Tag Archives: wisata sleman

Sarsa Creative Space Destinasi Pas buat Melepas Stress Lewat Seni



Sleman

Coba kunjungi Sarsa Creative Space untuk melepaskan stress dengan cara healing lewat seni. Tidak hanya melukis, ada pilihan lain seperti meronce, clay, hingga menyusun micro block.

Bangunan joglo di tengah sawah ini menawarkan konsep healing kembali ke alam. Berdiri sejak 12 Juni 2023, pengunjung akan diajak menepi sejenak dari hiruk pikuk bisingnya kota Jogja yang semakin ramai.

“Awalnya apa ya kita bikin tempat nongkrong tapi kalau coffee shop aja udah banyak, gitu-gitu aja. Bikin tempat alternatif tempat nongkrong enaknya apa ya,” kata Firza Ayubi, pemilik Sarsa Creative Space, saat diwawancarai detikTravel, Senin (10/6/2024).


Lokasi tepatnya ada di Nglengkong, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Menuju ke lokasinya, traveler akan melewati jalan pedesaan dengan kiri kanan rumah warga dan pemandangan sawah. Sesampainya di lokasi akan langsung disambut dengan bangunan joglo tua dan halaman parkir yang luas.

Sarsa menjadi ruang kreatif untuk melepas penat dengan berbagai pilihan kegiatan menarik. Nama sarsa sendiri adalah singkatan dari kata “Kersa” dan “Sareng”, yang dalam bahasa Jawa artinya bekerja sama. FIrza menyebut, dirinya ingin antara Sarsa dan pengunjung dapat bekerja sama dalam harmoni meluruhkan stress yang ada.

“Lokasinya emang jauh, ga masalah tapi pinginnya pengunjung yang dateng itu lupa kalau lagi ada masalah, lupa kalau lagi capek,” kata Firza.

Uniknya, di sini juga tersedia jajanan jadul yang bisa bikin traveler bernostalgia. Juga akan disediakan secangkir teh gratis yang bisa diseduh sendiri setiap pembelian. Pilihan tehnya beragam, mulai dari basic tea hingga fruit tea.

Rumah bergaya Joglo ini didominasi oleh kayu. Terdapat sejumlah meja bundar dan meja panjang, jadi jangan khawatir tidak kebagian tempat. Traveler bisa memilih untuk duduk di tepi jendela yang mengarah langsung ke lahan sawah. Bahkan jika beruntung, view Gunung Merapi akan sangat cantik dilihat dari Sarsa.

Ruang kreatif Sarsa di dekor unik dengan menampilkan produk yang sudah selesai, mulai dari lukisan kanvas, totebag, bahkan ada wayang kulit di dinding atas pintu. Tumpahan cat pengunjung di atas meja seolah secara alami menjadi ornamen penghias meja. Di luar juga terdapat ayunan kayu untuk traveler yang ingin sekadar bengong atau membaca buku.

Sarsa secara khusus membiarkan pengunjung berkreasi semaunya tanpa didampingi oleh instruktur atau pendamping. Firza ingin kegiatan itu berjalan dengan alami. Namun, jika kesulitan, pengunjung tetap bisa bertanya pada penjaga, atau mencari referensi lewat QR Code yang sudah tersedia di setiap meja.

Mau ngonten? Sarsa juga menyediakan persewaan tripod dengan harga Rp 5.000. Serta sewa apron atau celemek di harga Rp 5.000 untuk menghindari baju terkena cat atau media seni lainnya.

Penasaran dengan kegiatan selengkapnya di Sarsa? Berikut rinciannya:

1. Paket Micro Block

Kegiatan ini adalah menyusun micro block menjadi bentuk yang diinginkan. Bisa dilakukan sendiri, berpasangan, atau bersama teman-teman. Tersedia dua pilihan dengan harga Rp 25.000 untuk ukuran kecil dan Rp 35.000 untuk ukuran besar.

2. Paket Meronce

Meronce adalah kegiatan menyusun manik-manik menjadi aksesoris seperti gelang, cincin, ataupun kalung. Tersedia dua pilihan paket, yang pertama di harga Rp 35.000 akan mendapat 2 meter benang elastis, gunting benang, dan 5 macam manik-manik seberat 30 gram. Kedua, seharga Rp 55.000 akan mendapat 2 meter benang elastis, gunting benang, dan 10 macam manik-manik seberat 60 gram.

3. Paket Airdry Clay

Clay adalah seni membuat bentuk tertentu dengan bahan dasar sejenis tanah liat. Air Dry clay ini akan mengering dengan sendirinya tanpa perlu dioven.

