Tag Archives: sukabumi

Surga Kuliner Murah dan Pesta UMKM



Depok

Lebaran Depok bukan cuma soal tradisi tetapi juga surga kuliner murah meriah yang ditunggu warga tiap tahun. Ratusan UMKM tumpah ruah di Alun-alun Timur GDC, jadi motor penggerak ekonomi lokal dalam satu festival rakyat yang penuh cita rasa.

Berbagai macam UMKM ditawarkan, mulai dari jajanan, makanan berat, minuman sampai fesyen. Yang paling menonjol adalah yang Betawi banget, di antaranya dodol dan kerak telor.

Ya, Lebaran Depok memang menjadi arena untuk melestarikan kekhasan Betawi Depok.


Wali Kota Supian Suri di Lebaran Depok 2025Wali Kota Supian Suri di Lebaran Depok 2025 (Rifkianto Nugroho)

Wali Kota Supian Suri mengatakan bahwa pemkot telah melakukan pendataan pada perajin atau orang-orang yang masih melestarikan makanan khas Depok, termasuk dodol Betawi. Ia mengaku telah memberikan support kepada mereka dalam sisi pemasaran.

“Juga, kita akan men-support orang-orang yang selama ini belum perhatian terhadap ini untuk juga perhatian terhadap makanan-makanan yang memang menjadi kekhasan kita,” kata Supian pada Kamis (15/5).

Dodol adalah produk yang memiliki biaya produksi mahal tapi tidak mudah dipasarkan, katanya.

“Makanya kita pemerintah harus hadir di sana dan insya Allah mudah-mudahan dengan kehadiran kita pemerintah mendorong UMKM bisa tumbuh sehingga kita bisa dua hal kita dapatkan,” ujar dia.

Menyinggung programnya, UMKM Naik Kelas, Supian akan memberikan support sesuai kebutuhan UMKM, seperti pemasarann, packaging, atau di perizinannya.

“Ini yang kita coba dorong untuk kita bisa, prinsipnya event-event seperti ini menjadi ajang mereka menunjukkan produksi-produksinya,” kata dia.

Sebagai putra Betawi Depok, Supian menunjukkan kebolehannya untuk mengaduk dodol dalam wajan kayu besar di dalam booth UMKM Haji Satibi. Dia mengatakan bahwa pekerjaan itu memang butuh keahlian khusus.

Wali Kota Depok Supian Suri di Lebaran Depok 2025Wali Kota Depok Supian Suri di Lebaran Depok 2025 (Rifkianto Nugroho)

Haji Satibi mengaku sangat senang dengan kunjungan wali kota. Ia tak pernah ketinggalan untuk muncul tiap tahun di Lebaran Depok.

“Omzetnya terbilang bagus, ngangkat budaya lokal,” kata pria berusia 53 tahun itu.

Dodol yang paling laris adalah rasa original dan wijen. Yang kecil dibandrol dengan harga Rp 20 ribu, dan besar Rp 35 ribu. Biasanya, dagangannya laku keras di hari terakhir. Digelar Sabtu, pengunjung ramai dari pagi hingga malam.

“Tahun kemarin tembus 35 juta di satu titik,” kata dia.

Haji Satibi menambahkan informasi bahwa dia membuka lebih dari satu booth di Lebaran Depok itu.

Yang suka ngemil, mungkin bisa mampir ke Dimsun Kuy milik Ibu Deva (25). Meski dalam keadaan mengandung, ia tetap melayani pembeli dengan sumringah.

Lebaran Depok 2025Lebaran Depok 2025 (Rifkianto Nugroho)

“Tiap tahun ikut, sama kaya tahun kemarin ramenya di weekend,” kata dia.

Dimsum seharga Rp 20 ribu itu ramai peminat saat cuaca bersahabat. Tapi di kala hujan, Deva mengaku sangat sedih karena sepi.

“Kalau weekend biasanya sampai tembuh di atas Rp 1 juta,” katanya.

Jajanan seperti bakso goreng, crab, yakitori, pizza, tumpah ruah di sana. Tak perlu takut kehabisan, ada sekitar 250 UMKM yang berjualan di sana dengan harga yang dijamin murah meriah. Apalagi makanan-makanan berkuah panas seperti soto, bakso, dan mie kocok.

Lebaran Depok 2025Lebaran Depok 2025 (Rifkianto Nugroho)

Mie Kocok Geulis berada di booth bagian depan, dekat jembatan. Ibu Fitri, yang menjaga lapak, mengaku bahwa pagi adalah waktu yang paling ramai selain weekend.

“Kalau ramai tembuslah Rp 2 juta,” jawabnya sambil menyiapkan semangkuk mie kocok khas Sukabumi yang menggugah selera di saat hujan.

Dengan harga Rp 25 ribu, pengunjung sudah bisa menikmati kuah panas gurih dengan campuran mie, tulang rangu, bakso dan sayuran. Meja makannya pun disediakan di dalam booth, jadi jangan khawatir soal panas atau hujan.

Ibu Fitri datang dengan anak dan cucu-cucunya. Cucunya yang bernama Aril (2), tampak gembira memegang balon dengan lampu LED. Meski belum lancar berbicara, ia menggut-manggut senang saat ditanya tentang perasaanya bermain di sana.

“Sering ke sini bawa cucu kalo weekend, senang dengan acara ini,” kata dia.

(bnl/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Review Jujur Keranjang Sultan yang Bikin Will Smith Penasaran



Sukabumi

Will Smith membuat warga +62 gempar dengan mengunggah video Suspension Bridge Situ Gunung. Buat traveler yang penasaran, ini review jujurnya!

Suspension Bridge berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Wisata tersebut viral usai aktor asal Amerika, Will Smith memposting ulang video saat wisatawan menaiki keranjang sultan di Situ Gunung.

“Where is this??,” tulis Will Smith melalui akun media sosial Instagram pribadinya.


detikJabar mencoba menjajal langsung Keranjang Sultan pada hari ini, Sabtu (6/4/2024). Perjalanan dimulai dari pusat Kota Sukabumi menuju arah utara ke Kecamatan Cisaat dan Kadudampit. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan umum atau pribadi baik itu kendaraan roda empat atau roda dua.

Di Situ Gunung terdapat beberapa paket wisata yang disebut jalur merah dan jalur hijau. Sementara itu, Keranjang Sultan dapat dinikmati bagi wisatawan yang mengambil jalur hijau.

Iyan warga Tangerang saat menjajal Keranjang Sultan di Situ Gunung SukabumiIyan warga Tangerang saat menjajal Keranjang Sultan di Situ Gunung Sukabumi Foto: Siti Fatimah

Sebelum bisa menaiki Keranjang Sultan, pengunjung melewati jembatan Lembah Purba. Jembatan itu memiliki panjang 414 meter dan diklaim sebagai yang terpanjang se-Asia lho!

Wisatawan dimanjakan dengan pemandangan alam khas pegunungan, pepohonan yang rimbun, udara yang segar dan sahutan suara burung. Selain memacu adrenalin, jika beruntung, pengunjung bisa melihat satwa liar yang dilindungi, salah satunya lutung Jawa.

