Tag Archives: situs arkeologi

Sisa-sisa Peradaban Sunda Kuno yang Ditemukan Belanda di Sukabumi



Sukabumi

Sisa-sisa peradaban Sunda Kuno ternyata ditemukan oleh orang Belanda di Sukabumi. Bagaimana kisah penemuannya?

Lokasi penemuan peradaban Sunda masa lampau itu berada di Kampung Salak Datar, Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Lokasinya berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Dari hasil penelusuran sejarah, area itu pertama kali ditemukan oleh seorang peneliti Belanda bernama Hasskarl di tahun 1842.


“Lokasi Salak Datar pertama kali dilaporkan oleh Hasskarl tahun 1842. la melaporkan adanya bangunan Punden berundak di Salak Datar. Penelitian lebih lanjut terhadap Megalit Salak Datar tercatat adanya susunan batu di tengah sawah terdiri dari monolit berhias dakon, sejumlah menhir, dan batu datar,” kata Eldi, Tim Ahli Cagar Budaya (TACG) Kabupaten Sukabumi.

Penelitian Hasskarl kemudian berlanjut, sejumlah peneliti asal Belanda kembali mendalami situs tinggalan budaya tersebut.

Bahkan hingga kini, sejumlah peneliti dengan berbagai latar belakang dan berasal dari berbagai negara masih rajin mendatangi lokasi tersebut.

“Penelitian dilanjutkan oleh Vordeman (1885), N.J. Krom (1914), Puslit Arkenas (1977), dan beberapa peneliti lain baik dari peneliti asing, pemerintah, swasta, dan univeritas yang dilakukan di Lokasi Salak Datar hingga saat ini. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, lokasi Salak Datar merupakan lokasi dengan ciri tradisi Megalitik. Tradisi ini berkembang pada Masa Prasejarah Periode Perundagian, yaitu sekitar awal tarikh masehi,” beber Eldi.

Sejak September 2023 kawasan itupun ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya dan keberadaannya dilindungi oleh Undang-undang.

Secara fungsi, Eldi merinci berbagai temuan di kawasan itu, setiap situs bebatuan memiliki arti dan fungsi yang memang mirip dengan situs tetinggal di masa lampau lainnya.

“Lokasi Salak Datar difungsikan sebagai tempat ritual pengagungan arwah leluhur pada masa lalu. Hal itu dibuktikan dengan tinggalan-tinggalan megalitik yang tersebar di lokasi. Seperti ditemukannya menhir dan batu datar menyerupai lantai yang saling berkaitan, dimana pada masa lalu dipergunakan untuk tempat pertemuan atau pengagungan terhadap arwah leluhur, itu catatan ahli cagar budaya dari lokasi,” ungkap Eldi.

“Letak Lokasi Salak Datar juga dekat dengan sumber air, berjarak sekitar 4 meter. Air merupakan komponen penting dalam tradisi megalitik, karena fungsi air digunakan sebagai kegiatan bersuci untuk mendukung upacara ritual pemujaan dalam tradisi megalitik,” sambungnya.

Situs Salak Datar di Desa Cimaja, lokasinya tersembunyi diantara permukman warga dan area perbukitan kawasan TNG Halimun-SalakSitus Salak Datar di Desa Cimaja, Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Nurdin Maulana (48), juru kunci Situs Salak Datar mengatakan ia meneruskan almarhum ayahnya Abah Kosih (72) yang juga juga kunci kawasan tersebut

“Saya meneruskan almarhum ayah saya, sejak beliau meninggal dunia 10 bulan silam. Saya menjalankan amanat atau wasiat dari almarhum untuk menjadi juru kunci di sini,” kata Nurdin.

Nurdin mengatakan peninggalan Situs Salak Datar berasal sejak zaman Sunda Wiwitan, lokasi itu kerap ramai pengunjung ketika memasuki bulan (kalender jawa) Muharam, Sapar dan Mulud.

