Tag Archives: wisata flores

7 Fakta Wae Rebo, Runner-up Kota Kecil Terindah Dunia 2024



Jakarta

Keindahan Wae Rebo sukses mendapatkan predikat sip sejagat. Wae Rebo menduduki peringkat kedua kota kecil terindah di dunia.

Penghargaan itu dirilis oleh media berbasis di Inggris TimeOut merilis daftar kota kecil terindah di dunia 2024 belum lama ini.

Tersembunyi di dalam rimbunnya pepohonan, Desa Wae Rebo atau Waerebo adalah salah satu desa adat Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih tetap utuh dan terjaga keasliannya. Wae dalam bahasa Manggarai artinya ialah “air”.


Desa ini tidak sekadar desa biasa. Desa Wae Rebo, salah satu destinasi budaya yang ada di Kabupaten Manggarai. Setiap orang yang menginjakkan kakinya di sini akan dibuat terpesona dengan keindahan lanskap alam dan budayanya.

Untuk sampai ke “surga” di atas awan ini diperlukan perjuangan dengan berjalan kaki. Tapi semua akan dibayar lunas dengan keindahan alam yang traveler dapatkan.

Di balik keindahan alam dan ragam kehidupan sosialnya yang unik, Desa Wae Rebo menyimpan fakta yang menarik untuk diulas.

Berikut ini 7 fakta Desa Wae Rebo:

1. Desa di Atas Awan

Desa Wae Rebo terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Desa ini menjadi salah satu desa tertinggi di Indonesia. Kerap dijuluki surga di atas awan, karena keindahan alamnya.

Kabut tipis sering menyelimuti desa ini di pagi hari. Karena lokasinya yang tinggi, untuk sampai ke Desa Wae Rebo pengunjung akan melakukan trekking sekitar 9 kilometer selama 2-3 jam. Sangat disarankan untuk menyewa jasa guide sebagai penunjuk jalan. Jangan lupa coba sensasi bermalam di Wae Rebo ya!

2. Rumah Adat Mbaru Niang

Wae Rebo terkenal dengan rumah adatnya yang disebut Mbaru Niang. Kata Mbaru berarti rumah, sedangkan kata Niang berarti tinggi dan bulat. Bentuk Mbaru Niang dimaknai sebagai suatu falsafah bahwa keseimbangan terwakili melalui bentuk lingkaran.

Mbaru Niang dibangun sebanyak tujuh rumah yang disusun berbentuk melingkar pada tanah yang datar. Satu rumah terdiri dari lima lantai dan dihuni oleh enam hingga delapan keluarga. Pada bagian tengah lingkaran terdapat sebuah altar yang bernama Compang yang digunakan untuk menyembah Tuhan dan roh-roh leluhur.

3. Menjadi Warisan Budaya UNESCO

Berkat keindahan alam dan kekayaan budayanya membuat Wae Rebo dinyatakan sebagai Warisan Budaya Dunia pada Agustus 2012 oleh UNESCO. Desa ini berhasil menyisihkan 42 negara lainnya.

Rumah Mbaru Niang yang ada di Wae Rebo dianggap sangat unik dan langka. Keunikan tersebut menjadikan desa ini sebagai salah satu lokasi Konservasi Warisan Budaya UNESCO.

4. Upacara Adat Penti

Warga Desa Wae Rebo memiliki hari spesial yang dirayakan setiap bulan November. Namanya Upacara Adat Panti. Upacara ini merupakan salah satu perayaan untuk mengucapkan rasa syukur berkat hasil panen yang diperoleh. Upacara ini juga menandakan sebuah awal dalam bercocok tanam di Wae Rebo .

Upacara Adat Penti juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan ketika ingin berkunjung ke Desa Wae Rebo . Penasaran keunikan upacara ini? Traveler bisa berkunjung ke Wae Rebo di pertengahan bulan November.