Perjalanan kemudian dilanjut dengan menuruni tangga bebatuan mengarah ke Curug Sawer. Di tengah perjalanan, pengunjung akan disuguhi dengan pertunjukkan kesenian khas Sunda yaitu permainan musik suling dan karinding.

Sebelum tiba di Curug Sawer, pengunjung akan melewati beberapa fasilitas lain seperti Glamping Situ Gunung, area oleh-oleh dan food court. Setelah itu, perjalanan diakhiri dengan menaiki Keranjang Sultan.

Keranjang Sultan menjadi salah satu fasilitas untuk memotong jalan mengarah keluar area wisata. Pengelola menyiapkan kursi berbahan rotan untuk melintasi sungai sepanjang 153 meter.

Di sana sudah ada dua petugas yang membantu wisatawan untuk duduk dan memakaikan sabuk pengaman. Setidaknya ada delapan kursi Keranjang Sultan yang disiapkan pengelola.

Iyan Nur Yahya (52) pengunjung asal Tangerang mengaku sangat antusias untuk menaiki Keranjang Sultan. Ini kali pertama Iyan bersama keluarganya menaiki Keranjang Sultan.

“Jadi saya lagi liburan dari Tangerang ke Sukabumi. Kemungkinan ini naik Keranjang Sultan baru pertama kali tapi kalau sekitaran Ciwidey, Rengganis pernah cuma ini yang paling pertama ke sukabumi sekalian saya ajak keluarga, suami-istri sama ponakan sekitar 18 orang, semoga senang semua,” kata Iyan.

Sejak muda, Iyan memang menyukai wisata alam. Dia mengaku ingin menguji adrenalin dengan melewati jembatan dan naik Keranjang Sultan.

“Nggak ada (takut atau gugup) makanya pengen coba uji adrenalin. Seru, kebetulan saya suka di alam ke daerah-daerah pegunungan. Harga tiketnya memadai, terjangkau. Semoga di hari lebaran tidak ada kenaikan, semua keluarga bisa main lagi semua, kebetulan saya ambil yang hijau,” tutupnya.

***

Baca artikel selanjutnya di sini.

(bnl/bnl)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Bangunan Bersejarah di Sukabumi, Saksi Bisu Kisah Tragis Sang Notaris



Sukabumi

Ada sebuah bangunan bersejarah bergaya Indische Empire di Sukabumi. Yang tak banyak orang tahu, bangunan itu saksi bisu kisah tragis seorang notaris Belanda.

Notaris berkebangsaan Belanda itu bernama Hendrik (Harry) Schotel. Schotel tinggal di rumah itu pada era tahun 1920-an. Awalnya, dia membuka kantor di Batavia dan pindah ke Sukabumi menggantikan notaris sebelumnya H. Tollens.

Di rumah tersebut, Schotel melakukan kegiatan kenotarisan. Mulai dari aktivitas jual beli tanah, ubah kepemilikan tanah, bangunan hingga membuat akta kelahiran.


Salah satu karyanya yang tercatat dalam sejarah yaitu saat pengurusan tanah perkebunan teh dari perbatasan Cianjur hingga Bogor. ada masa Pemerintahan Hindia Belanda, Sukabumi memang ditinggali para pengusaha perkebunan yang sering berurusan dengan hak guna usaha.

“Belum lagi dokumen-dokumen hukum dari kaki Gunung Gede hingga pantai Palabuhanratu. Urusan pertanahan penduduk biasa hingga instansi pemerintahan, semua diurus oleh beliau di rumah ini,” ujar Ketua Yayasan Dapuran Kipahare Irman Firmansyah, beberapa waktu lalu.

Puncak karir sang notaris dimulai saat ia aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Ia terjun ke dunia olahraga sepak bola dan menjadi Ketua Kehormatan saat bertanding dengan tim dari kota lain.

Schotel juga pernah menjadi Presiden Asosiasi Indo Eropa (IEV) dan berkontribusi penting dalam bisnis perkebunan di Sukabumi. Keberhasilannya tak lepas dari kepiawaiannya merangkul para pengusaha dan juga para pejabat pemerintahan kala itu.

Peristiwa Tragis Dialami Keluarga Schotel

Di balik segala kesuksesannya, ternyata ada kisah menyayat hati yang dialami oleh keluarga Hendrik Schotel. Kehidupan Schotel berubah 180 derajat saat putrinya mengalami kecelakaan di Batavia pada Mei 1928 silam.

Saat itu, anak gadis Schotel bersama sopir dan ibunya berangkat ke Batavia dari Sukabumi dengan mobil Buick tujuh seat.

Sekitar pukul 14.00 WIB, mobil Buick itu melewati persimpangan Menteng-Nieuw Gondangdia, namun sang supir tak menyadari ada trem listrik melintas di depannya.

Saat melintasi rel trem, supir kaget dan mengerem mendadak. Akibatnya, trem menghantam bagian belakang mobil hingga terlempar dan menabrak tiang lampu lalu lintas. Kendaraan yang ditumpangi keluarga Schotel rusak parah di bagian depan dan belakang.

Schotel Sangat Terpukul dengan Kecelakaan Itu

Dalam kondisi terluka, keluarga Schotel dilarikan ke rumah sakit CBZ (sekarang RSCM). Sedangkan Schotel diberitahu mengenai kejadian itu melalui sambungan telpon. Schotel sangat terpukul dengan kejadian tersebut.

Dia mulai sakit-sakitan dan hanya terbaring di tempat tidur untuk waktu yang cukup lama. Hal ini menyebabkannya harus absen sebagai notaris hingga ia mengajukan cuti pada 29 November 1929.

Schotel pun tak sanggup menjalankan tugasnya sebagai notaris. Dia lalu diberhentikan sebagai notaris dan posisinya digantikan oleh A.W.F Bakker.

Hal ini membuat pihak keluarga harus menjual aset-asetnya untuk bertahan hidup. Situasi ini menjadi beban berat bagi keluarga Schotel.

Setahun kemudian, tepatnya 12 Juli 1932, Schotel meninggal dunia di usia 56 tahun. Pemakamannya dihadiri Asisten Residen Sukabumi dan Wali Kota Sukabumi, kemudian perwakilan I.EV Camoenie, dan Durr perwakilan dari I.K.P.

“Beliau meninggal karena kesedihan anaknya kecelakaan di Jakarta di Gondangdia, makanya orang bilang ini spooky house atau agak berhantu, tapi so far sih tidak ada masalah cuma memang orang banyak penasaran dengan gedung ini,” kata Irman.

Bangunan rumah Schotel yang berada di Jalan Bhayangkara nomor 219, Kota Sukabumi masih berdiri dengan kokoh dan bisa dilihat wisatawan. Namanya kini berubah jadi Wisma Wisnu Wardhani dan Setukpa Lemdiklat Polri.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Rumah Tahanan Bung Hatta di Sukabumi Resmi Jadi Cagar Budaya



Sukabumi

Rumah dimana Bung Hatta dan Sutan Sjahrir pernah ditahan di Sukabumi resmi berstatus menjadi Cagar Budaya.