Selesai membentuk, traveler bisa melukisnya dengan cantik. Tersedia satu macam paket di harga Rp 40.000 yang menawarkan 200 gram airdry clay, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette. Tambahkan Rp 5,000 untuk membeli cairan varnish guna melapisi hasil clay supaya lebih mengkilap.

4. Melukis kanvas

Tersedia satu macam paket dengan ukuran kanvas 20×20 cm, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette seharga Rp 40.000

5. Melukis Bucket Hat

Bucket hat atau topi menjadi produk yang selesai dilukis dapat digunakan, dengan harga Rp 50.000 traveler akan mendapat satu buah bucket hat, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette.

6. Melukis Tote bag

Sama seperti sebelumnya, media yang digunakan adalah tote bag dengan harga Rp 50.000 akan mendapat satu buah tote bag, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette.

7. Melukis Pouch Make Up

Medianya kali ini adalah pouch make up dengan harga Rp 50.000 dan akan mendapat cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette.

8. Melukis Cermin

Dengan harga Rp 65.000, traveler akan mendapat sebuah cermin duduk atas meja, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette/

9. Melukis Pot Tanah Liat

Degan harga Rp 45.000, traveler akan mendapatkan pot tanah liat, cat dasar 1 warna, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette. Lalu untuk paket dengan harga Rp 50.000 akan ditambah tanah media tanam beserta biji tumbuhannya. Layaknya bertani bukan?

10. Paket Paint by Number

Tidak perlu ragu jika belum atau bahkan tidak pernah mencoba melukis, ada pilihan alternatif menggunakan paket paint by number. Traveler hanya tinggal mewarnai sesuai kode warna di pola yang sudah ada. Tersedia versi canvas di harga Rp 65.000 dan versi tumblr.

(fem/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Sarsa, Dulu Jualan Alat Lukis, Kini Ruang Kreatif dan Healing Gen Z



Yogyakarta

Sarsa Creative Space hype di kalangan Gen Z Yogyakarta. Dulu, ternyata Sarsa adalah produk lukis yang dijual lewat media sosial.

Ruang kreatif Sarsa di Nglengkong, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), disebut-sebut sebagai tempat ideal untuk meredakan stress lewat kegiatan seni. Sarsa diinisiasi oleh Firza Ayubi dan Dian Agustina.

Firza menyebut masih kuliah ketika merintis Sarsa. Dulu, Sarsa tidak memiliki kedai dengan view sawah nan menenangkan seperti sekarang,


“Dulu Covid 19 sekitar tahun 2020 ga bisa keluar, harus di rumah aja. Kepikiran gimana kalau kita bikin semacam stress release, tanpa keluar rumah. Akhirnya bikin paket lukis, ada kanvas, kuas dan cat, lalu dipack. Awalnya nawarin by Whatsapp dan Instagram ke temen-temen,” Kata Firza dalam perbincangan dengan detikTravel, Senin (10/6/2024).

Ketika pandemi mulai berangsur menuju new normal, Sarsa mulai aktif ikut kegiatan offline. Mulai dari event kampus hingga bazar. Akhirnya Sarsa mulai dikenal oleh pasar. Sejak itulah muncul permintaan untuk mengadakan workshop.

“Banyak yang minta workshop dalam 1 tempat. akhirnya ada workshop by order 10-15 orang per rombongan,” kata Firza.

Sarsa Creative Space di Sleman, YogyakartaSarsa Creative Space di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Tiga tahun Sarsa aktif menjual lukisan, akhirnya di tahun 2023 berdirilah rumah kreatif Sarsa. Didorong oleh keresahan untuk membuat tempat nongkrong anti-mainstream, Firza memilih bangunan Jogja di tengah sawah itu.

Konsep yang coba diusung adalah healing dan stress release yang kembali ke alam. Firza ingin setiap pengunjung yang datang dapat melupakan penatnya dan meluruhkannya pada kegiatan seni. Sarsa kemudian menambah beberapa fasilitas seperti penyediaan jajanan jadul yang bisa bikin traveler bernostalgia. Juga gratis secangkir teh yang bisa diseduh sendiri setiap pembelian.

Sarsa Creative Space di Sleman, YogyakartaSarsa Creative Space di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Awalnya hanya lukis, kini sudah mulai merambah pada kegiatan lainnya seperti meronce, menyusun micro block, hingga membuat clay. Firza menyebut bahkan mulai muncul banyak tawaran kerjasama barang untuk masuk ke Sarsa, seperti resin, batik, dan lainnya. Namun, Firza mengungkap ada tiga kriteria utama dalam pemilihan kegiatan di Sarsa.

“Bisa digunakan orang awam. Estimasi waktunya tiga jam mengerjakan sesuatu dan selesai. Dan terakhir affordable. jadi kalau melenceng dari 3 itu agak dipikir ulang,” kata Firza.

