Tag Archives: sri

Cara Pilih Waktu Terbaik Bangun Rumah Menurut Tradisi Jawa


Jakarta

Dalam tradisi Jawa, proses pembangunan rumah tidak bisa dilakukan sembarangan. Terdapat anjuran dan pantangan yang dibuat berdasarkan budaya dan spiritual atau kepercayaan masyarakat Jawa.

Salah satu aturan tersebut mengenai cara memilih waktu yang baik jika ingin membangun rumah. Aturan tersebut muncul dari pengalaman orang terdahulu dan diharapkan dapat memberikan kelancaran, keberkahan, serta keharmonisan dalam pengerjaannya.

Dilansir dari detikJateng yang mengutip dari buku Arsitektur Tradisional terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI serta artikel ilmiah berjudul Persepsi Masyarakat Desa Jiwan Terhadap Kalender Jawa dalam Membangun rumah oleh Berti Fitri Permatasari dan Novi Triana Habsari, berikut penjelasannya.


1. Hindari Bangun Rumah Saat Musim Hujan

Indonesia hanya memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan hujan. Dalam tradisi Jawa, terdapat 12 musim dalam setahun, seperti Kasa, Karo, Ketiga, hingga Kasada. Namun, 12 musim tersebut dibagi dalam dua kategori besar, yaitu musim kemarau dan musim penghujan.

Musim hujan terjadi pada musim Kapitu, Kawolu, dan Kasanga. Umumnya pada tiga musim tersebut curah hujan sedang tinggi sehingga bisa menghambat proses pembangunan dan berisiko mengancam keselamatan tukang maupun penghuni awal rumah, serta bisa mengakibatkan rumah bahan bangunan rusak.

Selain ketiga musim tadi, tradisi Jawa disebut menghindari musim Kalima karena dianggap masa peralihan yang cuacanya masih tidak menentu sehingga masih kurang ideal untuk membangun rumah.

2. Cari Hari Baik untuk Bangun Rumah

Selain musim, hari pembangunan pun harus diperhitungkan. Ada beberapa hari yang sebaiknya dihindari, ada juga hari yang baik.

Uniknya, penentuan waktu ini berdasarkan hitungan hari lahir dan pasaran orang yang akan menempati rumah. Dalam tradisi Jawa, cara ini punya nilai khusus dan disebut dengan neptu. Sebagai contoh hari Ahad nilainya 5, Senin 4, dan seterusnya. Pasaran seperti Pahing, Kliwon, Legi juga punya nilai sendiri. Jumlah dari nilai hari dan pasaran ini kemudian dihitung untuk menentukan hari yang tepat dalam pembangunan.

Setelah didapatkan total neptu, angka ini akan dihitung lagi menggunakan rumus Panca Suda, yaitu sistem pembagian lima jenis bagian rumah berdasarkan urutan pembangunan. Hasil dari perhitungan ini akan menjadi panduan untuk membangun rumah berdasarkan ruangan, begini pembagiannya.

Sri: untuk membangun lumbung padi

Werdi: untuk kandang atau gandhok

Naga: untuk dapur atau pawon

Kencana (emas): untuk rumah utama (omah jero)

Salaka (perak): untuk bagian depan seperti pendhapa

Sebagai contoh seseorang ingin membangun bagian utama rumah, yang disebut ‘omah jero’, maka harinya harus menghasilkan sisa Kencana (yaitu angka 4) setelah dihitung. Misalnya memilih hari Ahad Pahing (Ahad = 5, Pahing = 9), maka totalnya 14. Angka ini dikurangi dua kali jumlah unsur Panca Suda (2 x 5 = 10), sisa 4. Karena sisa 4 berarti Kencana, maka hari itu dianggap cocok untuk membangun rumah utama.

Contoh lain, kalau ingin membangun lumbung padi, perlu mencari hari yang hasil akhirnya jatuh pada Sri, misalnya Selasa Kliwon (Selasa = 3, Kliwon = 8, total 11). Setelah dikurangi 10, sisa 1, yang berarti Sri. Maka hari itu cocok untuk mendirikan lumbung.

Aturan ini berlaku untuk semua bagian rumah. Pemilik rumah perlu menghitung masing-masing ruangan kemudian, menyusun jadwal pembangunannya. Cara pemilihan hari ini dipercaya dapat membawa berkah dan ketenteraman bagi penghuninya.

Itulah cara menentukan waktu yang tepat untuk membangun rumah berdasarkan tradisi Jawa, semoga membantu.

Artikel ini sudah tayang di detikJateng

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/abr)



Sumber : www.detik.com

Oleh-oleh Bali Utara: Arak dan Gula Lontar



Jakarta

Traveler pecinta minuman beralkohol, bisa nih merasakan arak lokal di Bali Utara, tepatnya di Desa Les. Desa yang masuk ke dalam nominasi ADWI 2024 ini punya rumah penyulingan arak yang bisa kita datangi.

