Tag Archives: wisata solo

Mengenal Wayang Orang Sriwedari, Tradisi Tersohor dari Kota Solo



Solo

Liburan ke Kota Solo belum lengkap bila tak menonton pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Tak cuma menghibur, pertunjukan ini juga sarat budaya.

Suasana syahdu melingkupi Kota Solo selepas matahari terbenam. Kota di Jawa Tengah itu boleh saja sepi menjelang petang tapi tidak dengan kawasan Sriwedari yang menyelenggarakan pertunjukan wayang orang setiap malam.

Ketika detikcom datang ke Sriwedari beberapa waktu lalu, kawasan itu ramai dikunjungi muda-mudi yang hendak menyaksikan pertunjukan wayang orang. Penasaran dengan tradisi ini, detikcom kemudian berbincang dengan salah satu sutradara Wayang Orang Sriwedari yang bernama Harsini.


“Wayang orang adalah wayang yang diperankan orang, yang mengambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata. Di situ ada dalang yang fungsinya sebagai penegas atau memberikan suasana untuk wayang orang,” Harsini menjelaskan.

Wayang Orang SriwedariWayang Orang Sriwedari. Foto: Ari Saputra/detikcom

Sebagai seorang sutradara, Harsini bertugas untuk menyusun alur cerita dan menyiapkan para pemain yang akan memerankan pementasan. Uniknya, dalam gelaran Wayang Orang Sriwedari tidak terdapat script tapi para pemain yang profesional mampu membawakan diri sesuai alur cerita yang dibuat sutradara.

“Tidak ada script. Jadi pemain harus cepat beradaptasi. Kalau masuk di wayang orang, harus siap,” ujarnya.

Sebelum menjadi sutradara mulai 2019, Harsini terlebih dahulu menjadi pemain Wayang Orang Sriwedari sejak 1990. Dengan pengalaman puluhan tahun itu, dia bersama seorang sutradara lainnya, mampu membuat alur cerita yang berbeda-beda untuk pementasan yang dijadwalkan setiap hari Senin – Sabtu.

Wayang Orang SriwedariPemain Wayang Orang Sriwedari. Foto: Ari Saputra/detikcom

Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari semakin mantap dengan pemain-pemain andal yang didominasi anak muda. Mereka yang menjadi pemain Wayang Orang Sriwedari umumnya merupakan lulusan SMKI dan ISI.

“Dari pihak kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberikan peluang bagi yang mempunyai ijazah tari. Waktu dulu pokoknya kamu bisa menjadi wayang, itu bisa diambil. Tapi akhir-akhir ini tidak bisa dan untuk sekarang pun sudah tidak ada penerimaan rekrutmen lagi,” kata dia.

Sutradara Wayang Orang Sriwedari, HarsiniSutradara Wayang Orang Sriwedari, Harsini. Foto: Putu Intan/detikcom

Dengan mengandalkan pemain-pemain muda, Wayang Orang Sriwedari pun semakin diminati generasi muda. Melihat hal ini, Harsini tak khawatir dengan masa depan kesenian tradisional ini.

“Semakin ke sini, semakin banyak peminatnya wayang orang. Terbukti dari sekarang banyak penonton yang muda-muda. Banyak anak kecil dan remaja melihat ke sini karena banyak pemain muda,” kata dia.

(pin/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Kecil-kecil Tua, Stasiun Solo Kota Warisan Belanda



Solo

Sebuah bangunan kecil di Solo jadi cagar budaya peninggalan Belanda. Lokasinya di Sangkrah, Pasar Kliwon, namanya Stasiun Sangkrah atau Stasiun Solo.

Kota Solo saat ini memiliki lima stasiun, yaitu Stasiun Purwosari, Stasiun Balapan, Stasiun Jebres, Stasiun Solo Kota, dan Stasiun Kadipiro yang baru berdiri sejak 2019. Di antara empat stasiun yang didirikan oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Stasiun Solo Kota adalah stasiun yang paling muda.

Hal itu dijelaskan Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni. Ia mengatakan, Stasiun Solo Kota diresmikan pada 1922, paling muda di antara 4 stasiun lawas lainnya.


“Dibangun paling akhir di antara beberapa stasiun kereta api lain di Kota Solo, yang lain dibangun sebelum abad 20. Yang di Sangkrah ini dibangun tahun 1919. 1922 itu kayaknya peresmiannya, tapi mulai pembangunannya 1919 atau 1920,” kata Dani saat dihubungi detikJateng, Kamis (23/11/2023).

