Tag Archives: ryan

Nggak Disangka, Kuliner Favorit Bule di Pulau Tidung Adalah…



Jakarta

Wisata kuliner berupa seafood umumnya menjadi favorit di Pulau Tidung. Tapi ternyata, ada soto yang jadi favorit Bule-bule.

Nama kedainya Soto Lamongan Sugiono, pemiliknya adalah Ibu Kukut Wijawati (49). Asli Lamongan, Jawa Timur, ibu dua anak itu dulu bisa sampai ke Pulau Seribu karena paksaan keadaan. Dirinya yang takut dengan laut, harus mampu terbiasa dengan lingkungan karena sang suami bekerja sebagai pengantar galon ke sana.

Berjalannya waktu, ia mulai mencintai laut, tepatnya Pulau Tidung. Tahun 2013, ia mendirikan usahanya, Soto Lamongan jadi pilihan karena kuliner itu berasal dari kota kelahirannya.


Usaha pertama tentu butuh modal besar, ia kemudian memutuskan untuk melakukan pinjaman KUR kepada BRI sebanyak Rp 100 juta. Dewi Fortuna berpihak padanya, usahanya laris manis di tengah gempuran makanan laut.

Saat weekend, tempat duduk di kedai makannya selalu sesak oleh wisatawan. Kebanyakan mereka datang karena tak sengaja melewati kedai makan itu, karena biasanya wisatawan yang datang mendapat katering dari operator tur yang membawanya.

Soto Lamongan Sugiono di Pulau TidungIbu Kukut pemilik Soto Lamongan Sugiono di Pulau Tidung (bonauli/detikcom)

Namun, rejeki sudah ada yang atur. Ibu Kukut berbisnis dengan sukacita. Di musim libur panjang seperti lebaran, ia buka sejak pagi sampai tengah malam. Wisatawan ramai, warga yang sudah bosan dengan menu lebaran mampir untuk mencari pilihan.

“Kemarin jam 8 malam udah habis, tapi masih banyak orang. Jadi bikin kuah lagi dibantu sama keluarga,” katanya terkekeh.

Dua hari lebaran membuat Ibu Kukut dan keluarga kewalahan, tapi tentu saja cuan. Kebanyakan datang saat malam, makan kuat-kuat sehabis berenang di pantai.

Soto Lamongan Sugiono di Pulau TidungSoto Lamongan Sugiono di Pulau Tidung (bonauli/detikcom)

Dalam perjalanan bisnisnya, pelanggan bule tentu jadi yang paling mudah diingat. Dari banyaknya bule yang berkuliner ke sana, ia ingat akan seorang wanita, tak tahu asalnya darimana. Perawakannya yang tinggi, putih dan berbahasa Inggris membuatnya yakin, pelanggan ini datang dari negeri seberang.

“Bule itu setengah bulan makan ke sini setiap hari,” katanya singkat, sambil mencoba mengingat.

Hari pertama biasa saja, karena si bule bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Di hari ketiga, si bule mulai mengajak Ibu Kukut ngobrol. Ia tentu panik.

“Katanya enak, mantep,” ucapnya sambil tertawa.

Soto Lamongan Sugiono di Pulau TidungSoto Lamongan Sugiono di Pulau Tidung (bonauli/detikcom)

Bule ini kemudian datang setiap hari selama hampir setengah bulan. Ia rutin mampir setelah habis dzuhur.

“Selalu pesan soalnya aja, nggak pake nasi. Datang sehari sekali,” katanya.

Setiap hari warung ini menghabiskan sekitar 500 porsi soto kalau ramai seperti long weekend dan 30 porsi jika sepi. Satu porsi diberi harga Rp 15.000 sudah dengan nasi. Selain soto ayam, ada pula bakso yang melengkapi menu di rumah makan itu.

Meski harganya murah, tapi rasa soto ini sungguh menggoyang lidah. Santannya legit dan porsinya banyak. Di makan dengan nasi panas, membuat masuk angin bablas keluar dari tubuh. Wajar saja, kalau si bule sampai kepincut makan tiap hari di sini.

Cerita lain datang dari seorang anak SMP yang sedang study tour. Bocah lelaki itu ketinggalan kapal fery. Ibu Kukut memberikan seporsi soto ayamnya kepada si bocah.
“Saya bilang makan nggak usah bayar, anak laki-kan bisa tidur di masjid. Kasian banget dia,” ceritanya.

