Tag Archives: sungai

Mushola di Palembang yang Dibangun Abad ke-18 dan Khusus buat Laki-laki



Palembang

Di Palembang, ada mushola bersejarah yang dibangun pada abad ke-18. Uniknya, mushola ini dikhususkan hanya untuk laki-laki saja. Perempuan tidak boleh!

Mushola Al-Kautsar merupakan salah satu mushola tertua di Palembang. Mushola yang berada di Lorong Sungai Buntu, Kelurahan Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang itu sudah dibangun sejak abad ke-18.

Saat berkunjung ke mushola ini, ada sejumlah pengurus mushola yang terlihat di sana. Mereka merupakan jemaah laki-laki yang baru saja menunaikan ibadah salat Asar di mushola tersebut.


Mushola ini hampir sama dengan mushola pada umumnya. Menariknya, mushola ini berada di pinggir Sungai Musi. Lokasinya cukup sulit dijangkau dengan kendaraan roda empat lantaran akses menuju ke sana harus melalui lorong kecil yang diapit oleh dua bangunan milik warga.

Sebelum masuk ke area mushola, pengunjung dapat memarkirkan kendaraan roda duanya di sepanjang lorong tersebut. Saat masuk ke area mushola, pengujung tak akan melihat ornamen atau hiasan yang mencolok. Sebab bangunan mushola ini hanya dikelilingi pagar besi berwarna hijau.

Mushola ini sebagian besar dibuat dari kayu, termasuk lantai terasnya. Inilah yang membuat suasana di mushola itu adem dan nyaman.

Di sisi teras mushola, jemaah bisa melihat langsung Sungai Musi yang terbentang. Ini menambah daya tariknya, sebab dari sana bisa langsung melihat kapal-kapal yang melintas di Sungai Musi.

Cucu pendiri Mushola, Abdullah bin Alwi Bin Husein menjelaskan mushola ini memiliki luas kurang lebih 10×12 meter yang mana di dalamnya hanya terdapat 1 mimbar. Ada anak tangga di teras belakang mushola yang langsung berdampingan ke Sungai Musi.

“Mushola ini dibangun di akhir abad ke-8. Mushola ini sempat rusak akibat dibom oleh Belanda saat Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang, pada tahun 1947 Masehi,” jelasnya, Senin (3/3/2025).

Mimbar di dalam Mushola Al-Kautsar Palembang.Mushola Al-Kautsar Palembang Foto: Rio Roma Dhoni

Mushola ini, kata dia, dibangun oleh Habib Husein bin Abdullah Alkaf dan dipergunakan sebagai tempat beribadah dan menyiarkan agama Islam.

“Dari dulu emang dibangun di pinggir Sungai Musi. Masjid ini dijaga dari generasi ke generasi oleh keluarga Syekh Abu Bakar,” katanya.

Abdullah menjelaskan, saat perang 5 hari 5 malam di Kota Palembang, mushola tersebut dibom oleh Belanda sehingga menyisakan sebagai bangunan mushola.

Kemudian dibangun kembali oleh Habib Muhksin Syekh Abu Bakar dan hingga saat ini bangunan di dalam mushola masih seperti awal dibangun, tidak ada perombakan.

“Untuk bagian dalamnya itu masih seperti dulu, tidak berubah, dari kayunya. Perbaikan hanya satu kali setelah dibom, itu saja. Paling ada penambahan kanan dan kiri ini saja, sebab masyarakat kita bertambah jadi diperluas bagian kanan dan kirinya,” ujarnya.

Ia menyebut, sampai saat ini mushola tersebut dimanfaatkan untuk salat lima waktu. Namun, kata dia, hanya dikhususkan bagi jemaah laki-laki saja.

“Jemaah perempuan tidak diperbolehkan salat di dalam mushola, sesuai dengan hukum syariat Islam. Jadi untuk jemaah perempuan, diarahkan untuk salat di masjid atau mushola lain,” kata dia.

——–

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini 10 Destinasi Liburan Menarik di Palangkaraya, Cocok bagi Pencinta Alam



Jakarta

Palangkaraya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, merupakan salah satu destinasi liburan yang menarik di Indonesia. Terkenal dengan keindahan alamnya yang masih asri dan budaya yang kaya, kota ini menawarkan berbagai pilihan tempat wisata yang cocok bagi para pecinta alam, petualangan, dan budaya.

Berikut adalah beberapa destinasi liburan yang wajib dikunjungi ketika berlibur di Palangkaraya.

1. Taman Nasional Sebangau


Taman Nasional Sebangau merupakan salah satu kawasan konservasi hutan rawa yang terletak di Palangkaraya. Dikenal sebagai rumah bagi satwa liar seperti orangutan, beruang madu, dan berbagai jenis burung, taman nasional ini menawarkan pengalaman wisata alam yang luar biasa.

Anda bisa melakukan trekking menyusuri hutan rawa dan menikmati keindahan alam sambil mengamati satwa liar di habitat aslinya. Taman ini juga menjadi tempat yang cocok bagi para pengamat burung dan pecinta fotografi alam.

2. Bukit Tangkiling

Bukit Tangkiling adalah destinasi wisata yang menawarkan panorama alam yang memukau. Terletak sekitar 25 km dari pusat kota Palangkaraya, bukit ini memberikan pemandangan hutan tropis Kalimantan yang sangat menawan.

Di puncaknya, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Palangkaraya dan sekitarnya. Bukit Tangkiling juga terkenal dengan tradisi adat Dayak yang masih dijaga oleh masyarakat sekitar, menjadikannya tempat yang menarik untuk belajar tentang budaya lokal.

3. Kuala Kurun

Kuala Kurun adalah ibu kota Kabupaten Gunung Mas yang terletak sekitar 100 km dari Palangkaraya. Kawasan ini dikenal dengan keindahan alamnya yang masih sangat alami.

Jika Anda tertarik dengan wisata alam yang lebih tenang dan jauh dari keramaian, Kuala Kurun adalah pilihan yang tepat. Anda dapat menikmati pemandangan sungai, hutan tropis, dan budaya lokal suku Dayak yang khas.

