Tag Archives: sumedang

‘Menara Eiffel’ dari Sumedang, Destinasi Baru di Kota Tahu



Sumedang

Ada destinasi wisata baru di Kota Tahu Sumedang. Destinasi itu adalah ‘Menara Eiffel’ ala kota Paris. Seperti apa wujudnya?

Berbicara objek wisata di Kabupaten Sumedang tentu tidak akan ada habisnya. Terbaru, landmark yang menjadi ikonik dunia tak lain yakni menara Eiffel telah mejeng di kota ini.

Menara Eiffel tersebut berdiri dengan kokoh di objek wisata Tanjung Duriat yang berada di Desa Pejagan, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Jelas berbeda dengan menara Eiffel asli, di sini menara Eiffel dikonsep berwarna merah serta ukuran yang lebih kecil.


Hadirnya menara Eiffel ini tentu menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Sebab, tak lain dan tak bukan wisatawan dapat berswafoto dengan berlatar belakang menara yang memiliki tinggi sekitar 15-20 meteran itu.

Salah satu wisatawan asal Sumedang, Nana (34), mengaku menikmati dengan adanya konsep bangunan dari menara Eiffel. Ia yang datang bersama dengan keluarganya langsung bergegas mengabadikan momen dengan background menara Eiffel.

“Sebelumnya udah pernah ke sini cuman kalau menara Eiffel ini baru pertama kali ngeliat, bagus sih konsepnya bisa foto-foto terus belakangnya ada menara Eiffel,” ujar Nana.

Nana mengatakan, meski berbeda dengan aslinya ia tetap merasakan keindahan yang berada di Objek Wisata Tanjung Duriat. Sebab, selain itu, ia bisa menikmati keindahan dari Waduk Jatigede.

“Ya biarpun bentuk dan tingginya jauh dari aslinya tapi masih keren lah, kalau ke Paris mah kan jauh banget sama mahal biayanya jadi boleh lah ini jadi alternatif,” katanya.

Sementara itu, menurut Manager Marketing Communication Tanjung Duriat, Karya Indra, konsep bangunan dari menara Eiffel baru dihadirkan saat momen libur lebaran 2024. Pihak pengelola tak ingin wisatawan yang datang terlihat bosan.

“Lebaran kemarin bisa dibilang peluncuran Red Eiffel atau Eiffel Merah, sebagai daya tarik baru di Tanjung Duriat,” kata Karya.

“Karena setiap tahun pengunjung selalu bertanya apa yang baru di tahun sekarang. Oleh karena itu kami menghadirkan salah satu ikon dunia yakni Menara Eiffel, kami sebut Red Eiffel,” ungkapnya.

Eiffel Merah sambung Karya, dengan latar belakang langsung perairan Jatigede, kata Karya, Eiffel Merah menjadi salah satu spot foto favorit saat lebaran kemarin.

“Sebetulnya konsep utamanya kami ingin ada spot yang dari atas untuk pengunjung bisa memfoto taman berbentuk hati. Warnanya merah mencolok, bisa dinaiki, dengan latar biru perairan Jatigede,” ucapnya.

Selain Eiffel Merah, daya tarik baru lainnya di Tanjung Duriat yakni kamera 360 derajat dan Giant Frame atau bingkai raksasa.

“Dengan 360 pengunjung bisa membuat video sudut pandang 360 derajat, seperti yang sedang ngetren sekarang,” pungkasnya.

Untuk bisa menikmati spot-spot yang berada di Objek Wisata dari Tanjung Duriat ini wisatawan hanya perlu merogoh kocek Rp 20 ribu saja untuk pintu masuk. Namun, untuk spot-spot tertentu wisatawan dikenakan tarif yang berbeda.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mitos-mitos di Mata Air Cigempol, Konon Bisa Bikin Awet Muda



Sumedang

Mata air Cigempol di Sumedang menyimpan mitos-mitos yang dipercayai oleh warga setempat. Konon, mata air ini bisa bikin awet muda lho!

Mata air yang terletak di Dusun Jemo, Desa Nagrak, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang ini menyimpan mitos yang membuat para wisatawan datang ke sana, bahkan saat malam hari.

Sekretaris Desa Nagrak, Hendra Juanda menceritakan, tidak sedikit warga sekitar hingga warga luar daerah, sering mendatangi mata air Cigempol hanya untuk mandi pada malam hari.