5. Sudah Berumur 1200 Tahun

Wae Rebo kini sudah berumur 1200 tahun dan sudah memasuki generasi ke-20. Dimana satu generasi berusia 60 tahun lamanya. Desa ini termasuk salah satu desa tertua yang ada di Flores.

6. Warga Lokal Keturunan Minang

Meskipun Desa Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang jauh dari tanah asalnya, ternyata penduduk desa ini memiliki darah Minangkabau, Sumatera Barat. Empo Maro, nenek moyang Wae Rebo berasal dari Minangkabau yang melakukan perantauan jauh hingga ke Flores.

Setelah mengembara ke berbagai tempat, Empo Maro akhirnya menemukan tempat tinggal tetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Wae Rebo .

Meskipun memiliki latar belakang Minangkabau yang kental, namun menariknya, nama-nama penduduk di desa ini tidak mengikuti pola umum yang biasa ditemui di kalangan masyarakat Minangkabau.

7. Melakukan Upacara Kemerdekaan, Bendera Dipasang di Atas Rumah

Fakta unik lainnya dari Desa Wae Rebo adalah saat merayakan Hari Kemerdekaan RI. Warga Wae Rebo akan memasang bendera merah putih di atas rumah adat Mbaru Niang saat upacara berlangsung. Unik ya! Meskipun lokasinya yang jauh, warga Wae Rebo tetap antusias dan hikmat menjalankan Upacara Kemerdekaan.

Sudah tau kan 7 fakta menarik tentang Desa Wae Rebo , desa cantik di atas awan. Meskipun lokasinya jauh, ternyata tak membuat desa ini sepi pengunjung. Penasaran dengan keindahan alamnya? Yuk langsung cus berlibur ke Wae Rebo .

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

NTT Bukan Provinsi Biasa, Ini 10 Kepingan Surga untuk Wisatawan



Jakarta

Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki spot wisata yang aduhai indahnya. Ini sederet objek wisata yang wajib dikunjungi wisatawan saat mengunjungi pulau-pulau di sana.

Provinsi yang berada di bagian tenggara Indonesia itu memiliki sederet pulau-pulau cantik mempesona. Mulai dari Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, Pulau Alor, Pulau Lembata, Pulau Rote, Pulau Sabu, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Ende, Pulau Komodo, hingga Pulau Palue.

Lautan, bukit, budaya, dan adat, bahkan hamparan padang rumput menjadi sesuatu yang menawan di sini. Ditambah lagi satwa endemik komodo (Varanus komodoensis), burung garugiwa atau kancilan flores (Pachycephala nudigula), dan flora endemik cendana wangi (Santalum album) yang tiada dua. Juga kekayaan hutan, mulai dari kopi, kemiri, cengkeh, pala, hingga jahe.


detikTravel telah merangkum beberapa destinasi wisata yang bikin list perjalanan kamu menjadi mudah saat vakansi ke NTT. Berikut adalah rangkumannya:

1. Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo berada di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores di kepulauan Indonesia Tengah. Secara administratif termasuk dalam Wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Kawasan itu ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo pada tanggal 6 Maret 1980 dan dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfer pada tahun 1977 dan juga sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1991, sebagai Simbol Nasional oleh Presiden RI pada 1992, sebagai Kawasan Perlindungan Laut pada tahun 2000 dan juga sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia pada 2006.

Taman Nasional Komodo memiliki luas 173.300 ha meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, Gili Motang, Nusa Kode dan juga pulau-pulau kecil lainnya.

Kepulauan tersebut dinyatakan sebagai Taman nasional untuk melindungi Komodo yang terancam punah dan habitatnya serta keanekaragaman hayati di dalam wilayah tersebut. Taman lautnya dibentuk untuk melindungi biota laut yang sangat beragam yang terdapat disekitar kepulauan tersebut, termasuk yang terkaya di bumi.

Taman Nasional komodo terletak di kawasan Wallacea Indonesia. Kawasan Wallacea terbentuk dari pertemuan dua benua yang membentuk deretan unik kepulauan bergunung api, dan terdiri atas campuran burung serta hewan dari kedua benua Autralia dan Asia. Terdapat 254 spesies tumbuhan yang berasal dari Asia dan Australia di Taman Nasional Komodo. Selain itu, terdapat 58 jenis binatang dan 128 jenis burung.

