Tag Archives: wisata karangasem

Hidden Gems, Virgin Beach, Pantai Berpasir Putih di Karangasem



Karangasem – Belum lengkap rasanya jika berlibur ke Karangasem namun tak berkunjung ke Virgin Beach. Benar-benar seindah itu!

Wisata Bali Timur tak akan pernah habis untuk dijelajahi. Mulai dari wisata sejarah, budaya, dan tak kalah adalah wisata alamnya.

Salah satu destinasi wajib jika traveler berlibur ke Karangasem adalah Virgin Beach. Jika traveler sedang berlibur dan bosan dengan suasana yang itu-itu saja, traveler wajib berkunjung ke Virgin Beach.

Masyarakat sekitar kerap menyebut Virgin Beach dengan nama Pantai Bias Putih karena pantai ini memiliki hamparan pasir putih yang indah. Pantai dengan pasir putih yang cantik ditemani dengan deburan ombak membuat traveler akan terpesona dengan keindahan pantai ini.

Virgin Beach tergolong destinasi yang hidden gem. Pesona alam yang indah dan cenderung tenang membuat pantai ini cocok untuk traveler yang ingin bersantai dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Air pantai berwarna biru jernih berpadu dengan pasir pantai yang putih tentu mempercantik pemandangan di Virgin Beach. Tak ada villa ataupun hotel di sekitar pantai ini, benar-benar alami banget!

Jika merasa lapar, traveler bisa menikmati hidangan di warung makan yang ada di pinggir pantai. Hidangan-hidangan lokal siap menemami waktu bersantai di Virgin Beach.

Virgin Beach di Karangasem, BaliVirgin Beach di Karangasem, Bali Foto: Ni Made Nami Krisnayanti

Pantai yang berlokasi di Desa Adat Bugbug, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem ini buka setiap hari.

Bagi traveler yang ingin berkunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp 10.000. Tenang saja, dengan biaya yang ramah dikantong traveler sudah bisa mengunjungi dua destinasi sekaligus, yaitu Virgin Beach dan Bukit Asah.

Untuk sampai ke Virgin Beach traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Namun harus tetap berhati-hati ya, karena jalan yang sedikit curam. Dari Kota Denpasar, traveler harus menempuh jarak sekitar 60 kilometer atau 1 jam 45 menit perjalanan.

Karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota, tak banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai ini sehingga cocok untuk traveler yang mencari ketenangan.

Bagi traveler yang berkunjung tetap menjaga keamanan dan kebersihan ya!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Museum Sanghyang Dedari di Bali Muncul Berkat Ide Mahasiswa UI



Karangasem – Museum Sanghyang Dedari merupakan salah satu museum unik, menyuguhkan ritual Sanghyang Dedari. Namun, siapa sangka, awal mula museum ini adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang melakukan penelitian.

Bukan soal benda bersejarah, Museum Sanghyang Dedari ternyata menyimpan berbagai cerita dari Tari Sanghyang Dedari yang sangat sakral. Traveler akan menemukan berbagai properti yang digunakan pada ritual tari ini. Tak hanya itu, proses pementasan pun dijelaskan secara detail.

Bendesa Adat Geriana Kauh, I Nyoman Subrata, menjelaskan pendirian Museum Sanghyang Dedari berawal dari mahasiswa UI bernama Saras Dewi. Dia melakukan riset terkait Tari Sanghyang.

“Awal mula didirikan museum ini, diawali oleh pengabdian masyarakat mahasiswa UI bernama Saras Dewi pada 2016. Beliau melakukan riset terkait Tari Sanghyang ini,” kata dia.

Museum Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, BaliMuseum Sanghyang Dedari di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti)

Pendirian Museum Sanghyang Dedari mulanya bertujuan untuk melestarikan Tari Sanghyang Dedari yang hampir punah. Pelestarian ini dilakukan pada naskah-naskah terkait Tari Sanghyang Dedari.

Akhirnya, pada 2016 dilakukan diskusi dan kesepakatan untuk membangun museum ini. Subrata menyebut pembangunan Museum Sanghyang Dedari didanai oleh pemerintah dan berkolaborasi dengan Desa Adat Geriana Kauh.

Pembangunan Museum Sanghyang Dedari sempat terhenti pada tahun 2017 karena terjadi bencana alam gunung meletus. Walau sempat terhenti, akhirnya Museum Sanghyang Dedari dibuka secara resmi pada tahun 2019.

