Tag Archives: wisata dieng

Rute ke Dieng dari Jakarta Naik Kereta Api Beserta Waktu Tempuhnya


Dieng terletak di Jawa Tengah, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Bagi para traveler yang ingin pergi ke Dataran Tinggi Dieng, perjalanan dari Jakarta bisa menjadi pengalaman seru tersendiri.

Apalagi kalau perjalanannya ditempuh dengan kereta api. Kamu mungkin akan menikmati perjalanan yang santai sambil melewati berbagai pemandangan indah di sepanjang jalur rel. Ketahui rutenya dalam artikel ini.

Rute ke Dieng dari Jakarta Naik Kereta 2024

Kalau dari Jakarta ke Dieng lebih dekat Stasiun Purwokerto. Traveler bisa mengawali perjalanan dari Jakarta di Stasiun Gambir atau Stasiun Pasar Senen.


Umumnya, perjalanan dari Jakarta ke Wonosobo naik kereta ditempuh sekitar 4 jam lebih.
DIlihat detikTravel dari laman resmi PT Kereta Api Indonesia (KAI) (27/08/2024), berikut adalah daftar stasiun asal beserta stasiun tujuan dalam rute dari Jakarta ke Dieng dari stasiun tujuan terdekatnya.

1. Keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen (Jakarta) ke Stasiun Purwokerto

  • Kereta Api Fajar Utama Solo – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Bengawan – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Fajar Utama Yk – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Sawunggalih – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Gajahwong – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Kutojaya Utara – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Serayu – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Jaka Tingkir – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Bangunkarta – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Jayakarta – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Senja Utama Yk – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Singasari – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Bogowonto – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Mataram – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Progo- Stasiun Purwokerto

Perjalanan dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Purwokerto ditempuh sekitar 4 jam 36 menitan. Biasanya, keberangkatan dari Stasiun Pasar adalah kereta-kereta kelas ekonomi, sehingga harganya lebih terjangkau.

Harga tiket kereta keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Purwokerto berkisar mulai dari Rp 100 ribuan hingga Rp 600 ribuan.

2. Keberangkatan dari Stasiun Gambir (Jakarta) ke Stasiun Purwokerto

  • Kereta Api Argo Semeru – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Argo Dwipangga – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Taksaka – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Bima Compartment – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Bima – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Gajayana Luxury – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Gajayana – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Argo Lawu – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Argo Lawu Luxury – Stasiun Purwokerto
  • Kereta Api Purwojaya – Stasiun Purwokerto

Perjalanan dari Stasiun Gambir ke Stasiun Purwokerto ditempuh sekitar 4 jam 23 menitan. Biasanya, keberangkatan dari Stasiun Gambir adalah kereta-kereta kelas luxury yang harganya cenderung lebih tinggi dari kereta yang dari Stasiun Pasar Senen.

Harga tiket kereta keberangkatan dari Stasiun Gambir ke Stasiun Purwokerto berkisar mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 1,5 jutaan.

Seorang warga lokal Desa Gembol yang berjarak sekitar 3 km dari Dieng, Wiwig Prayugi, membagikan pengalaman perjalanannya dari Jakarta ke Dieng.

Wiwig sendiri sering bolak balik Dieng-Jakarta setiap bulannya. Berdasarkan pengalamannya, ia lebih suka naik kereta dari Jakarta keberangkatan pada malam hari.

“Paling enak kalau KA dari Jakarta malam. Biasanya yang paling murah dari Gambir KA Purwojaya jam 21.00 sampai Purwokerto jam setengah 2 (dini hari),” kata Wiwig saat dihubungi detikcom pada (29/08/2024).

Selain Stasiun Purwokerto, sejatinya traveler juga bisa memilih untuk berhenti di Yogyakarta atau Semarang. Namun, pilihan kereta di Purwokerto lebih banyak dan lebih cepat.

“Enaknya dari Purwokerto, pilihan kereta banyak. Yang ke arah Solo dan Yogya lewat, ada juga yang lewat Cilacap. Kalau menurut saya, jamnya enak sih. Dari Jakarta misal Gambir banyak pilihan dari keberangkatan pagi dan malam. Sebenarnya, lewat Semarang juga pilihannya banyak. Tapi, dari Semarang ke Wonosobo lebih lama,” jelasnya.

Ada juga alternatif lain, yakni melewati Pekalongan. Namun, rute ini tidak disarankan oleh Wiwig karena di sana cukup sulit mencari transportasi umum.

“Tidak disarankan untuk yang mengandalkan transportasi umum karena susah banget. Kecuali sudah kenal orang lokal atau pesan trip minta dijemput di Pekalongan juga lebih dekat. Tapi, harus dipastikan yang menjemput paham jalan tembusan Pekalongan-Batang-Dieng, soalnya banyak berkelok-kelok curam dan sering ada kecelakaan,” ungkapnya.

Perjalanan dari Purwokerto ke Dieng

Dari Stasiun Purwokerto, traveler bisa melanjutkan perjalanan menaiki bus atau travel untuk menuju Wonosobo terlebih dahulu.

“Dari stasiun ke terminal PWT bisa naik ojol (ojek online) aja biar cepet. Bus ada yang Patas AC Nusantara jurusan PWT-SEMARANG dengan biaya Rp 80-90 ribu. Yang ekonomi sekitar Rp 50 ribuan. Untuk bus ekonomi lama banget ngetem-ngetem gitu,” kata Wiwig.

Bus Patas hanya ada 2 kali sehari. Sementara, waktu tempuh naik bus dari Purwokerto ke Wonosobo kurang lebih 3 jam.

Setelah sampai terminal Wonosobo, traveler perlu melanjutkan perjalanan lagi untuk sampai Dieng. Kita bisa naik microbus atau dengan transportasi online untuk menuju ke sana.

“Dari Wonosobo ada microbus ke Dieng bayarnya Rp 20 ribu, tapi ngetem lama. Sarannya setelah turun dari agen travel atau terminal, lebih baik nyetop bus di daerah Kalianget, luar kota Wonosobo, micro busnya udah jalan itu nggak ngetem-ngetem lagi. Kalau mau cepat dan rombongan, bisa naik grab/gocar sekitar Rp 270 ribuan,” katanya.

Wiwig merekomendasikan untuk menggunakan jasa agen travel daripada bus. Karena jam keberangkatannya lebih banyak dan bisa langsung dijemput di Stasiun Purwokerto.

“Travel yang paling recommended langganan tiap saya mudik, biaya Rp 110 ribu itu udah dijemput di stasiun dan tiap 2 jam ada. Ada travel yang berangkat jam 3.30 jadi bisa sampai Dieng lebih pagi, pas nanjak kebagian sunrise,” ujar Wiwig.

“Agen travel perlu booking by WhatsApp gitu. Ada juga Joglosemar dan agen travel yang bisa dibook di app tiket,” pungkasnya.

Wisata Dieng

Dieng adalah sebuah dataran tinggi di Jawa Tengah, yang terkenal sering jadi tujuan destinasi wisata. Dataran Tinggi Dieng menawarkan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah.

Bahkan, sering disebut sebagai “Negeri di Atas Awan”. Kawasan Dieng terkenal dengan berbagai destinasi wisata seperti telaga, kawah, hingga andi-candi peninggalan Hindu kuno.

(khq/fds)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Misteri Telaga Warna dan Mitos Dieng yang Masih Dipercaya


Jakarta

Telaga Warna dan Dieng menyimpan misteri yang masih banyak dipercaya masyarakat. Inilah misteri Telaga Warna dan mitos-mitos yang ada di Dieng.

Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng adalah salah satu tempat wisata menarik di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dinamakan demikian karena warna telaga ini bisa berubah ubah, dari warna hijau, kuning, hingga pelangi.