2. Labuan Bajo

Labuan Bajo merupakan pintu masuk terbesar ke wilayah NTT lainnya. Kawasan ini memiliki banyak hotel, restoran, kafe, agen travel, persewaan kapal, dll.

Di sini juga terdapat sejumlah objek wisata, di antaranya perbukitan Golo Mori, Puncak Waringin, Goa Batu Cermin, Desa Wisata Loha, air terjun Cunca Rami, dan Waterfront City Marina Labuan Bajo.

3. Pantai Dintor

Pantai yang terletak di Desa Satar Ruwuk, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai ini menyuguhkan keindahan yang menakjubkan. Dengan hamparan pasir putih dan batuan-batuan kecil di bibir pantai bisa membuat kamu terpukau.

Di Pantai Dintor kamu juga akan mendapatkan bonus melihat kawasan yang tak kalah indahnya yaitu Pulau Mules, tepat berada di seberang Pantai Dintor.

Kamu bisa menikmati pesona pantai ini dengan berbagai cara, bisa menikmatinya dengan berjalan di bibir pantai ataupun hanya duduk-duduk di bawah pohon kelapa sambil mendengarkan syahdunya gemericik ombak.

4. Desa Wae Rebo

Disebut juga sebagai desa di atas awan, berada di dataran tinggi bagian selatan Pulau Flores. Yang menjadi daya tarik bagi wisatawan ke Desa Wae Rebo adalah pesona alam serta budaya masyarakatnya yang masih kental dengan adat leluhur.

Jika kamu berkunjung ke desa ini, kamu bakalan melihat bagaimana masyarakat Desa Wae Rebo memegang teguh adat-istiadat. Tentunya juga terdapat rumah khas yang bernama Mbaru Niang, Mbaru yang artinya rumah dan Niang adalah tinggi dan bulat.

5. Danau Kelimutu

Pernah melihat ikon danau tiga warna dipecahan uang Rp 5000 dulu? Ya danau tersebut adalah Danau Kelimutu yang berada di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Danau itu disebut danau tiga warna karena memiliki warna merah, biru, dan putih.

Untuk bisa menikmati pesona Danau Kelimutu, terlebih dahulu kamu perlu berjuang mendaki Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1.631 meter di atas permukaan laut. Tapi sehabis melakukan pendakian tersebut, dijamin semua rasa lelah akan terbayarkan dengan melihat keindahan danau itu.

6. Bukit Warinding

Hamparan perbukitan di Nusa Tenggara Timur memang tak kalah menariknya dari destinasi lainnya, termasuk Bukit Warinding. Bukti yang berlokasi di Desa Pambotanjara, Kabupaten Sumba Timur ini juga pernah dijadikan sebagai set film Pendekar Tongkat Emas besutan Mira Lesmana.

Sudah terbukti indahnya lanskap bukit ini sehingga menjadi tempat syuting film, pesona yang membuat Bukit Warinding ini adalah bentuk bukitnya yang menyerupai raksasa yang tengah tidur terlentang.

7. Cunca Wulang

Cunca Wulang merupakan air terjun yang berada di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Air terjun ini memiliki ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dengan air yang jernih dan segar mengalir dari air terjun tersebut.

Dikelilingi hutan dan perbukitan, Cunca Wulang menyuguhkan pengalaman yang berbeda. Wisatawan yang datang juga bisa merasakan air terjun ingin dengan berenang di tepian aliran atau sekadar berendam saja.

Masih banyak lagi destinasi yang Nusa Tenggara Timur suguhkan untuk dijelajahi, agar tak bingung menentukan tujuan pelesiran. Pastinya yang perlu diperhatikan adalah mempersiapkan segala sesuatu sebelum melangsungkan keberangkatan mulai dari budgeting, akomodasi hingga tempat mana saja yang akan dituju.

