Tag Archives: sungai musi

6 Destinasi Wisata Sungai yang Menarik Dijelajahi



Jakarta

Indonesia memiliki banyak sungai yang potensial menjadi destinasi wisata. Traveler yang tertarik menjajal wisata susur sungai, dapat mengunjungi 6 destinasi ini.

Wisata sungai menjadi salah satu opsi liburan anti-mainstream yang sayang dilewatkan. Tidak hanya sekadar melamun dan menenangkan pikiran, saat ini banyak destinasi wisata sungai di Indonesia yang menawarkan wisata minat khusus yang menarik dicoba, seperti arung jeram atau rafting.

Mengutip situs Kemenparekraf, inilah 6 destinasi wisata sungai yang menarik dijelajahi:


1. Sungai Mahakam

Sungai MahakamSungai Mahakam. Foto: dok. Kemenparekraf

Destinasi wisata sungai di Indonesia yang pertama dan menjadi incaran wisatawan adalah Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Menjadi sungai sungai terpanjang kedua di Indonesia, Sungai Mahakam menawarkan pengalaman liburan di sungai yang menyenangkan.

Sungai sepanjang 920 kilometer ini merupakan rumah bagi hewan langka, yaitu lumba-lumba air tawar atau dikenal dengan Pesut Mahakam. Selain itu, traveler bisa bertemu langsung dengan raja udang, burung enggang, bangau, lutung, hingga berang-berang di Sungai Mahakam.

2. Sungai Asahan

Sejumlah warga menikmati permainan arung jeram di kawasan Sungai Asahan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Arung Jeram ini di klaim sebagai terbaik ke-3 di dunia lho.Sungai Asahan. Foto: Pradita Utama

Bisa dibilang, Sungai Asahan menjadi salah satu primadona destinasi wisata di Sumatera Utara. Tidak hanya menjadi destinasi wisata andalan wisatawan lokal, Sungai Asahan juga menjadi incaran pecinta wisata arung jeram karena termasuk wisata spot arung jeram terbaik ketiga di dunia.

Bagi traveler yang masih pemula jangan khawatir, karena Sungai Asahan memiliki beberapa spot dan level jeram yang bisa dipilih. Sambil bermain arung jeram, traveler akan disuguhi dengan pemandangan tebing dan air terjun yang indah.

3. Sungai Maron

Pernah dengar Sungai Maron di Pacitan? Inilah Sungai Amazon versi Indonesia.Sungai Maron. Foto: Budi Hartadi

Berikutnya adalah Sungai Maron, salah satu destinasi wisata sungai di Indonesia yang hampir tidak pernah sepi pengunjung. Pasalnya sungai yang terletak di Pacitan, Jawa Timur ini menawarkan pemandangan dan suasana layaknya di Sungai Amazon.

Meski harus melewati medan yang cukup menanjak dan curam, namun bisa dipastikan traveler tidak akan menyesal. Traveler akan disambut dengan pemandangan air Sungai Maron berwarna hijau kebiruan, dan dikelilingi oleh pepohonan rindang yang asri.

4. Sungai Ayung

Rafting di Sungai AyungRafting di Sungai Ayung. Foto: (Grandy/detikFOTO)

Selain pantai, Bali juga memiliki destinasi wisata sungai yang menarik disusuri, yaitu Sungai Ayung. Sungai terpanjang di Bali yang berlokasi di Kedewatan Ubud ini dikenal sebagai tempat arung jeram yang menurut “Skala Kesulitan Sungai Internasional” dengan enam tingkat kesulitan.

Di Sungai Ayung traveler juga akan dibuat kagum dengan airnya jernih, udara sejuk, dan pemandangan indah. Saking indahnya, panjang arung jeram di Sungai Ayung yang mencapai 10 kilometer terasa sangat ringan dan lebih menyenangkan.

5. Sungai Cukang Taneuh

Destinasi wisata sungai di Indonesia yang tidak kalah menarik untuk dijelajahi berikutnya ada di Kabupaten Pangandaran, yaitu Sungai Cukang Taneuh atau lebih populer dikenal Green Canyon. Dalam bahasa setempat, Cukang Taneuh berarti “Jembatan Tanah”. Pemilihan nama ini berdasar pada jembatan alami yang berasal dari tanah dan melintang di atas Sungai Cijulang.

Salah satu aktivitas yang menarik dicoba di Sungai Cukang Taneuh adalah naik perahu sambil telusur Sungai Cijulang. Sepanjang perjalanan, traveler akan dibuat kagum dengan keindahan alam yang masih alami, dan melintasi gua yang dipenuhi stalaktit dan stalakmit.