4. Danau Tahai

Danau Tahai adalah sebuah danau alami yang terletak sekitar 20 km dari Palangkaraya. Danau ini dikelilingi oleh hutan rawa yang memberikan kesan tenang dan damai.

Anda bisa menikmati kegiatan seperti perahu dayung atau sekadar menikmati keindahan alam sambil duduk di tepi danau. Keindahan Danau Tahai sangat cocok untuk wisatawan yang mencari ketenangan dan kedamaian di alam.

5. Pusat Budaya Dayak

Kalimantan Tengah, khususnya Palangkaraya, adalah rumah bagi suku Dayak yang memiliki budaya yang kaya dan unik. Di Palangkaraya, Anda bisa mengunjungi Pusat Budaya Dayak yang terletak di kawasan Tangkiling.

Di sini, pengunjung bisa belajar tentang tradisi, adat istiadat, dan kerajinan tangan suku Dayak. Anda juga bisa menyaksikan berbagai pertunjukan seni tradisional Dayak yang menggambarkan kehidupan mereka sehari-hari.

6. Cultural Park Palangkaraya

Cultural Park Palangkaraya adalah sebuah taman budaya yang memiliki berbagai fasilitas untuk wisatawan. Di tempat ini, pengunjung bisa menikmati berbagai atraksi budaya, mulai dari pertunjukan seni, pameran kerajinan tangan, hingga acara tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya masyarakat Kalimantan Tengah. Taman ini juga sering menjadi tempat untuk acara-acara besar, seperti festival seni dan budaya.

7. Sungai Kahayan

Sungai Kahayan adalah sungai terbesar di Kalimantan Tengah yang mengalir melalui Palangkaraya. Sungai ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat setempat dan menawarkan pemandangan yang indah.

Anda bisa menyewa perahu untuk berkeliling sungai, menikmati keindahan alam sekitar, dan merasakan kesejukan angin sungai. Sungai Kahayan juga menjadi jalur transportasi utama bagi masyarakat lokal, sehingga Anda dapat melihat kehidupan sehari-hari masyarakat setempat di sepanjang sungai.

8. Masjid Raya Palangkaraya

Masjid Raya Palangkaraya adalah salah satu masjid terbesar dan terindah di Kalimantan Tengah. Masjid ini memiliki arsitektur yang megah dengan desain yang memadukan gaya modern dan tradisional. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Masjid Raya juga menjadi salah satu ikon kota Palangkaraya yang wajib dikunjungi.

9. Hutan Kota Palangkaraya

Hutan Kota Palangkaraya adalah ruang hijau yang terletak di pusat kota. Tempat ini sangat cocok untuk berolahraga, berjalan-jalan santai, atau sekadar menikmati udara segar di tengah kota. Hutan Kota Palangkaraya juga menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna lokal, menjadikannya tempat yang menyenangkan untuk bersantai sambil menikmati keindahan alam kota.

10. Jembatan Kahayan

Jembatan Kahayan adalah salah satu ikon utama Palangkaraya yang menghubungkan kedua sisi Sungai Kahayan. Dengan panjang lebih dari 700 meter, jembatan ini menjadi jalur utama transportasi di kota ini dan sekaligus menjadi tempat yang ideal untuk menikmati pemandangan sungai dan kota dari ketinggian. Pada malam hari, Jembatan Kahayan terlihat sangat indah dengan cahaya lampu yang memantul di permukaan sungai.

Palangkaraya menawarkan berbagai macam destinasi wisata yang bisa memuaskan hasrat liburan Anda, mulai dari wisata alam yang menakjubkan! Ikuti dan menangkan liburan ke Palangkaraya dengan Jerome Polin di sini. Jangan lupa untuk menjelajahi keindahan alam Palangkaya dengan booking tiketnya di BookCabin.

(akn/ega)





Sumber : travel.detik.com

Air Terjun Ini Lebih Terkenal di Mata Turis Asing daripada Warlok Bali



Gianyar

Di Bali, ada sebuah air terjun yang lebih dikenal oleh turis asing dibandingkan oleh warga lokal (warlok) Bali sendiri. Air terjun Kanto Lampo namanya.

Sejumlah turis asing terlihat berdiri mengular di Air Terjun Kanto Lampo. Mereka menanti giliran untuk bisa berfoto dengan latar air terjun cantik tersebut.

Jangan heran jika ada lebih banyak turis asing yang berkunjung ke air terjun ini dibandingkan dengan wisatawan domestik, bahkan warga lokal (warlok) Bali sendiri. Fenomena tersebut sudah biasa terjadi di Bali.


Petugas Pemasaran Air Terjun Kanto Lampo, Ita Pratistita, menuturkan air terjun yang ditemukan pada tahun 2016 silam itu memang lebih populer di kalangan pelancong asing.

“Jumlah wisatawan asing sampai 80 persen, sedangkan sisanya domestik,” ungkap dia.

Menurut Ita, jumlah pengunjung Air Terjun Kanto Lampo saat musim liburan bisa mencapai 1.000 turis. Sedangkan saat hari biasa hanya 500 pelancong. Adapun, wisatawan domestik ramai saat libur sekolah dan Lebaran.

Saat kami pelesiran ke Air Terjun Kanto Lampo. memang terlihat bagian besar pengunjung saat itu merupakan turis asing.

Sejumlah konten kreator asing dan pemengaruh mancanegara pelesiran ke sana lalu mengunggah foto maupun video selama pelesiran di sana.

Ita menjelaskan kenapa Air Terjun Kanto Lampo banyak dikunjungi turis asing karena objek wisata tersebut viral di dunia maya.

Wisatawan berfoto di jembatan bambu di kawasan objek wisata Air Terjun Kantolampo, Gianyar, Bali, Sabtu (12/4/2025).Wisatawan berfoto di Air Terjun Kanto Lampo Foto: Gangsar Parikesit/detikBali

Hal itu juga yang membuat pengelola Air Terjun Kanto Lampo, warga Banjar Kelod Kangin, menerapkan tiket yang sama untuk wisatawan asing dan domestik yakni Rp 25 ribu per orang. Padahal, sejumlah objek wisata di Pulau Dewata menerapkan tarif berbeda antara pelancong asing, domestik, dan pemegang KTP Bali.

