Tag Archives: takmir masjid

Keunikan Masjid Berarsitektur Eropa-Jawa di Pati



Pati

Menikmati bangunan berarsitektur Eropa tidak perlu ke luar negeri. Di Pati, Jawa Tengah ada masjid yang memadukan arsitektur Eropa dan Jawa yang bisa dikunjungi.

Masjid yang berada di jalan Kaborongan Kelurahan Pati Lor Kecamatan Pati, Kabupaten Pati itu diketahui memiliki gaya unik. Masjid yang berdiri sejak tahun 2011 silam ini memiliki perpaduan gaya arsitektur Eropa dan Jawa.

Masjid itu bernama Djauharotul Imamah. Lokasinya tepat di pinggir jalan Kaborongan, yakni di utara seberang jalan.


Sekilas masjid ini tampak mewah dengan dua lantai. Bangunan masjid dari luar berwarna cokelat dan mirip seperti kastil yang ada di Eropa.

Bangunan bawah merupakan aula dan tempat untuk wudu. Sedangkan bagian atas tempat untuk melaksanakan ibadah salat.

Masjid Djauharotul Imamah yang ada di jalan Kaborongan Kelurahan Pati Kidul Kecamatan Pati, Kamis (6/3/2025).Masjid Djauharotul Imamah Pati Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Saat naik ke atas, bangunan masjid ini begitu apik. Gaya bangunan masjid ini tidak seperti umumnya, karena memiliki jendela berukuran besar dan lebar. Hal ini seperti bangunan khas Eropa.

Kemudian masuk di dalam ruangan lantai atas terdapat tempat pengimanan yang berbentuk gebyok kayu berukir. Gebyok ini perpaduan budaya dari Jawa sehingga masjid ini bergaya Eropa dan Jawa.

“Masjid ini berdiri sejak tahun 2011. Memang arsitektur masjid ini bergaya campuran, Jawa dan Eropa,” kata Wakil Ketua Takmir Masjid Djauharotul Imamah, Hamzah saat berbincang dengan detikJateng, Kamis (6/3/2025).

Dia mengatakan masjid ini dibangun oleh pasangan suami istri. Mereka mewakafkan masjid ini kepada masyarakat setempat. Pasangan suami istri itu adalah Mbah Johar Malikan dan Imam Sulaini warga Pati Lor. Dari nama keduanya kemudian diabadikan menjadi nama masjid.

“Dari dua nama inilah kemudian dipakai nama masjid Djauharotul Imamah,” jelas Hamzah.

Dia menjelaskan bangunan ini memiliki arsitektur gaya Eropa dan Jawa. Arsitektur Eropa ini bisa dilihat dari bentuk masjid seperti kastil, sedangkan Jawa dilihat dari tempat imam yang terbuat dari gebyok khas Jawa. Masjid ini menghabiskan anggaran mencapai Rp 1 miliar.

“Kalau gaya Eropa ini dilihat bangunan masjid yang mirip seperti kastil jarang ditemui di Pati. Sedangkan yang Jawa itu gebyok yang ada di lantai atas, tempat pengimanan,” ujarnya.

Dia mengatakan bangunan masjid lantai bawah digunakan tempat aula dan wudu. Sedangkan lantai atas digunakan untuk tempat ibadah. Masjid ini mampu menampung 100 lebih jemaah.

“Kalau lantai atas tidak muat maka kita juga gunakan umat dalam kondisi darurat,” jelasnya.

Selain itu di belakang masjid juga terdapat taman yang luas. Fasilitas taman ini digunakan jemaah untuk beristirahat atau sekadar berfoto.

“Kemudian ada taman di belakang merupakan fasilitas masjid area hijau yang kita siapkan bagi jemaah yang pengin nyantai, bagi jemaah yang pengin duduk, sehingga ada spot tanam yang bisa dikunjungi,” ungkap dia.

Ada Banyak Kegiatan Selama Bulan Ramadan

Lebih lanjut Hamzah mengatakan, masjidnya ini rutin menggelar buka bersama setiap hari selama bulan Ramadan. Panitia masjid menyediakan 300 porsi sampai 500 porsi makanan berbuka puasa setiap harinya.

“Dan ini sudah berlangsung sejak lama. Setiap Ramadan kita adakan acara buka bersama. Tahun lalu hanya 250 porsi dan tahun ini mencapai 300 porsi setiap hari. Dan memang target kita bisa sampai 500 porsi setiap hari,” kata Hamzah.

Menurutnya, buka bersama ini tidak hanya untuk jemaah atau warga setempat, akan tetapi warga umum yang melintas di Pati Kota. Tak jarang tukang ojek maupun tukang sapu juga mampir ke masjid tersebut untuk mengikuti kegiatan berbuka puasa bersama.

