Tag Archives: sejarah

Alun-alun Sangkala Buana, Tempat Paling Menakutkan bagi Warga Cirebon



Cirebon

Zaman dahulu, Alun-Alun Sangkala Buana jadi tempat yang sangat ditakuti oleh warga Cirebon, karena jadi lokasi eksekusi para narapidana. Bagaimana kisahnya?

Alun-Alun Sangkala Buana terletak di depan keraton Kasepuhan Cirebon. Karena letaknya di bagian depan keraton, alun-alun ini sering disebut sebagai Alun-Alun Kasepuhan.

Setelah direnovasi pada tahun 2022, Alun Alun Kasepuhan berubah menjadi lebih ciamik. Di setiap sisi alun-alun terdapat gapura dengan susunan bata merah.


Setiap hari, Alun-Alun Kasepuhan menjadi destinasi favorit warga Cirebon untuk menghabiskan waktu luang. Di Alun-Alun terdapat banyak pedagang dan permainan yang bisa pengunjung nikmati. Hampir setiap waktu, alun-alun Kasepuhan tidak pernah sepi pengunjung.

Namun di balik ramainya Alun-Alun Kasepuhan sekarang, dahulu pada zaman kolonial Hindia Belanda, Alun-Alun Kasepuhan jadi tempat yang ditakuti oleh masyarakat Cirebon.

Hal itu terlihat dalam berita yang ditulis oleh koran Belanda De Avondpost Edisi 5 Juni 1926.

Aan de noordzijde van het plein van Kasepochan te Cheribon, nog geen 20 meters van de straat en bijna recht tegen- over den ingang van den Kraton, zijn twee zware, stevig ingemetselde djati- houten palen, die een hoogte hebben van ongeveer anderhalven meter. Deze palen, waarvoor sommige Cheribonners van inlandsche nationaliteit nog een hei- lige vrees koesteren, waarheen velen elen op den, malem djoemahat” en andere heilige dagen kleine offers brengen, zijn onder het volk bekend onder den naam van,, tiang hoekoem sara’,” tulis koran Avondpost.

Dalam bahasa Indonesia berarti, Di sisi utara Alun-Alun Kasepuhan, kurang dari 20 meter dari jalan raya dan hampir berhadapan langsung dengan pintu masuk Keraton. Terdapat dua tiang kayu jati yang berat dan terbuat dari batu bata, tingginya sekitar satu setengah meter.

Tiang-tiang ini, yang masih ditakutkan oleh sebagian penduduk Cirebon yang berkewarganegaraan asli, dan banyak yang melakukan pengorbanan kecil pada malam jumat dan hari-hari suci lainnya, dikenal di kalangan masyarakat sebagai tiang hukum syariat.

Selanjutnya, dalam koran Belanda yang sama, juga menyebutkan, tentang kondisi tiang yang kayu yang digunakan untuk hukuman bagi masyarakat yang melanggar hukum syariah. Tertulis, meski tiang kayu tersebut sudah lapuk, tetapi karena bahan yang digunakan sangat keras, tiang kayu masih bisa bertahan di tengah angin dan cuaca. Diperkirakan tiang kayu masih dapat bertahan selama beberapa tahun mendatang.

Tidak diketahui secara pasti, sejak kapan tiang-tiang tempat eksekusi narapidana pelanggar hukum syariat berada di alun-alun. Tapi menurut cerita bangsawan keraton Kasepuhan, tiang tersebut diduga, didirikan sejak era Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran.

Diceritakan pula, bagaimana proses eksekusi terpidana berlangsung, yakni dengan diikat tangan dan kaki di salah satu tiang dalam posisi berdiri. Ada pula yang menanggalkan pakaiannya terlebih dahulu, lalu bagian tubuhnya seperti jari dipotong.

Di sampingnya terdapat pejabat dari keraton, yang berdiri di dekat narapidana yang akan dieksekusi. Setelah di eksekusi, luka akibat pemotongan kemudian dioleskan garam dan air asam jawa, oleh pejabat keraton yang ada di dekatnya.

Dalam koran Belanda yang lain, Delf edisi 6-9 -1926 juga disebutkan, pasca Hindia Belanda mulai merampas kekuasaan sultan di Cirebon. Mereka mencoba untuk menghapuskan hukuman mati kepada narapidana, menurut mereka hukuman mati kepada narapidana adalah hal yang kejam dan barbar.

Ketika pemerintah Hindia Belanda akan membangun perumahan di dekat alun-alun. Pemerintah Hindia Belanda memberi kabar kepada sultan Kasepuhan untuk menghilangkan kedua pilar tempat eksekusi.

Sebagian masyarakat ingin tiang itu segera dihilangkan, tapi sebagian masyarakat khususnya penduduk asli, menuntut agar tiang hukum syariat tetap berdiri sampai angin dan cuaca menghancurkannya. Dan tentunya membutuhkan waktu yang lama.

Men heeft deze palen willen doen ver- dwijnen, doch de Inlanders willen van het wegdoen niets weten en eischen, dat ze zullen blijven staan tot weer en wind ze zullen hebben vernietigd. En dat zal nog wel een tijdje duren,” tulis koran Delf edisi 6-9-1926.

Sebagai upaya agar tidak terlihat menakutkan, pemerintah kota Hindia Belanda membersihkan lapangan Kasepuhan dan memasang hamparan bunga di sebelah utara tiang. Sehingga tiang-tiang tersebut terlihat lebih baik.

Kepala Bagian Informasi dan Parawisata Keraton Kasepuhan Cirebon Iman Sugiman membenarkan jika dulu alun-alun pernah menjadi tempat eksekusi bagi para narapidana yang melanggar hukum syariah.

Menurutnya alun-alun sudah ada sejak abad 15. Selain digunakan sebagai tempat eksekusi, alun-alun juga digunakan sebagai tempat latihan prajurit keraton setiap hari sabtu, atau Sabtonan.

