Tag Archives: tangga

Sehari Penuh Bertualang Menjelajahi Kota Tua Jakarta, Bisa Naik Transum Lho!



Jakarta

Akhir tahun adalah momen tepat untuk mengisi waktu dengan kegiatan seru bersama keluarga atau teman. Kota Tua Jakarta bisa jadi pilihan, bisa naik transum lho!

Kota Tua Jakarta, yang sarat dengan sejarah, seni, dan hiburan, menawarkan perjalanan sehari yang tak hanya mengasyikkan, tetapi juga penuh dengan pengalaman unik yang bisa menjadi kenangan tak terlupakan di setiap tahunnya.

One day trip ini bisa dengan menggunakan transum (transportasi umum). Perjalanan dimulai dari Stasiun KRL Jakarta Kota, menjadi pintu gerbang menuju kawasan bersejarah dengan arsitektur kolonial ikonik.


Bagi traveler yang memilih transportasi umum lain, perjalanan dapat dimulai dengan turun di Halte Transjakarta Kali Besar yang strategis depan restaurant rumah merah dan dekat dengan berbagai destinasi menarik.

Dari titik ini, traveler akan langsung disambut oleh suasana klasik khas Kota Tua, di mana jejak masa lalu yang bersejarah berpadu harmonis dengan hiruk-pikuk kehidupan modern Jakarta, menciptakan pengalaman unik yang memikat setiap pengunjung sejak langkah pertama.

1. Horor dan Adrenalin di Horror House Kota Tua

Wisata Kota Tua JakartaWisata Kota Tua Jakarta Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

Destinasi pertama dalam perjalanan ini adalah Horror House Kota Tua, atau yang dikenal dengan Rumah Hantu Kota Tua. Tempat ini menjadi pilihan sempurna bagi traveler yang ingin memacu adrenalin dan menguji keberanian.

Sesampainya di lokasi, traveler akan langsung melihat bangunan megah berwarna putih dengan papan besar bertuliskan “Horror House Kota Tua.”

Nuansa seram langsung terasa karena tepat di depan pintu sudah ada “hantu” yang siap menyambut dan mengawali pengalaman horor traveler.

Setelah membeli tiket, traveler akan diarahkan untuk menaiki tangga dan mengikuti instruksi untuk menjelajahi wahana.

Di dalam rumah hantu ini, traveler akan memasuki lorong-lorong gelap dengan atmosfer menyeramkan yang diperkuat oleh tata ruangan horror menyaramkan.

Suara-suara menyeramkan yang menggema di setiap sudut menambah kesan mencekam. Selama kurang lebih 10 menit, traveler akan menyusuri bangunan ini dan menghadapi berbagai kejutan dijamin membuat bulu kuduk berdiri.

Untuk menyambut libur Natal dan Tahun Baru, Horror House Kota Tua memberikan harga spesial tiket masuk sebesar Rp 40.000. Promo ini berlaku selama high season, yaitu dari tanggal 19 Desember 2024 hingga 5 Januari 2025.

Jadi, jika traveler merasa cukup berani untuk menguji nyali, Horror House Kota Tua adalah destinasi yang wajib traveler coba. Siapkan mental traveler dan rasakan pengalaman horor yang tak terlupakan!

2. Berswafoto di Magic Art 3D Kota Tua

Setelah menantang nyali di Horror House Kota Tua, saatnya traveler mengalihkan suasana dengan pengalaman yang lebih santai namun tetap seru, yaitu berswafoto di magic art 3D Kota Tua Jakarta.

Persiapkan gaya terbaik traveler, karena di sini traveler akan menemukan lebih dari 100 lukisan keren di 14 ruangan dengan konsep 3D yang memukau.

Magic art 3D Kota Tua ini menghadirkan berbagai zona menarik, seperti Zona Lukisan yang penuh seni visual, Zona Satwa dengan gambar hewan realistis, Zona Laut yang menghadirkan sensasi berada di bawah air, hingga Zona Dinosaurus yang membawa traveler ke masa prasejarah.

Tak hanya itu, ada juga Zona Petualangan yang cocok untuk pecinta tantangan, Zona Horror yang tetap menghadirkan nuansa seram, serta ruangan-ruangan unik seperti Labirin Kaca, Ruang Laser, Ruang Ilusi, Ruang Kaca, Ruang Penjara, Kursi Ilusi, dan Ruang Sulap, yang semuanya dirancang untuk menciptakan pengalaman foto yang unik dan kreatif.

Selama periode Natal dan Tahun Baru, museum ini menawarkan harga promo tiket masuk sebesar Rp 45.000 mulai 1 Desember 2024. Untuk traveler yang ingin menikmati dua pengalaman sekaligus, tersedia paket bundling dengan Horror House Kota Tua, di mana harga tiket bundling hanya Rp 60.000 untuk Senin-Jumat dan Rp 65.000 untuk Sabtu-Minggu.

Dengan begitu, traveler dapat menikmati dua aktivitas seru sekaligus dengan harga yang terjangkau. Jadi, jangan lupa siapkan kamera traveler dan abadikan momen tak terlupakan di magic art 3D Kota Tua ini.

3. Belajar Seni di Museum Seni Rupa dan Keramik

Wisata Kota Tua JakartaWisata Kota Tua Jakarta Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

Setelah merasakan ketegangan di Horror House dan berswafoto di magic art 3D, saatnya menenangkan diri di Museum Seni Rupa dan Keramik. Museum ini menampilkan berbagai koleksi karya seni mulai dari lukisan hingga keramik bersejarah yang indah.

Ruangan-ruangan di museum ini dirancang dengan pencahayaan yang apik, membuat setiap karya seni terlihat semakin memukau. Selain itu, traveler juga bisa belajar tentang berbagai teknik seni yang digunakan para seniman pada masa lampau seperti lukisan karya Raden Saleh Sjarif Bustman, karya Hendra Gunawan yaitu Pejuang-pejuang III, karya lukisan S Sudjojono dan masih banyak lagi.

