Tag Archives: syuting

Gumuk Pasir Parangkusumo, Lokasi Syuting Video Klip Gala Bunga Matahari



Bantul

Video klip Gala Bunga Matahari dari Sal Priadi yang dibintangi Gempi viral. Rupanya, tempat syutingnya ada di Gumuk Pasir Parangkusumo, Bantul.

Lagu Gala Bunga Matahari karya Sal Priadi begitu fenomenal. Liriknya yang menyayat hati, sekaligus menyisipkan optimisme dalam menjalani hidup selepas ditinggal pergi orang kesayangan untuk selamanya, begitu mengena di hati para pendengarnya.

Video klip Gala Bunga Matahari garapan sutradara Aco Tenri juga begitu sedih. Gempita Nora Marten digambarkan sebagai bunga Matahari yang sedang berada di ‘Bulan’. Sedangkan orang yang dia kasihi masih berada di Bumi dalam wujud kakek tua.


Ternyata, lokasi syuting video klip itu bukan berada di ‘Bulan’ betulan, melainkan di Gumuk Pasir Parangkusumo, sebuah objek wisata di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Daya Tarik Gumuk Pasir Parangkusumo

Objek wisata ini kerap diburu wisatawan untuk berfoto karena memiliki penampakan yang tak biasa. Hamparan pasirnya bisa dibilang mirip seperti di Bulan. Pantas jika destinasi ini jadi lokasi syuting video klip Gala Bunga Matahari.

Namun ada juga yang menyebutnya mirip seperti di Gurun Sahara. Maka tidak heran jika Bantul mendapat julukan sebagai Sahara van Java.

Gumuk Pasir ParangkusumoGumuk Pasir Parangkusumo Foto: Putu Intan/detikcom

Meski bentangan pasir di sini mirip seperti gurun pasir yang banyak ditemukan di daerah Timur Tengah atau Afrika. Namun jangan salah, Gumuk Pasir Parangkusumo ini sejatinya berbeda dengan gurun dan termasuk langka di dunia.

Gumuk pasir atau istilah geologinya disebut sand dunes merupakan bentukan alam berupa gundukan-gundukan pasir menyerupai bukit yang terbentuk akibat pergerakan angin.

Istilah gumuk sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti gundukan atau sesuatu yang menyembul dari permukaan yang datar.

Selain berfoto-foto ria, traveler juga bisa main sandboarding di sini. Cara kerjanya sederhana, traveler dapat berdiri di atas papas lalu meluncur menyusuri bukit pasir atau bisa juga duduk di atas papan bila masih takut.

Lokasi, Jam Operasional dan Biaya

Gumuk Pasir Parangkusumo ini buka setiap hari mulai pukul 07.00-18.00 WIB. Tiket masuknya gratis, hanya saja bila ingin melakukan sandboarding, traveler harus menyewa papan seharga Rp 100.000.

Gumuk Pasir Parangkusumo berlokasi di Jalan Pantai Parangkusumo, Pantai Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, Yogyakarta. Lokasinya berada di sebelah barat Pantai Parangtritis.

Jika berangkat dari pusat kota mJogja enggunakan kendaraan roda empat, maka kamu perlu menempuh waktu perjalanan sekitar satu jam untuk menuju ke gumuk pasir ini.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

5 Destinasi Wisata Horor buat Habiskan Weekend



Jakarta

Destinasi tak hanya soal yang cantik-cantik. Beberapa lokasi ini menawarkan suasana horor pada waktu yang tepat.

Film horor masih merupakan genre tontonan yang jadi primadona bagi masyarakat Indonesia. Selain jalan cerita dan aktor serta aktris yang banyak disukai, tak sedikit set syuting dalam film-film horor yang menjadi daya tarik wisata untuk dikunjungi.

Cerita-cerita rakyat mengenai misteri di suatu daerah juga banyak bikin masyarakat tanah air penasaran untuk mengetahui lebih lanjut.


Tak jarang dari cerita-cerita misteri itu, diubah menjadi film yang menarik bagi penonton yang memang senang ditakut-takuti. Lokasi-lokasi syutingnya pun turut menjadi daya tarik untuk didatangi.