“Alun-Alun Sangkala Buana sudah ada sejak abad ke 15. Letaknya berada di depan utara Siti Inggil. Dahulu fungsinya untuk upacara kebesaran dan acara Sabtonan,” tutur Iman belum lama ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Ini Dulu Khusus untuk Bangsawan Jogja, Kini buat Rakyat Jelata



Jogja

Di zaman dahulu, Masjid Sela di Kraton Jogja dikhususkan untuk para bangsawan. Namun sekarang, rakyat jelata pun bisa menggunakannya.

Masjid yang berada di Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton ini merupakan salah satu masjid tertua di Jogja. Berstatus ‘kagungan ndalem’, masjid ini dibangun pada era Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pertama yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Jika diamati, arsitektur bangunan masjid menyerupai bangunan Tamansari dan Keraton Jogja. Tercermin dari atap dan juga tembok tebal yang masih asli sejak pertama kali dibangun. Bahkan ketebalan tembok masjid mencapai 75 centimeter.


“Masjid Sela aslinya namanya Masjid Watu, kalau di kromo inggil jadi Sela, tapi ada juga sebut Masjid Batu kalau bahasa Indonesia. Dibangun zaman Sri Sultan Hamengku Buwono I dilanjutkan Sri Sultan Hamengku Buwono II. Bersamaan dengan pembangunan Keraton Jogjakarta,” jelas marbot Masjid Selo, Sunarwiyadi ditemui di Masjid Sela Jogja, Senin (18/3) lalu.

Sejarah Masjid Sela, lanjutnya, berada di dalam kompleks Ndalem atau kediaman Pangeran. Tepatnya Pangeran yang kemudian akan bertakhta sebagai raja di Keraton Jogja. Kala itu, Masjid Sela digunakan sebagai tempat ibadah salat para pangeran dan bangsawan.

“Itulah mengapa masjid ini istilahnya panepen atau masjid khusus karena memang untuk keluarga bangsawan. Kalau jemaah umum ada sendiri di utara masjid, sekitar 200 meter,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, masjid ini sempat tak digunakan oleh para pangeran. Sunarwiyadi menuturkan, Masjid Sela sempat tidak digunakan dalam kurun waktu antara puluhan hingga ratusan tahun.

Penyebab masjid itu tidak digunakan adalah para pangeran hijrah ke bangunan utama keraton yang saat ini berada.

Masjid Sela Yogyakarta, Sabtu (3/6/2017).Masjid Sela Foto: Edzan Raharjo

Pada saat tak digunakan, fungsi masjid juga berubah menjadi tempat menyimpan keranda jenazah. Pada akhirnya, warga memberanikan diri bersurat ke keraton untuk meminta izin menggunakan Masjid Selo sebagai tempat ibadah.

“Tahun 1965 beberapa tokoh masyarakat melihat ada masjid kecil tidak digunakan, lalu kirim surat ke Keraton mohon izin gunakan, lalu diizinkan. Kena dinggo, tapi ora kena diowah-owah (boleh dipakai tapi tidak boleh diubah), balasannya sederhana,” kisahnya.

Oleh masyarakat, masjid lalu dibersihkan dan keranda jenazah dipindahkan. Selang waktu, akhirnya Masjid Selo kembali difungsikan menjadi tempat ibadah salat. Bangunan inti masjid bisa menampung hingga sekitar 30 jemaah.

Sunarwiyadi memastikan bangunan Masjid Sela masih asli. Renovasi hanya dilakukan di bagian lantai yang awalnya memakai semen batu merah dengan alas kepang dan tikar.

“Lalu sekarang sudah direnovasi dan menggunakan keramik,” ujarnya.

Terkait desain masjid, Sunarwiyadi mengaku sempat mendapat cerita ada campur tangan arsitek asal Portugis. Sosok ini pula yang turut mendesain bangunan Keraton Jogja dan Tamansari. Terbukti dari sejumlah kesamaan detail bangunan.

Walau dikerjakan arsitek Portugis, namun Masjid Selo tetap mengusung kearifan lokal. Ditunjukkan dengan pintu masuk bangunan yang pendek sehingga jamaah harus menunduk saat akan masuk ke masjid.

“Bangunan inti masih asli yang tengah. Kalau kiri kanan bangunan tambahan. Dulu kolam itu sumber airnya dari sungai Winongo. Sekarang sudah tidak ada, tapi salurannya masih ada cuma tidak dipakai lagi,” katanya.

Untuk bangunan inti memiliki luas 6 meter X 8 meter. Dalam kondisi normal bisa menampung hingga 30 jamaah. Sementara dengan bangunan tambahan bisa mencapai 150 jamaah.

Terkait agenda Ramadan 2024, diisi dengan beragam agenda. Mulai dari berbagi takjil, TPA anak hingga tadarus. Penyelenggaraan salat tarawih juga menggunakan bangunan inti. Selain itu juga ada dua bangunan tambahan di sisi kanan dan kiri masjid.

“Agenda Ramadan itu habis Isya, tarawih lalu tadarus dua kelompok. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak di tengah sini, terpisah. Lalu untuk iktikaf itu di 10 hari terakhir,” ujarnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Tempat Eksekusi Penjahat di Danau Toba: Kepala Dipenggal-Jantung Dimakan



Samosir

Zaman dahulu, suku Batak mengenal sudah mengenal sistem pengadilan. Bahkan, ada satu tempat khusus untuk mengeksekusi para penjahat di Danau Toba.

Di balik keindahan alam dan budayanya, di sekitar Danau Toba terdapat peninggalan sejarah yang menyimpan kisah mengerikan di masa lalu.

Destinasi itu adalah Batu Persidangan keluarga orang Batak bermarga Siallagan. Batu Persidangan itu terdapat di Huta Siallagan di Ambarita, Kabupaten Samosir.


Batu Persidangan sendiri merupakan deretan kursi dan meja yang terbuat dari batu. Terdapat 9 kursi di Batu Persidangan yang mengelilingi satu meja yang terdapat di bagian tengah.

