Tag Archives: wisata jakarta

Ini dia 4 Spot Foto Estetik di Halte TransJakarta



Jakarta

Halte-halte Transjakarta memiliki fasad unik dan estetik. Ini dia empat halte Transjakarta yang istimewa itu.

Meskipun sudah tidak berstatus sebagai ibu kota, Jakarta dapat dinilai sebagai salah satu Kota di Indonesia dengan akses transportasi umum yang sangat baik. Salah satu terobosan adalah sejak dioperasikannya TransJakarta atau yang dikenal dengan TiJe.

Transjakarta adalah sebuah sistem transportasi Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara dan Selatan yang beroperasi sejak tahun 2004 di Jakarta. Kini, terdapat 287 halte yang tersebar ke dalam 13 koridor. Dengan begitu TiJe berhasil dinobatkan sebagai jalur lintasan terpanjang di dunia yakni sejauh 251.2 km.


Tak hanya dirancang sebagai transportasi pendukung aktivitas Kota Jakarta yang padat, kini Halte TiJe juga bertransformasi menjadi salah satu tempat epic dengan bentuk fasad dan fasilitas yang lengkap.

Perubahan itu diklaim untuk memberikan kenyamanan bagi para penggunanya. Berkat keunikan tersebut, tak jarang spot-spot beberapa halte digunakan para wisatawan untuk sekadar menikmati pemandangan cityscape atau mengabadikan foto di sana.

Berikut detikTravel rangkum 6 spot foto estetik di fasilitas umum Jakarta bisa ditempuh hanya menggunakan TransJakarta koridor 1, yang cocok jadi spot hunting foto bikin makin kece instagrammu!

Halte Karet Sudirman

Masuk dalam 10 halte yang direvitalisasi pada tahun 2023, Halte Karet menjadi salah satu halte estetik yang perlu kamu singgahi.

Cipta karya Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta saat itu membangun JPO yang tak biasa. JPOS atau Jembatan Penyeberangan Orang dan Sepeda ini dibuat tanpa atap dan bentuk yang unik. Bentuknya bak kapal Pinisi dengan sisi kanan kiri berbentuk segitiga runcing. Bentuk tersebut terinspirasi dari Pelabuhan Sunda Kelapa.

Halte ini juga tak beratap dengan alasan agar para penggunanya dapat melihat bebas pemandangan Kota Jakarta secara luas. Dengan dominasi warna coklat dan hitam, halte ini cocok dengan segala jenis outfit yang kamu gunakan.

Sayangnya, saat hujan dan panas sangat terik, pengguna harus merasakan langsung karena halte ini tidak dilengkapi dengan atap.

Tak perlu khawatir jika kamu hanya memiliki waktu malam hari untuk ke sana, karena halte ini juga dilengkapi dengan lampu-lampu dekoratif yang membuat pemandangan halte ini semakin ciamik.

Jika berkunjung ke sini jangan lupa untuk naik ke daerah anjungan yang berada di atas untuk memotret dengan latar jalan dan gedung tinggi di sekitarnya.

Halte Dukuh Atas

Halte Dukuh Atas 1. (Fathia Nabila Qonita/detikcom)Halte Dukuh Atas 1. (Fathia Nabila Qonita/detikcom)

Selanjutnya adalah Halte Dukuh Atas. Berbeda dengan halte sebelumnya, untuk memotret foto yang epik traveler perlu menuju skydeck nya yang berada di lantai 2. Dengan bentuk gelombang asimetris yang dipadukan dengan warna krem serta coklat menciptakan kesan yang hangat dan minimalis.

Dengan pemandangan gedung-gedung tinggi di sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta. Lokasi ini cocok bagi traveler yang ingin mencari lokasi foto anti mainstream dengan pemandangan modern khas Kota Jakarta.

Saat ini Halte Dukuh Atas juga dihiasi oleh karya Van Gogh dengan corak dominan warna biru dihiasi berbagai bunga di bagian atas membuat halte ini terlihat cantik dan estetik untuk spot berfoto.

Halte GBK

Halte ini memiliki ikon yang cukup unik, yakni batang pohon yang berada di dalam halte. Tak memilih untuk menebangnya, pihak TransJakarta justru memilih melubangi atapnya dan memberikan kaca di sekeliling batang pohon.

Tak hanya itu, halte ini juga terintegrasi dengan JPO yang memiliki bentuk yang unik dan estetik. JPO nya dikelilingi oleh atap cincin berbentuk segiempat yang disusun memutar. Bukan tanpa makna, bentuk ‘gelora’ ini merupakan simbolisasi dari gejolak dan semangat bangsa Indonesia untuk terus maju dan berkembang. Hal tersebut juga menjadi representasi dari semangat olahraga yang menjadi ciri khas kawasan area senayan dan GBK.

Bentuk JPOnya yang unik membuat halte ini kerap dijadikan spot foto yang instagramable bagi semua kalangan.

Halte Bundaran HI

Warga berfoto di anjungan Halte Bundaran HI, Jakarta, Minggu (8/1/2023).Warga berfoto di anjungan Halte Bundaran HI, Jakarta (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Halte ini menjadi salah satu halte viral yang tak pernah sepi pengunjung. Selain lokasinya yang berada dekat dengan pusat-pusat perbelanjaan besar di Jakarta, Halte Bundaran HI juga memiliki skydeck dengan pemandangan Bundaran HI dari ketinggian.

Lokasi skydeck nya berada di lantai 2, untuk menuju ke sana traveler perlu melakukan tap-in menggunakan kartu elektronik. Selain bisa berfoto dengan pemandangan Bundaran HI, dari atas sana juga terlihat pemandangan epik cityscape gedung-gedung tinggi Jakarta.

Setelah puas berfoto, traveler bisa membaca kisah di balik proses revitalisasi Halte Bundaran HI dan kisah tentang patung selamat datang yang ada di Bundaran HI.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Bekas Rumah Laksamana Muda Maeda yang Kini Jadi Munasprok



Jakarta

Wisata sejarah di Jakarta begitu berlimpah. Salah satunya adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok). Mari simak kisah bekas rumah Laksamana Maeda!

Di tempat ini, traveler bisa napak tilas tentang perencanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang digaungkan oleh para tokoh Indonesia kala itu.

detikTravel mengunjungi bekas kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda yang terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat. Laksamana Muda Maeda berperanan penting dalam perumusan proklamasi kemerdekaan Indonesia.


Ia memberikan izin kepada Ir. Sukarno dan tokoh lainnya untuk menggunakan rumah tersebut sebagai tempat untuk merumuskan naskah proklamasi. Rumah dengan luas sekitar 1.138 meter persegi dan terdiri dari dua lantai ini memberikan banyak informasi terkait proses tersebut.

Di lantai dasar terdapat beberapa ruangan penting yang dipakai pada saat itu seperti meja yang dipakai oleh Laksamana Muda Maeda beserta Ir. Sukarno dan yang lainnya untuk membahas naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

“Bangunan ini terdiri dari dua lantai, nah lantai satu itu kita sebut ada empat ruangan utama dan lantai dua sebenarnya lebih kepada fungsinya. Jadi semua proses perumusan naskah proklamasi itu terjadi di lantai satu,” kata educator Munasprok Aidil Fitra kepada detikTravel, Rabu (22/5/2024).

Museum Naskah ProklamasiMuseum Naskah Proklamasi Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Sembari menerangkan dan menjelajahi ruangan demi ruangan, Aidil menjelaskan pada saat Laksamana Muda Maeda menempati bangunan ini, lantai dua memang jadi area privat sang Laksamana Jepang saat itu. Berbeda dengan lantai satu yang areanya banyak disambangi oleh kolega dan tamu-tamunya pada saat itu.

Dalam museum ini pengunjung juga bisa merasakan dan melihat bagaimana proses demi proses para tokoh bangsa dalam merumuskan naskah proklamasi, terlebih saat berada di lantai satu museum.

“Ruangan di lantai satu itu memang memang kita atur ruangan-ruangannya berdasarkan tempat-tempat yang menjadi urutan peristiwanya itu seperti ini ruang tamu atau ruang pertemuan,” kata Aidil.

Kemudian dilanjut ke ruang perumusan, di sinilah ketiga tokoh nasional ini merumuskan naskah, ada Ir. Sukarno, Moch. Hatta, dan Ahmad Soebardjo.

Di ruang makan ini terdapat meja makan yang kerap dipakai oleh Laksamana Muda Maeda, karena Ir. Sukarno meminta ruangan khusus untuk merumuskan naskah maka meja makan ini pun jadi ruang khususnya.

“Jadi naskah proklamasi itu memang dibuat di atas meja makannya Tadashi Maeda,” ujar dia.

