Tag Archives: wisata ntt

7 Fakta Wae Rebo, Runner-up Kota Kecil Terindah Dunia 2024



Jakarta

Keindahan Wae Rebo sukses mendapatkan predikat sip sejagat. Wae Rebo menduduki peringkat kedua kota kecil terindah di dunia.

Penghargaan itu dirilis oleh media berbasis di Inggris TimeOut merilis daftar kota kecil terindah di dunia 2024 belum lama ini.

Tersembunyi di dalam rimbunnya pepohonan, Desa Wae Rebo atau Waerebo adalah salah satu desa adat Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih tetap utuh dan terjaga keasliannya. Wae dalam bahasa Manggarai artinya ialah “air”.


Desa ini tidak sekadar desa biasa. Desa Wae Rebo, salah satu destinasi budaya yang ada di Kabupaten Manggarai. Setiap orang yang menginjakkan kakinya di sini akan dibuat terpesona dengan keindahan lanskap alam dan budayanya.

Untuk sampai ke “surga” di atas awan ini diperlukan perjuangan dengan berjalan kaki. Tapi semua akan dibayar lunas dengan keindahan alam yang traveler dapatkan.

Di balik keindahan alam dan ragam kehidupan sosialnya yang unik, Desa Wae Rebo menyimpan fakta yang menarik untuk diulas.

Berikut ini 7 fakta Desa Wae Rebo:

1. Desa di Atas Awan

Desa Wae Rebo terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Desa ini menjadi salah satu desa tertinggi di Indonesia. Kerap dijuluki surga di atas awan, karena keindahan alamnya.

Kabut tipis sering menyelimuti desa ini di pagi hari. Karena lokasinya yang tinggi, untuk sampai ke Desa Wae Rebo pengunjung akan melakukan trekking sekitar 9 kilometer selama 2-3 jam. Sangat disarankan untuk menyewa jasa guide sebagai penunjuk jalan. Jangan lupa coba sensasi bermalam di Wae Rebo ya!

2. Rumah Adat Mbaru Niang

Wae Rebo terkenal dengan rumah adatnya yang disebut Mbaru Niang. Kata Mbaru berarti rumah, sedangkan kata Niang berarti tinggi dan bulat. Bentuk Mbaru Niang dimaknai sebagai suatu falsafah bahwa keseimbangan terwakili melalui bentuk lingkaran.

Mbaru Niang dibangun sebanyak tujuh rumah yang disusun berbentuk melingkar pada tanah yang datar. Satu rumah terdiri dari lima lantai dan dihuni oleh enam hingga delapan keluarga. Pada bagian tengah lingkaran terdapat sebuah altar yang bernama Compang yang digunakan untuk menyembah Tuhan dan roh-roh leluhur.

3. Menjadi Warisan Budaya UNESCO

Berkat keindahan alam dan kekayaan budayanya membuat Wae Rebo dinyatakan sebagai Warisan Budaya Dunia pada Agustus 2012 oleh UNESCO. Desa ini berhasil menyisihkan 42 negara lainnya.

Rumah Mbaru Niang yang ada di Wae Rebo dianggap sangat unik dan langka. Keunikan tersebut menjadikan desa ini sebagai salah satu lokasi Konservasi Warisan Budaya UNESCO.

4. Upacara Adat Penti

Warga Desa Wae Rebo memiliki hari spesial yang dirayakan setiap bulan November. Namanya Upacara Adat Panti. Upacara ini merupakan salah satu perayaan untuk mengucapkan rasa syukur berkat hasil panen yang diperoleh. Upacara ini juga menandakan sebuah awal dalam bercocok tanam di Wae Rebo .

Upacara Adat Penti juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan ketika ingin berkunjung ke Desa Wae Rebo . Penasaran keunikan upacara ini? Traveler bisa berkunjung ke Wae Rebo di pertengahan bulan November.

5. Sudah Berumur 1200 Tahun

Wae Rebo kini sudah berumur 1200 tahun dan sudah memasuki generasi ke-20. Dimana satu generasi berusia 60 tahun lamanya. Desa ini termasuk salah satu desa tertua yang ada di Flores.

6. Warga Lokal Keturunan Minang

Meskipun Desa Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang jauh dari tanah asalnya, ternyata penduduk desa ini memiliki darah Minangkabau, Sumatera Barat. Empo Maro, nenek moyang Wae Rebo berasal dari Minangkabau yang melakukan perantauan jauh hingga ke Flores.

