 ribu dan yang paling mahal Rp 20 ribu yaitu excelsa ijen dan liberika Jambi.

Sukses dan tidak pelit ilmu, Pak Suradi membuka kelas barista untuk anak-anak yatim dan pesantren secara gratis. Ada pula kelas umum untuk mereka yang baru mau belajar, biayanya Rp 500 ribu sampai mahir.

Jay (35) adalah trainer dan mekanik mesin kopi di Dunia Kopi. Sejak berkarir sebagai barista di sana pada tahun 2019, ia telah melatih sekitar 300 orang, termasuk peserta disabilitas netra dan rungu.

“Bangga sih sebenarnya, apa yang selama ini diinginkan anak-anak barista tercapai, banyak bule uang suka kopi datang ke Indonesia,” jawabnya.

Pak Suradi tak merasa rugi dengan itu semua. Ia malah senang bisa menjadi perpanjangan tangan dan bermanfaat bagi sekitar. Ia berterima kasih juga pada BRI yang telah mendukungnya selama ini.

“Maju terus untuk pelayanannya, sukses untuk BRI,” katanya.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

Pariwisata Lewat Kopi

Perkembangan pariwisata kopi tak lepas dari perhatian Pengamat Ahli Pariwisata Profesor Azril Azhari. Sebagai pecinta kopi, ia bangga nama kopi Indonesia mulai dilirik oleh dunia.

“Ini sangat bagus, tapi sekali lagi sayang karena kita hanya fokus pada kopinya saja,” ungkap mantan dosen Universitas Indonesia itu.

Sejatinya, proses alami yang terjadi pada kopilah yang membuat rasanya mewah. Sebut saja kopi luwak, proses fermentasi yang terjadi di lambung luwak lah yang membuat cita rasa kopi itu jadi berbeda.

“Kopi yang bagus itu sudah difermentasi, kalau di luar negeri itu dibuat jadi tidak alami,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof Azril mengatakan bahwa sejak dipetik memang kopi Indonesia mengalami proses alami. Kopi dijemur di panas matahari sehingga kering dengan perlahan.

“Di luar negeri itu keringnya dipaksa lewat oven, di sini dijemur di jalanan,” katanya sambil tertawa.

Pada tahun 2018, Prof Azril mematenkan batik dari ampas kopi. Saat dipakai, batik akan mengeluarkan wangi semerbak layaknya kopi yang dihidangkan.

Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi bersama reseller Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Harusnya bukan cuma kopinya tapi semua aspek kopi, ampasnya dijadikan bahan untuk spa, sementara sejarah kopi di Maluku dan Sumatera dijadikan paket wisata ‘Spicy Road’, melihat kembali bagaimana VOC menguasai kita di zaman itu,” jawab Prof Azril.

Wisata jalur rempah Indonesia, itulah yang menjadi impian dari Prof Azril. Pendiri ilmu pariwisata Indonesia itu ingin agar kopi Indonesia terus maju dan mengharumkan nama bangsa.

“Indonesia itu sudah terkenal rempah-rempahnya dari dulu, ini tinggal pemerintah saja bagaimana mendukungnya,” tutupnya.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com