Museum Naskah ProklamasiMuseum Naskah Proklamasi Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Aidil melanjutkan dari peristiwa di meja makan ini, Laksamana Maeda lantas meninggalkan ketiga tokoh ini ke ruangannya untuk beristirahat. Jadi tak ada campur tangan pihak lain dalam perumusan naskah ini, Laksamana Muda Maeda hanya memberikan ruangannya saja.

Sambil bercerita, Aidil pun mengarahkan menuju ruangan di mana teks proklamasi yang telah ditulis oleh Ir. Sukarno diketik ulang oleh Sayuti Melik di ruangan ini. Ia pun menceritakan peristiwa pengetikan ini.

Setelah selesai mengetik ulang naskah tersebut, Sayuti Melik pun lantas membuang teks berupa tulisan tangan Ir. Sukarno terkait proklamasi.

Di sinilah peran penting BM. Diah, ia mengambil dan menyimpan tulisan asli tersebut hingga saat ini bisa diketahui tulisan asli Ir. Sukarno pada naskah proklamasi.

Dilanjut ke ruangan keempat adalah ruang pengesahan. Walaupun tempat ini disebut demikian, Aidil menyebut sebetulnya naskah proklamasi ditandatangani di atas piano yang yang berada di area ruangan ini. Hingga pada akhirnya ruangan ini disebut ruang pengesahan.

“Karena memang naskah proklamasi itu ditandatangani di atas piano. Jadi karena pianonya terletak di bagian ruangan ini jadi kita sebut dengan ruang pengesahan,” kata Aidil.

Museum Naskah ProklamasiMuseum Naskah Proklamasi Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Bangunan ini resmi dijadikan sebagai museum pada tahun 1992, sementara Laksamana Muda Maeda terakhir menempati rumah dinasnya ini pada tahun 1945. Dan saat itupun Indonesia menerima bangunan ini kembali dalam keadaan yang kosong alias tak ada perabotan sama sekali.

Pada saat itulah untuk kembali mengingat peristiwa-peristiwa bersejarah ini, pemerintah saat ini mendatangkan mantan asisten rumah tangga Laksamana Muda Maeda yang bernama Satsuki Mishima. Itu untuk memberikan gambaran tata letak dan furniture yang ada pada saat Laksamana Muda Maeda menempati bangunan ini.

“Nah jadi waktu pengkajian untuk dijadikan museum, tentunya kita butuh sumber utama untuk kita jadikan rujukan jadi ketika itu kita sempat mendatangkan mantan asisten rumah tangga Maeda namanya Nyonya Satsuki Mishima itu didatangkan langsung dari Jepang,” ujar Aidil.

“Jadi koleksi yang ada di lantai satu semua (barangnya) replika. Replika tapi sesuai dengan bentuk aslinya berdasarkan dari arahan Nyonya Satsuki Mishima tadi,” ujar dia.

Itulah jejak-jejak peristiwa bersejarah yang berada di Munasprok. Banyak informasi yang akan kamu tahu tentang perumusan naskah proklamasi jika berkunjung ke tempat ini.

Dengan harga tiket masuk yang murah hanya Rp 1.000 untuk anak-anak dan Rp 2.000 untuk dewasa, kamu sudah bisa merasakan bagaimana suasana bersejarah ini.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

22 Tempat Wisata Modern di Jakarta Ini Patut Kamu Kunjungi


Jakarta

Jakarta penuh dengan tempat wisata yang bisa memuaskan penduduk Jakarta maupun traveler yang sedang berkunjung. Jakarta yang terus berbenah dan berkembang pun menjadi kaya akan tempat wisata modern.

Sebagian dari tempat wisata modern tersebut sudah berdiri sejak lama dan terus diperbarui. Ada juga yang baru muncul akhir-akhir ini.

Banyaknya destinasi wisata modern di Jakarta membuat detikers tak akan kehabisan tempat untuk dikunjungi.


Tempat Wisata Modern di Jakarta

Berikut beragam tempat wisata modern di Jakarta yang seru untuk dikunjungi. Perlu diingat, jam operasional dan harga tiket masuknya dapat berubah sewaktu-waktu.

1. Hutan Kota GBK

Warga mengunjungi Hutan Kota GBK, Jakarta, Selasa (25/4/2023) di hari terakhir cuti bersama.Foto: Andhika Prasetia

Mengutip situs resmi Kementerian Sekretariat Negara, dulunya Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK) merupakan area komersil, yaitu Senayan Golf Driving Range seluas 4,5 hektar. Pada tahun 2016, tempat ini disulap menjadi area hijau terbuka di tengah Jakarta.

Visinya adalah menjadikan Hutan Kota GBK sebagai kawasan olahraga terintegrasi, modern, ramah lingkungan, dan unggul di dunia.

Hutan Kota GBK beralamat di Pintu Tujuh Senayan, Jalan Jenderal Sudirman, RT.1/RW.3, Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Hutan Kota GBK buka dari hari Selasa hingga Minggu, pukul 06.00 sampai 10.00. Lalu buka lagi dari pukul 15.00 sampai 18.00.

Masuk ke sini pun gratis, lho. Detikers bisa menjadikan Hutan Kota GBK sebagai tempat menghirup udara segar di tengah hiruk pikuk kota Jakarta.

2. Taman Ismail Marzuki

Taman Ismail Marzuki: Sejarah, Lokasi, Fasilitas, Cara BerkunjungFoto: Rifkianto Nugroho

Taman Ismail Marzuki kerap mengadakan berbagai macam acara kesenian dan kebudayaan sehingga cocok bag detikers yang ingin berwisata sambil mengapresiasi seni dan budaya.

Pengunjung juga bisa menikmati berbagai fasilitas, seperti perpustakaan dan wisma seni, teater halaman, sampai planetarium.

Letak Taman Ismail Marzuki yang biasa disebut TIM ini adalah di Jalan Cikini Raya No. 73, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut akun Instagram resminya, Taman Ismail Marzuki buka setiap hari dari pukul 09.00 sampai 20.00. Biaya masuk pun gratis dan tanpa registrasi, kecuali untuk acara-acara tertentu.

3. Taman Suropati

Taman Suropati, Menteng, JakartaFoto: Natasha Kayla Ananta/detikcom

Destinasi wisata modern Jakarta selanjutnya adalah Taman Suropati yang bisa jadi tempat jogging, bersepeda, atau sekadar berkumpul dengan teman sambil menikmati udara segar serta pemandangan tanaman dan hamparan rumput hijau.

Mengutip Jakarta Tourism, taman ini juga semakin hidup karena kehadiran berbagai komunitas. Komunitas seni dan olahraga adalah dua kelompok utama yang sering menggunakan taman ini sebagai tempat berkumpul.

Lokasi Taman Suropati adalah di Jalan Taman Suropati No. 5, RT.5/RW.5, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

Taman Suropati terbuka untuk umum secara gratis dan dibuka dari jam 07.00 sampai 17.00.

4. Taman Patung Diponegoro

Taman Patung Diponegoro, Jakarta, tampak dirawat dengan baik. Taman ini indah dan asri serta banyak dihuni oleh kupu-kupu.Foto: Agung Pambudhy

Tak jauh dari Taman Suropati, terdapat satu taman lain, yaitu Taman Patung Diponegoro.

Taman Patung Diponegoro adalah taman tematik berukuran kecil yang dikelilingi oleh tanaman warna-warni serta jalur jalan kaki yang kecil. Di tengah taman berdiri patung ikonik, yaitu patung perunggu Pangeran Diponegoro berkuda.

Taman ini juga memiliki kolam biru kecil tepat di bawah patung. Lokasinya yang kecil membuat taman ini jadi tempat bersinggah saja, tetapi tetap bisa menjadi spot foto yang menarik. Taman ini terletak di Jalan Imam Bonjol No.1, RT.5/RW.5, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat.

5. Taman Margasatwa Ragunan

Suasana Ragunan di long weekend (Taufiq Syarifudin/detikcom)Foto: Taufiq Syarifudin/detikcom

Taman zoologi ini dikenal juga dengan Kebun Binatang Ragunan. Awalnya dibangun pada tahun 1864 di Cikini, taman ini kemudian pindah ke Ragunan pada tahun 1964.

Dengan area seluas 147 hektar, kebun binatang ini menjadi rumah bagi lebih dari 2000 hewan dari Indonesia dan seluruh dunia, mewakili lebih dari 270 spesies. Taman ini juga ditumbuhi lebih dari 20.000 pohon.

Taman Margasatwa Ragunan terletak di Jalan Harsono RM. No. 1, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Taman ini buka setiap hari kecuali hari Senin dari jam 07.00 sampai 16.00.

Harga tiket masuknya pun sangat terjangkau. Menurut situs resminya, harga tiket masuk orang dewasa adalah Rp 4000 per orang. Sementara anak-anak cukup membayar Rp 3000 per orang untuk tiket masuk.

