Tag Archives: sungai

12 Curug Terdekat dari Jakarta, Cocok Buat Healing Sejenak


Jakarta

Air terjun atau curug menjadi salah satu objek wisata yang paling favorit untuk menyegarkan pikiran. Apalagi buat detikers yang bekerja di Jakarta, pasti sangat menyenangkan jika seminggu sekali healing ke curug.

Nah, di bawah ini ada rekomendasi 12 curug terdekat dari Jakarta yang bisa detikers kunjungi di akhir pekan. Simak lokasi, harga tiket masuk, dan jam bukanya.

Rekomendasi Curug Terdekat dari Jakarta

Berikut ini rekomendasi 12 curug terdekat dari Jakarta yang dilansir dari sejumlah artikel detikTravel:


1. Curug Cibulao

Curug Cibulao di Kawasan Gunung Paseban, BogorCurug Cibulao di Kawasan Gunung Paseban, Bogor. (Muhammad Idris/d’Traveler)
  • Lokasi: Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor.
  • Harga tiket masuk: Rp 15 ribu.
  • Jam buka: 08.00-17.00 WIB.

Dilansir dari situs Desa Megamendung, nama Curug Cibulao berasal dari warna airnya yang kebiruan. Warna biru tersebut menyerupai blau yang berwarna biru. Sementara ci berarti air, maka disebut Cibulao.

Nama asli dari air terjun ini adalah Curug Hulu karena lokasinya berada di hulu atau paling atas dibandingkan air terjun lain di aliran sungai Cirangrang.

Curug ini memiliki dua leuwi atau kolam. Leuwi pertama sedalam 8 meter, dan yang kedua 5 meter. Jika ingin seru-seruan meloncat dari tebing, traveler bisa mencobanya di kolam pertama yang lebih dalam.

2. Curug Ciburial

Bogor juga punya banyak curug alias air terjun yang bisa disambangi traveler. Salah satunya ada curug Ciburial yang segar. Lokasinya tak jauh-jauh amat dari Jakarta lho! Nih penampakannya.Bogor juga punya banyak curug alias air terjun yang bisa disambangi traveler. Salah satunya ada curug Ciburial yang segar. Lokasinya tak jauh-jauh amat dari Jakarta lho! Nih penampakannya. (Rachman_punyaFOTO)
  • Lokasi: Jl. Gunung Wangun Kampung Cibereum, Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • Harga tiket masuk: Rp 20 ribu.
  • Jam buka: 07.00-17.00 WIB.

Curug Ciburial cukup hits di Bogor. Ada tiga curug di kawasan ini, yaitu Curug Ciburial, Curug Hordeng, dan Curug Kembar Cibeureum. Sekali bayar tiket, traveler bisa menikmati ketiga curug itu.

Di sana, traveler akan menyusuri aliran sungai dan tracking melewati bebatuan besar. Selama perjalanan, tampak pemandangan pepohonan rindang. Sesampainya di air terjun, rasa capek akan ditukar dengan kesegaran air terjun ini.

3. Curug Rahong

Curug Rahong di BogorCurug Rahong di Bogor. (Bekti Yustiarti/d’Traveler)
  • Lokasi: Rengasjajar, Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • Harga tiket masuk: Rp 10 ribu.
  • Jam buka: 07.00-17.00 WIB.

Curug Rahong adalah air terjun yang tersembunyi di kawasan tambang pasir. Selama perjalanan, traveler akan melihat tambang pasir yang gersang. Tak jarang kalian menemui truk-truk pasir.

Dari parkiran, traveler harus berjalan sekitar 1,5 km melewati perkampungan, sawah, jembatan, dan jalan setapak. Tapi jika membawa sepeda, kalian bisa membawanya mendekat ke air terjun.

4. Curug Bidadari

air terjunCurug Bidadari. (Bekti/d’Traveler)
  • Lokasi: Jalan Sentul Paradise Park, Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • Harga tiket masuk: Rp 30 ribu (weekday) dan Rp 40 ribu (weekend).
  • Jam buka: 08.00-17.00 WIB.

Curug Bidadari merupakan tempat wisata hits yang menyenangkan. Selain karena tingginya air terjun yang mencapai 50 meter, aliran airnya menyenangkan untuk tempat bermain.

Terdapat kolam yang berkedalaman 30 cm untuk anak-anak dan kolam dewasa dengan kedalaman 1,5 cm. Traveler bisa menyewa ban untuk bermain-main di air.

5. Curug Cikaracak

Curug Cikaracak di BogorCurug Cikaracak di Bogor Foto: Muhammad Idris/d’Traveler
  • Lokasi: Jalan Cinagara, Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • Harga tiket masuk: Rp 15 ribu (termasuk parkir).
  • Jam buka: 06.00-16.00 WIB.

Curug Cikaracak berada di bawah Gunung Gede. Air terjun ini menarik karena diapit dua tebing curam yang membuat pemandangannya menakjubkan. Ketinggiannya mencapai 40 meter dengan debit air yang besar, sehingga pengunjung tidak boleh berada di bawahnya.

6. Leuwi Hejo

Bermain Air Di Segarnya Aliran Sungai Curug Leuwi HejoBermain Air Di Segarnya Aliran Sungai Curug Leuwi Hejo. (Luthfi hafidz/detikcom)
  • Lokasi: Desa Cibadak, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • Harga tiket masuk: Rp 15 ribu.
  • Jam buka: 08.00-17.00 WIB.

Nama Curug Leuwi Hejo berasal dari kata leuwi yang berarti relungan atau kolam, dan hejo yang berarti hijau. Sesuai namanya, air terjun ini memiliki warna jernih kehijauan.

Jika datang ke sini, traveler bisa mengunjungi 5 curug sekaligus. Yaitu Leuwi Hejo, Leuwi Liek, Leuwi Ciung, Leuwi Cepet, serta Baliung.

7. Curug Lembah Tepus

Curug Lembah Tepus yang Eksotis di BogorCurug Lembah Tepus yang Eksotis di Bogor. (Resa Noor Fauziah/d’Traveler)
  • Lokasi: Pasir Reungit, Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • Harga tiket masuk: Rp 10 ribu.
  • Jam buka: 07.00-17.00 WIB.

