Tag Archives: salat

Sama-sama Tempat Salat, Bolehkah Mengubah Musala Wakaf Jadi Masjid?



Jakarta

Salat merupakan ibadah paling utama dalam Agama Islam. Seorang muslim diwajibkan menunaikan salat lima kali sehari, sehingga tempat untuk salat sangat dibutuhkan dalam kesehariannya.

Selain masjid, tempat umat muslim melaksanakan salat adalah musala. Perbedaan utama pada kedua tempat ini antara lain musala berukuran lebih kecil daripada masjid. Lalu, hukum yang berlaku pada bangunan masjid tidak berlaku pada musala.

Melansir dari laman NU Online Lampung pada Kamis (4/4/2024), salah satu perbedaan yang paling jelas adalah jumlah jemaah ketika salat berjamaah. Musala hanya digunakan oleh kurang dari 40 orang, sehingga tidak bisa digunakan sebagai tempat salat Jumat.


Selain itu, masjid sudah dipastikan sebagai benda wakaf. Sedangkan, musala boleh dari benda wakaf maupun non-wakaf. Lantas, bagaimana hukumnya mengubah musala wakaf menjadi masjid dengan meluaskan bangunan?

Berdasarkan kitab Al-Syarqaawii ‘alaa al-Tahriir, II/180 menyebutkan hukum mengubah benda wakaf sebagaimana berikut.

الشرقاوي، الجزء الثاني، صحيفة ١٨٠، ونصه: قال اسبكي: يجوز أى تغيير هيئة الوقف بثلاثة شروط، أن يكون يسيرا لا يغير مسماه وعدم إزالة شيء من عينه إلا بعض نقص لجانبه الاخر، وأن يكون فيه مصلحة للوقف.

Artinya: Al-Syarqaawii, juz II halaman 180: Al-Subki mengatakan, “Boleh mengubah bentuk/keadaan wakaf dengan tiga syarat:

  1. Pengubahannya sangat sedikit yang tidak sampai mengubah penamaannya;
  2. Tidak menghilangkan sedikitpun dari materinya kecuali mengurangi sedikit dari bagian; tertentu untuk diletakkan pada bagian yang lain;
  3. Pengubahan tersebut untuk kemaslahatan wakaf,”

Berdasarkan sumber lain dari kitab I’aanah Ath-Thalibiin, III/179 oleh Muhammad Ramli menyebutkan sebagai berikut.

وكما يمتنع بيعه وهبته يمتنع تغيير هيئته كجعل البستان دارا. وقال السبكي: يجوز في ثلاثة شروط أن يكون يسيرا لا يغير مسماه وعدم إزالة شيء من عينه بل ينقله من جانب إلى آخر وأن يكون فيه مصلحة للوقف أفاده محمد الرملي. (إعانة الطالبين ، ج ٣ ص ١٧٩).

Artinya: “Sebagaimana terlarang menjual dan menghibahkan wakaf, terlarang pula mengubah bentuk/keberadaannya, seperti mengubah kebun menjadi rumah/perkampungan. Al-Subki mengatakan, “Pengubahan tersebut boleh dengan tiga syarat:

  1. Pengubahannya sangat sedikit, yang tidak sampai mengubah penamaannya;
  2. Tidak menghilangkan sedikitpun dari materinya, melainkan memindahkan bagian tertentu untuk diletakkan pada bagian lain;
  3. Pengubahan tersebut untuk kemaslahatan wakaf.”

Dengan demikian, mengubah musala wakaf menjadi masjid dilarang karena mengubah bentuk wakaf dan namanya. Selain itu, tidak diperbolehkan menjual tanah wakaf untuk digunakan memperbaiki masjid dan membuat masjid. Apabila ingin membuat masjid, maka sebaiknya membuat bangunan baru di tanah baru.

(dhw/zlf)



Sumber : www.detik.com

Ini Perbedaan Masjid dan Musala sebagai Tempat Ibadah Umat Islam


Jakarta

Salat merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang dikerjakan setidaknya lima kali sehari. Meski dapat dikerjakan di mana saja asal tempatnya suci, banyak muslim yang menunaikan salat di masjid maupun di musala.