“Pada malam tertentu banyak yang mandi di lokasi ini, warga sekitar tidak pernah mengetahui kalau ada orang luar yang suka mandi di situ,” ujar Hendra saat berbincang belum lama ini.

Menurut Hendra, dari laporan yang ada, warga datang hanya sekadar mandi di mata air Cigempol rata-rata pada malam Jumat Kliwon.

Namun, ia memastikan bahwa yang melakukan hal tersebut bukan hanya warga sekitar saja, melainkan terdapat warga dari luar Desa Nagrak hingga luar Sumedang.

“Soalnya pasti mereka mandinya kayak tengah malam jadi tidak diketahui oleh warga sekitar. Mereka datangnya pasti setiap malam Jumat Kliwon,” katanya.

“Kadang emang pernah juga warga jauh datang terus datang bawa galon besar atau botol minuman buat ngambil air yang banyak,” sambungnya.

Terkait dengan mitos itu, Hendra sendiri pun ikut merasakannya. Ia mengaku terdapat perbedaan yang dirasakan jika mencuci wajah di rumah sendiri dengan di mata air Cigempol tersebut.

“Awet muda, efek udah mandi kayak lebih segar sama berbeda aja kalau mandi di rumah. Saya juga memang merasakan hal sama cuci muka di rumah atau cuci muka di sini beda aja,” pungkasnya.

Seperti diketahui, keberadaan mata air Cigempol, Buah Dua, Sumedang ini sudah ada sejak ratusan tahun. Terdapat beberapa manfaat seperti membantu warga saat wilayahnya dilanda musim kemarau hingga dapat membantu mengaliri air ke area persawahan warga.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Jembatan Cincin Jatinangor yang Konon Horor



Sumedang

Ada sebuah jembatan ikonik di daerah Jatinangor. Jembatan Cincin, begitu warga setempat mengenalnya. Konon, jembatan ini horor. Apa iya?

Selepas menunaikan salat Zuhur, seorang pria tua berjalan menuju ke gapura di jalan menuju Jembatan Cincin di Desa Cikuda, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Mengenakan peci hitam, kaus cokelat dan celana pendek, pria itu langsung duduk di bawah gapura yang di bawahnya memiliki teras untuk bersantai.


Pria itu bernama Aba Adi Brata. Sesampainya di gapura itu, Aba yang kini usaianya sudah 75 tahun langsung duduk untuk bersantai sejenak di teras tersebut. Menurut Aba, teras itu menjadi tempat nyaman baginya kala dia keluar rumah.

“Bukan kereta api (angkutan masyarakat umum), tapi lori, kereta angkutan yang digunakan untuk ke perkebunan,” kata Aba sambil menunjuk ke arah Jembatan Cincin.

Jembatan yang dibangun pada 1917-1918 memiliki pesona tersendiri dan pemandangannya yang sangat indah. Namun cerita-cerita horor kerap menghantui jembatan itu.

Aba pun menjelaskan pengalaman mistis yang diceritakan terkait jembatan Cincin. Rata-rata, pengalaman itu karena terbawa perasaan takut dan salah penglihatan.

“Seperti gini, waktu itu bapak (Aba) pas pulang nonton bioskop malam-malam di tempat yang gelap. Bapak lihat seperti berwujud orang yang sedang melambai. Bapak saat itu lari terbirit-birit, eh besoknya pas dilihat ternyata pohon pisang,” ujar Aba.

Menurut Aba, jembatan Cincin dianggap berbau mistis dan horor karena dulu oleh sebagian orang dijadikan tempat untuk meminta nomor togel. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa di jembatan tersebut bisa mendatangkan keberuntungan dari makhluk gaib.

“Itu kenapa angker karena awalnya sudah dianggap begitu, padahal itu sulit dibuktikan. Jika suatu tempat dianggap angker, makhluk selain manusia akan senang menggoda kita. Harusnya kita cukup sama Allah saja tempat meminta dan tempat menaruh rasa takut, bukan sama hal begituan (makhluk gaib),” tutur Aba.

Tak Ada Horor di Jembatan Cincin

Aba pun membantah isu yang menyebut jembatan itu mengandung nuansa mistis. Tak pernah ada kejadian apapun yang berkaitan dengan hal mistis atau horor selama dia tinggal di dekat jembatan Cincin.

