Tag Archives: sejarah

Bangunan Bersejarah di Sukabumi, Saksi Bisu Kisah Tragis Sang Notaris



Sukabumi

Ada sebuah bangunan bersejarah bergaya Indische Empire di Sukabumi. Yang tak banyak orang tahu, bangunan itu saksi bisu kisah tragis seorang notaris Belanda.

Notaris berkebangsaan Belanda itu bernama Hendrik (Harry) Schotel. Schotel tinggal di rumah itu pada era tahun 1920-an. Awalnya, dia membuka kantor di Batavia dan pindah ke Sukabumi menggantikan notaris sebelumnya H. Tollens.

Di rumah tersebut, Schotel melakukan kegiatan kenotarisan. Mulai dari aktivitas jual beli tanah, ubah kepemilikan tanah, bangunan hingga membuat akta kelahiran.


Salah satu karyanya yang tercatat dalam sejarah yaitu saat pengurusan tanah perkebunan teh dari perbatasan Cianjur hingga Bogor. ada masa Pemerintahan Hindia Belanda, Sukabumi memang ditinggali para pengusaha perkebunan yang sering berurusan dengan hak guna usaha.

“Belum lagi dokumen-dokumen hukum dari kaki Gunung Gede hingga pantai Palabuhanratu. Urusan pertanahan penduduk biasa hingga instansi pemerintahan, semua diurus oleh beliau di rumah ini,” ujar Ketua Yayasan Dapuran Kipahare Irman Firmansyah, beberapa waktu lalu.

Puncak karir sang notaris dimulai saat ia aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Ia terjun ke dunia olahraga sepak bola dan menjadi Ketua Kehormatan saat bertanding dengan tim dari kota lain.

Schotel juga pernah menjadi Presiden Asosiasi Indo Eropa (IEV) dan berkontribusi penting dalam bisnis perkebunan di Sukabumi. Keberhasilannya tak lepas dari kepiawaiannya merangkul para pengusaha dan juga para pejabat pemerintahan kala itu.

Peristiwa Tragis Dialami Keluarga Schotel

Di balik segala kesuksesannya, ternyata ada kisah menyayat hati yang dialami oleh keluarga Hendrik Schotel. Kehidupan Schotel berubah 180 derajat saat putrinya mengalami kecelakaan di Batavia pada Mei 1928 silam.

Saat itu, anak gadis Schotel bersama sopir dan ibunya berangkat ke Batavia dari Sukabumi dengan mobil Buick tujuh seat.

Sekitar pukul 14.00 WIB, mobil Buick itu melewati persimpangan Menteng-Nieuw Gondangdia, namun sang supir tak menyadari ada trem listrik melintas di depannya.

Saat melintasi rel trem, supir kaget dan mengerem mendadak. Akibatnya, trem menghantam bagian belakang mobil hingga terlempar dan menabrak tiang lampu lalu lintas. Kendaraan yang ditumpangi keluarga Schotel rusak parah di bagian depan dan belakang.

Schotel Sangat Terpukul dengan Kecelakaan Itu

Dalam kondisi terluka, keluarga Schotel dilarikan ke rumah sakit CBZ (sekarang RSCM). Sedangkan Schotel diberitahu mengenai kejadian itu melalui sambungan telpon. Schotel sangat terpukul dengan kejadian tersebut.

Dia mulai sakit-sakitan dan hanya terbaring di tempat tidur untuk waktu yang cukup lama. Hal ini menyebabkannya harus absen sebagai notaris hingga ia mengajukan cuti pada 29 November 1929.

Schotel pun tak sanggup menjalankan tugasnya sebagai notaris. Dia lalu diberhentikan sebagai notaris dan posisinya digantikan oleh A.W.F Bakker.

Hal ini membuat pihak keluarga harus menjual aset-asetnya untuk bertahan hidup. Situasi ini menjadi beban berat bagi keluarga Schotel.

Setahun kemudian, tepatnya 12 Juli 1932, Schotel meninggal dunia di usia 56 tahun. Pemakamannya dihadiri Asisten Residen Sukabumi dan Wali Kota Sukabumi, kemudian perwakilan I.EV Camoenie, dan Durr perwakilan dari I.K.P.

“Beliau meninggal karena kesedihan anaknya kecelakaan di Jakarta di Gondangdia, makanya orang bilang ini spooky house atau agak berhantu, tapi so far sih tidak ada masalah cuma memang orang banyak penasaran dengan gedung ini,” kata Irman.

Bangunan rumah Schotel yang berada di Jalan Bhayangkara nomor 219, Kota Sukabumi masih berdiri dengan kokoh dan bisa dilihat wisatawan. Namanya kini berubah jadi Wisma Wisnu Wardhani dan Setukpa Lemdiklat Polri.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pesanggrahan Tamsis Kaliurang, Tempat WN Finlandia Ditemukan Konon Angker



Jogja

WN Finlandia, Erik Aleksander dilaporkan hilang saat berwisata di kawasan Kaliurang. Ia ditemukan di halaman pesanggrahan Taman Siswa yang konon angker.

Erik ditemukan dalam kondisi sehat, namun lemas karena seharian belum makan. Erik dilaporkan hilang tepat pada hari Natal, Senin (25/12/2023) sore. Dia baru ditemukan wisatawan lain pada keesokan harinya, Selasa (26/12) siang.

Pesanggrahan Taman Siswa Kaliurang tempat Erik ditemukan itu terletak di Hargobinangun, Pakem, Kabupaten Sleman. Bangunan bercat putih itu sudah ada sejak zaman pendudukan Belanda.


Berbeda dari pesanggrahan yang lain, rumah yang satu ini terkenal karena nuansa mistis dan angker yang melingkupi bangunan tersebut.

