Tag Archives: sibolga

Fakta-fakta Menarik Sibolga, Kota Terkecil di Indonesia



Sibolga

Tahukah kamu, Sibolga merupakan kota terkecil di Indonesia. Berikut fakta-fakta menarik soal Sibolga:

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kota dengan luas wilayah terkecil di Indonesia adalah kota Sibolga di Provinsi Sumatra Utara. Luasnya cuma sekitar 10,77 kilometer persegi.

Kota Sibolga terletak di pesisir barat pulau Sumatera. Kota ini membujur sepanjang pantai dari utara ke selatan di Kawasan Teluk Tapian Nauli.


Berjarak sekitar 350 km dari Medan, letak Sibolga cukup strategis, karena berada di tepi laut, yang menjadikannya kaya akan sektor perikanan. Oleh karena itu, Sibolga pun diakui sebagai Kota Ikan.

Berikut fakta-fakta menarik tentang Sibolga:

1. Sejarah Sibolga

Sibolga dahulu merupakan sebuah bandar kecil di Teluk Tapian Nauli dan terletak di Pulau Poncan Ketek. Pulau kecil ini dekat dengan Kota Sibolga yang sekarang.

Bandar ini diperkirakan telah berdiri sekitar abad ke-18 dengan pemimpinnya yang pada masa itu dikenal dengan julukan Datuk Bandar. Awalnya, nama Sibolga diberikan oleh orang Batak yang datang ke Tapian Nauli. Ia berasal dari Silindung.

Sebelum sampai di Teluk Tapian Nauli, orang Batak Silindung tersebut takjub dengan pemandangan air laut yang sungguh luas, sehingga mereka memberi perairan tersebut nama Sibolga. Sibolga sendiri berarti “balga” atau air yang besar.

2. Berpulau-pulau dan Punya Pegunungan

Sibolga terbagi menjadi daratan pantai, lereng, dan pegunungan. Kota ini memiliki ketinggian antara 0-200 m di atas permukaan laut. Kemiringan lahan pada wilayah kota ini bervariasi, mulai dari 0-2% hingga lebih dari 40%

Iklim kota ini pun termasuk cukup panas dengan maksimum suhu mencapai 32 °C dan minimum 21.6 °C. Curah hujan di Sibolga pun cenderung tidak teratur di sepanjang tahunnya.

Pulau-pulau yang termasuk dalam wilayah Sibolga adalah Pulau Poncan Gadang. Pulau Poncan Ketek, Pulau Sarudik, dan Pulau Panjang.

3. Kuliner Khas Nasi Tua dan Ikan Asin

Berjuluk Kota Ikan, Sibolga memiliki satu oleh-oleh khas, yakni ikan asin. Jika ingin mendapatkan olahan ikan asin yang terkenal di Sibolga, detikers bisa mendatangi Desa Pasar Belakang, ya.

Tak hanya ikan asin, Sibolga juga memiliki kuliner khas yang tak kalah menarik, yakni nasi tua. Kuliner khas ini berbahan dasar ketan yang disiram dengan kuah manis.

Nasi tua merupakan makanan yang disajikan saat acara pernikahan, Biasanya, nasi tua ini akan disajikan oleh pihak mempelai perempuan dan diberikan kepada tamu yang datang.

4. Kota Perlintasan

Karena lokasinya yang strategis, Sibolga kerap menjadi kota perlintasan bagi para warga Sumatera Utara, dari satu daerah ke daerah lainnya. Sejak dulu, Sibolga dikenal sebagai jalur antar daerah di Sumatera Utara.

Kota ini pun menjadi akses dari Pulau Nias menuju Tapanuli hingga ke Medan. Banyak orang luar yang menetap di Sibolga dengan etnis yang berbeda-beda. Hal itu membuat kota ini dijuluki sebagai Negeri Berbilang Kaum.

5. Punya Tradisi Mandi Balimo Limo dan Malopeh

Kota Ikan ini pun memiliki tradisi yang terkenal dari daerah pesisir Tapanuli, yaitu Mandi Balimo Limo. Kegiatan ini dilakukan sebelum memasuki bulan suci Ramadan dengan melakukan mandi-mandi di sungai dengan membawa bekal disertai air limau yang telah dicampur dengan daun pandan wangi.

Sedangkan tradisi Malopeh dilaksanakan pada akhir bulan Ramadan. Pada tradisi ini, masyarakat membeli daging untuk dimasak sehari sebelum hari Lebaran.

6. Acara Turun Batu

Tidak hanya mencakup hal-hal yang bersifat keduniaan, Sibolha juga punya ritual menyangkut bagi orang yang meninggal dunia, seperti Acara Turun Batu.