“Biasanya yang datang ke sini tujuannya ziarah, silatuurahmi menelusuri jejak sesepuh dahulu. Muharam, Sapar dan Mulud di bulan biasa juga suka aja ada yang datang kadang satu orang dua orang seminggu,” kata Nurdin.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Konon, Inilah Desa Tertua di Pantai Selatan Pulau Jawa



Bantul

Situs Gunung Wingko di Bantul dipercaya sebagai desa tertua di pantai selatan pulau Jawa. Sayang, lokasi situs ini sudah sulit dipetakan. Kok bisa?

Situs yang berada di Srigading, Sanden, Bantul ini menjadi bukti adanya peradaban prasejarah. Kawasan Gunung Wingko diyakini sejak dulu telah memproduksi keramik atau gerabah.

Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan kereweng dan artefak di kawasan itu. Namun, saat ini lokasi situs Gunung Wingko sudah tidak bisa dipetakan karena banyaknya permukiman penduduk.


Pantauan di lokasi, tidak ada papan nama atau penunjuk lokasi di Gunung Wingko. Situs itu hanya menyisakan bukit kecil dengan banyak tumbuhan di dalamnya.

Dikutip dari situs Disbud Pemkab Bantul, Gunung Wingko diyakini merupakan situs permukiman masa protohistori. Desa kuno Gunung Wingko disebut sebagai salah satu desa paling tua dan paling besar di antara desa-desa kuno di pantai selatan Jawa.

Fase kehidupan yang terjadi di desa tersebut sejak masa akhir prasejarah hingga masa sejarah. Ketua Pokdarwis Srigading, Atmono (59), menjelaskan dulu di samping rumahnya terdapat bukit pasir yang sangat tinggi. Bukit pasir tinggi ini diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko.

“Bahkan lebih tinggi dari atap rumah bukit pasir itu,” kata Atmono mendeskripsikan bukit pasir itu saat ditemui di kediamannya, Kamis (30/5/2024).

Bukit tersebut, kata Atmono, memanjang dari arah barat ke timur di Jalan Samas. Secara rinci, bukti pasir itu mulai dari Tirtohargo, Kretek, Bantul hingga Karanganyar, Gadingrejo, Sanden, Bantul.

“Dengan panjang sekitar 3 kilometer, itu membentang dari arah barat ke timur,” ujarnya.

Asal Usul Nama Wingko

Terkait nama Gunung Wingko, Atmono mengungkapkan karena dahulu banyak temuan benda menyerupai pecahan genting di bukit pasir. Namun, hingga saat ini tidak ada yang tahu asal muasal pecahan tersebut.

“Saat saya masih kecil, pas di bukit itu banyak sekali yang namanya wingko atau yang masyarakat sini sebut pecahan genting. Tapi itu sebenarnya pecahan gerabah berserakan banyak sekali,” ujarnya.

“Nah, kejadiannya seperti apa, saya tanya orang-orang tua sini tidak ada yang tahu,” lanjut Atmono.

Wingko Diduga Berasal dari Pemukiman Kuno

Atmono sendiri menduga jika wingko itu berasal dari permukiman di sisi selatan bukit. Mengingat zaman dahulu banyak permukiman di dekat sungai dan pantai.

“Dugaan saya, permukiman zaman dulu ada di sepanjang pantai dan pinggiran sungai, karena untuk akses transportasi zaman dahulu kan satu-satunya itu. Nah, pemukiman itu mungkin sudah ada sebelum zaman prasejarah,” katanya.

Terkait Gunung Wingko berhubungan dengan permukiman zaman prasejarah, Atmono menilai karena banyaknya temuan artefak dan hasil kajian dari gunung tersebut. Sehingga sebelum Belanda dan Jepang menjajah sudah ada permukiman di bagian selatan Bantul.

“Saya bisa bilang begitu karena temuan artefak-artefak, hasil kajiannya ditemukan. Itu dari yang paling sederhana hingga keramik ditemukan itu dari zaman prasejarah,” ucapnya.

Sedangkan untuk pusat situsnya sendiri belum ada yang bisa mengungkapnya. Semua itu karena banyaknya permukiman di sekitar Jalan Samas saat ini.

“Kalau pusat situsnya sendiri kita susah memetakan karena bentangan dari bukit pasirnya kan cukup panjang sekitar 3 kilometer,” ujarnya.

