Tag Archives: sukabumi

Terowongan Peninggalan Belanda yang Menyimpan Mitos di Sukabumi



Sukabumi

Masyarakat Sukabumi punya cerita tentang keberadaan terowongan bawah tanah peninggalan Belanda di kota itu. Terowongan tersebut dipercaya menyimpan mitos.

Beberapa orang percaya terowongan itu menyimpan misteri. Sementara yang lain, menganggapnya hanyalah sebuah saluran drainase biasa.

Namun, fakta sejarah mengungkap, apa yang sering disebut terowongan bawah tanah di Sukabumi sebenarnya adalah saluran air tertutup atau gorong-gorong yang dikenal sebagai duiker.


“Dalam pembangunan masa kolonial, terowongan (tunnel) dibangun dengan membobok bukit atau tanah untuk mendapatkan akses seperti pembangunan terowongan Lampegan. Di Kota Sukabumi belum pernah ada pembangunan terowongan yang dimaksud kecuali memanfaatkan saluran air yang ada seperti sungai atau selokan,” kata Irman Firmansyah, penulis buku Soekaboemi The Untold Story, belum lama ini.

Pada masa kolonial Belanda, pembangunan Kota Sukabumi didesain dengan memanfaatkan teknologi tata air yang canggih untuk masa itu.

Saluran-saluran air kecil, yang sebelumnya dibiarkan terbuka, mulai ditutup dengan duiker, sebuah konstruksi tembok yang memungkinkan air tetap mengalir di bawah tanah tanpa menghambat pembangunan di atasnya.

Sebagai contoh, saluran di sekitar alun-alun Kota Sukabumi dan Masjid Agung dibangun dengan konsep ini untuk memaksimalkan fungsi ruang kota.

Konsep drainase kota atau dikenal dengan sebutan rioleeringsplan, menjadi bagian integral dari perencanaan tata Kota Sukabumi.

Menurut peta kolonial, banyak sungai kecil dan selokan di Sukabumi yang kemudian diselaraskan dengan jalur gorong-gorong tertutup. Fakta ini membantah anggapan adanya terowongan bawah tanah dalam arti sebenarnya, seperti yang ditemukan di wilayah lain dengan topografi berbukit.

“Posisi sungai atau selokan dan jalur terowongan sama persis sehingga bisa dipastikan bahwa jalur tersebut bukanlah terowongan tetapi sungai kecil yang ditutup dengan duiker,” ujarnya.

Teknologi duiker tidak hanya digunakan untuk saluran air tetapi juga untuk membangun jembatan yang lebih efisien. Jembatan tua seperti yang ada di Leuwigoong dan Karangtengah, Cibadak, menjadi contoh bagaimana teknologi ini diterapkan sebelum jembatan berbahan besi mulai digunakan.

Salah satu konstruksi duiker tertua adalah Duiker Cisero Sukaraja yang dibangun sekitar tahun 1800, sebelum masa Daendels.

“Pasca pembentukan afdeling tercatat pembangunan duiker untuk drainase di area pasar Sukabumi (stasiun) dibangun pada tahun1881 dan di Jalan Ciaul tanggal 16 Maret 1888,” kata Irman.

Saat Sukabumi menjadi gemeente pada tahun 1914, perhatian terhadap drainase semakin meningkat. Pemerintah kolonial mengalokasikan anggaran khusus untuk pemeliharaan gorong-gorong dan saluran air.

Terowongan peninggalan Belanda di Sukabumi.Terowongan peninggalan Belanda di Sukabumi. Foto: Istimewa

Pada tahun 1915, misalnya, dana sebesar 713 gulden dialokasikan untuk pemeliharaan drainase di beberapa titik. Pada tahun 1929, anggaran sebesar 9.000 gulden kembali disiapkan untuk memperluas jaringan drainase, termasuk di sekitar perempatan ABC yang rawan banjir.

Selain berfungsi sebagai saluran pembuangan, gorong-gorong ini juga membantu mengatasi banjir di wilayah padat penduduk. Namun, pada masa awal pembangunannya, sebagian masyarakat masih memanfaatkan saluran air terbuka untuk kebutuhan sehari-hari. Beberapa dari saluran terbuka tersebut kemudian ditutup demi kebersihan dan efisiensi tata kota.

Seiring waktu, masalah baru mulai muncul. Sampah yang menumpuk di saluran tertutup dan pembangunan tanpa perencanaan matang menyebabkan banyak gorong-gorong menjadi mampet. Situasi ini memperparah banjir di beberapa wilayah, terutama di daerah padat penduduk seperti Kampung Tipar dan Bale Desa.

Pembangunan drainase juga menjadi bagian dari program Kampong Verbettering pada tahun 1939. Program ini bertujuan untuk memperbaiki lingkungan perkampungan dengan fokus pada pengelolaan drainase.

Pemerintah dan masyarakat bekerja sama dalam memelihara saluran air, meskipun tantangan tetap ada akibat kebiasaan buruk seperti pembuangan sampah sembarangan.

Kini, mitos tentang terowongan bawah tanah Belanda di Sukabumi terus menarik perhatian. Namun, memahami sejarah dan fungsi asli saluran air ini dapat membantu meluruskan persepsi masyarakat.

Sebagai warisan infrastruktur kolonial, duiker tetap menjadi bagian penting dari sejarah Sukabumi dan menunjukkan bagaimana teknologi masa lalu membantu membentuk tata kota yang kita kenal sekarang.

Kisah tentang duiker ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga infrastruktur warisan sejarah. Dengan perawatan yang baik dan kesadaran masyarakat, saluran air ini tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu tetapi juga tetap berfungsi untuk masa depan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Odeon Chinatown Sukabumi, Spot Wisata Kuliner Halal Bergaya Pecinan



Jakarta

Sukabumi tak hanya memiliki destinasi wisata alam. Kini, ada juga destinasi wisata kuliner tematik bergaya pecinan.

Adalah Odeon Chinatown Soekaboemi yang berlokasi di Ruko Danalaga Square, Jalan Pajagalan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong. Berkunjung ke sana traveler akan disuguhi pengalaman kuliner dengan nuansa khas kampung China.

Nuansa pecinan langsung terasa melalui ornamen khas seperti lampion dan dekorasi bernuansa Tionghoa. Suasana itu diperkuat dengan tampilan setiap gerai makanan dan minuman yang dihias dengan pernak-pernik oriental, menciptakan atmosfer yang berbeda dari tempat kuliner lainnya di Sukabumi.