Setelah mengembara ke berbagai tempat, Empo Maro akhirnya menemukan tempat tinggal tetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Wae Rebo .

Meskipun memiliki latar belakang Minangkabau yang kental, namun menariknya, nama-nama penduduk di desa ini tidak mengikuti pola umum yang biasa ditemui di kalangan masyarakat Minangkabau.

7. Melakukan Upacara Kemerdekaan, Bendera Dipasang di Atas Rumah

Fakta unik lainnya dari Desa Wae Rebo adalah saat merayakan Hari Kemerdekaan RI. Warga Wae Rebo akan memasang bendera merah putih di atas rumah adat Mbaru Niang saat upacara berlangsung. Unik ya! Meskipun lokasinya yang jauh, warga Wae Rebo tetap antusias dan hikmat menjalankan Upacara Kemerdekaan.

Sudah tau kan 7 fakta menarik tentang Desa Wae Rebo , desa cantik di atas awan. Meskipun lokasinya jauh, ternyata tak membuat desa ini sepi pengunjung. Penasaran dengan keindahan alamnya? Yuk langsung cus berlibur ke Wae Rebo .

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

NTT Bukan Provinsi Biasa, Ini 10 Kepingan Surga untuk Wisatawan



Jakarta

Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki spot wisata yang aduhai indahnya. Ini sederet objek wisata yang wajib dikunjungi wisatawan saat mengunjungi pulau-pulau di sana.

Provinsi yang berada di bagian tenggara Indonesia itu memiliki sederet pulau-pulau cantik mempesona. Mulai dari Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, Pulau Alor, Pulau Lembata, Pulau Rote, Pulau Sabu, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Ende, Pulau Komodo, hingga Pulau Palue.

Lautan, bukit, budaya, dan adat, bahkan hamparan padang rumput menjadi sesuatu yang menawan di sini. Ditambah lagi satwa endemik komodo (Varanus komodoensis), burung garugiwa atau kancilan flores (Pachycephala nudigula), dan flora endemik cendana wangi (Santalum album) yang tiada dua. Juga kekayaan hutan, mulai dari kopi, kemiri, cengkeh, pala, hingga jahe.


detikTravel telah merangkum beberapa destinasi wisata yang bikin list perjalanan kamu menjadi mudah saat vakansi ke NTT. Berikut adalah rangkumannya:

1. Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo berada di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores di kepulauan Indonesia Tengah. Secara administratif termasuk dalam Wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Kawasan itu ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo pada tanggal 6 Maret 1980 dan dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfer pada tahun 1977 dan juga sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1991, sebagai Simbol Nasional oleh Presiden RI pada 1992, sebagai Kawasan Perlindungan Laut pada tahun 2000 dan juga sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia pada 2006.

Taman Nasional Komodo memiliki luas 173.300 ha meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, Gili Motang, Nusa Kode dan juga pulau-pulau kecil lainnya.

Kepulauan tersebut dinyatakan sebagai Taman nasional untuk melindungi Komodo yang terancam punah dan habitatnya serta keanekaragaman hayati di dalam wilayah tersebut. Taman lautnya dibentuk untuk melindungi biota laut yang sangat beragam yang terdapat disekitar kepulauan tersebut, termasuk yang terkaya di bumi.

Taman Nasional komodo terletak di kawasan Wallacea Indonesia. Kawasan Wallacea terbentuk dari pertemuan dua benua yang membentuk deretan unik kepulauan bergunung api, dan terdiri atas campuran burung serta hewan dari kedua benua Autralia dan Asia. Terdapat 254 spesies tumbuhan yang berasal dari Asia dan Australia di Taman Nasional Komodo. Selain itu, terdapat 58 jenis binatang dan 128 jenis burung.

2. Labuan Bajo

Labuan Bajo merupakan pintu masuk terbesar ke wilayah NTT lainnya. Kawasan ini memiliki banyak hotel, restoran, kafe, agen travel, persewaan kapal, dll.

Di sini juga terdapat sejumlah objek wisata, di antaranya perbukitan Golo Mori, Puncak Waringin, Goa Batu Cermin, Desa Wisata Loha, air terjun Cunca Rami, dan Waterfront City Marina Labuan Bajo.

