Tag Archives: stasiun manggarai

4 Stasiun Kereta Api Bersejarah di Jakarta dan Depok



Jakarta

Kereta api menjadi salah satu transportasi tua di Indonesia. Empat stasiun kereta api di Jakarta dan Depok ini merupakan tinggalan Belanda.

Kehadiran kereta api di zaman penjajahan Belanda diprakarsai oleh Staatsspoorwegen (SS), sebuah perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Kini namanya telah berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Stasiun-stasiun yang ada di kawasan Jakarta atau Batavia ini ternyata menyimpan banyak sisi sejarah yang belum banyak terungkap. Yang bikin keren, stasiun ini terawat hingga kini dan tetap beroperasi.


Berikut 4 stasiun kereta api di Jakarta dan Depok dengan sejarahnya:

Stasiun Manggarai

Belanda mulai menjajah Indonesia sejak tahun 1619. Di bidang transportasi, Belanda memulai pembangunan stasiun secara bertahap, salah satunya Stasiun Manggarai.

Stasiun Manggarai sudah ada sejak abad ke-17. Tak langsung beroperasi sebagai stasiun, mulanya Stasiun Manggarai digunakan sebagai tempat tinggal dan pasar budak asal Manggarai, Flores.

Stasiun Manggarai dibongkar dan dibangun ulang oleh Ir. Van Gendt seorang arsitek Belanda dan resmi beroperasi pada 1 Mei 1918. Sebelumnya, stasiun itu berada di bawah pengelolaan Staatsspoorwegen yang kemudian jaringannya diperluas oleh Meester Cornelis.

Tak banyak bagian bangunan lama yang masih bertahan di sini. Menurut Pamela, seorang guide dari Wisata Kreatif Jakarta, mulanya Stasiun Manggarai berbentuk lapangan luas dengan luas 2.47 hektar dengan 12 jalur kereta api.

“Luasnya itu 2.47 hektar dan dikelilingi oleh 12 jalur kereta api yang kita lihat masih beroperasional sampai sekarang ya,” kata Pamela.

Stasiun Manggarai ini juga dijadikan salah satu saksi bisu pelariannya rahasia Ir. Soekarno dalam menjalankan perjalanan kereta luar biasa (KLB) saat memindahkan ibu kota ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Untuk menutupi perjalanan tersebut gerbong kereta barang telah disusun rapi berderet di jalur 1.

Saat jalan-jalan di masa kini, traveler tak boleh lewatkan kuliner legendaris di Stasiun Manggarai, yakni pisang goreng Mpok Nur. Berjualan sejak 2006, pisang goreng Mpok Nur selalu laris manis tak bersisa setiap buka.

Uniknya, tak buka setiap hari pisang goreng Mpok Nur hanya buka jika pisang-pisang tanduk yang dimilikinya telah masak dan siap di goreng. “Ini buka, 2 hari tutup, besoknya baru buka,” kata salah satu karyawan yang sedang menggoreng.

Rasa pisangnya yang manis dibalut dengan tepung krispi dan harganya yang murah, yakni Rp 4 ribu per potong membuat banyak orang menyukai kuliner khas ini.

Menurut salah satu karyawan itu, dalam sehari ia bisa menggoreng berpuluh-puluh kilo pisang tanduk dan menghabiskan tepung adonan hingga 6 baskom.

Stasiun Depok Lama

Tak hanya Stasiun Manggarai, Belanda memperluas jaringan kereta api yang salah satunya ialah Stasiun Depok Lama. Pengangkutan barang mulai dari hasil pertanian hingga tambang dan transportasi para pejabat tinggi dilakukan juga di Stasiun Depok Lama.

Keramaian Stasiun Depok Lama membuat banyak orang-orang Belanda yang singgah, tinggal, bahkan berbisnis di kawasan sekitar Stasiun Depok. Dari sinilah istilah ‘belanda depok’ muncul. Pasalnya banyak orang-orang asli Belanda yang menikah dengan pribumi pada situasi tersebut.

Di Stasiun Depok Lama juga menjadi tempat terciptanya kereta listrik asal Jerman di Indonesia yang membuat kereta uap menjadi tertinggal dan terlupakan di abad ke-19.

Stasiun Jakarta Kota

Stasiun Jakarta Kota sering juga dikenal sebagai Beos Batavia. Beos berasal dari nama Belanda, yakni Batavia En Omstreken yang memiliki makna Batavia dan sekitarnya.