Beragam pilihan kuliner tersedia di Odeon Chinatown, mulai dari makanan khas oriental seperti dimsum, kopi tiam, dan kimbab, hingga hidangan lokal dari berbagai daerah. Konsep tematik ini tidak hanya menghadirkan suasana unik, tetapi juga menawarkan menu yang terjangkau.

“Harga makanan di sini rata-rata mulai dari Rp15.000 hingga Rp25.000, sehingga ramah di kantong,” ujar Direktur PT Putra Sakti Sukamulya, Budiyanto Hukin Pramono, Sabtu (21/12/2024).

Odeon Chinatown Soekaboemi.Odeon Chinatown Soekaboemi. (Siti Fatimah/detikJabar)

Sebanyak 28 tenant kuliner di Odeon Chinatown Soekaboemi telah tersertifikasi halal. Mayoritas tenant berasal dari UMKM lokal yang kini memiliki tempat usaha permanen.

“Sebagian besar tenant adalah UMKM yang berkembang dari awalnya hanya berjualan di pinggir jalan. Dengan adanya tempat ini, mereka bisa naik kelas dan memperluas bisnisnya,” ujarnya.

Selain kuliner, fasilitas penunjang di Odeon Chinatown turut menjadi nilai tambah. Tersedia area parkir luas, toilet yang bersih, dan panggung untuk berbagai acara seperti live music atau senam jantung sehat.

“Kami juga membuka ruang bagi seniman lokal untuk tampil di panggung, sehingga mereka punya kesempatan menunjukkan karya mereka,” tambahnya.

Odeon Chinatown Soekaboemi.Odeon Chinatown Soekaboemi. (Siti Fatimah/detikJabar)

Penjabat Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji, mengapresiasi kehadiran Odeon Chinatown Soekaboemi sebagai salah satu ikon wisata kuliner di kota ini. Ia menyebutkan bahwa tempat ini tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga mendukung perekonomian lokal melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan UMKM.

“Kami berharap tempat ini menjadi daya tarik baru yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Sukabumi. Dengan 28 tenant yang aktif, peluang ekonomi bagi masyarakat semakin terbuka,” ungkap Kusmana.

Pemkot Sukabumi juga berkomitmen memberikan pendampingan kepada pelaku usaha kuliner agar mereka dapat terus berkembang. “Kami akan melakukan pelatihan dan promosi secara teknis untuk mendukung keberlanjutan usaha para tenant di sini. Kolaborasi dengan stakeholder juga sangat penting,” jelasnya.

Salah satu pengunjung, Annisa (19), warga Cisaat, mengaku terkesan dengan suasana tempat ini. “Awalnya tahu dari Instagram. Pas datang, suasananya nyaman dan teduh. Dekorasi Chinese-nya jadi nilai tambah,” ujar Annisa.

____________

Baca artikel selengkapnya di detikJabar

(wkn/wkn)



Sumber : travel.detik.com

Kemping Sambil Menanam Kopi di Sukabumi



Sukabumi

Traveler yang mau menghabiskan libur Natal dan Tahun Baru bisa meluncur ke Sukabumi. Kalian bisa kemping sambil menanam kopi di tempat ini.

Goalpara Estate Camp di Sukabumi menawarkan pengalaman camping yang berbeda. Dengan konsep premium camp, pengunjung diajak merasakan kenyamanan berkemah yang berkelas sambil menikmati aktivitas seru seperti menanam pohon kopi dan bersepeda di alam terbuka.

Manager Goalpara Estate Camp, Fahrul MW, menjelaskan bahwa camping ground ini dirancang sebagai kawasan premium camp yang menawarkan kenyamanan setara fasilitas modern, namun tetap berada di tengah suasana alam yang asri.


“Konsep estate camp memang terdengar asing, tetapi kami memberikan kesan seperti cluster perumahan dengan area camping yang private,” ujar Fahrul, Senin (23/12/2024).

Goalpara Estate Camp menyediakan fasilitas unggulan seperti tenda premium, toilet pribadi dengan water heater, area api unggun, listrik gratis, serta lahan berumput khusus yang nyaman.

“Tanahnya pun bebas bebatuan, jadi sangat nyaman untuk kegiatan camping,” tambahnya.

Aneka Fasilitas yang Tersedia

Tenda yang ditawarkan Goalpara Estate Camp hadir dalam berbagai kapasitas. Untuk tenda kapasitas dua orang, pengunjung dikenakan tarif Rp 975 ribu per malam. Harga tersebut sudah termasuk sarapan pagi serta area camp private seluas 120 meter persegi.

Selain itu, tersedia juga tenda berkapasitas empat orang, hingga tenda dua kamar yang cocok untuk kumpul keluarga. Saat ini, tersedia tujuh tenda premium yang disiapkan untuk para tamu.

Bagi pengunjung yang membawa tenda sendiri, Goalpara Estate Camp juga menyediakan area khusus dengan kapasitas yang disesuaikan.

“Kami batasi jumlah tenda untuk menjaga kenyamanan pengunjung,” jelas Fahrul.

Aneka Aktivitas Menarik buat Wisatawan

Tak hanya sekadar kemping, Goalpara Estate Camp juga menawarkan berbagai aktivitas menarik. Salah satunya adalah program menanam kopi, yang menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung akan didampingi guide untuk menanam pohon kopi, yang nantinya diberi nama sesuai pemiliknya.

Setiap dua hingga tiga bulan, perkembangan pohon tersebut akan dilaporkan ke pemiliknya, termasuk saat panen. Selain itu, Goalpara Estate Camp juga menyediakan mountain bike sebagai fasilitas tambahan bagi pengunjung yang menginap.

Camping Premium di SukabumiKemping di Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar

“Program kopi ini punya nilai sejarah. Dulu, area Goalpara ini merupakan perkebunan kopi peninggalan zaman Belanda. Kami ingin mengangkat kembali sejarah itu,” terang Fahrul.

Pengunjung pun dapat menikmati kopi khas Sukabumi melalui Sukha Kopi, kafe di dalam area Goalpara Estate Camp.

“Kami punya delapan jenis kopi asli Sukabumi, seperti dari Gunung Gombong, Selabintana, Kadudampit, Jampang, dan lainnya,” ujarnya.