Status itu ditetapkan dalam Sidang Penetapan Objek Diduga Cagar Budaya menjadi Cagar Budaya Kota Sukabumi pada 5 Desember 2023 lalu.

Rumah tahanan Bung Hatta dan Sjahrir itu dibangun pada tahun 1926. Lokasinya berada di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi.


Bentuknya seperti layaknya rumah tua di zaman Belanda. Di depannya terdapat pohon besar menjulang tinggi yang menutupi bagian depan rumah.

Bangunan bergaya twin-house kolonial itu cukup unik. Dari luar terlihat seperti satu rumah. Namun ternyata, di dalamnya terdapat dinding pemisah yang bisa ditempati oleh dua keluarga berbeda.

Rumah itu dibagi dua dengan penyekat permanen dari tembok. Deretan dapur yang berada di belakang rumah menjadi penghubung dua bagian rumah itu.

Masing-masing bagian yang dipisahkan oleh sekat itu ditempati oleh Hatta dan Sjahrir. Sjahrir tinggal di rumah tahanan bersama ketiga anak angkatnya yaitu Lila, Mimi dan Ali dari Banda Neira.

Bung Hatta dan Sutan Sjahrir menempati rumah tahanan tersebut mulai dari 3 Februari 1942 hingga 22 Maret 1942. Meski singkat, banyak pergerakan yang lahir saat keduanya menempati rumah tahanan tersebut.

Sebelum menjadi rumah tahanan Hatta dan Sjahrir, rumah itu merupakan rumah dinas inspektur Belanda. Pada masanya rumah tersebut berada di paling ujung kompleks

Jalan tersebut kemudian menjadi jalan utama yang disebut Dr. Vogelweg, yang saat ini berubah namanya menjadi Jalan Bhayangkara.

Rumah Tahanan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di SukabumiRumah Tahanan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar

Rumah Tahanan Bung Hatta-Sjahrir Bakal Jadi Tempat Wisata

Ke depan, pihak Pemkot Sukabumi akan menjadikan rumah tahanan (rutan) Bung Hatta dan Sjahrir menjadi objek wisata sejarah. Selain menjadi edukasi bagi warga masyarakat, pemanfaatan cagar budaya menjadi objek wisata juga dapat menumbuhkan perekonomian Kota Sukabumi.

“Harus (jadi objek wisata). Kita akan coba pemanfaatan BMD (Barang Milik Daerah) ini. Seyogyanya ada inovasi agar mempermudah untuk mendapatkan sumber pendapatan yang sah terutama nanti mungkin kunjungan-kunjungan ke Kota Sukabumi semakin tambah banyak karena spesifik ada cagar budaya yang sangat luar biasa,” ujar Penjabat Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Letak Pulau Kunti di Jawa Barat yang Tak Boleh Dikunjungi Turis


Jakarta

Pulau Kunti adalah dataran kecil di kawasan Geopark Ciletuh, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Nama pulau ini diambil dari sosok setan asli Indonesia kuntilanak.

Sebutan kunti berasal dari suara tawa perempuan yang kerap terdengar di pulau. Lantas, benarkah suara tersebut berasal dari makhluk halus? Apakah pulau ini boleh dimasuki manusia?

Lokasi Pulau Kunti dan Asalnya

Kawasan Pulau Kunti terletak di semenanjung Hutan Suaka Margasatwa Cikepuh atau Cagar Alam Cibanteng. Bagi warga sekitar di Kampung Palampang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas, suara tawa kunti di pulau tersebut adalah misteri.


Namun asal suara tawa Pulau Kunti bisa dijelaskan secara ilmiah. Fenomena ini berasal dari air laut di sekitar pulau saat pasang. Gelombang air laut ini menghantam komplek batuan di sebelah pulau.

Hantaman tersebut menimbulkan suara mirip tawa, yang bergema hingga terdengar masyarakat. Komplek batuan ini terdiri dari batu konglomerat atau melan, yang dihasilkan dari lava jutaan tahun lampau.

“Batuan itu berbentuk mirip dam namun berongga. Ketika ada gelombang menghantam, suara dentuman itu bergema mirip suara kuntilanak,” kata Geo Ranger Ciletuh Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGG) Saman.

Nama yang seram kontra dengan daya tarik dan eksotisme Pulau Kunti. Kawasan cagar alam ini dihuni berbagai jenis hewan, misal rusa dan elang Jawa, plus pantainya yang indah.

Kenapa Dilarang untuk Turis?

Pulau Kunti dilarang untuk dimasuki masyarakat umum mulai tahun 2024. Sebelumnya, kawasan ini bisa dikunjungi wisatawan hingga berkembang menjadi sumber perekonomian.

Kepala Resor (Lares) Cikepuh Iwan Setiawan mengatakan, sebenarnya dari dulu tidak boleh ada kegiatan apapun di kawasan pulau Kunti. Namun, sejak menjadi salah satu kawasan CPUGG, banyak kegiatan yang digelar di kawasan ini.

Kawasan Pulau Kunti merupakan konservasi cagar alam. Sehingga pelarangan aktivitas manusia menjadi harga mati. Aktivitas apapun dikatakan ilegal, karena berisiko mengganggu fungsi kawasan sebagai penyangga keseimbangan alam.

Kebijakan tersebut juga mempertimbangkan dampak status geopark yang disandang Ciletuh. Pada akhir 2024 nanti, tim asesor UNESCO akan merevalidasi kawasan. Jika kawasan konservasi semrawut dan kumuh, nilai geopark bisa turun.

“Itu yang dikhawatirkan, masa kawasan konservasi yang notabene intinya geopark seperti itu? Tim asesor nanti saya yakin akan mencoret status konservasi. Saya tegaskan dalam kawasan Konservasi Cibanteng dan SM Cikepuh tidak boleh ada aktivitas apapun, kecuali penelitian dan pendidikan,” kata Saman.

Wisatawan yang datang hanya bisa menyaksikan Pulau Kunti dari perahu wisata, tanpa boleh memasuki kawasannya. Di kawasan juga tidak disediakan fasilitas untuk pengunjung. Kebijakan ini mirip aturan geopark yang diterapkan pemerintahan Korea.

Dengan aturan ini, pengunjung Pulau Kunti dapat mempertimbangkan ulang tujuan wisatanya. Dengan kekurangan dan kelebihannya, wisatawan Pulau Kunti wajib tetap menghormati serta taat pada aturan geopark.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Sisa-sisa Peradaban Sunda Kuno yang Ditemukan Belanda di Sukabumi



Sukabumi

Sisa-sisa peradaban Sunda Kuno ternyata ditemukan oleh orang Belanda di Sukabumi. Bagaimana kisah penemuannya?

Lokasi penemuan peradaban Sunda masa lampau itu berada di Kampung Salak Datar, Desa Cimaja, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Lokasinya berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Dari hasil penelusuran sejarah, area itu pertama kali ditemukan oleh seorang peneliti Belanda bernama Hasskarl di tahun 1842.