Sarsa sempat membuka cabang keduanya di salah satu gerai di Sleman City Hall, Jogja. Namun kini telah tutup karena dirasa telah melenceng dari konsep awalnya yang kembali ke alam.

Meski bukan menjadi satu-satunya ruang kreatif di Jogja, transaksi di Sarsa bisa mencapai 50 transaksi setiap hari. Bahkan, di hari libur angkanya dapat naik hingga 2-3 kali lipat.

“Yang kita jual experience, karena kalau produk pasti banyak. Kamu dateng, sama temen-temen atau sendirian, liat sawah, denger gemercik air, ada effortnya ke sana karena jauh,” kata Firza.

(fem/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Candi Abang, Candi Sisa Reruntuhan, Makam Jeng Yah di Series Gadis Kretek



Sleman

Candi Abang menjadi perbincangan setelah muncul di salah satu adegan serial Gadis Kretek. Candi ini ada pada episode terakhir sebagai makam Dasiyah atau Jeng Yah.

Candi Abang merupakan satu candi unik yang berada di Blambangan, Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika berkunjung ke sini, traveler tidak akan menemukan bangunan candi megah atau bertingkat seperti candi-candi pada umumnya. Di sini hanya tersisa beberapa runtuhan dari candi.

Tidak diketahui pasti kapan Candi Abang ini dibangun, diperkirakan candi ini telah ada pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10. Pernah ditemukan sebuah prasasti bertuliskan tahun 872 Masehi pada candi ini, namun belum diketahui apakah tulisan tersebut merujuk pada tahun pembangunan candi.


Candi ini dinamakan Candi Abang karena material bangunannya yang berasal dari batu bata merah. Kata ‘Abang’ dalam bahasa Jawa memiliki arti merah.

Candi Abang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dari pusat kota Jogja, jalan menuju candi sudah cukup memadai, namun untuk sampai ke area candi, pengunjung harus berjalan kaki dengan jalan sedikit menanjak karena candi ini berada di atas bukit.

Terdapat gundukan tinggi menyerupai bukit yang berwarna hijau, traveler bisa melihat pemandangan alam dan gedung serta kesibukan Kota Sleman dari atas sini.

Setting makam Jeng Yah sendiri tidak bisa dilihat lagi karena sudah dibongkar. Namun candi ini tetap bagus untuk didatangi karena memiliki panorama indah yang estetik sebagai spot foto.

Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

Tiket masuk pun tidak perlu membayar mahal-mahal, cukup dengan membayar Rp 5000 dan parkir kendaraan Rp 2000 untuk motor dan Rp 5000 untuk mobil. Traveler bisa parkir di depan warung kecil yang berada di dekat gerbang masuk candi.

Pemilik warung mengatakan bahwa warungnya juga sempat dijadikan area syuting yang dilakukan pada bulan Mei 2023 lalu itu. Proses syuting dilakukan dalam waktu 1 hari 1 malam.

Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

“Pas itu warung saya ini disewa untuk syuting, jadinya nggak jualan. Ceritanya itu di sini untuk ngopi, sini cuma dikasih berapa aja renteng kopi terus makanan-makanan kecil. Terus sebelah ini ada jualan soto gitu,” katanya.

Jika ingin berkunjung ke sini, traveler disarankan untuk datang pada pagi atau sore hari untuk melihat sunset, karena siang hari matahari di sini sangat terik dan area candi hanya memiliki satu pondok kecil untuk berteduh. Jam operasional candi adalah pada jam 07.00 – 18.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tahukah Kamu, Ada Jembatan Akar Pohon di Sleman, Ini Penampakannya



Sleman

Tahukah kamu, jembatan alami yang terbuat dari akar pohon tak hanya ada di India saja, di Sleman juga ada. Seperti apa penampakannya?

Di Kabupaten Sleman, tepatnya di Padukuhan Kurahan IV, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, terdapat jembatan unik. Jembatan itu tidak terbuat dari beton ataupun besi, tetapi dari akar pohon.

Jembatan tersebut terbuat dari akar pohon preh dan beringin putih yang saling berkelindan dan membentuk sebuah jembatan. Panjang jembatan ini sekitar 10 meter.


Keindahan jembatan akar itu pun seperti di film-film Hollywood. Traveler akan serasa diajak masuk ke negeri dongeng ketika berkunjung ke sini.

Sebelum viral seperti sekarang, jembatan itu ternyata punya sejarah panjang bagi warga setempat. Dulunya, jembatan itu merupakan akses utama warga untuk menuju ke padukuhan lain.