Untuk menikmati berbagai koleksi seni yang ada di Museum Seni Rupa dan Keramik, harga tiket masuknya bervariasi tergantung hari dan kategori pengunjung. Pada hari Selasa hingga Jumat, tiket masuk untuk dewasa atau umum hanya Rp 10.000.

Sedangkan untuk anak-anak, pelajar, atau mahasiswa Rp 5.000, dan wisatawan mancanegara dikenakan biaya Rp 50.000. Pada akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu, harga tiket untuk dewasa menjadi Rp 15.000, sementara untuk anak-anak, pelajar, atau mahasiswa tetap Rp 5.000, dan wisatawan mancanegara tetap Rp 50.000.

Bagi rombongan grup minimal 30 orang, terdapat tarif khusus. Untuk dewasa pada hari Selasa hingga Jumat, harga tiket per orang adalah Rp 7.500, sedangkan pada Sabtu dan Minggu sebesar Rp 11.250. Untuk anak-anak, pelajar, dan mahasiswa dalam rombongan grup, tiket masuk hanya Rp 3.750.

Museum Seni Rupa dan Keramik ini beroperasi di hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, sehingga memberikan cukup waktu bagi pengunjung untuk mengeksplorasi koleksi seni dan keramik yang ada.

4. Menelusuri Sejarah di Museum Fatahillah

Wisata Kota Tua JakartaWisata Kota Tua Jakarta Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

Tak jauh dari Museum Seni Rupa dan Keramik, perjalanan berlanjut ke Museum Fatahillah, ikon utama Kota Tua. Museum ini berada di gedung bersejarah yang dulunya merupakan Balai Kota Batavia.

Di sini, traveler bisa menyusuri berbagai ruang pameran yang memuat artefak, alat alat bersejarah, dan diorama tentang sejarah Jakarta sejak zaman kolonial dan masih banyak lagi. Dengan arsitektur bangunan bergaya Belanda, Museum Fatahillah menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang menyenangkan.

Untuk tiket masuk sangat ramah dikantong Dewasa Rp 10.000 dan untuk mahasiswa pelajar atau anak-anak Rp 5.000 untuk wisatawan asing dikenakan biaya Rp 50.000. Jam operasional museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahilla) buka pada hari Selasa hingga Minggu pada pukul 09.00 sampai 15.00 WIB.

5. Keliling Naik Sepeda Ontel

Wisata Kota Tua JakartaWisata Kota Tua Jakarta Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

Setelah mempelajari sejarah di museum Seni Rupa dan Keramik dan museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), traveler dapat melanjutkan petualangan dengan cara yang unik dan menyenangkan, yaitu berkeliling kawasan Kota Tua menggunakan sepeda ontel.

Sepeda klasik ini tidak hanya menambah kesan vintage, tetapi juga menjadi cara santai untuk menjelajahi keindahan area sekitarnya.

Traveler dapat menyewa sepeda ontel dengan tarif Rp 25.000 untuk durasi 30 menit, sambil menikmati suasana Kota Tua yang penuh cerita dengan latar gedung-gedung bersejarah yang megah.

6. Santapan Klasik di New Batavia Café

Wisata Kota Tua JakartaWisata Kota Tua Jakarta Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

Setelah berjalan-jalan, saatnya mengisi energi di New Batavia Café. Berlokasi di Gedung Pos bersejarah depan Museum Sejarah Indonesia (Museum Fatahilla), kafe ini menawarkan suasana kolonial yang kental dengan sentuhan modern.

Traveler bisa menikmati beragam hidangan lezat, mulai dari makanan tradisional hingga menu internasional. Jangan lupa mencicipi nasi goreng new batavia dengan campuran sate ayam dengan ice lemon tea spesial yang cocok untuk menemani waktu bersantai dengan pemandangan kawasan kota tua dan gedung museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahilla).

7. Bersantai di Kali Besar Kota Tua

Wisata Kota Tua JakartaWisata Kota Tua Jakarta Foto: Amalia Novia Putri/detikTravel

Setelah kenyang menikmati hidangan, traveler dapat kembali berjalan kaki menuju Kali Besar, tempat menawarkan suasana malam Kota Tua yang memukau dengan gemerlap lampu-lampu cantik yang menghiasi sepanjang jalan dan jembatan, pemandangan lalu lalang bus transJakarta, suasana syahdu kawasan kota tua, melihat gedung-gedung tua, serta keramaian pengunjung yang menambah semarak kawasan ini.

Dengan rute yang mudah dijangkau dan pengalaman yang beragam, one day trip di Kota Tua Jakarta adalah pilihan sempurna untuk mengisi libur natal dan akhir tahun traveler.

Dari suasana menyeramkan di Horror House Kota Tua, berswafoto di magic art 3D kota tua, keindahan seni di Museum Seni Rupa dan Keramik, belajar sejarah di museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahilla) hingga santapan lezat di New Batavia Café, semuanya berpadu menciptakan perjalanan yang tak terlupakan.

Jadi, siapkan sepatu nyaman traveler, ajak orang tersayang, dan nikmati keajaiban Kota Tua dalam sehari!

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Masjid Berusia 1 Abad di Lumajang, Melambangkan Wali Songo



Lumajang

Di Lumajang, ada sebuah masjid kuno yang usianya sudah 1 Abad. Masjid Baitur Rohman ini dibangun tahun 1911 oleh kiai Usman.

Masjid kuno di Lumajang ini berada di Dusun Munder, Desa Tukum, Kecamatan Tekung. Awalnya masjid ini masih berbentuk surau atau mushala. Lalu pada tahun 1933 direnovasi oleh Kiai Suhaemi dan desain masjidnya dipertahankan hingga sekarang.

Masjid ini menjadi sejarah penyebaran agama Islam di Lumajang dan kini Kiai Usman dan Suhaemi diabadikan sebagai nama jalan di desa setempat.


“Masjid Baitur Rohman ini dibangun tahun 1911 oleh Kiai Usman kemudian dilakukan renovasi oleh Kiai Suhaemi pada tahun 1933 dan desainnya dipertahankan hingga sampai sekarang,” ujar Imam Masjid Baitur Rohman Yoyon Sudarmanto, Minggu (16/3/2025).

