Tag Archives: wisata ciamis

Situs di Ciamis Ini Sakral, Banyak yang Datang untuk Ziarah- Minta Naik Jabatan



Ciamis

kabupaten Ciamis punya banyak gelar ternyata. Selain dipanggil dengan nama Kota Galendo, Kabupaten Ciamis juga dijuluki sebagai Kota Seribu Situs. Alasannya, tercatat ada 1.200 situs dalam inventarisir Disbudpora Ciamis. Banyak banget, ya?

Salah satunya adalah Situs Dalem Dungkut Ranggayunan di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis. Di dalam situs terdapat makam Dalem Dungkut yang merupakan utusan pertama dari Kesultanan Cirebon ke wilayah Galuh Kawali untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam Dungkut tercatat sebagai pemimpin Galuh Kawali. Pada masa itu Kerajaan Galuh pindah ke Bogor yang menjadi Kerajaan Padjajaran. Konon, Kerajaan Galuh Kawali kemudian diteruskan oleh Prabu Jayadiningrat.


Putri dari Prabu Jayadiningrat kemudian dinikahkan dengan Dalem Dungkut. Setelah masa kepemimpinan Prabu Jayadiningrat berakhir, kemudian Dalem Dungkut pun memimpin Galuh Kawali. Ketika wafat, Dalem Dungkut pun dimakamkan di situs saat ini di pinggir Sungai Cimuntur.

Situs Dalem Dungkut Ranggayunan di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis.Situs Dalem Dungkut Ranggayunan di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Sebagian masyarakat menganggap Situs Dalem Dungkut Ranggayunan termasuk tempat sakral. Bahkan konon tempat tersebut memiliki aura magis hingga mitos di dalamnya. Situs tersebut juga kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

Pegiat Budaya Kawali Atus Gusmara yang juga warga Winduraja membenarkan hal tersebut. Hingga saat ini Situs Dalem Dungkut Ranggayunan kerap dikunjungi peziarah. Mulai dari wilayah Jawa Barat, hingga luar pulau seperti Sumatera hingga Kalimantan.

“Sejak dulu sampai sekarang masih sering didatangi oleh peziarah,” ujar Atus Gusmara, Rabu (29/11/2023).

Atus menyebut kebanyakan peziarah yang datang ke sini untuk meminta kenaikan pangkat atau jabatan. Namun menurutnya, bukan berarti permintaan itu ditujukan ke keramat melainkan hanya tempat saja. Meminta tetap kepada sang pencipta dengan tawasul.

“Konon untuk kepangkatan. Datang dari mana-mana. Dulu beberapa tahun lalu Bupati Ciamis sebelumnya juga sering ke sini. Intinya menghormati karuhun (orang terdahulu), ini hanya syareat saja,” ungkapnya.

Atus menjelaskan tidak ada malam khusus atau ritual khusus ketika berziarah ke Situs Dalem Dungkut Ranggayunan. Warga yang datang biasa bertawasul di lokasi makam setelah itu pulang.

Di lokasi situs juga terdapat sebuah batu yang menyerupai seperti kursi. Warga menyebutnya batu korsi yang konon menjadi tempat penunggu situs keramat tersebut, dulu pernah dipakai untuk menyimpan sesaji. Ada juga warga yang pernah melihat yang menduduki batu itu adalah sosok harimau.

“Di sini juga tidak boleh mengambil ranting pohon atau yang ada di dalamnya apalagi untuk kayu bakar. Mitosnya yang tidak percaya bakal mendapat malapetaka sakit sampai meninggal,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di detikJabar

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Isinya 8 Rumah Saja, Tidak Lebih



Ciamis

Di Ciamis, ada sebuah kampung terpencil yang unik. Isi kampung itu hanya 8 rumah saja, tidak lebih. Kenapa?

Kampung Rumah 8, begitu warga mengenalnya. Kampung unik itu berada di desa Bunter, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis.

Lokasi kampung ini sangat terpencil, tepatnya di tengah hutan. Meski akses jalannya sangat sulit, warga Kampung Rumah 8 sudah berada puluhan tahun dan tidak mau pindah.