Di balik keindahannya, ada misteri Telaga Warna dan mitos-mitos tentang Dieng yang masih banyak dipercaya oleh sejumlah masyarakat. Hal ini termasuk asal-usul, tempat keramat, hingga tradisi adat yang masih dijalankan.


Misteri Telaga Warna dan Asal-usulnya

Ada sejumlah versi cerita rakyat mengenai asal-usul Telaga Warna ini. Sebagian masyarakat mempercayainya dan sebagian menganggapnya sebagai dongeng belaka.

Berikut ini beberapa cerita mengenai misteri Telaga Warna dan penjelasan ilmiahnya:

1. Pakaian Ratu dan Putri

Perubahan warna pada Telaga Warna diyakini berasal dari pakaian ratu dan putri.

Suatu hari, seorang putri dan ratu mandi di sebuah telaga. Setelah melepas dan menggantung pakaiannya di pohon, tiba-tiba angin kencang menerbangkan pakaian mereka ke telaga.

Kemudian warna air telaga berubah sesuai dengan warna pakaian yang dikenakan sang ratu dan putri.

2. Cincin Bangsawan

Legenda lain mengisahkan sebuah cincin bangsawan yang menyebabkan air Telaga Warna berubah warnanya.

Suatu hari, cincin bangsawan tersebut jatuh ke dalam telaga. Konon, cincin tersebut sangat sakti sehingga bisa membuat warna air telaga berubah-ubah.

3. Kalung Putri Raja

Ada juga kisah tentang kalung putri raja yang membuat warna telaga berubah-ubah. Kisah ini sering dipentaskan dalam drama Telaga Warna.

Kisahnya tentang Putri Gilang Rukmini yang diberikan hadiah kalung untuk ulang tahunnya yang ke-17. Akan tetapi sang putri menolak dan membuang kalungnya.

Tingkah laku Putri Gilang Rukmini ini membuat permaisuri dan rakyat menangis. Bersamaan dengan peristiwa ini, tiba tiba muncul mata air yang tiada henti hingga menenggelamkan kerajaan. Warna di telaga ini pun berubah-ubah karena pantulan dari permata kalung sang putri.

4. Cupumanik Astagina

Masyarakat juga ada yang mengaitkan Telaga Warna dengan kisah Karmapala tentang Cupumanik Astagina, pusaka milik Batara Surya yang diberikan kepada Dewi Indradi. Namun, Dewi Indradi menunggu pujaan hatinya, Resi Gotama, yang sedang berperang memperebutkan dirinya.

Kemudian Batara Surya menyamar menjadi Resi Gotama dan memadu kasih dengan Dewi Indradi. Setelah menunjukkan wujud aslinya, Batara Surya memberikan cupumanik itu kepada Dewi Indradi.

Cupumanik itu disimpan oleh Dewi Indradi. Dewi Indradi lalu menikah dengan Resi Gotama dan melahirkan tiga orang anak, yaitu Dewi Anjani, Subali, dan Sugriwa. Namun keberadaan cupumanik itu diketahui Resi Gotama dan akhirnya dibuang.

Cupumanik itu jatuh terpisah di dua telaga, yaitu telaga Sumala dan Telaga Nirmala. Perubahan warna di Telaga Warna diyakini karena tumpahan dari isi pusaka tersebut.

5. Penjelasan Ilmiah

Secara ilmiah, perubahan warna telaga tersebut terjadi karena kandungan sulfur atau belerang yang cukup banyak di dalam telaga. Saat sinar matahari mengenai telaga, maka warna permukaan air akan tampak berwarna warni.

Mitos-mitos dan Misteri Dieng

Berikut ini sejumlah mitos dan misteri terkait Dataran Tinggi Dieng:

1. Gunung Kosmik

Dikutip dari buku Dieng: Data Geografis dan Wacana Umum (2021) oleh Otto Sukatno, Dieng diyakini sebagai gunung kosmik atau gunung primordial di masa purba. Tinggi gunung ini tidak terkira besarnya.

Akibat proses geologis dan vulkanologis, gunung itu terpenggal. Sisa-sisa penggalan itu membentuk Dataran Tinggi Dieng. Dataran tinggi ini sangat luas hingga muncul banyak puncak bukit dan puncak gunung di sekeliling Dieng.

2. Makhluk Penjaga Hutan Telaga Warna

Di sekitar Telaga Warna terdapat hutan yang masih dianggap keramat. Dikutip dari buku Bawana Winasis Dieng: Budaya Tak Terkatakan (2021) terbitan Kemdikbud, ada makhluk penjaga hutan bernama Kebondaru berbentuk kerbau dengan telinga yang menjalar ke bawah dengan badan dan tanduk yang besar.

Hutan ini merepresentasikan jagad alam tempat sumber air, makanan, dan sumber penghidupan lainnya. Kepercayaan ini membuat warga tetap melestarikan dan menjaga hutan dari perusakan oleh manusia.

3. Candi Tertua di Jawa

Berdasarkan situs indonesia.go.id, Dieng juga menyisakan misteri adanya candi yang diyakini sebagai candi tertua di Jawa, sedikit lebih tua dari Kompleks Candi Gedong Songo di Gunung Ungaran dan lebih tua dari Borobudur.

Tidak banyak prasasti yang ditemukan di sini. Satu-satunya prasasti adalah yang ditemukan di dekat Candi Arjuna. Disebutkan bangunan candi ini dibuat tahun 808-809 M. Namun, siapa yang membangun candi ini masih belum terungkap.

Awalnya diperkirakan ada puluhan bahkan mungkin mencapai 100 candi. Karena banyak peristiwa alam, candi yang ditemukan hanya tersisa 8 buah ketika ditemukan pada awal 1800-an. Pemerintah Hindia Belanda lalu merekonstruksi bangunan tersebut.

4. Banyak Gua Keramat

Ada banyak gua keramat di kawasan Dieng, seperti Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur, dan Gua Penganten yang berada di dekat Telaga Warna.

Gua Semar dipercaya sebagai tempat paling keramat. Konon, tempat ini digunakan raja-raja Jawa terdahulu untuk bersemedi dan mendapatkan wahyu.

Ada juga Gua Jaran yang konon dijaga oleh seorang resi bernama Kendali Seto (penunggang kuda putih). Gua ini sering jadi tempat tujuan ziarah pasangan yang kesulitan memiliki keturunan.

Gua Pengantin juga dipercayai masyarakat sebagai tempat keramat bagi pasangan yang ingin menikah.

5. Sumber Mata Air Suci

Banyak pula sumber mata air di Dieng yang dianggap keramat dan suci oleh masyarakat. Sumber mata air ini berwujud tuk, sendang, sungai, sumur, atau telaga.

Salah satunya adalah Tuk Bimo Lukar yang merupakan tempat penyucian diri yang telah ada sejak dibangunnya candi-candi di Dieng. Tuk Bimo Lukar ditemukan setelah dilakukan babad alas Dieng.

Tumenggung Kolodete saat itu membuka kembali dan bertapa di sana. Dari pertapaan itu, ia menemukan tujuh tuk lainnya.

Tuk Bimo Lukar juga menjadi tempat penyelenggaraan acara paling besar, yaitu ruwat desa atau bersih-bersih desa. Biasanya warga Dieng yang berada di luar daerah atau merantau ikut pulang kampung untuk merayakannya.

6. Ruwatan Rambut Gimbal

Di Dieng terdapat ritual yang wajib dilakukan yaitu ruwat rambut gembel. Tradisi ini adalah mencukur rambut anak berambut gembel yang dilakukan setahun sekali. Dalam ritual ini, orang tua harus memberikan hadiah sesuai permintaan anak.