6. Senayan Park

Pengunjung melihat pemandangan dari Skywalk Senayan Park, Jakarta, Senin (27/12/2021). Kawasan tersebut menjadi salah satu objek wisata ibu kota yang ramai dikunjungi oleh warga dengan menyajikan pemandangan lanskap perkotaan. ANTARA FOTO/Fauzan/hp.Foto: ANTARA FOTO/FAUZAN

Senayan Park adalah mall yang bisa jadi tujuan detikers yang suka wisata belanja dan kuliner. Mall yang disingkat Spark ini juga hits karena memiliki skywalk yang estetik di rooftopnya.

Mengutip situs resminya, 60% dari total area Spark adalah area outdoor. Terdapat juga danau di mana pengunjung bisa menikmati sunset di tengah-tengah kota.

Lokasi Senayan Park adalah di Jalan Gerbang Pemuda No.3, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mall ini buka dari jam 10.00 hingga 22.00.

7. Playtopia Adventure Senayan Park

Biasanya Playtopia adalah area bermain untuk anak. Tetapi di Playtopia Senayan Park, orang dewasa pun bisa ikut bermain, lho. Playground ini terletak di lantai 1 Mall Senayan Park. Jika detikers mencari playground untuk tempat bermain sekeluarga, tempat wisata yang satu ini patut dikunjungi.

Menurut akun Instagram resminya, harga tiket masuk Playtopia Adventure Senayan Park adalah Rp 150.000 dari hari Senin sampai Kamis, dan Rp 180.000 untuk hari Jumat sampai Minggu dan hari libur nasional. Harga ini berlaku untuk bermain selama 2 jam.

8. Tebet Eco Park

Suasana Tebet Eco Park (Taufiq/detikcom)Foto: Taufiq/detikcom

Tebet Eco Park adalah taman kota yang cukup baru. Menurut situs resminya, taman ini mengusung konsep harmonisasi antara fungsi ekologi, sosial, edukasi dan rekreasi.

Terdapat 8 zona di Tebet Eco Park, semuanya dirancang untuk mengambil peran penting dalam keberlangsungan lingkungan dan interaksi sosial, mulai dari menjaga kualitas alamiah lingkungan hingga meningkatkan kualitas hidup pengunjung dan masyarakat sekitarnya.

Tebet Eco Park terletak di Jalan Tebet Barat Raya, RT.1/RW.10, Tebet Bar., Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Waktu beroperasinya setiap hari dari pukul 06.00 sampai 11.00, lalu dari pukul 13.00 sampai 18.00. Masuk ke taman ini tak dipungut biaya.

9. Mall Taman Anggrek

Pengunjung mal harus sudah divaksin di Mall Taman AnggrekFoto: Karin Nur Secha/detikcom

Mall Taman Anggrek menjadi alternatif destinasi wisata bagi yang suka berbelanja. Tak hanya tenant untuk berbelanja, mall ini juga memiliki daya tarik berupa tempat ice skating yang bisa dinikmati sekeluarga atau bersama teman.

Mall Taman Anggrek terletak di Jalan Letjen S. Parman No.Kav 21, RT.12/RW.1, Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.

Menurut akun Instagram resminya, waktu beroperasinya adalah setiap hari dari pukul 10.00 hingga 22.00.

10. Taman Kota Cattleya

Setelah puas berbelanja di Mall Taman Anggrek, Taman Kota Cattleya bisa menjadi destinasi wisata selanjutnya.

Taman ini dapat digunakan sebagai tempat hang out, berfoto, jogging, hingga sarana rekreasi keluarga. Pengunjung bisa menikmati berbagai jenis tanaman hias dan pohon yang tumbuh di sekitar taman, sehingga taman ini juga jadi tempat hunting foto yang Instagrammable.

Letak Taman Kota Cattleya adalah persis di seberang Malll Taman Anggrek, lebih tepatnya di Jalan Letjen S. Parman RT.15/RW.1, Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat. Taman ini buka dari pukul 07.00 hingga 22.00.

11. TWA Mangrove Angke Kapuk

mangroveFoto: Wahyu/detikTravel

Taman Wisata Alam (TWA) Mangrove Angke Kapuk adalah kawasan konservasi mangrove yang juga berfungsi sebagai tempat wisata dan rekreasi alam. Tak hanya konservasi mangrove, ada berbagai fauna yang bisa ditemukan di TWA Mangrove Angke Kapuk ini.

Pengunjung juga bisa menikmati wisata air dan bahkan mengikuti aktivitas penanaman dan konservasi mangrove.

Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk beralamat di Kamal Muara, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Menurut situs resminya, jam operasionalnya adalah pukul 09.00 sampai 17.00 untuk hari kerja dan pukul 08.00 sampai 17.00 di akhir pekan.

Untuk harga tiket, orang dewasa dikenakan biaya Rp 30.000 per orang pada hari kerja, dan Rp 35.000 per orang pada akhir pekan dan hari libur nasional. Bagi anak-anak, harga tiketnya sebesar Rp 15.000 per orang untuk hari kerja dan Rp 20.000 per orang pada akhir pekan dan hari libur nasional.

12. Setu Babakan

Perkampungan Budaya Betawi di Setu Babakan, Jakarta, menjadi wisata edukasi mengenai sejarah Betawi. Yuk lihat.Foto: Muhammad Lugas Pribady

Setu Babakan bisa menjadi alternatif destinasi wisata bagi pengunjung yang suka mempelajari budaya, khususnya budaya Betawi.

Mengutip situs resminya, di sini pengunjung bisa berinteraksi dengan budaya Betawi melalui kesenian, adat istiadat, pakaian, hingga kuliner yang bisa ditemukan di kampung budaya ini. Wilayah Setu Babakan juga memiliki 2 danau yang menjadi sarana wisata air.

Setu Babakan terletak di Jalan RM. Kahfi II, RT.13/RW.8, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jam operasionalnya dari pukul 08.00 hingga 17.00 setiap hari. Tak ada tiket masuk untuk mengunjungi tempat wisata ini.

13. Pos Bloc

Empat warga bersantai di kawasan Gedung Filateli Pos Bloc, Jakarta, Senin (11/3/2024). Berdasarkan keputusan Gubernur DKI Jakarta Nonor 475 Tabun 1993, Gedung Filateli Jakarta telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan digunakan sebagai ruang kreatif dan tempat nongkrong yang bernama Pos Bloc. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/wpa.Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Pos Bloc cocok jadi tempat hang out dengan estetika yang unik. Sebab, tempat ini memanfaatkan Gedung Pos yang dialihfungsikan menjadi ruang publik. Terdapat berbagai kedai makanan dan tempat nongkrong yang bisa jadi pilihan anak muda.

Alamat Pos Bloc yakni berada di Jl. Pos No. 2, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Berdasarkan akun Instagram resminya, Pos Bloc beroperasi dari pukul 10.00 sampai 22.00 pada hari kerja dan pukul 07.00 sampai 24.00 pada akhir pekan. Tidak ada tiket masuk untuk nongkrong di tempat wisata yang satu ini.

14. Neo Soho

Neo Soho adalah shopping center modern yang cocok sebagai destinasi wisata belanja dan kuliner. Mall ini memiliki 8 lantai yang penuh dengan tenant untuk shopping, entertainment, kuliner, dan lain-lain.

Neo Soho terletak di Jalan Let. Jend. S.Parman Kav. 28, Kel. Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Berdasarkan akun Instagram resminya, waktu beroperasi Neo Soho adalah dari pukul 10.00 hingga 22.00.

15. Jakarta Aquarium Safari

Pengunjung beraktivitas di Jakarta Aquarium & Safari, Jakarta, Sabtu (25/5/2024).Foto: Rifkianto Nugroho

Jakarta Aquarium Safari adalah akuarium indoor terbesar di Indonesia. Mengutip situs resminya, pengunjung bisa melihat lebih dari 3500 spesies hewan akuatik dan non-akuatik. Pengunjung bahkan bisa berinteraksi langsung dengan hewan-hewan tersebut.

Pengunjung juga bisa menikmati pertunjukan dan atraksi hewan. Terdapat juga restoran serta gift shop untuk kenang-kenangan.

Jakarta Aquarium Safari terletak dalam Mall Neo Soho, tepatnya di Podomoro City Floor. Jam operasionalnya adalah dari pukul 10.00 hingga 21.00 setiap harinya.

Tiket masuk ke Jakarta Aquarium Safari berbeda-beda tergantung hari dan fasilitas reguler dan premium yang bisa didapatkan. Harga tiketnya dimulai dari Rp 142.500 untuk orang dewasa dan Rp 109.250 untuk anak-anak.

16. Museum Macan

Museum MACANFoto: Chelsea Olivia/detikcom

Museum Macan merupakan singkatan dari Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara. Museum ini menyimpan berbagai karya seni modern dan kontemporer yang memanjakan mata.