Menurut Ita, daya tarik Air Terjun Kanto Lampo adalah batu berundak yang jadi latar air terjun. Selain itu, bebatuan besar yang berada di sungai mempercantik objek wisata tersebut.

Momen terbaik datang ke Air Terjun Kanto Lampo pada pukul 07.00-09.00 Wita. Saat itu, objek wisata tersebut belum dipadati oleh wisatawan sehingga bisa puas berfoto di air terjun.

Buat traveler yang ingin melali (jalan-jalan) ke Air Terjun Kanto Lampo jangan khawatir. Objek wisata tersebut sudah dilengkapi beragam fasilitas seperti tempat parkir, kamar mandi, ruang ganti, hingga food court.

Sayangnya, pengelola Air Terjun Kanto Lampo belum menyiapkan transaksi nontunai. Traveler perlu menyiapkan uang tunai. Selain itu, objek wisata yang berada di Desa Adat Beng, Gianyar, Bali tersebut juga belum dilengkapi musala.

Tiket masuk seharga Rp 25 ribu cukup sepadan untuk menikmati air terjun dan rindangnya pepohonan di sana. detikers juga bisa berendam di kolam, treking menyusuri tepi sungai, singgah ke Goa Tan Hana, hingga berfoto lalu menggunggahnya di media sosial.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Makam Misterius di Jalur Pantura Lasem, Konon Milik Intel Zaman VOC



Lasem

Jalur Pantai Utara (Pantura) Lasem menyimpan makam yang sederhana namun misterius. Konon, makam itu milik ‘agen rahasia’ pada zaman VOC.

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalur Pantura yang membelah wilayah Lasem di kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersembunyi sebuah makam sederhana penuh misteri.

Terletak tidak jauh dari badan jalan. Tepat di sebelah utara Jalur Pantura masuk Dukuh Caruban, Desa Gedongmulyo, Lasem. Tak jauh dengan lokasi Sungai Kiringan atau Kairingan, atau sebelah timurnya, makam ini dikenal masyarakat sebagai makam Mbah Galio atau Mbah Sedandang.


Tidak sedikit yang percaya, ia bukan orang biasa, melainkan seorang inteligen sekaligus pengawal setia Raden Panji Margono, tokoh perlawanan terhadap VOC Belanda dalam Perang Kuning di Lasem.

Sepintas melihat, makam ini nyaris tidak mencolok. Diteduhi pohon tua dan dilindungi cungkup kayu yang sangat sederhana. Keberadaannya seolah terlupakan oleh modernitas. Namun, bagi sebagian masyarakat Lasem, makam ini adalah saksi bisu perjuangan heroik di masa lampau.

“Nama Mbah Galio memang tidak muncul dalam buku-buku sejarah resmi, tapi dalam penuturan masyarakat tua, beliau adalah orang kepercayaan Raden Panji Margono. Perannya cukup penting dalam Perang Kuning melawan VOC yang terjadi sekitar abad ke-18,” ujar Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Forkmas) Lasem, Ernantoro, Minggu (4/5/2025).

Menurut Ernantoro, Mbah Galio bukan sekadar pengawal. Ia disebut-sebut sebagai mata-mata ulung, sebagai seorang intelijen pemberi informasi dalam mengatur strategi perang.

Makam misterius di Pantura Lasem, Rembang, Minggu (4/5/2025). Konon makamnya Mbah Galio (Mbah Sedandang) pengawal Raden Panji Margono, tokoh pemimpin Perang Kuning.Makam misterius di Jalur Pantura Lasem Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Ia mampu menyamar dengan sangat baik, bahkan hingga dianggap orang biasa oleh masyarakat umum. Karena kesederhanaan dan kemisteriusannya, ia dijuluki Mbah Sedandang, sosok yang selalu membawa dandang (panci tradisional untuk mengukus) dan berpakaian seperti rakyat jelata.

“Konon, beliau sering muncul tiba-tiba di tempat berbeda. Ini yang membuatnya dijuluki sebagai intelijen. Dia suka nyamar dengan memikuk dandang tiap ke mana-mana. Namun, hingga kini, keberadaan dan identitas aslinya tetap menjadi teka-teki,” tambah Ernantoro.

Perang Kuning sendiri merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perlawanan lokal Lasem terhadap kolonialisme Belanda.

Dipimpin oleh Raden Panji Margono, perang ini melibatkan jaringan perlawanan rakyat yang tersebar hingga ke pelosok desa. Banyak tokoh penting yang gugur, dan sebagian jejaknya terkubur oleh waktu, salah satunya adalah Mbah Galio.

Meski tidak tercatat dalam arsip resmi kolonial, makam Mbah Galio tetap dihormati oleh warga sekitar. “Tempat ini sering dianggap angker, tapi sebenarnya tidak,” ungkap Ernantoro.

Forkmas Lasem kini tengah mengusulkan agar situs makam Mbah Galio dijadikan cagar budaya lokal, sebagai upaya pelestarian sejarah lisan yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Sejarah tidak selalu harus tertulis. Selama masih hidup dalam ingatan kolektif, ia layak dihormati dan dilestarikan,” pungkasnya.

Di tengah lalu lintas kendaraan berat dan debu jalanan Pantura, makam Mbah Galio berdiri diam, menyimpan cerita tentang keberanian, pengabdian, dan misteri yang belum terpecahkan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Begini Wajah Terkini Kampung Pelangi di Bandung, Penuh Warna-warni



Bandung

Kampung Pelangi di Bandung kini punya wajah baru. Warna-warni cerah kampung yang kini berubah nama menjadi Lembur Katumbiri itu telah kembali.

Pemandangan penuh warna yang unik dan semarak kini sudah siap menyambut siapa saja wisatawan yang menyambangi kawasan Lembur Katumbiri di Kota Bandung.

Perkampungan dengan topografi berundak-undak ini menjadi rumah bagi ratusan warga yang menghuni bangunan dengan aneka mural berwarna-warni cerah.


Rumah-rumah berwana tersebut berdiri di lereng Sungai Cikapundung, tepatnya terletak di Jalan Siliwangi, RT 03 RW 12 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong. Jalan masuknya dapat diakses melalui Gang Bapa Ehom yang berada di samping area Teras Cikapundung.