Di sekitar Batu Persidangan, terdapat rumah Bolon atau rumah adat Batak sebanyak 8 rumah yang sudah berumur ratusan tahun. Rumah Bolon itu memiliki sejumlah fungsi, mulai rumah Raja Siallagan dan keluarga hingga tempat pemasungan bagi pelaku kejahatan.

Konon dulu, ketika ada pelaku kejahatan di Huta Siallagan bakal disidang di Batu Persidangan. Dalam prosesi persidangan, Raja Siallagan akan memimpin persidangan langsung dan didampingi oleh dukun.

Jika tindak kejahatan pelaku dinilai kecil, maka hukumannya berupa pemasungan di salah satu rumah Bolon tersebut. Namun jika kejahatannya tergolong kejahatan berat, maka pelaku akan dijatuhi hukuman pancung alias potong kepala.

Pemandu Wisata di Huta Siallagan, Jansen Sitinjak, mengatakan tanggal eksekusi bakal ditentukan berdasarkan hari terlemah bagi penjahat itu. Sebab, rata-rata pelaku kejahatan diyakini memiliki ilmu hitam.

“Tanggal eksekusi pun akan ditentukan dari hari paling lemah si penjahat atau hari baiknya kapan. Pasalnya, rata-rata orang yang berani melakukan kejahatan diyakini punya ilmu hitam. Di sini dikenal namanya Manitiari atau primbon Suku Batak,” kata Jansen Sitinjak seperti dikutip dari laman indonesia.go.id.

Cara Eksekusi Penjahat yang Mengerikan

Di hari eksekusi, pelaku kejahatan bakal diletakkan di atas meja Batu Persidangan dengan mata tertutup kain ulos. Pelaku kejahatan kemudian diberi makanan berisi ramuan dukun untuk melemahkan ilmu hitam sang pelaku.

Kemudian, si pelaku kejahatan akan dipukul menggunakan tongkat tunggal panaluan. Yaitu tongkat magis dari kayu berukir gambar kepala manusia dan binatang, dengan bagian atas berupa rambut panjang.

Sementara saat dieksekusi, pakaian pelaku kejahatan terlebih dahulu dilepaskan untuk memastikan tidak ada jimat yang masih tersisa. Tubuh pelaku kemudian disayat-sayat dengan senjata tajam.

Jika tubuh pelaku kejahatan sudah mengeluarkan darah, maka itu artinya ilmu kebal pelaku sudah hilang. Bagian tubuh yang disayat dan mengeluarkan darah bakal disiram dengan air asam untuk membuat pelaku kejahatan semakin lemah. Setelah itu, baru eksekusi hukuman pancung akan dilaksanakan.

Jantung dan Hati Pelaku Kejahatan Akan Dimakan

Konon, jantung dan hati pelaku kejahatan akan dimakan oleh sang raja Siallagan, karena diyakini dapat menambah kekuatan. Sementara kepala pelaku kejahatan akan diletakkan di meja, demikian juga badan yang sudah terpisah dengan kepala.

Badan pelaku kejahatan kemudian dibuang ke Danau Toba selama 7 hari 7 malam. Selama itu pula, rakyat dilarang untuk beraktivitas di dalam Danau Toba.

Sementara kepala pelaku kejahatan yang sudah dipenggal, akan diletakkan di gerbang masuk Huta Siallagan sebagai peringatan ke raja lain maupun rakyat, agar tidak melakukan kejahatan yang serupa.

Setelah membusuk, kepala akan dibuang ke hutan di balik kampung dan rakyat akan dilarang beraktifitas di hutan selama 3 hari.

Menurut Jansen penghukuman seperti itu sudah berakhir di abad ke-19. Saat itu, agama Kristen sudah mulai masuk ke Kawasan Danau Toba melalui misionaris asal Jerman, yaitu Ludwig Ingwer Nommensen.

Kini Huta Siallagan bertransformasi menjadi salah satu desa wisata favorit di sekitar Danau Toba. Kisah mengerikan itu kini sudah hilang dan Huta Siallagan menjadi desa wisata dengan masyarakatnya yang ramah-ramah.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Perang Lawan Judi Sudah Ada Sejak Zaman Baheula, Buktinya di Prasasti Ini



Ciamis

Perang melawan judi online sedang digalakkan. Ternyata, judi sudah jadi masalah sejak zaman baheula. Buktinya, bisa traveler lihat di prasasti ini.

Masalah perjudian zaman sekarang sudah amat gawat. Perbuatan haram ini banyak dilakukan oleh berbagai kalangan. Padahal perbuatan judi sangat dilarang baik secara agama, maupun budaya.

Bahkan, larangan berjudi juga diabadikan oleh leluhur masyarakat Ciamis dalam sebuah prasasti beberapa abad lalu, tepatnya pada masa pemerintahan Kerajaan Galuh.


Pepatah larangan berjudi itu tertulis jelas pada batu Prasasti ke VI yang ada di Situs Astana Gede Kawali. Pada prasasti itu tertulis dalam bahasa Sunda kuno yang berbunyi ‘ini petinggal nu atisti ayama nu ngisi daeyeuh ieu ulah botoh bisi kokoro’.

Artinya ini peninggalan dari yang astiti dari rasa yang ada, yang menghuni kota ini jangan berjudi bisa sengsara.

Enno, Budayawan Kawali yang juga petugas Situs Astana Gede Kawali menerangkan, prasasti VI Kawali merupakan prasasti yang ditemukan terakhir dan terbaru pada tahun 1995 oleh juru pelihara waktu itu.

“Baru Prasasti itu dari batu andesit. Uniknya ada dua poin yang menjadi informasi penting,” ujar Enno, Sabtu (22/6/2024) akhir pekan lalu.

Poin pertama di prasasti VI menginformasikan adanya simbol kembang Cakra. Simbol itu yang kini digunakan oleh para ASN Pemkab Ciamis. Pada prasasti tersebut, pagaran kembang Cakra sudah sangat rapi dan jelas.

Poin kedua adalah tulisan tentang larangan berjudi dari Raja Galuh saat itu, yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana pada tahun 1371.

