Tag Archives: wisata pati

Tugu Bandeng yang Unik di Pati, Terbuat dari Ribuan Knalpot Brong



Pati

Ada pemandangan unik di sekitar Alun-alun Pati. Sebuah tugu berbentuk ikan bandeng berdiri tegak. Yang unik, tugu itu terbuat dari 4.031 buah knalpot brong.

Tugu Bandeng itu berdiri sebelah barat Alun-alun Pati, Jawa Tengah. Semula di lokasi itu terdapat Tugu Air. Namun kini sudah berubah menjadi Tugu Bandeng dari knalpot brong.

Pengguna jalan Pantura dari arah timur ke barat atau menuju Kudus melintasi Kota Pati akan dengan mudah melihat tugu itu, karena lokasinya yang berada di jantung Kota Pati. Tugu Bandeng itu dipasang menghadap ke timur.


“Jadi terkait pembuatan Tugu Bandeng dari knalpot brong, ini adalah semangat dari jajaran Satlantas Polresta Pati dalam mendukung deklarasi knalpot brong yang rencananya akan dilaksanakan besok pagi secara serentak di seluruh jajaran Polda Jawa Tengah,” kata Asfauri, Sabtu (13/1/2024) akhir pekan lalu.

Asfauri beralasan, tugu itu berbentuk ikan bandeng, karena salah satu ikon Pati adalah bandeng. Total ada 4.031 knalpot brong yang dirangkai menjadi tugu tersebut.

Knalpot-knalpot itu merupakan hasil sitaan dari pelanggar lalu lintas yang ditindak oleh Satlantas Polresta Pati selama setahun belakangan ini.

“Kemudian tugu ini dibuat bandeng, karena di Pati ini salah satu ikon identik dengan bandeng, ikonnya adalah bandeng,” kata dia.

“Jadi knalpot kurang lebih sekitar 4.031 knalpot ini adalah penyerahan dari para pelanggar. Mereka suka rela ketika ditemukan, kemudian diberikan imbauan, diberikan pengertian, sehingga menyerahkan kepada kita. Nah ini jadi untuk mengingatkan seluruhnya menaati lalu lintas,” lanjut Asfauri.

Menurut Asfauri, tugu ini juga bisa sebagai pesan kepada masyarakat, bahwa knalpot brong dilarang dan tidak boleh digunakan. Knalpot brong bahkan bisa memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas.

“Kami membuat tugu itu adalah semangat edukasi kepada masyarakat, bahwa knalpot tidak boleh dipakai atau digunakan. Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Pati, untuk tidak menggunakan knalpot brong,” tutupnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pati Punya Gerbang Majapahit, Berdiri Semenjak Tahun 1318



Pati

Salah satu destinasi wisata yang cocok bagi pecinta budaya dan sejarah di Pati adalah Gerbang Majapahit. Wisata edukasi ini berada di Desa Muktiharjo Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Saat ini, gerbang kuno sedang ramai diminati wisatawan, terutama para pelajar. Seperti salah satu pelajar SMKN 1 Pati, Amelia Sagita ini. Siswi kelas 10 itu datang bersama teman-temannya untuk melihat benda cagar budaya tersebut.

Gerbang Majapahit berukuran 3,5 x 3,5 meter. Terlihat di gerbang itu terdapat banyak ukiran. Seperti gambar pewayangan hingga Patih Gajah Mada yang diukir dengan kepala raksasa. Bangunan Gerbang Majapahit terbuat dari kayu jati. dan kondisi bangunan itu pun masih terjaga sampai sekarang.


Amelia mengatakan sengaja datang ke Gerbang Majapahit karena keingintahuan tentang peninggalan sejarah di Pati. Dia pun akhirnya mengetahui tentang asal usul gerbang dari Kerajaan Majapahit sampai di Pati.

“Gerbang itu ada ukiran sama dijelaskan tentang sejarah Gerbang Majapahit, ya menambah pengetahuan tentang sejarah yang ada di Pati,” kata Amelia kepada detikJateng di lokasi, Sabtu (4/5/2024).

Pintu Gerbang Majapahit yang ada di Dukuh Rendole Desa Muktiharjo Kecamatan Pati, Sabtu (4/5/2024).Pintu Gerbang Majapahit yang ada di Dukuh Rendole Desa Muktiharjo Kecamatan Pati, Sabtu (4/5/2024). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Juru Kunci Gerbang Majapahit Budi Santoso (83) memperkirakan Gerbang Majapahit dibuat tahun 1318 silam. Menurutnya bangunan gerbang itu dibuat dari kayu jati kuno. Sampai sekarang bangunan tersebut masih terjaga dan terawat.

“Pembuatan ini diperkirakan pada tahun 1318 waktu Darmawulan menjadi Raja karena membuat pintu keputren yang bernama Bajang Ratu,” jelas Budi kepada detikJateng di lokasi.

“Boleh dikatakan zaman dahulu kalau membuat pintu ada khodamnya, banyak penghuninya, kalau pintu itu dari jati yang tertua,” dia melanjutkan.

Salah satu ukiran yang menarik kata dia adalah tentang Patih Gajah Mada. Ukiran itu menggambarkan tentang kisah sumpah palapa.

“Kalau di atas Gajah Mada karena Kerajaan Majapahit bisa menyatukan NKRI, itu ada ukiran kepala raksasa,” jelas Budi.

Budi yang menjadi juru kunci sejak tahun 1992 itu menjelaskan banyak wisatawan yang datang ke Gerbang Majapahit saat akhir pekan. Terutama pelajar yang ada kunjungan ke lokasi bersejarah itu. Mereka bahkan ada dari luar Pati, seperti Semarang, Yogyakarta, sampai Jakarta.

“Dari Jakarta,Yogyakarta, Semarang ambil pelajaran ke sini, biasanya ambil jurusan sejarah,” ungkap Budi.

Artikel ini telah tayang di detikjateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Jelajah Desa Bakaran Wetan di Pati, Melihat Meriahnya Sedekah Bumi



Pati

Desa-desa di Jawa Tengah masih menyelenggarakan acara Sedekah Bumi untuk bersyukur kepada Tuhan, seperti desa Bakaran Wetan di Pati. Seperti apa keseruannya?

Wajah-wajah penuh senyum dan tawa lepas bisa traveler lihat ketika menjelajahi wilayah pesisir Pantura, tepatnya di Desa Wisata Batik Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Bulan Mei-Juni adalah waktu terbaik untuk Jelajah Jateng di Desa Wisata Bakaran Wetan. Kita akan berada di tempat wisata yang begitu lengkap, baik masyarakat sebagai penggiat, budaya maupun tokoh sejarah di balik terbentuknya desa wisata ini.


“Untuk kali ini, kita telah menyiapkan serangkaian acara bertajuk Sedekah Bumi Bakaran Wetan 2024 yang akan berlangsung mulai tanggal 23 Mei-30 Juni 2024,” jelas Wahyu Supriyo, selaku Kepala Desa Bakaran Wetan kepada detikTravel, Minggu (19/5/2024).

Pada tanggal 23 Mei 2024, akan berlangsung berbagai kegiatan dimulai dari Manganan Sigit, Kondangan Petinggen, hingga Klenengan. Alunan dari Karawitan Sukolaras akan meramaikan Balai Desa Bakaran Wetan. Puncaknya adalah Sedekah Bumi yang diselenggarakan pada tanggal 26 Mei 2024.

Acara pertama adalah Kirab Tumpeng disusul Bancaan Punden. Tradisi ini memperlihatkan suburnya budaya di desa wisata Bakaran Juwana Pati selama ini.

Dalam gelaran Sedekah Bumi ini, tak elok bila tak menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit oleh Dalang Ki Rama Aditya, serta Dalang Ki Purbo Asmoro, pada malam harinya.

“Menutup gelaran Sedekah Bumi, seluruh masyarakat desa wisata Bakaran Wetan akan berkumpul menggelar shalawatan bersama Habib Muhammad Syafi’i Bin Idrus Alaydrus, sebagai wujud rasa syukur,” imbuh Wahyu.

Asal Usul Desa Bakaran Wetan

Asal usul desa ini sangatlah unik. Desa ini berasal dari hutan yang dibakar oleh seorang wanita bernama Nyi Sabirah, keturunan dari Kerajaan Majapahit. Begitu hutan menjadi abu, kemudian abu itu jatuh dimana-mana dan di situlah Desa Bakaran berada.

“Nyai Ageng Sabirah lah yang telah mengajarkan membatik sehingga turun temurun diajarkan dan dilestarikan sampai sekarang,” cerita Wahyu.

Sejarah ini bisa kita telaah ketika mengunjungi Museum Batik Sudewi di desa Bakaran Wetan. Mau belajar membatik khas Bakaran Wetan dengan warna sogan hitam terbakar, juga bisa. Motifnya sangat khas berbeda dibandingkan batik Solo maupun Pekalongan.

“Batik ini tercipta melalui proses kreasi sembilan tahap. Dari ribuan motif, sembilan di antaranya sudah memiliki hak paten yang dikenal di dunia internasional,” tambahnya.

Desa Bakaran Wetan, Juwana, PatiPunden Nyai Ageng Sabirah di Desa Bakaran Wetan, Juwana, Pati Foto: (dok. Istimewa)

Datang ke desa wisata Bakaran Wetan, kita bisa jelajah Punden Mbah Nyai Ageng Sabirah hingga Mbah Dalang Soponyono. Di desa ini juga bersanding tempat ibadah lintas agama yang hidup dengan damai.

Jelajah Desa Bakaran Wetan juga tak afdol bila tidak mencoba menu kulinernya. Ada nama-nama kuliner asing yang menarik dicoba seperti masin, waleran, wedang pedes, es campur sari, cemedeng nyonyor, hingga rebon.

Melihat kehidupan masyarakat desa guyup bergotong royong dan ramah serta budaya beraneka ragam, jelas bakal membuat traveler makin cinta budaya.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com