Tag Archives: tradisi

Tari Kepala Panjang, Tari Penyembuh nan Sakral dari Tanah Cendrawasih



Keroom

Banyak tarian yang dimiliki Papua yang patut kamu saksikan langsung saat liburan ke sana. Salah satunya adalah Tari Kepala Panjang, tarian sakral yang bertujuan untuk menyembuhkan dari roh jahat.

Tari Kepala Panjang merupakan salah satu tarian sakral yang ada di Papua. Tarian ini milik Suku Draa, dari Distrik Yaffi di Kabupaten Keroom, Papua. Karena sakralnya tarian ini, tak sembarangan waktu bisa dipentaskan.

detikcom mendapatkan kesempatan langka itu. Tepatnya, saat datang ke Keroom untuk menyaksikan Festival Budaya Keroom. Salah satu yang mencuri perhatian di sana adalah Tari Kepala Panjang. Tak hanya dari segi visual saja, namun ada nilai sakral dari gerakannya yang sederhana.


Saat itu langit mendung dan hujan kecil terjadi. Saat para penari mulai menghentakkan kaki, tiba-tiba petir menyambar. Entah ini berhubungan dengan tarian atau tidak, langit mendung perlahan mulai cerah kembali.

“Tenang saja, tak akan jadi hujan,” kata MC.

Dan benar saja. Langit perlahan kembali cerah saat gemerincing dan hentakan para penari mulai meramaikan suasana. Riuh-riuh penonton tak terdengar, semua menatap Suku Draa yang melompat-lompat kecil di lapangan.

Tarian Kepala Panjang dari Keroom, PapuaTarian Kepala Panjang dari Keroom, Papua Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Tentang Tari Kepala Panjang

Bila traveler melihat penampilan dari para penari, secara nalar bisa dipahami kepala panjang yang dimaksud terlihat dari hiasan yang menjulang dari kepala para penari.

Untuk melakukan tarian ini harus dilakukan secara berpasang-pasangan. Uniknya, tak boleh pasangan penari tersebut berstatus suami istri.

“Menari harus berpasangan tetapi pasangannya tidak boleh suami atau saudara laki-laki. Pamali, bisa pusing,” kata Yonece Waroembri, salah satu penari sekaligus warga Distrik Yaffi.

Tarian Kepala Panjang dari Keroom, PapuaTarian Kepala Panjang dari Keroom, Papua Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Dia menjelaskan bahwa Tarian Kepala Panjang ini berguna untuk menyembuhkan orang yang sakit karena gangguan roh atau jin. Jika ritual dilakukan dengan benar, si sakit akan langsung sembuh.

“Menarinya harus bersama-sama, semakin ramai semakin baik. Namun tergantung berapa orang yang sakit juga. Jika ritualnya benar, sakit orang tersebut akan sembuh,” dia menambahkan.

Untuk penyembuhan, para penari laki-laki dihiasi dengan tanaman obat dari hutan. Karena. mereka yakin roh atau jin hutan bisa disembuhkan dengan obat-obatan dari hutan juga.

“Tanaman obat yang dihiaskan ke kepala penari (yang laki-laki) berasal dari hutan. Tanaman obat yang selesai dibawa menari tidak boleh digunakan lagi, jika dipakai lagi yang sakit tidak akan sembuh. Jika melanggar aturan, tak akan sembuh,” lanjutnya.

Saat Tarian Kepala Panjang ditampilkan, terlihat yang sakit pun juga dibawa ke lapangan. Dia pun duduk pasrah seperti tidak bertenaga. Tak lama kemudian, puluhan penari masuk ke lapangan dan mulai bergerak sembari berloncat-loncat kecil.

Tak ada musik, tak ada suara. Hanya hentakan kaki dan bunyi gemerincing yang berasal dari aksesoris yang dipakai oleh penari.

Penari laki-laki, hampir semua tubuhnya diselimuti oleh tanaman. Mulai dari daun sagu yang menjuntai menutupi pinggang ke kaki, pergelangan tangan ditutupi tumbuhan puring kekuningan, sampai bagian kepala yang ujungnya bulu Cendrawasih.

