Tag Archives: sunan gunung jati

Kisah Anak Sunan Gunung Jati Nyaris Dihukum Mati karena Sujud 7 Hari



Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid legendaris yang ada di Cirebon. Berdiri pada tahun 1480, dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati yang dibantu oleh Sunan Kalijaga bersama Raden Sepat dari Majapahit sebagai arsiteknya.

Meski sudah berusia ratusan tahun, Masjid Agung Sang Cipta Rasa masih kokoh berdiri. Selain arsitekturnya yang unik, Masjid Sang Cipta Rasa juga memiliki segudang kisah yang menarik untuk diulas lebih jauh.

Salah satu adalah kisah tentang Pangeran Jaya Kelana yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati yang hampir dihukum mati.


Pegiat sejarah dan naskah kuno, Farihin bercerita, Pangeran Jaya Kelana merupakan saudara dari Pangeran Brata Kelana yang tewas di lautan. Mereka berdua merupakan anak Sunan Gunung Jati dari istrinya yang bernama Syarifah Baghdad. Adik dari Pangeran Panjunan.

Berbeda dengan saudaranya, Pangeran Jaya Kelana dikenal sebagai anak yang memiliki kemampuan khusus alias majdub. Majdub diartikan sebagai seseorang yang dekat dan cinta dengan Allah SWT. Hal ini membuat beberapa sikap dari Pangeran Jaya Kelana yang sulit dipahami oleh masyarakat awam.

Salah satu sikap Pangeran Jaya Kelana yang membuat bingung masyarakat Cirebon adalah ketika Pangeran Jaya Kelana menjadi imam di Masjid Sang Cipta Rasa. Ketika melakukan gerakan sujud, Pangeran Jaya Kelana tidak kunjung bangun dari sujudnya. Konon, selama tujuh hari Pangeran Jaya Kelana tidak bangun dari sujudnya.

“Dalam situasi masyarakat ataupun orang-orang baru masuk Islam dihadapkan dengan kasus seperti itu, ini kan membingungkan umat,” tutur Farihin belum lama ini.

Melihat sikap Pangeran Jaya Kelana yang membingungkan umat, Sunan Gunung Jati dan para jaksa Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Kejaksaan, hampir menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Jaya Kelana.

Padahal, Pangeran Jaya Kelana statusnya putra mahkota yang akan melanjutkan takhta Kesultanan Cirebon setelah Sunan Gunung Jati wafat. Namun, hukuman mati tersebut diurungkan, mengingat beliau melakukan hal tersebut dalam kondisi tidak sadar.

“Tapi karena mempertimbangkan beliau mengimami seperti itu bukan karena kesadaran beliau. Tapi karena ketidaksadaraan, yang masuk dalam posisi fana. Akhirnya hukuman mati dibatalkan,” tutur Farihin.

Sebagai ganti dari hukuman mati. Setelah bermusyawarah, para jaksa Kesultanan Cirebon bersepakat agar Pangeran Jaya Kelana, diwajibkan untuk membayar diyat atau denda berupa emas seberat badan Pangeran Jaya Kelana. Hukuman yang diberikan kepada Pangeran Jaya Kelana didasarkan pada kitab hukum bernama Kitab Adilullah.

Menurut Farihin, tegasnya sikap Sunan Gunung Jati kepada anak sendiri, karena ditakutkan sikap Pangeran Jaya Kelana yang seperti itu akan ditiru oleh masyarakat umum.

“Sementara kalau Sunan Gunung Jati mazhabnya Syafii yang sangat begitu ketat dengan urusan syariat. Sehingga, hampir dihukum mati yah karena parah. Meskipun tidak sengaja, tapi tidak bisa lepas dari hukum juga,” tutur Farihin.

Kisah Jaya Kelana yang sujud tidak bangun-bangun. Membuat ada satu pesan Sunan Gunung Jati yang sampai sekarang masih dipercayai, yakni jangan menjadi imam di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Menurut Farihin, pesan itu keluar dalam konteks membicarakan anaknya Pangeran Jaya Kelana.

“Nah mungkin waktu itu konteksnya anaknya beliau Jaya Kelana,” pungkas Farihin.

Artikel ini telah tayang di detikJabar

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Kerajaan-kerajaan di Jawa yang Bisa Dijumpai hingga Sekarang



Jakarta

Indonesia memiliki sejarah panjang dari era kerajaan, kolonial, hingga era modern. Saat ini, masih ada kerajaan di Jawa yang masih eksis.