Pencukuran rambut gembel dulunya dilakukan berkeliling desa. Tapi kini pencukuran rambut dilakukan di pelataran Candi Arjuna bersamaan dengan acara Dieng Culture Festival.

Anak rambut gembel diyakini sebagai simbol keberkahan yang tak ternilai harganya. Munculnya anak rambut gembel bermula dari adanya anak yang demam tinggi hingga berhari-hari. Kemudian rambut si anak gimbal dengan sendirinya.

Setelah si anak sembuh, orang tuanya membiarkan rambut anak tersebut panjang sampai si anak meminta sendiri agar rambutnya dicukur.

Nah detikers, itulah tadi aneka misteri Telaga Warna dan mitos-mitos Dieng yang masih dipercaya hingga sekarang oleh sebagian orang.

(bai/inf)



Sumber : travel.detik.com

5 Fakta Gunung Api Dieng, Punya Banyak Kawah dengan Kaldera Raksasa



Jakarta

Dieng, yang berada di ketinggian sekitar 2.000 mdpl, dijuluki negeri di atas awan. Pernah ada tragedi hingga mayat bergelimangan.

View menawan membuat Dieng yang berada di Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah diburu wisatawan. Tanahnya juga subur menjadi sumber penghidupan warga lokal.

Tetapi, di balik keindahan tersebut ada bahaya mematikan. Di sana terdapat kompleks gunung api dengan puluhan kawah dan kaldera raksasa. Dieng adalah dataran vulkanik aktif yang sewaktu-waktu mengeluarkan gas beracun.

Di masa lalu, Dieng adalah sebuah kompleks gunung berapi yang terdiri dari Gunung Prau, Gunung Jimat, Bukit Rogo Jembangan, dan Tlerep. Saat ini, gunung-gunung tersebut telah menjadi lembah alam yang melingkupi wilayah Dieng.

Di tengah-tengah kompleks itu terletak kaldera raksasa yang terbentuk berabad-abad yang lalu. Potensi vulkanik yang tetap aktif telah menghasilkan beberapa gunung baru seperti Gunung Bismo-Sidede, Seroja, Nagasari, Pangonan, dan Pager Kandang.

Gunung Api Dieng terletak di KabKota Banjarnegara, Wonosobo, Batang, Jawa Tengah dengan posisi geografis di Latitude -7.2°LU, Longitude 109.92°BT dan memiliki ketinggian 2565 mdpl.

Gunung Api Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah yang memiliki potensi erupsi freatik. Baru-baru ini kembali viral kisah ratusan orang yang tewas di kawasan Dieng akibat menghirup gas beracun karbondioksida.


Beberapa peristiwa dari gunung api Dieng tentu pernah menelan korban jiwa yang tidak sedikit.

Berikut ini adalah 5 fakta gunung api di Dataran Tinggi Dieng.

1. Dapat Julukan Volcano Complex

Dieng berasal dari bahasa Jawa Kawi, yang berarti “tempat atau gunung” (Di) dan “Dewa/Dewi” (Hyang). Artinya secara harfiah, Dieng merupakan “tempat Dewa/Dewi bersemayam”.

Para ahli gunung api menggambarkan Dieng bukan hanya sebagai sebuah gunung api tunggal, melainkan sebagai kompleks gunung api atau “volcano complex”. Itu menunjukkan bahwa di bawah kawasan Dieng terdapat banyak bentukan puncak gunung api akibat banyaknya lokasi magma yang mencapai permukaan.

Dari citra udara, terlihat bahwa dataran tinggi Dieng adalah satu tubuh gunung api besar yang telah hancur karena erupsi, membentuk puncak-puncak gunung api baru di sekitar bekas gunung api yang lama serta di bagian tengah kaldera Dieng.

2. Terdapat 22 Kawah

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan terdapat 22 kawah di kawasan Dieng. Di Kabupaten Banjarnegara, terdapat delapan kawah di Gunung Api Dieng, yakni Kawah Timbang, Kawah Sinila, Kawah Sigludug, Kawah Sileri, Kawah Condrodimuko, Kawah Sikidang, Kawah Sibanteng, dan Kawah Bitingan.

Sementara itu, di Kabupaten Batang terdapat lima kawah, termasuk Kawah Sibanger, Kawah Wanapria, Kawah Wanasida, Kawah Siglagah, dan Kawah Pagerkandang. Di Kabupaten Wonosobo, terdapat empat kawah, yaitu kawah Sikidang, kawah Sikunang, kawah Pulosari, dan kawah Pakuwojo.

Kawah yang paling berpotensi mematikan adalah kawah Timbang. Tiga kawah juga berpotensi mengeluarkan gas beracun, yakni Kawah Timbang, Sinila, dan Sikendang.

3. Sejarah Erupsi Gunung Api Dieng

Gunung Berapi Dieng terletak di dataran tinggi Jawa Tengah dan telah mengalami berbagai aktivitas vulkanik selama beberapa abad. Sebagian besar aktivitasnya terdiri dari letusan freatik dan kegiatan panas bumi seperti fumarol, solfatar, kolam lumpur, dan sumber air panas.

Letusan paling mematikan terjadi pada tahun 1979, ketika emisi karbon dioksida yang disertai dengan letusan freatik menewaskan 149 orang. Pada tahun 1992, emisi gas beracun dari Kawah Sikidang juga mengakibatkan satu orang tewas.

Erupsi lainnya tercatat pada tahun 1944, menyebabkan hujan abu dan lumpur di beberapa desa dengan korban jiwa mencapai puluhan orang. Erupsi freatik juga terjadi pada tahun 1939, menghasilkan retakan lereng dan pancaran lumpur.

Selain itu, terdapat catatan erupsi pada tahun-tahun lainnya, termasuk pada tahun 1943, 1928, 1883 – 1884, 1847, 1826, 1825, 1786, 1776, dan 1375.

4. Ada Monumen Bencana Alam

Gunung Dieng tergolong dalam kategori gunung api tipe A, yang artinya gunung ini memiliki catatan letusan sejak tahun 1600. Meskipun tidak ada catatan sejarah yang detail mengenai hal ini, namun terdapat monumen bencana alam di lokasi tersebut yang mencatat aktivitas letusan gunung tersebut pada abad ke-19.

Catatan bencana paling lama yang terdapat di monumen tersebut adalah pada tahun 1776, yang diambil dari dokumen Belanda kuno, menunjukkan bahwa Gunung Dieng pernah mengalami letusan dahsyat di masa lalu.

5. Masuk Kawasan Rawan Bencana

Dataran Tinggi Dieng terbagi menjadi tiga kawasan rawan bencana. Kawasan Rawan Bencana III merupakan area yang berpotensi menghasilkan gas beracun, hujan lumpur, dan aliran lumpur, termasuk daerah sekitar Kawah Timbang, Telaga Nila, dan Sumur Jalatunda. Karena risiko gas beracun yang bisa keluar kapan saja, penduduk tidak diperbolehkan tinggal di kawasan ini.

Kawasan Rawan Bencana II adalah area yang berpotensi terkena lontaran batu, hujan lumpur, dan aliran lahar. Termasuk di sini adalah lereng barat daya Kawah Timbang, bagian utara Kawah Sinila, dan bagian timur Sumur Jalatunda. Sekitar 10.000 jiwa tinggal di kawasan rawan bencana ini.

Kawasan Rawan Bencana I adalah area yang diperkirakan akan menjadi perluasan dari Kawasan Rawan Bencana II jika terjadi letusan yang cukup besar. Kawasan ini termasuk tiga dusun di Desa Sumberejo dan Kota Kecamatan Batur.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Menyingkap 5 Keunikan Dataran Tinggi Dieng: Negeri Para Dewa



Jakarta

Plato atau dataran tinggi Dieng, yang berada di Jawa Tengah, memiliki pesona alam dan budaya yang luar biasa. Selain itu, kawasan ini juga menyimpan bahaya.