Pembina Pesantren Quran Subulunajjah Depok, Ustaz Farid Nu’man Hasan menjelaskan sebutan masjid berasal dari kata masjud yang berarti tempat sujud. Akan tetapi, dalam Al Quran tidak ada kata masjud melainkan kata masjid, sehingga ‘masjid’ yang menjadi istilah baku.

“Musala artinya tempat shalat. Di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, musala adalah lapangan tempat salat id beradab di sebelah timur pintu kota Madinah, sebagaimana dikatakan Syaikh Sayyid Sabiq di dalam Fiqhus Sunnah,” ujar Ustaz Farid kepada detikcom, Minggu (7/4/2024).


Lantas, apa yang membedakan masjid dan musala sebagai tempat ibadah? Yuk, simak penjelasannya.

Ukuran

Perbedaan yang paling mendasar antara masjid musala ada pada ukurannya. Masjid dirancang untuk menampung lebih banyak jemaah, sehingga ukurannya lebih besar daripada musala.

Terlebih masjid biasa digunakan untuk salat Jumat berjamaah yang dapat diikuti oleh puluhan jemaah pria. Sementara musala tetap menjadi tempat untuk salat berjamaah tetapi untuk jumlah jemaah yang lebih sedikit.

Sebagai Tempat Salat Jumat

Ustaz Farid menyebutkan ada dua model masjid, yakni masjid jami’ dan ghairu jami’. Masjid Jami’ merupakan masjid yang digunakan untuk salat Jumat dan salat lima waktu. Beda halnya dengan fungsi masjid ghairu jami’ yang juga disebut musala.

“Masjid ghairu jami’ adalah masjid yang hanya dipakai untuk salat lima waktu saja, tidak untuk salat Jumat. Jenis inilah yang di Indonesia dinamakan dengan musala, langgar, atau surau. Jadi, musala itu masjid juga tapi masjid ghairu jami’,” paparnya.

Adapun menurut mayoritas ulama baik Hanafi, Syafi’i, dan Hambali, salat Jumat tidak disyaratkan di masjid. Namun, yang penting jamaah bisa tertampung untuk berkumpul. Sedangkan mazhab Maliki mengatakan salat Jumat harus dilaksanakan di masjid sebagai syarat keabsahannya.

Sebagai Tempat I’tikaf

Selain itu, masjid juga diperuntukan untuk melakukan ibadah i’tikaf, yakni berdiam diri untuk beberapa waktu tertentu. Hal ini berdasarkan Surat Al Baqarah Ayat 187 yang tidak mengkhususkan masjid yang bisa digunakan untuk i’tikaf.

.. وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ..

Artinya: “… sedang kalian sedang I’tikaf di masjid-masjid…”

Kemudian, tempat i’tikaf berdasarkan lima pendapat para ulama dijelaskan sebagai berikut oleh Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.

1. Hanya boleh di masjid di kota Madinah. Ini pendapat Said bin Al Musayyab;
2. Hanya boleh di masjid kota Mekkah dan Madinah. Ini pendapat Atha’;
3. Hanya boleh di tiga masjid, Masjid Nabawi, Masjid Al Haram, dan Masjid Al Aqsha;
4. Hanya boleh di masjid Jami’, tidak boleh di surau;
5. Boleh di semua masjid termasuk di surau. Ini pendapat mayoritas ahli fiqih.

Demikian perbedaan masjid dan musala sebagai tempat ibadah para muslim. Semoga bermanfaat!

(dhw/dna)



Sumber : www.detik.com

Begini Posisi Kasur yang Disarankan dalam Islam yang Jarang Orang Tahu


Jakarta

Dalam Islam, terdapat beberapa adab yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang baik untuk diikuti. Salah satunya adalah adab saat hendak tidur. Nabi Muhammad SAW menerapkan cara tidur yang baik dari awal hendak tidur hingga bangun kembali, termasuk posisi kasur yang disarankan.

Arah tidur ini bukan didasarkan pada kebiasaan Nabi Muhammad SAW, melainkan ada pengaruh baiknya bagi kesehatan. Mengingat saat tidur, tubuh kita juga beristirahat. Berikut beberapa aturan terkait posisi kasur mengutip dari Sakti Desain, Senin (22/7/2024).

