Tag Archives: sumatra utara

12 Geopark Indonesia yang Diakui UNESCO di 2025


Jakarta

Geopark (taman bumi) adalah bentang alam yang menyimpan jejak geologis berupa keragaman batu dan mineral, hayati, dan budaya serta diwariskan antar generasi. Geopark dapat dikelola masyarakat setempat dengan mempertimbangkan keseimbangan lingkungan, edukasi, dan ekonomi.

Di dunia banyak geopark dengan luas, ciri, dan keragaman yang layak mendapat pengakuan dunia. Biodiversitas dan jejak kebumian (geologis) dalam geopark wajib dilindungi demi keberlanjutan kehidupan di dunia yang ramah lingkungan.

Daftar 12 Geopark di Indonesia yang Diakui UNESCO

Dikutip dari situs UNESCO, ada 12 geopark di Indonesia berstatus UNESCO Global Geopark (UGGp). Berikut daftarnya

1. Geopark Batur

  • Lokasi: Gunung Batur, Bali
  • Lanskap: Kawasan kaldera Gunung Batur dan dinding luarnya yang membentuk bentang alam khas Bali serta danaunya.

2. Geopark Gunung Sewu

  • Lokasi: Antar wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur
  • Lanskap: Menampilkan bentang alam karst pada iklim tropis yang terbentuk jutaan tahun lalu melalui proses geologis.

3. Geopark Ciletuh-Palabuhanratu

  • Lokasi: Sukabumi, Jawa Barat
  • Lanskap: Jejak geologi sejak 65 juta tahun lalu dengan formasi batuan unik, air terjun, dan pantai.

4. Geopark Rinjani-Lombok

  • Lokasi: Nusa Tenggara Barat
  • Lanskap: Mencakup Gunung Rinjani dengan kaldera, savana, dan hutan tropis.

5. Geopark Kaldera Toba

  • Lokasi: Sumatra Utara
  • Lanskap: Terdiri dari 16 geosite dengan bentang alam air terjun, bukit, dan Danau Toba yang menyatukannya.

6. Geopark Belitong

  • Lokasi: Kepulauan Bangka Belitung
  • Lanskap: Terdiri dari batu granit besar yang eksotis lengkap dengan kekayaan hayati di darat dan laut.

7. Geopark Ijen

  • Lokasi: Jawa Timur
  • Lanskap: Kawah dengan danau asam terbesar di dunia serta fenomena api biru yang langka.

8. Geopark Maros-Pangkep

  • Lokasi: Sulawesi Selatan
  • Lanskap: Susunan batuan kapur (karst) yang berasal dari zaman purba.

9. Geopark Merangin Jambi

  • Lokasi: Jambi
  • Lanskap: Lokasi asal fosil tumbuhan berusia 296 juta tahun kurang lebih periode Permian Awal.

10. Geopark Raja Ampat

  • Lokasi: Papua Barat
  • Lanskap: Biodiversitas laut lengkap dengan batuan tua dari era Silur-Devon.

11. Geopark Kebumen

  • Lokasi: Jawa Tengah
  • Lanskap: Batuan purba, goa-goa karst, dan jejak geologis sejak jutaan tahun lalu.

12. Geopark Meratus

  • Lokasi: Kalimantan Selatan
  • Lanskap: Warisan jejak kebumian tropis lengkap dengan kekayaan budaya dan masyarakat adat.

Buat traveler yang ingin berkunjung, jangan lupa update informasi untuk memastikan ketersediaan layanan. Termasuk harga tiket, rute, dan transportasi terbaik menuju destinasi wisata pilihan.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Cerita Pulau Samosir dan Danau Toba, Kisah Legenda Ucok Samosir


Jakarta

Pulau Samosir dan Danau Toba adalah destinasi wisata prioritas Indonesia karena keindahan alamnya. Di baliknya ada kisah legenda terbentuknya kedua spot wisata populer itu yang sudah dikenal masyarakat lokal.

Salah satunya adalah kisah legenda Ucok Samosir yang mengawali terbentuknya Pulau Samosir dan Danau Toba. Dikutip dari buku Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir dari Heny V Tinneke, cerita rakyat dari Sumatra Utara ini termasuk populer.

Kisah Terbentuknya Pulau Samosir dan Danau Toba

Dahulu hidup seorang pemuda bernama Tigor Samosir di wilayah yang kini dikenal sebagai Sumatra Utara. Dia hidup sebatang kara dan sangat ulet bekerja mengolah sawah peninggalan orang tuanya. Tidak heran hasil panen Tigor selalu sangat baik.