Potret Stasiun Sangkrah atau Stasiun Solo Kota yang masih terjaga keasliannya meski sudah berdiri 100 tahun silam.Potret Stasiun Sangkrah atau Stasiun Solo Kota yang masih terjaga keasliannya meski sudah berdiri 100 tahun silam. Foto: Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Solo

Dani menjelaskan, pembangunan Stasiun Solo Kota ini dulunya digadang sebagai penunjang transportasi murah dan mudah untuk mengangkut berbagai hasil bumi. Stasiun ini dibangun perusahaan maskapai kereta api Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) agar kereta melewati pusat-pusat perdagangan dan transportasi.

“Program tahunan negara bagian selatan, yaitu daerah Wonogiri. Mobilitas penduduk di sana dipermudah untuk jalur perdagangan. Tapi sebetulnya kan di situ sebelum ada stasiun kereta api uap itu kan sudah ada trem kuda,” terangnya.

Trem kuda merupakan sarana transportasi yang berbentuk seperti gerbong kereta yang ditarik kuda. Menurut Dani, trem kuda ini dulu populer di era Hindia Belanda. Kemudian penamaan Solo Kota diambil karena letak stasiun yang berada di jantung Kota Solo, yang saat itu masih dalam kekuasaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pria yang kerap menelusuri sejarah melalui Solo Societeit itu mengatakan, jalur kereta di Stasiun Solo Kota ini dominan ke arah Wonogiri. Tapi dulunya sempat dibuka jalur Solo-Boyolali. Seiring perkembangan zaman, beberapa jalur banyak yang kemudian terputus karena ada pembangunan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri.

“Makanya sekarang kan hanya ada Kereta Bathara Kresna yang masih beroperasional,” ujar Dani.

Kereta Bathara Kresna melintas dari Purwosari menuju Wonogiri. Sesekali Stasiun Solo Kota juga melayani rute Sepur Kluthuk Jaladara yang akan membawa penumpang melewati Jalan Slamet Riyadi dengan kereta uap yang antik.

“Menarik karena keberadaannya ini bukan untuk mobilitas luar kota, jadi jarang orang yang tahu. Makanya lebih ke wisata heritage, berbeda dengan Stasiun Purwosari, Balapan, Jebres yang ada pengunjung luar kota,” jelasnya.

Sebagai salah satu cagar budaya di Kota Solo yang berada di wilayah PT KAI Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta, Stasiun Solo Kota masih mempertahankan keasliannya. Hanya beberapa ornamen yang diubah, seperti stasiun-stasiun lawas lainnya di Kota Solo.

“Itu dominan bangunan lama masih dipertahankan. Ada beberapa ornamen yang memang diubah karena kebutuhan zaman tentu saja,” tutur Dani.

Hal itu dibenarkan Manager Humas Daop 6 Jogja, Krisbiyantoro. Ia mengatakan, Stasiun Solo Kota termasuk ke dalam kategori bangunan heritage cagar budaya yang dilindungi, sehingga bangunannya masih asli dan masih dirawat untuk menjaga kelestariannya.

“Sampai saat ini kami mengatakan bangunan Stasiun Solo Kota itu masih asli, dan belum ada wacana untuk berubah karena harus dilindungi keasliannya. Bahkan sistem persinyalannya pun masih jadul, pakai mekanik, yang ditarik pakai tangan,” ungkapnya saat dihubungi detikJateng.

***

Baca berita selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Berburu Barang Antik di Pasar Triwindu Kota Solo



Surakarta

Bagi traveler yang sedang berburu barang antik, ada satu tempat di Solo yang wajib didatangi. Namanya Pasar Triwindu.

Lokasi Pasar Triwindu tidak jauh dari Pura Mangkunegaran, cukup berjalan lurus sedikit dari gerbang Pura Mangkunegaran. Dari gerbang itu, Pasar Triwindu berada di sebelah kiri jalan.

Di sini traveler akan melihat bangunan cukup besar dengan tanda bertuliskan ‘Pasar Triwindu’ di depannya. Dari depan sudah terlihat barang-barang jualan beberapa pedagang yang dipajang sepanjang pasar.


Pasar ini diresmikan pada tahun 2011 oleh Walikota Surakarta saat itu, Joko Widodo. Pasar ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1939 pada masa pemerintahan Mangkunegara VII, dibangun untuk merayakan kenaikan takhtanya yang ke 24. Istilah 24 tahun ini sering juga disebut tiga windu atau tri windu.