6. Sungai Musi

Sungai MusiSungai Musi. Foto: dok. Kemenparekraf

Satu lagi destinasi wisata sungai di Indonesia yang sangat populer, yakni Sungai Musi, Palembang. Mendapat gelar sebagai sungai terpanjang di Sumatera, Sungai Musi menawarkan aktivitas serta pengalaman berlibur yang menyenangkan dan tidak terlupakan.

Saat mengunjungi Sungai Musi jangan lupa sempatkan waktu mampir ke Pulau Kemaro yang lokasinya berada di tengah Sungai Musi. Di Pulau Kemaro, traveler bisa mengunjungi berbagai objek wisata yang menarik, seperti Pagoda, Klenteng Hok Tjing Rio, atau Pohon Cinta.

(pin/pin)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Sisa-sisa Kamp Tahanan PKI di Pulau Kemaro



Palembang

Pulau Kemaro jadi saksi bisu penumpasan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sumatera Selatan. Mari lihat sisa-sisa kamp tahanan PKI di pulau itu.

Traveler mengenal pulau Kemaro di Palembang sebagai destinasi wisata. Namun, pulau ini ternyata menyimpan sejarah kelam tentang kamp tahanan PKI di bagian ujung timur Pulau Kemaro.

Luas Pulau Kemaro sekitar 24 Hektar terbagi menjadi dua, yaitu bagian hulu dan hilir. Bagian hulu merupakan permukiman penduduk. Sedangkan bagian hilir dijadikan sebagai lokasi kamp tahanan PKI tahun 1965.


Setelah Gerakan 30 September 1965, operasi penumpasan PKI dilakukan hingga ke akar-akarnya. Pihak yang dianggap terlibat, anggota, pengurus atau simpatisan PKI dibawa ke Pulau Kemaro menggunakan truk dan kereta api.

Mereka kemudian dijadikan tahanan politik (tapol) di pulau Kemaro. Menemukan bekas lokasi kamp tersebut di Kemaro tidaklah mudah. Warga sekitar yang berada di seberang Pulau Kemaro tidak mengetahui cerita tentang kamp tahanan PKI.

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami bertemu salah seorang warga yang tahu soal kamp tersebut. Ia adalah Ishak (62), penduduk Kampung Air, Pulau Kemaro.

Sejak tahun 1990, ia tinggal dan bekerja sebagai sopir perahu ketek. Ia mengetahui seluk beluk pulau dari ujung timur hingga barat, termasuk soal kamp tahanan PKI.

Ishak memandu tim detikSumbagsel menuju ujung timur Pulau Kemaro. Perjalanan menyusuri Sungai Musi sekitar 2 km atau 20 menit menggunakan perahu ketek, satu-satunya transportasi yang bisa digunakan.

Bekas lokasi kamp tahanan PKI itu jarang dijamah manusia. Sesekali ada anak muda datang untuk bermain atau warga lokal yang mencari kayu. Kapal besar yang bersandar kemudian ditunjuk Ishak.

Menurutnya, di hadapan kapal itulah lokasi kamp PKI dulu berada. Ketika ditelusuri, tidak ada sisa bangunan sama sekali. Hanya ada hamparan pasir, pohon dan rumput yang sudah meninggi.

“Sepengetahuan saya, di sinilah tempatnya,” ujar Ishak, Kamis (12/9) lalu.

Lokasi Kamp Tahanan PKI Itu Sudah Tak Berbentuk

Dalam jurnal berjudul Tinjauan Historis tentang Fungsi Pulau Kemaru di Palembang, Sumatera Selatan Tahun 1965-2012 yang disusun Anisah, Ali Imron, dan Muhammad Basri dari FKIP Unila, diterangkan bahwa sebelum peristiwa Gerakan 30 September 1965, pulau tersebut ditempati PT Waskita Karya.

Pulau tersebut menjadi tempat untuk menimbun besi tua. Di sana ada dua bedeng berukuran 7 x 20 meter berbentuk L, berdinding papan jarang, berlantai semen kasar, pintunya satu, dan tidak berplafon.

Bedeng itu dipakai sebagai tempat tinggal para buruh. Namun setelah peristiwa Gerakan 30 September, bedeng itu dialihfungsikan untuk menahan tahanan politik (tapol) yang dianggap sebagai anggota atau simpatisan PKI.