Di Pulau Jawa pernah berdiri beberapa kerajaan besar. Dari Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Singasari, Kerajaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kerajaan Mataram Islam, Kesultanan Cirebon, hingga Kesultanan Banten.

Di antara kerajaan tersebut, masih ada kerajaan yang eksis dengan dipimpin oleh seorang raja. Tetapi, di antara kerajaan itu, hanya Kesultanan Yogyakarta yang masih memiliki fungsi pemerintahan.


Kerajaan-kerajaan di Jawa dan kerajaan lain di Indonesia masih berkumpul dalam sebuah Majelis Agung Raja dan Sultan (MARS) Indonesia. Di antara yang masih eksis itu adalah Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo, Puro Mangkunegaran, Keraton Cirebon, dan Kasultanan Banten. Kesultanan Yogyakarta satu-satunya yang memiliki hak istimewa mengelola pemerintahan. Sedangkan yang lain memiliki fungsi kebudayaan.

Berikut beberapa di antara kerajaan di Jawa yang masih eksis hingga kini:

1. Kesultanan Yogyakarta

Kesultanan Yogyakarta atau Ngayogyakarta Hadiningrat ini berdiri sejak 1755 dan raja pertama yang menjabat di kesultanan itu adalah Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengkubuwono 1.

Kerajaan itu mulanya merupakan pecahan dari Kerajaan Mataram Islam yang terpecah menjadi dua. Pembagian wilayah itu tertuang pada Perjanjian Giyanti. Pecahan lainnya menjadi Kasunanan Surakarta.

Di tahun 1950, Kesultanan Yogyakarta resmi berubah menjadi yang kita kenal saat ini yakni Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan hingga saat ini gelar untuk pemimpin-pemimpin daerah tersebut masih menggunakan gelar Hamengkubuwono.

Saat ini, Kasultanan Yogyakarta dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

2. Kasunanan Surakarta

Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah sebuah kerajaan di Pulau Jawa bagian tengah yang berdiri pada tahun 1745. Kasunanan itu merupakan penerus dari Kesultanan Mataram yang beribu kota di Kartasura dan selanjutnya berpindah di Surakarta.

Pada tahun 1755, sebagai hasil dari Perjanjian Giyanti yang disahkan pada tanggal 13 Februari 1755 antara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dengan Pangeran Mangkubumi, disepakati bahwa wilayah Mataram dibagi menjadi dua pemerintahan, yaitu Surakarta dan Yogyakarta.

Awalnya, 1745 hingga peristiwa Palihan Nagari pada 1755, Kesunanan Surakarta yang beribu kota di Surakarta merupakan kelanjutan dari Kesultanan Mataram yang sebelumnya berkedudukan di Kartasura, baik dari segi wilayah, pemerintahan, maupun kedudukan penguasanya.

Setelah Perjanjian Giyanti dan diadakannya Pertemuan Jatisari pada tahun 1755 menyebabkan terpecahnya Kesunanan Surakarta menjadi dua kerajaan; kota Surakarta tetap menjadi pusat pemerintahan sebagian wilayah Kesunanan Surakarta dengan rajanya yaitu Susuhunan Pakubuwana III, sedangkan sebagian wilayah Kesunanan Surakarta yang lain diperintah oleh Sultan Hamengkubuwana I yang berkedudukan di kota Yogyakarta, dan wilayah kerajaannya kemudian disebut sebagai Kesultanan Yogyakarta.

Kemudian dibuat Perjanjian Salatiga tanggal 17 Maret 1757, yang membuat wilayah Kesunanan makin kecil. Sebagian wilayah, yakni Nagara Agung (wilayah inti di sekitar ibu kota kerajaan) diserahkan kepada Raden Mas Said yang kemudian bergelar Adipati Mangkunegara I. Saat ini, Mangkunegaran masih eksis.

3. Mangkunegaran

Mangkunegaran adalah kadipaten yang posisinya di bawah kasunanan dan kasultanan, sehingga penguasa tidak berhak menyandang gelar Sunan ataupun Sultan.

Penguasa Keraton Kasunanan Surakarta bergelar Sunan Pakubuwono, sedangkan gelar penguasa Kadipaten Mangkunegaran adalah Pangeran Adipati Aryo Mangkunegoro.

Antara tahun 1757 sampai dengan 1946, Kadipaten Mangkunegaran adalah kerajaan otonom yang berhak memiliki tentara sendiri yang independen dari Kasunanan Surakarta.