Di bagian badan penari laki-laki yang dibungkus daun sagu tadi, ditutupi dengan kain dan lehernya dikalungi jeruk. Begitu mencolok namun pemandangan ini tak akan kamu temukan di tempat lain.

Sementara itu, penari perempuan pakaiannya lebih simpel. Mereka hanya membawa noken besar yang digantung di kepala. Kemudian mereka berdiri di belakang penari laki-laki, mengikuti kemanapun, sembari memegang seutas tali yang terhubung ke penari tersebut.

Tarian Kepala Panjang dari Keroom, PapuaTarian Kepala Panjang dari Keroom, Papua Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Terdengar sesekali suara “Huh… Huh” yang riuh di tengah hentakan gemericing. Ternyata ini gunanya untuk memberikan semangat kepada para penari.

Di antara para penari juga ada yang membawa Yi, seruling tradisional Papua yang bila diperhatikan bentuknya seperti terompet. Namun, alat musik ini terbuat dari kayu atau bambu. Selain itu, ada juga yang membawa busur panah.

Begitu ramai penampilan dari ritual ini. Si sakit pun dipukul-pukul badannya dengan daun oleh tabib lalu membaluri tubuhnya dengan tanah. Ini merupakan tanda ritual telah usai.

Para penari pun bubar dan kembali ke pinggir lapangan. Para penari laki-laki masuk ke sebuah ‘rumah’ yang dibangun sementara dengan penutup terpal.

“Hanya laki-laki yang boleh masuk ke ‘rumah’ itu, kami perempuan tidak boleh masuk. Itulah aturannya. Jika perempuan masuk ke sana, dia bisa sakit,” kata Yonece.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tradisi Menginjak Api Menjelang Nyepi di Bali



Klungkung

Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, ada satu tradisi unik yang masih dilaksanakan masyarakat adat di Nusa Penida, yaitu menginjak-injak api. Seperti apa?

Di Desa Adat Pundukaha Kaja, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali ada tradisi unik yang setiap tahun dilaksanakan sebelum pelaksanaan Nyepi adat.

Nyepi adat beda dengan Hari Raya Nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Nyepi adat dilaksanakan secara khusus oleh desa adat setempat. Tidak semua desa adat di Bali memiliki perayaan Nyepi adat.


Nyepi di desa adat di Desa Adat Pundukaha Kaja dilaksanakan sehari setelah Purnama Sasih Kesanga (purnama bulan kesembilan). Rentetan Nyepi adat ini diisi dengan upacara mecaru, serta ritual nyekjek (menginjak-injak) api.

Tokoh Desa Adat Pundukaha Kaja, Jero Gede Mangku Dalem I Made Lastrawan mengatakan, prosesi diawali dengan melaksanakan upacara purnama kesanga. Setelah itu, proses dilanjutkan dengan pecaruan panca sata dengan menghaturkan segehan agung (sesajen besar) di perempatan desa.

“Segehan ini untuk menetralisir kekuatan bhuta (negatif) menjadi sifat dewa dengan tujuan kemakmuran, keselamatan, dan ketentraman bagi umat,” kata Lastrawan, Minggu (25/2/2024).

Prosesi ritual nyekjek api dalam rangka menyambut Nyepi adat di Desa Adat Pundukaha Kaja, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Minggu (25/2/2024). (Istimewa).Prosesi ritual nyekjek api (Istimewa). Foto: Prosesi ritual nyekjek api dalam rangka menyambut Nyepi adat di Desa Adat Pundukaha Kaja, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Minggu (25/2/2024). (Istimewa).

Ritual mecaru dilaksanakan dini hari sekitar pukul 03.00 Wita dan diikuti oleh semua umat. Prosesi ini diiringi suara kentongan dan denting genta para jero mangku di desa adat setempat.