Proyeksi Libur Nataru

Menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), antusiasme pengunjung cukup tinggi. Fahrul mengungkapkan, meskipun belum resmi dibuka sepenuhnya, sudah ada beberapa pemesanan melalui media sosial.

“Kebetulan belum penuh, tapi sudah ada yang booking. Kami benar-benar menjaga area private agar tidak bercampur dengan pengunjung lain,” jelasnya.

Cara Menuju ke Lokasi

Goalpara Estate Camp terletak sekitar 8-9 kilometer dari jalan nasional dan cukup mudah dijangkau, namun tetap memberikan suasana tenang dan jauh dari keramaian.

Alamatnya berada di Jalan Goalpara, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Tempat wisata ini memiliki luas total sekitar dua hektare.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Terminal Lama, Sekarang Disulap Jadi Pusat Jajanan di Sukabumi



Sukabumi

Libur Tahun Baru di Sukabumi, traveler bisa menyempatkan waktu main ke destinasi baru ini. Dulunya tempat ini adalah terminal, tapi sekarang jadi pusat jajanan.

Suasana di kawasan eks Terminal Lama di Jalan Sudirman, Kota Sukabumi nampak meriah. Kawasan yang dulunya merupakan terminal bus kini sudah disulap menjadi pusat kuliner yang baru.

Tenda-tenda jajanan berjejer mulai dari nasi bakar, cumi bakar, dakkochi, mochi daifuku, bakso, baby crab, dan makanan unik lainnya dapat ditemukan di tempat yang kini bernama PASS Food Centre Sukabumi.


Aneka minuman juga dijual di sini seperti es teh, aneka kopi, jus buah, alpukat dan durian kocok, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Harga makanan yang dijual di sini juga cukup beragam. Misalnya satu tusuk dakkochi atau olahan sate ayam bersaus merah pedas ala korea dibanderol dengan harga Rp 20 ribu per tusuk. Kemudian, mochi daifuku yang kini viral dijual seharga Rp 5 ribu saja per bijinya.

Setidaknya ada 150 tenant dan 300 pedagang yang ada di pusat kuliner Sudirman ini. Tempat ini jadi daya tarik baru bagi wisata kuliner di Kota Sukabumi.

“Pada dasarnya kita memfasilitasi UMKM yang ada di Kota Sukabumi ini. Ini bentuk kerjasama PPUB yayasan dengan Pemerintah Kota Sukabumi,” kata Ketua Yayasan Putra Siliwangi Sejahtera, Vega Sukmayudha, Senin (1/1/2025).

UMKM yang menempati lahan eks Terminal Lama Sukabumi mayoritas berasal dari Kota Sukabumi sebanyak 80 persen dan 20 persen lainnya dari Kabupaten Sukabumi. Ke depan, kemungkinan jumlah pedagang akan bertambah mengingat antusiasme masyarakat terhadap pusat kuliner baru ini.

“Kita kan ngasih kuota 150, kuota terpenuhi ya sudah close, tapi ada yang waiting list udah teregister. Nanti kita siapkan opsi penambahan tempat kah atau nanti menunggu pedagang yang memang tidak akan memperpanjang itu nanti langsung diisi,” ujarnya.

Fasilitas yang disediakan di wisata kuliner ini cukup lengkap di antaranya ada panggung musik, meja makan, mushola, dan tempat parkir.

Selain itu, ada juga bus Ajakami (Ayo Jalan-jalan di Kota Sukabumi) yang bisa dijajal oleh pengunjung untuk berkeliling Kota Sukabumi. Tiket Bus Ajakami seharga Rp5 ribu per orang.

“Kami ingin membentuk framing wisata itu ketika ingin keliling kota ya di sini shalter-nya, makanya kalau misalkan nanti ada penambahan kuota konsesi waktu saya akan coba bikin sheltenya Bus Ajakami,” kata dia.

“Jadi masyarakat gak usah pusing, atau wisatawan itu ya tinggal ke sini sambil jajan sambil makan jadi tau spot-spot wisata di kota,” tambahnya.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Sukabumi, M. Hasan Asari berharap dengan pengoperasian eks Terminal Lama menjadi pusat kuliner tentu akan menambah daya tarik wisatawan ke Kota Sukabumi.

Salah satu pengunjung asal Bekasi, Nurul mengaku tertarik mengunjungi pusat kuliner ini. Saat libur Nataru, ia bersama keluarganya memutuskan untuk berlibur ke Sukabumi.

“Kerja di Bekasi, kebetulan ada keluarga di Sukabumi jadi momen liburan ini berkunjung ke rumah nenek. Tempat ini cukup viral di media sosial akhirnya nyoba dan menarik-menarik makanannya,” kata Nurul.

“Tadi beli dakkochi terus cirawang juga. Enak-enak makanannya. Kalau dari segi harga memang bersaing ya, ada yang murah, terjangkau, ada juga yang cukup pricey,” sambungnya.

Buat traveler yang tertarik untuk mencoba, bisa datang ke PASS Food Centre di Sukabumi. Destinasi kuliner ini buka setiap hari dari pukul 10.00 WIB sampai 22.00 WIB.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

7 Gunung untuk Pemula yang Wajib Ditaklukan


Jakarta

Mendaki gunung mungkin bakal jadi aktivitas yang menantang sekaligus menyenangkan bagi sebagian orang. Lalu, bagaimana jika kamu baru mencobanya atau masih pemula?

Tidak semua gunung cocok untuk pemula, karena alasan medan dan tingkat kesulitan yang tinggi. Tentunya, penting bagi pemula untuk memilih gunung yang tepat agar pendakian bisa berjalan, aman, nyaman dan menyenangkan.

Rekomendasi Gunung untuk Pemula

Gunung-gunung dengan jalur pendakian yang lebih ringan, waktu tempuh singkat, hingga pemandangan yang memukau bisa menjadi pilihan yang ideal untuk memulai pendakian. Berikut adalah rekomendasi Gunung yang cocok untuk pemula:


1. Gunung Gede-Pangrango

Lokasi: Jawa Barat

Pagi di alun alun Surya KencanaSuasana di alun alun Surya Kencana, Gunung Gede Pangrango. Foto: dok.detik

Gunung Gede-Pangrango memiliki ketinggian 2.958 mdpl. Gunung ini membentang di tiga kabupaten, yakni Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.