Wilayahnya mencakup bagian utara Kota Surakarta, di antaranya adalah Kecamatan Banjarsari, kemudian seluruh Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, dan sebagian wilayah Kecamatan Ngawen serta Semin di Gunung Kidul, Yogyakarta. Keseluruhan wilayah Mangkunegaran tersebut hampir mencapai 50 persen wilayah dari Kasunanan Surakarta.

Saat ini, Mangkunegaran dipimpin oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X atau Gusti Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo merupakan raja.

Sejatinya, pemimpin Mangkunegaran bukanlah raja, namun adipati atau pangeran miji atau pangeran mandiri, yang memimpin sebuah kadipaten di bawah Keraton Kasunanan Surakarta bernama Mangkunegaran.

Meskipun kedudukan pemimpin Mangkunegara yang sebenarnya adalah adipati, namun kerap dianggap raja dalam memori masyarakat Mangkunegara. Itu dipengaruhi oleh Mangkunegara yang dulu sempat berkuasa atas beberapa wilayah, yakni Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri.

4. KadipatenPakualaman

Dulu Kadipaten Pakualaman merupakan sebuah negara dependen yang berbentuk kerajaan. Tetapi pada 1950, status negara dependen Kadipaten Pakualaman diturunkan menjadi daerah istimewa setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Kadipaten Pakualaman berdiri pada 1813, kekuasaan Inggris dengan penyerahan kekuasaan oleh Hamengku Buwono II kepada adiknya, Pangeran Natakusuma dengan status Pangeran Merdika. Pangeran Natakusuma kemudian mendapatkan gelar sebagai KGPAA Paku Alam I dengan kediaman di Puro Pakualaman yang berada di sisi timur Kasultanan Ngayogyakarta.

Status kerajaan ini mirip dengan status Praja Mangkunagaran di Surakarta.

Saat ini, Pakualaman dipimpin oleh Sampeyan Dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X dengan nama lahir Raden Mas Wijoseno Hario Bimo.

5. Kesultanan Cirebon

Kesultanan Cirebon ini disebut sebagai jembatan untuk kebudayaan di Jawa Tengah dan Jawa Barat, Kesultanan Cirebon ini memiliki corak Islam yang begitu mahsyur di abad 15-16 Masehi. Memiliki letak yang cukup strategis menjadi kesultanan ini sebagai jalur perdagangan dan pelayaran yang cukup vital antar pulau di masa itu.

Kesultanan Cirebon didirikan oleh Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang atau Haji Abudllah Imam pada tahun 1430. Ia sangat aktif dalam penyebarluasan agama Islam dan Kesultanan Cirebon meningkat kejayaannya ketika dipimpin oleh Sunan Gunung Jati.

Saat ini, Keraton Cirebon dipimpin Sultan Sepuh Aloeda II atau Raden Rahardjo.

6. Kesultanan Kanoman

Kesultanan Kanoman ini didirikan oleh Pangeran Muhamad Badrudi Kertawijaya atau Sultan Anom 1 di tahun 1678. Sebelumnya, Kesultanan Kanoman ini merupakan pecahan dari Kesultanan Cirebon pada tahun 1666.

Di masa kekosongan 1666 hingga 1678 itu Kesultanan Cirebon diambil alih kekuasaannya oleh Kerajaan Mataram. Berjalannya waktu dan tak puasnya pengambilahinan tersebut hingga menimbulkan konflik.

Akhirnya Kesultanan Cirebon dipecah dan salah satunya Kesultanan Kanoman yang diberikan Pangeran Muhamad Badrudin Kertawijaya.

Jejak-jejak peradaban kerajaan-kerajaan di atas masih bisa dilihat hingga sekarang di setiap wilayahnya. Masih terdapat keraton atau tempat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja yang menduduki kursi kekuasaan.

Peninggalan kerajaan-kerajaan tersebut kini menjadi sebuah destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin melihat dan menggali informasi tentang sejarah kerajaan tersebut.

Saat ini, Kesultanan Kanoman dipimpin oleh Sultan Anom XII Mochamad Saladin.

Jadi keraton mana saja yang sudah kamu datangi?

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Konon Pintu di Gua Ini Bisa Tembus Sampai ke Negeri Arab dan China



Cirebon

Cirebon punya banyak destinasi menarik. Salah satunya gua Sunyaragi yang konon punya pintu ‘ajaib’ yang bisa tembus sampai ke Arab dan China.

Di tengah Kota Cirebon, ada sebuah tempat yang dikenal bukan hanya karena keindahan dan sejarahnya, tetapi juga karena kisah mitosnya yang unik. Tempat itu ialah Gua Sunyaragi.