Para Pria Mulai Menginjak-injak Api

Warga laki-laki kemudian menyalakan api dengan kayu bakar yang sudah disiapkan setelah proses mecaru rampung. Api yang menyala disebut Sanghyang Api dan digunakan untuk ritual nyekjek api.

Tradisi nyekjek api digelar di jabe Pura Puseh Bale Agung, di depan Pura Kepah Agung, desa adat setempat. Sesuai dengan namanya, nyekjek api, para pemuda akan menari-nari mendatangi api dan menginjak-injaknya.

Mereka seakan tidak takut terhadap panasnya api. Warga yang mengikuti ritual nyekjek api semakin lama kian bersemangat. Terlebih iringan gamelan gong yang menghentak. Ada berlari mengitari, memukul api dengan kayu, dan melompatinya.

“Di situlah uniknya ritual ini, meskipun mereka yang ikut menginjak api dalam keadaan sadar (tidak kesurupan), tetapi tidak ada rasa sakit yang dirasakan,” tambah Lastrawan.

Warga yang menginjak api sesekali diperciki tirta suci selama tradisi berlangsung. Tujuannya agar selalu mendapatkan kekuatan dan perlindungan.

“Tradisi ini sudah kami laksanakan turun temurun, dan terus kami gelar hingga saat ini,” tegasnya.

Prosesi Nyekjek api berhenti menjelang pukul 06.00 Wita. Seusai itu baru dilanjutkan dengan Nyepi adat sampai pukul 16.00 Wita.

Selama proses Nyepi adat dilarang ada kendaraan dari luar masuk menuju objek wisata. Larangan itu sebelumnya juga sudah disampaikan melalui surat pengumuman.

Proses Nyepi adat di Desa Adat Pundukaha Kaja hampir sama dengan Hari Raya Nyepi tahun baru Saka. Masyarakat menggelar catur brata penyepian saat Nyepi adat, yakni amati gni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak beraktivitas), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menggelar hiburan). Semua warga desa adat wajib berada di rumah masing-masing.

——

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tradisi Unik Sambut Idul Adha di Pasuruan: Manten Sapi



Pasuruan

Ada beragam tradisi unik menyambut Idul Adha di Indonesia. Di Pasuruan, Jawa Timur warga menggelar acara Manten Sapi alias Pengantin Sapi. Seperti apa ya?

Tradisi Manten Sapi biasanya dilakukan sehari sebelum waktu Idul Adha tiba. Warga melakukan tradisi ini sebagai simbol penghormatan kepada hewan yang akan dikurbankan.

Untuk menghormati hewan kurban, biasanya masyarakat akan memandikan mereka dengan air kembang dan merias hewan tersebut. Sapi-sapi ini akan dirias serupa pengantin, diberi kalung kembang tujuh rupa, dan diselimuti kain putih.


Penampilannya setelah dirias sangat cantik dan tampan menyerupai pengantin menjadi alasan tradisi ini disebut sebagai manten sapi atau pengantin sapi.

Sesudah dihias, sapi-sapi tersebut kemudian diarak berkeliling oleh masyarakat, sebelum akhirnya diserahkan ke panitia penyembelihan hewan kurban di masjid.

Tak hanya rombongan sapi yang tampil meriah dan anggun, warga masyarakatnya pun tak ketinggalan. Mereka yang ikut arak-arakan manten sapi akan membawa berbagai bahan pangan. Seperti minyak goreng, beras, bumbu masak, hingga kayu bakar.

Bahan pangan tersebut nantinya akan diberikan kepada warga yang tidak mampu bersama dengan daging kurban yang telah dipotong pada hari Idul Adha. Hal ini dilakukan masyarakat untuk membantu warga tersebut agar tak kesulitan untuk mengolah daging sembelihan.

Selain sebagai tradisi yang menarik untuk menjadi tontonan, kebiasaan turun-temurun di masyarakat ini juga dilakukan sebagai bagian dari syiar Islam.

Adanya tradisi manten sapi ini diharapkan supaya masyarakat memiliki keinginan untuk berkurban di momen Idul Adha tahun berikutnya.