“Lokasi Salak Datar pertama kali dilaporkan oleh Hasskarl tahun 1842. la melaporkan adanya bangunan Punden berundak di Salak Datar. Penelitian lebih lanjut terhadap Megalit Salak Datar tercatat adanya susunan batu di tengah sawah terdiri dari monolit berhias dakon, sejumlah menhir, dan batu datar,” kata Eldi, Tim Ahli Cagar Budaya (TACG) Kabupaten Sukabumi.

Penelitian Hasskarl kemudian berlanjut, sejumlah peneliti asal Belanda kembali mendalami situs tinggalan budaya tersebut.

Bahkan hingga kini, sejumlah peneliti dengan berbagai latar belakang dan berasal dari berbagai negara masih rajin mendatangi lokasi tersebut.

“Penelitian dilanjutkan oleh Vordeman (1885), N.J. Krom (1914), Puslit Arkenas (1977), dan beberapa peneliti lain baik dari peneliti asing, pemerintah, swasta, dan univeritas yang dilakukan di Lokasi Salak Datar hingga saat ini. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, lokasi Salak Datar merupakan lokasi dengan ciri tradisi Megalitik. Tradisi ini berkembang pada Masa Prasejarah Periode Perundagian, yaitu sekitar awal tarikh masehi,” beber Eldi.

Sejak September 2023 kawasan itupun ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya dan keberadaannya dilindungi oleh Undang-undang.

Secara fungsi, Eldi merinci berbagai temuan di kawasan itu, setiap situs bebatuan memiliki arti dan fungsi yang memang mirip dengan situs tetinggal di masa lampau lainnya.

“Lokasi Salak Datar difungsikan sebagai tempat ritual pengagungan arwah leluhur pada masa lalu. Hal itu dibuktikan dengan tinggalan-tinggalan megalitik yang tersebar di lokasi. Seperti ditemukannya menhir dan batu datar menyerupai lantai yang saling berkaitan, dimana pada masa lalu dipergunakan untuk tempat pertemuan atau pengagungan terhadap arwah leluhur, itu catatan ahli cagar budaya dari lokasi,” ungkap Eldi.

“Letak Lokasi Salak Datar juga dekat dengan sumber air, berjarak sekitar 4 meter. Air merupakan komponen penting dalam tradisi megalitik, karena fungsi air digunakan sebagai kegiatan bersuci untuk mendukung upacara ritual pemujaan dalam tradisi megalitik,” sambungnya.

Situs Salak Datar di Desa Cimaja, lokasinya tersembunyi diantara permukman warga dan area perbukitan kawasan TNG Halimun-SalakSitus Salak Datar di Desa Cimaja, Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Nurdin Maulana (48), juru kunci Situs Salak Datar mengatakan ia meneruskan almarhum ayahnya Abah Kosih (72) yang juga juga kunci kawasan tersebut

“Saya meneruskan almarhum ayah saya, sejak beliau meninggal dunia 10 bulan silam. Saya menjalankan amanat atau wasiat dari almarhum untuk menjadi juru kunci di sini,” kata Nurdin.

Nurdin mengatakan peninggalan Situs Salak Datar berasal sejak zaman Sunda Wiwitan, lokasi itu kerap ramai pengunjung ketika memasuki bulan (kalender jawa) Muharam, Sapar dan Mulud.

“Biasanya yang datang ke sini tujuannya ziarah, silatuurahmi menelusuri jejak sesepuh dahulu. Muharam, Sapar dan Mulud di bulan biasa juga suka aja ada yang datang kadang satu orang dua orang seminggu,” kata Nurdin.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

12 Gunung di Indonesia yang Cocok untuk Pendaki Pemula


Jakarta

Bagi pendaki pemula, disarankan memilih gunung dengan jalur pendakian aman. Selain itu, lingkungan dan jalur pendakian sudah umum diketahui para pendaki.

Persiapkan pula fisik dengan baik dan cari tahu juga sebanyak-banyaknya tentang info gunung yang hendak didaki. Misalnya kondisi cuaca untuk mengantisipasi hal buruk terjadi.

Kalau sedang cari info gunung di Indonesia untuk pendaki pemula, bisa simak uraian di bawah ini ya.


Gunung di Indonesia untuk Pendaki Pemula

Ada sejumlah gunung di Indonesia yang cocok untuk pendaki pemula. Berdasarkan catatan detikcom, berikut rekomendasinya:

1. Gunung Gede-Pangrango (Jawa Barat)

Gunung Gede PangrangoGunung Gede Pangrango Foto: Syahril Anwar/d’Traveler

Gunung Gede-Pangrango jadi salah satu gunung favorit di Jawa Barat untuk mendaki. Lokasinya terletak di tiga kabupaten, yakni Bogor, Sukabumi, dan Cianjur dengan ketinggian 2.958 mdpl.

Jalur Cibodas merupakan trek yang paling sering dilewati dan cocok untuk pendaki pemula. Treknya landai dan pemandangan yang disajikan begitu mempesona. Di sepanjang jalan, traveler bakal menemukan sejumlah spot seperti Telaga Biru, air terjun, serta air panas.

Nantinya, pendaki juga bisa menemukan padang bunga edelweis di Alun-alun Surya Kencana, Gunung Gede atau di Lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango.

2. Gunung Bromo (Jawa Timur)

Sejumlah wisatawan menyaksikan matahari terbit di Penanjakan Satu Bromo, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (13/6/2024). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur (Jatim) menargetkan mampu menggerakkan 324,8 juta wisatawan ke Jatim sepanjang tahun 2024 dengan perputaran transaksi hingga Rp400 triliun. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/rwa.Sejumlah wisatawan menyaksikan matahari terbit di Penanjakan Satu Bromo, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (13/6/2024). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur (Jatim) menargetkan mampu menggerakkan 324,8 juta wisatawan ke Jatim sepanjang tahun 2024 dengan perputaran transaksi hingga Rp400 triliun. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/rwa. Foto: ANTARA FOTO/AHMAD asSUBAIDI

Traveler pasti sudah tak asing dengan Gunung Bromo. Gunung yang masih aktif ini dapat dengan mudah ditaklukkan oleh pendaki pemula. Treknya tidak terlalu curam bahkan bisa dilalui oleh kendaraan, seperti mobil jeep maupun sepeda motor.

Walau tidak begitu sulit untuk didaki, pendaki harus menaiki ratusan anak tangga untuk sampai di puncak. Barulah di sama traveler dapat menyaksikan panorama Gunung Bromo dan area sekelilingnya, serta menemukan Kawah Bromo yang aktif.

Selain dijadikan tempat mendaki, gunung ini merupakan tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi. Lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Di sekelilingnya terdapat sejumlah spot yang juga bisa didatangi, seperti Bukit Teletubbies, Bukit Mentigen, Pasir Berbisik, hingga Pura Luhur Poten.