8. Desa Wisata Ululoga

Desa Wisata Ululoga di Kecamatan Mauponggo, Nagekeo menawarkan wisata tidak biasa, yakni paket wisata tur rempah-rempah.

Desa ini memang kaya akan rempah-rempah. Mulai dari pala, merica, hingga jahe.

9. Perburuan Paus Tradisional di Lembata

Merujuk situs kemendikbud, masyarakat Lamalera di Kabupaten Lembata memiliki tradisi berburu paus dengan cara tradisional. Perburuan paus yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai Baleo itu menjadi gambaran kearifan lokal para nelayan Lamalera yang tangguh, pemberani, dan dan pantang menyerah.

Perburuan paus itu bukan membantai paus, tetapi perburuan paus oleh nelayan Lamalera yang sudah ada sejak abad ke-17 itu dilaksanakan dengan aturan terkait waktu, peralatan, pelaksanaan, hingga jenis paus yang dapat ditangkap.

Selain itu, Lembata memiliki banyak objek wisata, mulaidi antaranya Pulau Pasir Putih Awelolong/Awololo, Gua Maria Lewoleba. Pantai Rekreasi Pasir Putih Waijarang, Sumber Air Panas Sabu Tobo, Adum, dan Labalimut, rumah adat dan ritus Pesta Kacang Jontona, dll

10. Pulau Alor

Alor boleh dibilang merupakan surga bagi para penggemar selam. Di sini tercatat memiliki 42 spot diving.

Selain diving, di Alor terdapat banyak pantai, di antaranya Ling Al, Maimol, dan batu Putih.

Kemudian, ada Museum 1000 Moko. Mako adalah alat musik khas Alor dari perunggu. Moko juga berfungsi sebagai mas kawin dan alat untuk membayar denda. Di Alor Museum 1000 Moko berada di Jalan Diponegoro, Kalabahi, Alor.

Di Alor juga terdapat Al Quran kuno berusia ratusan tahun, tepatnya berada di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut. Al Quran ini terbuat dari kulit kayu dan memuat 30 juz (114 surat) dan diperkirakan telah berusia 500 tahun. Konon Al Quran ini dibawa dari Ternate sebagai misi penyebaran agama Islam ke Alor.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Terpukau Pulau Padar, Paket Komplet Healing dan Trekking



Jakarta

Seenggaknya sekali seumur hidup traveler menjejak Pulau Padar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sini, rasanya tenteram dan nyaman usai melepaskan pandangan sejauh-jauhnya.

Perjalanan menuju Pulau Padar, yang merupakan bagian dari Taman nasional Komodo, bukan hanya perihal mencapai tujuan, tetapi juga menjelajahi pesona alam yang luar biasa.

Untuk menuju ke sana, memakan waktu selama sekitar satu jam hingga satu jam 30 menit menggunakan speedboat dari hotel yang saya tempati di Labuan Bajo. Saya menuju Pulau Padar bersama rombongan yang mayoritas debutan berlibur ke provinsi ini.


Saya berkesempatan menuju Pulau Padar saat musim kemarau. Saat cuaca betul-betul panas.

Sungguh, benar-benar disuguhi berbagai pemandangan yang memukau, dengan pulau-pulau kecil yang terlihat dalam perjalanan menuju pulau yang ada di sana.

Awalnya dari kejauhan, Pulau Padar ini terlihat seperti pulau kecil dan mungkin di pikiran pengunjung baru seperti saya akan berkata “Ah, ini sih mudah untuk mencapai ke puncaknya”.

Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar.Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar. (Foto: dok. istimewa)

Namun sesampainya di sana, detikTravel baru menyadari bahwa pulau ini sebenarnya cukup tinggi, bahkan memiliki ketinggian sekitar 238 MDPL dan 817 anak tangga menurut salah satu penjaga sekaligus naturalist Balai Taman Nasional Komodo, Makasae.