Gua Sunyaragi yang berlokasi di Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon merupakan kompleks cagar budaya yang menyimpan berbagai legenda.


Salah satu yang paling unik dari tempat ini yaitu tentang ‘pintu kemana saja’ yang dipercaya bisa menembus ruang dan waktu.

Masyarakat setempat menyebut bahwa gua ini memiliki lorong ajaib yang bisa membawa siapa saja ke negeri-negeri jauh, mulai dari Arab hingga China.

Bukan sekadar cerita kosong, mitos ini masih bertahan hingga kini dan terus melekat pada Gua Sunyaragi, serta dipercaya oleh warga Cirebon.

Alkisah, lorong menuju ke Arab dan China itu berlokasi di pelataran bangunan Argajumut, tepatnya di bagian barat Gua Sunyaragi. Di sana, terdapat dua pintu masuk.

Pintu sebelah kanan diyakini sebagai lorong menuju ke Mekah-Madinah. Sedangkan pintu sebelah kiri diyakini menuju ke China.

Meski disebut lorong, namun kedua pintu itu memiliki bentuk yang hanya sebuah ruangan berukuran 1×1 meter. Konon katanya, pintu itu sering digunakan oleh para wali untuk menuju ke Arab maupun China.

Mitos tentang keberadaan lorong menuju Arab dan China itu masih terus terjaga dan diyakini masyarakat Cirebon hingga sekarang. Namun pengelola Gua Sunyaragi sekaligus budayawan Cirebon, Jajar Sudrajat menyebut, lorong itu hanyalah filosofi tentang kehidupan.

“Lorong Mekah-Madinah dan Tiongkok itu penamaannya. Bentuknya cuma ruangan. Lorong ini memiliki filosofi bahwa kiblat pendidikan agama itu Mekah-Madinah, sedangkan ilmu itu ke Cina atau Tiongkok,” ucap Jajat saat ditemui pada Jumat 17 Agustus 2018 silam.

Lorong yang tembus langsung ke Arab Saudi dan China di Gua Sunyaragi CirebonLorong yang tembus langsung ke Arab Saudi dan China di Gua Sunyaragi Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detikTravel

Jajat mengungkap filosofi tentang lorong tersebut. Menurut dia, tokoh pendiri Cirebon dulunya adalah orang-orang yang berasal dari Arab dan juga China. Hal itu diperkuat dengan banyaknya arsitektur bangunan di Cirebon bergaya Arab maupun Tiongkok.

“Ini juga merupakan filosofi bahwa yang meramaikan dan membangun Cirebon waktu dulu itu mereka-mereka (Arab dan Tiongkok),” kata Jajat.

Meski begitu, Jajat tidak memungkiri jika lorong menuju Arab-China itu benar-benar ada. Menurutnya, kesaktian para wali di zamannya dulu seperti Sunan Gunung Jati punya kemampuan di luar batas manusia biasa. Karenanya, mitos soal lorong itu masih terus terjaga sampai saat ini.

“Bisa juga itu benar. Namanya juga Wali Allah, bisa saja terjadi di luar dari batas kemampuan kita,” tandasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Sisi Lain Gua Sunyaragi: Jadi Tempat Mancing Bocil-bocil



Cirebon

Taman Sari Gua Sunyaragi di Cirebon ternyata punya sisi lain. Bagian belakang gua ini ternyata bisa berubah menjadi tempat pemancingan yang ramai diserbu bocil-bocil.

Siang itu, suasana kompleks bersejarah Taman Sari Gua Sunyaragi tampak sepi, hanya ada beberapa anak berusia belasan tahun yang sedang asyik bermain.

Tak hanya sekedar bermain, beberapa anak juga tampak sedang memancing di area kolam yang letaknya di belakang Gua Sunyaragi.


Dengan menggunakan alat pancing seadanya, sambil duduk, tampak anak-anak fokus menunggu ikan melahap kail pancing, sambil sesekali berbicara dengan anak-anak lain di sampingnya. Terlihat juga anak-anak lain yang tidak ikut memancing sedang berlarian dengan teman sebayanya.

Menurut salah satu anak yang ikut memancing di kolam Gua Sunyaragi, Azri (14) mengaku, cukup senang bisa ikut memancing di kolam bagian belakang Gua Sunyaragi.

Menurutnya, selagi anak-anak tertib, dan tidak merusak area gua, maka tidak ada larangan untuk mancing di kolam bagian belakang Gua Sunyaragi.