Keindahan jembatan akar di Seyegan, Sleman.Jembatan akar pohon di Seyegan, Sleman. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng

Salah seorang warga Kurahan IV, Mangkuharjono (73), mengatakan, dirinya tak tahu persis kapan jembatan itu dibangun. Tapi, dia meyakini bahwa jembatan akar pohon itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Jembatan itu sendiri sudah ada sejak dia kecil.

“Jembatan akar ini dibangunnya kapan saya nggak ingat, dari saya kecil itu sudah ada. Kemungkinan dari zaman Jepang dulu sudah ada, zaman mbah-mbah saya dulu,” kata Mangkuharjono saat ditemui di lokasi jembatan, beberapa waktu lalu.

Sepengetahuan dia, jembatan itu awalnya dibangun dari sisa rel lori dari pabrik gula di Cebongan yang disusun di atas sungai Sipolo. Lama-kelamaan, akar pohon menjalar ke seluruh rel. Jembatan itu akhirnya digunakan warga untuk menuju padukuhan lain dan ke sawah.

“Akar itu merambat ke jembatan itu. Jadi orang-orang nggak tahu itu meletakkan biar menjalar ke sana nggak, itu alami,” bebernya.

Dari penuturannya, jembatan akar ini kembali naik daun setelah banyak pegowes yang mampir. Pemandangan yang masih asri dengan berbagai tanaman seperti bambu, kelapa, dan lain-lain menjadikan goweser yang betah beristirahat dan berfoto di sana.

“Ini kalau Sabtu atau Minggu pagi pasti ramai dari pagi. Sekarang sudah ada 5 pedagang makanan dan minuman dari warga sekitar di sini,” bebernya.

Cara Menuju ke Jembatan Akar Pohon di Sleman

Jembatan akar pohon di Sleman itu bisa ditempuh sekitar 45 menit perjalanandari kawasan Malioboro. Wisatawan yang hendak ke sana bisa melewati Jalan Godean atau bisa mengikuti Google Maps dengan menulis nama Root Bridge.

Untuk bisa menikmati keindahan jembatan akar pohon, wisatawan hanya perlu membayar seikhlasnya. Belum ada tiket masuk maupun untuk parkir.

Keindahan jembatan akar di Seyegan, Sleman.Jembatan akar pohon di Seyegan, Sleman. Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng

Salah seorang wisatawan, Tri (51) warga Wirobrajan, Kota Jogja sengaja menyempatkan diri ke jembatan akar pohon karena penasaran. Menurutnya, tempat ini menarik apabila bisa dikelola dengan lebih baik lagi dan terkonsep.

“Sengaja ke sini sama istri. Tahunya dari medsos. Teman ada yang share postingan belum lama ini. Meski katanya udah ratusan tahun, tapi viralnya baru-baru ini,” katanya.

Dia berharap pengelola bisa menambahkan beberapa fasilitas pendukung di destinasi wisata ini. Menurutnya, akan lebih menarik juga ketika pengunjung bisa mendapatkan penjelasan mengenai sejarah jembatan ini.

“Ini termasuk potensi yang unik untuk jembatan akar kan sifatnya alami dan tidak bisa dibuat instan,” ucapnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Santai Dulu Ah… di Obelix Village



Sleman

Traveler yang ingin merasakan hawa pedesaan wajib memasukkan Obelix Village ke dalam bucket list liburan. Lokasinya yang jauh dari kebisingan jalan raya cocok sekali untuk healing.

Obelix Village terletak di Jalan Kenangan, Krandon, Kalurahan Pandowoharjo, Kapanewon Sleman, Yogyakarta. Lokasinya mudah ditemukan di Google Maps dengan akses jalan yang mulus. Traveler hanya membutuhkan waktu 30 menit jika berkendara dari Tugu Yogyakarta.

Konsep Obelix Village adalah wisata keluarga untuk edukasi anak-anak dikolaborasikan dengan pemandangan persawahan dan pedesaan di sekitarnya yang masih asri. Jika beruntung dengan cuaca cerah, traveler dapat melihat view Gunung Merapi secara jelas hingga puncaknya.


“Kami memilih Jogja karena Jogja adalah tempat yg sedang berkembang pariwisatanya. Dan kebetulan owner kami juga berada di Jogja,” kata Alan, Supervisor Obelix Village.

Obelix Village di Sleman, YogyakartaObelix Village di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Sejak diresmikan pada 15 Oktober 2022 lalu, Obelix Village telah menjadi destinasi favorit keluarga saat menghabiskan waktu liburannya. Di sini traveler dapat menemui area alami dan buatan yang dipadukan.

“Yang membedakan tempat kami dengan wisata lain adalah untuk spot foto kami tidak ada yg berbayar, dan nuansa nya masih natural pedesaan,” ujar Alan.