Menyusuri bagian dalam pasar ini terasa seperti menyusuri lorong waktu pada zaman-zaman kakek dan nenek dahulu. Setiap kios pada terisi dengan barang-barang dari penjual yang berbeda.

Pasar Triwindu, SurakartaPasar Triwindu, Surakarta (Lintia Elsi)

Barang-barang antik yang dijual ada beragam pilihannya, ada peralatan rumah tangga seperti piring-piring dan gelas kuno, rangkaian lampu gantung peninggalan zaman penjajahan, mainan tradisional, dan keris-keris.

Ada pula uang-uang kertas dan koin lama, televisi dan radio, patung, mesik ketik, koleksi keris, batik, hingga berbagai jenis kerajinan Jawa. Harga yang ditawarkan bisa mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta.

Namun selain barang antik, pasar ini juga menjual kerajinan-kerajinan baru yang tetap sesuai dengan suasana pasar. Barang-barang di sini biasanya didapat dari pengoleksi dan pengrajin.

“Ada yang nyetor barang biasanya, barang yang udah dijual kolektor gitu kalau barang lama. Kalau barang baru itu ada perajinnya sendiri,” kata salah satu penjual.

Pasar Triwindu ini cukup menarik minat wisatawan terutama para kolektor barang antik dari luar kota yang mau datang jauh-jauh ke sini untuk melihat barang secara langsung. Saat datang ke sini, beberapa turis luar negeri juga terlihat berkeliling melihat barang.

“Tau tempat ini dari teman sesama kolektor juga, kebetulan saya baru mulai koleksi uang lama. Jadi mumpung ada day off saya coba ke sini, dari Balikpapan,” kata Hedi, salah satu pengunjung.

Selain para kolektor, pengunjung-pengunjung di sini juga banyak yang datang untuk sekadar melihat-lihat dan mengambil gambar karena lorong-lorong sempit pasar ini cukup populer untuk menghasilkan spot foto bergaya vintage. Namun, tentunya harus izin terlebih dahulu pada penjual di sekitar agar tidak mengganggu proses transaksi di pasar.

Pasar Triwindu ini buka mulai buka pada jam 09.00 – 16.00 WIB. Lokasinya ada Jalan Diponegoro, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bukan Luar Negeri, Bangunan Klasik Eropa Ini Ternyata Ada di Solo



Kartasura

Tidak perlu jauh-jauh ke Eropa untuk menikmati pesona bangunan Eropa klasik, sekitar 17 menit dari pusat kota Solo ada destinasi wisata unik yang kental dengan suasana Eropa zaman dahulu.

The Heritage Palace namanya, terletak di Jalan Permata Raya Dukuh Tegalmulyo, Honggobayan, Pabelan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Bangunan The Heritage Palace merupakan bangunan bekas pabrik gula bernama Pabrik Gula Gembongan yang berdiri pada 1899. Karena berdiri pada masa kolonial Belanda, arsitektur bangunan ini pun identik dengan bangunan bergaya Eropa.


Kini bangunan ini telah dioperasikan sebagai tempat wisata bersejarah, bangunannya pun telah diakui sebagai bangunan cagar budaya sejak 2018.

Untuk masuk ke sini pengunjung harus membayar tiket masuk dengan harga Rp 30 ribu, tiket ini berlaku untuk area outdoor berupa gedung klasik beserta tamannya. Pengunjung juga bisa membeli tiket terusan dengan harga Rp 55 ribu untuk weekdays dan Rp 65 ribu untuk weekend dan libur nasional, tiket ini bisa dipakai untuk area outdoor dan wahana indoor The Heritage Palace.

Wahana indoor ini terdiri dari Museum 3 Dimensi di mana pengunjung bisa berfoto di gambar-gambar dengan konsep dunia fantasi hingga tempat-tempat terkenal seperti Patung Liberty. Ada pula Museum Transportasi yang memperlihatkan koleksi mobil dan motor zaman dulu. Ada juga Omah Kwalik yaitu ruangan-ruangan dengan perabotan yang terpasang terbalik.

The Heritage Solo, KartasuraThe Heritage Solo, Kartasura (Lintia Elsi)

The Heritage Palace ini memiliki parkiran yang luas sehingga rombongan wisata dengan bus pun bisa masuk ke sini. Dari pintu masuk pengunjung akan langsung dihadapkan dengan taman, di sini terdapat dinding putih yang dihiasi dengan patung kuda di depannya. Pada bagian tengah taman ada air mancur kecil dengan pohon-pohon dan beberapa kursi yang mengelilinginya.