Lokasi Curug Lembah Tepus cukup mudah ditemukan, karena berada di kawasan wisata Gunung Halimun Salak. Infrastruktur jalannya pun sudah cukup baik. Traveler cukup berjalan sekitar 300 meter dengan kondisi jalan yang sudah baik, dari loket pembayaran tiket.

8. Curug Cigamea

Curug di Gunung SalakCurug Cigamea. (Teguh Tofik Hidayat/d’Traveler)
  • Lokasi: Jalan Curug Cigamea, Gunung Picung, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.
  • Harga tiket masuk: Rp 10 ribu.
  • Jam buka: 07.00-17.30 WIB.

Curug Cigamea juga termasuk tempat wisata di kawasan Halimun Salak. Air terjun ini dilengkapi dengan kolam yang cukup luas untuk berendam atau bermain air. Untuk menuju ke air terjun, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 30 menit. Sampai di lokasi, traveler akan menyaksikan air terjun dengan ketinggian sekitar 50 meter.

9. Curug Love

Lokasi curug berada di tengah perkebunanCurug Love. (detik)
  • Lokasi: Bantar Karet, Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • Harga tiket masuk: Rp 15 ribu.
  • Jam buka: 07.00-17.00 WIB.

Curug Love memiliki keunikan tersendiri. Meski debit airnya kecil, terdapat spot foto yang sangat menarik, yakni seperti Grand Canyon tapi versi mini. Pengunjung bisa berjalan di air di antara dinding tebing yang tinggi.

10. Curug Mariuk

Kalau mau sepi datangnya harus lebih pagi yaCurug Mariuk. (detik)
  • Lokasi: Sukamakmur, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
  • Harga tiket masuk: Rp 15 ribu.
  • Jam buka: 07.00-16.00 WIB.

Curug Mariuk memiliki air terjun yang jernih dan memanjakan mata traveler. Tapi wisatawan harus berjalan sekitar 1 jam melewati bukit dengan pepohonan dan jalanan batu. Debit air curug ini tidak besar, namun memiliki leuwi yang bisa dipakai untuk terjun dari atas bebatuan.

11. Curug Lontar

Curug LontarCurug Lontar. (Cah Jetak/d’travelers)
  • Lokasi: kawasan Geopark Pongkor, Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
  • Harga tiket masuk: Rp 15 ribu.
  • Jam buka: 08.00-16.00 WIB.

Curug Lontar memiliki air tenang, tetapi cukup dalam. Aliran sungai di sekitarnya juga bisa digunakan untuk bermain-main. Aksesnya cukup mudah dan bisa dilewati mobil. Dari tempat penitipan kendaraan, pengunjung hanya berjalan sebentar untuk sampai di curug.

12. Curug Putri Kencana

Curug Putri Kencana di BogorCurug Putri Kencana di Bogor. (idris_aje/d’Traveler)
  • Lokasi: Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor.
  • Harga tiket masuk: Rp 15 ribu.
  • Jam buka: 07.00-17.00 WIB.

Terakhir adalah Curug Putri Kencana yang sudah tertata, namun masih terasa alami. Wisatawan dapat menikmati keindahan Taman Gunung Pancar yang asri. Dari Taman Gunung Pancar, masih harus berjalan kaki.

Bagi detikers yang ingin berkunjung ke 12 curug terdekat dari Jakarta, jangan lupa update harga tiket dan ketersediaan layanan lebih dulu. Hal ini untuk memastikan liburan kamu berlangsung lancar dan menyenangkan.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Daya Tarik The Farm Pancawati, Harga Tiket, Lokasi, dan Jam Operasionalnya


Jakarta

Berada di kawasan sejuk dan asri Bogor, The Farm Pancawati menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman liburan yang menyenangkan. Tak hanya menyajikan keindahan alam, wisatawan bisa melakukan aktivitas seru seperti memberi makan hewan dan menikmati kuliner.

Jadi, destinasi ini cocok untuk didatangi bersama keluarga di momen liburan. Lantas, ada daya tarik apa saja di The Farm Pancawati, berapa harga tiket masuknya?

Daya Tarik The Farm Pancawati

The Farm Pancawati punya kawasan mini zoo, kolam renang, dan penginapan dengan konsep yang unik. Mengutip laman instagram The Farm Pancawati dan travel agen, berikut informasi lengkapnya.


1. Mini Zoo

The Farm Pancawati memiliki area mini zoo di mana anak-anak bisa berinteraksi dengan aneka hewan, seperti rusa, domba, kelinci, dan ikan. Mini zoonya menyediakan pakan yang bisa dibeli wisatawan. Selain itu, ada koleksi kura-kura sulcata, burung, hingga iguana.

2. Kolam Renang

Selain melihat hewan-hewan, ada fasilitas kolam renang yang bisa dinikmati wisatawan. Areanya cukup luas dan dilengkapi perosotan dan pelampung untuk anak-anak.

3. Spot Foto

Berbagai spot foto yang unik dan menarik bisa ditemukan di The Farm Pancawati. Ada spot helikopter, ikon love berlatar pemandangan, replika kingkong, dan replika kereta lokomotif mini.

4. Rafting

Traveler yang mau memacu adrenalin bisa coba rafting yang menantang. Wisatawan akan melalui sungai Cisadane dengan jarak sejauh 12 km.

5. Penginapan

The Farm Pancawati menawarkan penginapan di aneka vila yang unik. Ada villa kaca yang dikelilingi kaca dengan pemandangan, villa segitiga yang aesthetic dan villa jamur yang berbentuk jamur raksasa. Selain ketiga villa yang unik ini, ada juga pilihan villa pinguin, villa hobbit, villa pelangi, villa bamboe,dan villa bunga. Villa-villa ini menawarkan mulai dari 1-4 kamar.

6. Kafe dan Restoran

Wisatawan tidak dibolehkan membawa makanan dan minuman dari luar. Namun, ada beberapa kafe dan restoran yang tersedia dengan pemandangan alam yang indah. Beberapa makanan dan minuman yang ditawarkan mulai dari fried chicken, sushi dan ramen, hingga aneka kopi.