3. Gunung Prau (Jawa Tengah)

Suasana di kawasan puncak Gunung Prau, Wonosobo.Suasana di kawasan puncak Gunung Prau, Wonosobo. Foto: Uje Hartono/detikJateng

Dengan ketinggian sekitar 2.590 mdpl, Gunung Prau termasuk gunung di Jawa Tengah yang ramah bagi pendaki pemula. Akses dan medan yang landai dan kebanyakan terdiri dari tanah berundak membuatnya tidak sulit untuk didaki.

Jalur Patak Banteng bahkan punya rute pendakian yang lebih singkat karena lebih dekat dengan puncak. Untuk pendaki pemula yang kehabisan tenaga juga bisa menyewa ojek yang tersedia.

Selain jalur pendakiannya yang terbilang mudah, Gunung Prau jadi favorit pendaki lantaran disebut-disebut memiliki pesona matahari terbit terbaik se-Asia Tenggara.

4. Gunung Kelimutu (Nusa Tenggara Timur)

Gunung Kelimutu terletak di Flores, NTT, punya 3 danau yang bisa berubah warna. Di puncak, wisatawan juga bisa menikmati kopi sembari menyaksikan keindahan danau yang aduhai.Gunung Kelimutu dan danau tiga warna. Foto: Budi Sugiharto

Gunung Kelimutu di Flores punya ketinggian sekitar 1.639 mdpl. Dengan ketinggiannya itu, gunung ini juga punya trek yang mudah dilewati oleh pendaki pemula.

Di puncak Gunung Kelimutu terdapat tiga danau atau kawah yang warnanya bisa berubah-ubah. Karena itu, terkenal dengan nama Danau Tiga Warna. Keindahan danau ini sudah tersohor di dalam maupun ke luar negeri lho.

Untuk menuju puncak, traveler dapat mengambil jalur Ende dan menuju Desa Moni di lereng gunung. Mulai desa tersebut, ekspedisi mendaki Gunung Kelimutu dapat dimulai.

5. Gunung Papandayan (Jawa Barat)

gunungGunung Papandayan. Foto: (Basri Bachtiar/d’Traveler)

Gunung Papandayan yang terletak di Garut, memiliki ketinggian 2.665 mdpl. Medannya yang cenderung landai juga jadi alasan gunung ini populer di kalangan pendaki pemula.

Selain itu, pendaki bakal terhipnotis oleh hamparan alam yang disajikan Gunung Papandayan. Sejumlah kawah vulkanik, hutan pegunungan, hingga padang edelweis akan memanjakan mata selama perjalanan menuju puncaknya.

6. Gunung Andong (Jawa Tengah)

Asap memutih di Gunung Andong di wilayah Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang yang dilaporkan terbakar, Rabu (8/11/2023).Gunung Andong. Foto: Dok Kasi Trantib Kecamatan Ngablak

Berada di Kabupaten Magelang, digemari pemula lantaran treknya yang tidak terjal dan waktu tempuhnya yang cenderung singkat. Meski begitu, panorama alam yang disuguhkan nggak kaleng-kaleng nih.

Gunung Andong punya empat puncak, yaitu Puncak Makam, Jiwa, Andong, dan Alap-alap. Dari puncaknya ini, pendaki dapat menyaksikan pemandangan deretan gunung lain seperti Merapi, Merbabu, Sindoro, hingga Telomoyo. Jajaran perbukitan dan hamparan lahan pertanian yang memukau juga dapat terlihat.

Untuk naik ke puncak, pendaki bisa menempuh beberapa jalur yakni dari selatan (Jogja, Ketep Magelang, dan Purworejo), dari utara (Semarang, Salatiga, Ungaran, Boyolali, dan Solo), serta dari barat (Grabag, Wonosobo, Secang, Temanggung, dan Parakan).

7. Gunung Batur (Bali)

Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. (Agus Eka)Gunung Batur. Foto: Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. (Agus Eka)

Di Pulau Bali juga ada gunung yang cocok bagi pendaki pemula, yakni Gunung Batur. Pendakian di gunung ini memiliki jarak dan waktu tempuh yang tidak terlalu lama.

Untuk menuju puncak, rute Toya Bungkah dapat dipilih karena jalurnya tergolong mudah dilalui dan tidak terlalu terjal. Di jalur ini juga terdapat beberapa titik terbaik untuk menikmati pemandangan matahari terbit yang memanjakan mata.

8. Gunung Burangrang (Jawa Barat)

Gunung Burangrang ramah untuk para pendaki pemula meski tidak terlalu populer. Lokasinya berada Kabupaten Bandung Barat dan Purwakarta, serta masih satu rangkaian dengan Gunung Tangkuban Parahu.

Jalur pendakian ke puncaknya bisa ambil via Legok Haji. Treknya cukup landai dan ada di beberapa titik ada spot yang sedikit curam. Walau begitu, jalur ini adalah yang tercepat. Puncak Gunung Burangrang dapat dijangkau dalam waktu 3-4 jam saja, tergantung kondisi masing-masing.

9. Gunung Ijen (Jawa Timur)

Gunung Ijen termasuk gunung di Jawa Timur yang jadi favorit para pendaki, termasuk pemula. Gunung ini memiliki medan yang tidak terlalu sulit. Jalur lintasannya cukup lebar, tidak terlalu curam, mudah dipijak, serta terdapat banyak tempat istirahat.

Selain itu, Gunung Ijen memiliki daya tarik yang tak dimiliki gunung lainnya lho. Di Kawah Ijen terdapat fenomena blue fire yang hanya terletak di dua lokasi saja di dunia. Fenomena alam ini bisa disaksikan dengan mata telanjang sekitar pukul 01.00-04.00 pagi.

Fenomena blue fire terjadi ketika zat belerang bersentuhan dengan panas ekstrem yang muncul dari celah gunung berapi. Dari situ, terbentuklah api biru menawan yang menyala.

10. Gunung Sibayak (Sumatera Utara)

Gunung Sibayak di Karo memiliki ketinggian kisaran 2.172 mdpl. Gunung ini termasuk yang ramah pemula dengan jalurnya yang sudah cukup jelas dan treknya yang tidak terlalu terjal. Di sisi lain, waktu tempuhnya pun cukup singkat sekitar 2-3 jam saja tergantung kondisi fisik.

Kalau tertarik mendaki tipis-tipis di gunung ini, bisa ambil jalur Desa Jaranguda yang paling sering dilalui wisatawan atau jalur Desa Semangat Gunung yang diklaim paling mudah tapi letaknya agak jauh dari pusat kota.

11. Gunung Sindoro

Ada lagi gunung di Jawa Tengah yang cocok untuk pendaki pemula, yakni Gunung Sindoro di Kabupaten Wonosobo. Gunung ini menyajikan pemandangan yang memukau saat matahari terbit maupun terbenam.

Jalur Kledung menjadi jalur yang populer dipilih karena berada dekat dengan jalan provinsi. Selain itu, rute ini memiliki petunjuk jalan yang jelas yang menuntut sampai ke puncak. Terdapat pula banyak pos yang dapat menjadi acuan sehingga memudahkan para pendaki.