Berjalan maju sedikit, sampai lah pada bagian utama bangunan The Heritage Palace. Bangunan ini berdiri megah dengan beberapa bendera negara Eropa yang terpasang di dindingnya.

Di sudut-sudut area ini terdapat penjual minuman dan kursi-kursi sehingga pengunjung bisa beristirahat menikmati suasana di sini. Ada satu tangga menuju jembatan penghubung bangunan di mana pengunjung bisa berfoto dengan latar gedung klasik dari ketinggian.

“Bagus banget di sini, waktu liat di tiktok gitu saya kira ini di luar ternyata di Solo. Buat yang suka tempat-tempat estetik gitu harus ke sini sih, outdoor-nya aja udah keren,” kata Maria, salah satu pengunjung.

Selain itu, saat berjalan untuk keluar dari area ini, akan ada kawasan oleh-oleh dan foodcourt di depannya dengan pilihan makanan berat dan makanan ringan yang beragam.

Bagi yang sedang jalan-jalan ke Solo, tidak ada salahnya mencoba mampir ke destinasi satu ini. The Heritage Palace buka setiap hari, Senin-Kamis pada jam 09.00 – 16.00 WIB, sedangkan Jumat-Minggu pada jam 09.00 – 16.30 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Mengintip Kehidupan Elite Jawa di Istana Mangkunegaran Solo



Surakarta

Berkunjung ke Solo tidak lengkap rasanya jika tidak mampir ke Pura Mangkunegaran. Kompleks keraton ini kediaman resmi dari Adipati Mangkunegara yang juga menyimpan peninggalan-peninggalan Kadipaten Mangkunegaran dan kebudayaan Jawa.

Pura Mangkunegaran ini berada di Jalan Ronggowarsito, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Pura Mangkunegaran didirikan pada tahun 1757 oleh Mangkunegara I, namun dulunya hanya berupa bangunan kecil. Baru pada 1815 direnovasi dan ditambah bagian-bagian baru sehingga jadi lebih luas.


Untuk masuk ke sini, setiap pengunjung hanya perlu membayar sebesar Rp 30 ribu saja, kemudian akan langsung disediakan pemandu tur. Satu pemandu tur bisa membawa rombongan ataupun satu orang saja dengan bayaran seikhlasnya. Pengunjung diminta untuk memakai pakaian sopan, tidak diperkenankan memakai celana atau rok pendek.

Tur dimulai dengan mendatangi Pendopo Agung, masuk ke sini pengunjung harus melepas alas kaki terlebih dahulu. Di depan dan belakang pendopo terdapat patung singa berwarna emas yang disebut untuk penjagaan pendopo.

Di dalam pendopo ini juga ada beberapa gamelan yang masih dimainkan sampai sekarang, pengunjung bisa melihat pertunjukan gamelan yang disertai latihan menari setiap hari Rabu jam 11.30 WIB di sini.

Menurut pemandu tur Pura Mangkunegaran, ada satu mitos yang cukup dipercayai di pendopo ini. Yaitu, keinginan bisa terwujud jika bisa memeluk pilar utama pendopo.

Pura Mangkunegaran SoloTaman di Pura Mangkunegaran Solo (Lintia Elsi)

“Mitosnya itu terdapat di pilar utama yang besar di tengah ini, nah itu kalau kita meluk tangannya bisa nyatu, keinginannya bisa terwujud. Jadi yang ada mitosnya cuma 4 di tengah ini aja, kalau yang lainnya enggak,” katanya.

Tepat di depan pendopo ada Pringgitan, di sini terpasang foto-foto para Mangkunegara dan keluarga mereka. Di sini terdapat ruangan bernama Ndalem Ageng yang tidak boleh dimasuki oleh para pengunjung. Ruangan ini biasanya dibuka pada upacara adat tertentu.

Di dalam ruangan ini terdapat Krobongan yang sakral karena dianggap sebagai tempat pertemuan Dewi Sri yang merupakan dewi kesuburan dengan suaminya, Dewa Sadono, jadi Krobongan merupakan tempat raja untuk mendapatkan keturunan sejati.

“Dulu tempat ini boleh dimasuki wisatawan, jadi bisa lihat koleksi-koleksi di dalam. Tahun ini Juni sudah ditutup karena kebijakan dari Kanjeng Gusti karena beliau beranggapan kalau tempatnya masih sakral, takutnya dimasuki banyak orang nilainya jadi turun,” jelas pemandu tur lagi.