Mengusung konsep pedesaan, tentunya Obelix membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk merampungkan seluruh infrastrukturnya. Ditargetkan Obelix Village dapat dinikmati oleh keluarga dan anak-anak yang sedang berlibur di Jogja.

Cukup bermodal Rp 25.000, traveler sudah bisa menikmati setiap sudut yang ada di Obelix Villages tanpa adanya tiket terusan. Dengan luas lahan 4 hektar, terdapat berbagai area di Obelix Village, yakni restoran, kafe, flower garden, mini farm, little zoo, dan secret river deck.

Membaca buku sambil bersantai di Obelix Village bisa menjadi pilihan tatkala menginginkan suasana baru. Selain itu, traveler tidak akan kehabisan spot foto instagramable jika berkunjung kemari.

Obelix Village di Sleman, YogyakartaObelix Village di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Jika bosan, traveler dapat mencoba kegiatan lain seperti menaiki kuda. Namun, ada syaratnya yaitu maksimal berat badan 30 kilogram dan harus sebelum jam 17.00.

“Untuk rencana pengembangan kemungkinan ada penambahan kolam renang atau villa,” Kata Alan

Selain untuk bersantai, Obelix Village juga cocok dijadikan sebagai venue pesta atau pernikahan dengan tema outdoor bak di taman. Traveler juga akan dimanjakan dengan makanan lezat di restoran yang ada di dalamnya, nih.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Rindu Film Bumi Manusia, Cek Harga Tiket dan Daya Tarik Studio Alam Gamplong



Jakarta

Sering penasaran dengan lokasi syuting di film-film? Di Jogja ada satu kawasan unik yang khusus diperuntukkan sebagai setting film, loh. Namanya Studio Alam Gamplong milik sutradara ternama Hanung Bramantyo. Cek harga tiket masuk dan jam operasionalnya.

Jika Traveler pernah menonton Film Bumi Manusia, pasti tidak akan asing dengan wisata satu ini. Setting tempat rumah Annelies ternyata lokasinya ada di sini. Tanah seluas 2,3 hektar itu disulap menjadi kawasan fungsional untuk industri kreatif sekaligus pariwisata di Tanah Gamplong.

Penasaran dengan apa yang ada di dalamnya, simak daya tariknya berikut ini :

Daya Tarik Wahana

1. Kereta St. Soerabaja-Gambir

Merasakan vibes kembali ke masa lalu bak abad ke 16 traveler akan puas menaiki gerbong kereta ini. Bentuk keretanya unik, dengan panorama view terbuka yang bisa melihat sekelilingnya.


Dengan muatan maksimal 10 orang, kereta ini akan berjalan sekitar 300 meter menuju kawasan kota buatan di Studio Alam Gamplong. Interior di dalamnya full kayu menambah kesan vintagenya yang kental. Kalau kesini, wajib banget cobain naik keretanya.

2. Hasri Ainun Habibie

Rumah dengan gaya klasik nan hangat di Film Habibie Ainun itu dapat ditemukan di sini. Persis di dalamnya tersaji lengkap perabot rumah yang seolah menyeret traveler kembali ke masa lalu. Terdapat pula papan catur yang bisa dimainkan oleh traveler yang berkunjung ke rumah ini.

Di lantai dua, ada ruang kerja milik Ainun beserta kerangka tengkorak yang menjadi subjek penelitiannya sebagai seorang dokter. Dari lantai dua itu, travaler bisa melihat ke luar jendela pemandangan Studio Alam Gamplong yang luas membentang.

3. Galeri Antiques

Di samping rumah Habibie Ainun, ada Galeri Antiques. Untuk masuk ke dalamnya perlu melewati ruangan penuh rongsokan yang ditata unik. Kemudian menyusuri jalan untuk naik ke lantai dua nya. Dari lantai dua itu, terdapat satu ruangan dengan mikrofon berdiri di tengahnya. Dari situ traveler juga bisa lebih jelas melihat seluas mata memandang Studio Alam Gamplong.

Bergeser sebentar melewati jembatan layang, kemudian menuruni tangga, traveler akan melihat ruangan dengan konsep basement di sana. Bak ruang rahasia para komplotan di film film, ada banyak hal menarik di ruangan ini. Dengan cahaya remang-remangnya tersaji mulai dari piano klasik, meja billiard, panel tv, hingga ruangan semi penjara. Kira-kira film genre aksi mungkin akan cocok syuting di lokasi ini.

4. Rumah Annelies

Bumi Manusia lah gerbang pembuka kesuksesan Studio Alam Gamplong sebagai lokasi wisata. Rumah dua lantai berwarna hijau ini menjadi lokasi ikonik di film tersebut. Dengan sentuhan interior klasik khas Belanda, di dalamnya traveler seolah diseret masuk menyusul Minke dan Annelies yang sedang memperjuangkan cintanya.