Pada suatu waktu, kampung Tigor terkena musim kemarau panjang hingga mengalami gagal panen. Hewan peliharaan Tigor dan warga kampung lain juga perlahan mati karena kehausan. Tigor akhirnya putar otak untuk bertahan hidup.

Setelah berpikir, Tigor mengambil jala di samping rumahnya dan bertekad mencari ikan. Dia mengajak warga kampung lain yang disambut gembira. Mereka bersama-sama menyiapkan jala untuk menangkap ikan demi menyambung hidup.

Usaha mencari ikan berbuah manis, namun tidak dalam waktu lama. Ikan perlahan sulit ditangkap, hingga warga kampung satu per satu mulai meninggalkan rumah mencari penghidupan yang lebih baik. Namun Tigor bersikukuh tetap tinggal di kampungnya dan berusaha lagi.

Pada suatu malam ketika mencari ikan, Tigor kaget bukan kepalang. Ikan yang ditangkap ternyata bisa bicara dan minta dilepas. Ikan ajaib itu berjanji mengabulkan semua permintaan Tigor asal dikembalikan ke air. Tigor menyanggupi dan meminta tangkapan yang banyak untuk dibawa pulang.

Bantuan ini dikabulkan beberapa kali, hingga kabar baik yang dialami Tigor terdengar warga kampung. Warga yang tadinya merantau perlahan kembali ke rumahnya berharap bisa mendapatkan ikan melimpah seperti Tigor. Harapan tersebut menjadi kenyataan, setelah Tigor mengajari cara menangkap ikan sesuai petunjuk ikan ajaib.

Seiring waktu, Tigor dan ikan ajaib menjalin hubungan baik hingga dipanggil jelita. Keduanya menikah dan memiliki seorang anak bernama Ucok Samosir. Keadaan keluarga dan kampung Tigor makin baik dengan berakhirnya musim kemarau panjang.

Seiring waktu, terjadi perubahan pada karakter Tigor menjadi lebih pemarah dan sering membentak. Puncaknya adalah ketika Tigor memarahi anaknya karena telat mengantarkan makan siang. Tigor menyebutnya sebagai anak ikan. Ucok lantas pulang dan mengadu pada ibunya.

Jelita yang mendapat kabar tersebut merasa kaget dan termenung. Pasalnya, Tigor pernah berjanji tidak akan menyinggung asal mula Jelita pada anaknya. Jika dilanggar, Jelita dan Ucok akan meninggalkan Tigor.

Sadar akan kesalahannya, Tigor pulang dan memohon pada Jelita dan Ucok agar jangan pergi. Namun keduanya tetap melangkah pergi. Jejak kaki keduanya mengeluarkan air hingga terjadi banjir bandang. Banjir ini menenggelamkan Tigor dan seisi kampung. Sedangkan Ucok dan Jelita menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Kini, banjir bandang dari tapak kaki Ucok dan Jelita menjadi Danau Toba. Sementara, dataran tinggi tempat Ucok dan Jelita mengungsi dikenal sebagai Pulau Samosir. Nama Samosir adalah penghormatan bagi Tigor dan keluarganya.

Kisah Pulau Samosir dan Danau Toba masih diceritakan antar generasi serta sangat dikenal masyarakat. Pulau Samosir yang terkenal indah bahkan menjadi salah satu spot wisata ikonik Indonesia.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Bekas Perumahan Elit Karyawan Bengkel Kereta di Medan, Kini Sepi Mencekam


Medan

Masa penjajahan Belanda meninggalkan banyak jejak di seluruh wilayah Indonesia. Salah satunya bekas perumahan elit karyawan bengkel kereta api di Jalan Bundar, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, Sumatra Utara.

Pantauan detikcom melalui google maps, kawasan tersebut ditandai sebagai Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) Wooncomplex. Di kawasan yang memang berbentuk bundar tersebut, ada beberapa rumah yang dulunya mungkin terlihat mewah dan megah.