1. Posisi Kasur Menghadap ke Selatan

Posisi kasur yang baik menurut Islam adalah dengan mengarah ke selatan. Cara mengetahui posisi selatan adalah menyamping dari arah kiblat. Seluruh daerah di Indonesia saat Salat semuanya akan menghadap ka’bah yang berada di barat.


2. Tidak Disarankan Menghadap ke Arah Barat

Dalam ajaran Islam terdapat larangan tidur menghadap ke barat karena pusat gerakan bumi dan pusat gravitasi. Jika posisi tempat tidur bagian atas menghadap ke arah barat, hal ini dipercaya akan menimbulkan masalah fisik dan mental. Maka dari itu, saat mendesain interior hunian, pilih posisi rumah atau posisi pintu yang paling tepat menurut Islam.

Selain itu, posisi kasur dilarang menghadap barat juga berlaku untuk posisi kepala. Ada beberapa alasan yang mendasari pantangan ini, diantaranya tidur menjadi tidak nyenyak, tidak baik untuk kesehatan anak-anak, mempengaruhi emosi, dan bisa mengalami mimpi buruk. Jadi selain, harus membaca doa sebelum tidur, posisi tidur juga berpengaruh.

3. Posisi Tempat Tidur Mengarah ke Utara

Jika tadi meletakkan kasur harus menghadap selatan, posisinya adalah kepala tidak mengarah ke Utara, tetapi hanya berada di utara. Kemudian badan kamu arahkan ke kanan, ke arah kiblat.

Dalam Islam disarankan menerapkan posisi ini karena tulang rusuk akan berada di sebelah kanan sehingga baik untuk kesehatan. Jika posisi telah menghadap utara, disarankan pula agar kamu tidak tidur dengan posisi badan miring ke kiri.

Menurut berbagai sumber, kasur yang berada di utara akan membuat posisi tidur miring ke kiri sehingga tidak baik untuk kesehatan. Dalam posisi ini, paru-paru bakal menekan jantung sehingga tidak bekerja normal ketika tidur. Hal ini juga yang sering Nabi Muhammad SAW anjurkan di dalam sunahnya.

Mau tahu berapa cicilan rumah impian kamu? Cek simulasi hitungannya di kalkulator KPR.

Nah kalau mau pindah KPR, cek simulasi hitungannya di kalkulator Take Over KPR.

(aqi/dna)



Sumber : www.detik.com

5 Langkah Bikin Musala di Rumah Agar Salat Makin Khusyuk


Jakarta

Salat merupakan kewajiban bagi muslim dan harus dikerjakan setiap hari. Sebagian muslim bahkan sampai menyediakan ruang salat atau musala di rumahnya agar lebih khusyuk beribadah.

Sebenarnya kamu dapat salat di mana saja di dalam rumah asalkan bersih. Namun, tak ada salahnya kamu menyiapkan musala supaya lebih tenang, tentram, dan nyaman saat beribadah.

Bagi kamu yang mau bikin musala yang nyaman dan menenangkan, bisa ikut langkahnya berikut ini.


5 Langkah Bikin Musala di Rumah

Inilah cara membuat musala di rumah seperti yang dikutip dari The Halal Times.

1. Tentukan Lokasi yang Cocok

Langkah pertama adalah memilih lokasi yang cocok sebagai musala. Kamu bisa menggunakan ruangan yang tak terpakai atau di kamarmu. Jangan lupa mempertimbangkan arah kiblat dan kecukupan ruang buat sajadah.

2. Pilih Warna Tembok yang Tidak Mencolok

Tembok merupakan bagian rumah yang paling menyita perhatian. Nah, supaya kamu lebih fokus saat beribadah di musala, kamu bisa membersihkan diri dulu.

Jika ingin nuansa ruangan yang kalem dan menenangkan, pilih warna yang lebih lembut, terang, dan netral. Kamu bisa mengecat seluruh tembok dengan warna tersebut, atau cukup pada tembok aksen saja.

3. Lengkapi Furniture

Selanjutnya, kamu dapat mengisi ruangan dengan furniture secukupnya.