“Mungkin banyak tukang ojek online sore ikut berbuka ke sini. Free ke sini,” jelasnya.

Dia menjelaskan untuk menyediakan menu berbuka puasa, panitia setiap hari merogoh uang mencapai Rp 7,5 juta. Jika dihitung selama satu bulan puasa mencapai Rp 200-an juta. Anggaran ini pun didapatkan dari para donatur.

“Semua murni kesadaran jemaah menitipkan donasi di masjid ini. Mereka percaya pengelolaan masjid di sini,” ungkap dia.

Salah satu warga, Erik Setiawan, mengaku rutin ke masjid tersebut saat Ramadan ini. Selain mengikuti acara berbuka puasa, dia juga mengikuti acara pengajian rutin sebelum berbuka puasa.

“Rutin ke sini, karena di sini sebelum berbuka puasa ada acara pengajian, terus berbuka puasa dilanjutkan salat tarawih berjamaah di sini,” ujar Erik.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Penampakan Masjid Sorowaden, Salah Satu Masjid Tertua di Klaten



Klaten

Masjid Sorowaden di Dusun Banjarsari, Klaten dipercaya sebagai salah satu masjid tertua di kota itu. Begini penampakan masjid kuno tersebut:

Masjid yang berlokasi di Desa Kauman, Kecamatan Ngawen, Klaten itu merupakan satu dari sekian masjid kuno di Kabupaten Klaten. Masjid yang usianya lebih dari seratus tahun itu konon didirikan Kiai Sorowadi atau Surawadi.

“Ceritanya turun-temurun yang membuat masjid itu namanya Kiai Sorowadi. Makamnya ada dua, makam kecil dan besar tapi yang mendirikan ini Kiai Sorowadi 1 atau 2 tidak ada yang tahu pasti,” ungkap mantan ketua takmir Masjid Sorowaden, Basri, Senin (10/3/2025).


Diceritakan Basri, Kiai Sorowadi hidup di masa Ki Ageng Gribig Jatinom, seorang ulama di masa Mataram Islam. Kampung tempat Kiai Sorowadi tinggal lebih sering disebut Sorowaden.

“Makanya sini itu masjidnya namanya Masjid Sorowaden dari nama Kiai Sorowadi, sini (kampung) juga sering disebut Kauman Sorowaden. Sebelum Indonesia merdeka masjid sudah ada, jadi di pemerintah desa tidak ada gambar persilnya karena dulu milik Keraton Solo,” tutur Basri.

Menurut Basri, dulunya masjid tidak sebesar sekarang yang sudah ditambah serambi depan dan samping. Di jaman dulu ornamen masjid menyerupai bangunan Hindu.

“Dulunya ornamen mirip bangunan Hindu ada lengkung-lengkung, tempat imamnya cuma kecil, jendela juga kecil. Saat saya ke Masjid Demak, mimbarnya sama bentuknya,” lanjut Basri.

Saat ini, terang Basri, yang tersisa peninggalannya ada bedug kulit sapi dan alat timba air manual. Alat timba air itu saat dirinya kecil masih digunakan.

“Dulu timba masih digunakan, dulu pakai kayu dan ember juga kayu. Setelah ada pompa air sudah tidak digunakan, itu kalau diputar satu turun dan satu naik kemudian air ditampung di bak besar untuk wudhu,” papar Basri.

Masjid Sorowaden sendiri berada di tengah perkampungan padat penduduk. Memiliki ukuran sekitar 30×30 meter bercat hijau di ketinggian satu meter di atas jalan.

Serambi depan masjid masih menggunakan atap dengan pilar kayu. Bangunan masjid seluruhnya sudah ditembok dan berkeramik.

Masjid Sorowaden, Desa Kauman, Kecamatan Ngawen, Klaten, Senin (10/3/2025). Alat timba air manual menjadi salah satu jejak kunonya masjid ini.Alat timba air manual jadi salah satu bukti kunonya masjid ini. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Sumur tua dengan alat timba air kayu berada di serambi bagian Utara dan bedugnya di bagian selatan. Bagian utama masjid masih ditopang tiang-tiang kayu dengan penahan batu.

Sesepuh Masjid Sorowaden, Syakur (84) mengaku tidak mengetahui pasti kapan masjid dibangun. Yang jelas, kata dia, masjid itu sudah ada sejak kakeknya hidup.

Sumur nggih ngoten niku wit riyin, nggih pun nate nggunaken (sumur sejak dulu begitu dan saya pernah menggunakan),” kata Syakur.

