Tag Archives: sumber mata air

Kisah Umbul Besuki yang Cantik di Klaten, Dulu Mau Dinamai Umbul Robert



Klaten

Tak ada yang menyangka, Umbul Besuki yang cantik di Klaten sempat mau diberi nama Umbul Robert. Kok bisa? Begini ceritanya….

Di desa Ponggok, Klaten ada beberapa umbul atau sumber mata air yang menjadi destinasi wisata. Salah satu yang paling terkenal tentu saja Umbul Ponggok.

Selain Umbul Ponggok, ada juga Umbul Besuki yang namanya sedang naik daun di kalangan wisatawan. Rupanya, ada sebuah kisah menarik tentang umbul ini. Sebelum diberi nama umbul Besuki, umbul ini sempat mau diberi nama Umbul Robert.


Zaman dulu, umbul ini memang sering untuk mandi para pembesar Belanda. Salah satunya bernama Robert. Maka dari itu, umbul ini sempat mau diberi nama Umbul Robert, namun tidak jadi.

“Dulu orang-orang tua ingin dinamakan Umbul Robert. Karena dulu pernah ada orang Belanda mandi di situ namanya Robert,” ungkap Ketua Pokdarwis Wanua Tirta Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Triyono beberapa waktu lalu.

Akhirnya, umbul ini pun dinamakan Umbul Besuki. Besuki diambil dari kata Basuki yang berarti Sejahtera dalam bahasa Indonesia.

“Akhirnya sering dinamakan Umbul Besuki, dari kata basuki (sejahtera). Sampai sekarang jadi Besuki,” kata Triyono.

Pada zaman dulu, Umbul Besuki hanya terdiri dari satu kolam mata air. Di sisi utaranya ada hutan dan jurang aliran sungai.

“Sebelahnya jurang tapi ya airnya dari umbul Besuki juga. Mata airnya tidak terlalu besar, tapi mengaliri yang lain,” ujar Triyono.

Umbul Besuki di Klaten mulai dikunjungi wisatawanUmbul Besuki di Klaten Foto: Achmad Syauqi/detikcom

Namun sejak dikembangkan pada tahun 2018, Umbul Besuki terbagi menjadi beberapa bagian. Umbul utama berada paling atas, berupa kolam alami seukuran 500 meter persegi.

Di bagian jurangnya, disulap menjadi satu kolam renang modern untuk anak-anak. Sementara di tebing bagian timur, dibuat dua kolam modern berbentuk oval di tengah hutan pohon jati.

Umbul Besuki pun semakin dikenal dan menjadi destinasi wisata alternatif selain umbul Ponggok. Ke depan, pengembangan umbul ini akan terus dilakukan.

“Jadi ke depan di situ menjadi komplitnya Umbul Ponggok. Karena nanti ada home stay, camping ground sampai out bond,” imbuh Triyono.

Cara Menuju ke Umbul Besuki

Untuk menuju ke Umbul Besuki, traveler bisa ditempuh perjalanan dari kota Klaten ke Utara sejauh sekitar 20 kilometer. Dari arah jalan Jogja-Solo, jaraknya hanya sekitar lima kilometer ke barat daya.

Dari jalan Jogja-Solo, sesampainya di kota Kecamatan Delanggu, pengunjung bisa lewat jalan Delanggu-Ponggok. Setelah Kantor Desa Ponggok, ambil kanan ke Umbul Besuki.

Umbul Besuki letaknya memang tidak jauh dari Umbul Ponggok yang berada di tepi jalan Janti- Karanganom. Dari Umbul Ponggok, Umbul Besuki cuma berjarak sekitar 500 meter ke arah Utara. Lokasinya tepat berada di tepi persawahan.

Pintu masuk utamanya berada di dekat area parkir. Untuk masuk, traveler hanya perlu tiket seharga Rp 10.000 per orang. Jam buka dari 07.00 pagi sampai 16.00 sore.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Konon, Ini Mata Air Tempat Wudu Sunan Kalijaga



Gunungkidul

Ada sebuah sumber mata air di Gunungkidul yang dipercaya sebagai tempat wudunya Sunan Kalijaga. Sumber air Tuk Dungsono, begitu warga setempat mengenalnya.

Mata air Tuk Dungsono itu berada di Padukuhan Plumbungan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Mata air itu terletak di pinggir sungai Kedung Sono.