3. Pantai Dintor

Pantai yang terletak di Desa Satar Ruwuk, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai ini menyuguhkan keindahan yang menakjubkan. Dengan hamparan pasir putih dan batuan-batuan kecil di bibir pantai bisa membuat kamu terpukau.

Di Pantai Dintor kamu juga akan mendapatkan bonus melihat kawasan yang tak kalah indahnya yaitu Pulau Mules, tepat berada di seberang Pantai Dintor.

Kamu bisa menikmati pesona pantai ini dengan berbagai cara, bisa menikmatinya dengan berjalan di bibir pantai ataupun hanya duduk-duduk di bawah pohon kelapa sambil mendengarkan syahdunya gemericik ombak.

4. Desa Wae Rebo

Disebut juga sebagai desa di atas awan, berada di dataran tinggi bagian selatan Pulau Flores. Yang menjadi daya tarik bagi wisatawan ke Desa Wae Rebo adalah pesona alam serta budaya masyarakatnya yang masih kental dengan adat leluhur.

Jika kamu berkunjung ke desa ini, kamu bakalan melihat bagaimana masyarakat Desa Wae Rebo memegang teguh adat-istiadat. Tentunya juga terdapat rumah khas yang bernama Mbaru Niang, Mbaru yang artinya rumah dan Niang adalah tinggi dan bulat.

5. Danau Kelimutu

Pernah melihat ikon danau tiga warna dipecahan uang Rp 5000 dulu? Ya danau tersebut adalah Danau Kelimutu yang berada di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Danau itu disebut danau tiga warna karena memiliki warna merah, biru, dan putih.

Untuk bisa menikmati pesona Danau Kelimutu, terlebih dahulu kamu perlu berjuang mendaki Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1.631 meter di atas permukaan laut. Tapi sehabis melakukan pendakian tersebut, dijamin semua rasa lelah akan terbayarkan dengan melihat keindahan danau itu.

6. Bukit Warinding

Hamparan perbukitan di Nusa Tenggara Timur memang tak kalah menariknya dari destinasi lainnya, termasuk Bukit Warinding. Bukti yang berlokasi di Desa Pambotanjara, Kabupaten Sumba Timur ini juga pernah dijadikan sebagai set film Pendekar Tongkat Emas besutan Mira Lesmana.

Sudah terbukti indahnya lanskap bukit ini sehingga menjadi tempat syuting film, pesona yang membuat Bukit Warinding ini adalah bentuk bukitnya yang menyerupai raksasa yang tengah tidur terlentang.

7. Cunca Wulang

Cunca Wulang merupakan air terjun yang berada di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Air terjun ini memiliki ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dengan air yang jernih dan segar mengalir dari air terjun tersebut.

Dikelilingi hutan dan perbukitan, Cunca Wulang menyuguhkan pengalaman yang berbeda. Wisatawan yang datang juga bisa merasakan air terjun ingin dengan berenang di tepian aliran atau sekadar berendam saja.

Masih banyak lagi destinasi yang Nusa Tenggara Timur suguhkan untuk dijelajahi, agar tak bingung menentukan tujuan pelesiran. Pastinya yang perlu diperhatikan adalah mempersiapkan segala sesuatu sebelum melangsungkan keberangkatan mulai dari budgeting, akomodasi hingga tempat mana saja yang akan dituju.

8. Desa Wisata Ululoga

Desa Wisata Ululoga di Kecamatan Mauponggo, Nagekeo menawarkan wisata tidak biasa, yakni paket wisata tur rempah-rempah.

Desa ini memang kaya akan rempah-rempah. Mulai dari pala, merica, hingga jahe.

9. Perburuan Paus Tradisional di Lembata

Merujuk situs kemendikbud, masyarakat Lamalera di Kabupaten Lembata memiliki tradisi berburu paus dengan cara tradisional. Perburuan paus yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai Baleo itu menjadi gambaran kearifan lokal para nelayan Lamalera yang tangguh, pemberani, dan dan pantang menyerah.

Perburuan paus itu bukan membantai paus, tetapi perburuan paus oleh nelayan Lamalera yang sudah ada sejak abad ke-17 itu dilaksanakan dengan aturan terkait waktu, peralatan, pelaksanaan, hingga jenis paus yang dapat ditangkap.