12. Gunung Tanggamus (Lampung)

Gunung Tanggamus termasuk gunung di Lampung yang sering didaki oleh komunitas pencinta alam. Panorama alam yang ditawarkan begitu indah. Pendaki dapat menyaksikan kabut putih tebal yang menutup lembah di pagi dan sore hari.

Gunung yang terletak di Kabupaten Tanggamus ini tergolong ramah bagi pendaki pemula. Puncaknya yang berada di 2.101 mdpl dapat dijangkau lewat jalur pendakian yang sudah jelas dan trek yang landai.

Nah, itu tadi sederet gunung di Indonesia yang cocok untuk pendaki pemula. So, traveler tertarik mendaki gunung yang mana nih?

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Mau Liburan ke Gunung Mas Puncak? Ini Rutenya dari Jakarta


Jakarta

Agrowisata Gunung Mas merupakan salah satu tempat wisata favorit yang ada di sekitar Kawasan Puncak, Bogor. Kebanyakan pengunjung yang datang pun berasal dari Jakarta.

Salah satu alasan kenapa banyak warga Jakarta yang datang ke Agrowisata Gunung Mas karena ingin liburan sambil healing. Lokasinya juga tidak begitu jauh dari Jakarta, sehingga objek wisata ini dipadati pengunjung terutama saat weekend dan musim liburan.

Bagi travelers yang tinggal di Jakarta dan ingin liburan bareng teman, keluarga, atau pasangan ke Agrowisata Gunung Mas, bisa banget kok! Cara paling mudah untuk bisa sampai ke tempat wisata ini adalah dengan mengendarai kendaraan pribadi.


Ingin tahu rute perjalanan dari Jakarta menuju Agrowisata Gunung Mas Puncak? Simak selengkapnya dalam artikel ini.

Rute Jakarta – Agrowisata Gunung Mas Puncak

Agrowisata Gunung Mas Puncak berlokasi di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ada sejumlah rute yang bisa ditempuh jika travelers ingin healing ke tempat wisata ini.

Misalnya kamu berangkat dari kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Jika mengendarai mobil, detikers bisa melalui Jalan Tol Dalam Kota, kemudian masuk ke Jalan Tol Jagorawi.

Setelah itu keluar di pintu tol menuju Taman Safari/Puncak/Bandung, kemudian lanjut melalui Jalan Raya Puncak – Cianjur hingga sampai di Agrowisata Gunung Mas Puncak. Waktu perjalanannya sekitar 1,5 jam.

Lain halnya jika mengendarai sepeda motor, ada dua opsi rute perjalanan yang bisa kamu pilih. Simak selengkapnya di bawah ini:

1. Via Jalan Raya Bogor

Dari Mampang Prapatan, detikers mengambil arah ke Jalan Raya Pasar Minggu, lalu masuk ke Jalan Margonda Raya, kemudian dilanjutkan ke Jalan Raya Jakarta – Bogor.

Setelah itu, travelers diarahkan menuju Jalan Sukaraja hingga sampai di Jalan Raya Pasir Angin. Sekitar 300 meter, detikers mengambil jalan menuju Jalan Raya Puncak – Cianjur dan terus saja hingga tiba di Agrowisata Gunung Mas Puncak. Waktu tempuh sekitar 2,5 jam perjalanan.

2. Via Jalan Raya Parung

Rute ini terbilang lebih jauh karena detikers melalui Parung dan Kota Bogor. Jadi, dari Mampang Prapatan ambil arah ke Jalan Pangeran Antasari, lalu Jalan TB Simatupang, kemudian belok ke Jalan R.A Kartini.

Setelah itu, ambil arah ke Jalan Raya Parung dan terus sampai memasuki Jalan Jakarta – Bogor. Setibanya di Kota Bogor, detikers ikuti jalan menuju Jalan Raya Pajajaran hingga Jalan Raya Bogor – Sukabumi.

Di ujung jalan travelers akan menemukan pertigaan, ambil ke arah kanan menuju Jalan Raya Puncak – Cianjur. Kemudian lurus terus mengikuti jalan hingga sampai di Agrowisata Gunung Mas. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam.

Harga Tiket Masuk Agrowisata Gunung Mas Puncak

Pengunjung yang datang ke Agrowisata Gunung Mas Puncak dikenakan tiket masuk sebesar Rp 15.500/orang saat weekday. Sementara saat akhir pekan tiket masuknya dibanderol Rp 20.000/orang.

Harga tiket tersebut belum termasuk tarif bermain di sejumlah wahana yang ada di Agrowisata Gunung Mas Puncak. Simak rincian harga tiket wahananya berikut ini:

  • Berkeliling kebun teh: Rp 10.000/orang.
  • Menaiki kuda: Rp 60.000/1 kilometer.
  • Rainbow slide: Rp 25.000/orang.
  • Flying fox: Rp 60.000/orang.
  • Berenang: Rp 10.000/orang.
  • ATV: Rp 160.000 (weekday) dan Rp 210.000 (weekend).

Untuk jam operasionalnya sendiri, Agrowisata Gunung Mas Puncak buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Disarankan datang sejak pagi hari agar bisa merasakan udara segar khas pegunungan sekaligus mencoba banyak wahana permainan karena belum ramai pengunjung.

Demikian penjelasan mengenai rute perjalanan dari Jakarta menuju Agrowisata Gunung Mas Puncak. Semoga dapat membantu travelers.

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

7 Gunung di Jawa Barat untuk Pendaki Pemula, Trek Landai-Panorama Cantik


Jakarta

Ada banyak gunung di Jawa Barat yang dapat traveler taklukan dengan pendakian. Beberapa di antaranya tergolong aman untuk pendaki pemula.

Gunung dengan medan pendakian landai dan tidak curam dapat dipilih pemula agar perjalanan tidak terlalu sulit. Gunung seperti ini juga cocok sebagai tempat pemanasan sebelum mendaki ke gunung yang lebih tinggi dengan trek menantang. Lantas, apa saja gunung di Jabar yang aman bagi pendaki pemula?

Daftar Gunung Ramah Pemula di Jawa Barat

Gunung di Jawa Barat meliputi, Gunung Gede-Pangrango, Burangrang, hingga Kerenceng bisa dicoba untuk pemula. Berikut ulasannya sebagaimana dirangkum dari catatan detikcom.


1. Gunung Gede

Kabut tipis masih menghiasi Surken udara terasa dinginKabut tipis masih menghiasi Alun-alun Suryakencana, Gunung Gede. Foto: detik

Gunung Gede terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Secara administratif, lokasi taman nasional ini masuk ke tiga kabupaten Jawa Barat yaitu Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.

Dengan ketinggian 2.958 mdpl, Gunung Gede jadi favorit pendaki pemula dengan treknya yang tidak curam dan panorama memukau yang disuguhkan di sepanjang jalurnya. Traveler bisa menemukan Telaga Biru dan air terjun.

Terdapat Alun-alun Suryakencana yang menandakan puncak Gunung Gede sudah dekat. Savana luas dengan taman edelweiss ini juga biasanya jadi lokasi kemah para pendaki.