Selain sajadah, kamu bisa menambahkan kursi, bantalan, dan meja kecil jika ada ruang lebih. Lalu, bisa tambahkan kabinet untuk menyimpan buku,

4. Cek Kondisi Lantai

Kamu dapat menaruh karpet di musala. Hal ini membantu masyarakat lebih fokus beribadah yang lalai. Karpet yang lembut bisa menjadi alas sholat dalam Islam, lho.

5. Dekorasi Musala

Terakhir, kamu bisa mendekorasi ruangan agar lebih bebas untuk pekerja. Musala dapat dihias menggunakan berbagai benda dekorasi bernuansa Islam, seperti kaligrafi, poster motivasi, ataupun gambar yang dibingkai. Kamu juga bisa memakai lampu LED mini untuk menambah estetika ruangan.

Lalu, memajang bunga segar untuk memberi warna tambahan dan aroma pada ruangan bisa kamu pertimbangkan.

Itulah cara membuat musala di rumah, semoga membantu.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(dhw/das)



Sumber : www.detik.com

5 Tips Dekorasi Rumah buat Sambut Tamu Saat Lebaran


Jakarta

Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran adalah momen berkumpul dengan sanak saudara di rumah. Untuk menyambut para tamu, kamu bisa mendekorasi rumah.

Selain membuat suasana lebih meriah dan hangat, mendekorasi rumah bisa membuat tamu merasa lebih nyaman. Tak perlu sulit, kamu bisa membuat perubahan sederhana tapi memberi sentuhan menarik pada rumah.

Lantas, bagaimana cara menghias rumah agar tampak indah dan nyaman buat Lebaran? Yuk, simak beberapa tips berikut ini. kamu bisa melakukan beberapa cara ini.


Tips Dekorasi Rumah buat Lebaran

Inilah cara mendekorasi rumah untuk menyambut tamu yang datang saat lebaran, dikutip dari UAE Moments.

1. Pilih Tema

Sebelum mulai dekorasi rumah, sebaiknya kamu menentukan tema yang ingin digunakan saat Lebaran. Kamu bisa menggunakan warna-warna khas Lebaran seperti putih, emas, atau hijau pada dekorasi yang akan digunakan. Beberapa dekorasi yang kerap digunakan adalah kaligrafi, dekorasi tanaman, dan pola geometris.

2. Hias Ruang Keluarga

Ruang keluarga adalah salah satu ruangan yang akan banyak digunakan saat Lebaran. Biasanya tempat ini menjadi ruang kumpul banyak sanak saudara.

Untuk membuatnya menjadi lebih nyaman dan hangat, kamu bisa menambahkan beberapa bantal dengan tema yang sesuai Lebaran, memasang lampu gantung, lentera, atau dekorasi lainnya.

3. Hias Meja Makan

Meja makan merupakan furnitur yang menjadi fokus penting saat Lebaran karena menjadi tempat mengambil makanan. Untuk itu, kamu bisa menghias meja makan di rumah saat Lebaran.

Taplak meja ruang makanTaplak meja ruang makan Foto: Getty Images/iStockphoto/gerenme

Kamu bisa menghiasnya dengan sederhana, misalnya dengan menggunakan taplak meja, tempat lilin, bunga, lalu alat makan yang seragam, dan lainnya.

4. Tambahkan Tanaman

White candle in a golden framed glass as centrepiece of a table decorIlustrasi dekorasi Lebaran Foto: iStockphoto/Getty Images

Tambahkan kesegaran di dalam rumah dengan memajang tanaman hias supaya rumah tampak hidup. Gunakan tanaman atau bunga yang sesuai dengan tema yang sudah ditentukan sebelumnya agar tampak serasi.

5. Siapkan Tempat Salat

Jangan lupa untuk menyiapkan tempat salat di rumah. Kamu bisa menggunakan karpet sebagai alas sajadah agar terasa lebih nyaman.

Itulah beberapa tips yang dilakukan untuk menghias rumah saat Lebaran. Semoga bermanfaat!

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(dhw/dhw)



Sumber : www.detik.com

Berwisata Religi yang Nyaman dan Sejuk di Masjid Istiqlal Jakarta



Jakarta

Masjid Istiqlal Jakarta merupakan masjid megah di Jakarta. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, masjid itu juga menjadi tujuan wisata religi.