Dieng diapit oleh jajaran perbukitan di sisi utara dan selatan. Perbukitan itu berasal dari aktivitas vulkanik yang sama dan disebut Pegunungan Dieng yang berada di antara kompleks Puncak Rogojembangan di sebelah barat dan pasangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di sisi timur.

Bagi wisatawan, Dieng adalah salah satu destinasi wisata yang wajib masuk wishlist. Lokasinya mudah dijangkau, mempunyai sunrise indah, juga danau yang menawan. Selain itu, makanan di kawasan itu enak.


Berikut 5 fakta tentang dataran tinggi Dieng:

1. Tempatnya pada Dewa Bersemayam

Dieng berasal dari bahasa Jawa Kawi, Di “tempat atau gunung” dan Hyang yang berarti “Dewa/Dewi/leluhur”. Artinya secara harfiah, Dihyang merupakan berarti pegunungan tempat para leluhur atau persemayaman para dewa.

Dalam sebuah prasasti ditemukan bahwa di dataran tinggi Dieng, orang Jawa Kuno telah tinggal dan menggunakan wilayah tersebut sebagai tempat ibadah. Prasasti Gunung Wule yang berasal dari tahun 861 Masehi mencatat instruksi kepada seseorang untuk menjaga bangunan suci di area yang disebut Dihyang.

2. Desa Tertinggi di Pulau Jawa

Dieng diketahui memiliki desa tertinggi di Pulau Jawa. Namanya Desa Sembungan, yang terletak di ketinggian 2306 meter di atas permukaan laut.

Desa Sembungan memiliki jumlah penduduk sekitar 1300 jiwa. Desa ini juga dipercaya sebagai desa induk di kawasan Dieng.

3. Embun Es Dieng

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan fenomena embus es (frost) di Dieng merupakan salah satu aspek cuaca yang istimewa. Sampai-sampai menyita perhatian serius bagi kalangan ilmuwan, praktisi cuaca, dan masyarakat.

“Cuaca dan iklim merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari, dan peristiwa-peristiwa ekstrim seperti embun es (frost) memiliki dampak yang signifikan pada berbagai sektor kehidupan,” kata Ardhasena dalam seminar ilmiah bertajuk ‘Mengenal Fenomena Embun Es Dieng: Kemunculan dan Dampaknya’ beberapa waktu lalu.

Fenomena embun es muncul saat suhu udara sangat dingin dan embun yang terkondensasi membeku. Akibatnya, lapisan es yang muncul akan menutupi tumbuhan dan permukaan tanah.

Fenomena embun es berlangsung pada periode waktu terbatas, terutama saat musim kemarau (Juni – Oktober). Walaupun Indonesia merupakan negara tropis dengan iklim hangat (warm climate), frost dapat terjadi pada wilayah dataran tinggi apabila beberapa kondisi cuaca terpenuhi.

4. Berada di Dua Kabupaten

Banyak yang mengira Dieng tak hanya berada di Kabupaten Wonosobo. Namun, sebenarnya kawasan dataran tinggi Dieng merupakan sebuah daerah yang berada di dua wilayah, yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Bahkan, kebanyakan destinasi wisata berada di Kabupaten Banjarnegara.

5. Anak Bajang

Dieng tak hanya kaya dengan kekayaan alam dan pemandangan alam yang memukau. Namun terdapat satu ritual unik yang sudah terkenal, namanya ruwat rambut gimbal. Sebagai bentuk rangkaian upacara pembebasan seorang dari hukuman atau kutukan.

Anak bajang adalah anak yang memiliki rambut gimbal alami. Dipercaya anak-anak ini adalah keturunan leluhur Dieng, yaitu Kyai Kolodete. Dengan ruwat rambut gimbal, rambut anak bajang akan dipotong dengan berbagai ritualnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jalan Tol Tercantik di Indonesia Itu Dua-duanya Ada di Jawa Tengah



Magelang

Jawa Tengah punya ‘jalan tol’ tercantik di Indonesia. Tidak hanya satu, tapi dua sekaligus. Penasaran seperti apa penampakannya?

Jalan tol atau jalan bebas hambatan biasanya dilewati mobil atau truk untuk menghubungkan antar kota di Indonesia. Namun, ‘jalan tol’ satu ini beda.

Jalanan ini memang bukan jalan tol seperti pada umumnya. ‘Jalan tol’ ini hanyalah jalan setapak beton dengan lebar sekitar 3 meter yang menghubungkan antar desa, namun dengan pemandangan yang sangat memukau.


Karena keindahan pemandangannya, orang-orang menyebutnya Jalan Tol Kahyangan. Ada dua lokasi Jalan Tol Kahyangan di Jawa Tengah. Dua-duanya punya pemandangan yang sangat cantik.

Tol Kahyangan pertama ada di Magelang. Sedangkan yang kedua ada di Wonosobo, lebih tepatnya di Kawasan wisata Dieng.

1. Tol Kahyangan di Magelang

Tol Kahyangan yang pertama terletak di Magelang, salah satu kota yang ada di Jawa Tengah. Lebih tepatnya Tol Kahyangan ini terletak di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Magelang.

Jalannya hanya terbuat dari beton selebar sekitar tiga meter. Berkelok-kelok dan naik turun, dikelilingi oleh ladang sayuran khas dataran tinggi yang hijau dengan latar belakang panorama Gunung Merbabu. Terbayang udara sejuk dan keindahannya bukan?

Pemandangan di lereng Gunung Merbabu wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sangat indah. Selain pemandangan alam, traveler bisa melihat tanaman sayuran yang menghijau.Jalan Tol Kayangan di Kabupaten Magelang Foto: (Eko Susanto/detikcom)

Tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk menikmati destinasi alternatif wisata alam di Jawa Tengah ini. Sebab, jalur tersebut utamanya difungsikan sebagai transportasi bagi warga dari empat dusun di Desa Wonolelo, yaitu Dusun Wonodadi, Pelem, Suradadi, dan Candran.

Untuk menuju lokasi tersebut, arah Kota Magelang silahkan langsung menuju Balai Desa Wonolelo. Sesampainya di Balai Desa Wonolelo, kamu akan menemukan spanduk bertuliskan ‘Pesona Alam Tol Kayangan’. Jaraknya dari balai desa itu hanya sekitar 1,7 kilometer.

Di sana kamu bisa bersepeda santai sembari menikmati keindahan Tol Kahyangan atau sekedar duduk-duduk mencari spot foto yang indah.

2. Tol Kahyangan Dieng

Tol Kahyangan selanjutnya terletak di kawasan wisata Dieng, Wonosobo. Menariknya, Tol Kahyangan yang ada di Dieng benar-benar menghubungkan antar kabupaten yaitu Kabupaten Banjarnegara – Batang, benar-benar seperti jalan tol sesungguhnya.

Tol Kahyangan yang ada di Dieng juga tidak kalah mempesona dengan yang ada di Magelang. Udara dingin Dieng di ketinggian 1700 mdpl serta pemandangan lembah pegunungan yang luas dan hijau memberikan pengalaman berbeda jika kamu berkunjung ke sana.

Tol kayangan di Dataran Tinggi Dieng.Tol kayangan di Dataran Tinggi Dieng. Foto: Uje Hartono

Kemudian yang membuat pemandangannya cantik adalah jalan sepanjang 2 kilometer ini diapit oleh gunung-gunung yang ada di Dieng seperti Gunung Sipandu dan Gunung Gundul, serta hamparan sawah terasering yang memanjakan mata.

