Tag Archives: wisata maluku

9 Destinasi Wisata di Banda Neira, Mulai dari Pesona Alam hingga Sejarah


Jakarta

Banda Neira atau bisa juga disebut Banda Naira adalah sebuah pulau yang ada di Kepulauan Banda, Maluku. Pulau ini menarik perhatian karena menawarkan pemandangan eksotisme yang menawan. Inilah yang membuat Banda Neira kerap dijuluki sebagai Surga dari Timur.

Di Banda Neira, ada beberapa destinasi wisata yang bisa kamu kunjungi. Mulai dari wisata budaya, bahari, hingga sejarah. Pulau kecil ini juga meninggalkan jejak-jejak sejarah di masa lampau. Karena keindahan pulaunya, Banda Neira dikenal hingga ke mancanegara.

Funfact, ternyata Banda Neira merupakan penghasil pala dan lada terbesar yang ada di masa kolonial. Lantas apa saja wisata menarik yang ada di Banda Neira? Yuk simak pembahasannya di bawah ini.


Destinasi Wisata di Banda Neira

Banda NeiraFoto: Syanti/detikTravel

Wisata Alam Banda Neira

Wisata alam yang ada di Banda Neira sangat menawan. Kamu akan disuguhkan pemandangan laut biru yang berpadu dengan gugusan gunung dan pulau yang indah. Ternyata, wisata bawah laut atau snorkeling di Banda Neira disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia loh! Berikut ini wisata alam di Banda Neira.

1. Gunung Api Banda

Dikutip melalui laman Dinas Pariwisata Maluku, Gunung Api Banda adalah sebuah gunung berapi sekaligus pulau yang letaknya ada di kepulauan Banda. Terdapat sekitar 23 jenis burung yang tinggal di Pulau Gunung Api Banda. Gunung Api Banda menjadi salah satu ikon wisata yang ada di Banda.

Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 656 meter mdpl. Jalur pendakiannya bisa dibilang cukup terjal dan membutuhkan energi lebih untuk mendaki. Namun, semua lelah akan terbayar ketika menyaksikan keindahan pemandangan pulau di atas Gunung Api Banda.

2. Lava Flow

Seperti yang sudah disampaikan di atas, Banda Neira menjadi salah satu spot snorkeling atau diving terbaik di dunia. Ada puluhan spot snorkeling atau diving yang ada di sana. Dari banyaknya spot menyelam, ada satu spot yang cukup menarik perhatian, yakni Lava Flow.

Lava Flow adalah spot menyelam yang menyajikan pemandangan biota bawah laut, habitat lionfish, dan terumbu karang. Sesuai dengan namanya, Lava Flow bisa terbentuk karena adanya aliran lava yang mengalir ketika Gunung Api Banda meletus.

3. Pulau Hatta

Pulau Hatta dulunya dikenal dengan Pulau Rozengain. Pulau Hatta merupakan permata tersembunyi yang ada di Maluku. Pulau Hatta menjadi salah satu destinasi wisata alam yang tidak boleh terlewatkan saat berkunjung di Banda Neira.

Salah satu aktivitas yang bisa kamu coba di sini adalah menyelam. Pemandangan bawah laut yang disuguhkan sangat menawan. Kamu bisa melihat gugusan terumbu karang, palung, dan biota laut saat menyelam.

4. Pulau Nailaka

Wisata alam selanjutnya yakni Pulau Nailaka. Pulau ini termasuk pulau tidak berpenghuni. Namun, meskipun tak berpenghuni, Pulau Nailaka menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan. Oleh karena itu pulau ini disebut sebagai sekeping surga yang jatuh di Bumi.

Hamparan pasir putih berpadu dengan air yang jernih menjadi daya tarik tersendiri dari pulau ini. Kamu bisa juga melakukan snorkeling di sini untuk menjelajahi dunia bawah laut di Pulau Nailaka.

5. Pulau Pisang

Destinasi wisata alam terakhir di Banda Neira adalah Pulau Pisang. Pulang Pisang kerap dikunjungi oleh politikus dan Sutan Syahrir. Oleh karena itu pulau ini juga disebut sebagai Pulau Syahrir.

Dinamai Pulau Pisang, karena terdapat sebuah tanjung pisang yang dijadikan sebagai spot untuk diving. Kedalaman rata-ratanya yakni sekitar 18 meter, dan kedalaman maksimalnya sekitar 25 meter dalamnya.

Wisata Sejarah Banda Neira

Banda Neira tidak hanya menyediakan sebuah destinasi wisata alam saja. Namun, ada juga wisata bersejarah yang ada di sana. Kamu bisa mengetahui jejak-jejak sejarah dari masa Kolonial Belanda yang ada di Banda Neira. Berikut ini wisata sejarah yang ada di Banda Neira.

1. Benteng Belgica

Dikutip melalui laman Ditjen Kebudayaan, Benteng Belgica adalah sebuah benteng pertahanan yang dibangun oleh VOC. Benteng ini dibangun pertama kalinya pada abad ke 16 oleh Bangsa Portugis. Benteng Belgica terletak di atas bukit dan berada di tengah pulau Neira.

Saat ini, Benteng Belgica menjadi salah satu dari Cagar Budaya yang wajib untuk dijaga. Untuk bisa mencapai benteng ini, kamu harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu. Dari atas benteng, kamu bisa menyaksikan indahnya pemandangan laut dan gunung api.

2. Rumah Budaya Banda Neira

Rumah Budaya Banda Neira sebenarnya adalah rumah pribadi milik sejarawan Banda bernama Des Alwi. Atau lebih dikenal sebagai anak angkat dari Bung Hatta. Namun sekarang, Rumah Budaya Banda Neira sudah dijadikan sebagai museum budaya. Museum ini berisi benda-benda bersejarah.

Seperti lukisan yang memiliki kisah mengenai pembantaian masyarakat Banda oleh para VOC di tahun 1621. Selain lukisan, masih banyak benda bersejarah lainnya yang ada di sana.

3. Istana Mini Neira

Istana Mini Neira adalah istana yang dibangun oleh VOC. Istana ini dulunya digunakan sebagai tempat tinggal Gubernur VOC. Saat itu, istana ini menjadi satu-satunya bangunan besar yang ada di Banda Neira. Di sekitar istana juga terdapat rumah-rumah yang menjadi tempat tinggal petinggi Eropa.

Sekarang, Istana Mini neira akan direvitalisasi dan digunakan sebagai Istana Kepresidenan. Kamu tetap bisa mengunjungi istana ini untuk menyaksikan jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan oleh kolonial Belanda.

4. Rumah Pengasingan Bung Hatta

Destinasi wisata sejarah yang bisa kamu kunjungi selanjutnya adalah Rumah Pengasingan Bung Hatta. Rumah ini menjadi tempat pengasingan Bung Hatta selama 6 tahun lamanya. Kala itu, Bung Hatta diasingkan bersama dengan Sutan Syahrir. Rumah pengasingan ini memiliki luas sekitar 441 meter persegi.

Saat ini, Rumah Pengasingan Bung Hatta menjadi bagian dari Cagar Budaya dari Maluku yang ditetapkan oleh Kemdikbud. Rumah pengasingan ini bisa dibilang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling utama yang ada di Banda Neira.

Demikian penjelasan mengenai destinasi wisata yang ada Banda Neira. Semoga bermanfaat!

(fds/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pulau Buru Surga Tersembunyi Bekas Lokasi Pengasingan Tapol



Jakarta

Pulau Buru memiliki keindahan alam yang memukau. Identik sebagai tempat pengasingan tahanan politik G30S. Juga, menjadi nama untuk empat roman karya Pramoedya Ananta Toer.

Pulau Buru merupakan salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku dan masuk dalam daftar Provinsi Maluku. Pulau yang penuh misteri sejarah karena menjadi lokasi pengasingan para tahanan politik pada zaman pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto.

Nama pulau itu dikenal lewat salah satu karya dari penulis Pramoedya Ananta Toer. Dia dibuang ke Pulau Buru dan menjadi tahanan politik di sana. Di antara karyanya, Pramudya menghasilkan empat buku dan dinamai Tetralogi Pulau Buru. Pramoedya menceritakan suasana Pulau Buru saat menjadi tapol.

Baru-baru ini, Pulau Buru kembali diperbincangkan. Gara-garanya, hiasan masjid berupa emas 2,6 kg senilai Rp 3 miliar dicolong. Masjid itu masjid warga.

Penasaran di manakah pulau itu berada dan apa saja fakta menarik Soal Pulau Buru?

Lokasi Pulau Buru

Pulau Buru adalah salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku. Dengan luas 8.473,2 km², dan panjang garis pantai 427,2 km. Menurut data BPS pada tahun 1997, jumlah penduduk Pulau Buru ialah 105.222 jiwa.


Pulau ini dihuni oleh beberapa kelompok etnis, seperti etnis asli, yakni Buru, dan etnis pendatang, yakni Ambon, Maluku Tenggara, Ambalau, Kepulauan Sula, Buton, Bugis, dan Jawa.

5 Fakta Pulau Buru

Nggak cuma menyajikan keindahan alam yang menawan, Pulau Buru ternyata juga menyimpan sejumlah fakta menarik dibaliknya.

Berikut deretan fakta menarik soal Pulau Buru yang dirangkum detikTravel.

1. Lokasi Pengasingan Tahanan Politik

Tahun 1969 hingga 1979, Pulau Buru dikenal sebagai lokasi pengasingan bagi para tahanan politik pada masa Orde Baru di Indonesia. Pulau Buru dijadikan tempat pembuangan para tapol yang diduga kuat terlibat dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Pulau ini pun dianggap sebagai gulag (tempat pembuangan) untuk menindas oposisi pada rezim Orde Baru.

Banyak tahanan politik, termasuk penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer, juga diangsingkan di pulau ini. Mereka diasingkan ke Desa Savana Jaya, Kecamatan Waepo, tanpa melalui proses siding terlebih dahulu.

2. Tertuang dalam Karya Tetralogi Pulau Buru

Penulis terkenal Pramoedya Ananta Toer menjadi salah satu orang yang ikut diasingkan ke Pulau Buru. Ia diduga bersikap oposisi dan melawan pemerintahan Orde Baru. Pengasingan di Pulau Buru tak mematikan kreativitas dari sang penulis, Pramoedya Ananta Toer.

Selama diasingkan ia mampu menulis karya yang bertajuk Tetralogi Pulau Buru. Empat series novel Indonesia, terdiri dari novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

3. Menyimpan Peninggalan Sejarah

Pulau Buru ternyata juga menyimpan peninggalan bersejarah, berupa benteng VOC. Terletak di Negeri Kayeli, Kecamatan Waepo. Benteng ini dibangun oleh Portugis dan direbut oleh Belanda.

Pada 1785 benteng ini dibangun kembali oleh Belanda. Bangunan berbentuk segi empat ini berbahan dasar batu bata. Pernah menjadi saksi biru masa kejayaan Kayeli sebagai pusat pemerintahan Belanda.

4. Punya Keindahan Alam yang Menawan

Pulau Buru memiliki panorama alam yang sangat indah dan masih sangat asri. Mulai dari pantai hingga bukitnya yang menawarkan pemandangan memukau.

Salah satu destinasi wisata andalan Pulau Buru adalah Pantai Jikumerasa yang terletak di Desa Jikumerasa, Kecamatan Lilialy. Pantai dengan pasir putih dan lumba-lumba yang melompat dari air menjadi daya tarik utama dari pantai ini.

Ada juga Air Terjun Waetina di desa Bara, Kecamatan Airbuaya. Air terjun ini memiliki tiga tingkatan yang membentuk sebuah kolam. Airnya pun tampah sangat jernih, ditambah lingkungan yang asri.

Bukit Tatanggo juga oke untuk traveler yang mau menikmati momen matahari terbenam di Pulau Buru. Oke banget jadi tempat healing.

5. Ada Danau Keramat nan Indah, Danau Rana

Pulau ini ternyata nggak hanya menyimpan wisata yang indah, namun juga konon keramat. Salah satunya ada Danau Rana, danau yang terletak di ketinggian sekitar 700 MDPL.

Danau yang dinobatkan menjadi danau terbesar di Provinsi Maluku ini juga menjadi salah satu pusat peradaban budaya di Pulau Buru. Danau Rana dikenal keramat oleh masyarakat sekitar.

Kekayaan budaya dan kearifan lokal setempat menjadi sisi menarik dari Danau Rana. Traveler tak hanya menikmati keindahan danau tapi juga belajar tentang peradaban di sekitar danau yang masih lestari.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Rahasia di Balik Kebahagiaan Warga Maluku



Ambon

Di balik lanskap kepulauan yang tersebar bak untaian zamrud di timur Nusantara, Maluku menyimpan lebih dari sekadar panorama menakjubkan.

Provinsi yang wilayahnya didominasi 97% oleh air ini berhasil memberikan rasa bahagia yang melimpah bagi warganya.

Tak terkecuali bagi seorang Zidane Bachmid, saat kami temui Kamis pagi (17/7/2025), di rumahnya yang berlokasi di tengah laut Seram; dengan nama Keramba Cinta itu.


Pagi masih pukul 07.50 WIT, tapi tidak menyurutkan semangat Zidane saat menyambut kami yang baru saja tiba di depan ‘teras’ rumahnya itu.

Dengan sigap, Zidane membantu kami keluar dari speedboat dan langsung mengajak ke spot-spot menarik di Keramba Cinta. Tampaknya apa yang dilakukan Zidane sudah dia lakukan beratus-ratus kali tiap orang-orang memilih singgah di rumahnya tersebut.

Zidane BachmidZidane Bachmid Foto: Eduardo Simorangkir/detikcom

Keramba Cinta tidak dibangun sebagai destinasi wisata, hanya sesederhana rumah di tengah laut saja. Namun seiring ramainya orang yang berwisata ke Negeri Saleman, para turis juga melirik tempat ini hingga dijadikan salah satu spot berwisata saat mengunjungi Pantai Ora.

Keramba Cinta juga tidak memungut biaya masuk. Siapapun bisa datang ke Keramba Cinta dengan akses dari Pantai Ora sekitar 20 menit menggunakan speedboat.

“Pada prinsipnya ini kayak rumah nelayan, dan setiap orang yang datang itu kayak orang bertamu ke rumah kita.” kata Zidane.

Keramba Cinta dibangun di atas laut, berupa kolam yang dibentuk seperti simbol hati atau cinta, dengan luas 50×50 meter. Usut punya usut, Keramba Cinta ini dibangun sejak 2019 oleh ayah Zidane; Taha Bachmid.

Taha Bachmid merupakan seorang pria kelahiran Saparua, Maluku, yang menempuh pendidikan hingga ke Jepang, sebelum akhirnya kembali ke kampung halamannya ini mendirikan Keramba Cinta; rumah impian masa kecilnya.

“Memang cita-cita beliau dari dulu pengin punya rumah buat hari tua di tengah laut.” kata Zidane.

Saat itu Taha tidak ada di lokasi. Zidane bilang, ayahnya tengah membantu proses pendidikan sang adik yang akan kuliah di Jepang.

Jembatan pandang di TanusangJembatan pandang di Tanusang Foto: Eduardo Simorangkir/detikcom

Zidane mengaku sudah satu tahun terakhir menghabiskan waktu di Keramba Cinta. Pria kelahiran Banyuwangi 22 tahun yang lalu ini sejatinya masih berkuliah di Rusia, mengambil jurusan desain arsitektur lingkungan.

Namun di tengah sisa dua semester yang harus dia jalani, Zidane memilih kembali ke Maluku untuk berlibur, menghabiskan waktu di tengah laut, menyambut setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya itu.

“Enaknya di sini, tiap hari dapat teman baru, koneksi baru, kenalan baru. Dan most of them orang top semua. Kayak misalnya Dirut Grab sudah ke sini, rektor UI.” jelas Zidane.

Di rumah itu, dia memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik, dan sisanya alam yang menjadi teman. Laut yang penuh dengan ikan menjadi sumber makanannya sehari-hari.

Jika ingin kelapa muda tinggal menepi ke pulau di sekitarnya, atau menanti nelayan yang dia sebut biasa bersinggah di malam hari untuk istirahat, ngopi, dan nongkrong.

Apa yang dijalankan Zidane sedikit banyak menggambarkan bagaimana warga Maluku bisa menemukan kebahagiaan paripurna dalam sebuah kesederhanaan.

Indeks Kebahagiaan Maluku

Tak heran, Maluku menjadi satu-satunya provinsi yang terus berada dalam top 3 indeks kebahagiaan menurut wilayah di Indonesia sejak 2014. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Kebahagiaan Maluku pada 2021 sebesar 76,28, melebihi rata-rata nasional sebesar 71,49.

Indeks Kebahagiaan ini diukur dari beberapa dimensi, yaitu dimensi kepuasan hidup (life satisfaction), dimensi perasaan (affect), dan dimensi makna hidup (eudaimonia).

Artinya, seseorang dapat merasa bahagia bukan cuma karena faktor ekonomi, tetapi juga adanya rasa puas terhadap kehidupan, pengalaman emosional yang positif, serta makna yang mendalam dalam hidup mereka.

Masyarakat Maluku memiliki sikap, cara hidup, dan aktivitas tersendiri yang memberikan rasa bahagia, meskipun kemiskinan masih jadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu dibereskan.

Maluku punya masalah di bidang ekonomi, di mana persentase penduduk miskinnya masuk dalam 10 besar terbanyak di Indonesia. BPS pada 2024 mencatat, Provinsi Maluku memiliki persentase penduduk miskin sebanyak 15,78%, jauh di atas rata-rata nasional yang sebesar 8,57%.

Pertumbuhan ekonomi Maluku juga tak sekencang provinsi lainnya di Indonesia. Pada 2022, laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) provinsi Maluku hanya berada di angka 5,31. Angka tersebut kalah jauh dibandingkan Maluku Utara yang PDB-nya tumbuh 22,94% pada periode serupa.

Tapi alam, budaya, dan seni barangkali cukup jadi sumber kebahagiaan bagi warga Maluku, termasuk Zidane. Meski lahir dan besar di Banyuwangi, Zidane mengaku betah menghabiskan waktu bersama alam dan orang-orang yang mengagumi kesederhanaannya di Keramba Cinta.

“Nggak ada trauma sih (bisa ada di sini). Setelah ngerasain di tempat lain juga, katakan Eropa atau papa yang ada di Jepang, ya biasa saja. Ujungnya bisa dinikmati atau nggak.” kata Zidane.

Tebing HatupiaTebing Hatupia Foto: Eduardo Simorangkir/detikcom

Keramba Cinta hanyalah satu dari banyak titik-titik ‘surga’ yang tersembunyi lainnya di Maluku. Dalam perjalanan menyusuri Ambon, Pulau Seram, hingga Pulau Geser, kami juga menemui surga tersembunyi lainnya di Maluku.

Mulai dari Bukit Teletubbies di Negeri Latea, Kecamatan Seram Utara Barat, pasir timbul Tanusang di Pulau Geser, atau Tebing Hatupia di Desa Sawai.

Surga-surga tersembunyi inilah yang barangkali menjadi rahasia di balik senyum warga Maluku. Kebahagiaan mereka lahir dari keindahan alamnya yang memesona – dari pasir putih di Pantai Ora, gemuruh ombak di Banda, heningnya Pulau Kei, atau sesederhana menemukan ketenangan di Keramba Cinta.

(eds/wsw)



Sumber : travel.detik.com