Menyoal banyaknya wingko pada bukit pasir, Atmono menduga permukiman pada zaman prasejarah itu sudah bisa memproduksi garam, anyaman, dan keramik. Menurutnya, kala itu di Bantul sudah terjadi peradaban yang cukup maju di era zaman prasejarah.

“Nah, kenapa banyak wingko itu dugaan saya dulu permukiman di sana dengan kegiatan utamanya memproduksi barang, dengan menggunakan peralatan gerabah. Seperti dengan tangan kosong, roda berputar yang lambat dan kencang,” katanya.

“Terus dulu itu kemungkinan terjadi tsunami, itu dugaan saya ya, meskipun belum ada bukti ilmiahnya. Karena tersapu ombak lalu membuat rumah dan segala perabotan terangkat semua dan terkena bukit pasir karena batas ketinggian tsunami mungkin segitu,” imbuh Atmono.

Penemuan Arkeolog di Gunung Wingko

Di sisi lain, Atmono mengungkapkan banyak kegiatan arkeologi di Gunung Wingko. Atmono menerangkan kebanyakan pelaku kegiatan tersebut dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Dari 1972 sampai 1998, itu dari UGM. Saat itu banyak ditemukan tulang manusia dan hewan. Kemudian yang sporadis atau mahasiswa-mahasiwa itu juga ada, dan terakhir itu dari UGM tahun 2019-2020,” ucapnya.

Dengan banyaknya temuan itu, Atmono yakin di Bantul sudah ada peradaban sebelum berdirinya candi-candi. Apalagi, peradaban tersebut terbilang maju karena sudah bisa memproduksi gerabah.

“Semua itu membuktikan di Bantul sudah ada peradaban dan peradabannya jauh lebih tua ketimbang Borobudur dan Prambanan,” ucapnya.

Situs Gunung Wingko Kini Terbengkalai

Terlepas dari semua itu, Atmono menyayangkan kurangnya kepedulian dari pemangku wilayah terhadap Gunung Wingko. Padahal Gunung Wingko sebenarnya bisa menjadi daya tarik wisata minat khusus.

“Memang tidak ada papan penanda, kepedulian dari pemangku wilayah kurang perhatian atau mungkin masukan kita yang kurang ke mereka. Sebenarnya saya pernah menawarkan, karena situs-situs seperti itu sayang kalau dibiarkan begitu saja,” katanya.

Bahkan, Atmono pernah menawarkan rumahnya sebagai embrio pusat studi situs Gunung Wingko. Sebab, rumahnya berada tepat di samping lokasi yang diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko.

“Tapi sampai sekarang belum terwujud. Padahal saat dipetakan pusat situs itu (Gunung Wingko) di sini, utara tempat saya ini dan seharusnya kan bisa menjadi living museum di sini,” katanya.

Belum lagi, saat ini lahan yang diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko akan dijual. Diketahui, tanah tersebut sudah berulang kali dijual.

“Iya (memang tanahnya djiual), karena itu hak milik. Yang punya dulu aslinya orang sini dan dijual sampai tangan keempat, dan sekarang ditawarkan lagi alias dijual,” ujarnya.

Gunung Wingko Berstatus Cagar Budaya

Sementara itu, Kepala Seksi Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Bantul, Elfi Wachid Nur Rachman, menyebut Gunung Wingko berstatus situs cagar budaya. Semua itu tertuang dalam surat keputusan (SK) Bupati Bantul.

“Terkait dengan Gunung Wingko sudah jadi situs cagar budaya. Adapun status tersebut tertuang dalam surat keputusan Bupati Bantul nomor 527 tahun 2019 tentang Gunung Wingko sebagai situs cagar budaya,” kata Elfi.

Menyoal tidak adanya papan penanda di Gunung Wingko, Elfi mengaku pemasangan kemungkinan berlangsung tahun ini. Mengingat tahun ini Disbud Bantul memiliki program papanisasi.

“Terkait penanda tahun 2024 ada papanisasi dan salah satu sasarannya di Gunung Wingko. Tidak hanya itu, kami juga akan mengusulkan keberadaan pusat Informasi Gunung Wingko,” ucapnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com