Tag Archives: tungku

Hindari Pasang AC di 5 Tempat Ini biar Tagihan Listrik Aman dan Bebas Bau


Jakarta

Air Conditioner (AC) atau pendingin ruangan merupakan perangkat elektronik andalan di negara tropis. Jika dahulu kipas angin menjadi perangkat pendingin nomor satu, kini posisinya dilangkahi oleh AC sebagai perangkat instan yang banyak dipilih masyarakat.

Padahal jika dibandingkan antara kipas angin dan AC, jelas AC lebih banyak memakai listrik dan membuat tagihan listrik bulanan membengkak. Namun, fungsinya yang bisa membuat ruangan lebih sejuk dalam waktu singkat membuat banyak orang rela untuk tetap menggunakan AC ketimbang kipas angin.

Pemakaian listrik yang besar bukan hanya disebabkan oleh lama pemakaian, tetapi juga bisa karena lokasi pemasangannya yang salah. Apabila AC diletakkan di tempat yang benar, mesin AC akan bekerja normal untuk mendinginkan ruangan. Sebaliknya, jika dipasang di lokasi yang salah justru menyita banyak daya.


Oleh karena itu, agar tetap bisa memakai AC tanpa perlu khawatir listrik boncos, dilansir dari House Digest, berikut lokasi-lokasi yang harus dihindari untuk pemasangan AC.

1. Dekat Barang dan Area yang Mudah Terbakar

Sebagai perangkat yang berfungsi mendinginkan ruangan, AC harus jauh-jauh dari sumber panas, seperti cerobong asap, tungku api, kompor atau dekat oven yang terbuka. Oleh karena itu, kebanyakan dapur di rumah jarang ada yang memakai AC. Ketika AC berada dekat dengan sumber panas, sistem pendingin AC bekerja 2x lebih keras karena harus membuat ruangan dingin.

2. Tempat Terpanas di Rumah

Sebenarnya salah satu alasan pemilik rumah memasang AC adalah untuk mendinginkan udara di ruangan tersebut. Namun, perlu dipertimbangkan jika ruangan tersebut banyak tersorot sinar matahari dan di dekat sumber panas, sebaiknya ubah interior ruangan agar lebih banyak ventilasi atau pasang kipas angin agar suhu panas bergerak menjauh dari pusat aktivitas penghuninya.

Sama seperti di atas, AC yang ditempatkan di ruangan yang terlalu panas harus bekerja 2x lebih keras agar ruangan tersebut dingin seperti yang diinginkan penghuninya. Jika AC dibiarkan seperti ini, lama-lama akan timbul masalah pada mesin.

Solusi lainnya, coba halau sinar matahari masuk ke dalam ruangan dengan memasang tirai. Apabila sedang tahap pembangunan, bisa mengukur arah matahari akan mengarah ke mana. Selain sinar matahari, uap dari dapur atau asap panas yang dihasilkan di dalam rumah juga harus jauh dari lokasi AC dipasang.

3. Lokasi yang Tersembunyi

AC harus ditempatkan di area yang tidak ada penghalang tepat di depannya. Hal ini untuk memudahkan udara dingin menyebar ke seluruh ruangan. Namun ada saja yang memasang AC tanpa pengukuran sehingga memilih tempat-tempat yang sempit dan banyak barang besar yang menghalangi.

Kasus seperti ini banyak ditemukan pada peletakan AC outdoor. Alasannya AC outdoor kerap disimpan di area tersembunyi agar tampilan rumah enak dilihat. Sebab, menampakkan AC outdoor dianggap dapat merusak dekorasi rumah.

Banyak orang yang menutupi keberadaan AC outdoor dengan memasang penutup atau memasang penghalang seperti tanaman atau lemari. Cara ini justru membuat AC jadi cepat rusak karena udara panas dari unit tidak dapat terbuang dan justru kembali ke dalam sirkulasi AC. Solusinya, penghuni rumah boleh menutupinya tetapi jangan meletakkan barang apa pun di depan baling-balingnya sehingga udara panas dapat dibuang.

4. Tempat yang Banyak Perangkat Elektronik Berdaya Besar

Cara untuk menghemat pemakaian listrik adalah tidak menggunakan perangkat elektronik berdaya besar secara bersamaan. Saat hendak menyalakan AC perangkat lain seperti blender, oven, mesin air sebaiknya tidak dalam keadaan menyala. Listrik turun atau jeglek bisa mengakibatkan korsleting listrik dan berbahaya apabila terjadi kebakaran.

5. Dekat Tempat Sampah

Tempat sampah bisa menjadi sumber bau di rumah. Terutama untuk tempat pembuangan sampah bekas makanan. Memasang AC di ruangan yang di dalamnya terdapat tempat sampah justru dapat membawa masalah kesehatan.