Menurut riset yang dilakukan oleh Saras Dewi, terdapat 25 jenis Tari Sanghyang, namun hingga saat ini tidak banyak lagi ritual Sanghyang yang ada di Bali. Salah satu yang masih eksis adalah Tari Sanghyang Dedari.

Sebagai kekayaan budaya Desa Adat Geriana Kauh, Subrata berharap museum ini menjadi daya tarik wisata dan memberikan imbas positif khususnya dalam bidang ekonomi untuk masyarakat desa.

“Saya dan warga desa berharap ini bisa dijadikan daya tarik untuk desa. Bisa memberikan imbas positif khususnya bidang ekonomi bagi warga desa. Mengingat kondisi desa kami yang hanya berjarak 9 kilometer dari puncak Gunung Agung,” kata Subrata.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Memukau… Puri Agung Karangasem, Istana Peninggalan Kerajaan Karangasem


Karangasem

Puri Agung Karangasem adalah salah satu bukti peninggalan Kerajaan Karangasem yang masih eksis. Arsitektur Bali membuat puri ini sangat indah.

Anak Agung Made Kosalia, ketua badan pengelola Puri Agung Karangasem, menjelaskan bahwa pembangunan Puri Agung Karangasem dimulai oleh Ida A. A. Gde Djelantik (Stederhouder I). Pada akhir abad ke-19, pembangunan Puri Agung Karangasem dilanjutkan oleh Raja Ida A. A. Agung Anglurah Ketut Karangasem (Stederhouder II).

“Untuk Puri Agung Karangasem, sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Karangasem saat itu, Puri Agung Karangasem merupakan sebuah peninggalan kerajaan berupa istana raja yang strukturnya masih utuh sampai sekarang,” kata Anak Agung Made Kosalia.

Puri Agung Karangasem terbilang puri yang sangat istimewa, hal ini karena arsitektur bangunan Puri Agung Karangasem memadukan 3 budaya yaitu China, Eropa, dan Bali.

Walaupun dahulu merupakan istana Kerajaan Karangasem, sekitar tahun 1970 an Puri Karangasem sudah mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Daya Tarik Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem yang merupakan bangunan peninggalan sejarah Kerajaan Karangasem menyimpan banyak keindahan yang menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Salah satunya adalah arsitekturnya yang unik.

“Istana peninggalan Kerajaan Karangasem ini memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dari puri lainnya, di Puri Karangasem ini arsitekturnya memadukan tiga budaya, yaitu budaya China, Eropa, dan Bali,” ujar Kosalia.

Unsur budaya China dapat traveler lihat dari sisi candi yang menggunakan Candi Gelung dan bagian ukiran pintu istana yang identik dengan bangunan China.

Budaya Eropa terlihat pada relief-relief pada tembok serta bagian atas bangunan. Terdapat hiasan berupa crown yang identik dengan Eropa. Unsur Bali dapat traveler temukan pada bentuk motif ukiran patung-patung yang banyak ada di Puri Agung Karangasem.

Karena keunikannya, banyak wisatawan baik domestik maupun asing tertarik dan ingin tau lebih jauh tentang Puri Agung Karangasem.

Hingga saat ini, taksu dari Puri Agung Karangasem tak pernah hilang. Struktur bangunannya pun masih dipertahankan sampai saat ini sebagai warisan wisata sejarah.

Arsitektur yang unik membuat Puri Agung Karangasem memiliki banyak spot foto yang instagramable dan estetik. Terlebih konsep bangunannya yang masih nampak sama seperti awal pembangunan akan membuat fotomu akan semakin indah.

Anak Agung Made Kosalia menyebut pihaknya masih terbuka terhadap wisatawan yang masuk ke tempat tinggal anggota keluarga puri, selama wisatawan merasa nyaman dan mengikuti aturan yang ada.

“Kita mempunyai aturan, untuk masuk ke merajan itu tidak boleh, masuk ke kamar suci raja juga tidak boleh. Wisatawan hanya boleh mengambil foto dari luar saja,” kata Kosalia.


Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Masuk Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem terletak di Jalan Sultan Agung, Karangasem, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Bali. Untuk sampai ke sini traveler harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari Kota Denpasar.

Destinasi bersejarah ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 – 19.00 WITA. Bagi traveler yang berkunjung akan dikenakan biaya masuk sebesar Rp 30.000 per orang.

“Biaya tiket masuk ini untuk bisa membiayai operasional karyawan yang bertugas, kita mempekerjakan sekitar 8 orang,” ujar Made Kosalia.