Pulau Kemaro menjadi saksi bisu penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sumatera. Sejarah kelam yang ditinggalkan yakni tentang kamp tahanan PKI di bagian ujung timur Pulau Kemaro.Pulau Kemaro menjadi saksi bisu penumpasan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) di Sumatera. Foto: Candra Setia Budi

Namun dalam penelusuran, bangunan bedeng berbentuk L itu sudah tidak ada. Hanya ada pecahan batu bata dan tembok yang hancur menyatu dengan daratan, yang ditumbuhi rumput liar serta pohon.

Menurut Ishak, bangunan kamp PKI itu tak bertingkat, dan bagian yang terbuat dari batu bata masih teringat jelas olehnya.

Ishak lalu menunjuk salah satu pohon besar yang sudah tumbang. Menurutnya, itu adalah titik awal bangunan kamp tahanan PKI. Terbentang sepanjang 150 meter ke arah Palembang dan jaraknya jauh dari bibir Sungai Musi.

“Ini bangunan awalnya. Batasnya itu dari sini (pohon tumbang) sampai ke ujung, memanjang ke arah Palembang sekitar 150 meter,” ceritanya.

Ishak mengambil pecahan batu bata berwarna oranye yang sudah menyatu dengan pasir. Ia ingat betul batu bata itu bagian dari bangunan kamp tahanan PKI. Tampak juga bongkahan tembok dan genting.

Dulu terdapat pos penjaga yang berfungsi untuk memantau tahanan supaya tidak kabur. Pos tersebut juga digunakan untuk menghalangi warga lokal memasuki kawasan kamp. Kini, lokasi pos sudah menyatu dengan sungai.

“Kalau dulu tempat posnya ada, di ujung. Sekarang tidak ada lagi,” tutupnya.

Sejarawan Benarkan Lokasi Kamp Tahanan PKI di Pulau Kemaro

Sejarawan Palembang, Dedi Irwanto membenarkan lokasi kamp tahanan PKI yang dijelaskan Ishak. Bagian hilir Pulau Kemaro yang dijadikan kamp kini sudah tidak menyisakan bangunan.

“Di bagian hilir. Sudah tidak ada lagi (bangunan),” ujar Dedi saat dihubungi, Jumat (13/9) lalu.

Secara historis, keberadaan tapol tidak lepas dari peristiwa G/30S/PKI. Berdasarkan sumber yang Dedi temukan, ada sekitar ratusan tapol dari berbagai daerah di Sumatera khususnya Palembang, Lampung, Bengkulu dan Jambi ditahan dan dikonsentrasikan di Pulau Kemaro.

Lokasi kamp di ujung timur Pulau Kemaro karena terdapat bangunan milik PT Wakita Karya yang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan besi pembangunan Jembatan Ampera.

Ada dua bedeng berukuran sekitar 7 x 20 berbentuk L kemudian berdinding papan. Lantainya terbuat dari semen kasar dan pintunya cuma satu.

“Setelah tapol diangkut dari berbagai daerah dibawa ke Pulau Kemaro di bagian timur, karena ada bekas gudang tadi,” jelasnya.

Alasan lainnya, karena lokasi dipisahkan aliran sungai sehingga mudah untuk dijaga. Penduduk setempat dilarang melintas ke area kamp. Batas yang diperbolehkan hanya 200 meter dari pulau. Jika ada yang mendekat langsung ditembak petugas jaga.

Jumlah pos penjaga yang mengawasi kamp ada 6 yakni di setiap sudut. Pos ini dijaga anggota militer yang baru lulus pendidikan. Aturan itu membuat kamp benar-benar tertutup dari masyarakat umum.

“Jadi kalau ada perahu yang lewat itu ditembak oleh petugas. Dari 6 pos, ada 4 pos boleh menembak siapapun yang mendekat. Seperti penjara di pulau,” ungkapnya.

Bukan hanya dijaga ketat, terdapat juga pagar kawat berduri dua lapis setinggi 4 meter. Kehidupan para tahanan berjalan seperti biasa, mereka menjalani berbagai kegiatan yang diatur oleh penjaga. Masa tinggal tahanan PKI berjalan kurang lebih selama tiga tahun dan selesai pada 1967.

——–

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mushola di Palembang yang Dibangun Abad ke-18 dan Khusus buat Laki-laki



Palembang

Di Palembang, ada mushola bersejarah yang dibangun pada abad ke-18. Uniknya, mushola ini dikhususkan hanya untuk laki-laki saja. Perempuan tidak boleh!

Mushola Al-Kautsar merupakan salah satu mushola tertua di Palembang. Mushola yang berada di Lorong Sungai Buntu, Kelurahan Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang itu sudah dibangun sejak abad ke-18.