Belum lagi jika kamu berkunjung di waktu-waktu tertentu, di pagi hari kamu akan melihat matahari terbit disertai kabut tipis, sementara sore hari kamu akan melihat panorama matahari tenggelam yang luar biasa. Suasana semakin syahdu, bukan?

Lokasi dari Tol Kahyangan Dieng ini masih terletak di Kawasan Wisata Dieng, dan berjarak sekitar 5 kilometer dari kompleks Candi Arjuna di Desa Dieng Kulon.

Itu dia ulasan mengenai jalan ‘Tol Kahyangan’ di Jawa Tengah yang panoramanya seperti akan membawamu ke kahyangan. Tertarik mendatangi tempat ini?

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jam Buka, Harga Tiket, hingga Daya Tariknya


Dieng adalah sebuah dataran tinggi yang berada di Jawa Tengah. Lokasinya terkenal jadi destinasi wisata dengan keindahan alamnya dan kekayaan budayanya.

Dieng menawarkan pemandangan pegunungan dengan udara sejuk, kompleks candi, kawah, hingga telaga yang indah. Tak heran, jika Dieng dikenal dengan sebutan “Negeri di Atas Awan”.

Rekomendasi Wisata Dieng

Dirangkum detikTravel, berikut adalah daftar wisata Dieng yang wajib dikunjungi:


1. Bukit Sikunir

Lokasi: Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Bukit di Wonosobo, DiengBukit Sikunir di Wonosobo, Dieng. (ahmadsabani18/d’Traveler)

Bukit Sikunir menjadi salah satu destinasi wisata Dieng yang menawarkan panorama pegunungan yang berderet. Dikutip dari laman resmi Kemenparekraf, Bukit Sikunir memiliki ketinggian 2.263 mdpl.

Pemandangan menakjubkan saat matahari terbit sering disebut dengan “Golden Sunrise Sikunir” oleh para wisatawan.

Selain bisa menikmati sunrise dan sunset yang indah, dari puncak bukit ini kamu juga bisa melihat pemandangan Telaga Cebong.

Dilansir laman Dieng Plateau, lokasi Telaga Cebong ada di sebelah barat Gunung Sikunir. Dinamakan demikian, karena telaga ini bentuknya menyerupai cebong/berudu. Menariknya, konon jika di pagi hari air telaga ini sering tampak berkilau.

Jam Buka

Sama seperti bukit lain pada umumnya, Bukit Sikunir memiliki jam buka selama 24 jam.

Harga Tiket

Harga tiket wisata Bukit Sikunir berkisar Rp 10.000.

2. Candi Arjuna

Lokasi: Karangsari, Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara.

Objek wisata di dataran tinggi Dieng ditutup saat PPKM Darurat. Kondisi itu dimanfaatkan petugas untuk melakukan penyemprotan disinfektan di area Candi Arjuna.Area Candi Arjuna, bbjek wisata di dataran tinggi Dieng. (Uje Hartono/detikcom)

Di puncak pegunungan Dieng, kita bisa menemukan Candi Arjuna. Ini adalah candi bercorak Hindu yang terkenal di area wisatawan lokal hingga mancanegara.

Karena letaknya ada di puncak gunung, hal ini julah lah yang menambah keindahan arsitektur candi ini.

Candi Arjuna Dieng merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun pada abad ke-7 atau sekitar tahun 731 saka.Luas keseluruhannya mencapai 1 hektar.

Kawasan candi ini terdiri dari beberapa bangunan candi yaitu candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk wisata Candi Arjuna Rp 10.000 untuk wisatawan lokal, sedangkan wisatawan asing Rp 30.000.

3. Gunung Prau

Lokasi: Terletak di kawasan dataran tinggi Dieng.

Lansekap Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing terlihat sangat mempesona dari Gunung Prau. Momen matahari terbit pun seakan membuat nuansa menjadi romantisLanskap momen matahari terbit di Gunung Prau. (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Gunung Prau memiliki ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut. Bagi traveler yang suka mendaki, Gunung Prau akan sangat cocok dikunjungi.

Puncak Gunung Prau menawarkan pemandangan sangat indah, berupa lautan awan, panorama matahari terbit hingga lanskap berbagai gunung di sekitarnya.

Harga Tiket Masuk

Tiket masuk Gunung Prau Rp 10.000 untuk lokal dan Rp 25.000 ribu untuk wisatawan asing.

4. Kawah Sikidang

Lokasi: Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Wisatawan mengunjungi Kawah Sikidang di kawasan dataran tinggi Dieng Desa Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (27/2/2021). Menurut pengelola tempat wisata kawasan Dieng, sejak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) jumlah kunjungan wisatawan menurun hingga 70 persen dibandingkan sebelumnya. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/rwa.Kawah Sikidang di kawasan dataran tinggi Dieng Desa Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. (Anies Efizudin/Antara)

Kawang Sikidang termasuk kawah gunung berapi, namun masih jadi tempat wisata yang tidak berbahaya. Kawah ini juga dikenal dengan Kawah Telur Rebus, karena bau belerangnya yang cukup menyengat.

Kawah Sikidang memiliki warna kehijauan dan mengeluarkan asap putih. Pengunjung bisa melihat kawah ini di jarak aman. Disediakan akses berupa jembatan kayu, untuk mengelilingi Kawah Sikidang.

Jam Buka

Kawah Sikidang buka setiap hari mulai pukul 07.00-17.00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Tiket masuk Kawah Sikidang Rp 15.000 untuk lokal, dan Rp 30.000 untuk asing.

5. Telaga Menjer

Lokasi: Desa Maron, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.

Telaga Menjer di Wonosobo.Telaga Menjer di Wonosobo. (satriarexyg28/d’Traveler)

Telaga Menjer adalah objek wisata Dieng yang memiliki pemandangan danau dengan keindahan Gunung Sindoro. Telaga ini ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut, yang terbentuk dari letusan vulkanik di kaki gunung Pakuwaja.

Telaga Menjer menjadi telaga terluas di area Wisata Dataran Tinggi Dieng. Telaga ini memiliki luas sekitar 70 hektar dengan kedalaman 50 meter.

Jam Buka

Telaga Menjer buka setiap hari dari jam 08.00 WIB-17.00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Tiket masuk Telaga Menjer berkisar Rp 5.000.

6. Telaga Warna

Lokasi: Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

danauTelaga Warna di kawasan wisata Dieng. (Widi Arini/d’Traveler)

Letak Telaga Warna ada pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Luasnya sekitar 40 hektar dan dikelilingi oleh panorama Gunung Prau.

Dinamakan demikian, karena jika terkena matahari warna air di sana sering berubah-ubah.

Jam Buka

Wisata Telaga Warna buka dari 07.00-18.00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk ke Telaga Warna dikenakan biaya Rp 22.500 untuk wisatawan domestik, sedangkan wisatawan asing Rp 163.500.

7. Telaga Dringo

Lokasi: Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Telaga di DiengTelaga Dringo di Dieng. (isah.af/d’Traveler)

Telaga Dringo terletak pada ketinggian 2.202 meter di atas permukaan laut, dengan luas sekitar 10 hektar. Masyarakat sekitar menjuluki telaga ini sebagai Ranu Kumbolo.

Pasalnya, penampakannya mirip dengan danau yang ada di Gunung Semeru. Wisatawan juga akan disajikan pemandangan hutan yang lebat. Tak heran, jika tempat ini sering jadi tempat camping.

Jam Buka

Dikutip dari akun Instagram @telaga_dringo, pengelola wisata alam dan camping Telaga Dringo memiliki jam cuka dari 05:00-23:00 WIB.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk ke Telaga Dringo Rp 5.000 – 15.000 per orang.