Sejarah Kampung Rumah 8

Ketua RT setempat, Eli Yuliana menjelaskan, Kampung Rumah 8 ini awalnya bernama blok Cidahu, Dusun Cibangban. Kampung ini hanyalah kampung biasa, bukan kampung budaya seperti Kampung Kuta atau Kampung Naga.

Warga yang tinggal saat ini, merupakan pewaris dari orang tuanya sejak puluhan tahun lalu. Ceritanya, orang tua zaman dulu membuat rumah yang lokasinya dekat dengan ladang, sawah dan perkebunan supaya lebih mudah menggarapnya.

Mereka pun memutuskan untuk membuat sebuah perkampungan. Awalnya rumah itu pisah-pisah, tapi pada akhirnya memutuskan membuat komplek perkampungan yang isinya ada 8 rumah.

“Memang sejak dulu tidak bertambah. Menurut cerita ada sejak masa kolonial. Sebetulnya mau ditambah juga tidak apa-apa, tapi tetap bertahan jumlahnya sampai sekarang,” jelasnya.

Naik Daun di Kalangan Offroader

Seiring berjalannya waktu, kampung ini banyak dikunjungi offroader dari berbagai daerah. Rupanya, di wilayah desa Bunter, terdapat track off-road di kawasan hutan jati yang jadi tujuan para offroader, baik lokal maupun luar daerah.

Lokasi Kampung Rumah 8 ini ternyata berada di tengah jalur off-road tersebut. Sehingga para offroader kerap memilih kampung itu menjadi rest area. Mereka beristirahat, makan, salat dan menjalani aktivitas lainnya di kampung tersebut.

Nama Kampung Rumah 8 itu juga dicetuskan oleh offroader yang kerap singgah di kampung tersebut sekitar 5 tahun yang lalu.

“Jadi kampung ini sering disinggahi oleh para offroader, rest areanya, makan siang di sini. Di Desa Bunter kan ada rute off road. Kemudian offroader itu memberi nama Kampung Rumah 8. Sehingga di kalangan offroader nama kampung ini sudah cukup terkenal. Mereka juga membantu untuk membuat musala,” ujar Eli.

Saat ini, ada 9 kepala keluarga dengan 28 jiwa yang menghuni Kampung Rumah 8 itu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ada sebuah warung yang menyediakan dagangan yang cukup komplet, terutama sembako.

“Warga di sini hampir semuanya petani, beternak atau perikanan. Penghuninya ada yang usianya sudah 90 tahun paling tua. Warga yang merantau ada, tapi anak-anaknya seperti ke Jakarta dan Bekasi,” ucapnya.

Eli menyebut meski jauh dari perkampungan lainnya dan terpencil, tapi warga di Kampung Rumah 8 tidak ada yang mau pindah. Mereka sudah merasa nyaman dan tidak ingin jauh dengan lahan yang sudah menjadi penghidupan mereka selama ini.

Cara Menuju ke Kampung Rumah 8

Setelah sampai kawasan hutan jati di desa Bunter, perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor dengan ban khusus seperti motor trail.

Selain melewati hutan, akses jalannya masih tanah dan bebatuan. Ditambah lagi dengan jalannya yang kecil dan juga terjal naik turun, membuat perjalanan menjadi lebih menantang. Perjalanan menggunakan motor tersebut membutuhkan waktu sekitar 15 menit.

Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis.Kampung Rumah 8 di Kabupaten Ciamis. Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Sesampainya di Kampung Rumah 8, ternyata memang benar, cuma ada 8 rumah dalam satu kompleks di kampung itu. Ditambah ada sebuah musala kecil yang baru beberapa waktu lalu dibangun.

Kondisi rumahnya tidak jauh berbeda seperti rumah pada umumnya. Ada yang terbuat dari tembok, ada juga yang semi permanen terbuka dari kayu. Suasana kampung tersebut sangat nyaman dan adem, jauh dari hiruk pikuk atau pun suara kendaraan.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Negeri di Atas Awan Ciamis yang Menakjubkan



Ciamis

Bukan fiksi, negeri di atas awan beneran ada di Ciamis. Tak percaya? Coba saja mampir ke wisata Puncak Bangku yang pemandangannya menakjubkan.