Tak hanya berkeliling, traveler yang ingin mengabadikan momen istimewa di sini dapat melakukan sesi prewedding dengan latar belakang bangunan kerajaan yang unik dan estetik. Untuk sesi prewedding akan dikenakan biaya sebesar Rp 500 ribu.

Penasaran bagaimana potret keindahan istana Kerajaan Karangasem? Puri Agung Karangasem adalah destinasi yang sip. Saat berkunjung tetap patuhi aturan yang ada ya traveler! Semoga informasi ini bermanfaat dan semoga liburanmu menyenangkan!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Puri Agung Karangasem



Karangasem

Puri Agung Karangasem bukan istana biasa. Istana yang satu ini terbilang istimewa dengan arsitekturnya yang unik. Sudah begitu, ternyata istana ini dibangun setelah Raja Karangasem berhasil berkuasa di Pulau Lombok.

Anak Agung Made Kosalia, ketua badan pengelola Puri Agung Karangasem, menyebut Kerajaan Karangasem mulai eksis pada abad ke 17. Kerajaan Karangasem bahkan telah melakukan ekspansi kerajaan hingga ke Pulau Lombok.

Kerajaan Karangasem, yang menguasai Lombok kala itu, membawa kerajaan ini ke masa kejayaannya. Saat menyerang Lombok, di Karangasem terdapat kekosongan kekuasaan. Agar tidak berlama-lama kerajaan lowong, ditugaskanlah I Gusti Gede Putu untuk kembali ke Puri Kelodan untuk mengendalikan pusat kerajaan.

Pada abad ke 18, pusat Kerajaan Karangasem dipindahkan dari Puri Kelodan ke Puri Gede. I Gusti Gede Putu kemudian digantikan oleh Ida A.A. Gde Djelantik (Stederhouder I) dan memindahkan kekuasaan Kerajaan Karangasem ke Puri Kanginan atau Puri Maskerdam.

Pembangunan Puri Agung Karangasem dirintis oleh Raja Karangasem ke XV yaitu Ida A.A. Gde Djelantik (Stederhouder I). Tahun 1908 Ida A.A. Gde Djelantik menunjuk keponakannya untuk menjadi raja yang bernama Ida A.A. Agung Anglurah Ketut Karangasem (Stederhouder II).

Pada akhir abad ke XIX, pembangunan Puri Agung Karangasem dilanjutkan oleh Raja Karangasem terakhir yaitu bernama Ida A.A. Agung Anglurah Ketut Karangasem (Stederhouder II).

“Untuk Puri Agung Karangasem sebagai pusat pemerintahan kerajaan pada saat itu, jika dilihat dari arsitektur bangunan puri, Puri Agung Karangasem merupakan sebuah peninggalan kerajaan yang strukturnya masih utuh sampai sekarang,” kata Kosalia.

Puri Agung Karangasem sebagai pusat pemerintahan Raja Ida A.A. Agung Anglurah Ketut Karangasem adalah istana yang istimewa. Dibangun pada lahan dengan luas sekitar 2 hektar, keistimewaan puri ini karena arsitektur puri yang menggabungkan 3 budaya sekaligus, yaitu China, Eropa, dan Bali.

“Untuk arsiteknya itu adalah raja yang terakhir. Saat pengerjaan taman-tamannya, dibantu juga oleh arsitektur Belanda pada saat itu,” kata kata Kosalia.

Sebagai destinasi wisata heritage, sejak tahun 1970 an Puri Agung Karangasem sudah mulai dikunjungi oleh wisatawan. “Waktu saya masih SD, saya lihat orang-orang Eropa sudah banyak yang melihat puri sebagai tempat peninggalan sejarah,” ujar Kosalia.


Di balik arsitektur bangunan unik dan sip, ternyata ada cerita menarik dari Puri Agung Karangasem. Bagi traveler yang ingin mencoba destinasi bersejarah dengan arsitektur dan spot instagramable, Puri Agung Karangasem adalah pilihan yang sip.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Museum Pustaka Lontar, Wisata Edukasi Rumahnya Lontar Bali



Karangasem

Bali timur tak hanya menawarkan keindahan alam yang menawan. Ternyata ada museum tersembunyi, pusatnya lontar Bali. Namanya Museum Pustaka Lontar di Desa Adat Dukuh Penaban.

Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban adalah museum komunitas karena dibangun oleh warga desa adat Pakraman Dukuh Penaban. Pembangunan museum mulai dilaksanakan pada bulan Agustus 2017.