Museum Macan terletak di AKR Tower Level M, Jalan Panjang No.5, Kb. Jeruk, Kec. Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Menurut situs resminya, waktu operasionalnya adalah hari Selasa sampai Minggu, mulai pukul 10.00 hingga 18.00. Harga tiket berbeda-beda tergantung pameran yang sedang diselenggarakan.

17. Moja Museum

Museum MOJA di GBK.Foto: @mojamuseum/Instagram

Moja Museum merupakan salah satu wisata malam di Jakarta Pusat. Museum ini mengusung konsep yang kekinian dengan 14 ruangan warna-warni yang dijelajahi dengan menggunakan sepatu roda.

Alamatnya yaitu di Zona Biru 8-9, RT.1/RW.3, Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Mengutip situs resminya, harga tiket setiap ekshibisi berbeda-beda serta tergantung hari, dimulai dari Rp 125.000. Jam operasional Moja Museum dari Senin sampai Minggu mulai pukul 11.00 sampai 19.30.

18. M Bloc Space

Ruang publik M Bloc Space telah kembali dibuka untuk umum. Salah satu tempat nongkrong milenial ini sebelumnya ditutup imbas pandemi COVID-19.Foto: Grandyos Zafna

Tempat wisata modern di Jakarta selanjutnya adalah M Bloc Space yang juga penuh mural dan karya seni. Tempat ini juga terkadang menjadi tempat diselenggarakannya berbagai event, mulai dari talk show sampai konser live music.

M Bloc Space terletak di Jalan Panglima Polim Nomor 37, RW 1, Melawai, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut akun Instagram resminya, M Bloc Space beroperasi dari jam 09.00 sampai 24.00 setiap hari. Tetapi, waktu beroperasi tenant F&B di sini bisa berbeda-beda.

19. Museum Bahari

Jelajahi Sejarah Jakarta di Museum BahariFoto: Tiara Rosana/detikcom

Menurut situs resmi Asosiasi Museum Indonesia, Museum Bahari menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Misalnya, terdapat koleksi perahu tradisional beragam bentuk hingga miniatur kapal-kapal modern.

Museum Bahari terletak di Jalan Pasar Ikan No.1, RT.11/RW.4, Penjaringan, Kec. Penjaringan, Jakarta Utara.

Menurut akun Instagram resminya, harga tiket masuk Museum Bahari bagi orang dewasa adalah Rp 10.000 pada hari kerja dan Rp 15.000 pada akhir pekan. Bagi pelajar dan mahasiswa, harga tiket masuknya adalah Rp 5000 per orang setiap harinya.

Museum Bahari tutup pada hari Senin dan beroperasi setiap hari Selasa hingga Minggu, pukul 08.00 sampai 15.00.

20. Sarinah

Kondisi Sarinah malam iniFoto: Dwi/detikcom

Tempat wisata modern di Jakarta selanjutnya adalah Sarinah, destinasi perbelanjaan dan kuliner di Jakarta Pusat. Menurut situs resminya, Sarinah adalah department store modern pertama di Indonesia yang beroperasi sejak tahun 196.

Di sini pengunjung bisa melihat eskalator pertama di Indonesia, lho. Turis lokal dan mancanegara juga bisa membeli berbagai produk buatan lokal, mulai dari busana hingga pajangan rumah.

Alamat Sarinah yakni di Jalan M. H. Thamrin 11, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Sementara waktu beroperasinya adalah pukul 07.00 sampai 22.00, dikutip dari akun Instagram resminya.

21. Taman Mini Indonesia Indah

Sejumlah wisatawan mengantre menaiki kendaraan pengantar ke anjungan-anjungan provinsi dan museum di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat (12/4/2024). Pada hari ketiga lebaran, TMII diprediksi dipadati lebih puluhan ribu orang wisatawan yang akan datang.Foto: Grandyos Zafna

Menurut situs resminya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) diresmikan pada tahun 1975 sebagai kawasan pelestarian dan pengembangan budaya bangsa. Keragaman provinsi-provinsi di Indonesia dikemas dalam bentuk miniatur kepulauan Nusantara dan berbagai anjungan daerah.

Alamat TMII yakni di Jalan Raya Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. TMII beroperasi setiap hari dari pukul 06.00 sampai 20.00. Harga tiketnya adalah Rp 35.000 per orang.

22. Central Park

Menurut situs resminya, Central Park diresmikan pada tahun 2009 sebagai bagian dari Integrated Mega Projects Podomoro City. Mall ini memiliki beragam tenant untuk shopping, entertainment, dan kuliner yang bisa memuaskan keinginan pengunjung.

Central Park terletak di Jalan Letjen S. Parman No.Kavling 28, Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Jam operasionalnya dari pukul 10.00 hingga 22.00.

Jakarta memiliki tempat wisata modern yang tak habis-habisnya. Apakah detikers tertarik mengunjungi tempat-tempat wisata di atas?

(fds/fds)



Sumber : travel.detik.com

Ada Luka dan Makna Filosofis di Monumen Tragedi 12 Mei 1998 Universitas Trisakti



Jakarta

Menjulang kokoh di depan Universitas Trisakti (Usakti), Monumen Tragedi 12 Mei 1998 menjadi simbol pergolakan sejarah bangsa. Lebih dari sekadar tugu peringatan, monumen ini memancarkan filosofis yang mendalam tentang makna reformasi dan perjuangan demokrasi.

Di balik megahnya arsitektur karya Muchrifin, ST dan ir. Mohammad Deny Hermawan monumen itu menyimpan luka mendalam tragedi Mei 1998. Empat mahasiswa Universitas Trisakti yang gugur ditembak aparat keamanan.

Monumen itu berdiri sebagai pengingat akan kekejaman dan pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi, sekaligus menjadi luka bangsa yang tak boleh terlupakan.


detikTravel menyusuri gedung dan jejak sejarah di kawasan Grogol, Jakarta Barat itu bersama Keluyuran Ngopi Jakarta. Dalam penjelajahan itu, disampaikan pula makna filosofis Monumen Tragedi 12 Mei 1998.

Berikut 6 makna filosofis dari Monumen Tragedi 12 Mei 1998:

4 pilar gambarkan jumlah korban

Pada monumen tersebut terdapat 4 buah pilar pipih yang menggambarkan jumlah korban asal Universitas Trisakti yang meninggal dunia dari peristiwa tersebut. Korban-korban tersebut ialah yakni Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan.

Memiliki pilar dengan tinggi 10-12 meter

Tinggi pada pilar-pilar tersebut juga dibuat berbeda-beda mulai dari 10-12 meter. Tinggi pilar itu menggambarkan runtutan tanggal peristiwa yang terjadi mulai tanggal 10 Mei 1998 dan puncaknya yang terjadi pada 12 Mei 1998 yang membuat keempat korban mahasiswa asal Usakti ini meninggal dunia.

Kerusuhan berlanjut hingga tanggal 13-15 Mei 1998 yang bahkan membuat Kota Jakarta pada saat itu lumpuh total.

Lubang pada setiap pilar, simbol luka peluru

Dalam setiap pilar yang kokoh tinggi menjulang itu, terdapat bagian-bagian yang berlubang dengan posisi yang berbeda beda. Sebagian berada pada atas dan tengah pilar, hal ini menggambarkan posisi luka tembakan dari para korban.

Lubang-lubang tersebut juga menyimbolkan luka dari tembakan peluru aparat yang menembus tubuh dari para korban.

“Ada bagian dimana itu seperti peluru, ya memang itu disimbolkan sebagai peluru yang menembus tubuh mereka,” Kata Rey, salah satu guide dari Ngopi di Jakarta.

Terdapat 98 batu pada alas monumen dan 5 sisi pada setiap pilarnya

Pada monumen tersebut terdapat 98 buah batuan pada bagian alasnya. Jumlah batuan tersebut menggambarkan tahun kejadian peristiwa kerusuhan yakni 1998. Selain itu pada setiap pilar nya terdapat 5 sisi yang menggambarkan bulan kejadian yakni bulan Mei.

Bongkahan balok yang menggambarkan suasana kerusuhan

Pada bagian bawah terdapat balok-balok yang disusun secara abstrak. Menurut Rey, balok tersebut menggambarkan bongkahan sisa-sisa bangunan yang rubuh karena kerusuhan tersebut.

“Bagian-bagian di bawah ini sebagai bentuk kekacauan yang terjadi. Jadi bangunan-bangunan yang ada itu rubuh dengan balok-balok batu yang berserakan,” kata Rey.

Ujung pilar yang runcing

Setiap pilar memiliki ujung pada bagian atas yang semakin meruncing dengan posisi bagian puncak yang miring. Itu menggambarkan perjuangan mereka yang telah terhenti karena telah gugur, namun perjuangan itu dapat terus dilanjutkan oleh seluruh masyarakat Indonesia yang masih hidup.