Tim detikJabar menyambangi Lembur Katumbiri yang baru diresmikan hari Selasa (6/5/2025) ini. Di pagi hari, suasana jalan Gang Bapa Ehom menuju Lembur Katumbiri terasa segar dan sejuk, dengan gemercik suara sungai dan sinar matahari menerobos pepohonan.

Lembur Katumbiri di Kota BandungLembur Katumbiri di Kota Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

Tak heran, banyak pejalan kaki maupun pelari yang terpantau mengunjungi kawasan ini untuk berolahraga. Terlebih, jalan setapak yang telah dipugar ini juga terlihat bersih dan asri.

Untuk mencapai Lembur Katumbiri, traveler perlu berjalan sekitar 600-an meter dari bibir gang, dengan jalan yang relatif datar dan aman untuk dilalui siapa saja. Namun, ada beberapa titik yang licin dan perlu diwaspadai terutama bila hujan turun.

Warna-warni cerah dinding rumah mulai terlihat setelah berjalan kaki santai selama kurang lebih 10 menit. Ada spot foto yang bisa digunakan pengunjung untuk mengabadikan momen dengan latar rumah warna-warni. Namun, untuk mengakses kampung ini, pengunjung harus melalui turunan dan tanjakan yang cukup curam.

Lembur Katumbiri di Kota BandungLembur Katumbiri di Kota Bandung Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar

Lembur atau kampung yang sebelumnya dinamai Kampung Pelangi 200 ini telah cukup lama menjadi salah satu spot wisata ‘Instagramable’ Kota Bandung, yakni sejak 2018-an. Namun, seiring waktu, warna-warni kampung ini perlahan pudar.

Oleh karena itu, pemerintah Kota Bandung bersama seniman mural John Martono dan warga setempat kembali mengecat sebanyak hampir 200 rumah di kawasan ini agar kembali menarik.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pengecatan kembali rumah-rumah di Lembur Katumbiri bertujuan untuk menjadikan kawasan ini sebagai tempat wisata tersembunyi atau ‘hidden gem’ yang menarik bagi wisatawan.

“Tujuannya adalah untuk memberikan alternatif ‘hidden gem’, sebuah konsep yang bisa dibuat sebenarnya. Tempat tersendiri, jauh dari keramaian, sangat menyenagkan untuk didatangi wisatawan,” ungkap Farhan di sela peresmian Lembur Katumbiri.

Nama katumbiri alias “pelangi” dalam Bahasa Sunda dipilih karena merepresentasikan suasana rumah dengan mural warna-warni di kawasan ini. Ia berharap warga setempat dapat memanfaatkan hal ini dengan membuka tempat usaha yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai.

“Wisatawan bisa bikin konten di sini. Warga silakan buat tempat jajan, tempat duduk-duduk dan foto2-foto. Asalkan tetap jaga kebersihan dan keselamatan,” terangnya.

Pengecetan Lembur Katumbiri Melibatkan Warga

Sementara itu, seniman mural John Martono mengatakan ia memerlukan waktu sekitar 17 hari untuk mengecat 200-an rumah di Lembur Katumbiri. Pengecatan dilakukan bekerja sama dengan sejumlah pihak, tak terkecuali warga setempat.

“Ada teman-teman dan pegawai yang ngecat, juga warga sekitar. Ini adalah kerja sama kami. Kita usahakan agar setiap rumah warnanya berbeda-beda,” ungkap John.

Ia mengatakan proses awal pengecetan dimulai dengan membuat sketsa kasar di smartphone tentang mural yang akan diaplikasikan di dinding-dinding rumah. Setelah berembuk dengan para pengecat, mereka kemudian mulai bahu-membahu melakukan pengecatan.

“Tapi memang ada beberapa spot yang sulit dijangkau, jadi kita maksimalkan di dinding-dinding lain,” terangnya.

Ia mengatakan tidak ada konsep spesifik yang diterapkan di karya mural Lembur Katumbiri. Tujuannya adalah membuat suasana lebih semarak dan berwarna, dan adaptif dengan keinginan warga setempat yang ingin mewarnai kampung mereka dengan gambar-gambar tertentu.

“Jadi keseluruhan mural ini memiliki alur yang menggambarkan bahwa hidup adalah hal yang situasional, kita harus fleksibel menghadapi berbagai situasi. Saya menamainya ‘the journey of happiness'”, papar John.

Warga Berharap Roda Ekonomi Berputar

Sementara itu, Ketua RT 10 RW 12 Kelurahan Dago, Rasimun mengatakan warga setempat mendukung pengecatan kembali tempat tinggal mereka menjadi warna-warni. Ia berharap, peresmian kampung mereka menjadi Lembur Katumbiri dapat mendorong bergeraknya perekonomian warga setempat.

“Perekonomian warga minimal ya harus ada peningkatan lah ke depannya. Untuk saat ini mungkin belum, karena masih baru. Mudah-mudahan ke depannya akan ada pedagang baru bermunculan setelah peresmian ini,” ungkap Rasimun.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Alun-Alun Barat Depok, Kebanggaan Warga Sawangan, Cocok buat Berakhir Pekan



Depok

Depok mempunyai dua alun-alun, ada yang di bagian timur dan barat. Alun-alun Barat (Albar) menyuguhkan pesona tersendiri sebagai tempat kumpul warga.

Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) berada di Sawangan lama, Depok masuk lewat perumahan Shila Sawangan. Albar terasa berbeda dari Altim, yang berada di Grand Depok City, terutama kontur dan luasnya.

Dibangun pada 2024, Albar memiliki luas 2,1 hektar. Lebih kecil dari Altim, tapi tampak lebih mencolok dengan Jembatan Juara di atas Setu Tujuh Muara.


Jembatan sepanjang 168 meter itu menghubungkan kelurahan Sawangan dan Bojongsari. Dibuat dengan menggunakan sling, jadilah jembatan gantung khusus orang.

Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar)Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Kota Depok Lintang Yuniar Pratiwi mengatakan jembatan itu aman dengan kapasitas 40-60 orang dalam satu waktu.