Selain ramah untuk pendaki pemula, pendakian ini juga terkenal dengan padang bunga edelweis di Alun-alun Surya Kencana, Gunung Gede atau di Lembah Mandalawangi, Gunung Pangrango.

2. Gunung Andong

Lokasi: Magelang, Jawa Tengah

Gunung Andong di Magelang, dilihat dari Pos Cuntel MerbabuGunung Andong di Magelang, dilihat dari Pos Cuntel Merbabu Foto: Muchus Budi R/detikcom

Dilansir situs Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Gunung Andong memiliki ketinggian 1.726 mdpl. Pendakiannya ada di antara Desa Ngablak dan Desa Tlogorejo, Grabag, Kabupaten Magelang.

3. Gunung Ijen

Lokasi: Jawa Timur

Wisatawan mancanegara (wisman) bisa kembali menikmati keindahan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen. Sebelumnya, gunung dengan pemandangan kawah hijau tosca itu ditutup untuk wisman sejak awal pandemi COVID-19.Keindahan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen. Foto: Ardian Fanani/detikcom

Gunung Ijen memiliki ketinggian sekitar 2.799 mdpl. Gunung Ijen cocok dijadikan pilihan bagi pemula, karena jalur lintasannya tidak terlalu curam, mudah dipijak, dan banyak spot istirahat bagi pendaki.

Salah satu yang terkenal dalam pendakian ini yaitu di Kawah Ijen ada fenomena blue fire yang bisa disaksikan sekitar jam 01.00-04.00 pagi.

Fenomena blue fire terjadi saat zat belerang bersentuhan dengan panas ekstrem dari celah gunung berapi. Jika beruntung, pendaki akan melihat api biru menawan yang menyala.

4. Gunung Batur

Lokasi: Bali

Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. (Agus Eka)Gunung Batur di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. (Agus Eka).

Gunung Batur memiliki ketinggian 1.717 mdpl. Pendakian Gunung Batur cocok bagi pemula karena jarak dan waktu pendakiannya tak terlalu lama.

Rute Toya Bungkah jadi jalur yang dipilih untuk pemula, karena jalurnya tergolong tidak terlalu terjal. Di jalur ini juga ada titik terbaik untuk menikmati pemandangan matahari terbit.

5. Gunung Prau

Lokasi: Dieng, Jawa Tengah

Gunung PrauGunung Prau. Foto: (Uje Hartono/detikcom)

Gunung Prau memiliki ketinggian sekitar 2.590 mdpl. Gunung ini sangat cocok untuk pemula, karena punya jalur pendakian yang cukup mudah.

Jika memilih Jalur Patak Banteng rute pendakian bisa lebih singkat untuk ke puncaknya. Ditambah, di puncak gunungnya juga memiliki pemandangan dan pesona matahari terbit yang indah.

6. Gunung Pakuwaja

Lokasi: Wonosobo, Jawa Tengah.

Gunung Pakuwaja memiliki ketinggian 2.421 mdpl. Selain ramah pemula, jika kamu berhasil puncak kamu akan dimanjakan dengan pemandangan hamparan perbukitan Dieng yang hijau Gunung Sindoro, Slamet, Merapi, Merbabu, hingga Telomoyo di kejauhan.

Umumnya, untuk sampai puncak Gunung Pakuwaja pendaki menempuh waktu sekitar 1.5 jam. Jika melalui jalur Dieng Plateau dan Parikesit, maka waktu tempuhnya 2 sampai 3 jam sampai puncak.

7. Gunung Nglanggeran

Lokasi: DIY Yogyakarta

Sensasi Mendaki Gunung Api Purba NglanggeranSensasi Mendaki Gunung Api Purba Nglanggeran Foto: Putu Intan/detikcom

Gunung Nglanggeran memiliki ketinggian 700 mdpl. Pendakian Gunung Nglanggeran disebut sebagai andalan para pendaki pemula, karena waktu tempuhnya sekitar 1 – 2 jam saja.

Mengutip laman Kelurahan Kelurahan Nglanggeran, ada dua puncak terpisah yakni bagian Barat dan Timur. Namun, umumnya para pendaki lebih memilih camping di puncak Barat karena akses yang lebih mudah. Puncak Timur bisa dipilih kalau kamu mau menyaksikan keindahan sunrise di Gunung ini.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

Daya Tarik Jembatan Gantung Sukabumi, Lengkap dengan Harga dan Fasilitasnya


Jakarta

Jembatan Gantung Sukabumi atau Jembatan Situ Gunung, menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menarik di Jawa Barat. Sebagai jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara, tempat ini menawarkan pengalaman seru bagi para pencinta petualangan dan keindahan alam.

Dengan panorama hutan hijau yang membentang luas, jembatan ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sambil menguji adrenalin. Terletak di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jembatan Gantung Sukabumi memiliki panjang sekitar 243 meter dengan ketinggian mencapai 150 meter di atas tanah.

Kamu bisa merasakan sensasi berjalan di atas jembatan, sambil menikmati pemandangan hutan tropis yang asri. Selain itu, destinasi ini juga menawarkan berbagai fasilitas pendukung yang membuat perjalanan semakin nyaman dan menyenangkan.


Lokasi dan Daya Tarik Jembatan Gantung Sukabumi

Jembatan Gantung Situgunung SukabumiJembatan Gantung Situgunung Sukabumi. Foto: Siti Fatimah/detikcom

Situ Gunung adalah tempat wisata alam terletak di Sukabumi yang menyimpan berjuta pesona dan keindahan. Di dalamnya, ada beberapa spot wisata populer. Salah satunya Jembatan Gantung Situ Gunung atau Situ Gunung Suspension Bridge.

Jembatan Gantung Sukabumi berlokasi di Desa Wisata Gedepangrango tepatnya di Jl. Raya Situgunung KM 9, Desa Gedepangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Jembatan ini merupakan jembatan gantung tengah hutan, yang terpanjang di Asia Tenggara. Dikutip dari laman Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, jembatan gantung ini membentang sepanjang 243 meter, dengan lebar 1,8 meter, dan ketinggian 121 meter di atas permukaan tanah.

Apalagi, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memiliki banyak keindahan alam. Adapun daya tarik jembatan ini yakni di sekitarnya (area Situ Gunung Sukabumi) terdapat beberapa spot wisata yaitu Air Terjun Curug Sawer dan Air Terjun Lembah Purba.