Dibangun Hampir Satu Abad yang Lalu

Dilansir dari laman Jogja Cagar, pesanggrahan tersebut dibangun sebelum tahun 1930. Bangunan ini juga dikenal dengan nama Pesanggrahan Sarjanawiyata, karena saat ini dimiliki oleh Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).

Pesanggrahan itu juga kerap disebut Rumah Putih Grezenberg karena lokasinya yang berdekatan dengan gunung Merapi. Disebutkan pula rumah dua lantai ini pernah rusak akibat letusan Merapi pada tahun 1994.

Sebelum tidak terurus seperti sekarang, rumah bergaya arsitektur Eropa ini dulunya digunakan sebagai tempat berkumpulnya para penyebar agama Katolik Belanda.

Pada tahun 1953, bangunan tersebut sempat dimiliki oleh salah satu guru besar UGM, yakni Prof. drg. Soedomo, yang merupakan pendiri Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Sebelum akhirnya rumahnya beralih kepemilikan kembali menjadi milik UST.

Nuansa Horor di Pesanggrahan Taman Siswa

Akibat terbengkalai, Pesanggrahan ini ditumbuhi oleh berbagai tanaman jalar yang merambat di dinding-dinding rumah sehingga memberikan kesan horor. Terlebih lagi, bangunannya sudah tak digunakan karena konstruksinya yang tidak layak huni.

Meskipun tampak mencekam, banyak wisatawan masih kerap mengunjungi Pesanggrahan Taman Siswa itu. Mulai dari sekadar melihat-lihat bagian luar dan bagian dalam bangunan, melakukan sesi foto, hingga uji nyali.

Banyak pengunjung yang mengaku melihat penampakan makhluk halus di bangunan tersebut, bahkan di siang hari. Terlepas dari benar tidaknya pengakuan itu, Pesanggrahan Taman Siswa masih terlihat megah dan kokoh berdiri, bahkan dengan kondisinya yang terbengkalai dan berkesan angker.

—–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tugu Juang Siliwangi, Nasibmu Kini….



Bandung

Tugu Juang Siliwangi nasibnya memprihatinkan. Usang dan terlupakan. Padahal, tugu ini adalah saksi bisu perjuangan warga Bandung Selatan. Bagaimana kisahnya?

Tugu Juang kini telantar di tengah hiruk-pikuknya kehidupan masyarakat Bandung Selatan. Monumen ini diresmikan Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi dan Letnan Jenderal TNI Raden Himawan Soetanto pada 20 Mei 1975.

Bangunan yang didirikan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional itu, dibuat untuk mengenang para pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.


Namun saat ini, banyak sampah memenuhi area sekitar tugu. Ada pula coretan-coretan di dinding monumen, tingginya semak belukar yang menutupi monumen, hingga oknum-oknum yang sering menaiki area patung pejuang.

Bangunan setinggi 20 meter ini, mempunyai simbol kujang di atasnya. Menurut budaya Indonesia, kujang merupakan senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis.

Dalam hal ini, Tugu Juang Siliwangi mempunyai nilai sakral akan peristiwa sejarah saat itu. Adanya Tugu Juang Siliwangi berhubungan dengan terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api.

Menurut pengamat sejarah, Drs. Andi Suwirta, M.Hum. menuturkan bahwa pada masa revolusi, musuh Indonesia bukan hanya Belanda, tetapi tentara sekutu dari negara Inggris.

Tugu Juang Siliwangi di Baleendah, Kabupaten Bandung.Tugu Juang Siliwangi di Baleendah, Kabupaten Bandung. Foto: Dok. Pribadi

Tentara sekutu menduduki kota-kota besar di Indonesia, salah satunya Kota Bandung. Pada masa itu, kebijakan politik pemerintah pusat mengharuskan Kota Bandung untuk melakukan diplomasi dengan sekutu, dengan membantu tugas tentara sekutu untuk mengembalikan tentara Jepang yang kalah perang ke negaranya.

“Pada saat itu, tentara sekutu mengatakan bahwa mereka mendapatkan gangguan dari laskar-laskar, dari kekuatan-kekuatan yang nampaknya ingin mengajak perang. Karena itu, Bandung harus dikosongkan dari laskar-laskar atau para pemuda ekstrimis supaya mereka mau menyingkir ke luar Kota Bandung. Supaya Bandung menjadi kota yang aman karena tentara sekutu mau memulangkan tentara Jepang,” kata Andi Suwirta, Kamis (14/12) lalu.

Kondisi Terkini Tugu Juang Siliwangi

Di bawah menjulangnya Tugu Juang, terdapat lima patung tanpa identitas yang mengenakan pakaian pejuang. Kelima patung tersebut menghadap ke Jalan Dipatiukur dan di salah satu patungnya menunjuk ke arah Dayeuhkolot.

Kini kondisi kelima patung tersebut memprihatinkan, terdapat bagian-bagian patung yang hilang, seperti tangan dan kepala patung yang tidak sempurna. Cat yang sudah memudar, serta air kolam pun sudah menguning.

“Tugu ini juga tidak ada yang menjaga, sehingga orang bisa keluar masuk dengan bebas, sampai-sampai banyak dijadikan tempat yang tidak-tidak,” ujar Elsa (21), warga setempat, Jumat (22/12).

Elsa (21), warga yang tinggal di sekitar Tugu Juang Siliwangi juga merasakan keprihatinan akan kondisi monumen perjuangan yang sudah tidak terawat.

“Saya tidak banyak mengetahui mengenai sejarah di balik dibangunnya Tugu Juang Siliwangi, tetapi saya melihat tugu tersebut banyak sampah, ditempati gelandangan, dan sesekali ramai di hari Minggu karena ada Pasar Minggu”, tuturnya.

Hari, saksi sejarah Tugu Juang Siliwangi yang lahir dari keluarga pejuang di zaman dahulu juga menyesalkan Tugu Juang Siliwangi yang kurang terpelihara, terutama oleh masyarakat setempat.