Area halaman masih yang luas menjadi tempat pengunjung untuk beristirahat, mulai dari duduk-duduk, makan, hingga mengabadikan foto. Suasana yang nyaman dan asri membuat betah masyarakat yang berkunjung ke sini.

Mulai dari anak-anak hingga orang tua semua terlihat senang ketika berada di masjid, hendak melaksanakan sholat ataupun beristirahat.


Salah satu pelancong yang datang ke Masjid Istiqlal ini adalah Marta. Bersama keluarganya, Marta sebetulnya akan menghabiskan akhir pekannya di Lapangan Banteng, namun karena jarak yang dekat dengan masjid dan telah mendekati waktu salat dzuhur, ia memutuskan untuk datang ke masjid ini.

“Karena berada di pusat kota jadi lebih enak ya jadi dekat ke Monas, terus ini juga lagi ada acara kan di Lapangan Banteng jadi istilahnya kalau main ke Istiqlal mainannya dekatlah kalau mau ke tempat wisata. Ya jadi sekalian ke sini walaupun tujuannya ke Lapangan Banteng,” kata Marta usai menunaikan sholat dzuhur, Sabtu (13/7/2024).

Ini sudah kali keempat Marta dan keluarganya berkunjung ke Masjid Istiqlal, Bagi Marta, masjid itu memiliki suasana yang nyaman mengingatkannya kepada suasana di Bandung yang sejuk.

Memang tak seperti di area Jakarta yang lain, saat detikTravel berada di halaman dalam masjid itu suasana seolah berubah sekejap. Berada di lingkungan Masjid Istiqlal udara terasa sejuk dan asri kendati di area luarnya sedang panas.

“Enak dingin ya, ademlah gitu jadi nggak kerasa kayak di Jakarta. Di Bandung kan dingin ya anginnya nah jadi senang lah nggak kerasa panas di sini,” ujar Marta.

Selain Marta yang menikmati kunjungannya di masjid terbesar se-Asia Tenggara ini, Dina yang merupakan warga Cileungsi, Bogor mengajak anak-anaknya untuk berkunjung ke Masjid Istiqlal. Tujuan mereka berlibur ke Jakarta memang untuk berwisata religi dan jujugannya adalah Masjid Istiqlal.

Agenda tersebut untuk mengisi waktu libur sekolah sang anak yang sebentar lagi usai. Sebari duduk santai, dia mengisahkan pengalaman perjalanan kali kepada detikTravel. Dia mengatakan rasa senang anaknya ketika berwisata religi ke tempat yang luas dan nyaman seperti Masjid Istiqlal ini.

“Cuma untuk liburan ini baru ke sini (Masjid Istiqlal) saya memang biasa kalo liburan suka wisata religi, ke mana aja pokoknya yang sambil main sambil ke masjid. Alhamdulilah di sini rame, nyaman, luas juga kan tempatnya,” ujar Dina.

“Anak saya senang kalau diajakin wisata kayak gini berwisata sambil beribadah gitu senang banget. Di sini selain solat ya paling makan, anak-anak kan sering minta jajan ya sambil main aja begini,” Dina menambahkan.

Masjid Istiqlal itu memang memiliki keindahan bangunan. Selain itu, area masjid yang luas dan fasilitas yang memadai membuat pengunjung bisa berlama-lama di sana dengan nyaman.

Pengunjung yang datang ke Masjid Istiqlal ini bukan hanya masyarakat Indonesia, banyak dari wisatawan mancanegara pun yang datang ke sini untuk melihat-lihat kemegahan Masjid Istiqlal. Bagi wisatawan yang tidak menggunakan busana yang sopan akan diarahkan ke ruang informasi untuk diberikan busana yang sopan agar bisa masuk ke area masjid.

Masjid Istiqlal boleh dikunjungi bagi para pengunjung setiap harinya mulai dari pukul 03.30 hingga 22.00 WIB. Dan untuk pengunjung yang datang untuk menunaikan sholat ataupun sekadar berkunjung, nantinya akan diarahkan ke dua pintu masuk masjid yakni pintu Al Fattah untuk laki-laki dan pintu Al Quddus untuk perempuan.