Perjalanan mendaki menjadi tantangan tersendiri. Meskipun awalnya tampak mudah, kenyataannya membutuhkan stamina yang baik untuk mencapai puncaknya. Rute mendaki yang menanjak dan jumlah anak tangga yang banyak dapat menjadi ujian fisik, namun setiap langkah yang diambil membawa saya semakin dekat pada pemandangan yang spektakuler.

Saat mendaki, saya melihat pemandangan yang luar biasa di sekitar pulau. Panorama laut biru yang luas, pasir putih yang membentang di pantai, serta vegetasi hijau, kuning ilalang dan rumput yang menyegarkan mata, serasi betul dengan langit biru seluas-luasnya. Semua itu berpadu menciptakan harmoni alam yang memukau.

Di beberapa titik, saya berhenti sejenak untuk mengabadikan momen dan menikmati keindahan yang tersaji. Tentunya juga untuk mengambil napas sejenak dan minum air putih agar tetap terhidrasi setelah menaiki beberapa anak tangga Pulau Padar.

Meskipun tak sampai puncak karena saya tak kuat, rasa lelah terbayar lunas dengan pemandangan yang menakjubkan. Dari atas, saya bisa melihat lanskap Pulau Padar yang ikonik dengan tiga teluknya yang berbentuk seperti lekukan-lekukan indah. Warna air laut yang berbeda-beda di setiap teluk menambah keunikan panorama tersebut. Tak heran jika banyak wisatawan yang menyebut pemandangan ini sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar.Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar. (Foto: dok. istimewa)

Pulau Padar memang tempat yang sempurna untuk “healing”. Keindahan alamnya yang masih alami dan suasana yang tenang membuat pikiran dan tubuh merasa lebih rileks dan segar. Udara yang bersih, suara ombak yang menenangkan, serta keindahan alam yang tak tertandingi menjadikan pulau ini sebagai destinasi yang ideal untuk melepaskan stres dan menikmati ketenangan.

“Karena rombongan kami sampenya terlalu siang, jadi cuacanya terlalu panas. Walaupun terik, capek, semuanya terbayar lunas pas lihat pemandangan indah dari pos 5 Pulau Padar. Cantik banget,” kata salah satu anggota rombongan kami, Dinda Rachmawati.

Berkaca pengalamannya, perempuan 32 tahun asal Pondok Aren, Tangerang Selatan itu menyarankan agar perjalanan dimulai lebih pagi.

“Jadi, sebaiknya kalau mau ke Pulau Padar mulainya pagi-pagi. Itu juga agar pengunjung belum terlalu ramai,” Dinda menambahkan.

Tak hanya pemandangan, Pulau Padar juga menawarkan pengalaman yang tak terlupakan melalui interaksi dengan satwa liar yang ada di sekitarnya, seperti rusa hingga kalong. Keberadaan flora dan fauna khas tropis di pulau ini menjadi nilai tambah untuk daya tarik tersendiri.

Setelah menikmati keindahan dari atas, saya melanjutkan perjalanan turun dan menikmati sisa waktu di pantai yang bersih dan tenang. Mengunjungi Pulau Padar bukan hanya sekedar berlibur, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang memberikan ketenangan dan kedamaian.

Saya sangat merekomendasikan tempat ini bagi siapa saja yang mencari destinasi untuk “healing” dan merasakan keajaiban alam yang sesungguhnya. Pulau Padar adalah permata tersembunyi di Indonesia yang siap mempesona siapa saja yang berkunjung.

Merujuk situs resmi Balai Taman Nasional Komodo, harga tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 5.000 di tengah pekan sedangkan di akhir pekan dan hari libur tiket masuknya Rp 7.500. Selain itu ada biaya tiket speedboat atau kapal motor Rp 100.000 – Rp 200.000 setiap unit per hari.

Biasanya sih tiket masuk itu sudah dalam paket wisata yang ditetapkan agen travel, yang biasanya terdiri dari sewa kapal, makan besar, snack, dan air minum.

(suc/fem)



Sumber : travel.detik.com