Meskipun hanya sapi yang diarak, tetap saja hal ini diharapkan memotivasi masyarakat untuk bersemangat kurban dengan hewan apapun yang diperbolehkan. Antara lain kambing, domba, sapi, bahkan unta.

Masyarakat yang mengikuti manten sapi juga merasa bangga sebab di tengah banyaknya tradisi lokal yang hilang, kebiasaan ini masih terus dilakukan di masyarakat. Selain itu, manten sapi juga dilakukan sebagai bentuk komunikasi untuk menjaga tradisi setempat.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Makam di Gunungkidul Diselimuti Kain Putih, Begini Alasannya


Jakarta

Gunungkidul merupakan wilayah yang terkenal dengan keindahan alamnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu fenomena yang mencuri perhatian yaitu kebiasaan masyarakat yang menyelimuti makam-makam dengan kain putih.

Mungkin orang yang datang dari luar Gunungkidul belum mengetahui mengapa makam makam tersebut ditutupi kain putih. Lantas, apa alasannya?

Alasan Makam-makam Gunungkidul Diselimuti Kain Putih

Jika sedang berjalan-jalan ke daerah Gunungkidul, traveler mungkin akan menemukan sejumlah makam yang penutup kain putih. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan.


1. Tradisi Warga Setempat

Salah satu kawasan yang banyak memiliki makam berselimut kain putih adalah di Kecamatan Paliyan. Kain putih menyelimuti seluruh bagian nisan mayoritas makam.

Menurut wawancara detikJogja sebelumnya, pemakaian kain putih untuk menutupi makam merupakan tradisi warga setempat. Salah seorang warga Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Watinah mengatakan bahwa selimut putih di makam biasanya diganti ketika bulan Ruwah.

“Kalau tradisi sini harus pakai kain putih, termasuk udah adatnya begitu. Orang Jawa, maklum, harus pakai begitu-begitu. Apalagi kalau bulan Ruwah itu pada nyekar, itu harus ganti selimut putih itu. Putihan orang bilang, harus warna putih, selain itu nggak dipakai,” ucapnya.

Meski begitu, tidak semua warga menganut kepercayaan tersebut. Warga yang berbeda keyakinan tidak memasang kain putih di makam. Hal itu pun tidak menjadi masalah.

2. Sudah Dilakukan Sejak Nenek Moyang

Menurut warga lainnya, Ani, tradisi menyelimuti makam dengan kain putih sudah dilakukan sejak dahulu kala. Sehingga menjadi kebiasaan yang turun temurun.

“Sudah dari dulu, sejak nenek moyang. Jadi ini turun-temurun. Warga Gunungkidul masih gini, diselimuti putih-putih,” kata Ani.

Ada keyakinan warga setempat yang dipercayai jika makam tidak diselimuti kain. Sosoknya akan datang ke mimpi keluarga yang ditinggalkan.

“Kalau nggak dikasih selimut, katanya bakal ke bawa mimpi. Jadi kayak ingetin keluarga buat dikasih kain,” ucap Ani.

Budaya Jawa sendiri memang masih kental dengan memberikan penghormatan kepada orang yang sudah meninggal. Menurut Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga, S.S., M.M., penghormatan tersebut mencerminkan keyakinan antara dunia orang yang hidup dan dunia roh. Hal ini dilakukan agar terjadi keseimbangan dan keharmonian.

“Leluhur atau nenek moyang memiliki peran penting dalam budaya Jawa. Orang Jawa menghormati dan memuja leluhur mereka sebagai penjaga keluarga dan penjaga tradisi. Mereka percaya bahwa leluhur memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka dan dapat memberikan nasihat serta perlindungan,” ujar Riswinarno

3. Bentuk Penghormatan kepada Orang yang Sudah Meninggal

Menurut Riswono, pemakaian kain putih di pemakaman Gunungkidul merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada keluarga yang sudah meninggal. Hal ini diyakini bisa memperkuat ikatan dengan arwah dan melestarikan tradisi.