Selain itu, Lembata memiliki banyak objek wisata, mulaidi antaranya Pulau Pasir Putih Awelolong/Awololo, Gua Maria Lewoleba. Pantai Rekreasi Pasir Putih Waijarang, Sumber Air Panas Sabu Tobo, Adum, dan Labalimut, rumah adat dan ritus Pesta Kacang Jontona, dll

10. Pulau Alor

Alor boleh dibilang merupakan surga bagi para penggemar selam. Di sini tercatat memiliki 42 spot diving.

Selain diving, di Alor terdapat banyak pantai, di antaranya Ling Al, Maimol, dan batu Putih.

Kemudian, ada Museum 1000 Moko. Mako adalah alat musik khas Alor dari perunggu. Moko juga berfungsi sebagai mas kawin dan alat untuk membayar denda. Di Alor Museum 1000 Moko berada di Jalan Diponegoro, Kalabahi, Alor.

Di Alor juga terdapat Al Quran kuno berusia ratusan tahun, tepatnya berada di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut. Al Quran ini terbuat dari kulit kayu dan memuat 30 juz (114 surat) dan diperkirakan telah berusia 500 tahun. Konon Al Quran ini dibawa dari Ternate sebagai misi penyebaran agama Islam ke Alor.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Terpukau Pulau Padar, Paket Komplet Healing dan Trekking



Jakarta

Seenggaknya sekali seumur hidup traveler menjejak Pulau Padar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sini, rasanya tenteram dan nyaman usai melepaskan pandangan sejauh-jauhnya.

Perjalanan menuju Pulau Padar, yang merupakan bagian dari Taman nasional Komodo, bukan hanya perihal mencapai tujuan, tetapi juga menjelajahi pesona alam yang luar biasa.

Untuk menuju ke sana, memakan waktu selama sekitar satu jam hingga satu jam 30 menit menggunakan speedboat dari hotel yang saya tempati di Labuan Bajo. Saya menuju Pulau Padar bersama rombongan yang mayoritas debutan berlibur ke provinsi ini.


Saya berkesempatan menuju Pulau Padar saat musim kemarau. Saat cuaca betul-betul panas.

Sungguh, benar-benar disuguhi berbagai pemandangan yang memukau, dengan pulau-pulau kecil yang terlihat dalam perjalanan menuju pulau yang ada di sana.

Awalnya dari kejauhan, Pulau Padar ini terlihat seperti pulau kecil dan mungkin di pikiran pengunjung baru seperti saya akan berkata “Ah, ini sih mudah untuk mencapai ke puncaknya”.

Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar.Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar. (Foto: dok. istimewa)

Namun sesampainya di sana, detikTravel baru menyadari bahwa pulau ini sebenarnya cukup tinggi, bahkan memiliki ketinggian sekitar 238 MDPL dan 817 anak tangga menurut salah satu penjaga sekaligus naturalist Balai Taman Nasional Komodo, Makasae.

Perjalanan mendaki menjadi tantangan tersendiri. Meskipun awalnya tampak mudah, kenyataannya membutuhkan stamina yang baik untuk mencapai puncaknya. Rute mendaki yang menanjak dan jumlah anak tangga yang banyak dapat menjadi ujian fisik, namun setiap langkah yang diambil membawa saya semakin dekat pada pemandangan yang spektakuler.

Saat mendaki, saya melihat pemandangan yang luar biasa di sekitar pulau. Panorama laut biru yang luas, pasir putih yang membentang di pantai, serta vegetasi hijau, kuning ilalang dan rumput yang menyegarkan mata, serasi betul dengan langit biru seluas-luasnya. Semua itu berpadu menciptakan harmoni alam yang memukau.

Di beberapa titik, saya berhenti sejenak untuk mengabadikan momen dan menikmati keindahan yang tersaji. Tentunya juga untuk mengambil napas sejenak dan minum air putih agar tetap terhidrasi setelah menaiki beberapa anak tangga Pulau Padar.

Meskipun tak sampai puncak karena saya tak kuat, rasa lelah terbayar lunas dengan pemandangan yang menakjubkan. Dari atas, saya bisa melihat lanskap Pulau Padar yang ikonik dengan tiga teluknya yang berbentuk seperti lekukan-lekukan indah. Warna air laut yang berbeda-beda di setiap teluk menambah keunikan panorama tersebut. Tak heran jika banyak wisatawan yang menyebut pemandangan ini sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar.Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar. (Foto: dok. istimewa)

Pulau Padar memang tempat yang sempurna untuk “healing”. Keindahan alamnya yang masih alami dan suasana yang tenang membuat pikiran dan tubuh merasa lebih rileks dan segar. Udara yang bersih, suara ombak yang menenangkan, serta keindahan alam yang tak tertandingi menjadikan pulau ini sebagai destinasi yang ideal untuk melepaskan stres dan menikmati ketenangan.