“Enggak, enggak angker. Bapak orang sini asli. Pernah mahasiswa sini saya tegur, jangan macam-macam sebar isu itu. Banyak juga mahasiswa yang melintas ke sini malam-malam, tidak ada apa-apa,” tuturnya.

Jembatan Cincin di Sumedang.Jembatan Cincin Foto: Wisma Putra/detikJabar

Aba juga menyebut, jika ada yang menyebut kawasan tersebut angker itu hanya isu burung yang tidak dapat dibuktikan keasliannya.

“Itu hanya isu, dikarenakan gini di sini banyak kosan paling dekat dan lainnya iri, yang dekat penuh yang lain tidak, biasa nakut-nakutin,” tambahnya.

Dindin (54), salah satu pengendara yang melintas di jalan itu mengatakan, dia sering pulang-pergi lewat jembatan itu di malam hari. Menurut Dindin, baik-baik saja.

“Enggak pernah tuh ada hantu (horor) atau apa, aman-aman saja,” ujarnya.

Dindin mengakui jika keberadaan jembatan itu sangat membantu aktivitas warga.

“Kalau enggak ada jembatan ini, yang mau sekolah harus muter, begitu juga petani. Berguna sekali, khususnya bagi anak sekolah,” tambahnya.

Sejarah Jembatan Cincin

Jembatan Cincin dulu dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara pada tahun 1917/1918. Rencananya, jembatan itu untuk jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali.

“Dulu namanya SS (Staatsspoorwegen), bukan PT KAI, bukan PJKA, tapi SS (yang membangun jembatan). Bukan jalur kereta api umum, tapi digunakan lori untuk mengangkut hasil pertanian, itu juga kata kakek bapak yang bekerja di SS,” jelas Aba.

Menurut Aba, sebelum kawasan tersebut dipenuhi pemukiman, kereta lori berlalu lalang di jembatan itu untuk mengangkut hasil-hasil perkebunan dari mulai kawasan Jatinangor hingga Tanjungsari. Hail panen itu nantinya diangkut ke kota oleh Belanda.

“Bukan jalur kereta api tapi jalur lori, seperti angkutan tebu atau barang. Anak-anak sekarang tidak tahu riwayatnya, bukan kereta api, bapak tanyakan langsung ke kakek bapak dulu,” ujarnya.

Menurut Aba, dulunya perkebunan di kawasan Jatinangor ditanami tanaman haramai yang biasa dihinggapi ulat sutera dan hasilnya di bawa ke luar negeri dijadikan kain sutra. Setelah itu, diganti tanaman teh dan diganti kembali dengan pohon karet.

“Teh itu diganti lagi, dikarenakan Jatinangor daerah panas tidak seperti Ciwidey dan Lembang. Hujan bagus, kemarau kering dan diganti lagi jadi kebun karet,” tuturnya.

Saat ini, jembatan tersebut digunakan warga sebagai jalan penghubung antar kampung. Jalan itu biasa digunakan petani, pelajar, hingga masyarakat umum.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Bekas Tambang, Kini Jadi Destinasi Wisata Alam di Sumedang



Sumedang

Dulu tempat di Sumedang ini adalah bekas tambang galian C. Namun sekarang, destinasi itu berhasil disulap menjadi tempat wisata alam yang menawan.

Kabupaten Sumedang kini memiliki tempat wisata ekosistem. Menariknya, wisata ini merupakan hasil reklamasi dari bekas galian C.

Lokasinya berada di kaki gunung Tampomas, tepatnya di Dusun Ciseureuh, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.


Hadirnya wisata ekosistem di Sumedang ini ditandai dengan peresmian oleh Penjabat (Pj) Bupati Sumedang Yudia Ramli, pada Kamis (30/1). Menurut Yudia, kehadiran Tampomas ECO Park sendiri menjadi satu-satunya wisata di Sumedang yang berbasis pelestarian lingkungan.

“Hari ini saya meresmikan Tampomas ECO Park di Kabupaten Sumedang. Ini adalah yang pertama satu-satunya yang ada di Sumedang karena ini merupakan basis pelestarian lingkungan,” ujar Yudia.