Arsitektur bangunan di stasiun ini bernuansa klasik Eropa yang jika dibandingkan dengan stasiun-stasiun tua di Belanda memiliki beberapa kemiripan. Hanya saja, Stasiun Jakarta Kota lebih menunjukkan gaya klasik kuno. Atap yang tinggi dan material anti panas yang ada membuat sirkulasi udara di Stasiun Jakarta Kota terasa sejuk dengan angin semilir.

Stasiun ini dibangun pada pertengahan abad ke-19 selama 3-4 tahun. Meskipun sudah berumur ratusan tahun, stasiun itu masih beroperasi secara normal di era sekarang dengan 11 koridor.

Stasiun Jakarta Kota masuk sebagai salah satu stasiun heritage dan salah satu stasiun tua di Jakarta. Jika berada di kawasan Stasiun Jakarta Kota, traveler juga bisa sekalian mampir ke Galeri MRT untuk melihat sejarah serta benda-benda arkeologi yang ditemukan oleh MRT semasa pembangunannya secara gratis.

Menurut Pamela, di Stasiun Jakarta terdapat dua bunker peninggalan Belanda yang salah satunya berada di Stasiun Jakarta Kota.

“Di sini itu ada bunker di stasiun Jakarta yang aku ketahui itu di Stasiun Jakarta Kota sama Stasiun Tanjung Priok,” kata Pamela.

Namun demi keamanan, tak semua orang dapat izin untuk mengakses bunker itu.

Stasiun Tanjung Priok

Dibangun pada awal abad ke-19 tepatnya pada tahun 1914 oleh Ir. C. W Koch, Stasiun Tanjung Priok menjadi salah satu stasiun tertua di Jakarta.

Stasiun ini menjadi salah satu stasiun kebanggaan Pemerintah Hindia Belanda saat itu karena menjadi gerbang utama dari Batavia menuju kawasan Tanjung Priok yang berdekatan dengan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai salah satu akses keluar masuk orang-orang Belanda saat itu.

Mulanya Stasiun Tanjung Priok dibangun di atas dermaga Pelabuhan Tanjung Priok namun karena semakin tingginya aktivitas stasiun dan pelabuhan pada akhir abad ke-18 dipindahkan ke lokasi Stasiun Tanjung Priok saat ini. Pada saat itu stasiun ini juga difungsikan untuk mengangkut kontainer-kontainer yang memuat bahan-bahan berat.

Peresmian Stasiun Tanjung Priok dilakukan bersamaan dengan perayaan 50 tahun Staatsspoorwegen beroperasi di Hindia Belanda tepatnya pada 6 April 1925 bersamaan pula dengan peluncuran KRL rute Tanjung Priok – Jatinegara.

Stasiun Tanjung Priok juga menjadi stasiun pertama yang dilalui jalur rel kereta api listrik. Sempat berhenti beroperasi pada tahun 1999 dan kembali dioperasikan pada 13 April 2009.

Bangunan Stasiun Tanjung Priok masih terasa lekat dengan kisah-kisah sejarah dan arsitektur khas art deco dengan atap atau overkapping melengkung yang instagramable.

Konon pada zaman dahulu juga terdapat beberapa resto, bar, hingga lantai dansa untuk menyambut orang-orang Belanda yang akan bepergian dari stasiun tersebut. Kini Stasiun Tanjung Priok ditetapkan sebagai Cagar Budaya Jakarta.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cara ke Mall Alam Sutera dengan Transportasi Umum dari Jabodetabek


Jakarta

Mall Alam Sutera bisa menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Terutama bagi detikers yang tinggal di Kota Tangerang atau Tangerang Selatan, mal ini mudah dijangkau, yakni di Jalan Jalur Sutera Barat, Kecamatan Pinang, Tangerang, Banten..

Bagi detikers yang tinggal di kawasan Jabodetabek, tidak usah bingung. Kalian bisa hangout ke Mall Alam Sutera naik transportasi umum. Cara ke Mall Alam Sutera dengan transportasi umum yang paling mudah adalah menggunakan kereta rel listrik (KRL).

Dalam artikel ini akan kita ulas cara ke Mall Alam Sutera dengan transportasi umum KRL dari Jakarta, Bogor/Depok, dan Cikarang/Bekasi.


Rute ke Mall Alam Sutera Naik KRL

Jika naik KRL, detikers nantinya harus turun di Stasiun Tanah Tinggi atau Stasiun Rawa Buntu. Setelah itu dapat melanjutkan perjalanan naik angkutan umum lainnya.