“Motor nggak boleh lewat, sepeda juga. Hanya orang saja, karena ada CCTV, pos pantau dan keamanan,” katanya pada Kamis (14/5).

Pengunjung atau warga yang ingin menyeberang tidak diperbolehkan untuk berhenti terlalu lama di tengah jembatan. Jalur jembatan pun dibuat khusus untuk dua arah, agar tidak ada kendaraan atau orang berkumpul di sepanjang area.

“Jembatan kita fasilitasi penangkal petir, tapi kalau mulai mendung dengan potensi petir, akan kita tutup,” kata dia.

Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar)Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Bukan cuma kendaraan bermotor, drone pun dilarang terbang tanpa izin.

Selain jembatan gantung, Albar juga memiliki gedung serbaguna. Gedung berkapasitas 700-1.000 orang itu disewakan. Sejauh ini, mayoritas penyewa menggunakan gedung serbaguna itu untuk kegiatan sekolah atau hajatan.

Dengan luas hanya setengah dari Altim, Albar didesain untuk terlihat lebih luas. Joging trek dipasang mengelilingi taman dengan variasi kolam dan sungai.

Taman Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) berada di tengah. Perosotan, jungkat-jungkit, dan ayunan menjadi favorit anak-anak. Devan yang berusia dua tahun memilih perosotan sebagai kesukaannya.

Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar)Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) 9Rifkianto Nugroho/detikcom)

“Iya tadi dia main perosotan,” kata salah satu ibu yang berkunjung pada Jumat (16/5).

Saat pagi hari memang didominasi oleh keluarga yang membawa anak. Mereka bisa jogging, selagi anak bermain tanpa perlu khawatir.

Salman, bayi yang berusia satu setengah tahun, juga ikut merasakan senangnya bermain di Albar. Bocah laki-laki itu berlarian di sepanjang jembatan tanpa alas kaki. Ia tampak senang, sesekali jongkok untuk melihat ke bawah air.

“Sering saya bawa ke sini. Dia bisa bermain sambil berjemur kalau pagi-pagi,” kata ayah Salman.

Hal lain yang menambah keestetikan Albar adalah kios khusus UMKM. Lintang berkata bahwa bangunan terdiri dari 12 unit yang diperuntukkan bagi 11 kecamatan dengan luas 3×3. Sayang, kios UMKM hanya buka di akhir pekan saja.

Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar)Taman Alun-Alun Dan Hutan Kota Depok (Albar) (Rifkianto Nugroho/detikcom)

“Untuk Kecamatan dua unit, karena lokasinya di Sawangan,” kata dia.

Menurut Joni, seorang juru parkir Albar, alun-alun tersebut paling ramai dikunjungi saat akhir pekan. Warga sekitar datang pagi-pagi untuk olahraga. Minggu biasanya menjadi hari yang paling ramai pengunjung.

“Di parkiran sini dibikin tiga layer, bisa sampai 300 motor,” kata dia.

Di hari libur, parkir kerap overload, sementara pengunjung antre untuk masuk. Pengelola menyediakan parkir di sisi utara, parkir di bawah gedung serbaguna atau kantong parkir lainnya.

“Kalau ada event kita koordinasi dengan petugas linmas dari kecamatan Bojongsari,” kata dia.

Albar memang sengaja untuk memfasilitasi masyarakat Depok di bagian barat, sehingga pergerakan masyarakat tak melulu terpusat di Margonda. Masyarakat kini bisa menggunakan fasilitas berupa body gym, area akupuntur dan joging trek untuk berolahraga. Kawasan pohon jati di area jembatan gantung membuat suasana alun-alun semakin teduh.

Alun-alun ini buka mulai pukul 06.00-18.00 WIB dan gratis.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Rakit Danau Lido, Alternatif Liburan Murah dan Sejuk di Bogor


Jakarta

Danau Lido di Bogor, Jawa Barat adalah spot liburan alternatif bagi yang tidak bisa jauh dari Jakarta. Di sini tersedia beragam wahana rekreasi dan kuliner yang bisa dinikmat bersama keluarga.

Salah satu bentuk wisata yang jangan sampai terlewat adalah perahu rakit yang disewakan warga sekitar. Pengunjung tentunya wajib membayar biaya sewa sesuai lokasi tujuan.

Lokasi Danau Lido

Danau Lido terletak di Jl. Raya Bogor-Sukabumi Km 21, Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Luas Danau Lido awalnya 24 hektar namun menjadi hanya 11-12 hektar seperti dijelaskan dalam arsip berita detikcom.


Kedalaman Danau Lido adalah 9 meter dikutip dari tulisan Daya Dukung Perairan Danau Lido Berkaitan dengan Pemanfaatannya untuk Kegiatan Budidaya Perikanan Sistem Keramba Jaring Apung karya Fredrik Tambunan, dkk, dari IPB University. Danau Lido mengalami sedimentasi seluas 3 hektar akibat kegiatan yang tidak ramah lingkungan.

Kawasan yang juga disebut Situ Lido ini dikelilingi pemandangan hijau dan cuaca sejuk sehingga cocok sebagai lokasi wisata. Angin di sekitar Danau Lido bertiup sepoi dan tidak terlalu kencang sehingga terasa sangat nyaman.

Biaya Masuk Danau Lido dan Tarif Wisata Rakit

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

Tarif Masuk Danau Lido

Danau Lido tidak menetapkan biaya masuk, kecuali wisatawan mengunjungi kawasan wisata yang dikelola pihak swasta. Pengunjung tentunya jangan sampai melewatkan perahu rakit yang dikelola masyarakat setempat.

Tarif Wisata Rakit Danau Lido

Biaya sewa perahu rakit Danau Lido adalah:

Keliling danau

  • WNI: Rp 150 ribu per kelompok
  • WNA: Rp 500 ribu per kelompok.

Antar jemput restoran

Perahu rakit untuk antar jemput tamu restoran biasanya dimiliki masing-masing tempat makan. Tamu bisa memilih makan di perahu rakit atau di dalam restoran. Untuk tamu yang memilih makan di perahu, menu akan dikirim dari restoran pilihan.