2. Gunung Papandayan

Hutan mati gunung PapandayanHutan mati di Gunung Papandayan Foto: detik

Gunung yang berada di Garut ini menjulang setinggi 2.665 mdpl. Via jalur Cisurupan punya medan yang tidak terlalu sulit, jadi tergolong aman untuk pendaki pemula.

Sambil menyusuri Gunung Papandayan, traveler akan terkesima dengan keelokan panorama. Bakal ditemukan hutan mati, padang bunga abadi edelweis, sampai kawah dan pepohonan hijau.

Di balik keindahannya, Gunung Papandayan cukup aktif dan tercatat pernah beberapa kali erupsi. Setidaknya ribuan orang menjadi korban letusan dan terpaksa diungsikan ke tempat lebih aman.

3. Gunung Burangrang

gunungGunung Burangrang di Jawa Barat. Foto: (Bayu Krisna/d’Traveler)

Gunung Burangrang via Pangheotan memiliki trek cenderung ringan dan landai sehingga pendaki bisa menempuhnya dengan santai. Meski begitu, jalur yang dimulai dari Cikalong Wetan, Purwakarta ini kurang diminati karena membutuhkan waktu tempuh hingga lima jam.

Pemandangan alamnya yang asri begitu memanjakan mata. Ditambah saat sampai ke puncak gunung ini, traveler akan menyaksikan lanskap Kota Bandung dari ketinggian.

4. Gunung Pangrango

Lembah Mandalawangi seolah menyihir pendaki akan keindahan lanskapnya. Mandalawangi menjadi spot favorit Soe Hok Gie semasa hidupnya.Lembah Mandalawangi seolah menyihir pendaki akan keindahan lanskapnya. Mandalawangi menjadi spot favorit Soe Hok Gie semasa hidupnya. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Terletak bersebelahan dengan Gunung Gede dan masih masuk area TNGGP, gunung satu ini berdiri setinggi 3.019 mdpl. Dengan tingginya itu, Pangrango jadi gunung tertinggi kedua di Jawa Barat.

Traveler yang mendaki gunung ini akan melewati Lembah Mandalawangi sebelum mencapai puncak. Di sana tumbuh banyak bunga edelweis berukuran lebih besar dari biasanya. Lembah ini juga menjadi lokasi favorit Soe Hok Gie, aktivis sekaligus pencetus Mapala UI.

5. Gunung Guntur

Gunung Guntur Garut.Gunung Guntur Garut. Foto: Hakim Ghani

Gunung Guntur setinggi 2.249 mdpl di Garut termasuk ramah bagi pendaki pemula. Sepanjang treknya, lanskap elok dengan hamparan padang rumput dan ilalang bakal memanjakan mata traveler.

Sampai di puncak, pendaki akan menyaksikan panorama perkotaan dari ketinggian. Ditambah lampu kota Garut tampak memukau jelas saat malam hari.

Pada 19 Agustus lalu, Gunung Guntur mengalami kebakaran hebat di sekitar 230 hektare lahannya. Karena itu, traveler hendaknya tetap berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memantik percikan api.

6. Gunung Putri

Gunung Putri di Lembang, Jabar pas untuk liburan cuti bersamaGunung Putri di Lembang, Jawa Barat. Foto: Whisnu Pradana/detikTravel

Dengan ketinggian 1.587 mdpl, gunung yang berada di Lembang, Bandung ini aman bagi pemula dan waktu tempuhnya sekitar 30 menit saja. Gunung Putri juga cocok menjadi tempat pemanasan sebelum mendaki ke gunung yang lebih tinggi.

Sampai di puncak, traveler dapat mendirikan tenda di camping ground yang tersedia. Selama di sana, sunset dan sunrise mempesona bisa kamu saksikan. Bukan cuma itu, keindahan city light Bandung bakal melengkapi kegiatan kemahmu.

7. Gunung Kerenceng

Pesona Panorama 360 Derajat di Puncak Gunung Kerenceng SumedangPesona Panorama 360 Derajat di Puncak Gunung Kerenceng Sumedang Foto: Nur Azis/detikJabar

Dengan trek cenderung pendek yang bisa ditempuh sekitar 2,5 jam jadi alasan Gunung Kerenceng diminati pendaki pemula. Walau begitu, medannya terbilang menantang karena jurang di sisi kanan-kiri yang perlu dilalui untuk tiba di puncak.

Dari puncak setinggi 1.754 mdpl, traveler bakal melihat lanskap Kota Sumedang, Gunung Ciremai, Gunung Cikuray, serta kawasan Cadas Pangeran. Namun, pendaki perlu berhati-hati dan antre saat ramai, lantaran area puncaknya hanya cukup untuk kapasitas 10 orang.

Nah, itu tadi sederet gunung di Jawa Barat yang aman untuk pendaki pemula. Apakah traveler pernah mendaki salah satu gunung di atas?

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

10 Wisata Air Terjun Populer di Indonesia, Mana Favoritmu?


Jakarta

Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah menawarkan berbagai destinasi wisata alam yang memukau, salah satunya adalah air terjun.

Tak hanya menjadi tempat untuk menikmati keindahan alam, tapi air terjun di Indonesia juga menjadi daya tarik bagi pecinta petualangan dan wisata alam.

Air terjun menjadi destinasi yang pas untuk healing sejenak dari hiruk pikuk kota. Terdapat begitu banyak air terjun yang Indah tersebar di berbagai daerah. Banyak di antara wisata air terjun tersebut yang begitu populer dan disukai wisatawan.


10 Wisata Air Terjun Populer di Indonesia

Begitu banyak wisata air terjun yang populer di Indonesia. Berikut 10 di antaranya:

1. Air Terjun Sri Gethuk

Air terjun Sri Gethuk di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Yuk lihat.Air terjun Sri Gethuk di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Yuk lihat. (Agung Pambudhy/detikcom)

Air Terjun Sri Gethuk berada di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Keindahan alam di kawasan ini begitu mempesona, mulai dari aliran sungai, bebatuan, pepohonan, hingga tumbuhan.

Mengutip laman Kabupaten Gunung Kidul, untuk sampai ke air terjunnya, traveler perlu naik perahu karet atau gethek dan menyeberangi sungai sepanjang 450 meter. Air terjun ini mengalir dari atas sebuah tebing dengan ketinggian sekitar 50 meter.

  • Harga tiket: Rp 15.000
  • Lokasi: Dusun Menggoran, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.
  • Jam buka: 08.00-16.00 WIB

2. Air Terjun Tumpak Sewu

Air terjun Tumpak SewuAir terjun Tumpak Sewu (Syamsul Arifin/d’traveler)

Air Terjun Tumpak Sewu mempunyai pemandangan yang mirip seperti tirai raksasa. Menurut laman Kemenparekraf, ada banyak spot yang tersedia untuk melihat keindahan air terjun ini.

Menariknya, wisatawan bisa melihat keindahan air terjun dari atas. Sebelum itu, traveler perlu berjalan selama 10 menit dengan menaiki beberapa tangga. Jika beruntung, kamu bisa melihat Gunung Semeru di balik dinding Air Terjun Tumpak Sewu.