Airnya mengalir dari sepotong bambu yang tertancap di batu tebing yang tingginya sekitar 2,5 meter. Terdapat atap dari seng yang menaungi sumber itu.


Air yang keluar dari sumber tersebut tampak bening, kontras dengan air di sungai yang berwarna nyaris seputih susu.

Di bawah aliran air itu terdapat sebuah ember biru berukuran kurang lebih 50 liter. Dari permukaan ember hingga ke atas tebing terdapat dua ruas paralon.

Dua ruas paralon itu tersambung melalui sebuah mesin pompa air. Saat Tim detikJogja mencoba meminum air tersebut, airnya terasa segar dan tidak berbau.

Tampak seorang warga sekitar dengan anaknya sedang mengambil air dari sumber tersebut menggunakan galon berkapasitas 15 liter.

Warga itu bernama Gunawan (41). Ia menuturkan jika mata air itu dipercaya pernah menjadi tempat wudu Sunan Kalijaga.

“Katanya sumber di sini dulunya tempat wudunya Sunan Kalijaga. Tapi saya tidak paham betul bagaimana ceritanya,” ungkap Gunawan kepada saat ditemui di lokasi, Minggu (4/2/2024).

Ia mengatakan biasa mengambil air bersih untuk dikonsumsi di sumber tersebut.

“Sehari-harinya biasa ambil air di sini buat minum sama memasak,” katanya.

Mata Air Muncul Saat Sunan Kalijaga Mau Salat

Dukuh Plumbungan, Sulistyo menuturkan, sumber air tersebut dipercaya muncul ketika Sunan Kalijaga hendak menunaikan salat saat berada di wilayah tersebut. Saat itu, kata Sulistyo, cuaca sedang kemarau.

“Dulu kan gini cerita yang kami yakni, Sunan Kalijaga sama muridnya nyari air untuk wudu pas musim kemarau tapi tidak ada air. Akhirnya Sunan Kalijaga nyari di sana. Dia memasukkan telunjuknya di batu itu (lalu muncullah mata air tersebut),” jelas Sulistyo saat ditemui di Padukuhan Plumbungan, Minggu (4/2/2024).

Mata air itu, jelas Sulistyo, dikenal sebagai Tuk Dungsono karena dulunya sungai tersebut dipenuhi oleh pohon Sonokeling.

“Karena di tempat itu banyak Sonokeling dulunya akhirnya akhirnya dikasih nama sama warga Kedung Sono atau Tuk Dungsono,” terangnya.

Usai muncul mata air itu, kata Sulistyo, Sunan Kalijaga bersama muridnya menunaikan salat di sungai tidak jauh dari sumber air yang saat itu sedang kering. Sulistyo menjelaskan posisi sungai tempat Sunan Kalijaga salat berada di atas sumber dan tepat menghadap ke kiblat.

“(Sungai) Di atas itu ada batu yang rata menghadap ke kiblat. Pas menghadap kiblat bener,” katanya.

Lokasi Tuk Dungsono yang berada di samping sungai Kedung Sono, Gunungkidul, pada Minggu (4/2/2024).Mata air Tuk Dungsono Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja

Pada awalnya, Sulistyo mengungkapkan sumber air itu tidak diberi bambu. Diameter lubangnya, tutur Sulistyo, dulunya hanya sebesar telunjuk orang dewasa.

“Awalnya nggak dikasih bambu, sekarang dikasih untuk ambil air. Dulu besarnya setelunjuk jari. Besar mungkin faktor air,” terangnya.

Pada saat gempa di Jogja tahun 2006 silam, Sulistyo menceritakan banyak sumber air di wilayahnya yang mati. Namun tidak dengan sumber air Tuk Dungsono.

“Dulu gempa tahun 2006 itu banyak yang mati sumber di sini. Dan itu (Tuk Dungsono) yang belum berubah sampai sekarang,” terangnya.

“Sekarang dimanfaatkan untuk air minum yang deket sini. Tidak pernah macet, airnya stabil meskipun kemarau,” lanjutnya.

Kini, jelas Sulistyo, banyak masyarakat yang tidak paham akan cerita yang dipercaya tersebut. Ia mendapat cerita tersebut sewaktu kecil dari kakeknya.

“Kalau sekarang masyarakat sudah hampir nggak paham. Dulu mbah yang cerita sebelum tidur. Mbah saya dulu dukuh kedua yang pertama itu bapaknya si mbah,” ungkapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Cerita Mata Air Asin yang Diburu Warga Tasikmalaya buat Lebaran



Tasikmalaya

Menjelang Lebaran, sebuah sumber mata air dengan rasa asin banyak diburu oleh warga Tasikmalaya. Mereka menggunakan air asin itu untuk membuat ketupat.

