Tag Archives: sumut

Sepetak Bali di Serdang Bedagai, Sumut



Sergai

Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) memiliki satu spot bernuansa Bali. Komplet dengan gapura dan pohon bersarung kain poleng laiknya di Pulau Dewata.

Pantai di Kabupaten Sergai itu memanjang kurang lebih 95 kilometer dan membentang di arah timur pulau Sumatera yang menantang perairan Selat Malaka. Di antara panjangnya garis pantai itu, yang dahulu masuk dalam bagian wilayah Kesultanan Melayu Deli, Sergai ada satu spot yang sangat Bali.

Nama area yang bernuansa Bali itu adalah Pantai Bali Lestari. Tepatnya, berada di Desa Pantai Cermin Kanan, Kecamatan Pantai Cermin.


Sesuai namanya, tiba di sini pengunjung akan merasakan sensasi liburan pantai ala pulau dewata Bali. Itu ditunjukkan dari beberapa bangunan dan asesoris khas Bali. Seperti, beberapa batang pohon ditutup dengan kain poleng, yakni kain yang bermotif kotak-kotak hitam putih.

Di pintu masuk gapura utama, tentu saja pengunjung disambut dengan bangunan berbentuk gapura bernama angkul-angkul dan sering dijumpai pada rumah adat Bali.

Pantai Bali LestariPantai Bali Lestari (Perdana Ramadhan/detikSumut)

Kemudian, beberapa patung ikonik masyarakat Bali juga hadir mengisi ruang diantara pasir pantai. Banyak pengunjung menjadikan benda-benda ini sebagai spot unik untuk berfoto mengabadikan momen liburan keluarga mereka.

Suri Kartika, pengunjung asal Kisaran, Asahan kepada detikSumut, Minggu (4/2/2024) mengatakan datang bersama keluarga sebagai tujuan liburan akhir pekan karena konsep pantainya yang unik.

“Kalau di kawasan Pantai Cermin ini kan ada beberapa pilihan pantai. Kita pilih ke sini karena konsep pantainya unik ada nuansa seperti di Bali. Mungkin ini berbeda dengan pantai-pantai yang ada sebelumnya,” kata dia.

Selain alasan keunikan pengalaman nuansa Bali, banyak wisatawan mengaku datang ke sini karena kondisi pasir pantainya yang bersih dibandingkan tempat lain.

“Tempatnya ya saya pikir lebih bersih. Pengelolaannya cukup baik,” kata dia.

Kondisi itu membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati suasana deruan angina bercampur suasana gemuruh gelombang ombak dari pinggir pantai.

Selain itu di lokasi, pengunjung yang malas bermain air pantai bisa duduk-duduk santai di seafood resto yang ada. Untuk harga makanan dan minumannya bisa terbilang cukup terjangkau.

Jika datang dari Kota Medan, Pantai Bali Lestari bisa ditempuh dengan perjalanan darat sejauh 55 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 20 menit melewati jalan tol MKT.

Pengelola objek wisata Pantai Bali Lestari mengenakan retribusi masuk yakni Rp 10.000 per orang, dan biaya parkir kenderaan Rp 10 Ribu untuk mobil Rp 5 Ribu untuk sepeda motor.

***

Artikel ini sudah lebih dulu tayang di detikTravel. Selengkapnya klik di sini.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bioskop Legenda hingga Jadi Tempat Transaksi PSK



Medan

Di Medan, ada satu tempat yang begitu melegenda, yaitu Medan Plaza. Zaman dulu, tempat ini jadi favorit buat nonton film hingga buat transaksi dengan PSK.

Apabila melintas di Jalan Iskandar Muda dari arah Jalan Gatot Subroto di Medan, coba lihat sisi kiri jalan, di situ ada bekas mal legendaris dan tertua di Kota Medan. Namanya Medan Plaza.

Namun sayang, mal ini sudah tiada usai terjadi kebakaran pada Agustus 2015 silam. Saat ini eks Medan Plaza hanya tersisa lahan kosong. Lahan tersebut dipagari seng yang mengelilingi bangunan.


Area sekitar lahan eks Medan Plaza ini sering menjadi pangkalan tukang becak untuk menunggu penumpang. Para tukang becak ini pun bercerita sering mendapat sewa dari pengunjung usai pulang dari Medan Plaza.