“Apalah daya dibangunnya tugu, jika tidak dipelihara baik. Tidak sampai arti-arti perjuangan di dalamnya,” tutup Hari.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Percaya Tidak, Lapangan Keren di Garut Ini Dulu Kuburan Belanda



Garut

Di Garut, ada sebuah lapangan bola yang keren dan menawan. Tapi percaya tidak, di zaman dulu, lapangan ini adalah sebuah kuburan Belanda.

Lapangan Kerkhof di Kabupaten Garut, jawa Barat lebih menawan usai diberi sentuhan rumput sintetis impor. Sebelum dikenal sebagai tempat untuk warga olahraga, lapangan ini mempunyai sejarah panjang.

Lapangan Kerkhof rupanya kuburan orang-orang Belanda dan Eropa hingga tahun 1981. Di tahun tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut kemudian memindahkan makam-makam tersebut ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Santiong, yang berada di Kecamatan Karangpawitan.


Kemudian, pada masa kepemimpinan Bupati Taufik Hidayat (1983-1988), Pemkab Garut mengubah fungsi Kerkhof dari kuburan Belanda menjadi arena pacuan kuda.

Setelah puluhan tahun berlalu, barulah pada tahun 2003, Bupati Dede Satibi mengubah fungsi lapangan Kerkhof menjadi sarana olahraga, dan mengubah namanya menjadi SOR Merdeka.

Sarana olahraga seluas dua hektar ini berada di Jalan Merdeka, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut. Lokasinya berada dekat dengan SMAN 1 Garut yang ada di sebelah timur, dan bundaran Leuwidaun yang ada di barat.

Meski sudah berubah fungsi dari kuburan menjadi tempat olahraga, tapi lapangan Kerkhof tak pernah kehilangan nilai sejarahnya. Kerkhof masih menjadi saksi bisu, beragam peristiwa sejarah yang terjadi di masa lalu.

Kisah Heroik Yang Chil Sung

Salah satu momen yang terjadi di Lapangan Kerkhof di masa lalu, adalah eksekusi mati terhadap Yang Chil Sung. Pria asal Korea Selatan, yang saat masa setelah kemerdekaan ikut membela rakyat Garut mengusir penjajah Belanda.

Sejarah ini, bermula ketika Yang Chil Sung, alias Yanagawa Shichisei, alias Komarudin, tertangkap oleh Belanda di Gunung Dora, perbatasan Garut-Tasikmalaya pada 25 Oktober 1948.

Saat itu, selain Yang Chil Sung, ada 4 orang lainnya yang tertangkap. Yakni Masahiro Aoki alias Abubakar, Katsuo Hasegawa alias Usman/Oetman, Guk Jae Man alias Soebardjo, dan seorang pribumi bernama Letnan Djoehana.

Guk Jae Man dieksekusi Belanda lebih dulu, karena konon kabarnya mencoba melarikan diri. Tinggallah 4 orang ini, yang diadili oleh Belanda. Letnan Djoehana yang pandai berbahasa Belanda melakukan pembelaan dan akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan militer.

Sedangkan Yang Chil Sung, Aoki dan Hasegawa dijatuhi vonis mati. Vonis mati itu, kemudian dilaksanakan pada bulan Mei 1949.

Media Belanda, de Vrije Pers dalam sebuah artikel yang terbit di tanggal 25 Mei 1949 mengabarkan Yang Chil Sung dkk, dieksekusi mati pada tanggal 22 Mei 1949.

“Dini hari tanggal 22 Mei, hukuman mati dilaksanakan di Garut terhadap Aoki Jepang alias Abubakar, Hasegawa alias Uetman, dan Yanagawa alias Komaroedin. Yang pada saat itu, telah dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Militer Khusus,” bunyi laporan berbahasa Belanda tersebut.

Perdebatan Soal Waktu Eksekusi

Terkait waktu eksekusi mati ini, masih menjadi perdebatan. Sebab, di batu nisan Yang Chil Sung, Aoki dan Hasegawa sendiri, tertera jika mereka meninggal dunia pada 10 Agustus 1949.

Ada juga beberapa laporan media Belanda jadul, yang menyebutkan jika mereka mati pada tanggal 21 Mei 1949. Salah satunya, seperti laporan yang dirilis Indische Courant voor Nederland yang tayang pada 1 Juni 1949.

“Hukuman mati dilakukan di Garut pada 21 Mei. Warga Jepang, Aoki alias Abubakar, Hasegawa alias Oetman, dan Janagawa alias Komaroedin yang pada saat itu divonis mati oleh pengadilan militer khusus di Garut,” ungkap laporan tersebut.

Terlepas dari misteri tanggal dieksekusi mati ketiga pahlawan tersebut, yang jelas, konon kabarnya, eksekusi mati itu dilakukan di lapangan Kerkhof yang sekarang menjadi SOR Merdeka.

Ada beragam kisah menarik, yang mengiringi gugurnya ketiga pahlawan tersebut. Pertama, mereka diketahui menyampaikan ingin dimakamkan secara Islam, setelah dieksekusi mati. Kemudian, mereka juga konon kabarnya minta agar dipakaikan kemeja putih dan sarung merah, saat ditembak mati.

Lapangan rumput sintetis SOR Merdeka Garut yang punya standar FIFALapangan Kerkhof di Garut Foto: Hakim Ghani/detikJabar

Kisah mengenai Yang Chil Sung ini, belakangan banyak diperbincangkan di Garut. Setelah pemerintah mengungkap rencana pembuatan film berjudul Tanah Air Kedua yang akan mengisahkan perjuangan Yang Chil Sung dan kawan-kawan.