Dari film Pengabdi Setan hingga KKN Desa Penari, berikut 5 destinasi wisata yang juga merupakan lokasi syuting film horor terkenal Indonesia, seperti dirangkum situs Kemenparekraf. Berani coba berkunjung?

1. Rumah Pengabdi Setan

Masih ingat dengan tokoh Ibu dalam keluarga Rini di film garapan Joko Anwar ini? Dalam seri pertamanya, film Pengabdi Setan (2017) melakukan syuting di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat.

Bangunan yang paling ikonik dalam film ini adalah rumah yang ditinggali oleh keluarga Rini, yang beralamat lengkap di Kawasan PTPN VIII, Kampung Kertamanah.

Rumah tersebut menjadi perhatian bagi masyarakat, terkhusus bagi mereka yang telah menonton film horor populer itu.

Ada dua rumah yang digunakan dalam film Pengabdi Setan, satu rumah masih ditempati sehingga tidak boleh dimasuki. Meski begitu, pengunjung masih diperbolehkan berfoto di depannya.

Sedangkan satu rumah lainnya dibiarkan kosong dan terbuka untuk umum. Sebuah poster besar bertuliskan Pengabdi Setan dan tokoh hantu Ibu dipajang di halaman rumah.

Jika tertarik berkunjung, kamu cukup membayar tarif seharga Rp10 ribu.

2. Hutan Pinus Mangunan

Masih ingat dengan film hits pada masanya, KKN Desa Penari (2022)? Ternyata, salah satu set yang dipilih menjadi lokasi syuting film horor tersebut adalah Hutan Pinus Mangunan yang terletak di Bantul, Yogyakarta.

Walaupun dijadikan lokasi syuting film horor, hutan ini sebenarnya jauh dari kesan mistis lho! Tempat tersebut dijadikan sebagai destinasi wisata karena vibes-nya seperti ada di luar negeri.

Selain itu, hutan pinus ini sering dijadikan venue konser penyanyi ibu kota, salah satunya Tulus.

3. Waduk Sermo

Terletak di Kulonprogo, waduk ini memiliki sejuta keindahan yang memikat, sekaligus menyimpan misteri dan kesan horor yang juga cukup kuat sehingga dijadikan lokasi syuting film horor Jailangkung: Sandekala (2022) karya Kimo Stamboel.

Jailangkung: Sandekala mengangkat kisah mengenai kepercayaan masyarakat setempat, bahwa saat memasuki waktu maghrib atau ketika matahari tenggelam, orang-orang dilarang keluar rumah.

Waduk Sermo menjadi lokasi syuting saat scene sebuah keluarga dalam film tersebut mengalami musibah di sebuah danau.

Selain memiliki daya tarik karena dijadikan lokasi syuting film horor, tempat ini juga asyik untuk dijadikan lokasi berkemah dengan keluarga atau teman-teman.

4. Karacak Valley

Terletak di Garut, Jawa Barat, Karacak Valley merupakan destinasi wisata alam yang pernah dijadikan lokasi syuting film horor berjudul Rasuk (2018).

Meski terlihat mistis dan sangat menyeramkan dalam film, sebenarnya tempat wisata alam ini sangat indah dan asri lho, serta sering dijadikan lokasi berkemah karena menawarkan pemandangan indah hutan pinus yang khas.

Karacak Valley masuk dalam film ketika scene pemeran bernama Langgir Janaka beserta ketiga sahabatnya harus berjalan kaki karena mobil yang ditumpangi tidak bisa lewat akibat jalanan rusak.

Bagi kamu yang ingin berkunjung ke sana, kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun dengan angkutan umum seperti angkot maupun ojek motor.

5. Taman Watu Kandang

Berlokasi di Trenggalek, Jawa Timur, tempat ini pernah menjadi lokasi syuting Sinden Gaib (2024). Film ini diangkat dari kisah nyata dari Kabupaten Trenggalek, tepatnya dari Desa Pandean, Kecamatan Dongko.

