Tag Archives: wisata museum

Menanti Wajah Baru Museum Benteng Vredeburg



Yogyakarta

Museum Benteng Vredeburg sedang menjalani revitalisasi dan pemeliharaan. Seperti apa wajah baru museum di Yogyakarta ini ya?

Untuk mengoptimalkan fungsi Museum Benteng Vredeburg sebagai destinasi wisata edukasi dan ruang publik yang menyenangkan bagi masyarakat, program revitalisasi dan pemeliharaan pun dilakukan oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (MCB) atau Indonesia Heritage Agency (IHA).

Proyek transformasi Museum Benteng Vredeburg meliputi revitalisasi infrastruktur dengan pembaruan dan pemeliharaan area terbuka, serta ruang tata pamer museum.


Selanjutnya, pembangunan fasilitas pengunjung seperti museum shop dan ruang anak pun dilakukan, untuk mengoptimalkan pengalaman publik yang lebih edukatif dan interaktif.

Plt Kepala BLU Museum dan Cagar Budaya (MCB), Ahmad Mahendra menyatakan, transformasi Museum Benteng Vredeburg bertujuan untuk meningkatkan pengalaman pengunjung yang lebih baik lagi ke depannya.

“Kami berharap museum ini tidak hanya menjadi ruang edukasi sejarah, tetapi menjadi tempat yang nyaman untuk rekreasi. Untuk itu, MCB terus berkomitmen untuk terus mendukung transformasi museum yang profesional melalui berbagai agenda revitalisasi untuk menjadikan museum sebagai ruang yang nyaman untuk semua,” ujar Mahendra dalam keterangannya, Senin (11/3/2024).

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg Foto: (dok. IHA)

Museum Benteng Vredeburg terletak di Kota Yogyakarta. Museum ini memiliki lebih dari 7.000 benda bersejarah, mulai dari peralatan rumah tangga sampai peralatan perang.

Menempati bangunan kolonial yang dibangun pada tahun 1760, museum yang beralamat di Jalan Margo Mulyo No 6 ini menjadi destinasi wisata sejarah yang memiliki nilai historis dan edukatif bagi para pengunjung.

Selama proses revitalisasi, Museum Benteng Vredeburg akan tutup dari tanggal 4 Maret 2024. Kendati demikian, bagi publik yang ingin mengeksplorasi koleksi museum dapat mengakses kegiatan “Vredeburg Virtual Visit” yang diselenggarakan setiap hari Senin untuk umum atau individu dan Rabu untuk kelompok atau sekolah pukul 09.00-11.00 WIB secara gratis.

Penanggung Jawab Unit Museum Benteng Vredeburg, M. Rosyid Ridlo menjelaskan, rencananya museum secara fisik akan kembali dibuka untuk publik dengan wajah barunya pada pertengahan tahun 2024.

“Walau secara fisik museum tutup, tetapi kami tetap hadir secara virtual. Hal ini penting bagi kami, karena tugas kami adalah untuk membuka akses masyarakat terhadap bangunan, artefak dan benda bersejarah yang dapat diolah menjadi produk pengetahuan sejarah dan berguna untuk pemahaman bangsa mengenai warisan budaya Nusantara dan semangat perjuangan bangsa Indonesia,” tutupnya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Bekas Rumah Laksamana Muda Maeda yang Kini Jadi Munasprok



Jakarta

Wisata sejarah di Jakarta begitu berlimpah. Salah satunya adalah Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok). Mari simak kisah bekas rumah Laksamana Maeda!

Di tempat ini, traveler bisa napak tilas tentang perencanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang digaungkan oleh para tokoh Indonesia kala itu.

detikTravel mengunjungi bekas kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda yang terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat. Laksamana Muda Maeda berperanan penting dalam perumusan proklamasi kemerdekaan Indonesia.


Ia memberikan izin kepada Ir. Sukarno dan tokoh lainnya untuk menggunakan rumah tersebut sebagai tempat untuk merumuskan naskah proklamasi. Rumah dengan luas sekitar 1.138 meter persegi dan terdiri dari dua lantai ini memberikan banyak informasi terkait proses tersebut.

Di lantai dasar terdapat beberapa ruangan penting yang dipakai pada saat itu seperti meja yang dipakai oleh Laksamana Muda Maeda beserta Ir. Sukarno dan yang lainnya untuk membahas naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

“Bangunan ini terdiri dari dua lantai, nah lantai satu itu kita sebut ada empat ruangan utama dan lantai dua sebenarnya lebih kepada fungsinya. Jadi semua proses perumusan naskah proklamasi itu terjadi di lantai satu,” kata educator Munasprok Aidil Fitra kepada detikTravel, Rabu (22/5/2024).