“Kabupaten Sumedang tentunya merasa bangga dan terima kasih kepada pengagas Tampomas ECO Park,” sambungnya.

Wisata Agrowisata Tampomas ECO Park merupakan hasil dari reklamasi yang dulunya wilayah galian C. Destinasi ini menjadi salah satu daya tarik wisata baru di Sumedang khususnya.

“Yang menarik adalah ini dari reklamasi, kalau yang tidak reklamasi mah mudah tapi ini yang reklamasi yang luar biasa tadi disebutkan, dan ini bagi kita mudah-mudahan menjadi lingkungan menjadi baik, bisa menjadi destinasi wisata, masyarakat sekitar ekonominya bisa meningkat,” katanya.

Tampomas ECO Park yang berdiri di lahan bekas galian C di SumedangTampomas ECO Park Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar

Yudia berharap, dengan kehadiran wisata Tampomas ECO Park bisa menjadi salah satu contoh wisata yang menjadi penggagas wisata dengan konsep reklamasi.

“Yang bagus ini bisa menjadi percontohan kalau secara nasional mudah-mudahan ini bisa menjadi laboratorium nanti misalnya kalau ada yang mana ECO park tuh contohnya di Sumedang ada reklamasi. Tapi bukan hanya lingkungan yang indah tapi juga bermanfaat,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama pengelola Tampomas ECO Park, Gilar Sabilah menyampaikan nantinya konsep wisata Tampomas ECO Park akan punya berbagai wahana, termasuk penginapan dengan pemandangan yang indah.

“Jadi konsep tempat ini tuh sebenarnya kita punya tagline di sini one stage hiling, jadi satu tempat banyak fasilitas. Jadi orang-orang yang datang kesini itu diharapkan tidak bingung karena apapun di sini ada, fasilitas dari mulai penginapan rumah kayu, terus ada vila, ada caffe, ada restoran makan Sunda, terus ada go car, ada camper van, ada camping ground, ada karaoke dan masih ada fasilitas penunjang lainnya,” kata Gilar.

Untuk menjadi sampai dengan sekarang, kata Gilar, proses reklamasi tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Hingga saat ini pembangunan sendiri baru mencapai 45 persen dan akan ditargetkan pada tahun 2026 sudah beroperasi sepenuhnya.

“Betul ini dulunya bekas galian C. Proses reklamasi kita hampir 4 tahun setengah, jadi dulu dari masih galian pasir sampai sekarang ini kita butuh waktu 4 tahun setengah,” kata dia.

“Kalau kita pembangunan sekarang hampir 45 persen target kita di tahun depan sudah 100 persen. Cuman di pertengahan tahun ini kita buka untuk umum,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

8 Gunung di Jawa Barat yang Cocok untuk Pendaki Pemula


Jakarta

Ada banyak gunung di Jawa Barat yang sering dikunjungi para pendaki. Beberapa di antaranya bahkan tergolong aman untuk pendaki pemula.

Saat ini, mendaki gunung menjadi salah satu aktivitas yang banyak dilakukan masyarakat. Namun, dibutuhkan fisik dan mental yang kuat sebelum travelers melakukan pendakian.

Jika kamu baru pertama kali mendaki gunung, sebaiknya pilih gunung yang tidak terlalu tinggi dan treknya cukup landai. Sebab, dikhawatirkan kamu tidak kuat saat melewati medan berat, apalagi travelers belum punya banyak pengalaman mendaki gunung.


Di wilayah Jawa Barat, ada sejumlah gunung yang cocok untuk pendaki pemula. Lantas, apa saja gunung tersebut? Simak daftarnya dalam artikel ini.

Gunung di Jawa Barat yang Cocok untuk Pendaki Pemula

Terdapat sejumlah gunung di Jawa Barat yang populer di kalangan pendaki, seperti Gunung Gede, Papandayan, hingga Kerenceng. Berikut daftar gunung yang pas untuk pendaki pemula yang dirangkum dari catatan detikcom:

1. Gunung Gede

Rekomendasi yang pertama ada Gunung Gede. Lokasinya berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP). Secara administratif, lokasi taman nasional ini masuk ke dalam tiga kabupaten di Jawa Barat, yakni Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.