Berdiri pada lahan seluas 1,5 hektar, museum hidden gems ini menyimpan ribuan koleksi catatan yang ditulis di atas daun lontar kering. Bahkan semua catatan ini usianya sudah tua, ada yang berusia sekitar 400 tahun.

Museum Pustaka Lontar menyimpan berbagai lontar yang isinya mulai dari tata cara kehidupan ritual hingga keseharian. Semua catatan ini pun masih dijadikan pedoman aturan di masyarakat adat Bali.

Bendesa Adat Dukuh Penaban, I Nengah Suarya, menjelaskan kehadiran Museum Pustaka Lontar memiliki banyak tujuan. Salah satunya adalah pusat wisata edukasi dan pelestarian lontar.

“Tujuan utamanya adalah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Tapi saat melihat kondisi banyaknya lontar warga yang hancur, kita juga fokus ke pelestarian dan penyelamatan lontar,” dia menjelaskan.

Selain itu, menilik niat pembangunan museum tersebut ternyata Museum Pusaka Lontar dibangun untuk mencegah pemuda merantau. Ya, pembangunan Museum Pusaka Lontar sekaligus menjadi salah satu upaya membuka lapangan pekerjaan bagi warga kampung itu.

“Pendirian museum dilatarbelakangi oleh realita masyarakat desa. Saya melihat masyarakat yang masih SMA sudah berpikir untuk merantau. Saat itu, masyarakat kita sudah tua-tua juga, sedangkan di desa adat ada tradisi yang memang harus kita lakukan setiap tahun,” ujarnya.

Secara turun-menurun, warga Desa Adat Dukuh Penaban merupakan petani penggarap. Belakangan keinginan anak muda untuk merantau sangat kuat.

“Kami di prajuru adat memiliki kekhawatiran juga, bagaimana jika semua masyarakat keluar merantau sementara ada hal yang harus kita lakukan di desa. Karena persoalan ekonomi yang menyebabkan anak-anak ingin merantau. Sehingga, kami berpikir untuk membuka lapangan kerja,” kata I Nengah Suarya.


Daya Tarik Museum Pustaka Lontar

Berkunjung ke museum yang satu ini, traveler akan diajak masuk untuk menjelajahi jaman dulu. Arsitektur bangunan yang masih menggunakan batu bata dengan bangunan-bangunan khas Bali, seperti Bale Sang Kul Putih, Pewaregan, dan Bale Daja.

Bintang utama sekaligus daya tarik dari Museum Pustaka Lontar terletak dari koleksi lontar yang dimiliki museum ini. Traveler yang merupakan generasi muda tentu masih asing dengan bentuk dan wujud lontar.

Di Museum Pustaka Lontar, Traveler akan mendapatkan culture experience dan edukasi untuk mengenal lontar sebagai sumber ilmu pengetahuan. Traveler akan melihat catatan dari masa lalu yang hingga saat ini masih relevan dengan kehidupan masyarakat Bali.

Yang tak boleh traveler lewatkan adalah pengalaman menyurat langsung nama traveler di atas lontar dan di pajang di Bale Daja.

“Nah di sini uniknya, kita tidak hanya mengedukasi saja, namun juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menulis atau menyurat langsung nama mereka di lontar yang sudah kami sediakan dan akan kami pajang di Bale Daja,” ujarnya.

Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket Museum Pustaka Lontar

Museum Pustaka Lontar berlokasi di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Bali. Dari Kota Denpasar, traveler cukup menempuh waktu sekitar 1 jam 50 menit untuk dapat sampai di Museum Pustaka Lontar. Dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.30 – 16.30 WITA. Traveler tak dipatok untuk harga tiket masuk karena di Museum Pustaka Lontar masih menerapkan sistem donasi. Ketika berkeliling, traveler akan ditemani dengan seorang tour guide dari museum ini.

“Selama ini kita masih menggunakan sistem donasi dan sudah include dengan tour guide. Namun, kemungkinan ke depan kami akan merancang untuk menetapkan harga tiketnya,” katanya.

Museum Pustaka Lontar memiliki beberapa fasilitas seperti Balai Pertemuan, ruang pameran, Balai Asta Brata, open stage, bale daja, dan dapur. Museum ini juga memiliki fasilitas camp, cocok untuk traveler yang ingin bermalam di sini.

Mau mengisi liburan dengan aktivitas yang anti mainstream, yuk berkunjung ke Museum Pustaka Lontar!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com