“Karena rombongan kami sampenya terlalu siang, jadi cuacanya terlalu panas. Walaupun terik, capek, semuanya terbayar lunas pas lihat pemandangan indah dari pos 5 Pulau Padar. Cantik banget,” kata salah satu anggota rombongan kami, Dinda Rachmawati.

Berkaca pengalamannya, perempuan 32 tahun asal Pondok Aren, Tangerang Selatan itu menyarankan agar perjalanan dimulai lebih pagi.

“Jadi, sebaiknya kalau mau ke Pulau Padar mulainya pagi-pagi. Itu juga agar pengunjung belum terlalu ramai,” Dinda menambahkan.

Tak hanya pemandangan, Pulau Padar juga menawarkan pengalaman yang tak terlupakan melalui interaksi dengan satwa liar yang ada di sekitarnya, seperti rusa hingga kalong. Keberadaan flora dan fauna khas tropis di pulau ini menjadi nilai tambah untuk daya tarik tersendiri.

Setelah menikmati keindahan dari atas, saya melanjutkan perjalanan turun dan menikmati sisa waktu di pantai yang bersih dan tenang. Mengunjungi Pulau Padar bukan hanya sekedar berlibur, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang memberikan ketenangan dan kedamaian.

Saya sangat merekomendasikan tempat ini bagi siapa saja yang mencari destinasi untuk “healing” dan merasakan keajaiban alam yang sesungguhnya. Pulau Padar adalah permata tersembunyi di Indonesia yang siap mempesona siapa saja yang berkunjung.

Merujuk situs resmi Balai Taman Nasional Komodo, harga tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 5.000 di tengah pekan sedangkan di akhir pekan dan hari libur tiket masuknya Rp 7.500. Selain itu ada biaya tiket speedboat atau kapal motor Rp 100.000 – Rp 200.000 setiap unit per hari.

Biasanya sih tiket masuk itu sudah dalam paket wisata yang ditetapkan agen travel, yang biasanya terdiri dari sewa kapal, makan besar, snack, dan air minum.

(suc/fem)



Sumber : travel.detik.com

6 Fakta Pantai Mandorak, NTT dan 11 Tips Hindari Pemalakan


Jakarta

Terpencil tapi memikat, Pantai Mandorak di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), adalah surga tersembunyi dengan lanskap mempesona. Tebing-tebing karang yang dramatis, air laut sebening kristal, dan pasir putih yang halus menjadikan pantai ini tempat sempurna untuk melepas penat dan mengisi ulang energi.

Berbeda dengan pantai-pantai ramai di Bali atau Lombok, suasana di Pantai Mandorak masih sangat alami dan sepi. Letaknya yang agak tersembunyi di Desa Pero Batang, Kecamatan Kodi membuat pantai itu belum banyak dijamah wisatawan.

Pantai Mandorak dikelilingi oleh dua tebing batu karang besar yang mengapit bibir pantai. Di atas salah satu tebing, terdapat rumah adat Sumba yang berdiri anggun, menambah kesan eksotis.


Dari atas tebing ini, pengunjung bisa menikmati panorama laut lepas dan menyaksikan matahari terbenam yang dramatis-sebuah momen sempurna untuk menenangkan pikiran dan menyatu dengan alam.

Selain itu, masih ada banyak pesona Pantai Mandorak. Simak di sini.

Fakta Pantai Mandorak di NTT

Pantai di Desa Kalena, Rongo, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya itu menyimpan banyak pesona eksotis. Berikut penjelasannya dikutip dari situs Muruhumba Escape.

1. Kecantikan yang Belum Terjamah

Pantai Mandorak adalah bukti cantiknya alam yang belum terjamah tangan manusia. Seperti oasis, Pantai Mandorak adalah pusat perhatian di tengah alam yang masih asri dan tenang. Pantai ini adalah pilihan tepat bagi wisatawan yang jadwal sehari-hari dipenuhi berbagai kegiatan.