Dalam prasasti itu, Prabu Niskala Wastu Kancana menekankan dalam aturannya masyarakat Sunda dan Galuh dilarang berperilaku yang berhubungan dengan judi.

“Kalimat ini petinggal ulah botoh bisi kolor. Ini peninggalan dari para leluhur yang punya pengetahuan tinggi bijak. Jadi siapapun menghuni negeri ini Galuh jangan berjudi bisa sengsara,” ungkapnya.

Enno menjelaskan penekanan botoh di kalimat dalam prasasti itu adalah judi. Namun secara umum botoh dalam bahasa Sunda kaganga berarti keserakahan. Namun dikaitkan dengan peristiwa yang pernah terjadi di Kerajaan Galuh, maka botoh di sini berarti judi.

Konon pada waktu itu, di Kerajaan Galuh terdapat peristiwa yang membuat leluhur Galuh trauma dan tidak ingin terjadi lagi. Pada zaman Ciung Wanara, di Kerajaan Galuh terjadi peperangan saudara yang hampir membuat Galuh mengalami krisis.

“Terjadi perang saudara karena adanya judi sabung ayam, karena yang dipertaruhkannya itu Kerajaan, tidak tanggung-tanggung,” ungkapnya.

Raja Galuh Prabu Niskala Wastu Kancana tidak ingin peristiwa itu kembali terjadi. Ia pun membuat aturan yang dituliskan dalam prasasti dengan menekankan untuk tidak melakukan yang berhubungan dengan judi atau keserakahan.

“Perbuatan maksiat itu diawali dari unsur keserakahan termasuk judi,” tegasnya.

Enno juga menyebut, pada saat pemerintahan Prabu Niskala Wastu Kancana merupakan masa keemasan Kerajaan Galuh.

“Leluhur kita, leluhur Galuh sudah mencontohkan dan sudah tahu namanya botoh atau judi ini pasti terus terjadi. Masyarakat Sunda diingatkan untuk tidak melakukan itu. Dicontohkan dengan legenda Ciung Wanara, yang seorang raja pun tidak kuat (dengan judi),” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Kelam Jembatan Bantengan, Jadi Lokasi Eksekusi Mati Anggota PKI



Klaten

Sebuah jembatan di Kecamatan Karanganom, Klaten, yang menyimpan sejarah kelam tentang tragedi Gerakan 30 September 1965 (G 30 S). Bagaimana kisahnya?

Jembatan Bantengan begitulah warga mengenalnya. Menurut warga sekitar, dulu ada sejumlah orang yang diduga terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dieksekusi mati di jembatan itu.

Jembatan Bantengan berada di jalan Klaten-Karanganom, tepatnya di perbatasan Desa Tarubasan dan Desa Kadirejo, Kecamatan Karanganom. Jembatan itu panjangnya sekitar 30 meter, berada di jalan yang menurun.


Sekitar jembatan itu merupakan lahan pertanian dan di tepi sisi utaranya digunakan untuk tempat pembungan sampah (TPS). Aspal di jembatan itu terbilang mulus.

Salah satu warga sekitar, BN (75) mengatakan Jembatan Bantengan dulunya jembatan sesek dari bambu dan kayu. Setelah meletus tragedi G 30 S, dia bilang para tokoh PKI diangkut ke jembatan itu menggunakan truk.

Nggih ngertos, kulo pun pemuda, lahir 1949 dan gegernya itu 1965. Nggih ngge nembaki ten kidul mriko (Ya tahu, saya sudah pemuda, lahir tahun 1949, dan geger PKI itu 1965. Yang untuk menembaki PKI di selatan sana),” ucap BN, Senin (30/9/2024) siang.

Nggih (ya) tentara. Tapi sinten mawon yang ditembak mboten ngertos (tapi siapa saja yang ditembak saya tidak tahu). Bukan warga sini, tapi tokoh-tokohnya (PKI),” sambung dia.

BN mengingat, para tahanan itu biasanya dibawa ke jembatan saat sore hari. Sebelumnya, warga sekitar sudah diberi pengumuman akan ada eksekusi mati di jembatan itu.

“Sore, sore warga sudah diberitahu, lalu sini penuh orang. Setelah ditembak ditinggal di lokasi. Paginya warga PKI sekitar sini yang menyerah diminta mengubur,” ujar BN.

Menurut BN, ada sekitar 127 orang yang ditembak mati di jembatan itu. Truk yang membawa para tahanan PKI itu datang dari arah kota Klaten.

Saking mriko (dari sana, arah selatan). Mayatnya ya dikubur di situ, pokoknya itu terjadi habis Jakarta mbledhos (meletus G 30S),” kata BN.

BPD Desa Tarubasan, Kecamatan Karanganom, Kusdiyono membenarkan ada cerita tentang jembatan itu dulu untuk menembaki para tokoh PKI.

“Dibawa dengan truk oleh tentara, siapa dan orang mana tidak ada yang tahu. Bukan warga sini,” kata Kusdiyono.

Jembatan Bantengan, sebut Kus, dulunya jembatan sesek bambu. Setelah digunakan untuk mengubur orang-orang PKI, jembatan itu kemudian dibangun.

“Setelah kejadian itu baru diloning tembok. Saat banjir besar ada tulang-tulang yang hanyut dulu,” kenang Kusdiyono.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kondisi Terkini Hotel Yamato, Tempat Insiden Perobekan Bendera Belanda


Jakarta

Hotel Yamato, yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit, adalah tempat yang menyimpan jejak sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Saat ini, hotel tersebut masih eksis dan beroperasi. Menariknya, gaya bangunannya tetap mempertahankan infrastruktur klasik dan elegan dari masa kolonial.

Sebelum mengetahui beragam fasilitas hotel mewah ini, mari kita napak tilas kronologi peristiwa Hotel Yamato yang terjadi pada 19 September 1945 lalu.


Peristiwa Hotel Yamato

Peristiwa yang terjadi di Hotel Yamato adalah insiden perobekan warna biru pada bendera Belanda atau disebut het vlag incident. Insiden Hotel Yamato di latar belakangi oleh amarah masyarakat Surabaya, yang tidak terima terhadap pengibaran bendera Belanda di atas hotel tersebut.