Belum lagi, kita akan dimanjakan dengan pemandangan dari jalur gua, jalur pendakian, dan danau. Salah satu dari keindahan-keindahan tersebut adalah Kawasan Situgunung.

Jembatan gantung memiliki daya tarik bagi wisatawan. Selain memacu adrenalin dengan berjalan di atas ketinggian, pemandangan sekitarnya pun sangat memukau.

Di sekeliling jembatan, pengunjung akan melihat bukit hijau dan pepohonan tinggi. Suasana sejuk dan dingin akan menemani perjalanan selama berjalan-jalan di Situ Gunung. Selain itu, jembatan ini juga sangat instagramable untuk berswafoto bersama keluarga atau orang terkasih.

Harga Tiket Masuk dan Jam Operasional Jembatan Gantung Sukabumi

Tiket masuk ke Situ Gunung mulai dari Rp50-100 ribu. Tiket tersebut sesuai dengan fasilitas yang didapatkan. Selain masuk ke area, masuk ke Curug Sawer, juga ada fasilitas minuman dan camilan sebelum memasuki pintu masuk jembatan.

  • Harga tiket reguler: Rp 50 ribu
  • Harga tiket VIP: Rp 100 ribu
  • Harga tiket VVIP: Rp 150 ribu.

Tarif tersebut bergantung dengan fasilitas yang didapatkan. Pengunjung dengan tiket reguler akan masuk ke area menuju jembatan dengan berjalan kaki. Namun jika membeli tiket VIP, pengunjung diantarkan ke lokasi utama dengan menggunakan mobil atau ojek secara gratis.

Sebelum masuk ke jembatan gantung akan disuguhi welcome drink berupa bakso, kacang hijau, dan teh atau kopi panas. Sementara pengguna tiket VVIP tak jauh berbeda, tapi memperoleh makan siang di De’Balcone Resto.

Jam operasional Jembatan Situ Gunung mulai dari pukul 07.00-16.00 WIB pada hari biasa. Lalu buka pukul 07.00-17.00 WIB ketika weekend dan waktu high season (libur panjang).

Fasilitas Jembatan Gantung Sukabumi

Jembatan Gantung Situgunung pertama kali dibangun di pertengahan tahun 2017. Proses pembangunan jembatan dilakukan secara manual dengan melibatkan warga lokal dan tenaga ahli dari Bandung.

Dalam laman Kementerian Maritim juga disebut pembangunannya tidak menggunakan alat berat, namun bisa selesai dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun, lebih tepatnya selama 4 bulan.

Material yang digunakan Jembatan gantung Situ Gunung Sukabumi berbahan dasar kayu ulin. Bahan kayu ini digunakan karena memiliki banyak keistimewaan, seperti sifatnya yang tahan terhadap kelembaban dan perubahan cuaca dan air laut.

Tekstur kayu ulin atau kayu besi dari Papua ini, sangat berat dan keras. Memiliki diameter yang lebar dan panjang, kayu ini tidak mudah dimakan oleh rayap.

Saat menaiki jembatan, pengunjung juga akan diberi Alat Pelindung Diri (APD) yang telah disediakan oleh pengelola, berupa sabuk pengaman. APD ini wajib kita kenakan di pinggang saat berada di atas jembatan sebagai standar keselamatan. Saat terjadi guncangan, pengunjung harus mengaitkan sabuk ke ramp yang ada pada bagian sisi-sisi jembatan.

Adapun fasilitas lainnya yang bisa digunakan pengunjung yakni ATM, pusat Kesenian dan Budaya, Musholla, Persewaan Alat, Selfie Area, Tempat makan, dan Wifi Area.

Ada pula pengalaman wahana lainnya seperti Keranjang Sultan, Floating Lodge Danau Situ Gunung, Flying Fox, hingga paket wisata bermalam di Situ Gunung dari Glamping maupun Camping Ground.

Dikutip dari laman Kemenkeu Tim KPPN Sukabumi, di area dalam jembatan ini terdapat banyak UMKM makanan dan minuman khas Sunda. Di antaranya cilok, combro, mie rebus, hingga aksesoris dan kerajinan tangan.

Nah itulah tadi penjelasan soal jembatan gantung Sukabumi dengan lengkap. Jadi, kamu tertarik mengunjunginya?

(aau/fds)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Masjid di Sukabumi yang Buka 24 Jam, Ramah dengan Musafir



Sukabumi

Di Sukabumi, ada masjid yang buka 24 jam dan ramah terhadap para musafir. Tak hanya itu, masjid ini juga ramah terhadap kucing. Simak kisahnya berikut ini:

Masjid sering kali dianggap hanya sebagai tempat ibadah formal, dengan aturan ketat yang terkadang membuat sebagian orang merasa asing atau bahkan enggan untuk mendekat.

Fenomena itu menjadi kegelisahan tersendiri bagi Anggy Firmansyah Sulaiman, pendiri Masjid Sejuta Pemuda, yang ingin menghadirkan konsep masjid yang lebih terbuka, ramah, dan menjadi pusat aktivitas umat.


“Orang-orang sering melihat masjid sebagai tempat yang terkunci di malam hari, anak-anak kecil dimarahi ketika bermain di sekitar masjid, atau fasilitas yang kurang nyaman. Dari keresahan itulah kami ingin mengajak masjid-masjid untuk memberikan pelayanan terbaik supaya orang mau datang ke masjid,” kata Anggy saat ditemui belum lama ini.

Dari gagasan tersebut, lahirlah konsep Masjid Sejuta Pemuda, yang berusaha menjadikan masjid sebagai tempat ibadah sekaligus rumah yang nyaman bagi siapa saja -anak muda, anak kecil, musafir, dan masyarakat sekitar.

Gagasan ini muncul sejak tahun 2021, namun baru terwujud secara nyata pada 9 Maret 2024, ketika masjid pertama berdiri di Sukabumi.

Nama Masjid Sejuta Pemuda dipilih untuk mencerminkan semangat melibatkan generasi muda dalam aktivitas masjid. Saat dalam proses perwujudan, lahan yang dibeli pada Februari 2024 ternyata sudah memiliki sebuah bangunan masjid bernama Masjid At-Tin, yang didedikasikan oleh pewakif untuk ibundanya.