Ada perpustakaan dengan tumpukan buku jaman dulu yang tersusun rapi di rak ruangan lantai dua. Terdapat pula meja makan besar, kamar, hingga balkon yang bisa dinikmati sambil duduk santai.

5. Komplek Horor

Buat traveler pecinta adu nyali, jangan lewatkan kawasan satu ini. Jika menyukai film Trinil, pasti tidak asing dengan setting tempat di dalamnya. Rumah hantu ini menawarkan sensasi rumah horor bak masuk ke dalam film-film. Bahkan ada satu film horor berjudul Kiblat yang syuting di sini dan belum tayang, loh.

Juga pemakaman yang menampilkan manusia gantung diri di ruangan terbuka. Tak sampai disitu, traveler harus melewati gua buatan mistis yang bikin bulu kuduk merinding. Masuk ke lokasi ini wajib rombongan ya, agar vibes menegangkannya lebih terasa.

6. Bangunan Tua

Jika kelima kawasan di atas perlu tiket terusan untuk masuk ke dalamnya, traveler juga masih bisa menikmati Studio Alam Gamplong secara gratis, loh. Di sini terdapat banyak bangunan tua dengan konsep kota jaman dulu. Ada warung kopi, hotel tua, toko buku, bioskop, bahkan kampung kumuh. Setiap jengkal dari kota ini sangat artistik dan sayang jika tidak berfoto-foto ria.

Lokasi, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Studio Alam Gamplong buka setiap hari pukul 09.00-17.00 WIB. Lokasinya ada di Desa Wisata Gamplong, Dukuh Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jaraknya cukup jauh dari pusat kota, butuh waktu sekitar 30 menit ke arah barat dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Letaknya yang ada di kawasan pedesaan, perlu memperhatikan dengan teliti arahan google maps dan penunjuk arah di jalan agar tidak tersesat.

Sebetulnya, memasuki kawasan Studio Alam Gamplong hanya dikenai biaya sukarela untuk perawatan dan parkir. Namun, jika traveler ingin memasuki wahana di dalamnya, ada tiket terusan yang harus dibeli dengan harga sebagai berikut :

Trem atau Kereta : Rp 10.000
Bumi Manusia (Rumah Annelies) : Rp 10.000
Habibie Ainun : Rp 10.000
Gallery Antiques : Rp 10.000
Kompleks Horor : Rp 10.000
Wahana All Access : Rp 45.000
Wahana Jeep : Weekdays Rp 150.000/ 4 orang, Peak Season Rp 200.000/ 4 orang

Mengingat fungsinya sebagai lokasi syuting, ada banyak hak cipta yang harus dilindungi di dalamnya. Traveler yang membawa kamera profesional harus membayar permid card sebesar Rp 10.000 dan penggunaan kamera drone seharga Rp 200.000

Bagi Traveler yang ingin berkegiatan khusus seperti prewedding, pemotretan yearbook, atau bahkan event wajib menghubungi admin terlebih dahulu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Plunyon Kalikuning di Sleman Versi Lokal Jembatan Russel di Skotlandia



Sleman

Plunyon Kalikuning, dengan jembatan ikoniknya, sering disebut sebagai “versi lokal Jembatan Russel” di Skotlandia. Terletak di kaki Gunung Merapi, jembatan ini tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan, tetapi juga memiliki sejarah yang kaya dan menjadi destinasi wisata yang semakin populer.

“Jembatan ini dibangun oleh warga pada tahun 1982-1983 untuk irigasi, bukan oleh Belanda seperti yang banyak orang kira,” ujar Sarjiman, pengelola Plunyon Kalikuning.

Jembatan yang berada di Kedungsriti, Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, KabupatenSleman, Yogyakarta itu semakin populer di kalangan wisatawan karena disebut-sebut mirip dengan jembatan Russel di Skotlandia. Meskipun memiliki fungsi awal yang berbeda, kedua jembatan itu kini sama-sama menjadi ikon wisata di wilayah masing-masing.


Pluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, YogyakartaPluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Seperti jembatan Russel, yang terkenal dengan keindahan arsitektur dan alam sekitarnya, Plunyon Kalikuning juga menawarkan pemandangan alam yang luar biasa. Dengan bukit hijau yang mengelilinginya dan sungai yang mengalir di bawahnya, jembatan ini memberikan pengalaman visual yang menakjubkan bagi para pengunjung.

“Pemandangan Gunung Merapi paling jelas terlihat di pagi hari sekitar pukul 7,” kata Sarjiman.