Bangunan masjid ini dipenuhi keunikan dan berbagai makna filosofi dari kubah masjid yang berjumlah 9. Yang melambangkan jumlah para wali penyebar agama Islam di nusantara yang dikenal dengan sebutan Wali Songo.

Tangga tingkat masuk ke teras masjid berjumlah 5 tingkat, mengingatkan pada jumlah rukun islam ada 5. Pintu masuk masjid yang berjumlah 3, dengan pintu imam yang sama berjumlah 3 menunjukkan jumlah rukun iman yang berjumlah 6.

Jumlah jendela masjid sebanyak 20 mengingatkan pada sifat wajib Allah SWT yang berjumlah 20. Selain itu, ruangan masjid dipenuhi bangunan kusen pintu memiliki makna kehidupan, yang harus terbuka melihat kekurangan kanan dan kiri atau guyub rukun dan saling membantu antar sesama manusia.

“Masjid ini tidak hanya unik tapi memiliki makna filosofi dalam desain pembangunannya mulai dari kubah, jandela, pintu dan lainnya,” terang Yoyon.

Selain itu, saat pembangunan Masjid Baitur Rohman ini para pekerja yang sedang membangun masjid tidak boleh memiliki hadas besar maupun kecil.

Sehingga saat pekerja memiliki hadas kecil, harus berwudhu terlebih dahulu kemudian melanjutkan pekerjaan membangun masjid.

“Pekerja yang membangun masjid ini juga harus menjaga dari hadas kecil maupun besar,” tandas Yoyon.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Nih Pulau Terpadat di Kepulauan Seribu



Jakarta

Kepulauan Seribu popular sebagai tempat liburan dengan keindahan pantainya. Tapi ternyata ada satu pulau yang bukan tempat liburan dan berpredikat sebagai pulau dengan populasi terpadat.

Adalah Pulau Panggang yang bukan destinasi wisata dan merupakan pulau dengan populasi terpadat di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau Panggang berada di Kecamatan Pulau Seribu Utara.

Pulau Panggang memiliki luas 0,09 km persegi dengan jumlah penduduk kepala keluarga 2.003.


detikTravel mendapat kesempatan untuk berkeliling langsung ke pulau itu. Rumah penduduknya cenderung rapat-rapat, menyisakan gang-gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh motor dan sepeda sebagai jalur transportasi.

Imelda (25), lulusan perawat dari Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Yogyakarta, merupakan seorang yang lahir dan besar di pulau itu. Asli putri daerah, anak kesembilan dari sebelas bersaudara itu mengakui bahwa Pulau Panggang memang sangat padat.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuImelda, warga Pulau Panggang di Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

“Pulau Panggang bukan pulau liburan, cara berpakaian turis tidak bisa diterapkan di sini,” kata Imelda pada Senin (24/3).

Pulau Panggang Saat Ramadan

Bertepatan dengan bulan Ramadan, Imelda menceritakan kebiasaan warga yang tak biasa. Kalau biasanya berburu takjil jadi kegiatan saat ngabuburit, di Pulau Panggang lain lagi. Tidak ada yang berdagang takjil di sana, warganya membuka pesanan menu berbuka dalam grup obrolan Whatsapp.

“Enggak semua orang punya warung, ada yang PO juga. Jadi warga pesan di room chat lalu nanti diantar,” kata dia.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPemukiman di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Kondisi itu dikonfirmasi oleh Nining Kurnia (32), seorang ibu rumah tangga dengan empat anak. Sebagai warga pendatang dari Depok, Jawa Barat, dirinya cukup kaget dengan kebiasaan di Pulau Panggang.

“Iya, di sini enggak ada takjil. Kalau mau pesan lewat grup chat,” kata dia.

Nining menikah dengan pria asli Pulau Panggang, bahkan suaminya masih keturunan wali di sini. Setiap lebaran hari pertama, ia dan keluarga akan nyekar dan ziarah ke makan keluarga suami.

“Tapi kalau bukan keturunan wali di sini, biasanya nyekar di (lebaran) hari kedua,” kata dia.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Karya (bonauli/detikcom)

Tempat Pemakaman Umum (TPU) penduduk berada di seberang pulau, yaitu Pulau Karya. Hanya beberapa wali saja yang dikubur di area timur Pulau Panggang.

Imelda juga berkata hal senada. Dirinya biasanya nyekar di hari kedua. Ia ingat betul, usai salat Ied, warga akan berbondong-bondong naik motor (perahu motor) lalu menyeberang ke Pulau Karya.

“Ramai sekali, motor antre panjang mau masuk pulau,” kata dia.

Budaya lain saat Ramadan adalah petasan. Anak-anak di Pulau Panggang biasanya berkumpul di area pelabuhan untuk bermain petasan bersama. Bunyi petasan bersahut-sahutan, asap mesiu menyeruak mengisi langit-langit.

Sudah jadi budaya, anak-anak itu terlihat sangat piawai menyalakan petasan yang ‘masuk angin’. Mereka bahkan tak segan untuk melemparkan petasan ke sesama. Sesekali, orang tua yang lewat menghardik mereka untuk hati-hati. Namun, anak-anak itu tetap santai melanjutkan perang petasan. Sementara remaja-remaja tanggung sibuk main bola di lapangan.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuAnak-anak bermain petasan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Kumandang salat di masjid menggema seisi pulau. Pria dewasa bergegas menunaikan salat dan tarawih di masjid. Mereka berbaris mengambil air wudhu.

“Oiya, air di sini itu asin, bukan payau,” ucap Nining memberitahu satu lagi fakta tentang Pulau Panggang.

Tak semua rumah memiliki tampungan air hujan, beberapa menggali sumur untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, kebanyakan warganya membeli air dari daratan untuk kebutuhan masak dan mandi. Untuk air minum, mereka lebih suka membeli air galon.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Panggang di Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Nining mengaku mengalami culture shock saat pertama kali datang ke Panggang. Sekujur tubuhnya melakukan penolakan dengan siraman air asin yang dilakukan tiap hari.