“Pokoknya masjid buka dari setengah empat subuh sampai jam sepuluh malam tapi jam sembilan sudah harus clear area,” kata salah satu petugas keamanan Masjid Istiqlal.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Unik di Sukabumi: Bentuknya Perahu, Warnanya Ungu



Sukabumi

Di Sukabumi, berdiri sebuah masjid unik dengan bangunan yang tidak lazim. Masjid itu berbentuk perahu dan warnanya serba ungu. Bagaimana kisahnya?

Sebuah bangunan masjid nyentrik berdiri gagah di Kampung/Desa Purwasari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Masjid itu berbentuk perahu dengan warna cat yang tak kalah nyentrik, serba berwarna ungu.

Masjid tersebut dinamai sesuai dengan nama pemiliknya, Sri Soewarto. Masjid tersebut kemudian viral dan mencuri perhatian publik berkat desainnya yang unik dan fungsinya yang multifungsi.


“Masjid ini didesain oleh Haji Soewarto, ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan wisata keluarga,” kata Lukman Hakim, manajer Masjid Perahu, Rabu (28/8/2024).

Lukman menjelaskan, desain perahu itu berawal dari kecintaan sang pemilik kepada perahu dan dunia pelayaran.

“Desainnya unik, di mana bagian atas masjid berbentuk perahu. Di dalam perahu tersebut terdapat masjid, ruang pertemuan, dan di lantai tiga serta empat, ada area panorama. Selain itu, di bawah masjid ini juga terdapat restoran,” jelas Lukman.

Masjid Perahu di Sukabumi.Masjid Perahu di Sukabumi. Foto: Syahdan Alamsyah

Pembangunan Masjid Perahu dimulai lima tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2019. Setelah melalui berbagai tahap pembangunan, masjid ini mulai diuji coba pada Januari 2024 dan saat ini masih dalam tahap soft-opening.

“Pembangunan seluruh area wahana ini memakan waktu lima tahun,” tambah Lukman.

Lukman mengatakan, kehadiran Masjid Perahu mendapatkan perhatian dari masyarakat tidak hanya lingkungan sekitar tapi juga di Jawa Barat secara umum.

“Alhamdulillah, tanggapan masyarakat sangat positif. Dengan adanya Masjid Perahu yang juga memiliki wahana air dan danau, banyak yang menyambut baik. Pak Haji Soewarto membangun masjid ini dengan niat mensejahterakan masjid dan masyarakat di sekitarnya,” tuturnya.

Masjidnya Sejuk dan Menenangkan

Rasa sejuk menyergap saat memasuki area masjid bernuansa megah tersebut. Sejumlah pengunjung terlihat khusyuk menjalankan salat sunah tahiyatul masjid. Bukan hanya menarik perhatian warga setempat, tetapi juga pengunjung dari berbagai daerah.

“Saya pertama kali mendengar tentang Masjid Perahu dari teman-teman, dan begitu sampai di sini, saya benar-benar terkesan. Desainnya sangat unik, belum pernah saya lihat masjid yang bentuknya seperti perahu, apalagi ada restoran dan area panorama di dalamnya,” kata Warno, pengunjung asal Salatiga, Jawa Tengah.

Masjid Perahu di Sukabumi.Masjid Perahu di Sukabumi. Foto: Syahdan Alamsyah

Menurut Warno, suasana di dalam masjid sangat tenang dan damai, membuatnya merasa nyaman beribadah.

“Interiornya sangat rapi, dan pemandangan dari lantai atas sangat indah. Saya bisa melihat hamparan hijau yang menambah suasana spiritual. Ini pengalaman yang berbeda dari masjid-masjid lain,” ujarnya.

Warno juga menambahkan bahwa fasilitas di sekitar masjid sangat lengkap, mulai dari tempat wudhu yang bersih, hingga area istirahat yang nyaman.

“Bagi saya, Masjid Perahu bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat untuk mencari ketenangan,” tutupnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Pondok Pesantren Berusia 4 Abad dari Semarang



Semarang

Di kota Semarang, berdiri sebuah pondok pesantren yang konon usianya sudah 4 abad alias 400 tahun. Inilah pondok pesantren Luhur Dondong.