“Dulu banyaklah penumpang dari sini (Medan Plaza), udah ada langganan kami dari pegawai di sana. Biasanya kita jemput pas tutup mal, mereka udah keluar itu jam 11 malam. Ada juga kita jemput anak muda, lucunya jumpa pertama mereka di Medan Plaza ini. Si laki-lakinya yang antar pulang perempuannya naik becak, terus baru kita antar ke tempat laki-lakinya. Pernah juga kita antar pasangan ke hotel, macem-macem lah di mal ini,” kenang Sugi, tukang becak yang mangkal di sekitaran lahan eks Medan Plaza.

Selain Sugi, warga Medan banyak menyimpan kenangan dengan plaza yang berdiri tahun 1984 ini. Apalagi, Medplaz, nama populernya, punya bioskop dengan harga termurah se-kota Medan saat itu.

Suhas, warga yang masih merasakan pelayanan dari Medan Plaza, bercerita jika ia sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya untuk nongkrong di plaza ini.

“Ada kenangan zaman sekolah jadi tempat tujuan utama nonton bioskop karena paling murah plus boleh makan dari luar, cuma ya itu bioskopnya kurang nyaman,” ungkap Suhas.

Suhas bercerita bioskop di Medan Plaza ini menjadi favorit karena selain murah namun juga boleh membawa makanan dari luar.

“Satu-satunya bioskop murah di mal Medan yang bisa bawa makanan dari luar. Dulu tiketnya ada yang paket Rp 15 ribu,” Suhas.

Tak hanya Suhas yang rindu momen tersebut. warga medan lainnya, Irhan juga mengenang momen dia dan saudara-saudaranya dari kampung begitu senang menonton bioskop di mal tertua ini.

“Yang paling dirindukan itu ya bioskopnya. Dulu waktu saudara-saudara ke Medan pasti kita nonton bioskop di Medan Plaza, nonton film Nenek Gayung waktu itu. Siap nonton kami pasti ke Plaza Medan Fair untuk jalan-jalan dan makan,” ujar Irhan.

Sering Digoda Pria Genit

Selain bioskop, ternyata banyak warga Medan yang mengenang hal-hal mengerikan seperti berjumpa dengan pria genit yang banyak menggoda para pengunjung, khususnya remaja dan anak kuliahan.

“Waktu kuliah dulu pernah mau ke bioskop diikutin bapak-bapak mulai dari pintu masuk sampai ke pintu masuk bioskop. Kalau ke sana enggak berani pergi sendiri, banyak om-om genit,” kata Via.

Hal serupa juga turut dirasakan Erna, warga Medan yang pernah ‘ditawar’ pria hidung belang usai berbelanja pakaian di Medan Plaza.

“Kenangan paling parah saya pernah ditawar om-om di pintu masuk waktu nunggu taksi. Saya langsung lari ke tempat security itupun mau diikuti tapi saya lari, aduh, lucu tapi seram juga lah waktu itu,” pungkasnya.

Jadi Tempat Transaksi PSK

Sejarahwan Sumut Budi Agustono mengungkapkan bahwa Medan Plaza memiliki daya tarik dengan memiliki banyak tenant seperti restoran es krim, warung rujak yang populer, dan juga bioskop.

“Sebenarnya pada tahun 1990-an, Medan Plaza tidak terlalu modern lah karena awalnya dirancang untuk kelas menengah ke bawah karena produk yang dijual biasa. Tapi di situ ada yang menarik banyak orang seperti es krim Fontain yang tiap hari ramai dan cafe waktu itu belum populer. Jadi hiburan sore kalau tempat nongkrong ya Medan Plaza,” ungkap Budi.

Tak hanya itu, lokasi Medan Plaza yang terkoneksi dengan Jalan Nibung Raya ternyata juga menjadi magnet tersendiri terjadinya pertemuan ataupun transaksi Pekerja Seks Komersial (PSK).

“Antara Medan Plaza dan Nibung Raya itukan terkoneksi juga. Ini menjadi salah satu wilayah yang termasuk PSK yang bertransaksi di sekitar Medan Plaza. Jadi dengan mudah melihat perempuan bertransaksi dengan siapa saja,” ujarnya.

Lanjutnya, Budi menyebutkan transaksi PSK di Medan Plaza merupakan hal yang biasa terjadi, terlebih pada sore hari.

“Mulai sekitar jam 5 sore atau jam 7-8 malam itu banyak sekali orang iseng dan kemudian banyak perempuan yang bertemu dengan banyak pria, mungkin transaksinya tidak di situ tapi bertemu di sana. Saat itu merupakan pemandangan umum di sekitar Medan Plaza, makanya Medan Plaza itu sebagai magnet untuk banyak orang ke sana,” kata Budi.