Danau Lido bisa diakses dengan mobil dan kereta dengan rute sebagai berikut:

Mobil

  • 2 jam 3 menit lewat Jl. Tol Jagorawi sejauh 78 km
  • 2 jam 10 menit lewat Jl. Tol Jagorawi dan Jl. Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi sejauh 83,6 km.

Kereta

  • Naik KRL tujuan Stasiun Bogor di Kota Bogor
  • Lanjut kereta Pangrango rute Bogor-Sukabumi turun di Stasiun Cigombong
  • Pengunjung bisa melanjutkan dengan perjalanan sejauh 2,7-3,4 km menuju Danau Lido.

Sejarah Danau Lido dari Masa ke Masa

Danau Lido BogorDanau Lido Bogor (bonauli/detikcom)

Danau Lido sebetulnya sudah lama dikenal sebagai tempat liburan dengan air jernih, tenang, dan hawa sejuk. Warga sekitar senang datang ke Danau Lido untuk cuci mata atau sekadar melihat pemandangan.

Menurut Ketua Paguyuban Kluster Wisata Rakit Danau Lido, Indra Jaya Lesmana, ikan di dalam danau bisa terlihat karena jernihnya air. Namun air jernih dan luasnya danau yang seperti tak bertepi perlahan menghilang akibat sedimentasi.

“Dulu warna air Danau Lido jernih, ikan-ikan masih bisa terlihat dari permukaan. Namun sedimentasi mengakibatkan danau makin keruh dan besarnya terus menyusut,” kata Indra.

Danau Lido mendapat sorotan lebih luas setelah memperoleh status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dikelola MNC Land. KEK MNC Lido City ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah nomor 69 tahun 2021, sementara peresmiannya dilakukan pada Jumat, 31 Maret 2023.

Fokus KEK MNC Lido City adalah pariwisata terintegrasi yang memudahkan pengunjung. Dalam perjalanannya, KEK ini ditengarai menyebabkan sedimentasi yang berisiko mengganggu keseimbangan lingkungan sekitar. Risikonya adalah bisa terjadi banjir besar di daerah hilir, karena Danau Lido berada di area hulu Sungai Cisadane.

Pemerintah lantas melakukan investigasi yang membuktikan KEK MNC Lido City melakukan reklamasi pada Danau Lido seluas 3 hektar. Pemerintah juga menggelar audiensi dengan masyarakat dan dinas terkait yang menghasilkan bukti KEK MNC Lido City belum memiliki izin lingkungan.

Dengan hasil tersebut, pemerintah menyegel KEK MNC Lido City dan melarang pembangunan. Perkara ini dikabarkan sudah naik ke tahap penyidikan sesuai arsip berita detikcom pada Senin (19/5/2025). Hingga kini, perkara KEK MNC Lido City dan izin lingkungannya masih berlanjut

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kesegaran Tersembunyi di Kaki Gunung Salak



Sukabumi

Traveler yang mencari kesegaran buat liburan di akhir pekan bisa bertualang ke kaki gunung Salak. Di sana ada satu curug atau air terjun yang masih tersembunyi.

Kabut pagi masih menggantung di lereng Gunung Salak ketika suara gemericik air mulai terdengar dari balik kebun teh. Di ujung jalur setapak yang menurun tajam itu, air terjun jatuh dari tebing berlumut, memecah keheningan pedesaan Kabandungan.

Warga sekitar menyebutnya Curug 3 Helipad, sebagian lain mengenalnya sebagai Curug Sentral III. Air terjun ini terdiri dari dua aliran besar yang mengucur sejajar dari tebing batu.


Aliran air itu membentuk tirai putih di tengah dinding hijau lumut. Di bawahnya, kolam dangkal berwarna kehijauan memantulkan cahaya lembut dari langit. Wisatawan terlihat bermain air, sebagian lagi berfoto dengan latar curug yang megah.

Di tepi sungai kecil yang menjadi aliran keluar, deretan sandal dan sepatu ditinggalkan begitu saja di atas batu berjejer rapi seperti barisan kecil yang menunggu pemiliknya kembali.

Curug 3 Helipad SukabumiCurug 3 Helipad Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Terletak di kawasan kebun teh Jayanegara, Desa sekaligus Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, curug ini menjadi tempat beristirahat bagi mereka yang ingin mengasingkan diri dari hiruk-pikuk kota.

Dari atas kebun teh, hamparan hijau membentang sejauh mata memandang. Di kejauhan, perkampungan Kabandungan dan Kalapanunggal terlihat kecil di antara lipatan bukit.

“Curug ini airnya langsung dari Gunung Salak. Banyak pengunjung datang untuk bermain air dan berfoto, apalagi pemandangan kebun tehnya jadi spot favorit,” ujar Andri (35), pengelola Curug Sentral III, Minggu (2/11).

Andri duduk di bale-bale bambu di sisi jalan tanah yang menurun ke arah curug. Dari tempatnya berjaga, ia bisa melihat arus air yang mengalir deras di musim penghujan. Ia tahu persis kapan wisatawan harus diingatkan untuk menjauh.

“Kami selalu awasi langsung, apalagi kalau debit air meningkat,” katanya.

Fasilitas di kawasan ini sederhana. Beberapa warung kopi berdiri di tepi kebun, menyediakan mi instan, gorengan, dan teh hangat. Di dekatnya ada musala kecil dan MCK seadanya.

Pengelola membatasi jam kunjungan wisatawan hingga pukul 17.00 WIB saja setiap harinya. Tiket masuknya murah, hanya Rp10.000 per orang, ditambah Rp3.000 untuk parkir motor.

Sebagian wisatawan lain datang dari luar Sukabumi. Ada rombongan keluarga dari Bogor, sepasang mahasiswa dari Bandung, hingga pejalan tunggal dari Jakarta yang ingin berkemah di sekitar kebun teh.

“Ada juga pengunjung yang datang jauh-jauh dari Papua,” kata Andri dengan bangga.

Pada akhir pekan, suasana berubah lebih ramai. Tenda-tenda kecil kadang berdiri di pinggiran kebun teh, sementara petugas rescue dari Cicurug berjaga di lokasi.