Pasalnya, pengibaran bendera Belanda itu dianggap telah menghina kedaulatan bangsa Indonesia dan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus, tepat beberapa bulan yang lalu.

Mengutip buku Sejarah Indonesia Kelas XI Kemdikbud oleh Sardiman AM dan Amurwani Dwi Lestariningsih, ketika di Surabaya, orang-orang Inggris dan Belanda yang berhubungan dengan Jepang menginap di Hotel Yamato atau Hotel Oranye pada zaman Belanda.

Pada 19 September 1945, seorang bernama Mr. Ploegman dibantu kawan-kawannya mengibarkan bendera Belanda berwana merah, putih, biru di atap menara Hotel Yamato.

Dikutip dari buku Surabaya di Mana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu? karya Ady Setyawan, pada pukul 09.00 WIB bendera Belanda itu dikibarkan. Aksi ini kemudian mengundang arek-arek Suroboyo berkumpul di depan hotel.

Ada beberapa pemuda yang berhasil memanjat atap hotel dan menurunkan bendera merah putih biru, kemudian merobek bagian warna birunya. Kusno Wibowo dan Onny Manuhutu adalah tokoh pemuda yang merobek bendera Belanda di Hotel Yamato.

Setelah warna biru bendera Belanda dirobek, bendera tersebut dikibarkan kembali sebagai bendera dengan warna merah putih. Dengan berkibarnya bendera Sang Merah-Putih, para pemuda Surabaya satu per satu meninggalkan Hotel Yamato dengan penuh semangat dan menjaga kewaspadaan.

Dampak insiden di Hotel Yamato melatar belakangi berbagai pertempuran di Surabaya, termasuk penyebab terjadinya “Pertempuran Surabaya”.

Sejarah dan Kondisi Terkini Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit dibangun oleh Sarkies Family atau Sarkies Brothers pada tahun 1910. Awalnya, hotel ini dikenal sebagai “Hotel Oranje atau Hotel Oranye.

Saat Jepang menjajah dan menguasai Indonesia, nama hotel ini berganti menjadi Hotel Yamato. Kala itu, hotel ini juga digunakan head porter atau base camp saat pertempuran.

Kemudian sekitar tahun 1969, setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel Yamato berganti nama menjadi Hotel Majapahit.

hotel majapahit surabayaHotel Majapahit Surabaya. (Deny Prastyo Utomo)

Executive Assistant Manager Hotel Majapahit, Benny Wijaya, menyebut bahwa pada 10 September 1945, hotel ini sempat bernama Merdeka.

“Tahun 1945 sampai 1946 berganti Lucas Martin Sarkies yakni kembali pada keluarga pendiri, tahun 1969 dijual ke Men Trust Holding. Nah, sampai sekarang, namanya tetap, yakni Hotel Majapahit,” ujar Benny kepada detikJatim, pada (23/04/2022) lalu.

Tim detikJatim pernah diajak berkeliling di hotel bersejarah yang berdiri di atas lahan seluas 2 hektar ini.

Hotel MajapahitHotel Majapahit (Praditya Fauzi Rahman/detikcom)

Terlihat pondasi, cat, hingga struktur bangunan masih kokoh. Namun, tetap ada tambahan, seperti beberapa aksesoris untuk mempercantik dan menambah modern tatanan.

Hotel MajapahitHotel Majapahit. (Lena Ellitan/dtravelers)

Sementara itu, General Manager Hotel Majapahit Surabaya, Kahar Salamun, menyebut salah satu satu bukti keaslian bangunan terlihat dari ubin marmer yang diimpor langsung dari Belanda.

Menurutnya, selain untuk menjaga keaslian hal tersebut juga jadi karakter bagi bagunan vintage Majapahit.

Hotel MajapahitHotel Majapahit (Praditya Fauzi Rahman/detikJatim)

Penamaan Majapahit sendiri bukan diambil asal-asalan. Nama ini diambil karena sejalan dengan visi misi Kerajaan Majapahit, yang jadi salah satu kerajaan jaya dan tertua pada eranya. Maka dari itu, Majapahit dipakai dengan harapan seperti namanya.

Hotel Majapahit ini juga telah mengalami beberapa kali perombakan kepemilikan, nama, hingga peremajaan. Tapi, tidak demikian dengan keorisinilan bangunan secara keseluruhan.

Lokasi Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit Surabaya beralamat di Jalan Tunjungan Nomor 65, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur. Lokasi hotel ini juga sangat strategis, yakni di jantung kota Surabaya.

Fasilitas Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit adalah hotel bintang 5 berkelas internasional dengan fasilitas yang lengkap. Menariknya, hotel ini masih mempertahankan beberapa elemen klasik era kolonial.

Arsitektur di Hotel Majapahit Surabaya.Arsitektur di Hotel Majapahit Surabaya. (dok. Instagram @hotelmajapahitsby)

Tidak hanya memberikan suasana yang kaya akan sejarah, namun tetap menawarkan kenyamanan modern. Hotel Majapahit memiliki sekitar 139 kamar.

Berikut adalah fasilitas yang ada di Hotel majapahit Surabaya:

  • Kolam renang
  • Restoran
  • Tempat parkir
  • Pusat kebugaran
  • Ruangan ber AC
  • Room service
  • Akses untuk kursi roda
  • Sarapan (breakfast)
  • Spa
  • Bar
  • Area hijau
  • Piano dan meja biliar
  • Area bermain anak-anak
  • Bak mandi air panas/Whirlpool
  • Tempat untuk pernikahan dan ruang pertemuan
  • Wifi gratis.

Mengingat hotel ini jadi tempat bersejarah, makna setiap ada event sejarah kemerdekaan tahunan yang biasa diselenggarakan. Di antaranya peringatan perobekan bendera Belanda menjadi Merah Putih pada bulan September, dan Parade Surabaya Juang di bulan November.