“Kami punya konsep Masjid Sejuta Pemuda, tapi di lahan yang kami beli sudah ada Masjid At-Tin. Agar tetap menghormati nama masjid yang sudah ada, kami akhirnya menggabungkan namanya menjadi Masjid Sejuta Pemuda At-Tin,” jelasnya.

Masjid Sejuta Pemuda.Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar

Masjid ini pun kini telah resmi terdaftar di Kementerian Agama. Meski bermula dari Sukabumi, visi Masjid Sejuta Pemuda tidak berhenti di satu tempat. Saat ini, konsep yang sama sudah diterapkan di dua cabang lain, yaitu Masjid Ash-Shobur di Cianjur dan Masjid Pemuda Al-Kahfi di Purwakarta.

“Kami ingin menyebarkan vibrasi positif dari masjid ini ke seluruh daerah. Tapi syaratnya, sebelum mendirikan cabang baru, sumber daya manusianya harus belajar dulu di Sukabumi,” tambahnya.

Membuat Masjid yang Nyaman buat Umat

Konsep utama Masjid Sejuta Pemuda adalah menciptakan suasana yang nyaman bagi umat. Tidak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi ruang interaksi sosial dan solusi bagi berbagai kebutuhan jamaah.

“Umat yang datang harus diperlakukan dengan baik. Kami siapkan toilet yang bersih, masjid yang wangi dan rapi, imam yang bacaannya merdu. Setelah salat, mereka bisa menikmati kopi, makan, atau sekadar ngobrol untuk menyelesaikan masalah. Dengan begitu, masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga tempat menemukan ketenangan,” ucap Anggy.

Masjid yang Ramah Kucing

Salah satu inisiatif unik di Masjid Sejuta Pemuda adalah kepeduliannya terhadap hewan, terutama kucing. Awalnya, kepedulian ini muncul saat ditemukan seekor anak kucing yang dibuang di pinggir jalan.

Lokasi yang berdekatan dengan pasar menyebabkan banyak kucing liar berkeliaran. Untuk itu, pihak masjid menyediakan kandang dan makanan bagi mereka.

“Kami rawat, beri susu, tempat tidur, makanan. Lalu kami unggah ke media sosial, dan ternyata banyak yang peduli juga,” katanya.

Namun, ada batasan yang tetap dijaga, terutama terkait kebersihan tempat ibadah.

“Beberapa kali kami harus mencuci karpet karena kucing masuk. Sekarang, kami pasang door closer supaya kucing tidak bisa masuk ke dalam area salat. Masjid tetap ramah kucing, tapi kebersihan tetap nomor satu,” tambahnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gem Bogor Favorit Turis Arab



Bogor

Pesona Danau Lido di Bogor tak hanya memikat wisatawan lokal, tapi juga sukses meluluhkan hati turis Timur Tengah. Dengan rakit kayu sederhana, mereka menyusuri danau sambil menyantap nasi kebuli dan shawarma-sebuah pengalaman unik yang kini jadi primadona wisata tersembunyi di selatan Bogor.

Hanya sekitar 5 menit dari pintu keluar tol Cigombong, perahu rakit Danau Lido menjadi tempat wisata hidden gem Bogor. Setiap hari, ada saja pengunjung yang datang untuk berkeliling menikmati keindahan Danau.

Namun di musim-musim tertentu, misalnya pertengahan tahun, Danau Lido justru penuh dengan turis timur tengah. Mereka berkeliling Danau Lido dengan perahu rakit sambil makan siang.


“Tahun kemarin ada 627 pemandu yang membawa turis Arab ke sini,” kata Indra J Lesmana (35), ketua UMKM kluster perahu rakit Danau Lido yang kini menjadi binaan BRI.

Angka itu memang fantastis, tapi sebenarnya sudah jauh berkurang. Di era kejayaannya sebelum pandemi, Danau Lido dapat mencatat 1.600 pemandu, satu kelompok bisa sampai 10 turis. Tak terbayang betapa ramainya Danau Lido saat itu.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

“Kebanyakan mereka bawa turis Arab dari Puncak, Sukabumi dan Cianjur,” dia menambahkan.

Indra mengatakan bahwa turis-turis Arab sangat senang dengan atraksi ini. Mereka bisa makan sambil berkeliling danau dengan santai.

Jumlah perahu rakit di Danau Lido sekitar 24 unit, warga sekitar memiliki dua atau tiga perahu sekaligus. Mereka menjadi mitra dari Rumah Makan Yuliana Lido (RMYL).

Sebenarnya di sekitar danau ada beberapa rumah makan dengan konsep serupa, berkeliling danau dengan rakit. Namun perahu rakit itu tidak lagi dikelola oleh warga, melainkan swasta. RMTY menjadi satu-satunya restoran yang bermitra dengan kluster perahu rakit.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

Melihat banyaknya turis Arab, RMYL membuat menu khusus Arab. Isinya tak jauh beda dengan menu biasa hanya ada tambahan shawarma dan nasi kebuli yang khas timur tengah. Selain itu, papan penunjuk berbahasa Arab yang ada di seisi rumah makan mempertegas banyak tamu Arab singgah di sini.

Zaman semakin berkembang, selain turis yang bertambah, kecanggihan teknologi disempurnakan dengan adanya digitalisasi. BRI mempermudah pembayaran perahu rakit dan rumah makan dengan kode QRIS.

“Awalnya agak sulit, karena kebanyakan di sini kan orang tua. Tapi seiring berjalannya waktu, mulai pada ngerti kalau anak-anak muda bayar itu pakai QRIS,” kata pria asli Cigombong itu.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido gunakan QRIS (bonauli/detikcom)

Pengecekan pembayaran perahu rakit pun semakin mudah karena terekam dalam sistem. Apalagi QRIS BRI bisa menerima pembayaran dari berbagai bank.

Nurmawan (53) datang dari Depok hanya untuk menikmati ikan bakar Danau Lido yang terkenal tidak bau tanah atau lumpur. Benar saja, begitu tiba, ia memesan sekilo ikan nila bakar dengan nasi, lalapan dan sayur kangkung tumis. Awalnya ia ragu, karena porsinya terlihat besar. Mengunyah sambil melihat pemandangan membuat hidangan habis tak bersisa.

“Memang betul enak, ikannya segar,” katanya.