Fenomena negeri di atas awan merupakan hamparan awan atau embun yang menyelimuti sebuah wilayah yang bisa dilihat dari atas ketinggian. Di Ciamis, ada satu destinasi wisata yang memiliki fenomena itu. Namanya Puncak Bangku.

Kapan Bisa Melihat Negeri di Atas Awan Ciamis?

Fenomena negeri di atas awan di Puncak Bangku Ciamis hanya dapat dilihat pada pagi hari, antara pukul 06.00 sampai 08.00 WIB.


Untuk itu, bagi yang lokasinya berada di perkotaan Ciamis, pengunjung harus berangkat sangat pagi sekitar pukul 05.00 WIB menuju ke Puncak Bangku.

Itu pun kalau beruntung dapat melihat pemandangan fenomena hamparan awan di atas ketinggian. Ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dapat menyaksikan fenomena tersebut.

Selain harus pagi, harus diperhatikan kondisi cuaca juga. Fenomena itu muncul ketika pada sore hari sebelumnya ada hujan cukup lebat. Kemudian ada kondisi angin yang berhembus.

Kalau hembusan anginnya stabil, maka fenomena itu dapat terlihat. Tapi kalau anginnya kencang, maka pengunjung hanya akan melihat embun yang sangat tebal.

Sebelum berkunjung ke Puncak Bangku, alangkah baiknya mengontak pengelola yang tercantum pada media sosial. Atau kalau ada keluarga dan teman di sekitar lokasi yang bisa memastikannya.

Cara Menuju ke Wisata Puncak Bangku

Wisata Puncak Bangku Ciamis ini berada di Desa Situmandala, Kecamatan Rancah, Ciamis. Jaraknya sekitar 26 kilometer dari pusat perkotaan Ciamis, atau dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, baik itu motor atau mobil.

Dari Alun-alun Ciamis ambil ke arah Kawali. Nanti sebelum SPBU Baregbeg, belok kanan menuju Kecamatan Rancah. Di pertigaan Rancah, dekat Polsek Rancah, ambil jalur lurus menuju Kadupandak. Nanti di pinggir jalan, ada petunjuk jalan menuju Puncak Bangku.

Meski berada di ketinggian, Puncak Bangku ini dapat diakses langsung menggunakan kendaraan, karena berada di pinggir jalan desa.

Tidak ada tiket untuk memasuki kawasan tersebut. Pengunjung hanya membayar parkir Rp 2 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil.

Fasilitas yang tersedia di sini seperti tempat parkiran luas, mushala, toilet, tempat duduk, saung-saung, spot selfie dan sejumlah warung yang menyajikan aneka kuliner.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Desa Jawa Barat Ini Bangun Patung Gatotkaca, Ini Cerita di Baliknya



Jakarta

Salah satu desa di Jawa Barat membangun patung tokoh wayang Gatotkaca. Apa cerita di baliknya?

Desa Cisontrol, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memiliki keunikan tersendiri. Di mana ikon desa itu memilih tokoh wayang yakni Gatotkaca sebagai ikon daerahnya.

Patung Gatotkaca berukuran cukup besar pun berdiri kokoh di tengah-tengah persimpangan jalan raya antara Cisontrol ke arah Tambaksari dan Rancah. Lokasinya sekitar 10 meter dari Kantor Desa Cisontrol.


Banyak pengendara yang melintas penasaran dengan keberadaan patung Gatotkaca itu. Selain bentuknya yang unik dan menarik, warga juga penasaran kenapa ada patung wayang Gatotkaca tersebut.

Ada beberapa pertanyaan yang terlontar, apakah di wilayah ini ada cerita urban tentang tokoh pewayangan? Atau Desa Cisontrol menjadi sentra pembuatan wayang? Dan sejumlah pertanyaan lainnya.

Kepala Desa Cisontrol Yoyo Waryo pun menjelaskan keberadaan patung Gatotkaca yang sudah menjadi ikon desa itu. Patung Gatotkaca dibangun di tahun 1998 atau di akhir masa orde baru.