Teatrikal Perobekan Bendera di Hotel Majapahit SurabayaTeatrikal Perobekan Bendera di Hotel Majapahit Surabaya (Aprilia Devi)

Dari catatan detikJatim, teatrikal yang digelar setiap tahun ini bertujuan mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda tentang sejarah Kota Pahlawan.

Acara-acara tersebut juga termasuk dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November yang telah rutin digelar sejak tahun 2009. Hotel ini juga masih digandrungi para wisatawan lokal maupun internasional.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

Cerita di Balik Nama Unik Dusun Anjir di Kulon Progo



Kulon Progo

Nama Dusun Anjir di Kulon Progo memang unik. Kira-kira, apa cerita di balik dusun yang namanya identik dengan umpatan ala anak gaul Jaksel ini?

Anjir menjadi nama sebuah dusun di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Nama yang unik ini ternyata bermula dari adanya pohon ikonik yang pernah tumbuh di dusun tersebut. Kepala Dusun Anjir, Saifudin, menceritakan awal mula dusun ini diberi nama Anjir.


Saifudin mengatakan pemilihan nama Anjir bermula dari adanya pohon di pekarangan milik mantan pemangku dusun setempat yang bernama Bardi Wirodimejo.

Pohon tersebut menarik perhatian masyarakat karena memiliki tinggi yang menjulang dan wujudnya mirip tongkat raksasa.

“Kenapa Anjir gitu kan ya, lha ini dulu awalnya dari dukuh pertama bernama Mbah Bardi Wirodimejo, orangnya tinggi besar, kebetulan saya masih menangi beliau. Nah di depan rumah Mbah Bardi ini dulunya ada pohon, kita tidak tau namanya, pohon ini tinggi kaya semacam cagak antena gitu, karena tidak ada daunnya efek kemarau,” ucap Saifudin saat ditemui di rumahnya belum lama ini.

Saifudin mengatakan pohon tersebut mengingatkan warga dengan patok penyangga tanaman atau biasa disebut Ajir. Sebagai tambahan informasi, Ajir adalah alat yang terbuat dari batang bambu atau tongkat bilahan bambu yang berfungsi sebagai penyangga batang, tempat bersandar pohon atau merambatnya tanaman perdu.

“Jadi Ajir itu cagak tanaman. Biasanya dipakai untuk tanaman seperti kacang panjang gitu,” terangnya.

“Nah dari sinilah kemudian menjadi nama dusun ini. Semula penyebutannya masih Ajir, tapi karena lidah Jawa jadinya Anjir. Kemudian sekarang lebih dikenal Nganjir jadi ada tambahan ng, tapi untuk penulisan resminya tetap Anjir,” terangnya.

Terkait siapa yang pertama kali mencetuskan nama tersebut, Saifudin mengaku kurang mengetahuinya. Dia menduga ini merupakan ide dari tokoh masyarakat di masa itu.

“Kemungkinan pencetus nama itu dukuh pertama tadi, atau bisa juga tokoh-tokoh lain di masa itu,” ujarnya.

Saifudin mengatakan belum ada arsip sejarah yang secara terang benderang menjelaskan kapan nama Anjir ini digunakan jadi nama dusun tersebut.

Namun, dia memperkirakan nama dusun Anjir ini mulai ada pasca-pemekaran Kalurahan Hargorejo pada medio tahun 1947 silam.

“Jadi dulu Hargorejo itu terdiri dari empat kelurahan, yaitu Penggung, Kriyan, Kokap Lama, dan Selo. Penggabungan empat Kalurahan jadi Hargorejo ini tahun 22 April 1947. Kemudian dulu itu ada Kalurahan Penggung, yang mencakup wilayah Anjir saat ini. Karena terjadi penggabungan tadi, sini masih tetep Penggung. Nah terus tahunya berapa saya belum ketemu itu terjadi pemekaran, dan Anjir berdirinya tanggal berapa tahun berapa belum ketemu, namun dimungkinkan berdirinya itu tahun 75-80 an,” ujarnya.

Cara Menuju ke Dusun Anjir

Dusun Anjir terletak di Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo. Dari pusat Kota Jogja jarak menuju ke dusun ini berkisar 40 km atau 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Anjir sendiri memiliki luas 150 hektar dan menjadi tempat tinggal bagi 690 warga. Mayoritas warga di sini bekerja sebagai pekebun dan petani.

——–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pasar Ini Pernah Jadi Pusat Perdagangan Rempah-rempah di Zaman Belanda



Surabaya

Di Surabaya, ada sebuah pasar yang dahulu pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah pada zaman kolonial Belanda. Pasar manakah itu?

Pasar Pabean di Surabaya ternyata masuk ke dalam kategori pasar tua dan memiliki sejarah yang panjang. Pasar itu didirikan sejak tahun 1849 silam.

Di ezaman itu, Belanda menggunakan Pasar Pabean sebagai pusat rempah-rempah. Pasar Pabean sendiri terletak di Jalan Songoyudan, Pabean Cantian, Surabaya, Jawa Timur.


Dulunya kawasan itu merupakan kawasan Pecinan, bersebelahan dengan Jalan KH Mas Mansyur (dulu dikenal sebagai Kampementstraat), sebuah area yang dihuni oleh komunitas Arab.

Hingga kini, Pasar Pabean tetap menjadi ikon pasar ikan terbesar di Jawa Timur, berkat sejarahnya yang strategis dekat dengan Pelabuhan Rakyat (Pelra) Kalimas di kawasan Tanjung Perak.

Sejarawan Komunitas Begandring Soerabaia, Kuncarsono Prasetyo mengatakan bahwa Pasar Pabean dulu dijadikan sebagai Pusat Rempah-Rempah. Bahkan, telah dijadikan pusat rempah rempah sebelum Belanda datang ke tanah air.

“Sejak kolonial, Eropa sebelum Belanda. Kalau catatan orang Eropa datang itu tahun 1511. Karena Pabean dulunya pelabuhan, kemudian ada pasar ada gudang sehingga dijadikan pusat rempah-rempah di Pasar tersebut,” kata Kuncar, Kamis, (24/10).