8. Batu Pandang Ratapan Angin (Batu Pandang Telaga Warna)

Lokasi: Jalan Dieng KM.2, Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

batu ratapan anginObjek wisata Batu Pandang Ratapan Angin. (Widi Arini/d’Traveler)

Batu Ratapan Angin merupakan objek wisata Dieng, yang terkenal dengan dua buah batu bertumpuk di atas sebuah bukit di area Telaga Warna Dieng.

Posisi batu yang tinggi dan dikelilingi pepohonan serta semak belukar, membuatnya menghasilkan bunyi yang unik. Bunyi gemerisik halus itu seperti suara siulan dan ratapan.

Konon, dari bunyi itulah alasan kenapa Batu Pandang Telaga Warna disebut Batu Ratapan Angin.

Jam Buka

Batu Pandang Telaga Warna buka setiap hari dari jam 06.00-17.30 WIB.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket Masuk Batu Pandang Telaga Warna Rp 15.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 25.000 bagi wisatawan asing.

9. Sumur Jalatunda

Lokasi: Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Sumur Jalatunda dan lempar batu keberuntunganSumur Jalatunda. (Randy/detikTravel)

Objek wisata Dieng selanjutnya adalah Sumur Jalatunda. Sumur ini diameter sepanjang 90 meter dengan kedalaman berkisar 100 meter, terbentuk akibat dari letusan Gunung Prahu Tua.

Konon, sumur ini sering dijadikan sebagai tempat untuk mengabulkan permohonan oleh para wisatawan.Masyarakat setempat percaya, barangsiapa yang mampu melempar batu sampai ke sisi seberang sumur dan melintasi permukaan sumur, permintaan orang tersebut akan terkabul.

Masyarakat setempat juga percaya kalau bahwa sumur adalah pintu menuju Sapta Pratala (bumi lapis ketujuh).

Jam Buka

Sumur Jalatunda buka dari jam 06.00-17.00 WIB setiap hari.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk Sumur Jalatunda adalah Rp 5.000.

10. Gardu Pandang Tieng

Lokasi: Jalan Dieng, Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

Gardu Pandang Tieng menawarkan keindahan pemandangan Gunung Sindoro dari dekat. Hamparan ladang dan pemukiman pegunungan dari atas ketinggian juga menjadi daya tarik destinasi wisata Dieng satu ini.

Gardu Pandang Tieng bisa jadi tempat bersantai terbaik untuk menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam.

Jam Buka

Gardu Pandang Tieng buka 24 jam.

Harga Tiket Masuk

Harga tiket Gardu Pandang Tieng Rp 10.000 per orang.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com

9 Fakta Menarik Dieng, Negeri Para Dewa-Tempat Anak Bajang


Jakarta

Dataran tinggi Dieng termasuk destinasi primadona banyak wisatawan. Alamnya yang memukau bikin siapa saja yang berkunjung jatuh hati.

Jajaran perbukitan yang membentang sepanjang sisi utara dan selatan, danau yang menawan, hingga view sunrise yang elok akan menyambut para pelancong. Budaya lokalnya yang lestari juga menjadikan Dieng semakin memikat.

Tertarik berkunjung ke dataran tinggi satu ini? Simak dulu deretan fakta atau keistimewaan Dieng berikut.


Fakta Menarik Dataran Tinggi Dieng

Mulai dari lokasinya yang berada di dua kabupaten, wilayahnya ‘dituruni’ salju, hingga sederet julukan, berikut daftar fakta unik Dieng, dikutip dari pemberitaan detikcom dan laman Desa Dieng Kejajar:

1. Terletak di Dua Kabupaten

Meski dikenal berada di Wonosobo, sebagian kawasan Dieng sebetulnya juga masuk ke wilayah Banjarnegara. Keduanya merupakan kabupaten di Jawa Tengah. Bagian barat Dieng terletak di Banjarnegara dan bagian timurnya di Wonosobo.

2. Dikelilingi Pegunungan

Pemandangan alam di Dieng, dataran tinggi yang terletak antara Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah menakjubkan. Belum lagi aneka peninggalan bersejarah seperti candi di Dieng ini menjadi daya tarik tersendiri.Deretan pegunungan di Dieng, dataran tinggi yang terletak antara Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. (Arbi Anugrah)

Penamaan Dieng kerap disandingkan dengan sebutan ‘dataran tinggi’ sebab topografinya yang pegunungan. Kawasan itu dikelilingi oleh Gunung Prau, Pangonan, dan Pakuwojo. Lokasinya juga berdekatan dengan si kembar Gunung Sindoro dan Sumbing.

3. Tempat ‘Bersemayamnya’ Para Dewa

Nama Dieng berasal dari bahasa Sanskerta ‘Die Hieyang’ yang artinya indah dan langka. Dieng juga terdiri dari dua suku kata; ‘Di’ dan ‘Hyang’. ‘Di’ memiliki arti gunung atau tempat tinggi, dan ‘Hyang’ diartikan sebagai dewa-dewi atau ruh leluhur. Secara harfiah, nama Dieng berarti pegunungan atau tempat persemayaman para dewa.

4. Dijuluki ‘Negeri di Atas Awan’

Kawasan Dieng berada di ketinggian rata-rata 2.090 mdpl (meter di atas permukaan laut). Lokasinya juga dikelilingi pegunungan yang membuat pemandangan samudra awan tak jarang ditemukan, bahkan terlihat jelas oleh mata. Oleh karena itu, dataran tinggi Dieng kerap disebut ‘Negeri di Atas Awan’.

5. Ada Desa Tertinggi di Pulau Jawa

Di Dieng ada Desa Sembungan yang disebut sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa. Berada di ketinggian 2.300 mdpl, desa ini menawarkan panorama menawan dengan hamparan sawah berundak dan latar perbukitan hijau yang diselimuti kesejukan udara pegunungan. Pesonanya yang memikat berhasil menyabet gelar salah satu Desa Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

6. Wilayah ‘Bersalju’

Kain lap diletakkan di kompleks Candi Arjuna, Dieng, berubah menjadi kaku atau membeku, Jumat (21/6/2024) pagi.Dieng ‘bersalju’ (Uje Hartono/detikJateng)

Kabar dataran tinggi Dieng diselimuti ‘salju’ pada beberapa tahun silam sempat menyita perhatian publik. Nyatanya, salju di Dieng disebabkan oleh fenomena embun es (frost).

Mengutip situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena embun es terjadi ketika suhu udara sangat dingin dan embun yang terkondensasi membeku. Alhasil, lapisan es akan muncul dan menutupi tumbuhan serta permukaan tanah.

Ada kemungkinan fenomena frost terjadi di wilayah dataran tinggi seperti Dieng saat beberapa kondisi cuacanya terpenuhi. Fenomena Dieng ‘bersalju’ ini dapat terjadi pada musim kemarau (Juni-Oktober) dan berlangsung selama waktu terbatas.

7. Terdapat 22 Kawah

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), terdapat 22 kawah di seluruh kawasan Dieng. Kawah ini tersebar di Gunung Api Dieng, Banjarnegara, area Wonosobo, dan Kabupaten Batang.

Delapan kawah di Gunung Api Dieng antara lain Kawah Timbang, Kawah Sinila, Kawah Sigludug, Kawah Sileri, Kawah Condrodimuko, Kawah Sikidang, Kawah Sibanteng, dan Kawah Bitingan.

Empat kawah di Wonosobo yaitu Kawah Sikidang, Kawah Sikunang, Kawah Pulosari, dan Kawah Pakuwojo. Serta lima kawah di Kabupaten Batang; Kawah Sibanger, Kawah Wanapria, Kawah Wanasida, Kawah Siglagah, dan Kawah Pagerkandang.