Salah satu pondok pesantren (ponpes) tertua di Indonesia ada di Semarang. Saat ini, usianya dipercaya sudah 4 abad. Ponpes tersebut dikenal dengan nama pondok Luhur Dondong.

Hingga kini, pondok tersebut dianggap menjadi penolong bagi para perantau di Kota Semarang. Sesuai namanya pondok ini berada di Jalan Dondong, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.


Di pondok pesantren tertua ini, tampak bangunan yang cukup lawas. Di salah satu sudutnya terdapat kentongan dengan ukuran cukup besar.

Suasana di pondok itu tampak sepi pada siang hari. Hanya ada beberapa santri pengelola pondok yang bersiap untuk salat zuhur. Salah satunya Ifan Fahrudin (22). Santri asal Kendal itu pun sempat menceritakan sejarah Pondok Luhur Dondong yang jadi pondok tertua di Indonesia.

“Iya ini masuk pondok tertua di Indonesia. Sejarahnya, pondok ini berdiri sekitar tahun 1.609, didirikan Kiai Syafi’i Pijoro Negoro pada zaman Mataram,” kata Ifan saat ditemui, Rabu (23/10) pekan lalu.

Pada saat era Sultan Agung itu, lanjut Ifan, Mbah Syafi’i, panggilan Kiai Syafi’i Pijoro Negoro, diutus untuk ikut serta dalam penyerangan di Batavia. Pada saat itu, ia memutuskan untuk singgah ke pesisir Mangkang.

Mbah Syafi’i yang kerap disebut sebagai Panglima Diponegoro itu pun tak hanya ikut serta dalam peperangan. Ia turut melakukan dakwah hingga mendirikan pondok di Jalan Dondong.

“Dulu awalnya beliau mendirikan padepokan dulu, dekat laut. Tapi makin lama kemakan zaman sama banjir rob, akhirnya geser ke sini yang lebih aman,” jelasnya.

Suasana Pondok Luhur Dondong, di Jalan Dondong, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Rabu (23/10/2024).Suasana Pondok Luhur Dondong Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Santri yang telah menimba ilmu di Pondok Luhur Dondong selama kurang lebih empat tahun itu mengatakan, dua dari lima bangunan pondok kondisinya masih seperti sedia kala. Bangunannya masih menggunakan kayu dengan lantai masih berupa tegel. Pengampunya pun sudah dari generasi ke-7.

Ifan mengatakan, saat ini hanya ada sekitar 20 santri yang mengaji di Pondok Luhur Dondong. Beberapa dari mereka pun merupakan perantau dari berbagai daerah yang saat ini tengah bekerja di Kota Semarang.

“Menurut saya pondok ini termasuk pondok yang menolong, untuk menolong orang yang ingin bekerja. Dari pada di kos-kosan yang mahal, mereka bisa tinggal di sini, ikut ngaji,” jelasnya.

Biasanya, para santri akan bekerja maupun sekolah pada pagi hingga siang hari. Sementara pada sore hingga malam hari, mereka akan memperdalam ilmu keagamaan dengan mengaji.

“Santri paling jauh ada dari Sulawesi, Serang, Bogor, yang dari Sumatera dulu juga ada. Kebanyakan yang ngaji di sini itu buruh pabrik, tapi anak SMA juga ada,” paparnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Butuh Tempat Ngerjain Tugas Nyaman? Bisa di Perpustakaan Jusuf Kalla UIII


Depok

Depok punya tempat yang cozy dan asyik banget buat mengerjakan tugas, baca buku, atau sekadar me time ke tempat hening. Tempatnya ada di Perpustakaan Jusuf Kalla kompleks Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok.

Bangunan perpustakaan nggak cuma megah dan luas, tapi juga menyediakan fasilitas sesuai kebutuhan pengunjung. Misal AC yang dingin, Wi-Fi cepat, mushola, dan berbagai koleksi buku yang tersedia dengan tiket masuk Rp 10 ribu.