“Kalau dia lancip ke atas kan masih bisa diteruskan, jadi perjuangan dia sudah berakhir tapi cita-cita reformasi itu terus berlanjut. Jadi itu filosofis dari monumen ini,” kata Sofyan yang juga merupakan guide dari Ngopi di Jakarta.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Mengenal Salak Khas Jakarta yang Langka di Cagar Buah Condet



Jakarta

Maskot Jakarta ternyata bukan hanya ondel-ondel dan Monumen Nasional (Monas). Ternyata, di masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin salak condet menjadi salah satu ikon kota ini.

Salak condet ditetapkan sebagai maskot Jakarta karena keberadaannya yang langka dan hanya ada di kota ini.

Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1796 Tahun 1989, yang menyebutkan penetapan salak condet (Salacca zalacca) dari jenis flora dan burung elang bondol (Haliastur indus) dari jenis fauna sebagai identitas atau maskot Jakarta.


Saat ini, salak condet memang sudah jarang untuk ditemui di pasar-pasar bahkan boleh dibilang sulit untuk menjumpainya, tak seperti jenis salak lainnya, seperti salak pondoh. Pusat budidaya salak condet pun satu-satunya hanya terdapat Agrowisata Cagar Buah Condet di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Cagar Buah Condet menjadi titik terakhir perkebunan buah asli Jakarta ini, keberadaannya yang langka membuat tempat ini begitu spesial. Karena masyarakat bisa langsung melihat dan merasakan bagaimana kekhasan buah dengan kulit bersisik ini.

Di Cagar Buah Condet terdapat ribuan pohon salak dan beberapa pohon salak di sini telah berumur puluhan tahun. detikTravel berkesempatan untuk menyambangi kebun salak ini, Selasa (28/5/2024).

Kebun yang luasnya kurang lebih 3,5 hektar itu tak hanya ditanami pohon salak saja tetapi terdapat beberapa pohon lainnya seperti Duku Condet (yang sama-sama buah khas Jakarta), pohon buah kecapi, durian, alpukat, buni, dan masih banyak lainnya.

Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Tentunya yang menjadi fokus agrowisata ini adalah pohon salak condet dan duku conder. Dua buah itu merupakan buah endemik yang hanya ada di Kota Jakarta. Menyoal rasa, memang salak condet memiliki rasa unik dan berbeda dengan jenis salak lainnya.

Syahrudin, koordinator petugas di Cagar Buah Condet, menyebutkan terdapat rasa yang khas dari salak condet. Dia menerangkan kalau rasa buahnya memiliki rasa yang berbeda-beda dengan sensasi rasa kesat yang minim.

“Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

Rasa penasaran pun hadir untuk mencoba buah Salak Condet ini, namun sayang pohon salak condet saat detikTravel sambangi belum semuanya berbuah. Hanya beberapa pohon saja yang sudah mulai berbuah dan belum matang, Syahrudin pun memberikan salak condet yang tingkat kematangannya baru 40% untuk menghilangkan rasa penasaran.

Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Terpikir sejenak buah salak yang belum matang maksimal pasti memiliki rasa yang super asam dengan rasa pahit dan kesat. Tapi ternyata saat mencicipi, salak condet yang belum matang maksimal itu memiliki rasa yang dominan manis.

Untuk kamu warga Jakarta yang penasaran dengan buah asli kota ini bisa langsung datang untuk melihat dan mencicipi jika sudah ada yang berbuah. Syahrudin menjelaskan tak bisa memastikan kapan pohon-pohon salak ini berbuah karena tergantung cuaca, ia hanya bisa memperkirakan panen Salak Condet akan tiba pada akhir tahun nanti.

“Ya paling ini sekitar enam bulan dari sekarang dah,” ujar Syahrudin.

Agrowisata Cagar Buah Condet

Jam Operasional : Buka setiap hari, pukul 07.00 – 16.00 WIB

Tiket Masuk : Gratis

Lokasi : Jalan Kayu Manis No. 37, RT 7/RW 5, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cagar Buah Condet, Benteng Terakhir Salak Condet Khas Jakarta



Jakarta

Salak condet merupakan buah asli Jakarta, tetapi justru semakin langka dan sulit ditemukan. Agrowisata Cagar Buah Condet yang masih membudidayakannya.

Sejak dulu pamor salak condet sudah masyhur, khususnya di kawasan Jakarta. Namun, yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah tak banyak tempat yang membudidayakan buah tersebut.

Kini, salak condet hanya terdapat di Agrowisata Cagar Buah Condet yang terletak di Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur. Berada di tengah perkampungan padat, kebun salak itu memang tak tampak dari jalanan.


Pengunjung perlu jeli untuk menemukan pintu masuk kebun salak tersebut. Setelah berhasil masuk ke kawasan itu, jangan heran jika belum melihat secara langsung pohon-pohon salak.

Sedikit menuruni beberapa anak tangga, di situlah tempat pohon-pohon buah khas Jakarta itu bertempat. Sekitar 3,5 hektar luas kebun ini penuh dengan pohon-pohon berduri, salak condet-lah yang jadi bintang utamanya agrowisata itu.

Karena penasaran dengan salak condet, detikTravel pun menyambangi dan menjelajahi kebun yang luas itu pada Selasa (28/5/2024). Sejauh mata memandang terlihat pohon-pohon berduri di sekeliling, namun tak terlihat sedikit pun tanda-tanda buah salak condet yang muncul.

Setelah masuk lebih dalam lagi di area perkebunan ini, tampaklah tiga orang petugas yang sedang ngaso. Dari tiga orang petugas itu di antaranya adalah Bapak Syahrudin, yang merupakan koordinator petugas di Agrowisata Cagar Buah Condet.

Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Budidaya salak condet di di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Bersama Syahrudin, detikTravel diajak berkeliling melihat-lihat pepohonan yang ada di Cagar Buath Condet. Selain buah salak, di tempat ini ternyata memiliki beberapa pohon-pohon buah yang sudah jarang ditemui, seperti pohon buah kecapi, buni, dan duku condet, yang sama seperti salak condet, menjadi buah khas Jakarta.

Ia bercerita sedari kecil memang tumbuh besar di kawasan in. Dan, sejak ia kecil pun kawasan itu sudah menjadi kebun salak condet. Syahrudin mengatakan beberapa pohon salak di Cagar Buah Condet sudah berusia puluhan tahun.

“Sejarahnya ini bahkan kata orang tua saya dulu denger-denger dari cerita, zaman presiden kita yang pertama tuh Bung Karno sempet jadi hidangan ke istana,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

Lahan kebun itu dulu memang dimiliki oleh warga, Syahrudin mengatakan kebun itu dulu milik sang kakek yang dibebaskan dan dialih kelola oleh pemerintah pada tahun 2006. Kawasan perkampungan sekeliling Cagar Buah Condet ini dulu memang merupakan kebun salak, namun seiring waktu mulai berganti menjadi rumah-rumah.

“Kebanyakan orang kan jualin (tanah) tahu sendiri orange Betawi kan, apa-apa pengen naik haji atau pengen ngawinin anak terus pesta dengan cara gimana? Ya, jual tanahnya. Nah, dari pihak Pemda dan Pemprov DKI khususnya gimana caranya maskot DKI Jakarta tuh jangan sampai musnah, ya sisanya ini alhamdulilah 3,5 hektar dibebasin,” kata dia.

Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Salak Condet makin sulit ditemui di pasar, berbeda dengan salak pondoh yang ada di mana-mana. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Di hamparan yang luas kebun Cagar Buah Condet, Syahrudin menyebut terdapat sekitar 1.500 pohon salak condet, 150 pohon duku condet, dan beberapa pohon buah lainnya.

Ia menerangkan keistimewaan salak condet tersebut dengan menyebut rasanya yang berbeda dari salak-salak lainnya.

Syahrudin kemudian membawa detikTravel ke pohon yang ia sebut sebagai pohon andalan ketika ada tamu yang berkunjung. Selayaknya pohon salak yang lain, tak ada yang membedakan dengan pohon salak pilihannya, tapi ia berucap bahwa salak di pohon ini rasanya lebih enak dibandingkan salak dari pohon lain.

Betul saja, saat mencicipi salaknya, yang belum matang sempurna, ternyata salak dari pohon tersebut terasa manis dan hanya sedikit rasa asam. Selain itu, tekstur yang renyah membuat Salak Condet itu semakin nikmat.

Kemudian, ia mengajak detikTravel ke pohon selanjutnya dan kembali menyodorkan salak untuk dicicipi agar mengetahui perbedaannya.

“Coba rasain apa yang bikin beda? Ini tuh (kematangan) sama kaya salak yang tadi belum terlalu mateng,” kata dia.

Rasa salak condet yang kedua memang berbeda dengan yang pertama. Kali ini, rasa asam dan sensasi kesat bercampur aduk di dalam mulut. Rasa manis pun terasa tipis yang diakhiri dengan pahit, itulah keistimewaan Salak Condet khas Jakarta.

“Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah, itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata dia.

Saat ini, dengan banyaknya macam buah-buahan, eksistensi salak condet memiliki tantangan ekstra. Tetapi, dengan Agrowisata Cagar Buah Condet masih akan terus terjaga.

Tetapi, rasanya pilu saat Syahrudin mengatakan fakta tentang salak condet.

“Banyak sampai saat ini orang Jakarta yang nggak tahu kalau Salak Condet tuh masih ada,” kata Syahrudin.

Cagar Buah Condet ini terbuka untuk umum, tujuannya untuk mengenalkan lebih luas kepada masyarakat tentang buah yang pernah menjadi maskot Kota Jakarta.

“Tujuannya kan pemda bebasin ini supaya anak-anak sekarang, terutama di DKI Jakarta, jangan cuman pernah denger cerita ‘dulu punya maskotnya buah salak’. Alhamdulilah kurang lebih 3,5 hektar ini masih ada jadi mereka bisa tahu,” kata dia.

Dengan adanya Cagar Buah Condet menjadi suatu pengharapan agar buah khas Jakarta itu bisa terus lestari dan bisa dinikmati di masa mendatang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Nggak Angker, Justru Decak Kagum Saat Menyusuri Museum Taman Prasasti



Jakarta

Kesan angker saat menjejak bekas lahan pemakaman lawas memang tak terhindarkan karena mitos dan urban legend-nya selalu melekat. Namun sedikit berbeda dengan bekas pemakaman orang-orang asing yang tinggal di Batavia ini, di Museum Taman Prasasti.

Dahulu kala saat Belanda berada di Indonesia, area ini merupakan sebuah pemakaman modern. Makam itu dibangun pada 28 September 1795.

Kerennya, pemakaman modern itu disebut-sebut menjadi pemakaman modern pertama di dunia.


Saat menjajaki kawasan museum, detikTravel dipandu oleh Eko Wahyudi sebagai guide untuk mengelilingi museum dengan konsep open air ini, Rabu (29/5/2024).

‘Dibangun di atas tanah seluas 5,5 hektar pemakaman ini menjadi pemakaman yang prestisius akhirnya orang Belanda menyebutnya Kerkhof Laan atau pemakaman gereja. Kalau orang kita menyebutkan Kebon Jahe Kober,” kata Yudi pada detikTravel.

Pemakaman itu masih benar-benar menjadi pemakaman selama kurang lebih 180 tahun hingga kemudian perubahan dibuat oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1975.

Ali memerintahkan untuk memindahkan seluruh jenazah di pemakaman ini ke Pemakaman Menteng Pulo, Tanah Kusir, dan ada juga yang dibawa oleh keluarga.

Dari situlah cikal-bakal Museum Taman Prasasti hadir hingga saat ini.

Museum Taman Prasasti di JakartaMuseum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Yudi kembali meneruskan ceritanya. Dia bilang setelah pemindahan seluruh jenazah di tahun 1975, dua tahun kemudian prasasti nisan yang ada di pemakanan ini ditata ulang dalam area 1,3 hektar serta diresmikan menjadi museum pada 9 Juli 1977.

“Awalnya sih kalau tidak salah hanya untuk taman, (untuk) serapan karena kan di Jakarta susah ya mencari tanah serapan. Tetapi, di dalamnya ada benda-benda cagar budaya yang harus dilestarikan dan dilindungi, kemudian baru diresmikan jadi Museum Prasasti,” kata Yudi.

Di pemakaman itu banyak sekali orang-orang penting di zamannya mulai dari para pejabat-pejabat VOC hingga pelaku sejarah. Notabene nisan prasasti yang berada di sini memiliki nama-nama orang asing, namun ada juga dua orang Indonesia, yakni Soe Hok Gie dan Miss Riboet.

Sembari mengelilingi kawasan, Yudi bercerita tentang berbagai prasasti nisan yang ada di sini. Pertama adalah nisan berbentuk patung yang disebut crying lady. Cerita kelam membaluti prasasti nisan ini karena patung tersebut merupakan ilustrasi dari kesedihan seorang perempuan yang ditinggal mati oleh pasangannya, tak kuat menahan kesedihan itu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

“Patung crying lady ini dibuat langsung oleh pemahat yang bernama Antonio Carminati dari Milan, Italia. Dia mendapatkan pesanan bahwa ada seorang dari keluarga yang meninggal, untuk mengenang putrinya yang tewas karena bunuh diri,” kata Yudi.

Tak ayal kemegahan nisan-nisan di Museum Taman Prasasti ini begitu keren karena merupakan mahakarya seni yang dibuat oleh para pemahat Eropa. Yudi juga menyebut ini lah yang membuat museum ini begitu unik dan istimewa karena terdapat koleksi nisan yang begitu indah.

“Ya kalau di sini sih kita menampilkan batu-batu nisan yang merupakan karya seni orang-orang Eropa di tahun itu, dibuat antara tahun 1600-an sampai 1900-an. Dan mungkin untuk saat ini agak sulitnya untuk menemukan hal-hal seperti itu karena batu nisan sendiri bahanya merupakan bahan marmer Carrara yang diimpor langsung dari Pegunungan Carrara di Italia, untuk orang-orang Hindia-Belanda atau yang lebih mayoritas beragama Katolik,” kata dia.

Museum Taman Prasasti di JakartaMakam Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Ia juga menambahkan kalau untuk orang-orang VOC yang mayoritas menganut agama Protestan nisan yang digunakan masih berbahan baku batu andesit yang diimpor langsung dari India Selatan.

Kembali menyusuri nisan demi nisan, prasasti nisan tokoh penting lainnya adalah nisan Direktur STOVIA (School Tot Opleiding Van Indlandshe Arsten atau Sekolah kedokteran Bumi Putera) pertama yang bernama Dr. Hermanus Frederik Roll dan di makam yang sama dengan H.F Roll terdapat juga makam sang anak, yakni Frits Roll.

Adapun prasasti nisan dari pencetus berdirinya Kebun Raya Bogor yaitu Olivia Marianne Raffles yang merupakan istri pertama dari Gubernur Letnan Thomas Stamford Raffles. Olivia begitu gemar dengan tumbuhan-tumbuhan yang memutuskannya untuk tingga di Buitenzorg atau Bogor bersama sang suami.

Olivia meninggal karena penyakit malaria yang diidapnya, diketahui bahwa penyakit malaria saat itu memang tengah merajalela. Kepindahannya ke Bogor juga saat Olivia sedang dalam masa pemulihan penyakitnya dan Raffles pun membawa ahli taman dari Inggris untuk membuat dan menata ulang taman di pekarangan rumahnya.

Dan tempat yang paling disukai oleh Olivia adalah danau di depan rumahnya, yang kini dikenal sebagai danau yang berada di depan Istana Bogor.

“Sampai akhirnya kesehatan Olivia semakin memburuk, enam bulan menjelang kematiannya Olivia meminta suaminya untuk menemani full di area Istana Bogor. Sampai dia menghembuskan nafas terakhir di bulan November 1814 ya,” ujar Yudi.

Masih banyak lagi prasasti nisan dan peninggalan tokoh-tokoh yang berkaitan erat dengan sejarah Indonesia, museum ini memang terkesan menyeramkan karena memamerkan sekira 1.100 prasasti nisan. Namun ketika masuk dan mendapatkan informasi terkait sejarahnya, kesan tersebut menjadi hilang dan berubah jadi decak kagum.

Museum Taman Prasasti yang terletak di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat ini buka dari hari Selasa-Minggu. Mulai dari jam 09.00-15.00 WIB. Dengan biaya masuk dewasa Rp 10.000 (weekend naik jadi Rp 15.000), mahasiswa Rp 5.000, anak-anak Rp 5.000, dan wisatawan asing Rp 50.000.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pos Bloc Jakarta Pas buat Nongkrong Bareng Teman, Cocok buat Me Time



Jakarta

Jakarta Pusat memiliki banyak bangunan tua yang bersejarah, salah satunya Gedung Filateli yang kini dikenal sebagai Pos Bloc. Gedung itu dialihfungsikan menjadi sebuah tempat nongkrong dan creative hub di area Jakarta Pusat.

Akhir pekan memang waktu yang tepat untuk nongkrong dan tempat yang pas merayakan hal tersebut adalah di Pos Bloc. Selain tempatnya yang luas, banyak tenant-tenant yang menjajakan kuliner untuk menemani momen nongkrong.

Sejak diresmikan pada 2021, Pos Bloc menjadi salah satu tempat hits yang bisa kamu datangi. Ada banyak spot yang bisa kamu gunakan untuk nongkrong, mulai dari area outdoor, indoor sampai di dalam kafe-kafe yang berada di area Pos Bloc ini.


