Tag Archives: wisata air

Mata Air Grogolan Diserbu Wisatawan saat Libur Lebaran



Bojonegoro

Destinasi mata Air Grogolan di Bojonegoro ramai diserbu wisatawan saat libur Lebaran. Suasana rindang hutan jati yang dialiri mata air alami jadi daya tarik.

Mata air Grogolan berada di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, Bojonegoro. Pada libur Lebaran, destinasi ini jadi objek wisata murah meriah untuk dikunjungi masyarakat Bojonegoro.

Mereka menghabiskan waktu bersantai bersama keluarga di destinasi ini. Air yang mengalir dari sumber mata air Grogolan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para kawula muda maupun anak-anak.


Di sini, mereka bisa bermain air atau mandi di aliran sungai yang jernih. Ditambah aneka makanan ringan yang dijajakan oleh warga setempat, semakin menambah betah para wisatawan.

Dari pagi hingga siang hari, ada sekitar 500 pengunjung dari berbagai wilayah di Bojonegoro. Mereka berasal dari Kecamatan Balen, Sumberejo, Kedungadem dan Boureno. Mereka memadati wisata yang dikelola oleh pokdarwis serta pemuda Desa Ngunut ini.

“Murah meriah ya main di sini bersama keluarga, yang penting anak-anak juga nyaman bermain air yang jernih dan suasana alam terbuka,” tutur Yuni, Minggu (14/4/2024).

Wisata mata air Grogolan Bojonegoro ramai diserbu wisatawan saat libur LebaranWisata mata air Grogolan Bojonegoro ramai diserbu wisatawan Foto: Ainur Rofiq/detikJatim

Untuk liburan kali ini, tiket masuk di lokasi sumber mata air Grogolan Kecamatan Dander hanya dipatok Rp 3 ribu untuk satu orang.

Selain di mata air Grogolan, di kecamatan Dander juga terdapat alternatif wisata alam lainnya. Pengunjung bisa mampir ke sejumlah wisata ini, mulai dari Khayangan Api, kolam renang water park serta air panas blukutuk.

——

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Bendungan Zaman Belanda di Brebes Masih Eksis, Malah Buat Foto-foto



Brebes

Bendungan Malahayu merupakan waduk buatan Belanda yang masih eksis sampai sekarang. Bahkan, jadi destinasi yang asyik buat foto-foto.

Bendungan ini berada di Desa Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Brebes, Jawa Tengah. Keindahan alam di bendungan ini menjadi salah satu alasan turis berdatangan.

Bendungan Malahayu tidak saja hanya berfungsi untuk menampung air dan mengairi sawah. Bendungan ini juga menjadi destinasi wisata dengan keindahan alamnya yang asri.


Bendungan peninggalan Belanda ini sudah lama dikembangkan sebagai tempat wisata yang menawarkan keindahan alamnya. Untuk bisa masuk ke lokasi ini cukup membayar tiket Rp 7.000 atau Rp 10.000 pada saat hari libur.

Dengan harga tiket yang murah, pengunjung tidak saja bisa menikmati keindahan alam bendungan. Wisatawan juga bisa berkeliling Bendungan Malahayu dengan perahu yang bisa disewa.

Waduk Malahayu.Bendungan Malahayu Foto: Imam Suripto/detikJateng

Mengunjungi destinasi wisata ini, pengunjung akan disambut semilir angin yang mengajak mata berpetualang
menikmati keindahan yang ditawarkan. Tidak heran, wisatawan tidak pernah bosan mengunjungi tempat ini.

Di area bendungan ini pula, ada permainan untuk para wisatawan, seperti kora-kora, bola air, terapi ikan, dan lainnya. Aneka makanan khas juga banyak dijajakan di sepanjang jalan, termasuk suvenir sebagai buah tangan yang dibawa ke tempat perantauan.

Sukis (24), warga Tambun, Bekasi ini mengaku sengaja menyempatkan diri datang untuk bersantai bareng keluarga ke bendungan Malahayu. Ia menyebut, banyak spot bagus untuk ber-swafoto di bendungan itu.

“Pemandangsn bagus, tempat wisatanya lumayan banyak dengan tarif murah. Bisa foto-foto,” kata Sulis saat ditemui, Sabtu (13/4) lalu.

Waduk Malahayu di Brebes, salah satu objek wisata yang ramai pengunjung saat Lebaran 2024. Foto diunggah Sabtu (13/4/2024).Bendungan Malahayu Foto: Imam Suripto/detikJateng

Untuk makin memanjakan pengunjung, tersedia pula semacam gardu pandang. Di samping bisa memandang hamparan luas bendungan beserta pulau pulaunya dari ketinggian, pengunjung juga bisa beristirahat berkumpul dengan keluarga dan teman-teman.

Ketua Pokdarwis Brebes, Rusman Kusyanto mengatakan, Bendungan Malahayu merupakan bangunan bersejarah buatan Belanda. Bendungan ini dibangun pada Desember 1933 dan mulai dioperasikan untuk irigasi pada Mei 1940.