“Kalau main sekedar mancing kayak gitu mah, nggak dimarahin, asalkan anak-anaknya pada anteng saja,” ucap Azri.

Kebanyakan, lanjut Azril, anak-anak yang memancing ikan merupakan anak yang tinggal di sekitar lokasi Gua Sunyaragi. Mereka masuk ke kompleks gua melalui pagar kecil yang ada di belakang, yang berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk.

Selain Azri, anak-anak lain yang sering bermain di Gua Sunyaragi adalah Rafif (12). Menurutnya, meski ketika musim kemarau, kolam di bagian belakang Gua Sunyaragi mengering, tetapi saat musim hujan seperti sekarang, area kolam akan dipenuhi air dan juga ikan.

Biasanya, lanjut Rafif, jenis ikan yang didapat adalah ikan mujair. Sama seperti Azri, Rafif sendiri merasa senang ketika bisa mancing di kolam yang sudah berusia ratusan tahun tersebut.

“Senang mancing di situ, soalnya ada ikannya, biasanya ikan mujair. Kalau ada airnya sudah dari dulu dibuat untuk mancing, kadang ada juga orang yang mancing di sungai, terus ikannya dimasukin ke kolam, biar tambah banyak ikannya,” tutur Rafif.

Selain memancing ikan, menurut Rafif, lahan kosong di area belakang Gua Sunyaragi juga digunakan untuk bermain bola. Salah satu alasan Rafif bermain bola di Gua Sunyaragi adalah karena tidak adanya lapangan bola di dekat rumahnya.

“Iyah kadang main bola di sini juga, soalnya di sini sepi, jadi dimanfaatin buat main bola. Sama nggak ada lapangan paling dekat juga. Yang paling dekat yah lapangan yang di sini (Gua Sunyaragi),” tutur Rafif.

Menurut Rafif, tidak ada pelarangan bagi anak-anak sekitar lokasi goa Sunyaragi untuk bermain dan memancing di kolam Gua Sunyaragi. Kecuali, lanjut Rafif, ketika anak-anak sudah mulai berbuat nakal dengan naik ke area bebatuan Goa Sunyaragi.

“Yah kadang-kadang saja, kalau anak-anaknya pada nakal dan jahil, kayak pada naik ke batu-batu karang yah itu dimarahin sama penjaganya,” tutur Rafif.

Meski Rafif dan teman-temannya senang bermain di Gua Sunyaragi, tapi, Rafif dan temannya masih berharap, suatu saat nanti di sekitar rumahnya, akan ada lapangan bola sendiri.

“Yah pengen, kalau ada lapangan baru buat main di dekat sini mah,” pungkas Rafif.

Sejarah Gua Sunyaragi

Taman Sari Gua Sunyaragi merupakan kompleks bersejarah yang ada di Kota Cirebon. Taman ini didirikan pada tahun 1596, dengan diarsiteki oleh Penambahan Losari, cucu dari Sunan Gunung Jati. Untuk bahan utamanya pembuatannya, yakni menggunakan batu karang.

Dulu, Gua Sunyaragi digunakan untuk tempat bermain dan itikaf para keluarga sultan Cirebon. Gua Sunyaragi sendiri memiliki beberapa bagian bangunan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda, seperti Gua Pengawal yang digunakan sebagai tempat istirahat, Gua Simayang sebagai pos jaga dan Mande Beling digunakan untuk tempat memberi petuah.

Pada saat masih digunakan keluarga sultan Cirebon, dahulu, area sekitar Gua Sunyaragi merupakan perairan, sehingga pada masa itu, keluarga sultan yang ingin datang ke Gua Sunyaragi harus menggunakan perahu terlebih dahulu.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ada yang Beracun dan Tidak Pernah Kering



Cirebon

Cirebon memiliki budaya yang kaya dan sejarah yang panjang. Di kota ini, ada 4 sumur keramat dengan kisah tersendiri. Ada yang beracun hingga tak pernah kering.

Sumur keramat tersebut tersebar di keraton-keraton yang ada di Cirebon. Sampai sekarang, sumur-sumur ini masih didatangi peziarah dan diyakini memiliki khasiat.

Berikut 4 Sumur di Cirebon yang Keramat:


1. Sumur Upas: Sumur Beracun Peninggalan Abad 15

Berbeda dengan sumur lainnya, Sumur Upas atau Sumur Soka yang berada di bawah pohon soka besar di Petilasan Keraton Dalem Agung Pakungwati kini ditutup dan tidak difungsikan karena diyakini mengandung racun.