“Awalnya alergi sebadan-badan. Tapi lama-lama sudah biasa. Cuma kalau airnya lagi jelek, ya luka-luka,” ujarnya sambil menunjukkan bekas luka alergi pada tangan dan kaki.

Ada yang datang menetap, sebagian ingin pergi. Imelda adalah salah satu warga yang berkeinginan untuk melanjutkan hidup di luar pulau. Mimpinya, meraih sukses di Kuwait.

“Mungkin karena sudah dari kecil di sini, jadi sudah bosan. Sekarang mau berjuang untuk keluar dari sini,” katanya sambil tersenyum manis.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ini Masjid Tertinggi di Jakarta, Bisa Lihat Keramaian Khas Metropolitan


Jakarta

Jakarta memiliki banyak masjid megah dengan arsitektur yang indah. Namun, di antara masjid yang tersebar, di kota ini, ada satu yang menonjol karena ketinggiannya.

Dengan desain modern dengan nuansa religius, masjid ini menawarkan pemandangan indah dari ketinggian. Dimana letak masjid ini?

Masjid Tertinggi di Jakarta

Masjid tertinggi di Jakarta adalah Masjid Ar-Rahim yang berada di lantai 27, puncak Menara 165. Masjid di gedung yang berlokasi di Jl. TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan ini ditandai dengan lafadz Allah berwarna keemasan.


Menurut liputan detikTravel pada artikel sebelumnya, sebagian besar bangunan masjid bertembok kaca. Sehingga, jemaah bisa melihat pemandangan kota Jakarta 360 derajat, mulai dari gedung-gedung di sekitarnya hingga jalan tol.

Masjid seluas 400 meter persegi ini didirikan pada tanggal 16 Mei 2001 oleh pengusaha, motivator, sekaligus penggagas konsep ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) Ary Ginanjar Agustian. Penamaan 165 pada gedung ini juga memiliki filosofinya tersendiri.

Makna angka 1 yaitu Ihsan, angka 6 adalah rukun iman, yang diwujudkan juga dalam bentuk mahkota persegi enam dalam atap masjid. Sementara 5 bermakna rukun Islam, yang terdiri dari syahadat, sholat, zakat, puasa, dan pergi haji bagi yang mampu.

Pembangunan menara 165 juga cukup unik. Gedung ini ternyata sudah memiliki fondasi alam berupa batuan keras bernama Cemented Sand dalam proses pembangunannya. Menurut Ari Ginanjar dalam sebuah akun video di akun TikTok miliknya, di tengah proses pengeboran, mata bor selalu patah hingga memercikkan api.

Setelah ditelusuri, ditemukan adanya batuan keras dengan bobot 200 kg/cm2 yang berbentuk seperti fondasi telah terbentuk sejak jutaan tahun lalu. Lalu, Joni Firmansyah selaku ahli pada bidang tersebut menelitinya di sebuah laboratorium di Bandung.

Hasilnya, Menara 165 tidak memerlukan fondasi selayaknya gedung-gedung pada umumnya. Menara 165 hanya memerlukan pilar sebagai penyangga agar tetap kokoh. Lafadz Allah di gedung ini juga menjadikan alasan Ari untuk berdakwah.

Diperkirakan, ada 100 ribu orang yang melintasi Jalan TB Simatupang tempat Menara 165 berdiri. Mereka akan menyebut nama Allah saat melihat gedung dan tanpa sadar membuat orang tersebut berdzikir.

Jika ingin mengakses masjid, traveler perlu registrasi dan menukarkan KTP dengan kartu akses di meja resepsionis. Setelah itu, kamu akan diarahkan untuk naik lift dengan kode L6 untuk sampai di lantai M1 atau lantai 25 di mana Masjid Ar-Rahim berdiri.

Traveler bisa mengambil wudhu di lantai ini, kemudian naik tangga atau lift untuk mencapai area sholat di lantai 27. Di sanalah traveler dapat beribadah dikelilingi pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Watukarung, Spot Selancar Kelas Dunia di Pacitan


Jakarta

Ada sebuah pantai di Jawa Timur yang tidak hanya punya panorama elok, tetapi juga dikenal sebagai spot selancar terbaik. Ialah Pantai Watukarung di Pacitan yang memiliki ombak istimewa.

Pantai ini juga disebut mirip Raja Ampat di Papua Barat. Bukan tanpa alasan, pesona pantainya memanjakan setiap mata yang memandang. Tempatnya asri dan punya kesan eksklusif karena belum terlalu ramai pengunjung.

Penasaran dengan destinasi satu ini? Simak uraian Pantai Watukarung berikut.


Pesona Pantai Watukarung

Mengutip laman Disparbudpora Kab. Pacitan, Pantai Watukarung di Pacitan menyuguhkan lautan dengan air jernih kebiruan. Gulungan ombak cukup besar di sini khas pantai selatan Jawa, dengan tinggi bisa mencapai 4 meter.

Karakter arah ombak di pantai ini unik yaitu ke sisi kanan dan kiri, dilansir pemberitaan detikJatim. Arah ombak seperti ini menawarkan tantangan besar. Karenanya, ombak ‘kelas dunia’ ini kerap menarik perhatian peselancar profesional lokal maupun mancanegara.

Tak jauh dari bibir pantai terlihat beberapa batuan karang besar yang ditumbuhi kehijauan mengelilingi pesisir. Hal inilah yang menjadikan Pantai Watukarung disebut-sebut sebagai ‘Raja Ampatnya Jawa Timur’.

panorama wisata alam Pantai Watukarung khas PacitanPanorama Pantai Watukarung di Pacitan Foto: Purwo Sumodiharjo

Pantainya yang luas dengan garis pantai panjang dilengkapi pasir putih halus dan bersih. Cocok banget buat traveler yang suka menyusuri pantai dari ujung ke ujung.

Di sebelah kanan pantai terdapat bukit dengan gardu pandang. Tersedia anak tangga jika tertarik menaiki dan menyaksikan pemandangan laut yang lebih menakjubkan dari ketinggian. Atas bukit juga menjadi spot yang oke untuk menikmati view matahari terbenam (sunset).