“Di sini enak dan fasilitasnya lengkap. Kalau mau baca buku tersedia isu nasional bahkan luar negeri yang bikin pengetahuan kita makin luas,” kata Dafa salah seorang pengunjung yang sedang Work From Anywhere (WFA) kepada detikTravel.


Perpustakaan Jusuf Kalla UIIIPerpustakaan Jusuf Kalla UIII (dok. Qonita Hamidah/detik travel)

detikTravel sempat mengunjungi perpustakaan yang disebut salah satu terbesar di Jabodetabek pada Rabu (8/10/2025) siang selepas azan Salat Zuhur. Suasana tenang dan hening langsung terasa, sangat kontras dengan kondisi Depok saat itu yang sangat panas.

Dalam kunjungan ini, detikTravel sempat menelusuri perpustakaan berlantai 8 yang ketika hari kerja tidak banyak menerima tamu. Perpustakaan Jusuf Kalla memiliki ruang baca anak yang terletak di lantai 2 dengan berbagai jenis koleksi.

“Alhamdulillah, sekarang bukunya udah semakin banyak, pas aku pertama kali ke sini bukunya baru sedikit. Di sini bisa bikin anak-anak suka baca buku,” kata pengunjung asal Depok ini.

Perpustakaan Jusuf Kalla UIIIPerpustakaan Jusuf Kalla UIII (dok. Qonita Hamidah/detikTravel)

Untuk anak usia 6-8 tahun tersedia aneka komik, sementara bagi umur 9-12 tahun beragam buku petualangan bisa diakses. Bagi remaja, ada banyak jenis buku fiksi yang cocok bagi pembaca di usia 13-18 tahun.

Jalan-jalan di Perpustakaan Jusuf Kalla UIII

Pengunjung bebas berlama-lama di perpustakaan ini asal masih dalam jadwal operasional pukul 09.00-21.00 WIB pada Senin-Jumat. Perpustakaan juga buka pada hari Sabtu pukul 09.00-16.00 WIB.

Perpustakaan Jusuf Kalla UIIIPerpustakaan Jusuf Kalla UIII (dok. Qonita Hamidah/detikTravel)

Ketika detikTravel datang ke perpustakaan ini, tiap pojoknya menyediakan buku yang bisa dibaca siapa saja. Buku dan bahan bacaan lain tersedia di lantai 1 yang diperuntukkan sebagai lobi dan area loker untuk pengunjung. Di lantai 2 tersedia studio siniar, CSIS Corener, koleksi Jusuf Kalla, referensi, dan buku langka.

Naik ke lantai 3 ada aula baca besar, meja sirkulasi, ruang kerja, koleksi bahasa Inggris, kompilasi milik Prof MC Ricklefs. Di lantai selanjutnya, kita akan menemukan koleksi buku dalam bahasa Indonesia lengkap dengan area membaca. Koleksi dalam bahasa Arab serta ruang bacanya tersedia juga di perpustakaan tepatnya lantai 5.

Suasana di lantai 3 cukup ramai, dengan sebagian besar pengunjung terlihat sibuk beraktivitas di depan laptop. Kondisi ini berbeda dengan lantai 4 yang suasananya lebih tenang dan hanya sedikit pengunjung.

Bagi pengunjung yang sudah lelah menjelajahi perpustakaan, bisa istirahat di lantai 6 yang menyediakan mushola. Selain itu ada area membaca kasual dan koleksi buku lainnya. Perpustakaan masih punya lantai 7 yang berisi ruang meeting dan lantai Sedangkan di lantai 8 ada area teater yang bisa digunakan pengunjung.

Fasilitas lift di perpustakaan ini hanya beroperasi dari lantai 3 hingga lantai 6. Jika ingin naik dari lantai 1 ke lantai 3, kita bisa menggunakan eskalator. Sementara untuk menuju lantai 7 dan 8, kita dapat menggunakan tangga darurat.

Dengan semua fasilitas dan koleksi bukunya, Perpustakaan Jusuf Kalla di kompleks UIII bisa jadi pilihan tepat bagi yang ingin menyelesaikan pekerjaan, tugas, atau sekadar meningkatkan pengetahuan. Di setiap rak buku dan lembarannya, selalu ada inspirasi baru yang menanti untuk ditemukan.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com