Seperti yang diketahui pemasangan AC lebih baik di dalam ruangan yang tertutup, apabila ada bau menguar dari tempat sampah, seluruh penghuninya bisa mencium bau tersebut. Efek jangka pendeknya bisa menyebabkan masalah pernapasan, nyeri dada, hiperreaktivitas saluran napas. Sedangkan dalam jangka panjang seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Itulah beberapa lokasi yang sebaiknya tidak dipasang AC, semoga membantu.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/abr)

Sumber : www.detik.com

Alhamdulillah  Allohumma Sholli Ala Rosulillah Muhammad wa ahlihi wa ash habihi. ilustrasi gambar properti : unsplash.com / kenny eliason
ilustrasi gambar : unsplash.com / kenny eliason

Kompor Kaca vs Kompor Gas Konvensional, Mana yang Lebih Cocok buat Kamu?


Jakarta

Memilih kompor, nggak boleh sembarangan karena harus pertimbangkan karakteristik yang cocok buat kamu. Terdapat dua jenis kompor yang populer digunakan, yaitu kompor kaca dan kompor gas konvensional dengan keunggulan dan kekurangan masing-masing.

Sering kali konsumen bingung untuk menentukan antara keduanya. Lantas, mana yang sebenarnya lebih baik?

Simak perbedaan kompor kaca dan kompor gas konvensional berikut seperti yang dikutip dari keterangan NIKO, Minggu (22/9/2024).


Perbedaan Kompor Kaca dan Kompor Gas Konvensional

1. Estetika

Kompor Kaca Foto: Getty Images/RYosha

Kompor kaca dikenal memiliki desain yang modern dan estetis. Dengan permukaan kaca yang mengkilap, kompor ini menambah kesan elegan pada dapur, terutama yang memiliki konsep minimalis atau kontemporer.

Sementara itu, kompor gas konvensional umumnya memiliki desain yang lebih sederhana dan fungsional. Namun, kesederhanaan ini justru sering kali lebih cocok untuk dapur yang mengutamakan fungsi daripada penampilan.

2. Desain

Salah satu keunggulan utama kompor kaca adalah perawatannya yang mudah. Permukaan kaca yang rata dan tanpa celah membuat sisa-sisa makanan atau tumpahan dapat dibersihkan dengan mudah menggunakan kain basah.

Berbeda dengan kompor gas konvensional yang memiliki banyak sudut dan celah pada bagian burner dan grid, sehingga memerlukan usaha lebih dalam membersihkannya.

Kompor Gas Konvensional Foto: Getty Images/Adipra

3. Material

Kompor kaca biasanya terbuat dari kaca tempered yang tahan terhadap panas tinggi. Beberapa model bahkan dilengkapi dengan fitur keamanan, seperti pemutus gas otomatis jika api padam, yang menambah kenyamanan penggunaan. Namun, meskipun tahan panas, kompor kaca tetap memiliki risiko pecah jika terkena benturan keras.

Sedangkan kompor gas konvensional yang biasanya terbuat dari material logam, lebih tahan lama dan kuat terhadap benturan, menjadikannya pilihan yang lebih aman untuk penggunaan berat atau intensif.

4. Harga

Soal harga, kompor gas konvensional cenderung lebih ekonomis dan terjangkau bagi sebagian besar konsumen. Hal ini membuat kompor gas konvensional pilihan yang populer di kalangan masyarakat.

Sebaliknya, kompor kaca, dengan segala kelebihan estetika dan fitur keamanannya, umumnya dibanderol dengan harga yang lebih tinggi.

Dalam menentukan jenis kompor, konsumen perlu mempertimbangkan kebutuhan dan preferensi masing-masing. Jika mencari kompor yang mudah dibersihkan dan menambah estetika dapur, kompor kaca bisa menjadi pilihan yang tepat.

Namun, bagi mereka yang mengutamakan kekuatan, ketahanan, dan harga yang lebih terjangkau, kompor gas konvensional mungkin lebih sesuai.

Salah satu merek kompor kaca lokal, NIKO menawarkan kompor yang andal, tahan lama, serta memberi pelayanan after sale. Sejak 2022, NIKO menarik perhatian publik dan para ahli di industri dengan kompor berkualitas dan fungsionalitas.

“Kompor NIKO hadir dengan berbagai pilihan mulai dari 1-3 tungku, di atas meja atau di tanam, pengapian mekanis maupun otomatis, bahan kaca maupun stainless,” ujar Direktur Marketing NIKO Tjandra Lianto dalam keterangan tertulis, Minggu (22/9/2024).