Bebatuan karang akan muncul saat air lautnya agak surut. Akan banyak ditemukan juga bintang laut, bulu babi, siput laut, hingga ikan-ikan kecil yang berenang di antara batuan.

Aktivitas di Pantai Watukarung

Sejumlah aktivitas seru dapat traveler lakukan di Pantai Watukarung, berikut di antaranya:

1. Berselancar

Pantai WatukarungBerselancar di Pantai Watukarung Foto: Purwoto Sumodiharjo

Jika hobi berselancar, kamu bisa mengendarai gulungan ombaknya dengan papan selancar. Pastikan sudah mahir berselancar atau ditemani profesional selama melakukan aktivitas ini. Sebab karakter ombak PantaiWatukarung yang unik menawarkan tantangan yang cukup berat.

2. Bermain Air dan Pasir

Ombaknya yang lumayan besar juga membuat pengunjung tidak cukup aman berenang di Pantai Watukarung. Disarankan untuk sekadar bermain air di tepian atau bermain pasir di pantai saja.

Perhatikan langkah saat bermain air karena di bawah bibir pantainya dipenuhi bebatuan karang.

3. Berfoto

Pantai Watukarung termasuk pantai cantik di Pacitan. Sangat disayangkan jika traveler tidak mengabadikan potret panoramanya. Semua titik di pantai ini bisa dijadikan spot berfoto.

4. Wisata Kuliner

Tidak usah khawatir kelaparan saat berkunjung ke pantai ini. Terdapat banyak tempat makan yang bisa disinggahi. Warung-warung ini menyediakan aneka olahan seafood lezat dengan harga terjangkau.

Pantai Watukarung pacitanView sunset di Pantai Watukarung, Pacitan Foto: Purwo Sumodiharjo

Pantai Watukarung terletak di Pringkuku, Ketro, Watukarung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tempatnya cukup jauh dari pusat kota Pacitan, kurang lebih memakan waktu 1 jam untuk sampai di lokasi.

Jalan menuju Pantai Watukarung sudah beraspal mulus. Namun traveler masih perlu berhati-hati karena lebar jalan agak sempit serta aksesnya masih banyak tikungan tajam dan jalanan curam. Meski begitu, akan ada orang yang membantu agar pengunjung dapat melewati aman.

Pantai Watukarung hanya bisa diakses menggunakan kendaraan pribadi. Belum ada transportasi umum yang menjangkau tempat ini.

Fasilitas Pantai Watukarung

Pantai Watukarung menyediakan fasilitas memadai untuk pengunjung. Sudah tersedia toilet, kamar bilas, tempat sampah, area parkir, warung makan, hingga mushola.

Ada banyak penginapan di sekeliling pantai jika tertarik bermalam di kawasan ini. Bisa pilih homestay, cottage, atau resort dengan harga sewa per malam yang bervariasi. Disarankan reservasi kamar jauh-jauh hari karena sering kali cepat penuh.

Biaya tiket masuk Pantai Watukarung masih sangat terjangkau, cukup merogoh kocek Rp 10.000 per orang untuk bisa menikmati panorama Raja Ampatnya Jawa Timur ini. Pengunjung juga perlu membayar sekitar Rp 15.000 untuk tarif parkir.

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Tebing Breksi, Lengkap dengan Fasilitas dan Harga Tiket Masuknya


Jakarta

Tebing Breksi merupakan salah satu destinasi wisata alam yang cukup populer di Yogyakarta. Seperti namanya, tempat ini adalah kawasan perbukitan batuan breksi.

Uniknya, tebing-tebing di sini memiliki pola alami yang menarik dan estetik, menjadikannya daya tarik utama bagi para wisatawan. Simak berikut sejarahnya, lengkap dengan informasi terkait daya tarik, fasilitas, dan harga tiket terkininya.

Sejarah Tebing Breksi

Tebing BreksiTebing Breksi Foto: Titry Frilyani/d’traveler

Tebing Breksi adalah salah satu destinasi wisata alam yang berada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya berada di bagian selatan Candi Prambanan, dan cukup dekat dengan Candi Ijo serta kompleks Keraton Ratu Boko. Tempat ini terletak tepatnya di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan.


Dirangkum dari laman Kapanewon Kecamatan Prambanan dan Geopark Jogja, tempat ini dulunya adalah kawasan pertambangan batu breksi. Tebing Breksi mulanya merupakan area tambang batuan yang menjadi mata pencaharian warga sekitar.

Batuan breksi di lokasi ini terbentuk dari material letusan Gunung Api Nglanggeran yang mengendap selama jutaan tahun. Akhirnya pada tahun 2014, aktivitas tambang dihentikan karena batuan di area ini termasuk batu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran yang perlu dilindungi.

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 oleh tim gabungan dari ITB dan UPN mengungkap bahwa batuan di sini termasuk jenis tufan yang langka, sehingga kegiatan penambangan dihentikan.

Lokasi ini kemudian dikembangkan menjadi tempat wisata, yang pada 30 Mei 2015 secara resmi dibuka oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tebing Breksi kini telah berkembang menjadi destinasi unggulan dari Desa Wisata Dewi Sambi dan ditetapkan sebagai salah satu situs geoheritage di Yogyakarta.

Bahkan dalam laman Portal Informasi Indonesia, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ke-13, Sandiaga Uno pernah mengatakan Tebing Breksi masuk dalam 50 besar desa wisata terbaik. Keunikan utama Tebing Breksi terletak pada dinding-dinding tebingnya yang kini dihiasi relief dan pahatan karya seniman lokal.

Mulai dari tokoh pewayangan seperti Arjuna dan Buto Cakil, hingga naga berkepala mahkota, semua memberi sentuhan budaya yang khas. Bekas guratan aktivitas tambang juga menciptakan motif alami di batuan, menjadikan tebing ini tampak artistik.

Daya Tarik Wisata Tebing Breksi

Tebing BreksiTebing Breksi. Foto: Titry Frilyani/d’traveler

Tebing Breksi menyuguhkan pemandangan unik berupa tebing-tebing tinggi dengan tekstur dan pola alami yang terbentuk sejak jutaan tahun lalu. Sisa-sisa pahatan bekas tambang kerap dijadikan latar foto yang menarik, termasuk untuk sesi prewedding.