Bekas perumahan elit karyawan bengkel kereta zaman Belanda.Bekas perumahan elit karyawan bengkel kereta zaman Belanda (google maps)

Sayang, rumah bergaya Eropa tersebut kini terlihat tidak layak ditempati. Beberapa bagian rumah sudah rusak dan runtuh meski dinding masih tegak berdiri. Pondasi rumah juga kuat, walau jendela dan pintu banyak hilang


Jalan sekitar rumah ditumbuhi semak belukar dan pepohonan rimbun, dengan lingkungan sekitar yang sangat sepi. Jika hujan, jalanan besar kemungkinan becek dan berlumpur. Jalanan di pinggir kawasan tersebut sebetulnya pernah diaspal, namun sudah rusak dan banyak bolong.

Sepanjang penelusuran detikcom, tidak ditemukan cukup lampu yang bisa memberi cukup penerangan. Bisa dipastikan, bekas komplek perumahan mewah tersebut sangat gelap dan sepi pada malam hari. Suasana sekitar mencekam karena memang tidak ada yang tinggal di rumah tersebut.

Sejarah Rumah Mewah Karyawan Bengkel Kereta

Perumahan Elit Bengkel Kereta Api Kolonial Belanda di Medan (Nizar Aldi/detikcom)Bekas perumahan elit kayawan bengkel kereta api zaman Belanda di Medan (Nizar Aldi/detikcom)

Menurut ahli sejarah M Azis Rizky Lubis dari Universitas Sumatera Utara (USU), komplek rumah mewah di Jalan Bundar itu dibangun tahun 1919. Komplek dibangun saat pembentukan werkplaats atau bengkel kereta api di sekitar lokasi.

Perumahan elit dibangun untuk karyawan bengkel kereta sehingga bisa bekerja dengan baik. Tempat tinggal dan lokasi kerja tidak berjarak terlalu jauh. Komplek rumah tidak dibangun bersamaan dengan pembentukan perusahaan kereta Deli Spoorweg Matschappij tahun 1886.

“Perumahan dibangun untuk karyawan bengkel kereta api termasuk juga mess bagi sekolah perkeretaapian yang mau berkunjung,” ujar Azis dikutip dari detikSumut.

Di sekitar perumahan karyawan bengkel kereta, ada juga komplek elit bagi orang Eropa. Pembangunan dua komplek ini berdekatan dengan perkebunan Helvetia. Menurut Aziz, pembangunan komplek mewah ini menjadikan wilayah Pulo Brayan kawasan elit.

Ketika Jepang masuk Indonesia, perumahan ini menjadi area pengungsian orang-orang Eropa. Hal ini disebabkan area komplek dekat dengan Pelabuhan Belawan, yang diharapkan dapat memudahkan mobilisasi orang Eropa.

Riwayat Deli Spoorweg Maatschappij (DSM)

DSM adalah perusahaan kereta api swasta yang berdiri tahun 1883. Pusat kegiatan perusahaan ini adalah Sumatra bagian timur dengan fokus utama mengangkut hasil bumi yang akan diekspor. Misal tembakau dari daerah dataran tinggi.

Dikutip dari paper Pengambilalihan N.V. Deli Spoorweg Maatschappij di Sumatra Utara 1857-1963 oleh Ibnu Murti Hariyadi, DSM diambil alih pada tahun 1957-1963. Perusahaan kemudian mengalami nasionalisasi dan bergabung dalam PT KAI.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Ini Desa Kanibal di Wilayah Danau Toba, Berikut Asal-usul Huta Siallagan


Jakarta

Danau Toba adalah wilayah dengan sejuta pesona alam, sejarah, dan budaya. Tak terkecuali Pulau Samosir yang bisa diakses dengan kapal motor untuk menyeberangi Danau Toba lebih dulu. Pesona kali ini berasal dari sejarah Huta Siallagan yang kini telah menjelma jadi cagar budaya.

Huta Siallagan pernah menerapkan kanibalisme sebagai upaya penegakan hukum. Dikutip dari situs Indonesia.go.id, kanibalisme diterapkan pada pelaku kejahatan yang diyakini punya ilmu hitam. Dalam praktik tersebut, hati dan jantung kriminal dimakan pemimpin suku agar memperoleh daya lebih besar.

Pelaku kriminal dihukum mati namun dengan tubuh dihancurkan lebih dulu, agar ilmunya hilang dan tidak membahayakan. Kepala pelaku kejahatan diletakkan di meja bulat, sedangkan badan disimpan di meja persegi. Badan pelaku dibuang di Danau Toba dan masyarakat tidak boleh beraktivitas di lokasi itu selama 7 hari.