Harga Tiket The Farm Pancawati

Harga tiket masuk: Rp 15.000
Villa: Rp 800.000- Rp 2.000.000/malam termasuk 2 breakfast. Harga ini sudah termasuk tiket masuk untuk 2 orang.

Lokasi dan Jam Buka The Farm Pancawati

The Farm Caringin berlokasi di Jl. Tapos Lbc, Pancawati, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jam bukanya mulai dari pukul 08.00-17.00 WIB.

Itulah informasi mengenai The Farm Pancawati di Bogor yang cocok untuk jadi tempat liburan bersama keluarga. Sebelum datang ke sini, jangan lupa untuk update informasi mengenai jam buka dan harga tiketnya ya.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com

Harga Terkini Curug Leuwi Hejo Jonggol, Daya Tarik, dan Lokasinya


Jakarta

Kabupaten Bogor masih menjadi daerah yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Jawa Barat. Bogor masih menjadi daerah sejuta pesona alam, salah satunya dengan keberadaan curug atau air terjun yang menawarkan keindahan dan kesejukan khas pegunungan.

Salah satu destinasi wisata alam yang populer ialah Curug Leuwi Hejo Jonggol. Airnya jernih berwarna kehijauan dan suasana yang masih asri. Curug Leuwi Hejo menjadi tempat sempurna untuk melepas penat dari hiruk-pikuk kota.

Terletak tidak jauh dari pusat kota Bogor, Curug Leuwi Hejo menawarkan pemandangan eksotis yang memanjakan mata. Di sekitarnya juga terdapat beberapa air terjun cantik lainnya yang dapat dikunjungi, yaitu Curug Cibaliung, Curug Leuwi Lieuk, Curug Leuwi Ciung, dan Curug Leuwi Cepet. Lokasi antar curugnya pun tidak terlalu jauh.


Harga Terkini Curug Leuwi Hejo Jonggol

Curug Leuwi Hejo yang ada di Bogor ini memang banyak menyita perhatian. Air terjun dengan kolam air yang jernih membuat para pengunjung dapat bermain air sambil mandi di sekitar lokasi curug.

Leuwi dalam bahasa Sunda berarti relungan atau kolam, sedangkan hejo berarti hijau. Dengan tebing batu pegunungan, curug ini terlihat sangat indah.

Dari beragam informasi yang dihimpun, biaya masuk ke Curug Leuwi Hejo per akhir tahun 2024 sebesar Rp 25 ribu per orang. Sementara harga curug lain di sekitar Leuwi Hejo bervariasi sekitar Rp 10-30 ribu. Jam Operasional curug ini pukul 08.00-17.00 WIB.

Harga lainnya yakni parkir motor sebesar Rp 10 ribu dan parkir mobil Rp 25 ribu. Harga toilet Rp 3 ribu, dan ada pula warga yang menyediakan penyewaan motor jika tak mau berjalan kaki dengan harga Rp 50 ribu.

Daya Tarik Curug Leuwi Hejo Jonggol

Air Curug Leuwi Hejo Jonggol yang dikenal bening dan dingin, mengalir deras dari tebing-tebing batu yang kokoh. Aliran itu menciptakan kolam alami yang sering dijadikan tempat bermain air oleh para pengunjung.

Tak hanya menawarkan keindahan, akses menuju Curug Leuwi Hejo relatif mudah meskipun tetap memerlukan sedikit usaha untuk trekking. Perjalanan menuju lokasi dipenuhi dengan pemandangan perbukitan dan udara segar khas pegunungan, menambah pengalaman wisata yang menyenangkan.

Air terjunnya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 1,5 meter. Aliran dari curug ini berasal dari mata air di Gunung Kencana, kemudian aliran Curug ini mengalir menuju beberapa sungai seperti Sungai Cikeas, Sungai Cileungsi, dan Sungai Sunter. Curug ini berjarak sekitar 50 km di selatan Jakarta dan 30 km di sebelah timur Kota Bogor.

Lokasi Curug Leuwi Hejo Jonggol

Curug Leuwi Hejo Jonggol berbatasan dengan kecamatan Sukamakmur, Jonggol, Bogor dengan Babakan Madang, Bogor yang dibatasi oleh aliran Sungai Cileungsi. Curug ini ada di Jl Cibadak Sukamakmur, Cibadak, Kec Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tapi juga bisa diakses dari Kampung Wangan Cileungsi, Karang Tengah, Babakan Madang, Sentul, Bogor.

Jika kamu ke sini dengan menggunakan kendaraan roda empat bisa langsung keluar di pintu Tol Sentul, lalu ambil ke arah kawasan Jungleland, dan jarak ditempuh sekitar 4 jam perjalanan dari Jakarta.

Rute dari Jakarta yakni melewati Tol Jagorawi menuju Sentul Selatan. Setelah keluar dari pintu tol, menuju arah jalan ke Sentul City, Rainbow Hills Golft, lalu Polsek Babakan Madang.

Dari situ, ikuti beberapa petunjuk jalan menuju Curug Leuwi Hejo. Sesampai di pintu masuk curug, pengunjung perlu berjalan kaki sekitar 15-20 menit untuk tiba di Curug Leuwi Hejo. Pengunjung perlu melalui jalan setapak berbatu, sehingga lebih baik untuk menggunakan sepatu yang aman dan anti licin.

Nah itulah tadi informasi seputar Curug Leuwi Hejo Jonggol. Berminat untuk berlibur ke sini?

(aau/fds)



Sumber : travel.detik.com

Sisi Lain Gua Sunyaragi: Jadi Tempat Mancing Bocil-bocil



Cirebon

Taman Sari Gua Sunyaragi di Cirebon ternyata punya sisi lain. Bagian belakang gua ini ternyata bisa berubah menjadi tempat pemancingan yang ramai diserbu bocil-bocil.

Siang itu, suasana kompleks bersejarah Taman Sari Gua Sunyaragi tampak sepi, hanya ada beberapa anak berusia belasan tahun yang sedang asyik bermain.

Tak hanya sekedar bermain, beberapa anak juga tampak sedang memancing di area kolam yang letaknya di belakang Gua Sunyaragi.