Untuk naik ke puncak tebing, pengunjung tak perlu bersusah payah memanjat karena telah tersedia tangga yang dipahat langsung di batu. Dari atas, pengunjung bisa menikmati pemandangan Kota Jogja dari ketinggian.

Dari atas tebing, pengunjung bisa melihat panorama indah seperti Candi Prambanan, Gunung Merapi, hingga pesawat yang melintas di langit Jogja. Momen matahari terbenam juga jadi favorit wisatawan.

Selain itu, berkunjung ke Tebing Breksi bisa sekalian mampir ke beberapa tempat menarik di sekitarnya. Terletak di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Tebing Breksi berada tak jauh dari ikon-ikon wisata seperti Candi Prambanan, Candi Ijo, dan kompleks Keraton Boko.

Akses ke lokasi pun cukup mudah, hanya sekitar 1 km sebelum Candi Ijo, lewat jalur utama Prambanan-Piyungan. Dari pusat Kota Yogyakarta, jaraknya sekitar 17 km atau 30 menit perjalanan darat. Meskipun jalannya agak menanjak, kendaraan mulai dari motor hingga bus wisata tetap bisa mencapai area ini dengan lancar.

Fasilitas dan dan Harga Tiket Wisata Tebing Breksi

Selain bisa berfoto di lokasi wisata, kamu juga dapat melihat suguhan budaya seperti tari-tarian, jathilan, gamelan tembang Jawa, wayang, dan ketoprak. Sebab di Tebing Breksi juga terdapat Tlatar Seneng, sebuah panggung pertunjukan berbentuk melingkar dengan kursi-kursi di sekelilingnya. Bentuknya sekilas menyerupai Colosseum mini.

Tak cuma itu, kalau kamu suka berkemah, ada area Watu Tapak yang disediakan sebagai tempat perkemahan. Nah kalau mau pengalaman yang lebih seru, bisa coba naik jeep wisata dengan berbagai pilihan rute dan paket.

Rute singkat membawa pengunjung menjelajahi Tebing Breksi, Candi Ijo, Watu Payung, dan Obelix Hills. Sedangkan rute panjang mencakup lebih banyak titik seperti Bukit Teletubbies, Desa Wisata Pereng, dan berakhir di Rumah Domes.

Wisatawan juga dimanjakan dengan kemudahan teknologi seperti tiket online dan akses wifi di area tertentu, termasuk tempat makan. Soal operasional dan harga tiketnya, dilansir dari akun instagram resmi Tebing Breksi buka setiap hari pukul 08.00-23.00 WIB dengan harga tiket weekdays Rp 10 ribu dan hari libur Rp 15 ribu.

Jadi, kamu tertarik berlibur ke Tebing Breksi? Semoga informasi ini membantu, ya!

(aau/fds)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Unik di Mojokerto, Bentuk Kapal Pesiar di Hutan Rimbun


Mojokerto

Di Mojokerto, Jawa Timur, ada sebuah masjid unik berbentuk kapal pesiar yang berdiri di hutan rimbun. Bangunan bernama Masjid Ar-Rahman ini adalah milik Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Vila Durian Doa Yatim Sejahtera.

Dikutip dari situs NU Online Mojokerto, masjid ini tak hanya tempat ibadah. Masjid juga digunakan sebagai tempat tinggal anak yatim dan duafa, lengkap dengan fasilitas penunjang kegiatan sehari-hari.

Masjid Ar-Rahman berdiri seluas 45 x 25 meter persegi dengan lima lantai. Peruntukannya adalah sebagai berikut:


  • Lantai 1: Asrama putri dan balita
  • Lantai 2: Tempat ibadah
  • Lantai 3: Aula
  • Lantai 4 dan 5: Tamu.

Menurut Ketua Vila Durian Doa Yatim Sejahtera Muhammad Mukhidin, Masjid Ar-Rahman dibangun pada tahun 2016-2021. Pembangunan selama lima tahun ini, menghabiskan dana kurang lebih Rp 2,5 miliar. Tahapannya meliputi perbaikan, penataan masjid, dan interior dalam bangunan.

Interior Unik Masjid Kapal Pesiar

Tema kapal pesiar ternyata tidak hanya menjadi tampilan luar Masjid Ar-Rahman. Penataan interior masih mempertahankan ciri khas sebuah kapal pesiar, yang bisa dilihat di tempat imam salat dan mimbar khatib.

Spot bagi imam dan khatib menggunakan hiasan setir kapal asli, penunjuk arah (kompas) besar dan kecil, monitor kemudi, jangkar dengan dereknya, serta lukisan laut pada dinding.

Tampilan ini benar-benar menyiratkan sebuah ruang kapal kemudi. Masjid ini juga punya banyak jendela di sisi kanan dan kiri, yang membuat ruang selalu terang. Di lantai lain, penataan mengikuti keperluan pengelolaan masjid.

masjid kapal pesiar mojokertoInterior masjid kapal pesiar Mojokerto (Enggran Eko Budianto)

Filosofi Masjid Unik Kapal Pesiar

Pemilihan bentuk kapal pesiar masjid yang terletak di Dusun Belor, Desa Kembangbelor, Pacet ini ternyata punya pertimbangan mendalam. Kapal diibaratkan bahtera penyelamat berbagai masalah sosial.

Masjid Ar-Rahman tak hanya mengelola anak yatim dan duafa, tapi juga korban pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Masjid Ar-Rahman yang unik berbentuk kapal pesiar diharapkan bisa membantu masyarakat lepas dari penyakit sosial, serta mengelola para korbannya.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Omah Dhemit di Klaten: Dikenal Angker-Banyak Kejadian Aneh



Klaten

Di Klaten, ada sebuah bangunan kuno yang dikenal sebagai Omah Dhemit oleh warga setempat. Bangunan itu dikenal angker dan banyak kejadian di luar nalar.

Lokasi Omah Dhemit itu diketahui berada di dusun Mojo Pereng, desa Krakitan, kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Jika diartikan ke bahasa Indonesia, Omah Dhemit berarti Rumah Setan.

