Tag Archives: wisata horor

Zombie ‘Bergentayangan’ di Surabaya, Hiii…



Surabaya

Surabaya punya wahana horor baru yang bisa jadi tujuan libur lebaran. Bukan sembarangan horor, kamu harus rela dikejar zombie!

Wahana Pandora Nightmare di Ciputra World Mall menawarkan sensasi horor yang bisa menjadi referensi mengisi libur Lebaran 2024, khususnya bagi generasi muda yang suka tantangan yang berbau horor.

Wahana bertema hantu yang baru pertama kali mampir ke Surabaya ini menggabungkan konsep horor dengan teknologi. Sebelum memasuki wahana, pengunjung bisa menjelajah dunia astral dengan menggunakan VR.


Selain itu, ada lebih dari 5 wahana bertema hantu yang menantang seperti ghostpedia, rumah seram, truth or dare, hingga zombie apocalyspe. Banyak cosplay hantu yang menyeramkan namun membuat penasaran di wahana ini. Mulai deak, jenglot, ondel-ondel, pocong, kuntilanak, kuyang, hingga zombie.

Creator Pandora Nightmare Festival Billy Junior mengatakan setiap wahana memiliki tantangan dan keunikan masing-masing. Seperti ghostpedia yang menawarkan pengalaman bagi pengunjung agar lebih tahu sejarah hantu populer di Indonesia, baik pocong, leak, hingga kuntilanak.

“Ghostpedia konsep hantunya kayak patung tapi bisa gerak tiba-tiba. Jadi ada kesan kaget dan seramnya di sana,” kata Billy saat ditemui detikJatim di Ciputra World Mall, Sabtu (30/3/2024).

Hantu-hantu yang ada terasa nyata dan sangat seram karena ada jump scare yang tiba-tiba mengagetkan. Pengunjung pun dibuat kaget, takut, merinding, hingga teriak histeris.

Kemudian ada wahana zombie apocalyspe dengan mengharuskan pengunjung memecahkan teka-teki sambil dikejar zombie. Lalu ada juga truth or dare yang tak kalah seram dan menantang, karena banyak menampilkan hantu-hantu asal Indonesia.

“Kalau yang paling seram truth or dare, karena hantu-hantu asal Indonesia itu lebih seram dan lebih membuat merinding. Di dalam wahana mereka diajak memecahkan teka teki seperti menyusun puzzle, mencari kunci, hingga menghidupkan saklar lampu,” jelasnya.

Ada pula wahana yang dibingkai dengan kehidupan sehari-hari membuat bulu kuduk berdiri. Seperti orang tua yang marah-marah, token listrik habis, dan potret kehidupan lainnya yang dirasa ‘seram’.

“Sebenarnya ada yang lebih seram dari hantu terkadang, biasanya terjadi di kehidupan sehari. Itu ada di wahana rumah seram,” katanya.

Wahana ini sengaja dibuka di Surabaya mulai 29 Maret sampai 12 Mei 2024 agar warga Surabaya yang tidak mudik dan bingung mau ke mana bisa mencoba sensasi wahana horor di tempat ini.

“Kami memang targetkan untuk ngabuburit karena dibuka mulai pukul 1 siang. Lalu untuk libur Lebaran, biasanya setelah silahturahmi, siang atau sorenya mereka ke Mall bisa mencoba wahana yang uji adrenalin ini,” pungkasnya.

Untuk tiket masuk wahana Pandora Nightmare Festival 2024, pengunjung bisa membeli seharga Rp 100 ribu saat weekday dan Rp 150 ribu pada akhir pekan.

***

Baca artikel selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Dulu Perumahan Elite Karyawan Bengkel Kereta, Kini Sepi dan Mencekam



Medan

Dahulu, tempat ini adalah perumahan elite milik karyawan bengkel kereta zaman Belanda di Medan. Namun kini, kondisinya sangat sepi dan mencekam.

Sepi dan mencekam adalah kesan pertama yang terlintas saat menapaki kaki di Jalan Bundaran, Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.

Padahal saat itu matahari baru sedikit condong ke arah Barat. Sejumlah rumah besar berlantai 2 tegak berdiri di areal Jalan Bundar tersebut. Rumah-rumah bernuansa kolonial Belanda itu terlihat kusam dan tidak terawat.


Ada juga rumah yang sudah hancur, tinggal dindingnya saja. Kondisi jalan yang tidak diaspal dan becek, ternyata sudah tidak bisa dilalui kendaraan lagi karena tertutup semak belukar.

Sesuai namanya, Jalan Bundar berbentuk bundar. Jika ingin menyusuri semua sisi, kita harus masuk dari Jalan Pertahanan dan dari Jalan Bengkel/Jalan Lampu.

Kondisi rumah mewah di masanya itu sudah seperti tidak terurus. Di sekitar rumah yang tidak habis dihitung dengan jari itu terlihat banyak tumbuh rumput maupun pohon yang menambah kesan horor.

