Tag Archives: terlantar

Tanah Terlantar Diklaim Orang Lain Lalu Dijual, Hukumnya Bagaimana?



Jakarta

Ada beberapa kasus,mafia tanah memanfaatkan tanah terlantar untuk keuntungannya sendiri. Mereka menjual tanah tersebut tanpa persetujuan pemiliknya bahkan dibuatkan sertifikat tanah.

Lalu, pada saat pemilik aslinya datang untuk melihat, di atas tanah tersebut sudah ada bangunan dan orang lain yang tinggal di sana. Mereka mengaku jika tanah tersebut miliknya karena memegang sertifikat dan sudah belasan tahun tinggal di sana tanpa ada yang mengklaim jika itu tanah milik orang lain.

Lantas, bagaimana ketentuan hukumnya untuk kasus seperti ini?


Menurut Pakar Hukum UGM sekaligus Tenaga Ahli Badan Bank Tanah Oce Madril, tanah terlantar yang ditempati hingga didirikan bangunan di atasnya tanpa izin merupakan perbuatan ilegal. Meskipun sudah belasan tahun bangunan tersebut berdiri dan tidak pernah diusir, pemilik aslinya tetap tidak memiliki hak atas tanah tersebut.

“Nggak boleh. Jadi kalau tiba-tiba ada tanah, terlihat nggak diurus, terlantar, terus tiba-tiba ada yang datang ngeklaim (sudah tinggal di sana) 10 tahun, 12 tahun, ya tetap aja dia nggak punya hak,” kata Oce saat ditemui seusai acara Media Gathering ‘Kinerja 2024 dan Outlook 2025’ di Bandung, Jumat (17/1/2025).

Ia menekankan cara memperoleh tanah yang sah di antaranya melalui jual-beli, hibah, waris, didapat dari reforma agraria, hingga permohonan ke negara. Jika kasusnya ia menempati tanah terlantar tanpa izin seperti tadi, kepemilikannya tetap tidak sah.

Oce mengingatkan kepada pemilik tanah sebisa mungkin untuk menjaga asetnya tetap aman. Minimal tanah tersebut memiliki sertifikat yang sah dan asli.
Lalu, tanah tersebut harus dimanfaatkan. Jangan sampai tanah tersebut menjadi lahan kosong yang hanya ditumbuhi rumput liar.

“Yang paling penting adalah tanahnya jangan diterlantarkan untuk meminimalisir potensi masalah. Karena di undang-undang itu ada namanya fungsi sosial tanah. Fungsi sosial itu maksudnya tanah kalau bisa produktif. Misalnya nggak harus bangunan, tapi kan bisa ditanami sayur-sayuran, pohon,” jelasnya.

Saran lainnya untuk menjaga tanah agar tidak diduduki orang lain adalah dengan memasang pagar di sekelilingnya.

“Pagar boleh atau sebaiknya sebenarnya digarap. Digarap misalnya pertanian, ditanami tumbuhan kan tidak harus setiap hari kan. Kayak pohon jati itu kan jangka waktunya lama. Duren misalnya,” ujarnya.

(aqi/zlf)



Sumber : www.detik.com

Nasib Malang Wisata Puncak Siosar: Dulu Terkenal, Kini Terlantar



Karo

Objek wisata Puncak Siosar di Karo viral. Dulu wisata ini terkenal, namun kini malah terlantar. Seperti apa ceritanya?

Video terbengkalainya Puncak Siosar menyebar viral di media sosial. Dalam video tersebut, terlihat perosotan berwarna yang menjadi ikon wisata di sana kini ditumbuhi rumput liar.

Selain itu, fasilitas umum di lokasi tersebut juga tampak tak terawat dengan dipenuhi semak belukar.


Terkait terlantarnya wisata Puncak Siosar, Kadis Pariwisata Karo Munar Ginting mengakui adanya pengurangan pengunjung di objek wisata tersebut sejak akhir 2023 lalu.

“Memang sekarang pengunjung berkurang yang berwisata ke Siosar. Udah sejak dari akhir 2023 lalu,” ungkap Munar, Kamis (25/4) lalu.

Munar menyebut, merosotnya pengunjung ke Puncak Siosar lantaran penetapan harga yang makin mahal, mulai dari makanan hingga spot foto, yang membuat pengunjung harus merogoh kocek cukup dalam.

“Setiap wahana dan spot foto bagi anak-anak ataupun orang tua dia buat berbayar lagi oleh si pengusaha. Namun, saya ada dapat informasi mereka semena-mena, sesuka hati bahkan membuat harga makanan di luar perkiraan,” tuturnya.

Terkait itu, Munar mengakui sudah mencoba menghubungi pihak pengelola, namun belum mendapatkan respons positif. Namun begitu, ia turut merencanakan untuk melakukan diskusi untuk membangun kembali kejayaan wisata di Puncak Siosar ini.

“Kemarin juga saya sudah diingati oleh Bu Bupati agar menegur pengelola agar tidak membuat harga sesuka hati. Saat pengunjung ramai, mereka buat harga sesuka hatinya,” ucapnya.

“Namun ketika saya hubungi wakil pengelolanya belum bisa dihubungi, akhirnya terus makin menurun. Saya juga punya rencana untuk mencari waktu berdiskusi (dengan pengelola),” imbuh Munar.

“Kita sebagai pemerintah daerah dan juga fasilitator mengupayakan sektor pariwisata bertumbuh yang dulu stasionernya Berastagi, Siosar, kemudian Gajah Bobok. Ini saya lihat Siosar sudah mulai terlelap ini, kita ingin juga ini harus bangkit ini,” tutupnya.

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com