Kawah Timbang, Sinila, dan Sikidang disebut berpotensi mengeluarkan gas beracun. Untuk Kawah Timbang, statusnya punya peluang berkembang menjadi berbahaya.

8. Punya Deretan Candi

Kompleks Candi Arjuna di Dieng, yang merupakan lokasi gelaran DCF 2022.Kompleks Candi Arjuna di Dieng (Uje Hartono/detikJateng)

Dieng sebagai tempat bersemayam para dewa, telah lama menjadi lokasi peribadatan masyarakat Hindu. Hal ini diketahui lewat beberapa candi beraliran Hindu Siwa yang ditemukan di dataran tinggi tersebut.

Deretan candi di Dataran Tinggi Dieng adalah Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Gatotkaca, Dwarawati, dan Bima. Nama delapan candi ini berasal dari para tokoh dalam kisah Bharatayuddha. Di candi inilah, masyarakat Hindu ketika itu beribadah pada dewa yang dikenal sebagai Trimurti.

9. Anak Bajang Berambut Gimbal

Bocah atau anak bajang adalah warisan budaya khas di Dataran Tinggi Dieng. Para anak bajang ini memiliki rambut gimbal panjang yang hanya bisa dipotong setelah melewati ruwatan. Dikutiip dari situs Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, prosesi ini bisa disaksikan selama Dieng Culture Festival.

Anak bajang dipercaya merupakan titisan leluhur Dieng, yaitu Kyai Kolodethe untuk laki-laki dan Nyai Dewi Roro Ronce bagi perempuan. Sebelum ruwatan untuk memotong rambut gimbal tersebut, anak bajang biasanya memiliki permintaan yang dituruti orang tua atau lingkungan sekitar.

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

Jam Buka, Harga Tiket & Daya Tariknya



Jakarta

Wisata ke Dieng kamu akan dimanjakan oleh destinasi alamnya yang memukau. Mulai dari hamparan hijaunya pegunungan hingga keindahan telaga yang menyegarkan.

detikTravel telah merangkum, Kamis (31/7/2025) destinasi yang populer di Dieng yang bisa kamu kunjungi nanti bersama keluarga.

1. Bukit Sikunir

Bukit di Wonosobo, DiengBukit Sikunir di Wonosobo, Dieng Foto: (ahmadsabani18/d’Traveler)

Bukit Sikunir menjadi salah satu destinasi wisata Dieng yang menawarkan panorama pegunungan yang berderet. Bukit Sikunir dengan ketinggian 2.263 mdpl ini berada di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.


Pemandangan menakjubkan saat matahari terbit sering disebut dengan “Golden Sunrise Sikunir” oleh para wisatawan. Selain bisa menikmati sunrise dan sunset yang indah, dari puncak bukit ini kamu juga bisa melihat pemandangan Telaga Cebong.

Sama seperti bukit lain pada umumnya, Bukit Sikunir memiliki jam buka selama 24 jam. Harga tiket wisata Bukit Sikunir berkisar Rp 10.000.

2. Candi Arjuna

Di puncak pegunungan Dieng, kita bisa menemukan Candi Arjuna. Ini adalah candi bercorak Hindu yang terkenal di area wisatawan lokal hingga mancanegara.

Karena letaknya ada di puncak gunung, hal ini julah lah yang menambah keindahan arsitektur candi ini.

Candi Arjuna Dieng merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dibangun pada abad ke-7 atau sekitar tahun 731 saka.Luas keseluruhannya mencapai 1 hektar. Kawasan candi ini terdiri dari beberapa bangunan candi yaitu candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.

Harga tiket masuk wisata Candi Arjuna Rp 10.000 untuk wisatawan lokal, sedangkan wisatawan asing Rp 30.000.

3. Gunung Prau

Gunung PrauGunung Prau Foto: (Uje Hartono/detikcom)

Gunung Prau memiliki ketinggian 2.565 meter di atas permukaan laut. Bagi traveler yang suka mendaki, Gunung Prau akan sangat cocok dikunjungi. Gunung ini juga cocok untuk pendaki pemula.

Puncak Gunung Prau menawarkan pemandangan sangat indah, berupa lautan awan, panorama matahari terbit hingga lanskap berbagai gunung di sekitarnya.

4. Kawah Sikidang

Kawang Sikidang termasuk kawah gunung berapi, namun masih jadi tempat wisata yang tidak berbahaya. Kawah ini juga dikenal dengan Kawah Telur Rebus, karena bau belerangnya yang cukup menyengat. kawah ini berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kawah Sikidang memiliki warna kehijauan dan mengeluarkan asap putih. Pengunjung bisa melihat kawah ini di jarak aman. Disediakan akses berupa jembatan kayu, untuk mengelilingi Kawah Sikidang.

Kawah Sikidang buka setiap hari mulai pukul 07.00-17.00 WIB. Harga tiket masuk Kawah Sikidang Rp 15.000 untuk lokal, dan Rp 30.000 untuk asing.

5. Telaga Menjer

Telaga Menjer adalah objek wisata Dieng yang memiliki pemandangan danau dengan keindahan Gunung Sindoro. Telaga ini ketinggian 1.300 mdpl yang terbentuk dari letusan vulkanik di kaki gunung Pakuwaja.

Telaga Menjer menjadi telaga terluas di area Wisata Dataran Tinggi Dieng. Telaga ini memiliki luas sekitar 70 hektar dengan kedalaman 50 meter.

Telaga Menjer buka setiap hari dari jam 08.00 WIB-17.00 WIB. Dan harga tiket masuk Telaga Menjer berkisar Rp 5.000.

6. Telaga Warna

Letak Telaga Warna ada pada ketinggian 2.000 mdpl dan luasnya sekitar 40 hektar dengan dikelilingi oleh panorama Gunung Prau. Telaga ini berada di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Harga tiket masuk ke Telaga Warna dikenakan biaya Rp 22.500 untuk wisatawan domestik, sedangkan wisatawan asing Rp 163.500.

7. Telaga Dringo

Telaga Dringo di BanjarnegaraTelaga Dringo di Banjarnegara Foto: (Randy/detikTravel)

Telaga Dringo terletak pada ketinggian 2.202 mdpl dengan luas sekitar 10 hektar. Masyarakat sekitar menjuluki telaga ini sebagai Ranu Kumbolo. Pasalnya, penampakannya mirip dengan danau yang ada di Gunung Semeru. Wisatawan juga akan disajikan pemandangan hutan yang lebat. Tak heran, jika tempat ini sering jadi tempat camping.

Dikutip dari akun Instagram @telaga_dringo, pengelola wisata alam dan camping Telaga Dringo memiliki jam cuka dari 05:00-23:00 WIB. Teruntuk harga tiket masuk ke Telaga Dringo Rp 5.000 – 15.000 per orang.

8. Batu Pandang Ratapan Angin (Batu Pandang Telaga Warna)

Batu Ratapan Angin merupakan objek wisata yang berada di Jalan Dieng KM.2, Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Destinasi ini terkenal dengan dua buah batu bertumpuk di atas sebuah bukit di area Telaga Warna Dieng.

Posisi batu yang tinggi dan dikelilingi pepohonan serta semak belukar, membuatnya menghasilkan bunyi yang unik. Bunyi gemerisik halus itu seperti suara siulan dan ratapan. Konon, dari bunyi itulah alasan kenapa Batu Pandang Telaga Warna disebut Batu Ratapan Angin.

Batu Pandang Telaga Warna buka setiap hari dari jam 06.00-17.30 WIB. dan harga tiket masuk Batu Pandang Telaga Warna Rp 15.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 25.000 bagi wisatawan asing.