Dapoer Bali Moela di Desa Les bisa jadi pilihan traveler bila berkeliling Bali Utara. Tak hanya menyajikan masakan khas Bali nan otentik, namun di sini juga ada penyulingan arak Bali lho.

Beberapa waktu lalu detikcom bersama Kemenparekraf datang ke Desa Les dan melihat langsung bagaimana proses pembuatan arak dari buah lontar.


“Selamat datang di Dapoer Moela. Kami adalah restoran tradisional Bali yang menyajikan masakan Bali, terutama khas Desa Les. Di sini konsepnya rumahan dan apa yang didapat nelayan, itulah yang kami masak,” Sri, salah satu staf di Dapoer Molea, menyapa rombongan kami.

Sri pun mengajak kami menuju dapur pembuatan arak Bali. Terlihat beberapa tungku menyala mendidihkan arak-arak yang berada di dalam kuali besar. Kami juga melihat panci-panci besar yang tertutup rapat tersambung dengan bambu.

Penyulingan arak di Desa LesAir nira yang sudah difermentasi dididihkan Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Sri menjelaskan bahwa mereka memproduksi arak dari lontar.

“Pohon lontar ada dua, jantan dan betinanya. Nah keduanya sama-sama boleh diproses menjadi tuak manis maupun tuak wayah. Namun yang membedakan adalah prosesnya. Yang lontar jantan itu sudah enak rasanya, namun yang lontar betina itu lebih enak lagi rasanya. Tapi kami di sini pakai lontar jantan,” kata Sri.

Setelah air nira didapatkan, dilanjutkan dengan fermentasi dengan kayu kesambi dan cuka. Setelah seharian, air nira pun diangkat lalu dimasak hingga menjadi kental. Nah, ini adalah proses pembuat gula lontar.

“Bila ingin membuat arak, air niranya difermentasi dengan sabuk kelapa, lalu diletakkan di dalam bambu. Air nira didiamkan selama 24 jam, setelah itu barulah dimasak hingga mendidih,” kata Sri.

“Setelah buih-buihnya hilang, air niranya ditutup rapat sekali. Nah, dalam proses ini, uap nya inilah yang menjadi tetesan arak yang kita tampung di dalam botol,” ujar Sri kemudian menunjukkan botol kaca yang menampung arak dari bambu yang terhubung dengan panci.

Penyulingan arak di Desa LesPenyulingan arak di Desa Les (Syanti Mustika/detikcom)

Untuk memenuhi arak sebotol, butuh waktu sekitar satu jam. Serta kadar alkohol dalam tiap botol ternyata bisa berbeda-beda lho.

“Dalam 30 liter air nira yang menjadi arak hanya 4 botol saja, atau sekitar 3 liter. Nah, dalam botol pertama (sulingan awal) kadar alkoholnya yang paling tinggi, yaitu 45%-55%. Di botol kedua kadarnya akan turun 40%-45%. Hingga nanti botol keempat kadar alkoholnya Rp 20%. Nah, setelah itu kita setop,” dia menambahkan.

Penyulingan arak di Desa LesPenyulingan arak di Desa Les (Syanti Mustika/detikcom)

Sri mengatakan api dari tungku juga harus dijaga demi menjaga rasa dari arak. Butuh kesabaran dalam membuat arak yang berkualitas.

“Untuk mengetahui kadar alkohol, kita menggunakan alkohol meter. Masih manual,” ujarnya.

Bisakah arak Bali ini dibawa pulang?

Sri memaparkan bahwa arak produksi mereka juga dijual kepada tamu-tamu yang datang. Setiap turis yang datang akan diajak ke tempat penyulingan sebagai kegiatan experience.

Sebotol arak Bali ini dijual mulai Rp 150 ribu per botolnya (750 ml). Semakin tinggi kadar alkoholnya, semakin mahal.

Sedangkan gula lontar atau juruh dijual Rp 70 ribu (600 ml).

“Untuk nikmatnya, arak semakin lama di simpan, semakin enak. Simpan saja disuhu ruang. Juga bisa tambahkan es batu bila ingin minum dingin. Bila kamu tambahkan garam, rasanya nanti mirip tequila. Coba juga dicampur gula lontar, makin enak lagi,” kata Sri.

Bagi traveler yang tak minum alkohol, gula lontar bisa juga nih jadi pilihan dibawa pulang. Gula lontar bisa digunakan untuk masak dan juga pengganti gula pasir.

“Gula lontar bisa digunakan banyak hal, salah satunya bisa pengganti gula pasir. Bisa dicampur teh, kopi dan lainnya. Juga, bisa digunakan untuk pengganti MSG. Kami di sini menggunakan garam dan gula lontar saja sebagai penyedap, tak pakai MSG,” ujar Sri.

“Gula lontar itu tak hanya manis saja, namun juga ada rasa asam dan pahitnya. Jadi cocok bila dijadikan penyedap masakan,” dia menegaskan.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com