“Sejak tahun 1974, Waduk Malahayu selain untuk irigasi juga dijadikan objek wisata hingga sekarang,” ungkapnya.

Setiap hari raya atau hari libur, menurut Rusman, jumlah pengunjung yang datang menikmati keindahan bendungan akan meningkat.

Pada Lebaran lalu, ia mengklaim ada puluhan ribu wisatawan yang datang ke bendungan tersebut. Tak hanya dari Brebes, pengunjung juga berdatangan dari daerah lain, seperti Kuningan dan Cirebon.

“Lumayan banyak, mungkin sudah mencapai angka puluhan ribu sejak libur Lebaran,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ada yang Panas, Ada yang Dingin



Sibolangit

Ada sebuah keajaiban alam di Sibolangit, Sumatera Utara. Di sana, ada sungai dengan dua rasa air. Ada yang panas, ada juga yang dingin.

Kecamatan Sibolangit di Sumatera Utara terkenal akan wisata alamnya yang menakjubkan. Selain Air Terjun Dua Warna, Sibolangit juga mempunyai Sungai Dua Rasa yang unik.

Bagi traveler yang menyukai kegiatan mandi-mandi sambil menyaksikan pemandangan alam yang indah, Sungai Dua Rasa adalah pilihan yang tepat. Hangat dan dinginnya sungai ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.


Lokasi dan Cara Menuju ke Sungai Dua Rasa

Sungai Dua Rasa terletak di Negeri Gugung, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Untuk mencapai objek wisata ini, traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua, karena jalur menuju sungai ini masih sempit dan sulit dilalui kendaraan roda empat.

Perjalanan menuju sungai ini dapat ditempuh selama 3-4 jam dari Kota Medan. Sebelum bisa benar-benar sampai ke sungainya, traveler perlu trekking selama 15 menit.

Jangan khawatir, pengelola sudah menyediakan jembatan untuk memudahkan pengunjung hingga sampai ke tepi sungai. Di tepi sungai, traveler dapat melihat pepohonan dengan akar yang besar.

Pohon-pohon rindang juga memberikan suasana sejuk di sekitar sungai. Begitu sampai di sungai ini, traveler akan betah dan rasanya tak mau pulang.

Jam Buka dan Harga Tiket Sungai Dua Rasa

Wisata Sungai Dua Rasa buka setiap hari selama 24 jam. Bagi traveler yang ingin berkunjung ke sungai ini dikenakan biaya sebesar Rp 10 ribu. Jika ingin menikmati pemandiannya, dikenakan lagi biaya sebesar Rp 5 ribu.

Daya Tarik Sungai Dua Rasa

Sesuai dengan namanya, sungai ini memiliki dua sensasi rasa yang berbeda, yaitu panas dan dingin. Aliran air panas berasal dari mata air panas Siburak dan air dinginnya berasal dari aliran Sungai Lau Jabi.

Selain keunikan suhunya, sungai ini juga memiliki warna biru tosca yang menarik dipandang mata. Hal ini dikarenakan sungai sudah tercampur belerang dari pegunungan.

Aliran sungai ini juga tidak pernah keruh, karena selalu memiliki bebatuan di setiap alirannya. Di sisi sungai yang panas, bebatuan tampak terlihat putih karena kandungan mineral yang tinggi.

Suhunya yang panas membuat para wisatawan bahkan dapat memasak telur dan mie. Pemandangan di sekitar sungai ini juga turut menjadi perhatian wisatawan. Unik sekali!

——

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Unik! Wisata Kali Odo Gedangan, Sungai yang Mengalir saat Kemarau



Semarang

Kali Odo merupakan salah satu destinasi wisata air yang menawarkan pengalaman unik dan menyegarkan, yang ada di Semarang. Sungai ini mengalirkan air jernih langsung dari mata air alami, memberikan nuansa alami yang khas dan menenangkan.

Letaknya di Desa Gedangan, Kabupaten Semarang, Kali Odo dikenal bukan hanya sebagai tempat wisata. Tetapi juga sebagai bagian penting dari ekosistem dan kehidupan masyarakat setempat.

Keunikan Aliran Air Kali Odo

Mengutip informasi dari situs resmi Desa Gedangan, aliran air di Kali Odo berasal dari sumber mata air bawah tanah. Menariknya, aliran sungai tersebut justru muncul di musim kemarau, sementara saat musim hujan airnya menghilang.


Fenomena itu menjadikan Kali Odo berbeda dari kebanyakan sungai lainnya. Air dari mata air ini tidak hanya dimanfaatkan untuk wisata, tetapi juga menjadi sumber air bersih yang sangat vital bagi warga.

Selain digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, air Kali Odo juga mengairi lahan pertanian dan sawah di beberapa desa, termasuk Gedangan, Sraten, dan Rowosari. Totalnya, lebih dari 50 hektare lahan pertanian bergantung pada aliran air ini.