Bangunan itu mendapat julukan yang seram karena letaknya memang tidak lazim. Omah Dhemit bukan rumah di perkampungan pada umumnya.


Bangunan kecil yang berukuran hanya sekitar 3×3 meter itu berdiri di atas batu kapur yang menjulang tinggi. Batu kapur putih itu tingginya sekitar 30-40 meter dari permukaan tanah.

Letak bangunan yang berada di atas ketinggian membuat omah dhemit terlihat jelas dari kejauhan, baik dari jalan raya ke arah Rawa Jombor maupun dari desa sekitar.

Di kanan kiri bukit adalah jurang menganga dan tidak ada tangga menuju ke puncaknya. Di sisi selatan sekitar 10 meter terdapat perbukitan kapur yang dulu menjadi objek wisata Bukit Patrum.

Jika dari kejauhan, sekilas omah dhemit dan bukit Patrum terlihat seperti kura-kura dengan kepala mendongak. Bukit Patrum sebagai tubuh kura-kura, sedangkan omah dhemit seperti kepalanya.

Penampakan bangunan bersejarah Omah Demit di Krakitan, Klaten, Rabu (26/3/2025).Penampakan bangunan bersejarah Omah Demit di Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Karena letaknya dikelilingi rimbun pepohonan, dari kejauhan Omah Dhemit terkesan mistis dan menyeramkan. Namun benarkah banyak dhemit di bangunan itu?

“Karena letaknya begitu diarani akeh dhemite (disangka banyak hantunya), yang viral juga nyebut omah dhemit. Yang di sini padahal biasa saja,” ungkap warga yang tinggal di dekat omah dhemit, Saiman Hartono (55).

Diceritakan Saiman, omah dhemit itu sebenarnya bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda. Pada waktu itu fungsinya digunakan untuk gudang dinamit. Dinamit itu bahan peledak yang digunakan untuk tambang batu kapur.

“Itu rumah kan gudang dinamit, maka bukit di sebelahnya disebut bukit Patrum (dinamit/peledak) untuk nambang batu kapur. Batu kapur itu dibawa ke PG Gondang,” tutur Saiman.

Dulu, kata Saiman, di sekitar bukit ada rel lori kereta yang digunakan untuk mengangkut batu kapur ke PG Gondang (di Kecamatan Kebonarum berdiri 1860). Pengambilan batu kapur sampai tahun 1995.

“Tahun 1995 batu kapur mulai berhenti diambil, sempat untuk tambang batu gamping (bahan bangunan). Sejak dulu bentuk Omah Dhemit ya begitu, bukan dibuat-buat, kawit mbah (sejak nenek) saya juga begitu,” terang Saiman.

Konon, sebut Saiman, ada cerita ada orang yang mau merobohkan omah dhemit tapi tidak bisa. Untuk naik ke omah demit tidak ada akses berupa jalan atau tangga.

“Naik ke situ tidak ada tangganya, jika manjat licin. Yang pernah naik dulu karena ada pohon tinggi di dekatnya sehingga lewatnya dahan pohon,” sambung Saiman.

Rumah itu, kata Saiman, dibangun sudah konstruksi tembok dan tidak ada isinya. Dibangun tentu saat bukitnya masih utuh belum terisolasi seperti sekarang.

“Dibuatnya dulu ya mungkin saat bukitnya masih utuh, kalau sudah seperti sekarang ya tidak mungkin bisa. Mau naik saja tidak bisa, apalagi membangun, sebelum ada COVID untuk wisata ramai sekali,” imbuh Saiman.

Sugiyanto, warga Desa Jimbung, Kecamatan Kalikotes mengatakan sejak dulu disebut omah dhemit karena terkesan seram. Di lokasi banyak pohon, bukitnya terjal dan berlumut.

“Sebelum dibangun (wisata) itu jalannya sulit, lumutan, terjal, ya akhirnya disebut omah dhemit. Warga sekitar ya tahunya bukit Patrum, Patrum itu dinamit karena rumah itu dulu jaman Belanda untuk nyimpen peledak,” papar Sugiyanto.

Dulu Tambang Batu Kapur

Bukit di Omah Dhemit itu, sebut Sugiyanto, dulu tambang batu kapur Belanda untuk pabrik gula (PG). Bahkan sampai tahun 1995-2000 masih diambil.

“Sampai tahun 2000 masih diambil, tapi terus berhenti, lalu diambil untuk bahan bangunan. Sebelum COVID sempat jadi bagian desapolitan bersama desa sekitar tapi sekarang sepi,” katanya.

Terpisah, Sekdes Krakitan, Kecamatan Bayat, Warsono membenarkan Omah Dhemit itu peninggalan era kolonial Belanda tempat tambang batu kapur untuk PG. Rumah digunakan untuk penyimpanan peledak.

“Fungsinya untuk menyimpan peledak untuk tambang batu kapur untuk PG Gondang. Pernah jadi objek wisata desa yang ramai sebelum Covid,” jelas Warsono.

“Konon cerita mbah saya, di jaman dulu pernah ada orang angon (gembala) kambing hilang, dicari tidak ketemu berhari-hari. Ternyata ditemukan di rumah itu,” imbuhnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Masjid Unik di Bandung, Bentuk Mirip Lumbung Padi dan Tanpa Kubah



Bandung

Masjid unik bisa ditemukan di beberapa kota di Indonesia, salah satunya di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bangunan masjid terinspirasi dari leuit (bahasa Sunda) atau lumbung padi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat agraris Jawa Barat.

Konsep tersebut jelas berbeda dengan masjid pada umumnya yang menggunakan atap berkubah dan gaya bangunan ala Timur Tengah. Masjid Salman Rasidi ini merupakan bagian dari Rumah Sakit Salman yang bisa digunakan pasien dan penunggunya, serta masyarakat umum.

“Alhamdulillah para pengunjung mereka nyaman. Jika mau ke arah Ciwidey bisa transit dulu di sini,” kata Ketua Harian DKM Masjid Salman Rasidi Andri Mulyadi seperti dikutip.dari detikJabar.