Menurut Kuncar, wilayah Pabean yang dekat dengan pelabuhan memiliki lokasi strategis, sehingga koloni Eropa membangun pos perdagangan di area itu. Hingga kini, Pasar Pabean masih eksis dijadikan tempat/gudang untuk menyimpan rempah-rempah tersebut.

pasar pabeanPasar Pabean Foto: Firtian Ramadhani

“Ada ketumbar, kayu manis, lada, asem dan kemiri. Sebenarnya, peralihan pertama dari rempah kemudian ke produk hasil perkebunan seperti kopi, kacang. Sehingga, di sekitar area Pasar sempat ada pabrik kopi, salah satunya pabrik kopi Kapal Api lahir di situ,” terangnya.

Kuncar menegaskan pascakemerdekaan, Pasar Pabean telah beralih menjadi pasar yang menjual bawang merah dan bawang putih. Akan tetapi, karena lokasi Pasar Pabean yang tidak muat, pada akhirnya transaksi juga dilakukan di sekitar pasar.

“Telah beralih itu setahu saya pascakemerdekaan, menjadi sepenuhnya pasar bawang merah, bawang putih. Nah, karena lokasi Pasar Pabean tidak muat, penjualan akhirnya dilakukan juga di sekitar pasar,” urainya.

Selain menjual bawang, Pasar Pabean tetap digunakan sebagai pasar untuk penjualan rempah-rempah. Meskipun telah beralih usai Pasar Pabean tidak dikuasai oleh Koloni Eropa, warga tetap saja menjual rempah-rempah yang telah ada sejak dulu.

“Penjualan di sekitar pasar ada di Jalan Panggung itu banyak, yang eceran itu kan kelihatan. Jadi meski telah beralih, rempah-rempah tetap dijual di sana. Lokasi penyimpanan rempah-rempah dan kopi ada di dalam Pasar itu kan ada gudang, rempah-rempah dan kopi disimpan di situ,” tandas dia.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Terowongan Peninggalan Belanda yang Menyimpan Mitos di Sukabumi



Sukabumi

Masyarakat Sukabumi punya cerita tentang keberadaan terowongan bawah tanah peninggalan Belanda di kota itu. Terowongan tersebut dipercaya menyimpan mitos.

Beberapa orang percaya terowongan itu menyimpan misteri. Sementara yang lain, menganggapnya hanyalah sebuah saluran drainase biasa.

Namun, fakta sejarah mengungkap, apa yang sering disebut terowongan bawah tanah di Sukabumi sebenarnya adalah saluran air tertutup atau gorong-gorong yang dikenal sebagai duiker.


“Dalam pembangunan masa kolonial, terowongan (tunnel) dibangun dengan membobok bukit atau tanah untuk mendapatkan akses seperti pembangunan terowongan Lampegan. Di Kota Sukabumi belum pernah ada pembangunan terowongan yang dimaksud kecuali memanfaatkan saluran air yang ada seperti sungai atau selokan,” kata Irman Firmansyah, penulis buku Soekaboemi The Untold Story, belum lama ini.

Pada masa kolonial Belanda, pembangunan Kota Sukabumi didesain dengan memanfaatkan teknologi tata air yang canggih untuk masa itu.

Saluran-saluran air kecil, yang sebelumnya dibiarkan terbuka, mulai ditutup dengan duiker, sebuah konstruksi tembok yang memungkinkan air tetap mengalir di bawah tanah tanpa menghambat pembangunan di atasnya.

Sebagai contoh, saluran di sekitar alun-alun Kota Sukabumi dan Masjid Agung dibangun dengan konsep ini untuk memaksimalkan fungsi ruang kota.

Konsep drainase kota atau dikenal dengan sebutan rioleeringsplan, menjadi bagian integral dari perencanaan tata Kota Sukabumi.

Menurut peta kolonial, banyak sungai kecil dan selokan di Sukabumi yang kemudian diselaraskan dengan jalur gorong-gorong tertutup. Fakta ini membantah anggapan adanya terowongan bawah tanah dalam arti sebenarnya, seperti yang ditemukan di wilayah lain dengan topografi berbukit.

“Posisi sungai atau selokan dan jalur terowongan sama persis sehingga bisa dipastikan bahwa jalur tersebut bukanlah terowongan tetapi sungai kecil yang ditutup dengan duiker,” ujarnya.

Teknologi duiker tidak hanya digunakan untuk saluran air tetapi juga untuk membangun jembatan yang lebih efisien. Jembatan tua seperti yang ada di Leuwigoong dan Karangtengah, Cibadak, menjadi contoh bagaimana teknologi ini diterapkan sebelum jembatan berbahan besi mulai digunakan.

Salah satu konstruksi duiker tertua adalah Duiker Cisero Sukaraja yang dibangun sekitar tahun 1800, sebelum masa Daendels.

“Pasca pembentukan afdeling tercatat pembangunan duiker untuk drainase di area pasar Sukabumi (stasiun) dibangun pada tahun1881 dan di Jalan Ciaul tanggal 16 Maret 1888,” kata Irman.

Saat Sukabumi menjadi gemeente pada tahun 1914, perhatian terhadap drainase semakin meningkat. Pemerintah kolonial mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaan gorong-gorong dan saluran air.

Terowongan peninggalan Belanda di Sukabumi.Terowongan peninggalan Belanda di Sukabumi. Foto: Istimewa

Pada tahun 1915, misalnya, dana sebesar 713 gulden dialokasikan untuk pemeliharaan drainase di beberapa titik. Pada tahun 1929, anggaran sebesar 9.000 gulden kembali disiapkan untuk memperluas jaringan drainase, termasuk di sekitar perempatan ABC yang rawan banjir.

Selain berfungsi sebagai saluran pembuangan, gorong-gorong ini juga membantu mengatasi banjir di wilayah padat penduduk. Namun, pada masa awal pembangunannya, sebagian masyarakat masih memanfaatkan saluran air terbuka untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa dari saluran terbuka tersebut kemudian ditutup demi kebersihan dan efisiensi tata kota.