Bagian kepala pelaku kejahatan diletakkan di gerbang Huta Siallagan, sebagai peringatan pada desa atau orang lain yang berniat buruk. Setelah membusuk, kepala pelaku dibuang di hutan belakang desa dan warga Huta Siallagan dilarang beraktivitas di area itu selama tiga hari.

Asal-usul Huta Siallagan

Huta Siallagan berada di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. Jarak huta berkisar 150 meter dari pinggiran Danau Toba tepatnya di Pulau Samosir bagian timur. Area perkampungan berada di atas lahan berbukit dekat Danau Toba.

Dikutip dari tulisan Raamja Sitinjak berjudul Peran Kosmologi Dalam Pembentukan Perkampungan Kuno Siallagan dari Universitas Jambi, huta atau desa adalah kesatuan tatanan sosial yang membentuk sistem kepemilikan tanah. Huta bersama sawah, ladang, dan hutan menjadi tanda adanya kelompok masyarakat serta penguasa marga.

Sehingga keberadaan huta sangat penting bagi suatu marga dalam aspek ekonomi, sosial, dan religius dalam keyakinan Batak Toba. Sesuai namanya, Huta Siallagan sangat penting bagi warga Siallagan yang menyimpan jejak dan sejarah bagi masyarakat Batak dan Sumatra Utara secara umum.

Huta Siallagan adalah desa kuno yang dibangun pada kepemimpinan Raja Laga Siallagan, seperti dijelaskan dalam tulisan berjudul Perancangan Infografis Video Animasi Potensi Wisata Desa Ambarita Huta Siallagan oleh Putri Pertiwi Pasaribu dari Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain (STSRD) VISI. Pemimpin selanjutnya adalah Raja Hendrik Siallagan dan Raja Ompu Batu Ginjang Siallagan.

Desa kuno ini dikelilingi tembok batu 1,5-2 meter untuk melindungi wilayah dari serangan binatang buas dan suku lain. Namun tembok ini menghalangi komunikasi dengan desa lain termasuk untuk para rajanya. Tanda masuk dan keluar desa ditandai dengan gerbang yang ditulis dengan aksara Batak dan Latin. Hingga kini, keturunan raja Siallagan ada yang masih tinggal di Desa Ambarita Huta Siallagan.

Tarif Masuk Huta Siallagan

Sebagai wisata unggulan Sumatra Utara, detikers tentu bisa mengunjungi desa ini di jadwal berikut

Jam buka

Setiap hari: 08.00-18.00.

Tarif masuk

Rp 10 ribu per orang.

Sebelum berkunjung, pastikan telah update jadwal buka atau operatur tur yang berpengalaman. Info terbaru memungkinkan detikers bisa menikmati semua aset budaya dan sejarah Huta Siallagan berikut fasilitas serta pelayanannya.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kuil Murugan, Simbol Toleransi Umat Hindu Keturunan India Selatan



Jakarta

Kuil Murugan, rumah ibadah paling warna-warni dan termegah se-Asia Tenggara, hadir di Jakarta Barat. Kuil itu menjadi tanda toleransi Nusantara.

Ada kerinduan panjang, sekitar 75 tahun, untuk dapat mewujudkan Kuil Murugan atau Murugan Temple. Berlokasi di Jalan Bedugul, Daan Mogot No.2, RT.6/RW.17, Kalideres, Kec. Kalideres, Kota Jakarta Barat, kuil ini sukses menarik perhatian dunia.

Baru diresmikan pada 2 Februari 2025, bertepatan dengan Maha Kumbh Mela, Kuil Murugan didapuk sebagai kuil hindu terbesar se-Asia Tenggara. Menara setinggi 47 meter menjulang megah.


Dr. A.S Kobalen. M.Phil. PhD (61), inisiator dari pembangunan Kuil Murugan menceritakan bagaimana perjuangan rumah ibadah ini. Umat hindu keturunan India Selatan sudah cukup lama mendambanya, sekitar 75 tahun perjuangan.

“Tempat ini lahir di latar belakangnya sebuah kerinduan panjang oleh masyarakat Hindu perantau dari Sumatra Utara yang ada di Jakarta selama 75 tahun tidak punya rumah ibadah,” katanya kepada rombongan wartawan ditemui di Kuil Murugan pada Sabtu (2/8).

“Kalau mau ibadah numpang-numpang,” kenangnya.