“Saya kira ini yang tidak dimiliki plaza waktu itu. Di situ terjadi tempat orang bertemu untuk hiburan, belanja, dan menikmati suasana pada sore hari,” pungkasnya.

“Memang Medan Plaza ini zona agak “kemerah-merahan”, jadi saya kira ini saling berkaitan dan memang sirkuit ekonomi ini saling berjalan,” tutupnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Gedung Megah di Medan, Dibiarkan Terbengkalai Puluhan Tahun



Medan

Di Medan, banyak spot untuk ‘menguji nyali’. Salah satunya adalah gedung megah yang dibiarkan terbengkalai selama puluhan tahun. Seperti apa kisahnya?

Ada sebuah gedung megah nan menjulang di Jalan Sisingamangaraja, Medan. Gedung ini sangat menarik perhatian siapa saja yang melintas di jalan tersebut.

Kabarnya, gedung itu sudah terbengkalai lebih dari 20 tahun lalu. Berdasarkan pantauan di lokasi, bangunan gedung megah yang terbengkalai ini berdiri kokoh menjulang dengan eksterior yang bergaya klasik.


Setiap sudut dari bangunan megah terbengkalai ini memiliki bentuk yang unik, dengan adanya desain bak bentuk melingkar dengan hiasan yang mengelilinginya. Belum ada cat yang melapisi dinding dan membuat kesan gedung ini terbengkalai.

Kami pun mencoba bertanya kepada warga sekitar. Berdasarkan informasi dari warga setempat, bangunan ini dulunya direncanakan akan dibuat kantor media.

“Udah 20 tahunan gitu-gitu aja nggak siap bangunannya. Katanya bangunan itu mau dibuat untuk gedung Sinar Indonesia Baru, cuma kabarnya karena pemiliknya itu meninggal udah nggak dilanjutkan lagi,” ungkap warga sekitar Haslan, Sabtu (14/9) akhir pekan lalu.

Namun begitu, tak jarang banyak warga yang pernah melintasi bangunan itu dibuat cukup penasaran terkait kejelasan bangunan megah tersebut.

Beberapa di antara warga Medan menyangka bangunan tersebut akan dijadikan mal. Banyak juga yang mengira bangunan itu bakal menjadi hotel.

“Dulu katanya mau jadi Ramayana, ada yang bilang mau jadi hotel. Ini kalau tidak salah punya keluarga kaya raya di Medan. Katanya ada konflik internal keluarga jadi tidak diteruskan,” kata warga Medan, Trecy.

“Saya udah ribuan kali lewat area itu dan heran juga kenapa belum selesai juga,” sambungnya.

Tak hanya itu, banyak juga masyarakat yang mengaitkan dengan kisah mistis. Soalnya, pernah ada kejadian tragis di bangunan gedung megah itu.

“Dulu di situ ada korban jatuh dari lantai 7 waktu perbaiki lift makanya tidak dilanjutkan lagi, katanya minta tumbal,” kata Teuku, warga Medan.

Sementara itu, Sejarahwan Sumut Budi Agustono menyebutkan bahwa bangunan tersebut dulunya direncanakan akan dibangun kantor media Harian Sinar Indonesia Baru (SIB). Namun ia tak menjelaskan alasan bangunan tersebut belum rampung hingga saat ini.

“Ini lokasinya di Jalan Sisingamaraja dan infonya ini gedung untuk surat kabar SIB,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Fakta-fakta Aceh, Tuan Rumah PON XXI yang Tengah Disorot



Banda Aceh

Penyelenggaraan PON XXI di Aceh-Sumut tengah disorot publik karena banyak kontroversi. Berikut fakta-fakta menarik tentang Aceh, salah satu tuan rumah PON 2024.

Mulai dari venue pertandingan yang bobrok hingga makanan untuk para atlet yang dinilai tidak layak membuat Aceh tengah banyak diperbincangkan publik.

Dikenal dengan sebutan ‘Tanah Rencong’, Aceh memiliki karakteristik unik dan berbeda dari daerah lain di Nusantara. Provinsi ini terletak di ujung paling barat gugusan pulau Indonesia.


Aceh menjadi salah satu provinsi yang kaya akan sejarah, budaya, dan tradisi. Baik dari segi kuliner, budaya, hingga ragam sukunya. Aceh juga menawarkan pesona tersendiri yang patut untuk kita telusuri.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Aceh luasnya sekitar 56.839,09 km2. Menempati posisi strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas di bagian barat Indonesia.