“Hari ini yang bertugas ada tiga orang, situasi aman dan terkendali,” kata seorang anggota tim penyelamat yang berjaga di bawah tebing.

Salah satu pengunjung, Nadia (17), warga Cibadak, datang bersama empat temannya setelah menempuh perjalanan satu jam menggunakan sepeda motor. Wajahnya tampak cerah meski kaki basah oleh air dingin curug.

“Senang banget bisa main air dan foto-foto bareng teman-teman di sini, pemandangannya keren,” ujarnya sambil tertawa.

Bagi warga sekitar, curug ini bukan sekadar tempat wisata. Airnya menjadi sumber penghidupan. Warga memanfaatkan aliran sungai di bawahnya untuk mengairi kebun dan menyalakan turbin kecil pembangkit listrik rumahan.

“Dari dulu air curug ini yang kasih hidup kampung,” tutur Eman (52), warga Jayanegara yang rumahnya di sekitar curug.

Asal Usul Nama Curug Helipad

Nama ‘Helipad’ sendiri muncul dari bentuk kawasan di atas curug yang lapang di tengah kebun teh. Permukaannya datar dan terbuka, menyerupai landasan helikopter.

Warga setempat menyebutnya begitu sejak dulu, meski tak pernah benar-benar ada helikopter mendarat di sana. Lama-kelamaan, nama itu melekat, diwariskan dari mulut ke mulut wisatawan.

Kabut tipis turun perlahan, menyapu pucuk-pucuk teh yang berbaris di lereng. Suara air terjun berpadu dengan canda pengunjung yang tak jemu memotret keindahan alam di hadapan mereka.

Di sela gemuruh air, terdengar samar suara serangga dari balik rimbun dedaunan tanda alam yang masih hidup dan terjaga di kaki Gunung Salak.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

Rekomendasi 5 Desa Wisata Terbaik di Bantul



Bantul

Liburan ke Jogja jangan hanya di pusat kotanya saja. Melipir ke Bantul, ada 5 desa wisata yang layak untuk traveler kunjungi. Apa saja?

Desa wisata saat ini jadi salah satu opsi destinasi yang bisa traveler kunjungi saat liburan. Jika bosan dengan suasana kota, menyambangi 5 desa wisata di Bantul ini asyik juga.

Masing-masing desa wisata ini punya keunggulan atraksi dan budayanya sendiri. Berikut uraiannya:


1. Desa Wisata Krebet, Bantul

Desa Wisata KrebetDesa Wisata Krebet Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Pertama, ada desa Wisata Krebet di Kabupaten Bantul yang terkenal dengan sentra kerajinan batik kayu yang unik dan langka. Teknik batik yang biasa diaplikasikan di kain, kali ini diterapkan pada media kayu.

Hasilnya berupa produk seperti topeng, wayang, dan souvenir yang cocok untuk oleh-oleh khas Jogja. Tidak hanya menyaksikan hasilnya, pengunjung bisa ikut workshop dan belajar langsung dari para perajin.

Anak-anak pun bisa diajak ikut melukis batik kayu sambil mengenal budaya Jawa. Kombinasi wisata seni dan budaya ini menjadikan Krebet sangat cocok untuk liburan keluarga yang penuh pengalaman baru.

Selain batik, desa ini juga memiliki wisata alam seperti Air Terjun Jurang Pulosari dan Sendang Tirta Waluya. Ada juga jeep wisata untuk menjelajah desa dan kawasan sekitarnya. Homestay dan fasilitas umum tersedia lengkap, menjadikan pengalaman wisata nyaman dan menyenangkan.

2. Desa Wisata Srimulyo, Bantul

Desa Wisata Srimulyo atau Dewi Mulia terletak di Piyungan, Bantul. Dikelilingi Sungai Opak dan Sungai Gawe serta berada di ketinggian 110 meter, desa ini menyuguhkan suasana sejuk dengan udara segar yang cocok untuk wisata keluarga.

Sejak tahun 2018, desa wisata Srimulyo berkembang jadi desa wisata berbasis komunitas dengan lebih dari 10 destinasi. Wisata unggulannya antara lain Bukit Bintang, Watu Amben, Pasar Kebon Empring, hingga Gerbang Banyu Langit yang sangat Instagramable. Di sini juga atraksi budaya seperti Jathilan, Kupatan Jolosutro, dan Gejog Lesung memberi pengalaman unik bagi pengunjung.

Fasilitas pendukungnya juga cukup lengkap, mulai dari taman keluarga, area kuliner, hingga mushola dan toilet bersih. Desa Wisata Srimulyo juga dikenal sebagai Smart Village dan Desa Cantik berkat inovasi dan pengelolaan datanya.

3. Desa Wisata Kasongan, Bantul

Kasongan terkenal sebagai sentra kerajinan gerabah atau keramik. Gerabah khas kasongan tidak hanya diminati di dalam negeri, tapi juga laku di pasar Asia dan Eropa.Kasongan terkenal sebagai sentra kerajinan gerabah atau keramik. Foto: Rifkianto Nugroho

Rekomendasi desa wisata selanjutnya adalah Desa Wisata Kasongan yang berada di Desa Bangunjiwo, Kasihan. Desa ini dikenal sebagai pusat kerajinan gerabah terbesar di Jogja. Letaknya hanya sekitar 7 km dari pusat Kota Jogja dan mudah dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun umum.

Saat tiba di desa wisata ini, wisatawan akan disambut deretan showroom yang menjual berbagai produk gerabah seperti guci, vas, pot bunga, patung Buddha, hingga hiasan rumah dari tanah liat.

Selain berbelanja, pengalaman menarik di Kasongan adalah mengunjungi workshop para perajin. Di sini, pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan gerabah dari awal, mulai dari tanah liat mentah hingga menjadi karya seni yang siap dijual.

Aktivitas ini cocok dilakukan untuk anak-anak dan keluarga yang ingin mencoba membentuk gerabah sendiri. Kasongan juga sarat nilai sejarah.

Legenda tentang tanah warga yang diserahkan karena ketakutan pada Belanda menjadi bagian penting identitas desa ini. Kini, warga yang dulu tak punya tanah justru bangkit lewat kreativitas tangan mereka.