Kabarnya, film tersebut sekarang sedang berproses, dan akan dibintangi Maudy Ayunda dan aktor kenamaan Korea Selatan, Kim Bum.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Masjid Tertua di Padangsidimpuan, Konon Dibangun dalam 24 Jam



Padangsidimpuan

Kota Padangsidimpuan di Sumatera Utara punya masjid tertua. Konon Masjid Syech Zainal Abidin ini dibangun hanya dalam waktu sehari semalam atau 24 jam.

Berdasarkan keterangan di laman cagar budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Sumut, masjid ini dibangun pada tahun 1880. Masjid ini menjadi paling tua di Kota Padangsidimpuan.

“Masjid Syech Zainal Abidin dibangun tahun 1880 dan merupakan masjid tertua di Kota Padangsidimpuan,” seperti dikutip pada Jumat (16/2/2024).


Syech Zainal Abidin merupakan ulama dan sufi terkemuka di wilayah Tapanuli bagian Selatan. Dia lahir pada tahun 1810 dan meninggal dunia pada tahun 1903.

Jenazahnya dimakamkan tidak jauh dari lokasi masjid tersebut. Masjid Syech Zainal Abidin sendiri terletak di Desa Pudun Jae, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kota Padangsidimpuan.

Masjid ini dibangun tanpa menggunakan semen seperti umumnya bangunan zaman sekarang. Bangunan Masjid Syech Zainal Abidin ini dibuat dari tanah liat, telur ayam, batu dan tanah kapur.

Masjid ini dibangun dalam waktu sehari semalam atau 24 jam. Sebanyak 50 orang bergotongroyong untuk membangun masjid ini.

“Bangunan ini dahulunya dibangun hanya dalam tempo waktu 24 jam dengan pekerja lebih dari 50 orang,” terang laman tersebut.

Masjid Syech Zainal Abidin memiliki warna hijau di bagian atap dan dinding berwarna putih. Dinding masjid tersebut dibuat dengan ketebalan 60 centimeter.

Gaya Arab-Jawa melekat dalam ornamen masjid yang memiliki kapasitas 100 jemaah ini. Masjid tersebut memiliki satu pilar besar di bagian tengah. Sedangkan di bagian luar terdapat 8 pilar untuk menopang masjid.

Konon banyak keberkahan terjadi selama proses pembangunan masjid ini. Seperti adanya pekerja yang sembuh dari penyakit kelumpuhan setelah ikut gotong royong membangun masjid ini.

Pemkot Padangsidimpuan kemudian menetapkan Masjid Syech Zainal Abidin ini sebagai cagar budaya pada 2014. Penetapan tersebut berdasarkan Peraturan Daerah nomor 04 tahun 2014.

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Kelam Asrama TNI di Medan, Kini Jadi Cagar Budaya



Medan

Di Medan, ada sebuah bangunan Asrama TNI yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Di zaman dulu, asrama ini diliputi oleh sejarah kelam. Bagaimana kisahnya?

Bangunan cagar budaya yang dimaksud itu adalah Asrama TNI Glugur Hong yang berada di Jalan Karantina Ujung, Lingkungan XI, Kelurahan Sidorame Barat I, Kecamatan Medan Perjuangan, Medan.

Kawasan itu ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2023 silam. Penetapannya diteken oleh Wali Kota Medan Bobby Nasution berdasarkan surat keputusan Wali Kota Medan nomor: 433/29.K.


Surat tersebut ditandatangani Bobby pada 1 Februari 2023. Salah satu pertimbangan Bobby dalam menetapkan cagar budaya itu adalah surat rekomendasi dari Tim Cagar Budaya pada 12 Desember 2022.

Sejarah Kelam Asrama TNI Glugur Hong

Asrama TNI Gloegoer Hong dibangun pada tahun 1913. Kawasan tersebut diketahui menyimpan sejarah kelam saat masa pengembangan industri perkebunan di daerah Sumatera Timur, khususnya di Medan.

“Dulunya tempat karantina buruh kontrak sebelum bekerja di perkebunan di pesisir timur Sumatra,” kata Andi Winata Sitorus, Katim Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, Kamis (22/2) lalu.

Asrama TNI Glugur Hong terbagi menjadi 2 kawasan, yakni asrama Glugur 1 dan asrama Glugur 2. Pada tanggal 12 April 1942-29 Mei 1942, asrama Glugur 1 merupakan bagian selatan pusat karantina buruh kontrak.

“Ketika berfungsi sebagai asrama penduduk sipil, isinya itu terdiri dari kalangan wanita dan anak-anak,” ucap Andi.

Pada tahun 1943-1945, Glugur I dan II menjadi tempat interniran untuk para tahanan perang atau Prisoners of War (POW). Kaum sipil yang tadinya bertempat di Glugur 1 kemudian dipindah ke kamp Poelaubrajan D.

“Jadi, masa itu kamp punya pimpinan dan pimpinan kamp Glugur I bernama Suster Bernardine,” sebutnya.

Sementara itu, Glugur II merupakan kamp untuk tahanan perang dari tanggal 26 Juni 1842 hingga Juni 1944. Selanjutnya, digunakan sebagai kamp bagi tahanan sipil pada tanggal 6 Juni 1944 hingga 17 Juni 1945.

Tahanan perang Glugur II berasal dari kamp Unie Kampong di Belawan yang terdiri dari barak keluarga, barak rumah sakit, dan bangunan luar dikelilingi tembok batu tinggi yang di atasnya diberi pecahan kaca.

“Setelah tawanan perang itu pergi, barak kuli yang ditinggalkan difungsikan sebagai kamp kaum wanita,” jelasnya.

Gedung Asrama Glugur Hong TNI berjarak kurang lebih 1 km ke arah timur jalan utama. Awalnya, bangunan tersebut dibangun pada 1913 untuk buruh kontrak AVROS di dekat jalan utama dan jalur kereta api menuju Belawan.

“Pada pertengahan Juli 1945, asrama Glugur Hong ini dikosongkan,” tuturnya.