Penjualan air asin Tanjung di Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Warga tasik mulai terlihat antre untuk membeli sumber mata air yang dijadikan bahan pembuatan ketupat tersebut.

Mata air asin Tanjung ini merupakan salah satu keunikan yang ada di Tasikmalaya. Jika biasanya mata air punya rasa tawar, tapi sumber mata air Tanjung malah mengeluarkan air asin.


Oleh masyarakat, air ini kerap dimanfaatkan untuk membuat ketupat. Selain bisa memberi rasa yang khas pada ketupat, air asin Tanjung ini juga dipercaya membuat ketupat lebih tahan lama dan bisa awet sampai seminggu.

Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak dulu dan membawa berkah bagi daerah setempat. Sejumlah warga terlihat sudah memadati Kampung Cukang, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, tempat di mana sumber air asin Tanjung ini berada.

Ketua Pengelola air asin Tanjung, Iman Hermansyah (42) mengatakan pembeli air asin Tanjung mulai ramai sejak awal bulan Ramadan.

“Dari tanggal 5 Ramadan sudah ramai masyarakat yang membeli air asin Tanjung untuk membuat ketupat Lebaran. Penjualan meningkat sekitar 60 persen dari hari-hari biasa,” kata Iman.

Iman mengatakan mereka yang membeli air asin Tanjung untuk bahan pembuatan ketupat, tidak hanya datang dari wilayah Tasikmalaya saja, melainkan dari berbagai daerah.

“Pembeli tidak hanya warga Tasikmalaya, dari luar seperti Ciamis, Banjar, Garut dan daerah lainnya juga ada,” kata Iman.

Tak sedikit pula mereka yang datang, membeli dalam jumlah banyak dengan tujuan untuk dijual kembali.

“Selain mereka membeli untuk membuat ketupat di rumah, ada juga mereka yang akan menjual lagi,” jelasnya.

Harga jual air asin ini relatif murah, satu galon dijual dengan harga Rp 10 ribu saja.

“Kalau jeriken biru yang 35 liter Rp 15 ribu, kalau galon Rp 10 ribu,” papar Iman.

Hasilkan Ketupat dengan Rasa yang Khas

Iman membenarkan membuat ketupat dengan air asin Tanjung akan memberikan cita rasa yang khas serta tekstur ketupat yang lebih kenyal dan tahan lama.

“Air Tanjung itu keistimewaannya seperti ada pengawet alami. Rasa ketupat atau lontong jadi beda, agak kenyal juga. Terus ketupat kalau pakai air asin Tanjung bisa bertahan sampai 6 hari,” ujar Iman.

Dia juga berharap penjualan di Lebaran kali ini akan semakin meningkat sehingga warga bisa mendapatkan cuan yang maksimal.

Mata air unik yang memiliki rasa asin bernama Air Tanjung di Tasikmalaya.Mata air unik yang memiliki rasa asin bernama Air Tanjung di Tasikmalaya. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

“Biasanya semakin dekat Lebaran semakin membeludak, kalau stok banyak,” kata Iman.

Sumber mata air unik ini dikelola oleh pihak RW dengan melibatkan warga. Setidaknya ada 21 warga yang dilibatkan dalam bisnis pemanfaatan Air Tanjung ini.

Sehari ada 3 atau 4 orang yang jaga. Mereka bertugas melayani pembeli, menampung air dan lain-lain. Warga yang bekerja tentu dapat upah, sisanya disetor ke kas RW.

Secara swadaya masyarakat mengelola air itu dengan cara menampungnya ke bak-bak penampungan. Kemudian dari bak dialirkan ke dua tangki air kapasitas 1000 liter.

Air Tanjung memang perlu ditampung sebagai stok, karena volume mata air tidak besar. Penasaran dengan rasanya yang menurut warga asin, beberapa bulan lalu kami pernah mencoba mencicipi air Tanjung tersebut.

Rasa asin memang ada, tapi tak terlalu kentara. Lidah justru merasakan gurih. Seperti air kelapa, tapi air kelapa tua yang hambar.

Beberapa saat setelah menenggak, tenggorokan terasa kering seperti usai minum air laut. Begitu kira-kira rasa dari mata air unik ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com