Anak itu pulang keesokan harinya saat kapal fery datang. Ia berterima kasih dengan kebaikan pemilik warung soto yang mau memberinya makan cuma-cuma.

Soto Lamongan Sugiono di Pulau TidungPembayaran digital di soto Lamongan Sugiono di Pulau Tidung (bonauli/detikcom)

“Saya senang dibantu BRI, pokoknya terima kasih lah, saya jadi bisa membantu orang lain,” katanya lembut.

Mantri BRI Ryan (35) mengatakan bahwa Soto Lamongan Sugiono memang tiada dua. Sebagai wakil dari BRI dirinya mendukung perkembangan usaha Ibu Kukut dan siap membantu saat butuh modal tambahan.

“Apalagi warungnya ramai dan sudah digitalisasi, kita harus dukung UMKM pulau ini,” katanya.

Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI adalah program pembiayaan bersubsidi dari pemerintah yang disalurkan oleh Bank BRI untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) . Tujuan KUR BRI adalah mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dengan memberikan akses pinjaman yang lebih mudah bagi UMKM yang produktif namun belum memiliki agunan yang cukup.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bekas Tempat Eksekusi, Ini Pulau di Jakarta yang Paling Ditakuti



Jakarta

Satu-satunya bank terapung dunia, Teras BRI Kapal berlayar ke berbagai pulau di Nusantara. Mereka tentu punya pengalaman berbeda dari pekerja bank lainnya.

Teras BRI Kapal ‘Bahtera Seva I’ melayani inklusi keuangan di Kepulauan Seribu. Setiap minggu, mulai Senin-Jumat, kapal ini bergantian ke lima pulau yaitu Pramuka, Panggang, Kelapa-Harapan, Tidung dan Untung Jawa.

Setiap pulau memiliki cerita yang berbeda, termasuk kisah yang membuat bulu kuduk merinding, bahkan masa lalu kelam Indonesia. Saat berlayar ke Pulau Panggang bersama bank terapung BRI, detikTravel mendengar langsung tentang seramnya Pulau Karya.


Pulau ini berada tepat di seberang dermaga Pulau Panggang. Saat Bahtera Seva I bersandar di dermaga, satu sisi kapal otomatis menghadap ke pulau itu. Jaraknya tak sampai satu kilo.

Teras BRI KapalTeras BRI Kapal ‘Bahtera Seva I’ Foto: (bonauli/detikcom)

Salah satu mantri BRI yang bernama Ryan (35) mendapat jadwal ke pulau itu. BRI memiliki dua tim yang bergantian untuk melayani ke Pulau Seribu, tim ini akan berganti setiap minggu.

Ia bercerita bahwa pernah sekali waktu ia masih terjaga sampai pukul 01.30 WIB. Masih asyik dengan telepon genggamnya, sayup-sayup ia mendengar suara berupa ketokan di dinding kamar.

Beberapa ketukan ia abaikan. Ia masih terpaku dengan layar handphone. Namun kali kedua, jantung Ryan seakan berhenti berdetak.

“Kamar itukan posisinya menghadap ke laut Pulau Karya. Langsung tahu, nggak bener nih. Langsung tidur saat itu,” kenangnya sambil memeragakan di depan kru kapal.

Yang lain ikut menimpali sambil tertawa, mereka belum pernah merasakan pengalaman yang horor, tapi sering mendengar cerita-cerita gaib dari warga Pulau Panggang.

“Iya, tau pulau itu horor,” kata yang lain bersahutan.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

detikTravel bertanya langsung pada seorang warga asli Pulau Panggang, Sopyan Hadinata (38). Leluhurnya termasuk tokoh agama terpandang di pulau itu.

Iyan (sapaan akrab) mengakui bahwa Pulau Karya memang angker. Sejak dulu, ia sudah mendengar cerita-cerita horor sampai jadi terbiasa dengan hal itu.

“Dulu itu bilangnya tempat buat latihan menembak tentara. Jadi warga nggak boleh ke sana kalau ada latihan,” katanya memulai cerita.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Sebelum jadi pulau khusus pemakaman (TPU) seperti sekarang ini, Pulau Karya hanyalah hutan belantara. Ada berbagai macam tumbuhan, buah-buahan dan tentu saja pantai yang indah sana.