Suasana desa wisata Kasongan yang tenang, ramah, dan penuh karya seni menjadikan desa ini sebagai destinasi menarik untuk wisata keluarga yang ingin nuansa budaya sekaligus edukatif.

4. Desa Wisata Kebonagung, Bantul

Berlokasi di Imogiri, Bantul, Desa Wisata Kebonagung menyuguhkan pemandangan sawah yang luas dengan udara sejuk khas pedesaan. Desa ini berfokus pada wisata pertanian dan budaya, memanfaatkan potensi masyarakatnya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan peternak.

Suasana yang alami menjadikan tempat ini ideal untuk keluarga yang ingin liburan sambil menyatu dengan alam. Aktivitas wisata di Kebonagung sangat edukatif dan banyak pilihannya.

Wisatawan bisa ikut menanam padi, membajak sawah, menggembala itik, bahkan belajar membuat tempe dan emping secara tradisional. Tidak hanya itu, tersedia juga pelatihan seni budaya seperti jathilan, karawitan, macapat, hingga praktik sholat dan kenduri.

Anak-anak akan menemukan banyak hal baru yang tak mereka jumpai di kota. Kebonagung juga memiliki Museum Pertanian dan sejumlah kegiatan kreatif lain seperti membatik di atas kayu atau keramik.

Wisatawan bisa menyusuri Sungai Opak dengan perahu naga, menjadikan kunjungan semakin berkesan. Kombinasi wisata alam, budaya, edukasi, dan kesenian membuat Kebonagung jadi tempat liburan keluarga yang lengkap dan bermakna.

5. Desa Wisata Wukirsari

Perajin batik tulis di Wukirsari, Imogiri, Bantul.Perajin batik tulis di Wukirsari, Imogiri, Bantul. Foto: Dok Pemkab Bantul

Desa Wisata Wukirsari di Imogiri, Bantul juga tak kalah menarik buat dikunjungi. Desa ini terpilih menjadi 55 Best Tourism Village 2024 atau Desa Wisata Terbaik Dunia oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO).

Prestasi itu berhasil dicapai karena desa wisata Wukirsari memiliki dua warisan budaya tak benda dunia berupa wayang dan batik serta berhasil melestarikannya.

Para perajin wayang dan batik di desa wisata Wukirsari masih terjaga keberadaannya. Terdapat 640 perajin batik dan 300 perajin wayang yang mendapat dukungan sarana dan prasarana dari pemerintahan setempat.

Masyarakat Wukirsari juga masih menjaga betul adat istiadat hingga kelestarian alam. Sehingga masyarakat benar-benar menjadi pelaku wisata di tempat tinggalnya. Tak heran jika hal itulah yang menjadikan Wukirsari masuk dalam daftar desa wisata terbaik dunia 2024.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

Hutan Durian Terbesar Asia Tenggara, Ada di Desa Wisata Ini



Trenggalek

Mau pesta durian? Di desa ini mungkin bisa. Desa Wisata Duren Sari Sawahan dikenal sebagai hutan durian terbesar se-Asia Tenggara.

Berlokasi di Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, desa ini menawarkan ribuan pohon durian produktif yang tumbuh di area ratusan hektare, sekaligus menjadi destinasi wisata edukasi, kuliner, dan alam yang menarik.

Desa satu ini dikenal luas sejak meraih predikat Desa Wisata Terbaik Nasional 2020. Berbasis Community Based Tourism (CBT), desa ini dibangun atas semangat warga yang ingin menjaga lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.


Pada awalnya, kondisi sungai kurang bersih dan hasil pertanian sulit dipasarkan. Namun berkat komitmen masyarakat, terbentuklah Pokdarwis Duren Sari pada 2015, yang kemudian diresmikan dengan SK Dinas Pariwisata Trenggalek pada 2017.

Nama “Duren Sari” bukan sekadar julukan. Desa ini berada di kawasan International Durio Forestry (IDF), hutan durian terluas se-Asia Tenggara seluas 650 hektare, yang ditetapkan Menteri Pertanian pada 2016.

Sebagian besar pohonnya berusia ratusan tahun sejak masa penjajahan dan tetap terjaga kesuburannya hingga kini. Setiap musim panen, durian tampak menggunung di teras rumah warga, menjadi daya tarik utama wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara.

Desa Wisata Duren Sari Sawahan menawarkan pengalaman lengkap bagi pengunjung, mulai dari hamparan hutan durian yang rimbun, suasana pedesaan yang asri, hingga beragam aktivitas edukasi dan kuliner. Setiap sudut desa menghadirkan pesona khas yang membuat wisatawan betah berlama-lama.

IDF menawarkan pengalaman trekking di tengah rindangnya pohon durian tua sambil mengenal berbagai varietas durian lokal. Saat musim panen, pengunjung dapat mencicipi durian yang jatuh langsung dari pohonnya, mulai dari durian Ripto hingga durian khas lain dengan rasa unik.

Selain durian, buah manggis juga melimpah dan dipanen bersamaan. Udara sejuk, oksigen segar hutan, dan keramahan petani durian menjadi pengalaman tak terlupakan bagi wisatawan.

Untuk memenuhi minat beragam wisatawan, Desa Wisata Duren Sari menawarkan paket wisata alam, edukasi, budaya, kuliner, outbound, dan live-in. Dengan homestay yang nyaman, wisatawan dapat tinggal bersama penduduk lokal.

Lalu, merasakan suasana akrab layaknya keluarga, sekaligus belajar kehidupan pedesaan. Hidangan khas seperti wedang jeser (campuran jahe, sere, dan gula aren), sompil, tiwul jambul, hingga nasi luwak siap melengkapi kunjungan Anda.

Jumlah wisatawan terus meningkat, peluang usaha lokal bertambah, dan lingkungan desa menjadi lebih bersih serta sehat. Keterlibatan warga, termasuk mantan tenaga kerja migran yang menjadi pemandu multilingual, membuat desa ini semakin siap menyambut wisatawan dari seluruh dunia.

Artikel ini sudah tayang di detikJatim. Klik di sini untuk membaca selengkapnya.

(ddn/ddn)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker