Tag Archives: wisata kudus

Berkunjung ke Masjid di Atas Awan



Jakarta

Tahukah traveler bahwa ada masjid di atas awan di Indonesia. Ya, destinasi religi ini berada di kawasan pegunungan.

Masjid peninggalan Sunan Muria atau Raden Umar Said cukup unik karena berada di puncak Pegunungan Muria. Warga menyebut bangunan itu sebagai ‘Masjid di Atas Awan’. Seperti apa penampakannya?

Masjid Sunan Muria berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Wisatawan atau peziarah untuk sampai ke lokasi biasanya naik ojek dari pangkalan Desa Colo menuju puncak Makam Sunan Muria.


Jika tidak naik ojek, pengunjung bisa jalan kaki dengan naik ribuan anak tangga agar sampai puncak Masjid dan Makam Sunan Muria salah satu penyebar Agama Islam di Jawa.

Masjid peninggalan Raden Umar Said hingga kini masih rutin digunakan masyarakat untuk kegiatan ibadah. Lokasi masjid bersebelahan dengan makam Sunan Muria. Biasanya ramai peziarah ke makam salah satu Wali Sanga itu.

asjid peninggalan Sunan Muria yang berada di puncak pegunungan tepatnya Desa Colo Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Senin (11/3/2024).Masjid Sunan Muria yang berada di puncak pegunungan tepatnya Desa Colo Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus (Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng)

Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria, Mastur mengatakan Masjid Sunan Muria dikenal banyak orang seperti berada di atas awan. Hal itu karena letak masjid yang berada di atas ketinggian sekitar 800-1.000 mdpl. Apalagi lokasi masjid berada di puncak Pegunungan Muria.

“Akhirnya masjid itu dibakar dan beliau mendirikan masjid yang sederhana ini. Ini ketinggian sekitar 800 mdpl. Luas tanah 19 ribu meter, ya betul kalau dilihat dari atas masjid dari atas awan,” kata Mastur ditemui di lokasi.

Mastur mengatakan ada banyak cerita sejarah mengenai asal usul Masjid Sunan Muria. Di antaranya konon Sunan Muria datang ke Colo mengikuti seekor kerbau. Kerbau itu berjalan membawa Sunan Muria sampai di puncak gunung.

Di puncak itulah Sunan Muria kemudian membangun masjid untuk ibadah masyarakat setempat pada abad ke 15-16 Masehi.

Baca artikel selengkapnya di detikJateng

(msl/msl)



Sumber : travel.detik.com

Menjadi ‘Jeng Yah’ di Museum Kretek Kudus



Kudus

Museum Kretek di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki koleksi baru, yaitu seperangkat alat linting tembakau. Pengunjung bisa belajar melinting seperti ‘Jeng Yah’ di film Gadis Kretek.

“Satu set itu sebenarnya ada delapan orang yang bekerja, tetapi di sini ada empat alat giling di sebelahnya ada lokasi untuk batil, jadi satu set digabung, jika ditambah lagi menjadi seperti diorama yang sudah ada Museum Kretek menjadi panjang,” kata Manajer Nojorono Kudus, Arif Gunadi ditemui di Museum Kretek Kudus, Selasa (26/3/2024).

Dia menambahkan, bahwa koleksi terbaru ini diperkirakan berusia 91 tahun. Alat produksi itu sebagai saksi Nojorono, salah satu perusahaan terbesar di Kudus ini memproduksi rokok jenis kretek.


“Alat produksi ini menjadi bagian dari Nojorono Kudus, sudah 91 tahun, ini model lama yang awal-awal dulu kami memproduksi rokok kretek sehingga itu sebuah pembelajaran, jangan disalahartikan ini menjadi tempat produksi kecil bukan, karena ini bukan tempat produksi kecil ini tempat bagian sejarah kami dulu yang kami hibahkan untuk menjadi edukasi buat masyarakat,” kata dia.

Koleksi seperangkat alat linting kretek di Museum Kretek Kudus, Selasa (26/3/2024).Koleksi seperangkat alat linting kretek di Museum Kretek Kudus. Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Lebih lanjut, alat produksi tersebut sebagai saksi hidup wanita di Kudus yang bekerja sebagai buruh rokok kretek. Menurutnya ada ribuan wanita di Kudus yang bekerja menjadi buruh rokok. Hal itu pun menjadi penopang ekonomi warga di Kota Kretek.

“Bagaimana ibu-ibu di Kudus itu hidup dari rokok itu. Sehingga mereka tergantung pada itu, ada ribuan pekerja di Kudus ini yang tergantung pada industri hasil tembakau seperti ini, dan ini sebuah sejarah yang harus diapresiasi, terutama Kudus bagian dari sejarah kretek yang namanya juga menjadi Kota Kretek,” ungkap Arif.

“Sehingga lebih mengenal sejarah Kota Kretek. Harapannya menjadi Jeng Yah-Jeng Yah ke depannya,” lanjut dia.