“Di era pemerintahan Soeharto itu, kalau ada tentara yang ke sana warga langsung tahu mau ada latihan menembak. Karena orang tua kita zaman dulu banyak juga yang jadi pahlawan, mereka bilang kita harus hormat sama tentara,” katanya.

Mandat untuk menjauhi pulau saat ada tentara tidak pernah dilanggar oleh warga Pulau Panggang. Yang mereka tahu, suara tembakan selalu terdengar saat tentara tiba. ‘Oh sedang latihan’, pikiran itu akan otomatis muncul tanpa kecurigaan. Dua atau tiga kapal tentara muncul jika waktu ‘latihan’ tiba.

Sampai kerusuhan tahun 1998 terjadi. ‘Latihan menembak’ semakin sering, barulah warga sadar apa arti letusan bedil, yaitu eksekusi. Lalu terbentuklah reformasi dan ‘latihan menembak’ tak pernah terjadi lagi.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Iyan tidak ingat jelas kapan, tapi sekitar tahun 2000-an, pembangunan Pulau Karya dimulai. Warga bahu-membahu membantu pembangunan rumah dinas untuk pejabat dan unit lainnya seperti polres dan pemadam kebakaran.

Saat menggali tanah, ditemukan puluhan tengkorak. Tak ada identitas, hanya tulang belulang. Masa lalu Pulau Karya terkuak, diceritakan turun-temurun sampai sekarang.

“Orang sini udah nggak asing lagi sama cerita horor. Dulu polisi sering cerita digangguin kalau tidur. Tadinya tidur di dalem kantor, bangun-bangun udah ada di luar,” ungkapnya.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Tak hanya polisi, narapidana yang dikirim ke Pulau Karya juga merasa sengsara. Kata Iyan, jumlah napi seringkali bertambah, mereka terus minta pindah karena diganggu oleh makhluk halus.

“Pernah mereka lagi tidur, terus dinampakin ada jari-jari segede pisang ambon. Pokoknya digangguin terus sampai mereka bilang lebih mending di Cipinang daripada di sini,” jawabnya.

Iyan sendiri pernah mengalaminya langsung. Bapak beranak empat itu ingat betul dirinya membawa lima teman kampus UNINDRA untuk kemping di Pulau Karya. Sebelum kemping, Iyan mengajak teman-temannya untuk ziarah, meminta izin untuk masuk ke pulau.

Lelaki lulusan Teknik Informatika itu mengatakan ada sebuah aturan untuk bisa kemping di sana. Mereka tidak boleh berkata kasar dan berbuat mesum saat kemping. Teman-temannya mengiyakan.

“Setelah puas main di pantai, mereka kecapean lalu tertidur di tenda,” katanya.

Dua perempuan dan tiga pria tentu membuat kemah cukup sesak. Tak mau mengganggu temannya yang kelelahan, Iyan pun ngungsi ke rumah dinas pemadam kebakaran.

Tak berapa lama angin kencang muncul, awan gelap seakan jadi pertanda akan hadirnya badai. Iyan khawatir akan teman-temannya. Dari ujung pulau ke ujung satunya, ia berlari untuk mendapati kawan-kawannya.

“Saya kaget, kok mereka udah nunggu di dermaga. Pas saya tanya, mereka jawab ‘kan tadi kamu udah bangunin katanya suruh siap-siap’,” ucapnya.

Dalam hati Iyan paham, yang tadi datang bukan dirinya. Namun makhluk gaib yang menyerupai dirinya. Tak ingin membuat temannya panik, ia kemudian membawa mereka pulang ke Pulau Panggang.

“Di sini itu udah biasa, pokoknya kita hidup berdampingan dan tidak saling mengganggu, itu aja,” pungkasnya.

Teras BRI Kapal terjadwal hadir di Pulau Panggang setiap Selasa. Pulau pemukiman dengan penduduk terpadat di Pulau Seribu itu memiliki jumlah penduduk 6.260 jiwa menurut sensus tahun 2017. Berbeda dengan pulau-pulau lainnya yang sangat erat dengan kegiatan pariwisata, Panggang murni pemukiman. Kebanyakan nasabah BRI yang melakukan transaksi di kapal terapung berupa setoran tabungan, peminjaman, pembuatan tabungan dan penarikan ATM.

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com