2. Pantai yang sangat tenang

Air biru turqoise dengan pasir putih halus selalu setia menemani turis yang menyusuri pantai. Sesekali, ombak kecil akan menyapu pesisir pantai dengan sangat tenang. Bagi turis dengan hobi foto, Pantai Mandorak adalah objek yang pas diambil gambarnya dari segala sudut.

3. Formasi batu unik

Pantai Mandorak memiliki formasi bukit batu alami yang seperti saling menunjuk. Pengunjung bisa mendaki bukit batu ini untuk melihat pantai dengan sudut pandang yang lebih luas. Formasi alami batu Pantai Mandorak juga membentuk kolam pasang surut yang bisa dinikmati para turis.

4. Bisa untuk selancar

Bagi pecinta olahraga surfing, Pantai Mandorak dengan ombak berkelas internasional dan atmosfer santai adalah pilihan tepat. Keunikan ini bisa menjadi daya tarik autentik untuk para turis yang mencari pengalaman berselancar di pesisir Sumba. Daya tarik ini juga bisa membantu Pantai Mandorak terus berkembang.

5. Punya banyak goa dan bukit tersembunyi

Goa dan bukit adalah daya tarik lain Pantai Mandorak yang cocok bagi wisatawan dengan jiwa petualang. Para turis bisa masuk gua dan naik bukit asal tetap berhati-hati. Di penghujung senja, wisatawan bisa duduk di pinggir pantai menyaksikan pemandangan matahari tenggelam (sunset).

6. Berdekatan dengan warga lokal

Berkunjung ke Pantai Mandorak, para turis bisa melihat langsung kehidupan tradisional warga di desa sekitar. Wisatawan bahkan bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan warga, tradisi, dan memperoleh pengalaman baru.

Dengan kenyataan ini, wisatawan wajib menghormati aturan adat yang diterapkan warga lokal. Turis juga dilarang mengganggu kehidupan satwa, tumbuhan, dan keseimbangan alam di Pantai Mandorak. Selanjutnya, para turis wajib menjaga kebersihan dan tingkah laku selama berwisata.

Cara ke Pantai Mandorak dari Jakarta

Turis yang berangkat dari Jakarta bisa naik pesawat menuju Bandara Tambolaka di Sumba Barat Daya. Dikutip dari Google Flights pada Selasa (20/5/2025) harga tiket berkisar Rp 2 jutaan dengan transit lebih dulu di Denpasar, Bali.

Selanjutnya, para turis bisa menggunakan transportasi darat melalui jalan Lukas Dairo Bili dan Soeharto. Arsip berita detikcom menjelaskan, para turis bisa menggunakan jasa guide lokal untuk membantu perjalanan hingga Pantai Mandorak.

Tips Menghindari Pemalakan

Pantai Mandorak sempat muncul di video akun Instagram Jajago Keliling Indonesia. Video tersebut viral karena content creator ini terkena pemalakan dari warga lokal. Mereka dimintai duit dan dikenakan uang jasa foto dan sewa kuda lebih tinggi dari kesepakatan.

Pemalakan turis kerap terjadi di sejumlah destinasi wisata, terutama yang belum dikelola dengan baik. Dikutip dari situs The LUXY Ride, berikut beberapa tips menghindari pemalakan:

  1. Jangan percaya pada tarif hotel, perjalanan, atau biaya akomodasi yang terlalu murah.
  2. Jangan asal menggunakan WiFi gratis apalagi yang membutuhkan informasi pribadi, misal nomor rekening atau kartu kredit.
  3. Segera matikan sambungan telepon yang menanyakan data pribadi.
  4. Waspada copet terutama saat berada di keramaian dengan berbagai modus operasi. Misal pura-pura mendorong, mencari barang, atau menumpahkan minuman.
  5. Cek kembali bukti pembelian barang sebelum membayar dan uang kembalian jika membeli dengan uang cash.
  6. Bawa uang cash sesuai kebutuhan dalam berbagai nilai.
  7. Bawaan pribadi wajib diurus dan dibawa sendiri untuk menghindari kehilangan. Para turis wajib hati-hati selama dalam perjalanan.
  8. Jangan tidur di kendaraan umum.
  9. Jangan gunakan taksi gelap atau kendaraan apapun yang menawarkan biaya lebih rendah. Penumpang biasanya dibawa ke rute yang lebih jauh sehingga ongkos makin mahal.
  10. Jangan lekas tergiur pada restoran yang menawarkan menu terlalu murah, enak, dengan banyak layanan.
  11. Pastikan hanya membeli souvenir dengan label harga.