Sementara itu, pegiat sejarah Klaten Hari Wahyudi mengatkan dalam peta topografi Belanda tahun 1930 Masjid Sorowaden sudah ada. Dari cerita leluhur, lanjutnya, masjid itu didirikan Kiai Sorowadi.

“Dari cerita ibu dan simbah saya, masjid didirikan Kiai Sorowadi. Kiai Sorowadi itu masih seperguruan dengan Kiai Singo Manjat (Kiai Imam Rozi Tempursari, Ngawen), itu cerita tutur yang ada,” jelas Hari yang kakek neneknya berasal dari sekitar Sorowaden.

“Jadi Masjid Sorowaden termasuk masjid tua di Klaten dengan usia di atas 100 tahun,” imbuhnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Bambu di Cirebon, Unik dan Sejuk untuk Healing sekaligus Ibadah


Cirebon

Masjid unik banyak tersebar di Indonesia dengan pesona dan ciri khasnya masing-masing. Tak terkecuali masjid bambu di Cirebon, Jawa Barat yang sangat unik. Masjid yang nyaman dan asri ini cocok sebagai tempat istirahat setelah beribadah.

Dilihat dari pantauan google maps, masjid bambu dengan nama Ash-Shomad ini berada di tengah pemukiman. Masjid tidak berukuran besar, namun cukup luas untuk menampung jemaah yang ingin beribadah atau melepas lelah.

Lingkungan sekitar tampak asri dan teduh dengan pohon rindang. Halaman masjid sudah dipasang lantai sehingga bisa digunakan jemaah. Hasil google review yang dilihat detikTravel pada Sabtu (24/5/2025) menyatakan, masjid ini jadi oase di tengah padatnya Cirebon.


“Masjidnya bagus, arsitekturnya unik, hidden gem di tengah kota Cirebon. Ada kajian Islam ilmiah juga,” tulis akun Syahrul Mubarok.

Masjid Bambu atau Masjid Ash-Shomad Cirebon.Masjid Bambu atau Masjid Ash-Shomad Cirebon (Fahmi Labibinajib/detikJabar)

Komentar positif juga datang dari netizen yang menyoroti bahan penyusun bangunan. Masjid Ash-Shomad tersusun atas bahan ramah lingkungan mulai dari atap hingga rangka bangunan. Bahan pengikat juga ramah lingkungan sehingga baik untuk sustainability alam.

“Masjid kecil dan unik yang bangunannya banyak dari bambu. Terletak di dalam rumah-rumah kampung penduduk,” tulis akun Mohd Rizky Nasution (Kiky).

Sorotan lain adalah pada kebersihan masjid yang meliputi seluruh bagian, termasuk toilet wangi. Saking bagusnya masjid ini dan lingkungannya, akun Muhammad Rizal menyarankan warganet mengunjungi masjid ini saat subuh.

Lokasi Masjid Bambu Cirebon

masjid unikMasjid Ash-Shomad dari bambu. Foto: google maps

Masjid Ash-Shomad berlokasi di Kebonbaru, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Masjid tempat berada di Gang Sepakat, Jalan Suratno yang ditandai dengan plang penunjuk arah. Dengan plang ini, jemaah yang bukan warga sekitar tak perlu khawatir nyasar.

Menurut Fauzi selaku takmir masjid bambu, tempat ibadah ini mulai dibangun pada 2014 dengan bahan utama bambu. Masjid menggunakan ijuk sebagai atap yang makin menegaskan bangunan ini sebagai ramah lingkungan.

Dalam sejarahnya, keperluan masjid bambu Ash-Shomad dilengkapi perlahan. Awalnya, masjid belum punya menara sehingga pengeras suara ditempatkan di pohon. Pagar masjid juga dibangun setahap demi setahap hingga bisa berfungsi dengan baik. Kelengkapan sarana masjid memudahkan jemaah yang ingin ibadah atau mengikuti kajian.

Menurut Fauzi, bangunan masjid sangat kuat meski tersusun dari bahan alami. Masjid dengan kapasitas total 150 orang ini selalu ramai didatangi jemaah dari berbagai wilayah. Masjid bambu Ash-Shomad diharapkan bisa terus memberi manfaat bagi semua orang.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Keindahan Masjid Djauharotul Imamah, Saat Arsitektur Eropa Bertemu Jawa


Jakarta

Masjid unik dengan gaya bangunan berbeda dan padat program bisa ditemukan di beberapa wilayah Indonesia. Salah satunya Masjid Djauhoratul Imamah yang berada di Pati, Jawa Tengah, yang mengingatkan jemaah pada sebuah kastil.