Dengan menggunakan alat pancing seadanya, sambil duduk, tampak anak-anak fokus menunggu ikan melahap kail pancing, sambil sesekali berbicara dengan anak-anak lain di sampingnya. Terlihat juga anak-anak lain yang tidak ikut memancing sedang berlarian dengan teman sebayanya.

Menurut salah satu anak yang ikut memancing di kolam Gua Sunyaragi, Azri (14) mengaku, cukup senang bisa ikut memancing di kolam bagian belakang Gua Sunyaragi.

Menurutnya, selagi anak-anak tertib, dan tidak merusak area gua, maka tidak ada larangan untuk mancing di kolam bagian belakang Gua Sunyaragi.

“Kalau main sekedar mancing kayak gitu mah, nggak dimarahin, asalkan anak-anaknya pada anteng saja,” ucap Azri.

Kebanyakan, lanjut Azril, anak-anak yang memancing ikan merupakan anak yang tinggal di sekitar lokasi Gua Sunyaragi. Mereka masuk ke kompleks gua melalui pagar kecil yang ada di belakang, yang berbatasan langsung dengan pemukiman penduduk.

Selain Azri, anak-anak lain yang sering bermain di Gua Sunyaragi adalah Rafif (12). Menurutnya, meski ketika musim kemarau, kolam di bagian belakang Gua Sunyaragi mengering, tetapi saat musim hujan seperti sekarang, area kolam akan dipenuhi air dan juga ikan.

Biasanya, lanjut Rafif, jenis ikan yang didapat adalah ikan mujair. Sama seperti Azri, Rafif sendiri merasa senang ketika bisa mancing di kolam yang sudah berusia ratusan tahun tersebut.

“Senang mancing di situ, soalnya ada ikannya, biasanya ikan mujair. Kalau ada airnya sudah dari dulu dibuat untuk mancing, kadang ada juga orang yang mancing di sungai, terus ikannya dimasukin ke kolam, biar tambah banyak ikannya,” tutur Rafif.

Selain memancing ikan, menurut Rafif, lahan kosong di area belakang Gua Sunyaragi juga digunakan untuk bermain bola. Salah satu alasan Rafif bermain bola di Gua Sunyaragi adalah karena tidak adanya lapangan bola di dekat rumahnya.

“Iyah kadang main bola di sini juga, soalnya di sini sepi, jadi dimanfaatin buat main bola. Sama nggak ada lapangan paling dekat juga. Yang paling dekat yah lapangan yang di sini (Gua Sunyaragi),” tutur Rafif.

Menurut Rafif, tidak ada pelarangan bagi anak-anak sekitar lokasi goa Sunyaragi untuk bermain dan memancing di kolam Gua Sunyaragi. Kecuali, lanjut Rafif, ketika anak-anak sudah mulai berbuat nakal dengan naik ke area bebatuan Goa Sunyaragi.

“Yah kadang-kadang saja, kalau anak-anaknya pada nakal dan jahil, kayak pada naik ke batu-batu karang yah itu dimarahin sama penjaganya,” tutur Rafif.

Meski Rafif dan teman-temannya senang bermain di Gua Sunyaragi, tapi, Rafif dan temannya masih berharap, suatu saat nanti di sekitar rumahnya, akan ada lapangan bola sendiri.

“Yah pengen, kalau ada lapangan baru buat main di dekat sini mah,” pungkas Rafif.

Sejarah Gua Sunyaragi

Taman Sari Gua Sunyaragi merupakan kompleks bersejarah yang ada di Kota Cirebon. Taman ini didirikan pada tahun 1596, dengan diarsiteki oleh Penambahan Losari, cucu dari Sunan Gunung Jati. Untuk bahan utamanya pembuatannya, yakni menggunakan batu karang.

Dulu, Gua Sunyaragi digunakan untuk tempat bermain dan itikaf para keluarga sultan Cirebon. Gua Sunyaragi sendiri memiliki beberapa bagian bangunan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda, seperti Gua Pengawal yang digunakan sebagai tempat istirahat, Gua Simayang sebagai pos jaga dan Mande Beling digunakan untuk tempat memberi petuah.

Pada saat masih digunakan keluarga sultan Cirebon, dahulu, area sekitar Gua Sunyaragi merupakan perairan, sehingga pada masa itu, keluarga sultan yang ingin datang ke Gua Sunyaragi harus menggunakan perahu terlebih dahulu.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Gua Ngerong Nan Mistis di Tuban, Ada Ikan yang Tak Boleh Dibawa Pulang



Tuban

Tuban punya destinasi gua Ngerong yang menyimpan mitos. Konon, ikan-ikan yang ada di sana tak boleh dibawa pulang kalau tidak mau celaka.

Gua Ngerong adalah salah satu destinasi wisata alam yang berada di Jalan Raya Rengel, Tuban, Jawa Timur. Destinasi ini tidak pernah sepi pengunjung.

Lokasi gua ini menawarkan pemandangan alam yang indah namun menyimpan cerita mistis. Cerita mistis itu berpusat pada ikan-ikan yang hidup di sungai di sekitar gua Ngerong.


Goa Ngerong TubanIkan-ikan di ga Ngerong Tuban Foto: Ainur Rofiq/detikJatim

Menurut pedagang setempat, Mbak Mah, ikan-ikan di sungai ini tidak pernah dibawa pulang oleh pengunjung, karena takut kena celaka.

“Orang-orang percaya ada cerita mistis di balik keberadaan ikan-ikan ini,” tuturnya.

Selain daya tarik itu, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan alami gua Ngerong. Untuk menikmati panorama tersebut, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp 5.000 untuk anak-anak dan Rp 7.000 untuk orang dewasa.

Di dalam lokasi, pengunjung dapat menikmati bermain air sungai yang jernih dengan ribuan ikan dan kelelawar yang bergelantungan di dinding gua.

“Kami bisa memberi makan ikan dengan roti atau biji kapas. Mereka berebut makanan,” kata Sari, pengunjung dari Bojonegoro, Minggu (10/1).