Seiring waktu, masalah baru mulai muncul. Sampah yang menumpuk di saluran tertutup dan pembangunan tanpa perencanaan matang menyebabkan banyak gorong-gorong menjadi mampet. Situasi ini memperparah banjir di beberapa wilayah, terutama di daerah padat penduduk seperti Kampung Tipar dan Bale Desa.

Pembangunan drainase juga menjadi bagian dari program Kampong Verbettering pada tahun 1939. Program ini bertujuan untuk memperbaiki lingkungan perkampungan dengan fokus pada pengelolaan drainase.

Pemerintah dan masyarakat bekerja sama dalam memelihara saluran air, meskipun tantangan tetap ada akibat kebiasaan buruk seperti pembuangan sampah sembarangan.

Kini, mitos tentang terowongan bawah tanah Belanda di Sukabumi terus menarik perhatian. Namun, memahami sejarah dan fungsi asli saluran air ini dapat membantu meluruskan persepsi masyarakat.

Sebagai warisan infrastruktur kolonial, duiker tetap menjadi bagian penting dari sejarah Sukabumi dan menunjukkan bagaimana teknologi masa lalu membantu membentuk tata kota yang kita kenal sekarang.

Kisah tentang duiker ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga infrastruktur warisan sejarah. Dengan perawatan yang baik dan kesadaran masyarakat, saluran air ini tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu tetapi juga tetap berfungsi untuk masa depan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jalan di Bandung yang Hanya Dibuka 30 Tahun Sekali



Bandung

Tahukah kamu, ada sebuah jalan di Bandung yang cuma dibuka 30 tahun sekali. Jalan ini tidak panjang, cuma 25 meter saja.

Sepenggal jalan di Otto Iskandar Dinata (Otista) yang terbelah oleh lintasan rel kereta api bisa dikatakan jalan yang paling istimewa di Kota Bandung.

Itu karena jalan tersebut hanya dibuka setiap 30 tahun sekali, tepatnya saat momen 30 tahunan peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1985 dan tahun 2015 silam.


Lokasi jalan ‘istimewa’ tersebut berada di antara Jalan Stasiun Timur di sebelah selatan dan Jalan Kebun Jukut di sebelah utara.

Pengamat sejarah Bandung Hevi Fauzan ingat betul ketika ia melihat pagar menjulang yang menutup akses jalan Otista tersebut dibuka pada tahun 1985.

Hevi kecil begitu terkesima ketika melihat iring-iringan mobil delegasi KAA melintas di hadapannya melibas secuil Jalan Otista tersebut.

“Tahun 1985 itu dibuka karena itu 30 tahunan, saya lihat lagi 2015 itu dibuka lagi karena event peringatannya 60 tahun (KAA). Itu dibuka untuk memudahkan delegasi ke sana (dari Gedung KAA ke Gedung Pakuan), jadi enggak memutar ke Viaduct. Itu jalan paling panjangnya hanya 20 meter,” kata Hevi saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Secuil jalan Otista ini memang tak kasat mata bila dilihat sekilas. Jalan tersebut, selain bersinggungan dengan rel kereta api juga tertutup oleh pagar yang menjulang tinggi di kedua sisinya.

Belum lagi terdapat pedagang kaki lima dan lapak kios ban yang membuat siapapun tak menyangka ada jalan yang sarat dengan sejarah.

Jika dilihat di peta modern, terlihat jalan Otista yang terpotong oleh rel kereta di Stasiun Timur. Padahal dulunya jalur dari Pasarbaru hingga Gedung Pakuan tak terputus.

Usut punya usut, dulu jalan tersebut dinamai Residentweg (Jalan Residen). Di ujung jalan berdiri Kantor Residen yang dibangun pada tahun 1864 dan selesai pada 1867. Kini Kantor Residen dijadikan Gedung Pakuan, atau akrab disebut ‘gubernuran’, karena memang dijadikan rumah dinas Gubernur Jabar.

Dulu jalan itu membentang dari Gedung Pakuan, Pasar Baru hingga Pendopo yang berada di Alun-alun Kota Bandung. Petugas penjaga akan menutup palang pintu bila ada kereta yang lewat. Namun kini, kendaraan harus memutar ke arah Jalan Kebun Jukut Selatan-Viaduct-Kebun Jukut Utara, karena terpagar tadi.

“Kalau sekarang harus belok dulu ke Viaduct, kalau asumsi saya itu (jalan ditutup) untuk mengendalikan arus lalu lintas. Sekitar tahun 1970-an, jalan tersebut ditutup. Bisa dibayangkan ketika itu ada kendaraan dan kereta api yang padat,” kata Hevi.

Penutupan jalan itu dibarengi dengan pembangunan jembatan pejalan kaki, yang dibangun melintang di atas lintasan rel kereta. Proyek pembuatan jembatan baru Viaduct, kata Hevi, dikerjakan oleh perusahaan konstruksi Aannemer Lim A Goh, dan Viaduct menemukan bentuknya seperti sekarang.

Menurut Hevi, pada tahun 1864 Bandung ditunjuk sebagai Ibukota Keresidenan Priangan (Preanger) oleh Residen van der Moor. Agar memudahkan koordinasi dengan Pendopo atau kantor bupati ketika itu, dibangunlah jalan Residentweg, yang kini menjadi Jalan Otista.

“Secara bentuk enggak berubah sejak pembangunan Gedung Pakuan, mungkin sebelum Pakuan itu jalannya masih kecil, jalan setapak atau apa. Pakuan, Babakan Bogor, Kebon Kawung sudah dilirik pemerintah Kabupaten Bandung untuk memindahkan ibukota dari Dayeuhkolot,” katanya.

Satu fakta menarik soal jalan Kebun Jukut tempo dulu, di ujungnya yang berdekatan dengan Suniaraja dibangun rumah pelukis legendaris Belgia, AAJ Payen yang datang ke Nusantara tahun 1817. Ia merupakan guru dari maestro lukis Raden Saleh.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com