Museum Naskah ProklamasiMuseum Naskah Proklamasi Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Sembari menerangkan dan menjelajahi ruangan demi ruangan, Aidil menjelaskan pada saat Laksamana Muda Maeda menempati bangunan ini, lantai dua memang jadi area privat sang Laksamana Jepang saat itu. Berbeda dengan lantai satu yang areanya banyak disambangi oleh kolega dan tamu-tamunya pada saat itu.

Dalam museum ini pengunjung juga bisa merasakan dan melihat bagaimana proses demi proses para tokoh bangsa dalam merumuskan naskah proklamasi, terlebih saat berada di lantai satu museum.

“Ruangan di lantai satu itu memang memang kita atur ruangan-ruangannya berdasarkan tempat-tempat yang menjadi urutan peristiwanya itu seperti ini ruang tamu atau ruang pertemuan,” kata Aidil.

Kemudian dilanjut ke ruang perumusan, di sinilah ketiga tokoh nasional ini merumuskan naskah, ada Ir. Sukarno, Moch. Hatta, dan Ahmad Soebardjo.

Di ruang makan ini terdapat meja makan yang kerap dipakai oleh Laksamana Muda Maeda, karena Ir. Sukarno meminta ruangan khusus untuk merumuskan naskah maka meja makan ini pun jadi ruang khususnya.

“Jadi naskah proklamasi itu memang dibuat di atas meja makannya Tadashi Maeda,” ujar dia.

Museum Naskah ProklamasiMuseum Naskah Proklamasi Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Aidil melanjutkan dari peristiwa di meja makan ini, Laksamana Maeda lantas meninggalkan ketiga tokoh ini ke ruangannya untuk beristirahat. Jadi tak ada campur tangan pihak lain dalam perumusan naskah ini, Laksamana Muda Maeda hanya memberikan ruangannya saja.

Sambil bercerita, Aidil pun mengarahkan menuju ruangan di mana teks proklamasi yang telah ditulis oleh Ir. Sukarno diketik ulang oleh Sayuti Melik di ruangan ini. Ia pun menceritakan peristiwa pengetikan ini.

Setelah selesai mengetik ulang naskah tersebut, Sayuti Melik pun lantas membuang teks berupa tulisan tangan Ir. Sukarno terkait proklamasi.

Di sinilah peran penting BM. Diah, ia mengambil dan menyimpan tulisan asli tersebut hingga saat ini bisa diketahui tulisan asli Ir. Sukarno pada naskah proklamasi.

Dilanjut ke ruangan keempat adalah ruang pengesahan. Walaupun tempat ini disebut demikian, Aidil menyebut sebetulnya naskah proklamasi ditandatangani di atas piano yang yang berada di area ruangan ini. Hingga pada akhirnya ruangan ini disebut ruang pengesahan.

“Karena memang naskah proklamasi itu ditandatangani di atas piano. Jadi karena pianonya terletak di bagian ruangan ini jadi kita sebut dengan ruang pengesahan,” kata Aidil.

Museum Naskah ProklamasiMuseum Naskah Proklamasi Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Bangunan ini resmi dijadikan sebagai museum pada tahun 1992, sementara Laksamana Muda Maeda terakhir menempati rumah dinasnya ini pada tahun 1945. Dan saat itupun Indonesia menerima bangunan ini kembali dalam keadaan yang kosong alias tak ada perabotan sama sekali.

Pada saat itulah untuk kembali mengingat peristiwa-peristiwa bersejarah ini, pemerintah saat ini mendatangkan mantan asisten rumah tangga Laksamana Muda Maeda yang bernama Satsuki Mishima. Itu untuk memberikan gambaran tata letak dan furniture yang ada pada saat Laksamana Muda Maeda menempati bangunan ini.

“Nah jadi waktu pengkajian untuk dijadikan museum, tentunya kita butuh sumber utama untuk kita jadikan rujukan jadi ketika itu kita sempat mendatangkan mantan asisten rumah tangga Maeda namanya Nyonya Satsuki Mishima itu didatangkan langsung dari Jepang,” ujar Aidil.

“Jadi koleksi yang ada di lantai satu semua (barangnya) replika. Replika tapi sesuai dengan bentuk aslinya berdasarkan dari arahan Nyonya Satsuki Mishima tadi,” ujar dia.

Itulah jejak-jejak peristiwa bersejarah yang berada di Munasprok. Banyak informasi yang akan kamu tahu tentang perumusan naskah proklamasi jika berkunjung ke tempat ini.

Dengan harga tiket masuk yang murah hanya Rp 1.000 untuk anak-anak dan Rp 2.000 untuk dewasa, kamu sudah bisa merasakan bagaimana suasana bersejarah ini.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com