Pengunjung dapat berenang atau mandi dengan pelampung karet yang disewakan oleh pengelola dan warga sekitar. Lapak-lapak pedagang makanan dan biji kapas juga tersedia di lokasi.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Air Terjun Ini Sangat Keramat tapi juga Begitu Menawan



Jakarta

Air Terjun Murundao di Ende, NTT, menawarkan keindahan alam, trekking mudah, dan nuansa mistis. Cocok untuk liburan keluarga dan pencinta alam.

Terletak di Desa Koanara, Kecamatan Kelimutu, air terjun ini menyajikan pemandangan alam yang memukau dan suasana yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota. Dengan ketinggian sekitar 40-50 meter, Air Terjun Murundao menjadi salah satu air terjun terbesar di daerah ini.

Dikelilingi oleh hutan tropis yang rimbun, Air Terjun Murundao menawarkan suasana yang menyejukkan dan damai. Pepohonan hijau yang lebat menciptakan pemandangan yang menenangkan bagi siapa saja yang mengunjunginya.


Suara gemericik air yang jatuh dari ketinggian serta udara segar yang mengalir membuat tempat ini menjadi tempat yang sempurna untuk bersantai dan menikmati alam.

Ketika sampai di Air Terjun Murundao, pengunjung akan disambut dengan pemandangan yang memukau dan suasana yang damai. Anda dapat merasakan kesejukan udara pegunungan sambil menikmati keindahan alam sekitar.

Trekking menuju air terjun ini pun tidak terlalu sulit, cocok untuk semua kalangan, termasuk anak-anak. Jalur trekking yang ringan ini memungkinkan pengunjung untuk menjelajahi flora dan fauna lokal, sekaligus mengajak anak-anak berinteraksi dengan alam dan mengajarkan mereka untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Selain keindahan alamnya, Air Terjun Murundao juga memiliki cerita mistis yang menambah daya tariknya. Menurut cerita rakyat setempat, air terjun ini dianggap sebagai tempat yang suci dan keramat. Banyak orang datang ke sini untuk melakukan upacara keagamaan, berdoa, atau memohon berkah. Hal ini memberi nuansa spiritual yang membuat tempat ini terasa lebih istimewa.

Air Terjun Murundao terletak sekitar 60 kilometer (km) dari ibu kota Kabupaten Ende, yang dapat dijangkau dalam waktu sekitar 2 jam dengan kendaraan. Jika Anda berasal dari kota Moni, air terjun ini hanya berjarak sekitar 400 meter, yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit.

Jalan masuk menuju air terjun ini terletak tepat di seberang Rainbow Cafe Moni. Dari pintu masuk, Anda akan melewati jalan setapak tanah yang menurun hingga tiba di jembatan bambu yang melintasi sungai kecil yang mengalir dari air terjun. Setelah menyeberangi jembatan, Anda hanya perlu berjalan 50 meter lagi untuk mencapai dasar air terjun.

Dengan keindahan alam yang menakjubkan dan trek yang cocok untuk keluarga, Air Terjun Murundao menjadi destinasi wisata yang tepat untuk liburan bersama keluarga atau teman-teman.

Baca artikel selengkapnya di detikBali

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Danau Dendam Tak Sudah dan Kisah Legenda di Baliknya



Bengkulu

Di Bengkulu, ada destinasi wisata alam dengan nama yang indah, yaitu Danau Dendam Tak Sudah. Di balik nama itu, ada kisah legenda yang menyelimutinya.

Danau Dendam Tak Sudah adalah salah satu danau di Bengkulu yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Danau ini memiliki legenda yang melatarbelakangi namanya.

Lokasi Danau Dendam Tak Sudah

Dilansir dari laman Pemerintah Kota Bengkulu, Danau Dendam Tak Sudah berlokasi di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu. Danau ini memiliki luas keseluruhan 557 hektar dan luas permukaan 67 hektar.


Danau Dendam Tak Sudah diperkirakan terbentuk dari aktivitas gunung berapi di daerah tersebut. Danau ini telah ditetapkan sebagai cagar alam oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Ada beberapa versi mengenai kisah legenda Danau Dendam Tak Sudah. Berikut beberapa versi legenda tentang danau tersebut:

1. Kisah Legenda Danau Dendam Tak Sudah Versi Pertama

Dalam artikel berjudul Revitalisasi Legenda Danau Dendam Tak Sudah Melalui Komik, diketahui bahwa legenda danau ini berkaitan dengan dua kerajaan yang dulu berada di daerah Bengkulu.

Dua kerajaan itu adalah Kerajaan Sungai Itam dan Kerajaan Jenggalu yang berkuasa di daerah bernama Muara Bangkahulu.

Pada saat itu, Raja Kerajaan Jenggalu Rangga Janu berkeinginan untuk menguasai Kerajaan Sungai Itam. Hal ini membuat kedua kerajaan tersebut bertikai satu sama lain.

Kerajaan Sungai Itam sendiri dipimpin oleh Raja Senge. Kerajaan ini dikenal memiliki wilayah yang makmur dan subur, serta menjadi daerah dengan perkebunan lada terbesar.

Raja Senge memiliki empat anak, yakni Pangeran Bungin dan Bingin, serta Puteri Jenti dan Suderati. Keempat anak ini memiliki pribadi yang rendah hati, layaknya Raja Sange dan istrinya yang sangat baik.

Pada suatu hari, Putri Jeni dan Puteri Suderawati menaiki sebuah rakit untuk mengitari sungai yang ada di Kerajaan Sungai Itam. Mereka pergi bersama para pengawal dengan tujuan untuk bermain.

Saat asyik menyusuri sungai, keduanya menemukan sebuah kampung di pinggiran danau yang belum pernah mereka kunjungi. Namun, karena hari sudah malam, para pengawal membawa keduanya kembali ke istana.

Keesokan harinya, mereka berdua kembali ke kampung tersebut dan bertemu pemuda yang memberikan perhatian lebih kepada Puteri Suderati. Pemuda tersebut bernama Jungku Mate.

Danau Dendam Tak Sudah di BengkuluDanau Dendam Tak Sudah di Bengkulu Foto: Fitraya Ramadhanny

Perasaan Jungku Mate tidak bertepuk sebelah tangan, Putri Suderati juga menaruh perasaan pada Jungku Mate. Singkat cerita, mereka menjalin hubungan tanpa diketahui siapapun, kecuali Puteri Jenti.