Gunung Gede menjadi favorit para pendaki pemula karena treknya yang tidak terlalu curam. Selain itu, gunung dengan ketinggian 2.958 mdpl ini menawarkan pemandangan alam yang memukau di sepanjang jalur pendakian.

Saat mendaki di Gunung Gede, kamu bisa melihat Telaga Biru dan air terjun. Terdapat juga Alun-alun Suryakencana yang menandakan puncak Gunung Gede sudah dekat.

2. Gunung Papandayan

Gunung Papandayan terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2.665 mdpl ini juga termasuk ramah pendaki.

Salah satu jalur yang aman dengan medan yang tidak terlalu sulit adalah via jalur Cisurupan. Sambil menyusuri hutan dan jalan setapak, travelers akan disuguhkan oleh panorama alam yang memukau.

Selama mendaki, kamu juga bisa menemukan hutan mati, padang bunga abadi edelweis, pepohonan hijau yang rindang, udara segar, dan kawah. Sebagai pengingat, Gunung Papandayan masih cukup aktif dan tercatat pernah beberapa kali erupsi.

3. Gunung Kencana

Apabila tidak mau mendaki gunung yang terlalu tinggi, Gunung Kencana bisa menjadi opsi terbaik. Dengan ketinggian hanya 1.802 mdpl, durasi pendakian dari titik awal hingga highland camp memakan waktu sekitar 1 jam saja.

Gunung Kencana berlokasi di Rawa Gede, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Terdapat tiga jalur yang bisa dipilih, yakni via lerengan Barat Daya Gunung Paseban, via puncak Karvak, dan rute Paseban.

4. Gunung Guntur

Rekomendasi berikutnya adalah Gunung Guntur. Dengan ketinggian 2.249 mdpl, gunung ini termasuk dalam kategori ramah bagi pendaki pemula.

Sepanjang trek pendakian, travelers akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah. Setibanya di puncak gunung, kamu dapat menyaksikan panorama Kota Garut dari atas awan.

5. Gunung Burangrang

Pendakian di Gunung Burangrang via Pangheotan bisa menjadi pilihan terbaik bagi pendaki pemula. Sebab, medan yang dilalui tidak terlalu sulit dan cukup landai, sehingga bisa melakukan pendakian santai.

Namun, jalur pendakian yang dimulai dari Cikalong Wetan, Purwakarta, ini kurang diminati banyak pendaki karena waktu tempuhnya bisa mencapai lima jam untuk bisa tiba di puncak.

Meski begitu, detikers tetap disuguhkan oleh lanskap yang indah dan memanjakan mata. Selain itu, kamu juga bisa menyaksikan panorama Kota Bandung dari atas langit.

6. Gunung Kerenceng

Gunung Kerenceng juga bisa menjadi opsi terbaik bagi pendaki pemula. Sebab, treknya cenderung pendek dan bisa ditempuh sekitar 2,5 jam saja.

Namun, medan yang dilalui cukup ekstrem karena di sisi kanan-kirinya terdapat jurang. Jadi, detikers harus hati-hati selama pendakian menuju puncak.

Gunung Kerenceng memiliki ketinggian 1.754 mdpl. Dari atas puncaknya, kamu dapat melihat lanskap Kota Sumedang. Selain itu, kamu juga bisa menyaksikan indahnya Gunung Ciremai, Gunung Cikuray, dan Kawasan Cadas Pangeran.

7. Gunung Putri

Gunung yang berada di Lembang, Bandung, ini termasuk salah satu gunung yang ramah pendaki. Dengan ketinggian 1.578 mdpl, Gunung Putri bisa dijadikan sebagai tempat uji coba atau pemanasan sebelum mendaki gunung yang lebih tinggi.

Setibanya di puncak, travelers bisa mendirikan tenda di camping ground yang telah disediakan pihak pengelola. Selama di puncak Gunung Putri, detikers dapat menyaksikan sunset, sunrise, hingga keindahan city light Kota Bandung.

8. Gunung Malabar

Rekomendasi yang terakhir adalah Gunung Malabar. Dengan ketinggian 2.347 mdpl, Gunung Malabar termasuk salah satu gunung favorit di kalangan pendaki.

Meskipun jalur pendakiannya cukup menantang, tetapi Gunung Malabar masih cocok untuk pendaki pemula. Rasa lelah setelah mendaki selama berjam-jam langsung terbayar lunas setibanya di atas puncak.