Dengan banyaknya risiko pemalakan, turis sebaiknya merencanakan lebih dulu perjalanannya. Termasuk turis yang akan berwisata ke Pantai Mandorak, NTT. Itinerary dan semua akomodasi bisa lebih dulu dipesan sehingga para turis tidak perlu kebingungan selama berwisata.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kampung Adat Lamahelan, Surga di Flores Timur yang Sarat Budaya



Flores Timur

Setiap kampung adat memiliki kekhasan adat istiadat yang mencerminkan kearifan lokal masyarakatnya. Salah satunya adalah Kampung Adat Lamahelan di Desa Helanlangowuyo, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kampung ini memiliki pesona unik yang menarik minat wisatawan. Karena kampung ini menawarkan kesempatan untuk menjelajahi warisan budaya, arsitektur tradisional, dan aktivitas budaya masyarakat setempat.

Saat sampai di depan pintu gerbang kampung adat, pengunjung akan disambut oleh patung Soba Ratu. Patung ini merupakan simbol penjaga kampung dan dipercaya dapat memberikan keseimbangan serta kerukunan bagi masyarakat. Patung ini berdiri kokoh di setiap pintu masuk, baik di sisi utara, selatan, timur, maupun barat kampung.


Sebelum masuk ke Kampung Adat Lamahelan, kamu akan melewati tangga bebatuan atau masyarakat setempat menyebutnya Wato Merik. Tangga ini disusun rapi, menuntut pengunjung untuk masuk ke kampung adat. Ini merupakan tangga yang sudah ada sejak zaman leluhur masyarakat adat Lamahelan yang dibuat sebagai penanda jalan menuju Kampung Adat Lamahelan di puncak bukit.

Tidak hanya Wato Merik dan patung Soba Ratu, Kampung Adat Lamahelan juga memiliki rumah adat atau dalam bahasa setempat disebut dengan Bale Adat. Ini merupakan tempat yang digunakan masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan seperti rapat penting, upacara adat, dan tradisi budaya. Berdirinya rumah adat ini menandakan bahwa masyarakat Kampung Adat Lamahelan masih menjaga dan melestarikan warisan leluhur mereka.

Kampung Adat Lamahelan adalah desa wisata yang sudah terverifikasi dalam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Meskipun berada di Indonesia bagian timur, kampung adat ini sangatlah menarik untuk dikunjungi.

Hal ini terbukti ketika rombongan wisatawan dari Amerika, Australia, Inggris, dan Kanada mengunjungi Kampung Adat Lamahelan. Tujuan utama mereka adalah melihat secara langsung rumah tenun (tur tekstil) di kampung ini.

Tidak hanya itu, mereka juga mengamati kebudayaan di Kampung Adat Lamahelan yang masih dilestarikan. Para wisatawan mancanegara ini juga melihat situs budaya seperti gading-gading dan patung adat di Lamahelan.

Masyarakat Lamahelan identik dengan keahliannya sebagai pengiris tuak dan pemasak arak terkenal. Di Flores, arak atau moke memiliki peran penting dalam ritus adat. Arak bukan sebuah simbol, melainkan menyatu dengan ritus itu sendiri. Setiap tegukan arak oleh para tetua adat dilakukan secara sadar dan bagi mereka ini merupakan minuman yang diinginkan leluhur.

Untuk memasak arak, masyarakat Lamahelan memiliki cara tersendiri. Periuk tanah diletakkan di atas tungku, lalu sebuah bambu berbentuk semacam cerobong asap disambungkan pada periuk tanah tersebut.

Di dalam rongga-rongga bambu inilah, uap dari tuak putih yang dimasak disuling menjadi butir-butir arak yang ditampung ke dalam botol kaca. Mereka akan menggunakan kayu bakar khusus dan hanya diketahui oleh masyarakat adat Lamahelan. Arak Lamahelan sangatlah terkenal, bahkan menjadi primadona di kalangan para pencintanya.

Artikel ini sudah tayang di detikBali. Baca di sini selengkapnya.

(nor/ddn)



Sumber : travel.detik.com