“Pemakaian kain putih untuk membungkus nisan/kijing makam, sebagai wujud dari adanya upaya menghormati, mensucikan, meninggikan si tokoh yang dimakamkan tadi. Mengapa kain putih? Karena dianggap sebagai simbol kebersihan, kesucian, kesederhanaan,” tuturnya.

4. Bentuk Kearifan Lokal

Di sisi lain, menutupi makam dengan kain putih juga diyakini merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat setempat. Praktik ini juga dilakukan di makam-makam ulama atau tokoh-tokoh Islam.

“Kayaknya local wisdom dari masyarakat setempat. Yang jelas kalau perspektif Islam, tidak ada anjuran atau keharusan memberi kain putih di atas makam. Selama ini yang saya tahu, biasanya makam-makam ulama atau publik figur yang disepuhkan diberi penutup, dan biasanya terpisah dengan makam warga lainnya,” ujar Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, Willi Ashadi S.H.I., M.A.

Itulah beberapa alasan mengapa makam-makam di gunungkidul diselimuti dengan kain putih. Semoga informasi ini menambah wawasanmu.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com

Ini Tempat untuk Melukat Tanpa Busana di Bali



Gianyar

Banyak wisatawan sengaja datang ke Bali untuk mengikuti prosesi Melukat. Berikut tempat melukat di Gianyar, Bali yang mewajibkan pesertanya tanpa busana.

Berkunjung ke Bali, tak luput dari wisata spiritualitas. Wisatawan asing maupun domestik biasanya memilih melukat (pembersihan diri) yang belakangan menjadi tren.

Banyak lokasi di Bali yang bisa dipakai oleh wisatawan untuk melukat. Namun, pernahkah traveler terbayang untuk melukat di tanpa sehelai kain pun?


Beji Telaga Waja yang berlokasi di Banjar Kepitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, akan memberikan pengalaman melukat yang berbeda. Bagian dari Pura Telaga Waja ini dibangun pada abad ke-10 masehi dan hanya pernah sekali direnovasi sekitar tahun 1990-an.

Nuansa alam di sini sangat kental dengan perpaduan pepohonan rimbun, gemericik air pancuran, suara burung, hingga aliran sungai di dekat lokasi.

Apabila beruntung, pemedek (pengunjung tempat peribadatan) bisa bertemu dengan monyet-monyet yang terkadang mencari makan di antara pepohonan.

Selain alam, nilai sejarah yang tinggi nampaknya mendorong minat pemedek untuk melukat di lokasi spiritual tersebut. Diketahui bahwa selama ratusan tahun sudah menjadi tempat pertapaan.

Tercatat dalam naskah Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada abad ke-13 Masehi, lokasi tersebut dinamai Pusat Pertapaan Talaga Dhwaja.

Bahkan, dikatakan Dang Hyang Dwijendra dan Patih Kebo Iwa pernah melakukan pertapaan dan penglukatan di lokasi yang bisa ditempuh selama 25 menit dari pusat Kota Gianyar tersebut.

Beji Telaga Waja yang berlokasi di Banjar Kepitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali. (Ni Komang Ayu Leona Wirawan)Beji Telaga Waja yang berlokasi di Banjar Kepitu, Desa Kendran, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, Bali. (Ni Komang Ayu Leona Wirawan)

Bekas telapak kaki Kebo Iwa juga pernah ada pada salah satu batu padas telaga (kolam). Namun, kini menghilang akibat pengikisan. Tiap telaga dinamai Siwa dan Buddha sesuai ajaran Siwa Buddha yang dahulu ada dan dianut.

Jejak sejarah lainnya dapat dilihat dari adanya relief menyerupai huruf H pada pintu masuk menuju beji yang sekaligus berada di lokasi bekas peserta pasraman (lembaga belajar agama) melakukan meditasi.

Ini mirip sekali dengan pengunci pada pintu gebyok rumah Bali. Untuk itu, diyakini relief itu menjadi pintu masuk sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia gaib).