Masih Ada Peninggalan Belanda di Asrama Glugur Hong

Menurut Fitri Sinaga, salah seorang warga di Asrama Glugur Hong, ada beberapa peninggalan yang masih bisa dilihat wisatawan di tempat itu.

“Ada peninggalan Belanda berupa tong air, rumah tinggi yang dulunya rumah sakit gila, dan kuburan di tanah kosong bagian belakang,” kata Fitri.

Menurut Fitri, terdapat beberapa perubahan di kawasan Glugur Hong TNI tetapi tidak meninggalkan keasliannya. Bangunan tidak sepenuhnya dipugar dan tong air di kawasan itu menjadi peninggalan asli dari zaman dahulu.

“Cucu-cucu penjajah kita dari Belanda datang ke sini dan melihat peninggalan kakeknya baru-baru ini,” ungkapnya.

Meski kawasan Asrama Glugur Hong TNI sudah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Medan. Namun, sebagian besar warga ternyata masih belum tahu jika kawasan tempat tinggal mereka telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

“Kalau bisa Pemkot melirik kemari atau dibuat plakat cagar budaya biar masyarakat tahu, minimal diberi arahan dari instansi terkait,” pinta Fitri.

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kawasan Pecinan yang Tersembunyi di Kota Bandung



Bandung

Tahukah kamu, di kota Bandung ada sebuah kawasan Pecinan yang tersembunyi. Namanya Komplek Jap Loen. Begini penampakan dan lokasi tepatnya:

Meskipun tidak ada wilayah yang bisa dikatakan kampung Pecinan secara spesifik di Kota Bandung, akademisi sekaligus Pengamat Pecinan di Kota Bandung, Sugiri Kustedja melihat Komplek Jap Loen menjadi titik yang paling mendekati pecinan.

Komplek Jap Loen saat ini lebih dikenal dengan Jalan Ikan Asin di Pasar Andir, Kota Bandung. Sebutan Jalan Ikan Asin merujuk pada penamaan masing-masing jalan, yakni Jalan Kakap, Jalan Teri, Jalan Gabus, dan Jalan Pepetek.


Tak banyak yang tahu, bahwa wilayah tersebut juga disebut dengan Komplek Jap Loen, karena dibangun oleh penduduk etnis Tionghoa yang kaya raya bernama Yap Loen.

“Daerah pasar itu yang bangun orang kaya dulu, namanya Yap Loen. Makanya komplek Yap Loen. Sebaliknya, Yap Loen itu rumahnya di antara Gang Luna sama Jalan Sudirman. Saya bilang Komplek Yap Loen itu paling cocok kalau dikatakan pecinan, meski kecil. Sebab bangunannya itu masih ada sisa-sisa gaya Tiongkok. Di jalan ikan asin itu, Gabus, Pepetek,” kata Sugiri yang juga merupakan dosen Arsitektur di Universitas Maranatha tersebut.

Dalam penelitiannya yang berjudul Jejak Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung, Sugiri menuliskan Yap Loen adalah seorang pengusaha tekstil dan properti. Ia aktif pada banyak organisasi Tionghoa, THHK (pendidikan), Siang hwe (perdagangan), Hong Hoat Tong (paguyuban), dan anggota dewan regentschapsraad Bandoeng.

“Yap Lun pada awalnya sebagai pedagang kain keliling. Yap Lun menjadi kaya raya ketika pecah Perang Dunia ke-1 (1914-1918). Ia kaya karena usaha impor kain dalam jumlah besar dari Jepang pada saat Eropa berperang. Sehingga Eropa tidak mampu menyuplai barang ke Hindia Belanda,” kisahnya dalam penelitian itu.

Menelusuri 'Pecinan' di Kota Bandung.Menelusuri ‘Pecinan’ di Kota Bandung. Foto: Anindyadevi Aurellia

Yap Lun menjadi developer Gg Luna (Lun-An; Yap Lun & Kok An), di daerah jalan Waringin, Pasar Andir. Daerah itu kemudian dikenal juga sebagai kompleks Yap-lun, Yaploen straat, Yaploen plein. Perusahaan pengembangnya adalah ‘Jap Loen & Co.’ dan ‘NV Bow Mij Tjoan Seng’.

Dulunya, di daerah itu terdapat sekitar 130 buah ruko satu lantai khas Tionghoa. Sugiri menyebut ruko tersebut mulanya berderet dan seragam. Saat ini wajah pertokoan tersebut sudah berubah, tapi masih ada satu hal yang menjadi ciri khas pecinan di sana.

“Yakni Thiam Tang. Bagian dinding depan ruko yang terdiri dari 3 bidang lembaran konstruksi kayu. Itu menjadi ciri paling khas di situ. Dinding depannya dari kayu, ada tiga segmen. Itu gaya dari Tiongkok Selatan. Pintunya juga kayu dan terbelah dua gitu. Dulu berderet seragam. Kalau dibuka kan, ada yang dia buka atasnya saja, ini artinya publik umum (pembeli) di luar aja,” kata Sugiri sambil memperagakan Thiam Tang tersebut.

Kayu bagian teratas biasanya ditarik agar matahari bisa masuk ke dalam toko, namun tidak sepenuhnya karena terhalang kayu tersebut. Namun jika para pedagang itu welcome, kata Sugiri, kayu bagian bawah pun akan diangkat sehingga mempermudah akses orang keluar masuk.

Pantauan di lokasi, pertokoan dengan jendela kayu yang khas tersebut masih mudah ditemui dari sepanjang Jalan Kakap menuju ke Jalan Pepetek (pasar basah tempat berjualan sayur dan ikan di belakang Pasar Andir).

Kondisi Komplek Jap Loen tersebut ramai oleh pedagang yang berjualan mayoritas kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, jajanan, ikan asin, daging ayam, sayur, dan masih banyak lagi. Kebanyakan dari mereka menggelar lapak di luar ruko, ada beberapa ruko yang dibuka untuk berjualan tapi ada pula yang tidak.