“Semua pilihan hadir dengan spesifikasi dan harga yang sangat sesuai dengan masyarakat Indonesia,” sambungnya.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(dhw/dna)



Sumber : www.detik.com

Seperti Ini Wujud Gua Tempat Persinggahan Ratu Laut Selatan



Sukabumi

Konon di balik tebing karang yang menjulur ke laut, tersimpan ruang kecil yang dianggap keramat oleh sebagian warga Sukabumi. Itulah tempat persinggahan sang Ratu Laut Selatan.

Matahari belum sepenuhnya naik ketika Edo Supriadi berjalan menyusuri bibir Pantai Karang Hawu yang berada di Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat.

Lelaki berusia 41 tahun itu membawa seikat bunga, dua batang dupa, dan segelas air mineral yang dibungkus kain mori putih. Langkahnya pelan, seperti sedang mengukur waktu dan diam-diam membaca tanda dari alam.


Menurut cerita turun-temurun, Nyi Roro Kidul sosok yang dikenal dalam legenda sebagai Ratu Laut Selatan diyakini pernah singgah. Keyakinan itu hidup kuat, bagi mereka yang percaya.

“Dari dulu saya sudah sering diajak orang tua ke sini. Dulu kalau ada hajat besar, orang-orang suka tirakat di sini. Katanya ini tempat singgah Ratu Laut Selatan.” ucap Edo membuka kisahnya, orang tua yang ia maksud adalah orang yang dia tuakan, seorang tokoh spiritual.

Gua itu dikenal sebagai Gua Keramat Karang Hawu, berada di balik batu besar di kaki tebing yang disebut Gunung Winarum. Lokasinya hanya bisa dicapai dengan menaiki jalan setapak dari sisi timur pantai.

Tak ada papan penunjuk arah. Tempat itu seolah hanya bisa ditemukan oleh mereka yang tahu atau dipanggil, bagi mereka yang percaya.

Di dalam gua, suasana sunyi menyelimuti. Udara dingin menempel di kulit. Sisa dupa dan sesajen berserak di lantai batu.

Gua Karang Hawu SukabumiGua Karang Hawu Sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Sebuah kendi tua diletakkan di sudut, berisi air laut yang konon telah dibacakan doa. Di dinding gua, garis-garis basah mengalir perlahan seperti peluh batu yang menyimpan kisah lama.

Namun bukan hanya gua yang dikeramatkan. Di atas bukit karang itu, tepat di ujung tebing yang menghadap langsung ke laut, terdapat formasi batu yang disebut karang kursi.

Batu besar ini menyerupai singgasana. Bagi mereka yang percaya, di situlah Nyi Roro Kidul kerap “duduk” memandang cakrawala, terutama saat purnama merekah di atas laut selatan.

“Kalau yang benar-benar niat datang, kadang dapat mimpi. Katanya duduk di kursi batu itu, ngadep laut, terus tiba-tiba tahu jalan keluar dari masalahnya,” ujar Edo.

Purnama bukan hanya penanda waktu, tapi bagi sebagian orang menjadi jendela antara dunia manusia dan dunia gaib. Malam Jumat Kliwon, malam Suro, atau saat bulan penuh, kerap dianggap sebagai waktu ketika tirai antara alam terlihat dan tak terlihat menipis. Bagi mereka yang percaya, itu adalah saat yang sakral.

“Banyak yang percaya, kalau niatnya baik, datang ke sini bisa dapat petunjuk atau kemudahan. Tapi kalau sembarangan, bisa celaka,” kata Edo.

Ia mengaku pernah menyaksikan kejadian yang sulit dijelaskan. Seorang pengunjung datang tergesa-gesa, langsung naik ke atas tanpa ritual pembuka. Tak lama, orang itu jatuh tak sadarkan diri di depan karang kursi.

“Pernah ada yang kesurupan, atau tiba-tiba jatuh pingsan waktu naik ke atas bukit. Biasanya karena lupa izin atau tidak jaga sikap,” ujarnya.

Pantai Karang Hawu sendiri memang punya ciri unik. Namanya berasal dari bentuk karang besar yang menyerupai tungku atau hawu dalam bahasa Sunda. Namun bentuk dan nama itu hanya sebagian dari pesona. Yang lain adalah cerita dan keyakinan, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.

Edo bukanlah seorang juru kunci. Ia hanya warga biasa yang merasa terpanggil menjaga tempat ini agar tidak diabaikan begitu saja. Tidak untuk dipuja, tidak juga dijadikan tontonan.

“Saya cuma jaga. Supaya tempat ini enggak hilang, enggak dijadikan hiburan semata. Karena ini bukan tempat wisata biasa, ini tempat keramat,” ujarnya.

Dalam dunia yang makin rasional, tempat seperti Gua Karang Hawu dan karang kursinya berdiri sebagai pengingat, bahwa ada sisi lain dari tradisi yang hidup dalam diam. Tempat di mana mitos, budaya, dan keyakinan lokal bersatu, bagi mereka yang percaya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(sya/wsw)



Sumber : travel.detik.com