Saat berkunjung ke mushola ini, ada sejumlah pengurus mushola yang terlihat di sana. Mereka merupakan jemaah laki-laki yang baru saja menunaikan ibadah salat Asar di mushola tersebut.


Mushola ini hampir sama dengan mushola pada umumnya. Menariknya, mushola ini berada di pinggir Sungai Musi. Lokasinya cukup sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat lantaran akses menuju ke sana harus melalui lorong kecil yang diapit oleh dua bangunan milik warga.

Sebelum masuk ke area mushola, pengunjung dapat memarkirkan kendaraan roda duanya di sepanjang lorong tersebut. Saat masuk ke area mushola, pengujung tak akan melihat ornamen atau hiasan yang mencolok. Sebab bangunan mushola ini hanya dikelilingi pagar besi berwarna hijau.

Mushola ini sebagian besar dibuat dari kayu, termasuk lantai terasnya. Inilah yang membuat suasana di mushola itu adem dan nyaman.

Di sisi teras mushola, jemaah bisa melihat langsung Sungai Musi yang terbentang. Ini menambah daya tariknya, sebab dari sana bisa langsung melihat kapal-kapal yang melintas di Sungai Musi.

Cucu pendiri Mushola, Abdullah bin Alwi Bin Husein menjelaskan mushola ini memiliki luas kurang lebih 10×12 meter yang mana di dalamnya hanya terdapat 1 mimbar. Ada anak tangga di teras belakang mushola yang langsung berdampingan ke Sungai Musi.

“Mushola ini dibangun di akhir abad ke-8. Mushola ini sempat rusak akibat dibom oleh Belanda saat Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang, pada tahun 1947 Masehi,” jelasnya, Senin (3/3/2025).

Mimbar di dalam Mushola Al-Kautsar Palembang.Mushola Al-Kautsar Palembang Foto: Rio Roma Dhoni

Mushola ini, kata dia, dibangun oleh Habib Husein bin Abdullah Alkaf dan dipergunakan sebagai tempat beribadah dan menyiarkan agama Islam.

“Dari dulu emang dibangun di pinggir Sungai Musi. Masjid ini dijaga dari generasi ke generasi oleh keluarga Syekh Abu Bakar,” katanya.

Abdullah menjelaskan, saat perang 5 hari 5 malam di Kota Palembang, mushola tersebut dibom oleh Belanda sehingga menyisakan sebagai bangunan mushola.

Kemudian dibangun kembali oleh Habib Muhksin Syekh Abu Bakar dan hingga saat ini bangunan di dalam mushola masih seperti awal dibangun, tidak ada perombakan.

“Untuk bagian dalamnya itu masih seperti dulu, tidak berubah, dari kayunya. Perbaikan hanya satu kali setelah dibom, itu saja. Paling ada penambahan kanan dan kiri ini saja, sebab masyarakat kita bertambah jadi diperluas bagian kanan dan kirinya,” ujarnya.

Ia menyebut, sampai saat ini mushola tersebut dimanfaatkan untuk salat lima waktu. Namun, kata dia, hanya dikhususkan bagi jemaah laki-laki saja.

“Jemaah perempuan tidak diperbolehkan salat di dalam mushola, sesuai dengan hukum syariat Islam. Jadi untuk jemaah perempuan, diarahkan untuk salat di masjid atau mushola lain,” kata dia.

——–

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

7 Pesona Palembang di Balik Sorotan Rendang Hilang: Sejarah dan Wisata



Jakarta

Palembang, kota yang belakangan ini menjadi sorotan, memiliki daya tarik yang jauh melampaui kontroversinya. Palembang pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya, memiliki Sungai Musi, dan kuliner khas pempek.

Palembang sedang disorot setelah konten kreator Willie Salim dinilai merusak citra masyarakat Palembang. Kegaduhan itu bermula ketika Willie membuat konten memasak 200 kilogram daging rendang di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) pada Selasa (18/3/2025). Di tengah proses memasak, Willy meninggalkan lokasi untuk pergi ke toilet.

Saat kembali lagi, rendang 200 kilogram yang belum masak sempurna itu sudah habis direbut warga. Rendang tersebut raib hanya dalam waktu semenit.


Kejadian itu menuai reaksi dari berbagai kalangan, termasuk di media sosial. Banyak yang menyudutkan warga Palembang terkait peristiwa hilangnya rendang itu. Warga Palembang juga tidak terima hingga melaporkan Willie ke kepolisian.

Peristiwa itu menjadi sorotan yang kontras dengan citra Palembang yang kaya akan budaya dan kuliner. termasuk, lokasi pembuatan konten itu di Benteng Kuto Besak (BKB).