Ibu satu anak itu pun merasa tidak repot karena pembayaran dapat dilakukan dengan menggunakan QRIS BRI. Habis sampai Rp 200 ribuan, ia tak perlu repot memikirkan uang kembalian.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

Peran BRI di Danau Lido

Fahmi Hidayat, pemimpin BRI Bogor Dewi Sartika (Bordes), mengakui bahwa turis-turis yang datang ke Danau Lido adalah berkah sekaligus tantangan yang harus dihadapi.

“Tantangan yang kita lihat adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan wisatawan,” ucapnya pada detikTravel, Jumat (21/3).

BRI sedang mencoba untuk bekerjasama dengan ekosistem kluster perahu rakit Danau Lido. Dalam hal ini, Fahmi mengatakan bahwa BRI memberikan pendampingan seperti kursus bahasa Arab sederhana.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

“Minimal menyebutkan harga, tawar menawar atau bilang iya,” ujar dia.

Wisata perahu rakit di Danau LidoPilihan menu arab di wisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

Ia juga mengapresiasi RMYT yang menggunakan menu berbahasa Arab. Nasi kebuli yang masuk dalam daftar menu juga sangat didukung karena memberikan rasa ‘rumah’ saat mereka sedang jauh dari negaranya.

“Memang ya karena konsumennya dari saudara-saudara kita dari Timur Tengah ya mau tidak mau ya minimal kebuli ada-lah gitu,” kata dia.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Saat Mitos Santet Kalah dengan Perburuan Gigi Megalodon di Gua Sukabumi



Sukabumi

Di Sukabumi, ada satu gua yang lekat dengan mitos santet. Namun semua itu lenyap ketika muncul fenomena perburuan gigi Megalodon. Bagaimana ceritanya?

Demam perburuan fosil gigi Hiu Megalodon sempat melanda kawasan Pajampangan, Kabupaten Sukabumi pada tahun 2021 silam, terutama di wilayah Kecamatan Surade.

Kala itu, fosil-fosil gigi hiu itu dihargai cukup tinggi oleh para kolektor. Hal ini pula yang kemudian menghilangkan mitos di Gua Kolotok, saksi bisu kisah kelam santet di Pajampangan.


Gua ini berada di Desa Jagamukti, Kecamatan Surade, Sukanumi. Disebut Kolotok, karena mulut gua itu dahulunya disebut mirip kalung kerbau.

Gua itu memiliki lebar mulut sekitar 1,5 meter dan panjang sekitar 4 meter. Ssmakin dalam, ruangan di dalam gua itu semakin lebar dan luas.

Kedalamannya yang mencapai 30 meter hingga 40 meter menjadikan gua ini tempat yang hampir mustahil untuk keluar bagi siapa pun yang dibuang ke sana.

Gua Kolotok di Sukabumi.Gua Kolotok di Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Penambangan fosil gigi hiu megalodon, yang dikenal dengan nama lokal huntu gelap, telah menyebabkan kerusakan parah pada gua Kolotok. Warga setempat menganggap fosil gigi hiu sebagai barang berharga.

Namun tanpa disadari, aktivitas ini juga menghancurkan salah satu tempat bersejarah yang terkait dengan masa lalu gelap masyarakat Pajampangan.

Menurut Apay Suyatman, Kades Jagamukti, penambangan fosil gigi hiu ini pertama kali dimulai di Desa Gunung Sungging, yang berbatasan dengan Jagamukti.

Desa Gunung Sungging dulu merupakan satu desa yang kemudian dibagi menjadi dua, dan kini penambangan liar terus berlangsung meskipun sudah sering diadakan razia oleh aparat kepolisian.

“Penambangan fosil gigi hiu megalodon ini memang sudah berlangsung lama. Warga yang terlibat merasa bingung karena mereka sudah sangat bergantung pada hasil temuan ini. Beberapa waktu lalu, aparat bahkan melakukan razia dan menangkap para pelaku, namun penambangan tetap berjalan,” tambah Suyatman.

Keberadaan Gua Kolotok yang kini rusak dan tidak terawat adalah simbol dari bagaimana kepercayaan terhadap santet dan teluh masih memengaruhi masyarakat Pajampangan.

Meskipun banyak yang mulai meragukan kebenaran tentang santet, cerita dan kepercayaan terhadap ilmu hitam ini tetap hidup di kalangan warga.

Suyatman menyadari bahwa kepercayaan terhadap santet di Pajampangan tak mudah hilang begitu saja, tetapi ia tetap berusaha memperkenalkan pemahaman yang lebih rasional dan bijaksana kepada masyarakat.

“Kami ingin cerita tentang Gua Kolotok yang penuh mistis ini bisa berubah menjadi tempat wisata budaya yang mengedepankan sejarah dan kearifan lokal. Namun, itu semua harus dimulai dengan mengubah stigma buruk tentang teluh yang sudah sangat melekat di masyarakat,” ujar Suyatman, menutup percakapan panjang tentang bagaimana Gua Kolotok dan santet masih menjadi bagian dari masa lalu yang sulit untuk dilupakan.

Jejak Perburuan Gigi Megalodon

Jejak perburuan Huntu Gelap di kawasan itu terlihat dari adanya lubang-lubang galian di sekitar lokasi Gua Kolotok. Lubang itu menggunakan Pasangan, sejenis penahan kayu yang dipasang mengikuti alur gua agar tidak terkena longsor.

Bagi banyak tokoh dan warga Pajampangan, upaya untuk melawan stigma negatif tentang teluh dan santet menjadi perjuangan panjang yang penuh tantangan.

Seiring dengan zaman yang terus berubah, kepercayaan terhadap ilmu hitam ini mulai dipertanyakan. Namun, stigma tersebut masih menghantui wilayah ini, menjadikan Pajampangan sering diidentikkan dengan santet.

Seperti yang dijelaskan oleh Kyai Asep Mustofa, Ketua MUI Kecamatan Surade, pandangan terhadap teluh dan santet seringkali berakar dari kesalahpahaman dan niat buruk antar individu.

“Teluh ini identik dengan sebutan santet. Secara umum, teluh itu dikenal dengan santet, tapi yang ramai dibicarakan di luar itu adalah teluh dan sebagainya. Ketika ditelusuri lebih dalam, siapa ahli teluh, siapa yang dianggap tukang teluh, itu sangat sulit untuk dibuktikan,” katanya.