Selain itu, terdapat juga rumah-rumah yang berukuran kecil yang dari kondisinya juga sudah berumur. Rumah-rumah kecil itu seperti komplek perumahan yang tersusun seperti satu blok.

Perumahan Elit Bengkel Kereta Api Kolonial Belanda di Medan (Nizar Aldi/detikcom)Perumahan Elit Bengkel Kereta Api Kolonial Belanda di Medan (Nizar Aldi/detikcom)

Dari rumah yang ada, PT KAI terlihat memiliki satu bangunan di lokasi itu yang diberi Mes Bundar. Mes itu berada di antara Jalan Bundar dengan Jalan Bengkel dan dirawat dengan baik.

Di sekitar lokasi, terdapat menara air yang cukup besar. Konon menara air tersebut digunakan sebagai penampungan air bagi perumahan karyawan bengkel kereta api di masa lalu dan saat ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Wali Kota Medan Bobby Nasution.

Menurut warga sekitar, Yusuf (63), rumah-rumah di sana sudah lapuk dan kemudian ambruk. Yusuf sendiri telah tinggal selama 40 tahun di salah satu pintu masuk ke Jalan Bundar.

“Iya hancur, lapuk tumbang,” kata Yusuf.

Banyak rumah di lokasi itu sudah tidak ditempati lagi. Yusuf tidak tahu pasti berapa jumlah rumah peninggalan kolonial Belanda di areal itu.

“Kera (hitung) aja, yang besar-besar itu, di depan ada, di sana ada,” ucapnya.

Penjelasan Sejarawan

Sejarawan Universitas Sumatera Utara (USU) M Azis Rizky Lubis mengatakan jika keberadaan perumahan elit itu awalnya diperuntukkan bagi karyawan bengkel kereta api yang ada di sekitar lokasi pada zaman kolonial Belanda.

Namun, pembangunannya tidak bersamaan dengan perusahaan kereta Deli Spoorweg Matschappij terbentuk di tahun 1886.

“Jadi memang keberadaan komplek perumahan itu tidak terlepas dari pembangunan kereta api di Kota Medan, tetapi bukan berarti ketika saat Deli Maatschappij kemudian membentuk anak perusahaan namanya Deli Spoorweg Matschappij itu (perumahan) langsung di bangun,” kata M Azis Rizky Lubis.

Rel kereta api yang menghubungkan Medan dengan Labuhan sendiri dibangun 1886. Namun komplek perumahan di Jalan Bundar baru dibangun pada 1919 saat pembentukan werkplaats atau bengkel kereta api di sekitar lokasi.

“Ketika pembangunan jalan kereta api pertama dari Medan ke Labuhan, itu pun belum ada lokasi, itu dia dibangun seiring dengan pembentukan bengkel kereta api di tahun 1919 atau dalam bahasa Belanda itu werkplaats,” ucapnya.

Bengkel kereta api tersebut hingga saat ini masih beroperasi dan diberi nama Balai Yasa KAI Pulubrayan. Keberhasilan komplek perumahan bengkel itu disebut juga diperuntukkan bagi sekolah yang ingin mengunjungi bengkel kereta api di lokasi di masa lampau.

Perumahan Elit Bengkel Kereta Api Kolonial Belanda di Medan (Nizar Aldi/detikcom)Perumahan Elit Bengkel Kereta Api Kolonial Belanda di Medan (Nizar Aldi/detikcom)

“Sehingga perumahan itu dibangun untuk karyawan-karyawan termasuk juga mess bagi sekolah perkeretaapian yang mau berkunjung ke situ,” ujarnya.

Di sekitar komplek perumahan bagi karyawan bengkel kereta api, ada juga beberapa komplek elit bagi orang Eropa. Sebab daerah itu disebut berdekatan dengan perkebunan Helvetia.

“Di sekeliling itu juga ada komplek-komplek perumahan lain yang pada umumnya didiami oleh orang Eropa, sehingga dapat dikatakan jugalah Brayan itu termasuk kawasan yang cukup elit, karena tidak jauh dari situ kan ada perkebunan Helvetia,” ujarnya.

Saat Jepang menduduki Indonesia, orang Eropa menjadi areal perumahan itu sebagai camp mengungsi. Alasannya selain karena daerah perumahan orang Eropa, lokasi itu juga dengan pelabuhan di Belawan.

“Kenapa mereka memilih basecamp-nya di situ karena di situ memang salah satu populasi orang Eropa selain yang di Polonia, karena aksesnya juga lebih dekat ke Belawan,” tuturnya.

Di awal pembangunan rel kereta api Medan-Labuhan tahun 1886, belum ada stasiun di Pulo Brayan. Saat itu masih ada semacam halte bukan stasiun seperti saat ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com