Berikut fakta tentang Palembang ibu kota Sumatera Selatan dan Benteng Kuto Besak:

1. Tentang Benteng Kuto Besak

BKB, yang menjadi salah satu landmark Kota Palembang, adalah tempat bersejarah peninggalan Kesultanan Palembang yang berada di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Dilansir palembang.go.id, menurut sejarah, Benteng Kuto Besak merupakan bagian bangunan istana keraton Palembang Darussalam dari abad ke-18.

BKB dibangun pada 1772 dengan diprakarsai oleh Sultan Muhammad Bahaudin bin Susuhunan Ahmad Najmuddin Adi Kesumo yang memerintah kesultanan Palembang pada saat itu. BKB diresmikan pada 23 Februari 1790. Artinya, lama pembangunan Benteng Kuto Besak sekitar 18 tahunan.

Benteng Kuto Besak memiliki tinggi sekitar 9,9 meter kaki, dengan panjang 288,75 meter x 183,75 meter, dan tebal dinding 1,99 meter. Benteng itu berdiri mengarah ke arah tenggara dan Sungai Musi. BKB terbuat dari batu bata yang direkatkan oleh bahan yang terbuat dari batu kapur. Bahan tersebut didatangkan dari daerah pedalaman Sungai Ogan.

BKB dibangun dengan tujuan menjadi dinding pertahanan (bastion) kerajaan Palembang Darussalam dari serangan musuh sekaligus dijadikan sebagai tempat pusat kesultanan Palembang pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II (1803-1821).

2. Kota Tertua di Indonesia

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berdasarkan prasasti Sriwijaya atau Prasasti Kedudukan Bukit. Prasasti itu berangka tahun 16 Juni 682.

Dulu Palembang adalah ibu kota Kerajaan Sriwijaya, sebuah kerajaan maritim yang berpusat di muara Sungai Musi, Sumatera Selatan. Kerajaan itu berkembang menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan di Asia Tenggara pada abad ke-7 M.

3. Sungai Musi

Sungai Musi menjadi jantung kota sejak zaman Sriwijaya. Sungai itu membelah Palembang menjadi dua bagian yaitu Ilir di utara dan Ulu di selatan. Sungai Musi merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera dengan panjang 750 km.

4. Julukan Kota

Palembang memiliki beberapa julukan yang melekat, diantaranya: Bumi Sriwijaya, Kota Pempek, dan Venice of the East.

5. Landmark Palembang:

  • Jembatan Ampera: ikon kota yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir, menjadi simbol kemegahan Palembang, dibangun pada tahun 1962. Nama Ampera kependekan dari Amanat Penderitaan Rakyat, sebagai slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960.
  • Benteng Kuto Besak: benteng peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, menyimpan sejarah perjuangan melawan penjajah.
  • Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I: salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Pendirinya adalah Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikramo. Pembangunan masjid ini memakan waktu 10 tahun, dari tahun 1738 sampai 1748. Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan pada 1 Jumadil Akhir 1151 H (1738 M). Masjid ini pertama kali diresmikan pemakaiannya pada 26 Mei 1748.
  • Pulau Kemaro: pulau yang berada di tengah Sungai Musi dan memiliki kelenteng yang sangat indah.
  • Al-Qur’an Al-Akbar: Al-Qur’an raksasa dengan ukiran indah, menjadi daya tarik wisata religi.

6. Kuliner Palembang

  • Pempek: makanan khas berbahan dasar ikan dan sagu, dengan berbagai jenis seperti pempek kapal selam, lenjer, dan adaan.
  • Tekwan: sup ikan dengan bola-bola sagu, bercita rasa gurih dan segar.
  • Model: mirip tekwan, tetapi dengan tambahan tahu dan isian telur.
  • Martabak HAR: martabak dengan cita rasa khas India yang sudah sangat legendaris

7. Pariwisata Palembang:

  • Wisata Sejarah:

    Mengunjungi situs-situs bersejarah seperti Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.

  • Wisata Sungai Musi:

    Menikmati keindahan Sungai Musi dengan naik perahu atau kapal wisata, mengunjungi Pulau Kemaro, dan menikmati suasana malam di tepi sungai.

  • Wisata Kuliner:

    Mencicipi berbagai kuliner khas Palembang di pasar tradisional atau restoran terkenal.

  • Wisata Belanja:

    Mengunjungi pusat perbelanjaan modern atau pasar tradisional seperti Pasar 16 Ilir untuk mencari oleh-oleh.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com