Dr. A.S Kobalen. M.Phil. PhD Inisiator Murugan TempleDr. A.S Kobalen. M.Phil. PhD Inisiator Murugan Temple Foto: (Andhika Prasetia/detikFoto)

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa umat hindu perantauan biasanya masyarakat Sumatra Utara yang berasal dari India Selatan, suku Tamil atau orang India yang bisa berbahasa Tamil.

“Kebetulan di India Selatan itu dewa favoritnya Murugan,” jelasnya.

Dewa Murugan dalam agama hindu dikenal sebagai dewa perang, keberanian dan kebijaksanaan. Ia adalah putra Dewa Siwa dan Dewi Parwati, adik dari Dewa Ganesha.

Sebelum kuil ini hadir, jemaat beribadah ke Durga Temple di Tangerang atau Karawaci. Namun, dewa di kuil-kuil tersebut bukanlah Dewa Murugan.

Dengan air muka yang cerah, Kobalen menceritakan bagaimana Gema Sadhana menjadi payung dan organisasi yang memperjuangkan pembangunan Murugan Temple. Sebagai ketua umum, dirinya mengaku ada banyak orang yang membantu pembangunan rumah ibadah sejak perencanaannya digemakan.

“50 persen pembangunan dari kuil ini merupakan bantuan dari non-hindu. Kebanyakan mengirimkan bahan bangunan,” jelasnya.

Kuil Murugan di Jakarta Barat, menghadirkan nuansa India Selatan lewat arsitektur warna-warni dan patung dewa yang megah.Kuil Murugan di Jakarta Barat, menghadirkan nuansa India Selatan lewat arsitektur warna-warni dan patung dewa yang megah. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Tahun 2019 Gema Sadhana, organisasi kesetaraan dan keragaman agama yang berada di bawah naungan Partai Gerindra mulai bergerak untuk meminta izin pembangunan kepada gubernur DKI. Pada 27 Oktober 2019, saat perayaan Hari Raya Depawali di Ancol, Anies Baswedan yang waktu itu menjabat sebagai gubernur menyetujui permohonan itu secara verbal di depan 4500 orang.

Singkat cerita 14 Februari 2020 diadakan peletakan batu pertama. Di tengah pandemi pembangunan sempat mandek, sampai dua tahun. Setelah itu perlahan-lahan wujud bangunan terlihat berkat bantuan material dan donasi dari masyarakat.

Mantap dengan pondasi, barulah pengurus kuil mendatangkan tenaga ahli seni dari India. “Hampir 61 orang tenaga seni di sini, 44 orang mengerjakan arca yang sudah indah itu di India,” ungkapnya.

Kuil Murugan di Jakarta Barat, menghadirkan nuansa India Selatan lewat arsitektur warna-warni dan patung dewa yang megah.Kuil Murugan di Jakarta Barat, menghadirkan nuansa India Selatan lewat arsitektur warna-warni dan patung dewa yang megah. Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Melihat banyaknya dukungan dari berbagai agama, Kobalen menjanjikan Murugan sebagai simbol kebhinnekaan Indonesia. Selain rumah ibadah, kuil tersebut memang akan dijadikan sebagai tempat wisata. Ia mengapresiasi banyak pihak yang turut mendukung pembangunan kuil.

Saat ini Kuil Murugan masih ditutup untuk umum karena pekerjaan konstruksi dan masih belum menandainya dengan tanda tata tertib. Kolaben mengatakan bahwa saat ini pengurus kuil sedang mengerjakan situs resmi dan aplikasi khusus pengunjung, sehingga di masa depan wisatawan bisa masuk tanpa antrean panjang seperti kemarin.

(bnl/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Aek Sipitu Dai, Pesona Air 7 Rasa Pusuk Buhit Tempat Mandi Raja

Jakarta
Aek Sipitu Dai adalah mata air sakral di Kecamatan Sianjur Mula Mula, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. Mata air berusia ribuan tahun ini dulu digunakan para raja untuk mandi sebelum semedi untuk mengambil keputusan, berharap diberi kesehatan, dan rizki untuk warga serta keturunannya.

Hingga saat ini, mata air di kaki Pusuk Buhit ini masih terus mengeluarkan air meski lingkungan sekitar kering atau musim kemarau. Dengan airnya yang bersih dan bening, Aek Sipitu Dai memberi berkah pada lingkungan sekitar dan pengunjung yang datang.