“Kalau yang tutup mah ya untuk penyimpanan stok biasanya. Kalau yang dibuka bisa untuk transaksi. Ada juga yang memang sudah kosong,” kata salah seorang pedagang yang memberikan keterangan singkat.

Sayangnya, komplek yang bisa menjadi titik pecinan di Kota Bandung ini kurang begitu terawat. Kondisi jalannya tak mulus, lapak-lapak di gelar di pinggir jalan agar memudahkan pembeli membuatnya terkesan kurang rapi. Terlebih jika menengok ke area Jalan Pepetek yang sudah padat kios dan beratapkan seng atau terpal.

Di sisi lain, Jalan Cibadak menjadi ruas jalan yang lebih dikenal sebagai pecinan di Kota Bandung. Hal ini karena mayoritas penduduknya etnis Tionghoa, serta jalanan ini dikenal dengan kulinernya yang beragam dan mudah ditemui kuliner khas atau akulturasi Tiongkok.

Namun, dikatakan Sugiri, wilayah Cibadak dirasa kurang pas jika dikenal sebagai wilayah pecinan.

“Kalau Cibadak itu sudah model arsitektur Belanda semua. Kalau populasinya (Cibadak) memang benar, tapi bangunannya sudah bangunan Belanda semua,” ucapnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jejak Batulayang, Kabupaten yang Hilang di Jawa Barat dalam Peta



Bandung

Provinsi Jawa Barat punya kabupaten yang hilang yaitu Batulayang. Begini jejak kabupaten yang hilang itu di dalam peta:

Batulayang rupanya bukan hanya sekedar desa yang masuk administrasi Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Jauh sebelum Indonesia merdeka, Batulayang pernah menyandang status sebagai kabupaten di Tanah Priangan.

Saat Batavia (Jakarta) dan Priangan (Jawa Barat) masih dalam kekuasaan Kolonial Hindia Belanda, Batulayang menjadi salah satu kabupaten di wilayah tersebut. Wilayah itu menjadi daerah perkebunan kopi yang diandalkan Bangsa Eropa.


Arsip tentang Kabupaten Batulayang pun masih tersimpan rapi dalam laporan seorang arsiparis bernama Dr Frederik de Haan Tahun 1910. de Haan juga pernah menjabat sebagai pemimpin Landsarchiev, atau Lembaga Kearsipan Hindia Belanda.

Dalam laporannya yang dibukukan berjudul ‘Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811’, de Haan turut mencantumkan gambar peta wilayah Priangan. Gambar berjudul ‘Overzichtskaartje Bij Priangan’ itu dicantumkan dengan skala 1:2.000.000.

Laporan de Haan dari laman Courts Foundation tersebut diketahui merupakan hasil kerja sama antara Proyek Sejarah Digital di awal 2010 bersama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Di peta yang dicantumkan de Haan dalam laporannya, terlihat Kabupaten Batulayang dikelilingi oleh sejumlah pegunungan di Priangan pada masa itu. Ryzki Wiryawan dalam bukunya berjudul Pesona Sejarah Bandung: Perkebunan di Priangan, lalu menulis perbatasan-perbatasan saat Batulayang masih menjadi kabupaten.

“Batulayang sebagai Kabupaten muncul sejak abad ke-18. Wilayahnya terdiri dari tiga distrik: Kopo, Rongga dan Cisondari (sekarang meliputi daerah: Cililin, Ciwidey dan Gununghalu),” tulis Ryzki dalam bukunya di halaman ke-59 sebagaimana disadur, Rabu (6/3/2024).

Batulayang dibatasi oleh Gunung Wayang dan Linggaratu di sebelah Timur; Sungai Ci Sokan dan Cianjur di barat; Gunung Tilu dan Ci Tarum sampai ke muara Ci Sokan di sebelah utara, Gunung Patuha dan Ci Sokan di sebelah selatan.”

Saat masih berstatus sebagai kabupaten, Batulayang memiliki Ibu Kota bernama Gajah atau Gajah Palembang yang berada di tepi Ci Tarum (sebelah Margahayu sekarang).

Rizky dalam bukunya mengatakan, pemberian nama Gajah itu ditengarai terjadi karena penguasanya zaman dulu yang bernama R Moh Kabul atau Abdul Rohman, pada 1770 membawa oleh-oleh seekor gajah saat pulang usai ditugaskan VOC ke Palembang.

Jejak Kabupaten Batulayang yang terekam arsip Leiden UniversityJejak Kabupaten Batulayang yang terekam arsip Leiden University Foto: KITLV

Sekedar informasi, terdapat sebuah desa yang bernama Gajah Mekar. Desa tersebut secara administratif berada di Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung. Dahulu wilayah ini masuk ke dalam wilayah Kabupaten Batulayang.

Sebelum menjadi kabupaten, Batulayang sempat masuk dalam status keprabuan di bawah kuasa Kerajaan Pajajaran. Menariknya, Abdul Rohman juga membuat tempat pemandian gajah yang kemudian di wilayah tersebut dinamakan Leuwigajah, sebuah kelurahan yang kini masuk administrasi Kecamatan Cimahi Selatan di Kota Cimahi.

Pada medio 1770-an, Batulayang dipimpin seorang bupati bernama Tumenggung Rangga Adikusumah. Namun ia meninggal dan status kepemimpinannya tidak berlangsung lama.

Jabatan Bupati Batulayang kemudian diserahkan kepada Bupati Bandung pada 1785, lantaran penerusnya, Raden Bagus, anak dari Tumenggung Rangga Adikusumah, saat itu masih berusia 12 tahun.