Sehingga Taman Watu Kandang yang terletak di sana juga menjadi lokasi syuting karena mengambil tempat yang sama seperti cerita.

Ada banyak aktivitas seru yang bisa kamu lakukan di sana selain menikmati keindahan alamnya, yakni river tubing hingga menjelajah desa.

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Menguak Lokasi Toko Kaset di Film Galih dan Ratna Tahun 2017, di Mana Sih?



Jakarta

Film Galih dan Ratna sangat populer sehingga di-remake lagi tahun 2017. Di film itu, ada sebuah bangunan toko kaset yang sangat ikonik. Di mana lokasinya?

Bangunan bersejarah sering kali menjadi saksi perjalanan waktu yang penuh cerita, baik dari segi arsitektur maupun sejarah sosial. Seringkali bangunan bersejarah ini nongol sebagai latar di film nasional.

Seperti di film Galih dan Ratna produksi tahun 2017. Film besutan sutradara Lucky Kuswandi ini mengambil latar lokasi di sebuah bangunan sejarah milik Tio Tek Hong berlokasi di Pasar Baru, Jakarta Pusat.


Salah satu bangunan di Jakarta yang memiliki sejarah panjang adalah bangunan milik Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang membuka toko kelontong, rekaman gramofon, piringan hitam, perlengkapan berburu, dan juga beliau membuka percetakan kartu pos.

Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017 (Tangkapan Layar)

Bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi ini ternyata pernah digunakan sebagai lokasi syuting film “Galih dan Ratna” pada tahun 2017.

“Ada satu yang menarik gedung ini kalau sekarang jadi restoran, sebenarnya gedungnya pak Tio Tek Hong gedung sebelum di cet warna merah putih, diambil dari satu film yang dirilis tahun 2017 yang merupakan remake dari film paling populer tahun 70an yaitu Galih dan Ratna,” kata Farid Mardhiyanto, Co-Founder Jakarta Good Guide kepada detikTravel beberapa waktu lalu.

Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017Gedung yang jadi latar toko kaset di Film Galih dan Ratna tahun 2017 Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

Film “Galih dan Ratna” (2017), mengisahkan hubungan cinta antara dua karakter utama, Galih dan Ratna. Dalam film ini, Salah satu lokasi ikonik adalah “Nada musik” tempat dimana Galih menjaga toko kaset warisan dari ayahnya.

Gedung ini menjadi titik temu yang krusial bagi hubungan mereka, menghubungkan mereka melalui kecintaan yang sama terhadap musik.

Gedung Tio Tek Hong yang Penuh Cerita

Tio Tek Hong dikenal sebagai salah satu sultan pasar baru dalam perkembangan Jakarta pada tahun 1902. Bangunan bergaya Belanda ini terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat yang pada masanya menjadi pusat perdagangan.

Keunikan arsitektur bangunan ini terletak pada detail ornamen yang memadukan dengan gaya kolonial Belanda. Meskipun bangunan ini sudah tua, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan memancarkan pesonanya.

“Tio Tek Hong ini kemudian juga dia berbisnis senjata jual beli senjata ketika perang dunia pokoknya terakhir selesai, bisnisnya masih bertahan. Namun sayangnya, bisnis Tio Tek Hong ini mulai menurun ketika terjadinya depresi besar dari Amerika terus ke Eropa, Belanda kena termasuk akhirnya koloni nya Hindia Belanda juga kena. Makin lama makin turun, tokonya dijual dan akhirnya kemudian berpindah tangan,” tutur Farid.

Meski banyak orang yang mungkin tidak menyadari nilai sejarah bangunan tersebut, kehadirannya dalam film Galih dan Ratna secara tidak langsung mengangkat kembali kisah dan peran penting terhadap pengusaha Tio Tek Hong dalam sejarah Jakarta.

Dari pantauan detikTravel di lokasi, bangunan berarsitektur serba merah dengan dua lantai ini tampak ramai oleh pengunjung, karena ditempati oleh berbagai pedagang yang berjualan, menciptakan suasana hidup di setiap sudut dan pohon-pohon hijau.