Namun suatu hari pertemuan mereka diketahui warga kampung. Melihat hal itu mereka melaporkan pertemuan keduanya kepada pihak istana.

Saat itu Raja Senge terkejut dan merasa khawatir kalau anggota kerjaan akan murka pada Puteri Suderati. Menjalin hubungan dengan rakyat biasa berarti melanggar peraturan istana.

Raja Jangga Janu yang mendengar hal itu menawarkan perdamaian dengan Kerajaan Sungai Itam. Namun, ia memberikan syarat yaitu Raja Senge menikahkan putrinya dengan anaknya.

Raja Senge akhirnya menyetujui hal tersebut agar kedua kerajaan tidak lagi berselisih. Sang raja menikahkan Putri Suderati untuk menebus kesalahan yang dilakukan sebelumnya.

Putri Suderati menolak perjodohan itu, tetapi akhirnya ia tetap dinikahkan dengan putra mahkota Kerajaan Jenggalu, yaitu Pangeran Natadirja. Jungku Mate juga merasa putus asa dan merasa dikhianati.

Meskipun ia merasakan dendam, tapi Jungku Mate memilih untuk mengakhiri hidupnya ke danau yang ada di kampungnya. Danau tersebut kemudian diberi nama Danau Dendam Tak Sudah.

2. Legenda Dendam Danau Tak Sudah Versi Kedua

Legenda kedua tentang Danau Dendam Tak Sudah adalah tentang sepasang kekasih yang cintanya tidak direstui. Mereka yang saat itu saling mencintai memutuskan loncat ke danau.

Namun ada versi lain juga yang mengatakan bahwa danau itu terbentuk dari air mata si perempuan yang ditinggal menikah oleh kekasihnya.

Sepasang kekasih ini adalah Esi yang dikenal sebagai bunga desa dan Buyung si perjaka tampan yang berani. Mereka dikisahkan memiliki hubungan yang menyenangkan dan banyak membuat yang lain merasa iri.

Namun sayang, hubungan mereka ternyata tidak direstui oleh orang tua Buyung. Esi yang mendengar hal tersebut merasa kecewa. Bahkan setelah bertemu dengan Upik Leha, Buyung sang kekasih pun merasa goyah.

Esi yang merasa sedih kemudian menangis hingga air matanya menjadi seperti air bah. Air itu kemudian menenggelamkan rumah-rumah yang ada di kampung itu.

Danau itu kemudian terbentuk dan dinamai sebagai Danau Dendam Tak Sudah.

3. Legenda Danau Dendam Tak Sudah Versi Belanda

Versi ini menceritakan tentang pembangunan dam atau bendungan oleh kolonial Belanda pada masa lampau. Berdasarkan sejarah, Bengkulu dahulu diduduki oleh Belanda dan membangun dam di lokasi danau untuk antisipasi dan menampung banjir.

Namun, pembangunan dam itu tidak selesai karena penjajahan telah berakhir. Masyarakat menamainya dengan dam tak sudah karena pembangunan dam yang belum selesai.

Seiring waktu, penamaan dan penyebutan ‘dam tak sudah’ juga mengalami perubahan. Orang-orang kemudian banyak menyebut danau ini menjadi Danau Dendam Tak Sudah.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Sungai di Palembang dengan Mata Air yang Dipercaya Bisa Menyembuhkan



Palembang

Di Palembang, ada sebuah sungai dengan mata air yang dipercaya warga bisa menyembuhkan segala penyakit. Inilah kisah tentang sungai Tawar di Palembang.

Sungai Tawar merupakan aliran anak sungai yang terletak di Kecamatan Ilir Barat (IB) 2, Kota Palembang. Mata air yang berada di Sungai Tawar hingga kini masih menyimpan mitos dan legenda di kalangan masyarakat.

Sejarahwan Dedi Irwanto mengatakan Sungai Tawar terletak di kawasan 27,28 dan 29 Ilir, Kecamatan IB 2 Kota Palembang. Sungai Tawar dilekatkan dengan mitos dan legenda yang tidak lepas dari seorang ulama di Palembang yang bernama Kemas Abu Nawar atau Kiai Abu Nawar.


“Pada aliran Sungai Tawar yang berada di kawasan 29 Ilir ada sebuah mata air yang saat ini masih dipercaya untuk mengobati segala macam penyakit,” kata Dedi, Minggu (2/1/2025).

Menurut Dedi, dari segi perspektif ilmiah, Sungai Tawar ini dulunya merupakan lembah ada talang air dan sekarang dikenal dengan nama Jalan Talang Kerangga. Lembah tersebut dulu dikenal dengan nama bukit Lembah Pengantin merupakan pengunjung dari sebuah bukit atau talang yang bentuknya lembah.

“Kalau dilihat dari peta kolonial, dulunya di daerah lebak (dataran rendah digenangin air) karena curah hujan cukup tinggi membuat lebak itu mengalami pendangkalan. Pada tahun 1900-an terbentuklah sungai yang sekarang dikenal dengan Sungai Tawar yang berada di kawasan 27,28 dan 29 Ilir,” ujarnya.

“Di sinilah cerita Sungai Tawar yang melegenda hingga saat ini yang dapat menyembuhkan penyakit. Pada masa penjajahan Belanda, orang Belanda mencoba meracuni masyarakat dengan mencampur racun ke dalam aliran Sungai Tawar ternyata apa yang dilakukan oleh Belanda tidak berhasil masyarakat yang menggunakan air Sungai Tawar dalam aktivitas kehidupan sehari-hari tetap sehat tanpa ada yang keracunan,” sambungnya.

Konon, air sungai tersebut tidak bisa diracuni oleh kolonial Belanda karena ada karomah dari Kiai Kemas Abunawar sehingga air sungai tersebut menjadi tawar dan tidak beracun lagi.

Bahkan karena karomahnya tersebut Belanda tidak bisa menyerang masyarakat di sekitar Sungai Tawar karena senjata mereka selalu rusak.

“Selain itu di Sungai Tawar tersebut memiliki mata air yang dipercaya hingga saat ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit baik medis maupun non medis,” katanya.

“Sehingga lama-kelamaan banyak yang mandi dan berobat,” lanjutnya.

Lebar Sungai Tawar Kini Tinggal 2 Meter

Dedi menyebut saat ini seiring sudah banyaknya jumlah penduduk, Sungai Tawar sudah semakin sempit bahkan lebarnya sekitar 2 meter saja.

Menariknya lagi, Sungai Tawar yang menyempit ini sangat mudah menemukan mata air yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

“Walau mata airnya berada di dalam parit tapi saat ada orang yang akan mengambil mata air tersebut airnya tetap jernih,” ujarnya.

“Masyarakat percaya bahwa air tersebut ada penawar meski diambil di dalam parit yang kotor sekali pun,” tambahnya.

Dedi pun mengimbau kepada pemerintah agar bisa mengelola peninggalan bersejarah ini agar seperti di Thailand menjadi tempat wisata dan kehidupan warga di Sungai Tawar juga terbantu.

“Bisa jadi tempat wisata dan pemerintah harus bisa mengelolanya,” katanya.

Sementara itu, Ketua RT 15 M Haris Fadillah membenarkan jika di wilayahnya yang di aliri air Sungai Tawar terdapat mata air yang dipercayai dan diyakin dapat menyembuhkan penyakit.

“Beberapa orang percaya bahwa mata air ini dapat menyembuhkan penyakit jadi ada beberapa orang dari Pulau Jawa, Pulau Bangka bahkan dari luar negeri seperti Brunei Darussalam datang kemari dengan membawa botol kosong untuk mengambil airvdari mata air tersebut,” ujarnya.

Belum Ada Perhatian dari Pemerintah

Faris menyayangkan meski ada legenda tentang Sungai Tawar ini tapi pemerintah tidak ada perhatian untuk menjadikan tempat wisata agar ekonomi warga di sekitar Sungai Tawar terbantu.

“Mata air ini dekat di belakang Musala Darussalam yang juga didirikan oleh Kiai Kemas Abu Nawar dan mata airnya hingga saat ini masih ada,” ujarnya.

Dari pantauan di lokasi, mata air yang berada di Sungai Tawar masih ada. Bahkan salah seorang warga Gandus, Tarmizi datang membawa botol kosong lalu mengambil air di mata air tersebut, meski saat itu air sungai sedang pasang dan berwarna hitam karena banyaknya tumpukan sampah.

“Untuk obat katanya bisa menyembuhkan penyakit. Jadi saya kemari,” ujar Tarmizi singkat.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menikmati Segarnya Tiga Curug di Kaki Gunung Halimun Salak



Bogor

Di kawasan kaki Gunung Halimun Salak, Bogor tersimpan salah satu destinasi yang bisa jadi pilihan masyarakat untuk menikmati ketenangan dan keindahan alam, yakni Curug Nangka.

Suasananya yang sepi tak seperti saat berkunjung ke kawasan Puncak. Jika berkunjung ke Curug Nangka, pengunjung tak hanya akan disajikan dengan satu curug saja. Ternyata di dalam area itu terdapat tiga curug yang bisa dikunjungi pengunjung.

Pada Sabtu (22/2/2025) detikTravel berkunjung ke curug tersebut yang beberapa waktu ke belakang sempat ramai karena harga tiket yang kurang lebih Rp 50 ribu. Dengan perjalanan yang kurang lebih menghabiskan waktu tiga jam dari Jakarta ini cukup membayar kesuntukan perjalanan.


Untuk bisa masuk ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak detikTravel mengeluarkan kocek Rp 145 ribu untuk tiga orang dan termasuk kendaraan (mobil) belum termasuk biaya parkir. Untuk biaya parkir mobil seharga Rp 15 ribu. Sehingga kurang lebih untuk satu orang dikenakan biaya sekitar Rp 43 ribu.

Tapi setelah membayar semua itu, untungnya traveler sudah tidak perlu lagi bayar-membayar di lain areanya (pungli). Sesampainya di tempat parkiran, untuk bisa sampai ke curug traveler harus melakukan trekking kurang lebih sejauh 2 kilometer.

Dengan pepohonan yang rimbun dan udara yang segar, setidaknya tidak terlalu membuat perjalanan begitu melelahkan. Untuk trek pun tidak terlalu berbahaya, hanya saja tetap perlu fokus karena ada beberapa area bebatuan yang basah.

Curug Nangka di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, BogorMenyusuri bebatuan untuk menjangkau Curug Kaung. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Kurang lebih setengah jam berjalan, curug yang pertama ditemui adalah Curug Nangka yang. Tetapi Curug Nangka ini hanya terlihat dari atas saja, untuk bisa menikmati alirannya traveler perlu turun dari area yang berbeda dan trek yang sudah disediakan dan perlu menyusuri aliran untuk menikmati turunnya air.

Namun, jika ingin merasakan segarnya air di kawasannya ini ada beberapa titik kolam alami yang bisa dinikmati. Berjalan menyusuri lebih dalam, traveler harus melewati jalanan yang telah dicor dan bebatuan sungai.

Kala detikTravel berkunjung, debit air terlihat kecil sehingga sungainya sedikit kering. Di tengah perjalanan menyusuri lebih dalam, traveler akan menemukan curug kedua yakni Curug Daun.

Di Curug Daun ini traveler bisa bermain air seraya menikmati kesegaran air di sana, tentunya tetap harus berhati-hati. Kemudian jika ingin melihat air terjun lainnya, traveler harus kembali menyusuri bebatuan sungai.

Di sana traveler akan menemukan Curug Kaung, curug yang paling ujung di area tersebut. Karena debit air yang kecil sehingga tak terlalu basah jika dekat-dekat dengan area turunnya air. Pengunjung yang datang ke Curug Kaung pun banyak yang berendam dan bermain air.

Tak lupa pengunjung pun berfoto di atas bebatuan besar dengan latar belakang air terjun. Memang berkunjung ke kawasan ini lebih baik ketika cuaca cerah, karena jika kondisi mendung ataupun hujan sangat berbahaya untuk berkunjung ke tiga curug ini.