Sebab, kamu dapat melihat pemandangan Kota Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu. Wajar saja, sebab Gunung Malabar terletak di Kawasan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

Itu dia delapan rekomendasi gunung di Jawa Barat yang cocok untuk pendaki pemula. Tertarik untuk mendaki gunung yang mana, travelers?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Pesona Gunung Geulis di Sumedang, Cantik Sekaligus Berisiko Gempa


Jakarta

Gunung Geulis di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat ini seperti menyimpan pesona dua mata pedang. Terletak di area hutan perbatasan Kecamatan Jatinangor, Cimanggung, dan Tanjungsari, hutan di Gunung Geulis sangat layak untuk dicicipi para pendaki. Tentunya dengan panduan dari pendaki yang punya kompetensi.

Gunung Geulis Sumedang sisi barat tahun 2021Gunung Geulis Sumedang sisi barat tahun 2021 (dok. Irvan Ary Maulana/wikimedia commons)

Berada di ketinggian 1.282 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Geulis punya hutan yang sangat rimbun dengan vegetasi beragam. Seperti namanya, Gunung Geulis punya alam yang sangat cantik dan kaya biodiversitas bahkan menjadi sarana pendidikan ITB Kampus Jatinangor serta diharapkan menjadi hutan pendidikan universitas ini.

Gunung Geulis juga punya fungsi penting bagi keseimbangan alam dan lingkungan di wilayah Jatinangor. Kawasan ini adalah hutan lindung dengan peran utama sebagai penyangga kehidupan yang mengatur tata air. Peran hutan lindung ini bisa mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan memelihara kesuburan tanah. Keberadaan hutan Gunung Geulis sangat penting bagi kelangsungan kehidupan masyarakat setempat.


Pesona Gunung Geulis di Sumedang, Jawa Barat

Keindahan Gunung Geulis telah lama diolah masyarakat lokal menjadi destinasi wisata. Awalnya pada tahun 2022, pemerintah Desa Jatiroke membangun Teras Gunung Geulis di kawasan lembahnya. Pembangunan flying fox, kolam renang, tempat wisata, dan spot Instagramabel ini melibatkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

Teras Gunung Geulis Sumedang.Teras Gunung Geulis Sumedang (dok. Nur Azis)

Area tempat wisata di kaki gunung ini awalnya adalah lahan bekas galian yang ditinggalkan begitu saja. Teras Gunung Geulis menawarkan pemandangan kota yang sangat mempesona ketika disaksikan malam hari. Lampu-lampu kota bikin wilayah sekitar Gunung Geulis terlihat sangat mempesona dan jangan sampai dilewatkan.

Di tempat yang tidak jauh dari Teras Gunung Geulis berdiri kafe Teras Kopi Geulis. Tempat nongkrong dan ngobrol bareng teman atau keluarga ini menawarkan suasana tenang dan hangat dilengkapi dengan alunan musik. Kafe dengan konsep alam dan outdoor ini menyediakan cukup banyak meja dan kursi, serta saung untuk lesehan.

Sesar Gunung Geulis

Di balik pesonanya yang serba hijau dan rimbun, Gunung Geulis menyimpan risiko terjadinya bencana tektonik. Wilayah ini memiliki sesar atau patahan dengan ukuran normal, yang ditemukan di daerah Tanjungkerta dengan nama Sesar Gunung Geulis. Patahan ini aktif bergerak, meski saat ini belum terjadi gempa dengan kekuatan cukup berbahaya.

Sesar Gunung Geulis terletak memanjang di sekitar puncak Gunung Geulis. Patahan Gunung Geulis ini adalah sesar normal dengan lokasi retakan terdapat pada satu blok dinding batuan. Gerakan batuan berlawanan dengan blok di bawahnya yang berada tepat di bawahnya. Pergerakan sesar Gunung Geulis disebabkan tegangan akibat kerak bumi yang makin panjang.

Dengan kondisi ini, warga sekitar Gunung Geulis dan wisatawan harus punya pengetahuan terkait mitigasi bencana. Warga wajib menjaga keseimbangan lingkungan dan tahu langkah yang diambil jika terjadi bencana. Mitigasi wajib diketahui untuk menekan jumlah korban dan kerugian.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com