Warna merah yang mendominasi, berpadu dengan sisa warna cat asli bangunan, memperkaya estetika visual. Film Galih dan Ratna yang didominasi nuansa biru, kontras warna tersebut memberikan kesan yang ceria dan dinamis.

Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017Toko Kaset di Film Galih dan Ratna 2017 Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

Di toko milik Galih, yang menjadi latar penting dalam film Galih dan Ratna itu terdapat koleksi kaset-kaset mixtape legendaris dari zaman dahulu yang tidak hanya menambah keaslian suasana, tetapi juga mendukung properti film dengan memperkaya elemen nostalgia,

Gedung ini mencerminkan kecintaan kedua karakter utama terhadap musik, menghadirkan harmoni unik antara masa lalu dan masa kini, serta mencerminkan kehidupan yang terus berdenyut di tengah lingkungan bersejarah yang terawat dengan baik.

Gedung ini pun mengingatkan akan pentingnya melestarikan warisan bangunan bersejarah. Namun, bahwa jalan ini sebenarnya bukan Jalan Pasar Baru depan toko buku Gramedia yang kita kenal sekarang.

Toko ini bukan toko pertamanya, melainkan salah satu dari sekian banyak usaha yang dimilikinya, mengingat reputasinya sebagai seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak toko di berbagai lokasi di Pasar Baru pada masa kolonial, mencerminkan luasnya jangkauan bisnis dan pengaruh beliau pada masa itu.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Mari, Bernostalgia di Studio Alam TVRI Depok



Depok

Nama Studio Alam TVRI sudah melegenda di Depok. Berdiri sejak tahun 1980-an, tempat wisata hijau ini memang membawa nostalgia banyak orang,

Berlokasi di Jl. Studio Alam TVRI, Sukmajaya, Kec. Sukmajaya, Kota Depok, Studio Alam TVRI diresmikan oleh mantan Presiden Soeharto sebagai tempat syuting bertema alam.

Memiliki luas 28 hektar, tempat wisata ini didominasi oleh hutan, sehingga populer sebagai tempat piknik oleh banyak kalangan, khususnya orang tua.


Saat berkunjung ke sana pada Jumat (9/5/2025), kawasan itu terbilang sepi. Yang ada saat itu adalah pasukan Kostrad, sedang berlatih tembak di balik pepohonan rapat Studio Alam TVRI.

Nostalgia ke Studio Alam TVRI DepokNostalgia ke Studio Alam TVRI Depok Foto: Andhika Prasetia

Ada yang berbeda dari tempat wisata ini. Bagian depan, setelah tulisan ikon ‘Studio Alam TVRI’, terdapat spot-spot yang lebih warna-warni. Itu adalah spot foto yang disediakan oleh pengelola untuk pengunjung.

Hiasannya memang instagenik, ada lampion dan payung warna-warna. Sayang, menara pandang kayu sedang ditutup karena lapuk akibat hujan yang berkepanjangan di minggu ini.

Sedikit segar, padang rumput Studio Alam TVRI kini diisi dengan rumah adat joglo dan rumah bale-bale. Tempat itu biasanya disewakan untuk syuting atau event.

Nostaligia ke Studio Alam TVRI DepokNostaligia ke Studio Alam TVRI Depok Foto: (Andhika/detikFoto)

Ada satu rumah yang sudah lapuk, malah setengah roboh. Itulah rumah Siti Nurbaya yang dipakai untuk film Siti Nurbaya yang disiarkan di TVRI pada zaman dahulu.

Bagian belakang, terlihat pusdiklat dan asrama TVRI. Ini merupakan bagian perkantoran dan mess pegawai. Mereka kerap lalu lalang di sana dengan setelan dinas ‘TVRI’.

Matahari semakin tinggi, belum ada tanda-tanda pengunjung yang bertambah. Saya ngobrol dengan UMKM yang berjualan di sana. Dagangannya sederhana, terdiri dari berbagai macam jenis minuman dingin dan jajanan saja.