Pada 1794, Raden Bagus akhirnya diangkat sebagai Bupati Batulayang dengan gelar Tumenggung Rangga Adikusumah II (sumber lain menyebutkan Dalem Tumenggung Anggadikusumah). Tapi, petaka kemudian datang saat sang pewaris tahta tak sekompeten ayahnya dalam memimpin Batulayang.

Dalam tulisannya, Ryzki menyebut Tumenggung Rangga Adikusumah II begitu buruk dalam memimpin Batulayang. Ia menelantarkan perkebunan kopi di sana, yang saat itu masih jadi primadona Hindia Belanda, bahkan punya kebiasaan tak wajar lantaran gemar mengkonsumsi opium dan minuman keras.

“Berdasarkan laporan Pieter Engelhard pada 1802, Tumenggung Anggadikusumah memimpin Batulayang dengan buruk, membiarkan perkebunan kopi menjadi hutan belantara dan semak-semak. Bahkan berdasarkan laporan tanggal 24 Desember 1801, muncul usulan untuk memberhentikan Sang Bupati karena kegemarannya mengonsumsi opium dan minuman keras,” ucap Ryzki dalam tulisannya.

Karena kondisi itu, Tumenggung Rangga Adikusumah II akhirnya diberhentikan pada 1802. Praktis kemudian, Batulayang sebagai kabupaten akhirnya dihilangkan.

Wilayah Batulayang lalu digabungkan dengan Kabupaten Bandung. Sementara sang pewaris tahta, diasingkan ke Batavia hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di Mangga Dua.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Anak Sunan Gunung Jati Nyaris Dihukum Mati karena Sujud 7 Hari



Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid legendaris yang ada di Cirebon. Berdiri pada tahun 1480, dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati yang dibantu oleh Sunan Kalijaga bersama Raden Sepat dari Majapahit sebagai arsiteknya.

Meski sudah berusia ratusan tahun, Masjid Agung Sang Cipta Rasa masih kokoh berdiri. Selain arsitekturnya yang unik, Masjid Sang Cipta Rasa juga memiliki segudang kisah yang menarik untuk diulas lebih jauh.

Salah satu adalah kisah tentang Pangeran Jaya Kelana yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati yang hampir dihukum mati.


Pegiat sejarah dan naskah kuno, Farihin bercerita, Pangeran Jaya Kelana merupakan saudara dari Pangeran Brata Kelana yang tewas di lautan. Mereka berdua merupakan anak Sunan Gunung Jati dari istrinya yang bernama Syarifah Baghdad. Adik dari Pangeran Panjunan.

Berbeda dengan saudaranya, Pangeran Jaya Kelana dikenal sebagai anak yang memiliki kemampuan khusus alias majdub. Majdub diartikan sebagai seseorang yang dekat dan cinta dengan Allah SWT. Hal ini membuat beberapa sikap dari Pangeran Jaya Kelana yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.

Salah satu sikap Pangeran Jaya Kelana yang membuat bingung masyarakat Cirebon adalah ketika Pangeran Jaya Kelana menjadi imam di Masjid Sang Cipta Rasa. Ketika melakukan gerakan sujud, Pangeran Jaya Kelana tidak kunjung bangun dari sujudnya. Konon, selama tujuh hari Pangeran Jaya Kelana tidak bangun dari sujudnya.

“Dalam situasi masyarakat ataupun orang-orang baru masuk Islam dihadapkan dengan kasus seperti itu, ini kan membingungkan umat,” tutur Farihin belum lama ini.

Melihat sikap Pangeran Jaya Kelana yang membingungkan umat, Sunan Gunung Jati dan para jaksa Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Kejaksaan, hampir menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Jaya Kelana.

Padahal, Pangeran Jaya Kelana statusnya putra mahkota yang akan melanjutkan takhta Kesultanan Cirebon setelah Sunan Gunung Jati wafat. Namun, hukuman mati tersebut diurungkan, mengingat beliau melakukan hal tersebut dalam kondisi tidak sadar.

“Tapi karena mempertimbangkan beliau mengimami seperti itu bukan karena kesadaran beliau. Tapi karena ketidaksadaraan, yang masuk dalam posisi fana. Akhirnya hukuman mati dibatalkan,” tutur Farihin.

Sebagai ganti dari hukuman mati. Setelah bermusyawarah, para jaksa Kesultanan Cirebon bersepakat agar Pangeran Jaya Kelana, diwajibkan untuk membayar diyat atau denda berupa emas seberat badan Pangeran Jaya Kelana. Hukuman yang diberikan kepada Pangeran Jaya Kelana didasarkan pada kitab hukum bernama Kitab Adilullah.

Menurut Farihin, tegasnya sikap Sunan Gunung Jati kepada anak sendiri, karena ditakutkan sikap Pangeran Jaya Kelana yang seperti itu akan ditiru oleh masyarakat umum.

“Sementara kalau Sunan Gunung Jati mazhabnya Syafii yang sangat begitu ketat dengan urusan syariat. Sehingga, hampir dihukum mati yah karena parah. Meskipun tidak sengaja, tapi tidak bisa lepas dari hukum juga,” tutur Farihin.

Kisah Jaya Kelana yang sujud tidak bangun-bangun. Membuat ada satu pesan Sunan Gunung Jati yang sampai sekarang masih dipercayai, yakni jangan menjadi imam di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Menurut Farihin, pesan itu keluar dalam konteks membicarakan anaknya Pangeran Jaya Kelana.

“Nah mungkin waktu itu konteksnya anaknya beliau Jaya Kelana,” pungkas Farihin.

Artikel ini telah tayang di detikJabar

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Pondok Pesantren di Subang yang Didirikan di Lingkungan Komunis



Subang

Pondok Pesantren Pagelaran III di Desa Gardusayang adalah ponpes tertua di Subang. Dahulu, ponpes ini didirikan di lingkungan komunis. Seperti apa sejarahnya?

