Tag Archives: tatanan

Mengenal Apa Itu Segitiga Dapur, Tujuan, hingga Tata Letaknya


Jakarta

Banyak orang yang tidak mengetahui apa itu konsep segitiga dapur. Kamu mungkin pernah melihatnya, tetapi kamu tidak menyadari hal itu.

Segitiga dapur yang juga dikenal dengan segitiga kerja dapur mengutamakan pergerakan antara ke wastafel, kulkas, dan oven. Segitiga dapur bisa digunakan untuk kamu mengetahui tata letak barang agar memudahkan dalam pergerakan.

Melansir The Spruce, Sabtu (28/09/2024), tujuan dan relevansi segitiga dapur yang bisa kamu gunakan untuk mengetahui tata letak peralatan yang ada di dapur kamu.


Apa Tujuan Segitiga Dapur?

Segitiga dapur berfungsi untuk memastikan bahwa ketiga fitur, seperti kulkas, wastafel, dan oven cukup berdekatan sehingga kamu memiliki akses yang mudah.

Menurut Emily Ruff, pendiri Cohesively Curated Interiors, menjelaskan aturan praktis segitiga dapur di mana setiap sisi segitiga harus panjangnya empat hingga sembilan kaki dan tidak ada sisi yang berpotongan lebih dari 12 inci.

Segitiga dapur sangat penting dalam hal penataan yang tepat untuk semua tugas dapur kamu.

Apakah Tata Letak Segitiga Dapur Masih Digunakan?

Meskipun segitiga dapur dipandang sebagai tatanan ideal, namun hal itu tidak selalu diterapkan pada ruang dapur masa kini.

“Denah lantai terbuka, dapur yang lebih besar, dan penambahan peralatan, seperti microwave, mesin pencuci piring, kulkas, dan oven ganda, telah mengubah cara para profesional mendesain dapur,” kata Mary Gordon, wakil presiden InSite Builders & Remodeling, dikutip dari The Spruce.

Di rumah yang lebih sempit, segitiga dapur tidak memungkinkan. Namun, metode segitiga dapur dapat diadaptasi.

“Segitiga harus selalu dihormati. Segala sesuatunya perlu dilebarkan sedikit, dan segitiga mungkin perlu diubah menjadi bintang atau serangkaian segitiga,” katanya.

Metode segitiga dapur bisa diterapkan juga tergantung dengan gaya hidup seseorang, sehingga tidak semua cocok dengan metode segitiga dapur ini.

“Salah satu faktornya adalah apakah satu orang memasak pada satu waktu atau apakah biasanya ada dua orang atau lebih yang memasak bersama. Pertimbangan lain adalah jumlah anggota keluarga dan apakah semua orang berkumpul di dapur saat memasak dan menyiapkan makanan,” ujarnya.

(abr/abr)



Sumber : www.detik.com

Prosesi Jejak Banon Keraton Yogya, saat Sri Sultan Menjadi Lambang Hijrah



Jakarta

Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan Jejak Banon yang sakral dan sangat langka pada Kamis (4/9/2025) malam. Prosesi yang dilaksanakan 8 tahun sekali ini adalah bagian dari tradisi Sekaten memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Jejak Banon punya makna sangat dalam.

“Prosesi Jejak Banon atau Jejak Beteng adalah tradisi sarat makna yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini melambangkan keberanian menapaki perubahan hidup berlandaskan ajaran Islam dan lahirnya tatanan masyarakat baru,” tulis Portal Pemerintah Daerah DI Yogyakarta dalam situsnya.


Jejak Banon artinya adalah menjejak atau menghancurkan tumpukan bata dalam bahasa Indonesia. Prosesi ini dilakukan di sisi selatan Masjid Gedhe, yang berada di kompleks Alun-alun utara Kasultanan Yogyakarta. Sri Sultan melangkahkan kaki di atas tumpukan batu batu ketika sudah dihancurkan.

Prosesi Jejak Banon saat Hajad Dalem Sekaten, Kamis (4/9/2025) malam. Prosesi ini dilakukan setiap delapan tahun atau sewindu sekali.Prosesi Jejak Banon pada Kamis (4/9/2025) malam Foto: dok. Humas Pemda DIY

Menurut Koordinator Rangkaian Prosesi Garebeg Mulud Dal 1959, KRT Kusumonegoro, Jejak Banon atau Jejak Beteng adalah simbol keberanian dan spiritualisme. Ketika itu, para leluhur berani menghadapi perubahan tanpa meninggalkan akar budaya yang dilanjutkan Sri Sultan sebagai pemimpin keraton saat ini.

Jejak Banon juga memiliki arti penting sebagai pengingat sejarah panjang dakwah Islam di Tanah Jawa. Penyebaran Islam dilakukan dengan cara damai dan bijaksana, sehingga ajaran bisa diterima seluruh lapisan masyarakat. Tidak heran ajaran Islam dan prosesi Jejak Banon masih lestari di Yogya.

Seluruh prosesi Jejak Banon dilakukan dalam suasana khidmat, tanpa mengurangi rasa penasaran masyarakat yang menyaksikan. Sri Sultan hadir dengan balutan baju takwa biru bermotif bunga di Kompleks Masjid Gedhe tepat saat Jejak Banon hendak dimulai. Sri Sultan yang juga Gubernur DI Yogyakarta ini hadir bersama para kerabat keraton.

Jejak Banon diawali dengan pembagian udhik-udhik berisi bunga, uang koin, dan biji-bijian. Masyarakat tampak antusias menerima bingkisan yang dipercaya membawa keberuntungan dan berkah ini. Setelah itu, Sri Sultan memasuki teras masjid untuk mengikuti tradisi pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW.

Riwayat yang dibacakan dalam bahasa Jawa ini dipimpin Kiai Penghulu Keraton. Tentunya, proses yang diyakini bertepatan dengan momen kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dilakukan dengan khidmat dan hening penuh penghayatan.

Setelah Jejak Banon, gamelan Sekati Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga yang mengiringi proses dikembalikan ke keraton melalui prosesi Kondur Gangsa. Tahapan ini menandai berakhirnya perayaan Sekaten, sekaligus pengantar menuju puncak Garebeg Mulud Tahun Dal.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com