Pos Bloc Gedung Filateli Jakarta di Pasar Baru, Jakarta PusatPos Bloc Gedung Filateli Jakarta di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Berbagai kuliner juga bisa kamu nikmati di sini, salah seorang pengunjung yang datang bersama rombongannya adalah Nadia. Ia dan teman-temannya itu memang sudah beberapa kali datang ke sini.

Nadia bilang kalau Pos Bloc tempat yang pas buat menikmati waktu bareng sahabat.

“Iya ini bareng teman-teman datang ke sini karena tempatnya enak buat nongkrong, luas, terus banyakan makanan di sini,” kata Nadia kepada detikTravel, Minggu (2/6/2024).

Banyaknya kafe jadi bikin tak repot lagi saat perut keroncongan, harga makanan-minuman di sini pun masih terjangkau. detikTravel pun selagi berjalan-jalan di dalam Pos Bloc membeli segelas es kopi regal yang dibanderol harga Rp 25.000.

Yang menariknya lagi, di Pos Bloc ini tak hanya ada sajian kuliner, tetapi juga ada toko buku yakni Patjar Merah. Traveler yang ingin membeli atau sekadar melihat dan membaca buku bisa langsung datang ke sini.

Selain jadi tempat yang pas buat nongkrong bareng sahabat, banyak juga dari pengunjung yang menjadikan Pos Bloc sebagai tempat mereka me time. Memang ketika weekend atau hari libur tempat ini akan dibanjiri oleh pengunjung tapi kalau kamu datang di hari-hari biasa, tempat ini akan menyuguhkan suasana yang berbeda.

Tak begitu ramai dan juga berisik, semua akan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang membuka laptop, ada yang membaca buku, dan bahkan ada yang terlelap bangku-bangku sudut ruangan.

Pos Bloc Gedung Filateli Jakarta di Pasar Baru, Jakarta PusatPos Bloc Gedung Filateli Jakarta di Pasar Baru, Jakarta Pusat (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Dulu, Pos Bloc merupakan Kantor Pos dan menjadi Pos Bloc pada 2021. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebutkan tidak ingin Pos Bloc sekadar jadi bagian dari masa lalu, tetapi harus bisa dinikmati oleh generasi saat ini.

“PT Pos Indonesia jangan hanya menjadi bagian dari sejarah masa lalu. Karena saat ini sudah era disrupsi yang ditandai oleh digitalisasi dan era milenial, maka Pos harus friendly pada generasi muda. Jangan lagi properti dijual-jual sehingga sejarah hilang dimakan zaman hanya karena pertimbangan ekonomi, tetapi bagaimana property justru bisa meningkatkan value Pos Indonesia sebagaimana Pos Bloc ini,” kata Erick dalam laman resmi Pos Indonesia.

Pos Bloc Jakarta terletak di Jalan Pos No.2 Pasar Baru, Kecamatan Sawah besar, Kota Jakarta Pusat. Untuk jam operasionalnya pun buka dari hari Senin sampai Minggu, di hari kerja Senin-Jumat tempat ini buka pada pukul 10.00-22.00 WIB dan pada weekend pukul 07.00-24.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Nggak Cukup 1 atau 2 Jam di Sini



Jakarta

Blok M Square merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta. Ternyata, ada surga yang berada di area bawah mal tersebut, surga itu disebut Pasar Musik.

Pasar Musik merupakan area pertokoan yang menjual rilisan-rilisan fisik musik, mulai dari piringan hitam, kaset pita, CD hingga barang-barang analog lainnya. Banyaknya pilihan rilisan musik dari berbagai musisi dan genre jadi daya tarik lebih area ini.

Tak pernah sepi sedari buka, lalu-lalang pengunjung seperti tiada henti di area ini, tua-muda tak menjadi patokan. Semuanya baur dalam sebuah kecintaan terhadap musik, dan kini memang tren koleksi rilisan fisik menjadi gandrung di kalangan muda-mudi.


Ada yang datang ke Pasar Musik untuk mencari rilisan fisik karena media sosial dan ada juga yang datang karena kesan yang lebih personal seperti lagu yang sering diputar oleh orang tua di rumah. Kedua alasan itulah yang membawa Shifa berlabuh ke Pasar Musik.

Bersama satu orang temannya ia berbelanja beberapa kaset pita, walaupun umurnya masih 20 tahun ternyata ia tak membeli rilisan fisik musisi generasi anyar. Ia memilih dua kaset dari musisi Chrisye dan Iwan Fals.

Blok M Square merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, banyaknya barang keperluan yang para pedagang jual di sana. Tapi ada surga yang berada di area bawah mall tersebut, surga itu disebut Pasar Musik.Blok M Square merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, banyaknya barang keperluan yang para pedagang jual di sana. Tapi ada surga yang berada di area bawah mall tersebut, surga itu disebut Pasar Musik. (Muhammad Lugas Pribady)

“Ini pertama kali ke sini, tahu tempat ini dari TikTok. Sebenarnya ini tuh lagu (yang didengerin) orang tua jadi ikut dengerin dan enak gitu,” ungkapnya kepada detikTravel, Minggu (2/6/2024).

Setelah usai memilih kaset pita dan mendengarkannya langsung di toko, ia mengatakan senang dengan suasana di sini dan akan datang kembali untuk mencari rilisan fisik lainnya. Tapi untuk ke depannya ia menyebut harus menentukan terlebih dahulu apa yang akan dibelinya.

“Mau dan bakalan ke sini lagi, tapi kaya harus nyari-nyari (tahu) dulu deh dari rumah tuh apa yang mau dicari soalnya jadi bingung ke sininya nanti karena mau semuanya,” dia menjawab kemudian tertawa.

Kawasan Pasar Musik yang berada di basement Blok M Square ini memang jadi sentra para penikmat dan kolektor musik untuk mencari rilisan fisik. Dengan koleksi rilisan fisik tahun lama hingga rilisan-rilisan dari musisi-musisi anyar.

Buat para pecinta musik tentunya Pasar Musik jadi tempat wajib untuk disinggahi, setiap toko yang berada di area ini saling memperdengarkan musik dengan genre yang berbeda-beda. Ada yang rock, jazz, pop, bahkan hingga keroncong diperdengarkan dengan kualitas audio yang memanjakan.

Dani, salah satu penjaga toko musik di sini mengatakan kalau saat ini banyak yang datang dan mencari rilisan-rilisan fisik. Baginya memiliki rilisan fisik seperti mempunyai pasangan tapi dalam kondisi long distance relationship (LDR).

“Istilahya lu kaya pacaran ldr aja, kalau rilisan fisik tuh bisa lu dengerin dan lu bisa sentuh tuh. Tapi kalau (rilisan) digital, lu kayak pacaran jarak jauh aja bisa lu dengerin tapi nggak bisa lu sentuh fisiknya, ya itu ibaratnya lah,” kata dia sembari musik funk yang melantun dari tokonya.

Ia mengaku sudah lama mengoleksi rilisan fisik seperti piringan hitam, kaset pita, dan CD. Semua yang yang berada di tokonya ini awalnya merupakan miliki koleksi pribadi dan ia pun mengingat hampir memiliki ribuan lebih koleksi, hanya 30% yang di tokonya ini.

Blok M Square merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, banyaknya barang keperluan yang para pedagang jual di sana. Tapi ada surga yang berada di area bawah mall tersebut, surga itu disebut Pasar Musik.Berada di Pasar Musik, di bawah Blok M Square, tidak cukup hanya satu jam atau dua jam. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Ia pun melontarkan candaan jika semua koleksinya terjual bisa membeli sawah di kampung, mengingat banyaknya peminat rilisan fiksi. Selain sebagai barang dagangan, Doni juga mengatakan rilisan fisik ini bisa sekaligus menjadi investasi, terlebih untuk rilisan fisik yang terbilang langka.

“Investasi tuh istilah karena kalau gue berpikir suatu saat barang ini bakalan jadi barang antik. Dan barang antik lu pasti tahu harganya itu nggak murah lah dan pembelinya pun kolektor-kolektor gila semua, bukan orang yang cuma sekadar pengen tahu,” katanya.

Jika kamu berkunjung ke tempat ini dan hendak ingin memboyong rilisan fisik, yang perlu diperhatikan adalah budget. Karena yakin lah kamu bakalan kepincut dengan rilisan-rilisan yang lainnya, selain itu tak cukup hanya dengan waktu satu jam saat berada di sini.

Karena kamu bakalan timbul rasa penasaran untuk mendengarkan langsung musik-musik dari setiap musisi yang ada rilisan fisiknya di sini. Doni mengungkapkan ketika mendengarkan musik dari rilisan fisik memiliki sensasi yang berbeda dengan mendengarkan secara digital.

Doni pun memberikan sedikit tips agar koleksi rilisan fisik tak gampang terkena jamur, dirinya mengatakan hanya harus sering diputar saja.

“Karena semakin lu sering putar ini kaset, itu si jamurnya semakin ilang,” kata Doni.