Tradisi dan Pantangan Melukat

“Sebelum masuk ke beji untuk melukat, pemedek perlu ke bagian relief itu dulu. Memohon izin sambil mengetuknya sebanyak tujuh kali”, jelas Jero Mangku Besang, salah satu orang suci sekaligus pengelola Beji Telaga Waja saat dijumpai beberapa waktu lalu.

Pemedek yang hadir tidak harus dari kalangan umat Hindu. Namun bila ia beragama Hindu, wajib melakukan persembahyangan dahulu di Pura Telaga Waja, posisinya berada di atas beji.

Saat memasuki area pura hingga beji juga diwajibkan berbusana adat dan tidak sedang dalam keadaan menstruasi maupun berduka karena pihak keluarga maupun kerabat meninggal dunia.

Menanggalkan Pakaian dengan Aman

Prosesi melukat kemudian bisa dilakukan dengan menanggalkan pakaian hingga alas kaki. Pemedek masuk secara privat dan bergilir. Bahkan pemangku juga tidak diperkenankan masuk ketika pemedek sedang melukat.

Lalu, hanya diperkenankan berkelompok jika dalam satu jenis kelamin. Anggota kelompoknya yang berbeda jenis kelamin akan menunggu antrian di lokasi bekas pasraman tersebut, posisinya di tengah-tengah antara beji dengan pura.

“Orang kadang ragu ke sini karena takutnya diintip. Di sini aman karena sekelilingnya tertutup dan bergilir juga pemedeknya. Pantang untuk berpakaian saat melukat karena dipercaya nanti malah bernasib kurang baik”, tutur Jero Mangku Suwaja, pengelola beji lainnya.

Filosofi Melukat Tanpa Busana di Beji Telaga Waja

“Memang bedanya di sini tidak berpakaian. Sebenarnya sama seperti mandi di rumah. Tapi, itu kan pembersihan jasmani. Kalau yang ini pembersihan rohani. Dan, perlu dilepas semua supaya bersihnya menyeluruh,”” terang Jero Mangku Besang menyoal alasan di balik pemedek tidak diperkenankan berpakaian saat melukat.

Pemedek melakukan prosesi melukat di 11 air pancuran yang berada di bawah telaga Siwa dan Buddha. Terdapat undakan (tangga) menuju telaga yang posisinya di tengah-tengah sehingga membagi tempat melukat menjadi enam dan lima air pancuran.

“Enam pancuran berarti pembersihan diri untuk mengurangi Sad Ripu (6 musuh dalam diri manusia). Tidak mungkin hilang 100% karena kita lahir membawa karma. Kalau yang lima pancuran berarti pembersihan terhadap panca indera kita,” jelas Jero Mangku Besang.

Tidak hanya melukat di tempat, pemedek juga bisa membawa pulang air dari Beji Telaga Waja untuk anggota keluarga di rumah.

Bedanya, air tidak diambil dari 11 pancuran tersebut, melainkan dari klebutan ibu. Diyakini mampu memberikan kemakmuran, kesembuhan dari penyakit hingga healing.

Belum Tersohor di Masyarakat

Rupanya tempat melukat di Beji Telaga Waja belum cukup tersohor di masyarakat umum. Mereka yang kenal pun umumnya menghubungi Jero Mangku Suwarja untuk reservasi.

Tidak ada biaya yang dipungut. Hanya saja untuk memastikan para pemangku ada di tempat dan air pancuran dalam kondisi yang layak digunakan melukat diperlukan sumbangan seikhlasnya. Sebab, warga Banjar Kepitu yang menjadi pengemong pura akan melakukan pembersihan secara berkala.

Selain itu, wisatawan disarankan datang menggunakan kendaraan roda dua karena jalan menuju lokasi sempit. Kalau membawa mobil, maka dapat parkir di Banjar Kepitu yang berjarak 100 meter dari lokasi.

Pemedek juga baiknya tidak datang saat musim hujan karena hampir keseluruhan bangunan masih terbuat alami dari bebatuan dan cukup berlumut.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com