Pada waktu itu, sedang diadakan lomba desa untuk menampilkan keunggulan setiap masing-masing desa. Desa Cisontrol meski berada di wilayah yang jauh dari perkotaan Ciamis pun ingin menunjukkan keunggulannya.

Namun pada saat itu Cisontrol belum memiliki ikon yang dapat dikenal luas. Akhirnya setelah melakukan musyawarah akhirnya tercetus untuk membuat ikon patung wayang Gatotkaca.

Selain Cepot dan Dawala, salah satu tokoh pewayangan yang paling populer adalah Gatotkaca. Namun dari filosofinya, Gatotkaca memiliki karakter yang kuat dan tak tertandingi. Sedangkan Cepot dan Dawala digambarkan sebagai sosok yang humor.

Baca artikel selengkapnya di detikJabar

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Wajah Baru Alun-alun Ciamis yang Cantik dan Estetik



Ciamis

Alun-alun Ciamis kini punya wajah baru yang cantik dan estetik. Traveler bisa puas foto-foto Instagramable di sini!

Beberapa hari terakhir ini, Kawasan Alun-alun Ciamis kembali menjadi viral di media sosial dan menjadi perbincangan. Salah satu daya tarik terbaru adalah jembatan penyeberangan sebagai penghubung Alun-alun dengan area food court yang baru selesai dibangun di awal tahun 2025.

Area food court yang dilengkapi dengan jembatan penyeberangan yang menghubungkan dengan area taman itu begitu kesan estetik. Pada malam hari jembatan itu dilengkapi lampu LED warna kuning yang menambah kesyahduan.


Meski belum dibuka, namun para pengunjung Alun-alun Ciamis tertarik dengan jembatan penyeberangan tersebut. Pada malam hari, lokasi tersebut menjadi sangat bagus dan menjadi daya tarik warga untuk berfoto ria.

Ditambah lagi dengan megahnya area food court yang dibangun dari APBD Provinsi Jabar senilai Rp 34,5 miliar. Area food court tersebut dikhususkan untuk para PKL Alun-alun Ciamis sebanyak 102 kios.

Dilengkapi dengan area parkir motor di lantai dua dengan kapasitas 309 unit dan di lantai bawah untuk area parkir 45 mobil.

Kini hampir setiap malam Alun-alun Ciamis ramai didatangi warga. Padahal biasanya, Alun-alun Ciamis ramai dikunjungi hanya pada akhir pekan Sabtu-Minggu atau hari libur saja.

Mereka asyik berfoto ria di kawasan jembatan penyebrangan itu untuk diunggah di media sosial masing-masing. Jembatan tersebut menambah nilai estetika kawasan Alun-alun Ciamis.

Wajah baru alun-alun CiamisWajah baru alun-alun Ciamis Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar

Lampu LED yang dipasang di sepanjang jembatan memberikan efek cahaya yang indah menciptakan suasana yang syahdu dan romantis. Tak heran, jembatan itu kini menjadi spot favorit baru pada pengunjung Alun-alun Ciamis.

Namun sayangnya, kawasan food court Alun-alun Ciamis belum dibuka. Akses jembatan hanya sampai tengah, sedangkan pintu masuk ke area food court masih ditutup pagar. Belum diketahui pasti kapan area food court itu dibuka.

“Menurut saya, Alun-alun Ciamis jadi lebih keren. Terutama di bagian jembatan ini sangat estetik, saya tertarik ke sini karena memang lagi viral. Biasanya jarang ke Alun-alun, kecuali kalau ada acara,” ujar Ikah, salah seorang pengunjung, Selasa (4/2/2025).

Pengunjung lainnya, Safira mengaku bangga sebagai warga Ciamis memiliki Alun-alun yang sangat bagus dibanding dengan daerah lainnya. Bukan hanya spot baru jembatan penyeberangan, ada beberapa fasilitas lainnya yakni untuk fitnes dan juga arena bermain anak.

“Kayaknya Alun-alun Ciamis yang paling bagus dari daerah tetangga, tentunya bangga. Fasilitasnya juga cukup lengkap. Cuma kalau bisa ini area food court segera dibuka, sebentar lagi mau bulan puasa bisa untuk buka bersama,” jelasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com