Kepala Bagian Informasi dan Pariwisata Keraton Kasepuhan Iman Sugiman, menyebutkan sumur ini dulunya digunakan untuk merendam senjata agar beracun saat melawan penjajah.

Nama “Sumur Upas” berasal dari kata “upas” yang berarti racun. Uniknya, pohon soka tempat sumur ini berada dikenal langka karena bunganya tumbuh di dahan, bukan di pucuk daun seperti pohon soka pada umumnya.

2. Sumur Ketandan: Saksi Pembuatan Terasi Cirebon

Sumur Ketandan menjadi salah satu situs sejarah penting di Kota Cirebon yang menyimpan kisah perjuangan Pangeran Cakrabuana dalam menyebarkan agama Islam di pesisir utara Jawa.

Terletak di bawah naungan pohon beringin besar yang telah berusia ratusan tahun, sumur ini hingga kini masih dijaga kesakralannya.

Menurut juru kunci Sumur Ketandan, Raden Syarifuddin, air sumur ini diambil secara manual menggunakan ember tanpa bantuan pompa. Hal ini dilakukan agar kesucian dan kesakralan situs tetap terjaga. “Kalau pakai pompa, nanti jadi tidak sakral,” ujarnya.

Syarifuddin menjelaskan, nama “Ketandan” berasal dari kata “Tanda”, yang berarti ciri-ciri. Dalam kisahnya, Pangeran Cakrabuana pernah menaruh “jalatunda” atau jaring di sekitar sumur setelah mencari ikan di laut Cirebon.

Sumur ini dahulu digunakan untuk mencuci jala dan membuat terasi dari ikan rebon. Pada masa itu, lokasi sumur berada dekat pantai, sebagaimana halnya Masjid Pejlagrahan, yang juga merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana.

Meskipun telah berusia ratusan tahun, air sumur ini tidak pernah kering. Masyarakat percaya bahwa airnya memiliki khasiat untuk penyembuhan dan pelindung dari sihir. Namun Syarifuddin mengingatkan, semua permohonan tetap harus ditujukan kepada Allah SWT.

Pengunjung biasanya datang saat malam Jumat Kliwon, baik umat Muslim maupun non-Muslim. Mereka melakukan napak tilas sejarah dan memanfaatkan air sumur yang dianggap penuh berkah.

3. Sumur Kejayaan: Sumur Keramat di Keraton Kasepuhan Cirebon

Sumur Kejayaan merupakan salah satu sumur keramat yang terletak di area Petilasan Dalem Agung Pakungwati, komplek Keraton Kasepuhan Cirebon. Sumur ini diyakini sebagai tempat wudu bagi Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati.

Menurut juru kunci, Mang Pardi (68), banyak pengunjung dari berbagai daerah, seperti Cirebon, Kuningan, Indramayu, Majalengka, hingga Jawa Tengah yang datang untuk berwudu, mandi, atau mengambil air sumur.

Menariknya, meskipun kedalamannya hanya sekitar tiga meter, air sumur ini tidak pernah kering meski kemarau panjang, dan tidak meluber saat musim hujan.

Mang Pardi mengatakan bahwa setiap pengunjung datang dengan tujuan berbeda, mulai dari kelancaran usaha hingga terkabulnya hajat. Namun, semua dikembalikan kepada kehendak Tuhan.

Pengunjung yang ingin memasuki kawasan petilasan Dalem Agung Pakungwati dan Sumur Kejayaan wajib mematuhi sejumlah aturan. Antara lain, melepas alas kaki, tidak merokok, dan hanya laki-laki yang diperbolehkan masuk, dengan alasan kesucian tempat.

4. Sumur Jala Tunda: Sumber Air Abadi

Sumur Jala Tunda yang berada di sebelah Masjid Pejlagrahan, Kampung Grubugan, Kelurahan Kasepuhan, Kota Cirebon, juga merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana dari abad ke-14.

Menurut Ketua DKM Masjid Pejlagrahan, Sulaeman, sumur ini dibuat untuk memudahkan nelayan berwudu sebelum salat. Sumur ini terdiri dari dua bagian: untuk laki-laki dan perempuan. Hingga kini, sumur ini tak pernah kering, meskipun kedalamannya hanya sekitar enam meter.

Selain dimanfaatkan masyarakat setempat, banyak peziarah dari luar daerah yang mengambil air sumur karena diyakini memiliki khasiat tertentu.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com