Nilai Sejarah dan Budaya yang Melekat

Desa Gedangan sendiri merupakan desa wisata yang memiliki dua jenis lahan pertanian, yaitu area perkebunan dan sawah. Di wilayah barat desa, terdapat beberapa sumber mata air lain yang diduga memiliki nilai sejarah tinggi.

Hal itu dibuktikan dengan adanya susunan batu bata kuno yang ditemukan di sekitar sumber tersebut, meski hingga kini belum dilakukan penggalian lebih lanjut untuk menelusuri peninggalan tersebut.

Selain kekayaan alam dan sejarahnya, Kali Odo juga menyimpan nilai budaya yang tinggi. Salah satu tradisi masyarakat yang masih lestari hingga kini adalah ritual sadranan. Dalam tradisi ini, warga berkumpul di sekitar sungai untuk melakukan kegiatan keceh atau mandi bersama di aliran air.

Acara tersebut disertai dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan air yang menghidupi mereka. Setiap kali musim kemarau tiba dan air dari mata air mulai mengalir, masyarakat mengadakan selamatan dengan menyajikan puluhan nasi tumpeng.

Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap alam dan bentuk kebersamaan warga dalam menjaga warisan leluhur.

Lokasi

Kali Odo ini lokasinya berada di Desa Gedangan, Kecamata Tuntang, Kabupaten Semarang.

Harga Tiket Masuk

Untuk tiket masuknya, traveler dikenakan biaya Rp 5 ribu per orang. Dan jika ingin menyewa pelampung dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 5 ribu.

Jam Operasional

Wisata Kali Odo ini dibuka setiap hari mulai dari jam 07.00 sampai 18.00 WIB

(upd/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Tempat Pembuangan Sampah, Kini Wisata Air Favorit di Akhir Pekan



Kalasan

Tempat wisata air ini dulu tidak cantik, malah jadi tempat pembuangan sampah. Namun berkat kerjasama dan usaha semua warga, ia kini berubah jadi tempat wisata.

Inilah Umbul Sidomulyo Kalasan. Berada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tempat ini adalah sebuah umbul atau kolam pemandian dari mata air asli.

Sumber mata air mulai memancar pada awal tahun 2000. Namun, air itu terbuang langsung ke sungai dan belum dimanfaatkan oleh warga.


Buat warga, tempat ini dulu hanyalah tempat pembuangan sampah. Pemandian ini dulunya digunakan menjadi tempat pembuangan sampah oleh masyarakat sekitar.

Sampai akhirnya pada tahun 2019 silam, warga kampung setempat saling bekerja sama untuk membangun tempat wisata ini.

Ibu Karti (63) salah satu keluarga pedagang warung pertama di Umbul Sidomulyo mengatakan bahwa wisata air ini diurus oleh RT 8/RW 17 Desa Brintikan Sidomulyo.

“Dulu urunan, seorang tiga ratus ribu,” ucapnya.

Umbul Sidomulyo KalasanUmbul Sidomulyo Kalasan Foto: Mellisa Bonauli/detikTravel

Bu Karti berkata bahwa pemandian ini sangat ramai di akhir pekan, apalagi saat musim lebaran, di mana orang-orang pulang kampung. Pengunjung ramai jajan di warungnya.

“Biasanya mulai datang pengunjung pagi dari jam 7, tapi baru jajan jam 10 siang biasanya,” ungkapnya.

Akhir pekan ini, Umbul Sidomulyo cukup ramai, namun pengunjung masih leluasa untuk berenang. Pernah ada satu beberapa momen, pemandian yang memiliki 5 kolam ini penuh sampai pengunjung tidak mampu bergerak di dalam air.

“Ini masih enak, dulu pernah di kolam enggak bisa bergerak sama sekali,” ucap Irma, salah seorang pengunjung.

Umbul Sidomulyo KalasanUmbul Sidomulyo Kalasan Foto: Mellisa Bonauli/detikTravel

Air kolam pemandian mengalir langsung ke kolam renang. Bahkan bisa diminum secara langsung!

Zoey (8), sering datang ke sini bersama adiknya, Key (3). Ia sangat suka bermain di sini.

“Aku suka ke sini karena airnya dingin,” ucapnya.

Bocah asal Klaten ini sudah ada di pemandian sejak pukul 11.00 WIB. Ia tak mau keluar dari kolam dan terus berenang sampai pukul 14.00 WIB.

Umbul Sidomulyo mulai beroperasi pukul 06.00-16.40 WIB. Pemandian ini ditutup setiap Selasa dan Jumat untuk pengurasan air kolam.

Tiket masuknya sebesar Rp 5.000 pada hari biasa dan Rp 8.000 pada akhir pekan. Untuk warga desa setempat yang kontribusi bisa membayar seikhlasnya.

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com