Selain pemandangannya yang menawan, jembatan Plunyon Kalikuning juga memiliki nilai sejarah dan fungsi penting dalam irigasi. Meskipun kini lebih dikenal sebagai objek wisata, fungsi irigasi jembatan ini masih tetap berjalan, mendukung kebutuhan air untuk pertanian dan rumah tangga di Sleman dan Yogyakarta.

“Jembatan ini awalnya dibuat untuk mengalirkan air ke sawah-sawah dan ternak di daerah sekitarnya,” kata Sarjiman.

Popularitas jembatan ini semakin meningkat setelah menjadi lokasi syuting film “KKN Desa Penari”. Proses syuting memerlukan izin khusus sebesar Rp10 juta dan persiapan yang memakan waktu lima hari, dengan syuting dilakukan selama satu hari satu malam. Hal ini menunjukkan betapa menariknya Plunyon Kalikuning sebagai lokasi dengan daya tarik visual yang kuat.

“Setelah dipakai untuk syuting, tempat ini menjadi lebih ramai pengunjung,” kata Sarjiman.

Dengan kemiripannya dengan Jembatan Russel, Plunyon Kalikuning juga menjadi tempat favorit untuk fotografi. Wisatawan sering memanfaatkan pemandangan jembatan yang indah untuk mengabadikan momen mereka.

“Tiap hari biasa paling ada 150-200 pengunjung, tapi kalau hari libur bisa sampai 1250 orang,” kata Sarjiman.

Ini menunjukkan betapa populernya jembatan ini, baik untuk wisatawan lokal maupun internasional.

Pluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, YogyakartaPluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Meski demikian, beberapa tantangan seperti kerawanan longsor dan kondisi taman yang mulai lapuk perlu diperhatikan.

“Tamannya sudah lapuk dan ini sudah kami laporkan tetapi belum ada respon. Sudah setahunan,” kata Sarjiman.

Dengan perhatian yang lebih pada pemeliharaan dan keamanan, Plunyon Kalikuning dapat terus menjadi destinasi wisata yang menarik dan aman bagi semua pengunjung.

Secara keseluruhan, Plunyon Kalikuning menawarkan pesona yang luar biasa dengan jembatan ikonik yang kini dikenal sebagai versi lokal Jembatan Russel di Skotlandia. Dengan pemandangan alam yang indah, sejarah yang kaya, dan daya tarik visual yang kuat, jembatan ini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi bagi para pecinta alam dan sejarah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Jembatan Plunyon Kalikuning, Jembatan Ikonik di Film KKN Desa Penari



Sleman

Jembatan Plunyon Kalikuning semakin populer di kalangan wisatawan setelah muncul sebagai latar ikonik dalam film “KKN Desa Penari”. Jembatan itu memiliki sejarah panjang dan berperan penting dalam irigasi lokal hingga kemudian menjadi destinasi wisata.

“Plunyon Kalikuning dibangun untuk irigasi sekitar tahun 1982-1983,” kata Sarjiman, pengelola Plunyon Kalikuning saat ditemui detikTravel.

Dulu, jembatan ini dibuat oleh warga setempat, bukan oleh Belanda seperti yang banyak orang kira. Fungsi utamanya adalah untuk mengalirkan air ke sawah-sawah dan ternak di daerah sekitarnya.


Plunyon sendiri diambil dari kata lunyu, yang dalam bahasa Jawa berarti licin. Hal tersebut disebabkan batu di situ sangat licin. Namun, letusan Gunung Merapi tahun 2010 yang dahsyat telah mengubah wajah Plunyon Kalikuning.

“Dulu, batu di sini sangat licin, tetapi setelah erupsi, semuanya tertutup pasir sehingga berubah bentuk. Warna air di Kali Kuning pun berubah, dari kuning keruh menjadi lebih jernih setelah tertutup batu dan pasir,” kata Sarjiman.

Selain itu, letusan juga merusak beberapa bagian jembatan, termasuk pagar besinya yang akhirnya diperbaiki pada tahun 2018.

Sejak tahun 2016, Plunyon Kalikuning mulai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dan pengunjung dikenakan tiket masuk.

“Kami mulai memungut tiket dari tahun 2016. Tiket ini membantu dalam pemeliharaan dan pengelolaan tempat ini, termasuk perbaikan fasilitas dan kebersihan area,” ujarnya.

Saat ini, irigasi masih berjalan dan airnya juga dimanfaatkan oleh PDAM untuk kebutuhan masyarakat Sleman dan Yogyakarta melalui pipa-pipa besar.

Film “KKN Desa Penari” yang mengambil lokasi syuting di Plunyon Kalikuning telah memberikan dampak signifikan terhadap jumlah pengunjung. Proses syuting itu memerlukan izin khusus sebesar Rp 10 juta dan persiapan yang memakan waktu lima hari, dengan syuting dilakukan selama satu hari satu malam.