Tampilan keseluruhan Masjid Salman Rasidi memang sekilas mirip bangunan lumbung padi, dengan atapnya yang runcing. Lengkap dengan tangga menuju pintu leuit yang berada agak jauh dari permukaan tanah. Pintu leuit sengaja tidak dibuat sejajar tanah untuk mencegah kebanjiran atau didatangi hewan.

Di berbagai sisi, bangunan masjid dibuat miring sama halnya seperti bentuk asli dari lumbung padi. Dari luar, bangunan Masjid Salman Rasidi didominasi warna abu-abu dan banyak jendela.

Adanya jendela memungkinkan cahaya matahari masuk bagian dalam masjid, sehingga ruangan tampak terang meski tak ada lampu. Beberapa jendela bisa dibuka yang memungkinkan sirkulasi udara. Hasilnya pengunjung betah berlama-lama untuk menunaikan ibadah atau berfoto di sudut-sudutnya yang estetis.

Masjid Salman Rasidi juga terasa sejuk dengan langit-langit yang tinggi. Menurut Andri, masjid ini dilengkapi pendingin udara namun tidak diletakkan di atas dinding seperti penempatan AC umumnya. Posisi AC berada di bagian pinggir lantai.

“Ini di bawah. Jadi seperti ada angin kan begitu. Ada fasilitas air minum juga dan tempat parkir nyaman, Alhamdulillah,” kata Andri.

Secara keseluruhan, Masjid Salman Rasidi didesain memperhatikan keseimbangan lingkungan. Posisi kaca, jendela, dan ventilasi diatur agar jamaah merasa nyaman serta khusuk beribadah. Masjid tidak butuh banyak energi listrik untuk lampu dan AC karena sudah terang serta sejuk.

Masjid Salman Rasidi,Soreang, Kabupaten BandungBagian dalam Masjid Salman Rasidi di Soreang, Kabupaten Bandung (Yuga Hassani/detikJabar)

Artikel ini sudah naik di detikJabar. Baca selengkapnya di sini

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Gunung Bohong, Pilihan Saat Long Weekend Nggak Jauh dari Jakarta


Jakarta

Gunung Bohong bisa jadi pilihan warga Jabodetabek saat liburan tanpa harus jauh dari Jakarta. Lokasinya mudah diakses, murah, dan seru dengan trekking.

Gunung Bohong berada di Kota Cimahi, Jawa Barat. Di sini tersedia jalur trekking yang tidak terlalu tinggi dan cukup nyaman serta anak tangga yang membantu pengunjung sampai ke puncak.

Lokasi Gunung Bohong

Gunung Bohong berada di Padasuka, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat. Pengunjung bisa menikmati jalur pendakian yang sudah diberi paving blok, sehingga lebih aman dan nyaman. Namun tetap harus berhati-hati karena masih tetap terasa licin, apalagi saat basah.


Gunung Bohong sebetulnya bukit namun punya tampilan mirip gunung dan memiliki puncak. Dikutip dari arsip berita detikcom, Gunung Bohong memiliki ketinggian 877 mdpl. Lokasinya dengan dengan permukiman penduduk.

Di sini tersedia banyak alternatif penginapan dan wisata kuliner.

Rute ke Gunung Bohong dari Jakarta

Pengunjung yang ingin berwisata ke Gunung Bohong bisa naik kereta lalu turun di Stasiun Cimahi. Beberapa pilihan kereta yang tersedia dikutip dari KAI Access adalah

  • Papandayan: tiket Rp 145 ribu.
  • Parahyangan: tiket Rp 195 ribu.
  • Pangandaran: tiket Rp 145 ribu.
  • Serayu: Rp 63 ribu.

Harga dan ketersediaan tiket bisa berubah tiap saat sesuai permintaan pengguna kereta.

Pengunjung bisa melanjutkan dengan kendaraan umum, online, atau charter setelah turun di Stasiun Cimahi. Dalam kondisi lancar, Stasiun Cimahi-Gunung Bohong bisa ditempuh dalam waktu 10 menit sejauh 2,8 km.

Ada Apa di Gunung Bohong?

Gunung Bohong adalah lokasi tepat untuk detikers yang ingin healing tipis-tipis bersama teman dan keluarga. Beberapa hal yang ada di Gunung Bohong adalah:

1. Monumen Kujang Pasangan

Tugu ini berada di puncak Gunung Bohong dan sangat ikonik, sehingga kerap menjadi spot foto. Monumen tertanda Yonif 310/Kidang Kencana (KK) ini mencerminkan silih asah-silih asih-silih asuh yang merujuk pada perbuatan saling bantu dalam tujuan baik.

2. Olahraga agar sehat

Puncak Gunung Bohong bisa diakses setelah melalui jalur trekking. Perjalanan ini memungkinkan kamu olahraga sambil menikmati alam hijau dan udara sejuk. Jika merasa lelah, pengunjung bisa istirahat dan minum sebentar sambil menikmati pemandangan sekitar.

3. Melihat lanskap Cimahi

Gunung Bohong memungkinkan pengunjung melihat Cimahi dari ketinggian. Pengunjung juga bisa melihat KCIC sedang menempuh perjalanan, serta pemandangan tol Padalarang yang dipenuhi kendaraan menuju atau dari Bandung.

4. Spot foto dan lihat sunset

Kamu yang sempat ke Gunung Bohong, jangan sampai tidak berfoto di spot yang cocok untuk unggahan medsos. Setelah berfoto, pengunjung bisa lihat pemandangan indah matahari senja menjelang tenggelam di ufuk barat.

5. Wisata kuliner

Spot Gunung Bohong selalu ramai dikunjungi para wisatawan bersama teman dan keluarga. Pengunjung bisa menikmati aneka jajanan dan minuman yang disediakan pedagang sekitar.

Gunung Bohong bisa menjadi pilihan bagi yang ingin liburan murah dan mudah tak jauh dari Jakarta. Bagi detikers yang ingin berkunjung, jangan lupa update info lebih dulu untuk memastikan ketersediaan akses dan wajib jaga kebersihan selama di Gunung Bohong.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com