Acara ini biasanya dilakukan ketika seseorang meninggal dunia dan pihak keluarga yang ditinggal membuat Acara Turun Batu, yaitu menempatkan batu nisan di atas kuburan.

——–

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jangan Ucapkan Kata Kotor Kalau Mau Selamat



Sibolga

Di Sibolga, ada destinasi Gua Belanda yang menyimpan cerita horor tersendiri. Selain itu, ada mitos dilarang mengucapkan kata-kata kotor bagi pengunjung.

Batu Lubang atau Gua Belanda, begitu warga Sibolga mengenalnya. Kami berkesempatan untuk melintasi Batu Lubang tersebut dalam perjalanan menuju Kota Sibolga. Tim berangkat dari Kota Medan pukul 19.30 WIB dan tiba di Batu Lubang sekitar pukul 03.00 dini hari.

Suasana saat itu begitu gelap, hanya ada pencahayaan dari mobil untuk menerangi perjalanan untuk melintasi gua sepanjang kurang lebih 50 meter tersebut.


Suasana gua begitu hening, kebetulan hanya mobil tim yang melintasi gua tersebut. Tampak samar, beberapa kelelawar tampak melintas sekilas begitu terkena cahaya mobil. Air menetes dari atas langit-langit gua.

Begitu mulai memasuki gua, sopir travel yang kami tumpangi kemudian membunyikan klakson tiga kali. Tim pun penasaran maksud dari membunyikan klakson tersebut.

“Udah memang tradisinya bunyikan klakson,” ungkap sopir travel, Parna beberapa waktu lalu.

Parna bercerita, membunyikan klakson selalu dilakukan para sopir agar mobil dari arah berlawanan dapat mengetahui dan dapat bergantian.

Ya, kondisi jalan di dalam gua begitu sempit dan hanya mampu dilewati oleh satu kendaraan saja.

“Jadi biar mobil dari gua satu lagi tahu ada mobil lain jadi gantian masuknya, itu logikanya,” ujarnya.

Kisah Mistis Gua Belanda

Parna kemudian diam sesaat, lalu menceritakan kisah mistis dari gua yang memiliki dua bagian tersebut.

“Batu lubang ini dibuat orang kita (warga lokal) pada zaman penjajahan Belanda. Selama proses pembuatan gua ini ada yang mati dan dulu mayatnya enggak dikubur tapi tertimpa batu itu. Makanya kalau lewat situ harus bunyikan klakson,” kata Parna.

Selain itu, Parna juga mengingatkan sebelumnya bahwa saat berada di dalam gua tersebut, pengendara ataupun penumpang dilarang untuk mengucapkan kata-kata yang sembarangan ataupun kotor.

“Jangan ngomong sembarangan kalau lewat sini, karena katanya dulu orang kita itu sering mengumpat orang-orang Belanda. Jadi langsung dibunuh sama orang Belanda itu, makanya yang lewat situ enggak boleh ngomong kasar, berbahaya,” jelasnya.

Sejarah Gua Belanda di Sibolga

Batu Lubang Sibolga memiliki sejarah menarik dalam proses pembangunannya pada era zaman penjajahan Belanda. Konon, gua ini dibangun sekitar awal tahun 1900-an.

“Pembangunan Batu Lubang ini simpang siur ya, ada yang bilang tahun 1900 atau 1930. Tapi untuk yang tahun 1930 saya enggak yakin karena saya juga cek di Perpustakaan Leiden University, ada koleksi foto asli yang didigitalkan itu tahunnya 1915 dan tidak ada yang lebih tua dari itu. Itu kan fotonya sudah jadi ya, kalau saja kita tarik ke belakang pasti di bawah tahun 1915 untuk pembangunannya,” kata Sejarahwan Sumut M Aziz Rizky Lubis.

Azis menyebutkan Batu Lubang ini memegang peranan penting dalam geliat perekonomian pada masa penjajahan Belanda pada zaman dahulu. Di antaranya sebagai bentuk mobilitas dalam pengangkutan hasil bumi dari wilayah Tapanuli ke daerah luar.

“Gunanya Belanda buat gua ini untuk menghubungkan wilayah Tapanuli karena ini kan pada saat itu masuk dalam Keresidenan Tapanuli. Untuk menghubungkan wilayah pedalaman Residen Tapanuli ke wilayah luar, pertama Sibolga ini memang pada saat itu jadi ibukota dari Keresidenan Tapanuli, nah mereka memiliki pelabuhan yang menjadi pintu masuk dan keluar ke dunia yang ada di sekitarnya maupun ke luar negeri,” kata Azis.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com