Studio Alam TVRI merupakan destinasi wisata yang menawarkan konsep alam di Kota Depok, Jawa Barat. Tempat yang diresmikan tahun 1985 ini kerap menjadi lokasi syuting.Studio Alam TVRI merupakan destinasi wisata yang menawarkan konsep alam di Kota Depok, Jawa Barat. Tempat yang diresmikan tahun 1985 ini kerap menjadi lokasi syuting. Foto: Andhika Prasetia

“Iya sepi kalau hari biasa, rame Sabtu-Minggu atau ada event,” ucapnya.

Sinar matahari masih mencoba untuk menembus dedaunan rapat dari pohon-pohon yang rindang di sana. Angin sesekali bertiup, tapi hawa panas seakan tak mau beranjak dari sana.

Tiga jam sebelum tutup, wisatawan mulai berdatangan. Aneh juga, mau tutup malah makin ramai, pikir saya. Seorang anak datang ditemani orang tuanya, namanya Niva (7).

Ibu Nunung berkata, ia dan anaknya sedang berkunjung ke rumah teman sekolah. Datang dari Parung, ia sekalian mampir ke Studio Alam TVRI.

Nostalgia ke Studio Alam TVRI DepokNostalgia ke Studio Alam TVRI Depok Foto: Andhika Prasetia

“Sudah tiga kali ke sini, lumayan buat bawa anak. Murah meriah, adem,” kata ibunda.

Niva sedikit pemalu, tapi dengan senyum lebar ia menunjukkan kebahagiannya liburan di sana.

“Senang, foto-foto. Mau ke sini lagi,” jawabnya dengan mata berbinar.

Studio Alam TVRI merupakan destinasi wisata yang menawarkan konsep alam di Kota Depok, Jawa Barat. Tempat yang diresmikan tahun 1985 ini kerap menjadi lokasi syuting.Studio Alam TVRI Foto: Andhika Prasetia

Sekelompok anak-anak dengan beberapa remaja juga mulai terlihat memasuki kawasan wisata. Mereka langsung ngacir foto-foto.

Irma, Manager Sales Studio Alam TVRI menjelaskan bahwa kebanyakan yang datang ke sana pada sore hari adalah warga sekitar. Baru ditempatkan pada April 2024, ia juga masih belum terbiasa dengan hal itu.

“Iya, justru pas mau tutup baru pada dateng. Mungkin karena panas banget ya kalau siang,” ungkapnya.

Tempat wisata itu buka setiap hari, Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB, sementara Sabtu-Minggu 07.30-16.00 WIB. Irma menjelaskan bahwa mereka menerima pengunjung sampai pukul 4 sore, lalu tutup pada pukul 18.00 WIB.

“Nanti ada petugas keamanan yang keliling untuk membantu pengunjung keluar,” ungkapnya.

Nostalgia ke Studio Alam TVRI DepokNostalgia ke Studio Alam TVRI Depok Foto: (Andhika/detikFoto)

Fasilitas dan biaya masuk

Studio Alam TVRI memang tak seperti yang dulu lagi, makin cantik. Ada fasilitas lapangan futsal, toilet, padepokan dan padang rumput yang luas untuk disewakan sebagai tempat event. Meski begitu kehangatan yang diberikan masih terasa sama, menyimpan segudang nostalgia.

Biaya masuknya dibedakan, orang dewasa akan dikenakan Rp 6.000 per kepala dan anak-anak Rp 5.000 di hari Senin-Jumat. Saat weekend, semua akan dikenakan biaya umum yaitu Rp 7.000 per kepala. Lalu biaya parkir motor Rp 5.000 dan mobil Rp 10.000.

(bnl/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Studio Alam TVRI Masihkah Jadi Favorit?



Depok

Generasi 80 dan 90-an pasti akrab dengan tempat wisata satu ini, Studio Alam TVRI. Begitu mendengar namanya pasti langsung terbayang rimbunnya hutan di sana.

Sampai saat ini, kawasan seluas 28 hektar itu masih rimbun. Hutan bambu yang padat dan pepohonan lain masih mendefinisikan nama tempat itu, studio alam.