Ponpes Pagelaran III yang sudah ada sejak tahun 1962 didirikan oleh salah satu tokoh agama di Jawa Barat yaitu Kiai Haji Muhyiddin. Ponpes Pagelaran III ini pun sekarang sudah berkembang pesat dan terkenal di masyarakat khususnya di Subang.

Menurut pengasuh Ponpes Pagelaran III Kiai Haji Arie Gifary, Ponpes yang didirikan oleh Kiai Haji Muhyiddin tersebut terbagi menjadi 3.


Ponpes Pagelaran I yang terletak di Cimeuhmal, Tanjungsiang, Subang, Ponpes Pagelaran II berada di Kabupaten Sumedang, serta Ponpes Pagelaran III di Cisalak, Subang.

“Jadi sebelum didirikan Pagelaran III sudah didirikan Pagelaran I dan II. Pagelaran I didirikan padah tahun 1918 sudah satu abad lebih, Pagelaran II 1950 dan yang terakhir di Pagelaran III ini. Kiai Haji Muhyiddin ini terkenal sebagai ulama yang kharismatik di Jawa Barat dan seorang pejuang kemerdekaan,” ujar Arie belum lama ini.

Arie mengatakan, bukan hanya menjadi ulama di Jawa Barat, sosok dari pendiri Ponpes Pagelaran Kiai Haji Muhyiddin ini juga merupakan salah satu pejuang tanah air yang ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Beliau dulu bergabung dengan Hizbullah dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan telah diajukan menjadi salah satu pahlawan nasional di Provinsi Jawa Barat karena telah berjuang bersama dengan santri-santrinya pada saat pertempuran di Bandung,” katanya.

Arie menceritakan, berdirinya Ponpes Pagelaran III ini berawal dari Kiai Haji Muhyiddin yang diminta oleh masyarakat Cisalak Subang untuk mendirikan sebuah Ponpes untuk memperbaiki akhlak masyarakat sekitar. Sebab, bukan tanpa alasan, dari sejarah yang ada di lokasi tersebut merupakan salah satu basis dari komunis.

Oleh karena itu, Kiai Haji Muhyiddin yang saat itu masih tinggal di Ponpes Pagelaran II Sumedang hingga akhirnya menyetujui untuk pindah ke Cisalak, Subang dan mendirikan Ponpes Pagelaran III.

“Karena memang di daerah sini dulunya basis komunis sehingga dibutuhkan seorang tokoh atau ulama untuk memperbaiki akhlak masyarakat yang berada di Cisalak ini. Pada tahun 1962 Kiai Haji Muhyiddin berkenan untuk pindah ke sini dan menamai Pondok Pesantren Pagelaran III, dan Allhamdulilah sampai dengan hari ini sudah lebih dari 52 tahun Pondok Pesantren ini masih eksis berdiri,” ucapnya.

Setelah Ponpes Pagelaran III berdiri, lanjut Arie, seiring berjalannya waktu Ponpes Pagelaran III ini pun menjadi salah satu Ponpes yang terbilang berkembang dengan sangat cepat.

Kegiatan santri Ponpes Pagelaran III SubangKegiatan santri Ponpes Pagelaran III Subang Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar

Hingga saat ini, Ponpes Pagelaran III masih mengusung Ponpes tradisional dengan basis kitab kuning sistem sorogan atau pembelajaran kitab secara individual.

“Jadi Pondok Pesantren Pagelaran III yang didirikan oleh Kiai Haji Muhyiddin ini merupakan Pondok Pesantren tradisional. Pesantren tradisional ini mengedepankan dengan konsep pendidikan berbasis kitab kuning dengan sistem sorogan dan bandongan lah kalau bahasa dulu. Jadi itulah yang diajarkan,” kata dia.

“Selain itu juga mengembangkan kegiatan majlis taklim dan pendidikan ke masyarakat. Seiring perjalanannya dan Kiai Haji Muhyiddin wafat pada tahun 1973 dan dilanjutkan oleh salah satu putranya Kiai Haji Abdul Qoyum itu kebetulan ayah saya almarhum. Pada jaman Kiai Haji Abdul Qoyum perkembangan pesantren begitu pesat dan mulai didirikan pendidikan-pendidikan normal,” ungkapnya.

Arie menuturkan, perkembangan dari dunia pendidikan pun terus berjalan. Kini, Ponpes Pagelaran yang telah memiliki ratusan santriwan maupun santriwati tersebut telah mendirikan sekolah formal dengan tingkat SMP, SMA hingga SMK dengan sistem mondok atau boarding.

“Jadi sistem yang didirikan dan yang dilaksanakan di sini adalah sistem pesantren salafiyah yang mengedepankan pendalaman kitab-kibat tradisional atau kitab-kitab kuning hasil karangan-karangan para ulama Indonesia atau di Dunia,” tuturnya.

“Yang ke dua kita juga sudah mendirikan sekolah formal itu setingkat SMP, SMA, dan SMK tapi semuanya sistemnya boarding atau wajib mondok. Sehingga menjadi sebuah perpaduan antara sistem pendidikan umum dan pendidikan tradisional dan sekolahnya tentu berbasis pesantren atau SDP disebutnya,” sambungnya.

Dengan memadukan antara pendidikan umum dan tentunya pendidikan akhlak dari para santri, segi pendidikan di Ponpes Pagelaran III pun menjadi komprehensif karena dilaksanakan di lokasi yang berbeda akan tetapi dengan tujuan yang sama.

“Model perpaduan ini tentunya menjadi pendidikan yang komprehensif di mana pendidikan umumnya dilaksanakan di sekolah dan pendidikan akhlak pesantrennya dilaksanakan di pesantren. Sehingga membuat perpaduan dengan kurikulum yang sudah kita kemas sehingga bisa menghasilkan lulusan-lulusan terbaiknya yang alhamdulillah saat ini sudah menyebar di Indonesia,” pungkas Arie.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com