“Bagus banget masjidnya, nyaman, dan minimalis. Arsitekturnya keren banget pengen ke sana lagi kalau ada waktu,” tulis akun Ima Rahmawati dalam Google Review.

Aneka kegiatan yang dikelola masjid juga mendapat pujian warganet. Salah satunya kajian pada hari tertentu dengan ustaz yang kompeten sebagai pengisi acara. Kajian tersebut dinilai sesuai kebutuhan dan menjawab pertanyaan jemaah.


“Selain sebagai tempat salat berjamaah, masjid ini juga sebagai rujukan sumber ilmu agama. Ilmu tauhid, akhlak, tafsir, siroh, fiqh, hadits, dan masih banyak lagi Insya Allah komplit,” tulis akun kakak pertama.

Lokasi Masjid Djauharotul Imamah yang Unik

Masjid Djauharotul Imamah berada di Jl. Penjawi Gang II, Kaborongan, Pati Lor, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lokasi masjid ini tidak terlalu jauh dengan Alun-alun Pati yang menjadi pusat kegiatan warga.

Jarak Masjid Djauharotul Imamah dan alun-alun Pati kurang lebih 1,1 km yang bisa ditempuh dalam waktu tiga menit. Jemaah bisa menggunakan transportasi umum atau pribadi sesuai kebutuhannya. Bagi yang membawa kendaraan pribadi tak perlu khawatir, karena masjid menyediakan arena parkir cukup luas.

Masuk ke arena masjid, jemaah langsung disuguhi keindahan arsitektur masjid dengan gaya Eropa. Masjid Djauharotul Imamah dirancang punya tampilan mirip kastil dengan tetap menggunakan kubah, sebagai ciri khas masjid Indonesia. Masjid didominasi warna cokelat yang menimbulkan kesan elegan sangat indah.

Masjid ini punya halaman luas yang tak hanya digunakan untuk parkir, tapi juga kegiatan sehari-hari. Misal makan siang bersama usai salat Jumat, buka puasa, atau pasar yang diselenggarakan pada bulan Ramadan. Halaman juga digunakan masjid untuk sekadar duduk dan ngobrol.

Bangunan masjid terdiri atas dua lantai, dengan bagian bawah digunakan sebagai aula dan tempat wudhu. Sementara salat dilakukan di lantai dua, dengan ruang imam berbentuk gebyok kayu berukir. Desain ini terasa sangat njawani atau khas Jawa.

“Masjid ini berdiri tahun 2011 dan memang bergaya campuran Jawa dan Eropa. Gaya Eropa dilihat dari bangunan mirip kastil yang jarang ditemui di Pati,” ujar kata Wakil Ketua Takmir Masjid Djauharotul Imamah Hamzah pada detikJateng.

Di area masjid juga terdapat taman belakang yang digunakan jemaah untuk santai, ikut kajian, atau menunggu waktu salat. Tentunya masjid juga punya fasilitas lain untuk memenuhi kebutuhan jamaah, misal toilet bersih dan wangi di lantai satu plus sandal.

Bangunan masjid menggunakan jendela cukup lebar yang memudahkan sirkulasi udara dalam ruangan. Jendela ini juga mengingatkan jemaah pada bangunan istana negeri dongeng dalam film atau buku cerita. Penggunaan jendela besar dan plengkungnya membuat tampilan masjid makin anggun dan dreamy.

Menurut Hamzah, masjid ini tak pernah sepi didatangi jemaah yang ingin beribadah atau sekadar berteduh. Masjid Djauharotul Imamah berdiri di lahan seluas satu hektar dengan kapasitas total 100 orang. Jika jemaah melimpah, lantai satu bisa diubah sementara menjadi ruang salat.

Program Masjid Djauharotul Imamah

Masjid yang buka 24 jam ini menerapkan manajemen zero sebagai dasar pengelolaan masjid. Maksudnya, dana dari jamaah dikelola sebaik mungkin demi kemakmuran masjid dan umat sehingga kas menjadi nol. Tentunya pengelolaan harus bertanggung jawab dan benar-benar memberi manfaat.

Beberapa program masjid adalah makan bersama dan aneka kajian yang ilmunya mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ulasan google menyatakan, program makan bersama tepat bagi para santri dan musafir yang mampir di masjid.

Detikers yang penasaran dengan masjid yang dibangun di tanah wakaf Mbah Johar Malikan dan Imam Sulaini ini bisa datang setiap saat. Selama di Masjid Djauharotul Imamah pastikan selalu sopan, menjaga kebersihan, dan taat aturan lingkungan sekitar.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com