“Sebelum dipakai syuting, tempat ini tidak seramai sekarang,” ujar Sarjiman.

Seiring dengan peningkatan jumlah pengunjung, beberapa masalah juga mulai muncul, termasuk kerawanan longsor dan kondisi taman yang mulai lapuk.

“Tamannya sudah lapuk dan ini sudah kami laporkan tetapi belum ada respon. Sudah setahunan,” ujar Sarjiman.

Plunyon Kalikuning menyuguhkan pemandangan indah Gunung Merapi yang paling jelas terlihat di pagi hari sekitar pukul 07.00. Dengan pengelolaan yang baik dan perhatian terhadap keselamatan, diharapkan Plunyon Kalikuning dapat terus menjadi destinasi wisata yang menarik bagi pengunjung sambil tetap mempertahankan fungsi irigasinya yang vital bagi masyarakat sekitar.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jembatan Ikonik dengan Taman Tepi Sungai



Sleman

Terletak di kaki Gunung Merapi, Plunyon Kalikuning memiliki pesona alam yang memukau dengan jembatan ikonik, taman tepi sungai, area pendakian, serta panorama bukit hijau dan pegunungan yang menakjubkan.

Keindahan tempat ini menjadikannya destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati keajaiban alam sambil merasakan ketenangan jauh dari hiruk-pikuk kota.

Plunyon Kalikuning dikenal dengan jembatan ikoniknya yang menjadi latar dalam film “KKN Desa Penari”. Dibangun pada tahun 1982-1983, jembatan ini awalnya dibuat untuk irigasi oleh warga setempat. Sekarang, jembatan ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan alam yang indah.


“Jembatan ini dulunya dibuat untuk mengalirkan air ke sawah-sawah dan ternak di daerah sekitarnya,” ujar Sarjiman, pengelola Plunyon Kalikuning.

Yuk intip segala pesona dari Plunyon Kali Kuning

Taman Tepi Sungai

Selain jembatan yang mempesona, Plunyon Kalikuning juga memiliki taman tepi sungai yang menawarkan tempat yang sempurna untuk bersantai. Taman ini sering dikunjungi oleh wisatawan yang ingin menikmati suasana tenang sambil mendengarkan gemericik air sungai.

Suara gemericik air dari sungai bisa Traveler tempuh dengan tracking sekitar dari area jembatan. Di sana, akan ditemui lembah teduh yang bisa untuk basah-basahan main air sepuasnya.

Setelah erupsi Gunung Merapi, lanskap di sekitar sungai berubah, tetapi tetap menawarkan keindahan yang menakjubkan.

“Dulu, batu di sini sangat licin, tetapi setelah erupsi, semuanya tertutup pasir sehingga berubah bentuk,” jelas Sarjiman.

Area Pendakian

Bagi para pencinta alam dan pendaki, Plunyon Kalikuning menawarkan area pendakian yang menantang dan menyegarkan. Jalur pendakian ini tidak hanya memberikan pengalaman fisik yang memuaskan tetapi juga menghadirkan pemandangan alam yang luar biasa.

Pendaki juga dapat menikmati panorama bukit hijau yang mempesona sepanjang perjalanan.

“Pemandangan Gunung Merapi paling jelas terlihat di pagi hari sekitar pukul 7,” kata Sarjiman.

Panorama bukit hijau dan pegunungan

Panorama bukit hijau dan pegunungan di Plunyon Kalikuning menambah daya tarik tempat ini.

“Dulu, sini sampai gunung itu penuh pohon pinus, sekarang tinggal beberapa saja,” kenang Sarjiman.

Meskipun demikian, keindahan alam Plunyon Kalikuning tetap memikat, dengan bukit-bukit hijau yang menghiasi lanskap dan memberikan pemandangan yang menenangkan bagi para pengunjung.

Dengan pengelolaan yang baik oleh Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Plunyon Kalikuning terus berkembang sebagai destinasi wisata yang populer.

“Kami mulai memungut tiket masuk dari tahun 2016, dan ini membantu dalam pemeliharaan dan pengelolaan tempat ini,” ujar Sarjiman.

Namun, beberapa tantangan seperti kerawanan longsor dan kondisi taman yang mulai lapuk perlu mendapat perhatian lebih.

Secara keseluruhan, Plunyon Kalikuning adalah tempat yang sempurna untuk menikmati keindahan alam sambil belajar tentang sejarah dan fungsi irigasinya. Dengan jembatan ikonik, taman tepi sungai, area pendakian, serta panorama bukit hijau dan pegunungan, tempat ini menawarkan pengalaman yang lengkap bagi setiap pengunjung.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com