Kyai yang dikenal dengan sebutan Asmu Bentang ini menekankan bahwa, menurut ajaran Islam, praktik santet jelas haram, namun yang lebih penting adalah niat di baliknya.

“Ada praktik mencelakakan orang lain, menabur sesuatu dengan tujuan tidak baik itu ada. Tapi untuk kita mengidentifikasi siapa yang melakukannya, itu sangat berat. Kita harus hati-hati agar tidak terjebak fitnah,” ujar Kyai Asep.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Sejuta Pemuda, Ikhtiar Melayani Tamu 24 Jam


Jakarta

Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi, Jawa Barat bukan sekadar tempat menunaikan ibadah saat jam salat, namun dibuka 24 jam nonstop. Masjid ini menjadi jujugan banyak orang, mulai dari warga setempat hingga musafir.

Rumah ibadah dengan nama lengkap Masjid Pemuda At-Tin itu mungkin tidak asing bagi pengguna media sosial. Konten pelayanan pada jemaah yang ketiduran, belum makan seharian, atau memberi seduhan kopi di sela kegiatan selalu banjir viewer.

Netizen tak segan memuji program dan kegiatan Masjid Sejuta Pemuda. Para netizen berharap bisa mengunjunginya suatu hari dan merasakan hikmah masjid. Netizen juga berharap bisa menikmati masjid yang dikeliling pemandangan indah alam Sukabumi.


“Saya belum pernah berkunjung ke Mesjid Sejuta Pemuda ingin sekali datang ke sana. Saya sangat kagum sekali dengan pengurus mesjidnya. Semoga para pengurus selalu diberikan kesehatan agar bisa berbuat kebaikan untuk semua orang,” tulis akun Nurjanah.

Warganet yang sudah sempat berkunjung berharap jemaah lain bisa ikut datang ke Masjid Sejuta Pemuda. Hingga saat itu tiba, warganet berharap pengurus bisa terus melaksanakan tugasnya dengan baik. Sehingga, Masjid Sejuta Pemuda bisa terus menebarkan kebaikan pada semua orang.

“Semoga lebih banyak orang yang hadir untuk beribadah di sini serta pengurusnya tetap istiqomah dalam kebaikan. Semoga Allah beri kesempatan saya dan anak-anak beribadah di sana saat ke Sukabumi,” tulis akun Sulistyowati 250514.

Lokasi Masjid Sejuta Pemuda yang Nyaman dan Ramah

Masjid Sejuta Pemuda berada di Jl. Lamping, Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Pendiri Masjid Sejuta Pemuda Anggy Firmansyah Sulaiman menjelaskan, masjid ini berkonsep open space yang memungkinkan jemaah melihat alam sekeliling.

Konsep ini memungkinkan jemaah, pengurus, dan masyarakat sekitar berinteraksi dengan baik. Orang yang sekadar datang berkunjung juga bisa ikut merasakan manfaat masjid. Interaksi tidak hanya terjadi di ruang salat atau saat kegiatan ibadah dilakukan.

“Masjid ini open space untuk kami dan masyarakat. Mereka punya peran di sini, dan kami ingin masjid ini benar-benar bermanfaat bagi semua,” ujar Anggy.

Masyarakat dan pengurus berinteraksi dalam sejumlah kegiatan yang dilakukan Masjid Sejuta Pemuda. Hal yang sama dilakukan pada para tamu Allah. Semua arena indoor dan outdoor bisa dimanfaatkan untuk kajian, kegiatan sosial, atau rapat seputar memakmurkan masjid.

Masjid Sejuta Pemuda berdiri di area seluas kurang lebih satu hektar. Di sini, fasilitas pendukung dibangun untuk kenyamanan para umat. Beberapa fasilitas tersebut adalah toilet wangi, tempat wudhu nyaman, dapur dan ruang makan cukup lega, serta balkon yang dilengkapi meja kursi.

Di sini juga tersedia coffee bar tempat marbot barista meramu kopi untuk semua pengunjung. Tentu tersedia minuman dan camilan lain bagi pengunjung yang memilih suguhan lain.

Sebagai informasi, Masjid Sejuta Pemuda tidak punya pagar. Hal ini sesuai konsep masjid sebagai yang terbuka 24 jam bagi semua umat. Para pengunjung bisa datang setiap saat untuk beribadah atau sekadar berteduh. Tentunya masjid dilengkapi tempat parkir luas dan pengurus yang siap menemani anak-anak.

Program Masjid Sejuta Umat

Dalam media sosialnya, Masjid Sejuta Umat menyediakan sejumlah program untuk umat antara lain:

Masjid ramah musafir

Di Masjid Sejuta Umat, para musafir yang bermalam diberi fasilitas menginap. Misalnya bantal dan alas kasur seingga bisa beristiraat dengan nyaman. Program ini diterapkan untuk jemaah laki-laki dan perempuan

Coffee bar premium gratis

Masjid menyediakan working space dan coffee ala cafe yang tersedia bagi para jemaah. Fasilitas ini tersedia pukul 09.00-21.00 untuk semua pengunjung yang berada di masjid. Minuman kopi disiapkan khusus marbot masjid yang merangkap barista.

Bagi-bagi makan tiga kali sehari

Makanan gratis disajikan tiga kali sehari untuk semua pengunjung masjid. Hidangan ini diolah di dapur masjid dari bahan-bahan berkualitas. Seluruh proses memasak dilakukan dengan bersih dan benar.

Ramah anak

Masjid Sejuta Pemuda tidak melarang atau menganggap anak-anak mengganggu kegiatan beribadah. Anak-anak diberikan ruang belajar khusus sehingga bisa tetap berkegiatan, tidak merasa bosan, dan tak mengganggu orang yang sedang ibadah

Ramah kucing

Masjid Sejuta Pemuda berada tidak jauh dari pasar dan tempat masyarakat umum beraktivitas. Lingkungan sekitar masjid sering dijadikan lokasi pembuangan kucing. Pengurus masjid lantas mengurus kucing-kucing tersebut dengan baik dan membuka adopsi. Program ini didasari keyakinan untuk saling menyayangi antar makhluk Tuhan.

Buat detikers yang ingin mengunjungi Masjid Sejuta Pemuda, bisa menjadwalkan kedatangan tiap saat. Dengan lingkungan yang asri dan nyaman, jemaah bisa dipastikan betah berada di masjid. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan, kerapihan, dan taat aturan.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com