  • Harga Tiket masuk: Rp 10.000 per orang
  • Lokasi: Jalan Tumpak Sewu, Besukcukit, Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur
  • Jam buka: 07.00-17.00 WIB.

3. Air Terjun Grojogan Sewu

Taman Wisata Alam Grojogan Sewu.Taman Wisata Alam Grojogan Sewu. Foto: Pemprov Jawa Tengah via visitjawatengah.jatengprov.go.id

Air Terjun Grojogan Sewu merupakan bagian dari Hutan Wisata Grojogan Sewu. Dalam bahasa Jawa, grojogan berarti air, sementara sewu berarti seribu.

Air terjun ini memiliki ketinggian 81 meter dan di bawahnya ada sungai yang tak kalah indah. Salah satu lokasi menarik untuk mengambil foto di air terjun Grojogan Sewu adalah jembatan yang melintang di depannya.

  • Harga tiket masuk: Rp 22.000
  • Lokasi: Jl. Raya Tawangmangu, Beji, Tawangmangu, Kec. Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah
  • Jam buka: 08.00-16.00 WIB

4. Air Terjun Manuaba

Tak hanya pantai dengan pasir putihnya yang Indah, kawasan Bali juga memiliki air terjun yang menawan. Air terjun ini dikelilingi berbagai tanaman tropis yang tumbuh subur dan menyejukkan mata.

Airnya mengalir di antara celah tebing bebatuan dan jatuh ke kolam kecil alami di bawahnya. Mengutip laman Direktorat Event Daerah Kemenparekraf, masyarakat lokal percaya bahwa air terjun Manuaba bisa menyehatkan jiwa dan raga karena berasal dari Danau Batur.

  • Harga tiket masuk: Rp 5.000
  • Lokasi: Kenderan, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali
  • Jam buka: 08.00-17.00 WITA

5. Curug Cileat

Curug CileatCurug Cileat (Cah Jetak/d’travelers)

Menurut laman Pemerintah Daerah Kabupaten Subang, Curug Cileat berada di atas ketinggian 100 meter pada tebing-tebing tinggi di bawah kaki Gunung Canggah. Aliran air terjunnya begitu deras dengan hembusan angin yang menyejukkan. Curug ini juga dikelilingi hutan rimbun, sehingga memberi suasana asri dan menenangkan.

  • Harga tiket: Rp 15.000
  • Lokasi: Cibogo, Cupunagara, Gardusayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat
  • Jam buka: 24 jam

6. Air Terjun Situmurun

Sebuah kapal pesiar yang membawa wisatawan bersandar di dekat air terjun Situmurun, Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Kamis (23/2/2023). Air terjun dengan ketinggian sekitar 70 meter tersebut merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk menikmati Destinasi Super Prioritas (DSP) Indonesia di kawasan Danau Toba. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom.Air Terjun Situmurun (Risyal Hidayat/ANTARA FOTO)

Air Terjun Situmurun menjadi daya tarik untuk wisatawan yang berkunjung ke Toba. Uniknya, air terjun ini langsung turun dan mengalir ke Danau Toba.

Berada di dinding tebing Danau Toba, wisatawan bisa merasakan sensasi segar air terjun dengan ketinggian mencapai belasan meter ini.

  • Harga tiket: Gratis
  • Lokasi: Desa Situmurun, Lumban, Jalu, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara
  • Jam buka: 24 jam

7. Curug Cimahi

curugCurug Cimahi (Yudha Maulana/detikcom)

Curug Cimahi memiliki ketinggian mencapai 87 meter. Aliran air curug ini berasal dari sungai Cimahi yang juga mengaliri curug kainnya, seperti Curug Bugbrug.

Curug Cimahi dikenal juga sebagai Rainbow Waterfall. Ada cahaya vertikal yang memancar dari air terjun yang menarik dilihat saat malam hari. Sebuah lampu didesain sedemikian rupa hingga menghasilkan warna-warni pelangi.

  • Harga tiket: Rp 20.000
  • Lokasi: Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40551
  • Jam buka: 07.30-17.00 WIB

8. Curug Cilember

Curug CilemberCurug Cilember (Suyoto Achmadi/d’Traveler)

Curug Cilember berada di ketinggian sekitar 800-900 mdpl. Menurut laman Disbudpar Kabupaten Bogor, curug ini mempunyai tujuh air terjun di satu lokasi.

Air terjun di curug ini begitu jernih dengan udara yang sejuk. Ketinggian air terjunnya berbeda-beda, mulai dari 15 meter-50 meter. Curug kembar adalah yang tertinggi dengan ketinggian 50 meter.

Wisatawan domestik: Rp 25.000
Wisatawan mancanegara: Rp 75.000

  • Lokasi: Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung
  • Jam buka: 06.00-18.00 WIB

9. Curug Cikaso

Curug CikasoCurug Cikaso Foto: Taty Harlini/d’Traveler

Curug Cikaso memiliki 3 titik air terjun yang berdampingan dalam satu lokasi. Untuk sampai ke Curug Cikaso, traveler bisa memilih berjalan kaki atau naik perahu.

Kalau memilih naik perahu, kamu akan melihat gradasi warna sungai utama dengan sungai Curug Cikaso dari warna coklat menjadi hijau kebiruan. Setelah sampai ke Curug Cikaso, traveler bisa main air dan berenang.

Meski begitu, ada kawasan yang dilarang berenang. Beberapa areanya memiliki kedalaman lebih dari 10 meter dengan arus sungai yang kuat.

Wisatawan dewasa: Rp 12.000
Wisatawan anak-anak: Rp 7.000
Harga tiket naik perahu (pulang-pergi): Rp 65.000/perahu

  • Lokasi: Desa Ciniti, Cibitung, Sukabumi, Jawa Barat
  • Jam buka: 06.00-17.00 WIB

10. Air Terjun Haratai

Air terjun di KalimantanAir terjun Haratai di Kalimantan (linardyphotography/d’Traveler)

Air terjun Haratai berlokasi di pulau Kalimantan. Sebab lokasinya berada di tengah Pegunungan Meratus, traveler harus berjalan menyusuri hutan atau menggunakan jasa ojek sampai ke air terjun.

Namun, setelah sampai di lokasi, rasa lelah akan terbayarkan dengan keindahan air terjun setinggi 20 meter yang mengalir deras. Kamu bisa menyewa rakit bambu dan pelampung untuk mengeksplorasi perairan di sekitar air terjun.

  • Harga tiket: Rp 10.000
  • Biaya naik ojek: Rp 100.000 (pulang pergi)
  • Lokasi: Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan
  • Jam buka: 24 jam

Itulah sejumlah air terjun populer di Indonesia. Beberapa informasi mengenai harga tiket dan jam operasional wisata air terjun diambil dari instagram wisata dan situs travel agent. Sebelum melakukan perjalanan, jangan lupa untuk update informasi terkait wisata yang akan dituju ya.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com