9. Sumur Jalatunda

Objek wisata Dieng selanjutnya adalah Sumur Jalatunda. Sumur ini diameter sepanjang 90 meter dengan kedalaman berkisar 100 meter, terbentuk akibat dari letusan Gunung Prahu Tua.

Konon, sumur ini sering dijadikan sebagai tempat untuk mengabulkan permohonan oleh para wisatawan.Masyarakat setempat percaya, barangsiapa yang mampu melempar batu sampai ke sisi seberang sumur dan melintasi permukaan sumur, permintaan orang tersebut akan terkabul.

Masyarakat setempat juga percaya kalau bahwa sumur adalah pintu menuju Sapta Pratala (bumi lapis ketujuh).

10. Gardu Pandang Tieng

Gardu Pandang Tieng menawarkan keindahan pemandangan Gunung Sindoro dari dekat. Hamparan ladang dan pemukiman pegunungan dari atas ketinggian juga menjadi daya tarik destinasi wisata Dieng satu ini.

Gardu Pandang Tieng bisa jadi tempat bersantai terbaik untuk menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam.

(sym/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Spot Foto Menarik dan Kisah di Baliknya



Jakarta

Kawasan Dieng di Jawa Tengah memang sudah terkenal sebagai salah satu destinasi wisata yang jadi favorit wisatawan. Kawasan itu berada di dua wilayah yakni Wonosobo dan Banjarnegara.

Di sana traveler bukan hanya disuguhkan dengan keindahan alamnya saja, tetapi juga budaya serta sejarah-sejarah yang melengkapinya. Sudah sejak lama pesona Dieng sudah harum hingga wisatawan internasional, belum lagi cuaca di sana yang sangat menyejukkan.

Dengan berbagai acara yang kerap dihelat di sana membuat kawasan Dieng ini begitu diminati. Belum lagi dengan lanskap yang indah itu menawarkan visual yang menakjubkan, sehingga sangat cocok menjadi latar belakang foto traveler.


Nama Dieng sendiri diambil dari Bahasa Sansekerta ‘Die Hieyang’ yang punya arti indah dan langka. Kata Dieng pun terdiri dari dua suku kata yaitu Di dan Hyang, Di artinya gunung atau area yang tinggi sementara Hyang adalah dewa-dewi jadi secara makna punya arti pegunungan atau tempat para dewa-dewi.

Dieng juga punya desa tertinggi di Pulau Jawa: Desa Sembungan yang berada di ketinggian 2.300 mdpl. Dengan lanskap hamparan sawah berundak juga perbukitan hijau yang sejuk.

Desa Sembungan juga pernah menyabet gelar Desa Terbaik di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) di tahun 2022.

Jika traveler hendak berkunjung ke kawasan Dieng, berikut rekomendasi detikTravel untuk destinasi-destinasi yang bisa jadi spot foto menawan.

1. Candi Arjuna

Candi Arjuna ini letaknya berada di puncak pegunungan Dieng dan candi tersebut merupakan candi yang bercorak Hindu. Dengan berada di atas puncak, membuat Candi Arjuna ini punya persona dan daya tarik tersendiri.

Suasana objek wisata Candi Arjuna Dieng ramai dikunjungi wisatawan. Foto diunggah pada Senin (31/7/2023).Suasana objek wisata Candi Arjuna Dieng ramai dikunjungi wisatawan. (UPT Dieng)

Salah satu bukti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini dibangun sekitar abad ke-7 atau 731 saka. Dan punya luas hingga satu hektar, di kawasan komplek Candi Arjuna ini juga traveler akan menemukan beberapa candi lainnya seperti Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Sembadra, dan Candi Puntadewa.

Tiket masuk: Rp 10.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 30.000 untuk wisatawan internasional.

2. Kawah Sikidang

Meski merupakan kawah gunung berapi, Kawah Sikidang ini tidak berbahaya dan jadi langganan destinasi wisatawan lokal dan internasional. Kawah Sikidang juga dikenal luas sebagai Kawah Telur Rebus karena bau belerang yang sangat menyengat di hidung.

Wisatawan mengunjungi Kawah Sikidang Dieng di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (5/2/2022). Wisata Kawah Sikidang ramai dikunjungi wisatawan domestik saat akhir pekan. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/rwa.Wisatawan mengunjungi Kawah Sikidang Dieng di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

Berada di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Yang jadi primadonanya, Kawah Sikidang ini punya warna kawah kehijauan yang mengeluarkan asap putih.

Tiket masuk: Rp 15.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 30.000 untuk wisatawan internasional.

3. Telaga Dringo

Destinasi selanjutnya ini punya ketinggian di 2.202 mdpl dengan luasan sekitar 10 hektar. Telaga Dringo juga kerap disebut Ranu Kumbolo karena landskapnya yang mirip dengan danau terkenal di Gunung Merapi itu.

Di sana traveler bakal disuguhkan dengan hutan yang indah dengan pesona telaganya. Dan di Telaga Dringo juga banyak wisatawan yang menjadikannya sebagai area camping.

Telaga Dringo di BanjarnegaraTelaga Dringo di Banjarnegara. (Randy/detikTravel)

Tiket masuk: Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per orang.

4. Gardu Pandang Dieng

Gardu Pandang Dieng ini punya daya tarik tersendiri dari ketinggian, di sana traveler bisa melihat pemandangan Gunung Sindoro secara lebih dekat. Ditambah pemandangan ladang serta pemukiman masyarakat sekitar.

Waktu tepat untuk berada di Gardu Pandang Dieng ini tentunya di pagi buta dan sore hari. Karena traveler akan ditawarkan indahnya matahari terbit dan terbenam.

5. Bukit Sikunir

Ini jadi salah satu tempat paling favorit yang ada di kawasan Dieng. Karena di bukit yang punya tinggi 2.263 mdpl ini traveler bisa melihat pemandangan indah saat matahari terbit.

Bukit di Wonosobo, DiengBukit di Wonosobo, Dieng. (ahmadsabani18/d’Traveler)

Tak ayal pesona itu dijuluki sebagai Golden Sunrise Sikunir. Tentunya bukan hanya matahari terbit saja yang menawarkan keindahan saat matahari tenggelam pun indahnya tak kalah jauh.

Tiket masuk: Rp 10.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 30.000 untuk wisatawan internasional

6. Batu Pandang Ratapan Angin

Di kawasan ini sangat cocok buat traveler yang ingin punya pengalaman lain untuk menikmati indahnya Telaga Warna dan Telaga Pengilon Dieng. Di sana jadi primadona spot foto terbaik untuk keduanya.

Telaga Warna DiengTelaga Warna Dieng. (Reexy/d’traveler)

Berada di atas ketinggian, Batu Pandang Ratapan Angin ini berlokasi di Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Wonosobo, Jawa Tengah.

Tiket masuk: Rp 15.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 30.000 untuk wisatawan internasional.

7. Gunung Prau

Bagi traveler yang ingin senang dengan aktivitas luar ruangan yang lebih menantang, bisa mencoba untuk melakukan pendakian ke Gunung Prau. Berada di ketinggian 2.565 mdpl akan membuat traveler sangat terpukau ketika berada di puncaknya.

Gunung PrauGunung Prau. (Uje Hartono/detikcom)

Hamparan lautan awan dan pemandangan gunung-gunung di sekitarnya, membuat pengalaman saat berada di kawasan Dieng ini tidak akan membuat kecewa. Tentunya untuk mendaki gunung, traveler harus mempersiapkan segalanya, mulai dari pemandu, perlengkapan alat, mental, fisik hingga membawa obat-obatan pribadi.

(upd/wsw)



Sumber : travel.detik.com