Traveler yang ingin merasakan ketenangan dan udara yang bersih, tamasya ke area Curug Nangka ini sungguh memberikan suasana yang menenangkan. Sedikit melepaskan diri dari hiruk-pikuk perkotaan.

Di kawasan itu pun banyak pedagang-pedagang yang, jadi sebelum traveler masuk untuk menjajal trek menuju ketiga curug itu traveler akan melewati deretan toko-toko makanan dan minuman. Mulai dari makanan ringan, makanan berat hingga menjual buah-buahan.

Kawasan Curug Nangka ini buka setiap hari dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB, selain bisa menikmati sejuknya alam dan segarnya air, traveler juga bisa menikmati bermalam di area ini. Dan yang perlu diperhatikan traveler jika berkunjung ke sini adalah kawanan monyet.

Jadi perlu berhati-hati jika membawa jinjingan atau totebag karena kawanan monyet ini tak akan segan untuk ‘menjambret’ bawaan traveler.

(upd/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Danau Gunung Tujuh, Kaldera Tertinggi di Asia Tenggara yang Menakjubkan



Kerinci

Danau Gunung Tujuh merupakan salah satu destinasi wisata alam menakjubkan yang wajib dikunjungi traveler jika datang ke Kabupaten Kerinci, Jambi.

Jika datang ke destinasi wisata ini, maka traveler akan disuguhkan dengan pemandangan pagi yang begitu syahdu dan tenang. Kabut bak tembok putih perlahan-lahan pun membuka lanskap hijau danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara ini.

Pemandangan inilah yang dinikmati wisatawan Danau Gunung Tujuh setiap pagi. Danau Gunung Tujuh dikelilingi perbukitan hijau dan udara sejuk khas pegunungan.


Danau ini berada di Desa Palompek, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Jambi. Danau Gunung Tujuh memiliki ketinggian 1.950 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan panjang 4,5 kilometer dan lebar 3 kilometer.

Sesuai namanya, danau ini dikelilingi tujuh gunung di antaranya, Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl), dan Gunung Tujuh (2.735 mdpl).

Danau Gunung Tujuh adalah danau yang tercipta karena proses letusan gunung api dari Gunung Tujuh. Letusan gunung tersebut menyebabkan terbentuknya sebuah kawah besar yang kemudian terisi oleh air hujan sehingga membentuk sebuah danau.

Perjalanan menuju Gunung Tujuh dapat dilakukan melalui transportasi darat. Jika berangkat dari Kota Sungai Penuh, jaraknya kurang lebih satu jam untuk sampai ke Pos Registrasi Pendakian Gunung Tujuh di Desa Palompek, yang dikelola Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Trekking menuju danau memakan waktu sekitar dua-tiga jam dengan jalur yang cukup menantang. Wisatawan akan melewati tiga pos dengan jalur tanah yang basah dan akar-akaran yang terus menanjak.

Wisatawan berfoto di pinggir Danau Gunung Tujuh dengan latar gunung yang mengelilinginyaWisatawan berfoto di pinggir Danau Gunung Tujuh Foto: (Foto: Dimas Sanjaya)

Wisatawan akan melewati hutan tropis yang rimbun dengan pepohonan besar. Sesekali, suara monyet dan kicauan burung bersautan menambah kesan alami dalam perjalanan ini. Meski cukup melelahkan, udara sejuk dan segarnya alam membuat rasa letih sedikit terobati.

Setiba di pos tiga atau pos terakhir, wisatawan akan turun sekitar 500 meter untuk menuju danau. Jalur turun menuju danau ini sedikit curam sehingga memerlukan kehati-hatian, apalagi jika jalur dalam keadaan basah setelah hujan.

Akan tetapi di jalur ini, ada pegangan tali yang memagari jalur hingga ke bawah danau, sebagai pegangan untuk para wisatawan.

Setibanya di bawah, panorama Danau Gunung Tujuh langsung menyambut dengan keindahannya yang memukau. Airnya yang jernih membentang luas dengan latar belakang perbukitan hijau yang mengelilingi danau.

Di tepian danau, wisatawan dapat mendirikan tenda untuk nge-camp. Wisatawan juga bisa memilih pulang di hari yang sama atau yang dikenal dengan istilah pendakian tektok. Jika nge-camp, wisatawan dapat mengabadikan momen matahari terbit dan kabut yang menyingsing di danau tertinggi ini.

Pengalaman ke Danau Gunung Tujuh memberikan kesan mendalam bagi banyak wisatawan. Salah satunya, Rifani (27), wisatawan dari Kota Jambi, mengaku terpesona dengan keindahan alamnya terutama suasana pagi harinya.

“Saya sudah dua kali ke sini, yang pertama tektok dan yang kedua kali ini nge-camp. Perjalanan ke sini memang melelahkan, tapi begitu sampai, semua terbayar lunas,” katanya.

Danau Gunung TujuhDanau Gunung Tujuh Foto: detik

Hal senada dikatakan wisatawan dari Sumatera Utara, Aryo (30) yang mengaku Danau Gunung Tujuh cocok untuk melepas penat dari hiruk pikuk perkotaan karena suasananya yang tenang. Ini merupakan pengalaman pertamanya mendaki di Danau Gunung Tujuh.

“Sebelumnya saya cuma lihat-lihat di media sosial saja, tapi akhirnya bisa sampai ke Danau Gunung Tujuh ini. Suasana dan pemandangan di sini benar-benar keren,” ujarnya.

Sebagai destinasi wisata alam yang masih alami, Danau Gunung Tujuh membutuhkan kesadaran wisatawan untuk menjaga kebersihannya. Masih banyak ditemukan sampah baik di tepi danau maupun di jalur pendakian.

“Sangat disayangkan masih banyak pendaki meninggalkan sampah, semoga ada aturan tegas dari pengelola terkait masalah sampah ini agar tidak mengganggu ekosistem di sekitar danau,” kata Aryo.

Selain berkemah di tepian danau, wisatawan juga dapat menikmati alam dengan memancing, atau sekadar duduk menikmati udara segar sambil menyeruput kopi hangat.

Beberapa wisatawan juga memilih menjelajahi danau Gunung Tujuh dengan perahu kayu atau sampan milik warga setempat.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com