Ada beberapa opsi menuju ke sana, tergantung daerah asalmu. Berikut rute ke Mall Alam Sutera naik KRL dari berbagai daerah:

1. Dari Jakarta Pusat (Tanah Abang)

  • Dari Jakarta Pusat, detikers bisa naik KRL dari Stasiun Tanah Abang jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung.
  • Turun di Stasiun Rawa Buntu, yakni stasiun keenam setelah Stasiun Tanah Abang.
  • Dari Stasiun Rawa Buntu, detikers keluar menuju halte Rawa Buntu untuk naik angkot B04 dan turun di Warung Mangga 1, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Rawa Buntu dengan jarak sekitar 13 km.

2. Dari Jakarta Barat (Duri)

  • Dari Jakarta Barat, detikers bisa naik KRL dari Stasiun Duri dengan jurusan Duri-Tangerang.
  • Turun di Stasiun Tanah Tinggi, yakni stasiun kesembilan setelah Stasiun Duri.
  • Dari Stasiun Tanah Tinggi, detikers bisa jalan kaki 450 meter ke Pasar Induk Tanah Tinggi, kemudian naik angkot B07 dan turun di Warung Mangga 2, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Tanah Tinggi dengan jarak sekitar 10 km.

3. Dari Jakarta Selatan/Timur (Jatinegara/Manggarai)

  • Dari Jakarta Timur, detikers bisa naik KRL dari Stasiun Jatinegara yang mengarah ke Stasiun Manggarai.
  • Jika kalian dari Jakarta Selatan, bisa langsung naik KRL dari Stasiun Manggarai.
  • Selanjutnya kalian bisa transit di Stasiun Tanah Abang naik KRL jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung.
  • Turun di Stasiun Rawa Buntu.
  • Dari Stasiun Rawa Buntu, detikers keluar menuju halte Rawa Buntu untuk naik angkot B04 dan turun di Warung Mangga 1, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Rawa Buntu dengan jarak sekitar 13 km.

4. Dari Jakarta Utara

  • Dari Jakarta Utara, detikers bisa naik KRL dari Stasiun Tanjung Priok atau Ancol.
  • Turun di Stasiun Kampung Bandan, pindah ke KRL arah Manggarai.
  • Turun di Stasiun Duri, pindah ke KRL jurusan Duri-Tangerang.
  • Turun di Stasiun Tanah Tinggi.
  • Dari Stasiun Tanah Tinggi, detikers bisa jalan kaki 450 meter ke Pasar Induk Tanah Tinggi, kemudian naik angkot B07 dan turun di Warung Mangga 2, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Tanah Tinggi dengan jarak sekitar 10 km.

5. Dari Bogor/Depok

  • Jika berangkat dari arah Bogor/Depok, detikers bisa naik KRL Lintas Bogor jurusan Bogor-Jakarta Kota.
  • Turun di Stasiun Manggarai, pindah ke KRL arah Tanah Abang. Turun di Stasiun Tanah Abang.
  • Selanjutnya kalian bisa naik KRL jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung.
  • Turun di Stasiun Rawa Buntu.
  • Dari Stasiun Rawa Buntu, detikers keluar menuju halte Rawa Buntu untuk naik angkot B04 dan turun di Warung Mangga 1, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Rawa Buntu dengan jarak sekitar 13 km.

6. Dari Cikarang/Bekasi

  • Jika detikers berangkat dari arah Cikarang/Bekasi, maka naiklah KRL Lintas Cikarang jurusan Jatinegara-Manggarai, lanjutkan hingga Tanah Abang.
    Turu
  • n di Stasiun Tanah Abang, lanjutkan dengan naik KRL jurusan Tanah Abang-Rangkasbitung.
  • Turun di Stasiun Rawa Buntu.
  • Dari Stasiun Rawa Buntu, detikers keluar menuju halte Rawa Buntu untuk naik angkot B04 dan turun di Warung Mangga 1, kemudian naiklah ojek dengan jarak sekitar 2 km.
  • Jika tak ingin naik angkot, detikers bisa langsung naik ojek dari Stasiun Rawa Buntu dengan jarak sekitar 13 km.

Nah, itulah tadi cara ke Mall Alam Sutera dengan transportasi umum KRL. Jangan segan bertanya kepada petugas KRL mengenai rute kalian untuk memastikan kalian tidak salah jalan.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com