“Masyarakat percaya keajaiban dari tujuh pancuran mata air Aek Sipitu Dai. Jika mandi dengan hati yang bersih bisa meningkatkan semangat dan motivasi diri, serta menghilangkan penyakit yang tak bisa diobati secara medis,” tulis Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) dalam situsnya mengutip keterangan pemandu Aek Sipitu Dai Pasogit Limbong.

1. Punya 7 rasa

Pancuran dan batu berlubang untuk menumbuk kelapa dan jeruk nipis pada masa lalu di Aek Siputu Dai
Pancuran dan batu berlubang untuk menumbuk kelapa dan jeruk nipis pada masa lalu di Aek Sipitu Dai (dok. BOPDT)

Air di Aek Sipitu Dai sempat dicoba detikTravel yang ternyata memang punya rasa berbeda. Rasa air di mata air pertama cenderung agak asin, sementara yang kedua sedikit bersoda. Beranjak ke mata air ketiga, ada rasa sedikit pahit yang bikin alis berkerut saat mencicipi.

Di mata air keempat rasanya agak bersoda mirip dengan mata air kedua dan keena,. Selanjutnya adalah mata air kelima yang tanpa rasa alias tawar, sedangkan mata air ketujuh rasanya pahit. Seluruh mata air diberi sekat karena kegunaannya sebagai pemandian sakral.

2. Tiap mata air punya nama dan khasiat

Pancuran Pangulu Raja di Aek Siputu Dai
Pancuran Passur Pangulu Raja di Aek Sipitu Dai (dok. BOPDT)

Ketujuh nama mata air Aek Sipiti Dai serta khasiatnya adalah:

  • Pancuran Poso-poso: pancuran untuk kesembuhan bayi yang kurang sehat
  • Pancuran Nasohaguguan: pancuran untuk anak gadis yang belum mendapatkan jodh
  • Pancuran Sait Ladang: pancuran untuk keluarga yang belum dikaruniai keturunan
  • Pancuran Sibaso Bolon: pancuran untuk ibu hamil agar persalinan berjalan lancar
  • Pancuran Passur Pangulu Raja: pancuran untuk pemimpin agar selalu ingat untuk mengayomi masyarakatnya
  • Pancuran Passur guru Tatea Bulan: pancuran untuk keturunan Guru Tatea Bulan agar memperoleh kesehatan dan rezeki
  • Pancuran Pasur Hela: untuk kelompok yang lahir dari marga Sumba untuk memohon banyak rezeki dan berkomunikasi dengan leluhur.

3. Air boleh dibawa pulang

Aek Sipitu Dai
Aek Siputu Dai (dok. Bonauli/detikcom)

Pengunjung bebas membawa pulang air dari Aek Sipitu Dai sesuai keperluannya. Jika tidak membawa botol minum sendiri, pengunjung bisa membeli jeriken dari warung sekitar. Di warung tersedia jeriken plastik berkapasitas 5 liter dengan jarha Rp 10-15 ribu.

Namun air jangan sampai dilangkahi atau diletakkan di lantai tanpa alas. Perlakuan ini dipercaya bisa mengurangi khasiat air. Sebaiknya air diambil dari 7 mata air dan dicampur saat hendak diminum. Air Aek Sipitu Dai kemudian dicampur air biasa dan dikonsumsi sehari-hari untuk menjaga kesehatan tubuh.

4. Boleh ziarah atau sekadar wisata

Aek Sipitu Dai
Aek Sipitu Dai (dok. Bonauli/detikcom)

Menurut Pasogit, pengunjung bisa berwisata atau melakukan ziarah seperti para pendahulu. Namun wisatawan dan peziarah akan masuk lewat pintu berbeda. Wisatawan bisa masuk lewat pintu dan mata air yang mana saja.

Sedangkan untuk peziarah masuk lewat gerbang inti yang letaknya di pancuran paling tinggi. Peziarah berdoa lebih dulu dengan membawa persembahan di gerbang terletak di pojok dalam. Mereka yang ziarah biasanya mengenakan ulos dan dipandu selama di pancuran.

5. Posisi 7 mata air

Aek Sipitu Dai
Aek Siputu Dai (dok. Bonauli/detikcom)

Posisi tujuh mata air di Aek Sipitu Dai berada di ruang laki-laki dan perempuan. Empat pancuran di ruang perempuan sementara sisanya di tempat khusus laki-laki. Namun pengunjung bisa melihat ketujuh sumur dengan mengucapkan permisi lebih dulu. Pengucapan izin adalah antisipasi jika ada yang sedang mandi.