Pasar Musik ini selalu buka setiap hari mulai dari pukul 11.00 sampai 20.00 WIB. Jika memang ingin datang dan mencari harta karun ke pasar ini, meluangkan waktu adalah hal yang paling bijak. Karena datang ke kawasan ini seperti melakukan me time.

Salah seorang kolektor yang tak mau disebut namanya menyebut dalam satu minggu pasti satu sampai dua kali menyempatkan datang ke sini. Dan biasa durasi yang ia habiskan di Pasar Musik ini sampai berjam-jam, ini lah yang membuatnya tak pernah mau jika datang ke sini hanya sebentar.

“Saya kalau semisal datang ke sini jam 12.00 dan ada keperluan jam 14.00 atau jam 15.00, saya lebih baik nggak ke sini. Karena kalau ke sini saya pasti lama, dengerin musik di sini, ngobrol-ngobrol sama pedagang, ya saya banyak menghabiskan waktu di sini,” tuturnya sambil meminum kopi.

Selagi Doni memutar lagu Chrisye, sang kolektor pun menceritakan sudah lamanya ia mengoleksi rilisan fisik terlebih kaset pita. Sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama ia telah mulai mengoleksinya karena harga kaset pita terbilang ekonomis dibandingkan yang lain.

Dan hingga beberapa tahun setelah itu ia mulai terus mengoleksi rilisan fisik, ia pun sempat tak membeli rilisan fisik lagi saat era rilisan digital bermunculan. Namun dirinya tak merasa puas karena tak mendapatkan sensasi seperti ia memiliki rilisan fisik.

“Enam sampai tujuh tahun terakhir udah mulai bosan dengan digital nih karena sensasinya nggak ada. Punya banyak (rilisan) di komputer komplet, cuma kita gak ngeliat bentuknya karena kalau saya ini saat denger musik tuh saya lihat covernya dan baca-baca dibalik covernya,” tegas kolektor itu.

Buat kamu yang berniat datang ke Pasar Musik akan lebih hikmat ketika hari-hari kerja. Karena saat weekend datang kawasan ini tak akan pernah sepi pengunjung dan semua toko-toko di sini akan memutar musik secara bersamaan.

Untuk range harga rilisan di Pasar Musik ini mulai dari harga Rp 30.000 hingga jutaan rupiah, semua itu tergantung pada tahun rilis dan juga orisinalitasnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Museum Sejarah Jakarta Pernah Jadi Kantor Gubernur Jabar-Tempat Eksekusi Mati



Jakarta

Museum Sejarah Jakarta yang terletak di kawasan Kota Tua itu ternyata pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat. Gedung putih itu juga menjadi saksi perkembangan Jakarta dari masa ke masa.

Gedung itu dibangun pada tahun 25 Januari 1707 dan diresmikan pada tahun 10 Juli 1710 kendati belum rampung secara keseluruhan. Di tahun 1712 lah gedung yang bergaya Neoklasik itu utuh. Gedung itu dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn.

Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara, juga area eksekusi hukum mati.


Tanggal 10 Juli 1710 gedung balai kota itu diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck sesuai dengan Prasasti yang ada di Museum Sejarah Jakarta. Pada awal berdirinya, gedung ini berfungsi sebagai” StadHuis” (balai kota) dan ” Raad Van Justitie ” (Dewan Pengadilan)

Saat detikTravel berkunjung ke museum itu ada hal menarik yang didapat, ternyata gedung itu Ternyata, tidak hanya pernah menjadi balai kota Batavia, tetapi juga pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat pada saat Belanda berada di Nusantara.

Didik Cahyono, pemandu yang mengajak detikTravel berkeliling, menceritakan kisah itu.

Di masa kekuasaan Belanda dan sebelum Jepang menduduki tanah ini bangunan tersebut pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat.

“Mulai 1925 sampai 1942 (gedung ini) digunakan untuk kantor gubernur Provinsi Jawa Barat, ini masih zaman Belanda. Jadi kantor gubernur Provinsi Jawa Barat nah itu masih zaman kekuasaan Belanda, terus Jepang masuk 1942 sampai 1945 gedung ini dijadikan kantor logistik Dai Nippon (kekaisaran Jepang),” kata Didik, Kamis (6/6/2024).

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat itu, pemerintah kolonial Belanda memiliki kebijakan untuk menyatukan Banten, Batavia, Cirebon, dan Priangan menjadi satu wilayah atau yang disebut provinsi. Di masa peralihan balai kota yang baru itulah bangunan tersebut dijadikan sebagai kantor gubernur Jawa Barat.

Hingga Jepang datang, kantor gubernur Jawa Barat itu kembali beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan logistik Kekaisaran Jepang.

Dan pada 30 Maret 1974, gedung itu diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta diresmikan oleh Gubernur DKI Bapak Ali Sadikin.

Interior Gedung Terjaga Keasliannya

Selain itu, di Museum Sejarah Jakarta juga banyak segudang informasi yang telah tersaji bagi pengunjung. Bagaimana perjalanan dari mulai zaman prasejarah, masa emas Sunda Kelapa, era penjajahan Belanda-Jepang, hingga setelah kemerdekaan.

Didik pun membawa detikTravel ke setiap ruangan yang ada di gedung ini, semua interior dalam gedung pun masih terjaga keasliannya.

“Ini ya aslinya seperti ini kalau interior 90 persen lebih masih asli karena kayu-kayu ini nggak kena panas dan hujan jadi awet bisa ratusan tahun jadi ini juga dikonservasi. Kalau ngepel juga pake minyak lopi jadi ada minyak khusus supaya nggak dimakan serangga,” kata dia.

Dengan lantai yang terbuat dari kayu dan pintu-pintu besar yang kokoh membuat bangunan ini masih terasa seperti dulu kala saat masih berfungsi sebagai kantor pemerintahan. Terdapat bangku, meja, lemari hingga lukisan zaman dulu tersimpan baik jadi menambah kesan yang mendalam.

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikcom

Bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini memberikan pengalaman yang menarik tentang perjalanan panjang Kota Jakarta. Di bagian atas, Didik menunjukkan salah satu spot yang pernah dipakai oleh orang-orang penting zaman dahulu untuk memantau dan melihat eksekusi mati.

Terletak di area balkon yang menghadap ke area terbuka di tengah-tengah kawasan Kota Tua, di sinilah para tokoh saat itu melihat eksekusi mati yang berada di area bawa balkon tersebut.

“Ini digunakan untuk para hakim dan gubernur jenderal untuk melihat proses eksekusi hukuman mati dan,” ujarnya sembari menunjukkan tempat di mana eksekusi dilakukan.

Selagi detikTravel berkeliling gedung ini, terlihat wisatawan tak henti-hentinya mendatangi gedung ini. Beberapa rombongan wisatawan mancanegara pun penasaran dengan sejarah yang terdapat di Museum Sejarah Jakarta.

Menurut Didik banyak wisatawan mancanegara yang datang ke museum ini, terutama wisatawan mancanegara yang berasal dari Belanda. Alasannya karena ada ikatan emosional, sekaligus napak tilas nenek moyangnya yang dimakamkan di Indonesia.

“Kalau di sini pengunjung (asing) kebanyakannya dari Belanda karena ada hubungan emosional ya dengan Belanda jadi banyak yang ke sini. Banyak juga orang Belanda yang datang ke sini nyari makam-makam leluhurnya, saya pernah ketemu generasi ke-6 Antonio van Diemen (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ke-9). Jadi pengen lihat jejak-jejaknya gitu loh,” katanya.

Jam Operasional dan Harga Tiket Masuk

Ternyata memang museum ini menjadi salah satu museum yang banyak didatangi oleh wisatawan setiap harinya, dari Senin sampai Minggu. Didik mengatakan sebelum pandemi lalu kunjungan ke Museum Sejarah Jakarta bisa mencapai 15 ribu orang.

“Weekdays itu kalau lagi ramainya bisa dua ribu lebih, kalau musim liburan lebih rame lagi. Dan weekend itu pernah waktu sebelum pandemi sampai 15 ribu satu hari, nah kalau setelah pandemi ini paling-paling lima ribuan lah,” ujar dia.

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Untuk kamu yang penasaran dengan Museum Sejarah Jakarta waktu yang pas untuk datang ke sini adalah ketika hari kerja karena tak begitu ramai. Jam operasional museum ini dimulai pukul 09.00 – 15.00 WIB pada Selasa sampai Minggu.

Untuk biaya masuk museum di hari kerja berkisar Rp 5.000 untuk mahasiswa, pelajar, dan anak-anak, sementara untuk dewasa dikenakan biaya Rp 10.000, dan untuk wisatawan mancanegara dibanderol Rp 50.000. Kemudian, jika berkunjung di hari libur biaya masuk untuk dewasa naik menjadi Rp 15.000, sementara yang lainnya harga normal.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com