Berikut fakta-fakta unik yang perlu kamu ketahui tentang Aceh:

1. Dijuluki Sebagai Serambi Mekah

Sebagai provinsi paling barat di Pulau Sumatera, Aceh merupakan salah satu daerah pertama masuknya Islam di Indonesia. Selain itu, kota Aceh dikenal dengan tradisi Islam yang kuat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari laman resmi Pemerintahan Provinsi Aceh, Dosen Ilmu Sastra Universitas Sumatera Utara (USU) Supriyatno mengatakan Aceh merupakan bagian wilayah Indonesia pertama yang memeluk agama Islam.

Berdasarkan penuturannya, pada abad ke-7 Masehi wilayah Aceh pertama kali menerima kedatangan Islam yaitu Pasai, Aceh Utara dan Peurelak.

Pengaruh Islam terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh, termasuk dalam seni, musik dan arsitektur. Simbol budaya Aceh salah satunya adalah tari tradisional Saman yang dinamis dan penuh energi yang menjadi budaya keagamaan Islam di Aceh.

2. Kampung Bule di Desa Lamno

Kampung Bule di Indonesia ternyata ada lho di Aceh. Suku unik ini dikenal dengan Suku Lamno yang terletak di desa Lamno, pesisir barat Aceh.

Suku ini sangat istimewa karena warga Lamno memiliki ciri fisik berbeda dari kebanyakan orang Indonesia, yaitu hidung mancung, berpostur tinggi seperti orang Eropa, memiliki mata biru dan berambut pirang.

Warga desa Lamno adalah hasil kawin campur bangsa Portugis yang berdagang di Aceh dan menikahi penduduk setempat. Hal inilah menjadi saksi bisu dari percampuran budaya dan warisan genetik yang langka.

3. Bubur Memek dari Simeulue

Jika mendengar kata “memek”, kamu mungkin mengira ini adalah kata yang berkonotasi negatif. Namun di Aceh, khususnya di pulau Simeulue, “memek” adalah nama hidangan tradisional berbentuk bubur yang terbuat dari campuran pisang, beras ketan, santan, dan gula.

Bubur ini sering disajikan untuk menyambut tamu penting yang berkunjung ke Simeulue serta pada upacara adat. Salah satu warga Simeuleu, Almawati mengatakan mamemek memiliki arti mengunyah atau menggigit.

Memek, salah satu makanan khas Aceh.Memek, salah satu makanan khas Aceh. (Agus Setyadi)

Sejak zaman dahulu, nenek moyang mereka sering mengunyah beras ketan yang diolah dan dicampur pisang. Perlahan-lahan masyarakat menyebut makanan khas ini dengan sebutan memek.

“Masyarakat Simeuleu sejak zaman dahulu membuat bubur memek untuk disantap bersama keluarga, Hal inilah mewariskan makanan khas Simeuleu warisan leluhur,” Kata Almawati seorang warga Simeuleu.

Kuliner khas Pulau Simeulue ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia di tahun 2019. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut membuat bubur memek menjadi salah satu kuliner kebanggaan masyarakat Simeulue.

4. Bahasa Aceh yang Singkat dan Efisien

Bahasa Aceh juga memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam hal singkatan beberapa kata yang digunakan sehari-hari. Contohnya kata “air kelapa” dalam bahasa Aceh diucapkan sebagai “Ie (air) dan Uk (Kelapa).”

Bahasa Aceh cenderung menggunakan kata-kata pendek namun tetap efektif dalam menyampaikan makna. Hal ini menunjukkan keefisienan komunikasi dalam budaya Aceh, dimana masyarakatnya terbiasa berbicara dengan cepat dan lugas.

5. Budaya Tarek Pukat

Budaya “Tarek Pukat” merupakan tradisi menangkap ikan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat pesisir Aceh. Dalam tradisi ini, para nelayan menarik pukat atau jaring besar ke daratan bersama-sama.

Setelah ikan-ikan berhasil ditangkap, hasilnya akan dibagi rata di antara para nelayan. Selain sebagai mata pencaharian, budaya ini juga mencerminkan semangat kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat Aceh, terutama di komunitas pesisir.

Dengan kekayaan budaya dan tradisinya, Aceh bukan hanya sekedar provinsi di ujung barat Indonesia, tetapi juga simbol keberagaman dan kearifan lokal yang tetap hidup dan dihormati sampai hari ini.

Dari kuliner, suku, bahasa, hingga budaya gotong royong, Aceh menawarkan pesona unik yang membuatnya istimewa dan patut kita lestarikan.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com