Sebelum pandemi, kawasan studio alam hanya diperuntukkan sebagai tempat syuting dan penyedia tempat event. Yang mau masuk untuk piknik, tinggal masuk tanpa pusing dengan biaya.


“Awalnya ini dibuka khusus untuk studio syuting TVRI, karena banyak yang tertarik akhirnya banyak production house (PH) yang syuting juga di sini,” ucap Pengelola Studio Alam TVRI kepada detikTravel.

Nostalgia ke Studio Alam TVRI DepokNostalgia ke Studio Alam TVRI Depok Foto: Andhika Prasetia

Tahun 2021, pasca pandemi Covid Studio Alam TVRI mulai menjadi pilahan tempat wisata di Kota Depok. Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI1), sebagai penaung dari Studio Alam mulai mengenakan retribusi kepada pengunjung berupa tiket masuk dan sewa tempat untuk kegiatan.

Kawasan Studio Alam kini dipercantik dengan beberapa spot foto yang terus diremajakan dari waktu ke waktu.

“Kita terus edukasi pengunjung soal sistem pembayaran pakai QRIS,” katanya.

Nostalgia ke Studio Alam TVRI DepokNostalgia ke Studio Alam TVRI Depok Foto: Andhika Prasetia

Pengunjung wisatawan memang biasanya datang di akhir pekan. Untuk Sabtu-Minggu, studio alam ini bisa kedatangan 1.000-1.500 pengunjung. Kalau ada event, bisa tembus 3.000-4.000 wisatawan.

Untuk itu, studio alam kerap membuat event kerjasama atau mandiri sebagai pancingan.

Nostalgia ke Studio Alam TVRI DepokNostalgia ke Studio Alam TVRI Depok Foto: Andhika Prasetia

Studio Alam TVRI masih tercatat sebagai paru-paru Kota Depok. Di sini, pengunjung yang membawa anak bisa bersantai karena anak-anak akan puas berlarian seharian.

Meski sudah menyasar wisatawan, namun studio alam tidak melupakan marwahnya sebagai tempat event. Tempat ini paling banyak disewa sebagai tempat kebaktian padang umat kristen.

“Iya, paling banyak Paskah kemarin sampai kita tolak karena mereka minta subuh,” jawabnya.

Nostalgia ke Studio Alam TVRI DepokNostalgia ke Studio Alam TVRI Depok Foto: (Andhika/detikFoto)

Irma mengaku cukup kaget dengan banyaknya kegiatan kebaktian padang dari berbagai gereja di sana. Mereka kebanyakan menyewa rumah tradisional dan gedung aula yang memiliki kapasitas sampai 400 orang.

Berbagai komunitas juga kerap melakukan kerja sama untuk bisa beraktivitas di sini, begitu pula ph-ph yang ingin melakukan syuting. Dari catatannya, ada banyak ph yang kembali menyewa setelah kontrak pertama.

“Kita nggak menutup kemungkinan untuk kerja sama sebagai pihak ketiga. Misalnya seperti kemarin ada komunitas mancing yang bikin tempat di sini,” jelasnya.

Rumah-rumah tradisional seperti joglo pun merupakan hibah dari Pemprov Jawa Tengah. Begitu pula dengan rumah Siti Nurbaya dan Pemprov Sumatra Barat.

Studio Alam TVRIRumah Siti Nurbaya di Studio Alam TVRI Foto: (Andhika/detikFoto)

“Pemprov Sumbar sudah janji akan merevitalisasi rumah Siti Nurbaya, jadi kita tunggu saja,” katanya yakin.

Memiliki jumlah pegawai sampai 41 orang, Studio Alam TVRI yakin akan tetap bertahan di antara tempat-tempat wisata baru. “Kami berharap agar studio alam lebih berkembang lagi, karena ini ruang terbuka hijau alami di Depok,” pungkasnya.