Sementara itu, Pj Bupati Kudus Muhammad Hasan Chabibie mengatakan bersyukur dengan koleksi baru di Museum Kretek Kudus. Menurutnya adanya koleksi baru ini menjadi tambahan ilmu bagi pengunjung yang berwisata edukasi ke Museum Kretek Kudus.

“Saya kira ini mewakili sebuah perjalanan panjang industri rokok kretek yang ada di Kudus. Salah satunya divisualisasikan dengan alat yang hibahkan, tentunya harapannya hibah alat ini ada pengalaman pengguna bisa langsung dipakai saat itu, untuk membuat rokok kretek ini menjadi pelajaran berharga buat pengunjung,” kata Hasan.

Artikel ini telah tayang di detikJateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Memetik dan Menyeduh Kopi Langsung dari Kebunnya di Pegunungan Muria



Kudus

Traveler pecinta kopi mesti mencoba pengalaman wisata satu ini, memetik dan menyeduh kopi langsung dari kebunnya di pegunungan Muria. Syahdu!

Di lereng Pegunungan Muria, tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, terdapat kebun kopi yang luas dengan pemandangan yang indah. Wisatawan yang liburan ke sini bisa merasakan kopi khas pegunungan Muria dengan pemandangan yang tiada duanya.

Salah satu penyedia paket wisata kopi di Lereng Muria adalah M Ridlo (35), warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Pemilik kopi Zayna ini menyediakan jasa trip perjalanan ke puncak Muria sambil menyeduh kopi langsung dari kebunnya.


Lokasinya berada di Puncak Gunung Muria. Perjalanan dari Desa Colo ditempuh dengan menggunakan sepeda motor. Jalan yang ekstrem dan terjal di Lereng Pegunungan Muria menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan. Perjalanan itu jaraknya sejauh 4 kilometer.

Sesampainya di puncak, wisatawan harus berjalan kaki lagi sekitar 500 meter. Pengunjung harus berhati-hati karena medan jalan cukup licin dan terjal.

Sesampainya di atas puncak gunung, rasa lelah bakal terbayar lunas. Sebab di atas terdapat gardu pandang yang siap digunakan untuk ngopi bersama dengan melihat keindahan alam.

Wisatawan asal Semarang, Winda, mengaku sengaja datang bersama temannya untuk menikmati kopi dan perjalanan muncak Gunung Muria. Dia mengakui harus melalui jalan yang ekstrem dan terjal. Namun hal itu terbayarkan setelah sampai puncak Muria.

“Perjalanan luar biasa bikin capek karena kita ramai-ramai juga pas perjalanan pakai motor. Untuk jalan kaki sedikit (terjal) tapi seru banget,” ungkap Winda di lokasi beberapa waktu lalu.

Menurutnya pemandangan dari puncak Muria begitu indah. Banyak Pegunungan terlihat. Pemandangan indah kota Kudus juga terlihat dari atas. Di lokasi juga terdapat hamparan kebun kopi yang luas.

Menikmati kopi langsung dari kebunnya di Lereng Gunung Muria Kudus, Sabtu (12/4/2025).Menikmati kopi langsung dari kebunnya di Lereng Gunung Muria Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Wisatawan bisa menikmati kopi di atas gardu pandang. Tak ayal berasa ngopi di atas awan dengan pemandangan alam yang sejuk dan indah.

“Pemandangan luar biasa banget. Bisa melihat pegunungan, terus suasananya sejuk banget. Kita diajak seduh kopi langsung dan di sini kita masak mi juga. Suara burung terdengar merdu sekali,” ungkap dia.

Pengelola wisata kebun kopi khas Muria, M Ridlo, menjelaskan potensi wisata ngopi di tengah kebun kopi Puncak Muria amat menarik. Sebab lokasi ini menawarkan panorama keindahan alam yang indah dan sejuk.

“Kita lagi ngopi di kebun kopi. Kita bisa sambil ngopi nyeduh kopi langsung di perkebunan kopi. Jadi kita ada edukasi wisata trip perjalanan ke kebun kopi. Petik kopi hingga nyeduh kopi langsung dari kebun,” ujar dia.

Ridlo menyediakan fasilitas jasa ojek hingga kopi. Wisatawan akan diantarkan sampai atas Muria. Setelah itu bisa menikmati kopi langsung dari tengah kebun di Puncak Muria.

“Perjalanan menyusuri Lereng Muria sampai di atas sini. Di sini ada beberapa fasilitas ada gardu pandang, masak, ngopi dan lainnya,” ujarnya.

Tarif untuk merasakan pengalaman ini dibanderol per orang antara Rp 60 ribu sampai Rp 120 ribu. Tergantung dengan spot puncak yang diinginkan. Semakin berat medannya, maka biayanya semakin bertambah.

“Untuk ngopi free semua. Tarif itu jasa ojek ke atas,” jelasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com