6. Aturan selama di Aek Sipitu Dai

Mata air 7 rasa di Samosir
Aek Sipitu Dai (dok. Sumper EH Simanjuntak/d’Traveler)

Tidak ada aturan durasi bagi pengunjung selama berada di Aek Sipitu Dai. Namun, pengunjung wajib menjaga kebersihan dan tidak boleh mencuci. Semua sampah harus dibersihkan dan tidak meninggalkan jejak. Jeriken wajib dibeli sesuai kebutuhan dan dibawa pulang.

Halaman 2 dari 7

Air di Aek Sipitu Dai sempat dicoba detikTravel yang ternyata memang punya rasa berbeda. Rasa air di mata air pertama cenderung agak asin, sementara yang kedua sedikit bersoda. Beranjak ke mata air ketiga, ada rasa sedikit pahit yang bikin alis berkerut saat mencicipi.

Di mata air keempat rasanya agak bersoda mirip dengan mata air kedua dan keena,. Selanjutnya adalah mata air kelima yang tanpa rasa alias tawar, sedangkan mata air ketujuh rasanya pahit. Seluruh mata air diberi sekat karena kegunaannya sebagai pemandian sakral.

Ketujuh nama mata air Aek Sipiti Dai serta khasiatnya adalah:

  • Pancuran Poso-poso: pancuran untuk kesembuhan bayi yang kurang sehat
  • Pancuran Nasohaguguan: pancuran untuk anak gadis yang belum mendapatkan jodh
  • Pancuran Sait Ladang: pancuran untuk keluarga yang belum dikaruniai keturunan
  • Pancuran Sibaso Bolon: pancuran untuk ibu hamil agar persalinan berjalan lancar
  • Pancuran Passur Pangulu Raja: pancuran untuk pemimpin agar selalu ingat untuk mengayomi masyarakatnya
  • Pancuran Passur guru Tatea Bulan: pancuran untuk keturunan Guru Tatea Bulan agar memperoleh kesehatan dan rezeki
  • Pancuran Pasur Hela: untuk kelompok yang lahir dari marga Sumba untuk memohon banyak rezeki dan berkomunikasi dengan leluhur.

Pengunjung bebas membawa pulang air dari Aek Sipitu Dai sesuai keperluannya. Jika tidak membawa botol minum sendiri, pengunjung bisa membeli jeriken dari warung sekitar. Di warung tersedia jeriken plastik berkapasitas 5 liter dengan jarha Rp 10-15 ribu.

Namun air jangan sampai dilangkahi atau diletakkan di lantai tanpa alas. Perlakuan ini dipercaya bisa mengurangi khasiat air. Sebaiknya air diambil dari 7 mata air dan dicampur saat hendak diminum. Air Aek Sipitu Dai kemudian dicampur air biasa dan dikonsumsi sehari-hari untuk menjaga kesehatan tubuh.

Menurut Pasogit, pengunjung bisa berwisata atau melakukan ziarah seperti para pendahulu. Namun wisatawan dan peziarah akan masuk lewat pintu berbeda. Wisatawan bisa masuk lewat pintu dan mata air yang mana saja.

Sedangkan untuk peziarah masuk lewat gerbang inti yang letaknya di pancuran paling tinggi. Peziarah berdoa lebih dulu dengan membawa persembahan di gerbang terletak di pojok dalam. Mereka yang ziarah biasanya mengenakan ulos dan dipandu selama di pancuran.

Posisi tujuh mata air di Aek Sipitu Dai berada di ruang laki-laki dan perempuan. Empat pancuran di ruang perempuan sementara sisanya di tempat khusus laki-laki. Namun pengunjung bisa melihat ketujuh sumur dengan mengucapkan permisi lebih dulu. Pengucapan izin adalah antisipasi jika ada yang sedang mandi.

Tidak ada aturan durasi bagi pengunjung selama berada di Aek Sipitu Dai. Namun, pengunjung wajib menjaga kebersihan dan tidak boleh mencuci. Semua sampah harus dibersihkan dan tidak meninggalkan jejak. Jeriken wajib dibeli sesuai kebutuhan dan dibawa pulang.

(row/fem)

Simak Video “Video: Pria Dianiaya hingga Tewas saat Tidur di Masjid Sibolga Sumut
[Gambas:Video 20detik]








Sumber : travel.detik.com