Harga tiket Studio Alam TVRI

Weekday
Pengunjung umum : 6.000
Pelajar/Mahasiswa : 5.000
Roda Dua : 7.500
Sepeda : 7.500
Roda Empat : 13.000
Bus/Roda Enam : 20.000

Weekday
Pengunjung umum : 7.500
Pelajar/Mahasiswa : 7.500
Roda Dua : 7.500
Sepeda : 7.500
Roda Empat : 13.000
Bus/Roda Enam : 20.000

Jam Operasional
Senin – Jumat : 08.30 – 16.00
Sabtu, Minggu & Hari libur : 08.00 – 16.00

(bnl/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Liburan ke Studio Alam TVRI, Ini yang Dilarang



Depok

Sebagai tempat wisata ikonik, ada sejak tahun 1985, destinasi ini masih menjadi pilihan pelesiran oleh warga. Ternyata ada sejumlah larangan yang pengunjung di tempat ini, apa saja ya?

Berlokasi di Jl. Studio Alam TVRI, Sukmajaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, tempat wisata ini terbuka untuk segala usia. Pepohonannya rindang, bahkan punya hutan sendiri.

Dikenal sebagai tempat syuting, studio alam juga berteman baik dengan komunitas-komunitas di Kota Depok. Sebut saja komunitas air softgun, motor trail sampai treking. Hutannya menjadi tempat yang tepat untuk kembali ke alam di tengah padatnya pemukiman Depok.


Irma, manager sales Studio Alam TVRI, menjelaskan ragam komunitas yang beraktivitas di sana. Dari semuanya ada satu yang membekas di ingatannya.

Nostalgia ke Studio Alam TVRI DepokNostalgia ke Studio Alam TVRI Depok (Andhika Prasetia)

“Ada satu komunitas yang tidak patuh dengan peraturan, mereka buang sampah sembarangan,” kata Irma.

Bicara komunitas pasti bukan satu dua orang. Sampah yang berserakan setelah acara membuat pengelola sedih sekaligus sebal. Dia dengan tegas menindak komunitas itu.

“Kalau tidak seusai dengan perjanjian, termasuk buang sampah sembarangan, bisa kita blacklist. Salah satunya, mereka,” kata Irma tanpa menyebutkan jenis komunitasnya.

Selain buang sampah sembarangan, ada beberapa hal yang dilarang dilakukan oleh pengunjung:

1. Dilarang menebang pohon

Berada di bawah naungan Lembangan Penyiaran Publik (LPP), Studio Alam TVRI masih dikelola langsung oleh TVRI pusat. Setiap kegiatan yang dilakukan di sana akan dilaporkan ke pusat.

Nostalgia ke Studio Alam TVRI DepokNostalgia ke Studio Alam TVRI Depok (Andhika Prasetia)

2. Dilarang membawa speaker

Saat piknik bersama keluarga, speaker biasanya menjadi salah satu barang wajib untuk menyatukan diri. Bisa bernyanyi atau bermain games bersama.

Sayangnya, pengunjung dilarang untuk membawa speaker.

“Kecuali, mereka yang menyewa tempat untuk event. Misalnya event senam bersama, itu boleh karena sudah sewa tempat. Tapi, kalau pengunjung biasa, nggak boleh,” katanya.

3. Dilarang terbangkan drone

Pengunjung dilarang untuk membawa drone. Alat ini disamakan dengan kegiatan syuting atau komersil. Jika pengunjung melanggarnya, maka akan dikenakan sanksi sebesar biaya syuting, yaitu Rp 3,5 juta.

“Kecuali, mereka mau barter. Foto dan video bisa kita ambil sebagai bahan promosi,” jawab Irma.

4. Dilarang nginap

Studio Alam TVRIStudio Alam TVRI (Andhika Prasetia/detikFoto)

Buat kamu yang belum tahu, Studio Alam TVRI tidak menyewakan tempat untuk kemping. Kegiatan menginap tidak boleh dilakukan di sana, kecuali menyewa asrama pusdiklat.

“Asrama itu punya 20 kamar, satu kamar bisa untuk dua orang. Kalau mau melakukan pelatihan atau kegiatan menginap apa pun bisa menyewa pusdiklat,” kata dia.

Semua kegiatan harus berakhir dalam satu hari. Pengunjung hanya boleh berada di sana sampai pukul 18.00 WIB.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com