Di sebelah Pringgitan ini merupakan tempat tinggal keluarga Mangkunegara yang merupakan area privat sehingga pengunjung tidak boleh masuk ke area tersebut.

Namun tur ini akan membawa pengunjung ke area taman cantik dengan atap kaca serta kursi-kursi berwarna putih. Di sini juga ada galeri foto keluarga Mangkunegara dan tempat bersantai para putri Mangkunegara.

Terakhir, pengunjung bisa melihat area jamuan tempat menerima tamu-tamu penting dan area makan keluarga yang hanya digunakan pada saat tertentu saja karena sekarang masih dibuka untuk wisatawan kunjungi.

Area ini berada di bagian belakang kawasan Pura Mangkunegaran, bangunannya terlihat elegan dengan dinding kaca transparan dan air mancur di depannya. Kesan mewah didapatkan dari kursi-kursi dan pernak pernik yang dipoles dengan warna emas.

Pencinta wisata bersejarah pasti akan betah datang ke sini. Pengunjung boleh datang ke sini tanpa reservasi, Pura Mangkunegaran buka setiap hari jam 09.00 – 15.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kampung Batik Kauman, Kampung Kuno Pusatnya Batik di Solo



Surakarta

Kampung Batik Kauman merupakan salah satu destinasi wisata yang kerap dikunjungi oleh wisatawan dari luar Solo. Kampung yang terletak di tengah kota ini merupakan salah satu sentra batik tertua di Kota Solo.

Dulu Kampung Batik Kauman merupakan pemukiman kaum abdi dalem Keraton Kasunanan. Mereka adalah orang-orang yang mempertahankan kebudayaan dan kesenian keraton, termasuk teknik membatik.

Tradisi membatik yang diwarisi secara turun-temurun menjadikan kampung ini pusat kegiatan dan produksi batik, terutama untuk batik yang dipakai keluarga keraton.


Untuk berkunjung ke sini, sebaiknya traveler berjalan kaki saja, karena jalan kampung ini tidak terlalu luas dan juga agar traveler bisa lebih menikmati suasananya.

Kampung Batik Kauman ini terletak di Jalan Trisula III No.1, Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Ada gerbang penanda besar di tepi jalan sebelum masuk ke dalamnya.

Sepanjang menelusuri kampung ini traveler akan dimanjakan dengan arsitektur rumah-rumah ala Jawa-Belanda, rumah joglo, hingga limasan. Suasana kampung ini terasa seperti berada di kampung kuno. Keunikan bangunannya ini lah yang sering dijadikan wisatawan sebagai tempat berfoto.

Pada salah satu sudut kampung dipasang papan tanda dari nama usaha-usaha batik yang ada di dalamnya. Area ini terlihat beragam dengan dekorasi-dekorasi unik dari pemilik usaha batik ini, ada area dengan suasana alam dilengkapi dengan tumbuhan hijau menggantung dan tetesan air, ada pula dekorasi payung menggantung yang mencolok di sisi jalan.

Di sini, terdapat industri batik rumah tangga yang beragam modelnya dengan menyediakan variasi ragam dan jenis batik dengan harga yang berbeda-beda. Produk-produk batik yang tersedia di sini mencakup batik klasik yang memiliki motif standar tradisional, batik cap, dan juga batik yang mengkombinasikan teknik cap dan tulis.

Bukan hanya bisa membeli, Kampung Batik Kauman juga menawarkan kesempatan yang untuk wisatawan agar dapat mengunjungi rumah industri batik dan melihat proses produksi, beberapa tempat juga menyediakan workshop untuk belajar membatik.

Selain itu traveler juga bisa sambil kulineran di sini, karena ada coffee shop dan restoran yang menyediakan pilihan menu kuliner nusantara dan mancanegara di sini.

Tak hanya wisata batik, Kampung Kauman juga terkenal dengan wisata religi seperti adanya Masjid Agung Surakarta yang merupakan peninggalan kerajaan Mataram Islam di sini. Tidak heran banyak wisatawan yang tertarik untuk datang melihat sisa-sisa sejarah kehidupan kerajaan zaman dulu ini.

“Karena kan katanya ini kampung bersejarah ya, kebetulan saya suka wisata sejarah gitu. Batik ada, rumah-rumah dulu ada, masjid juga ada, komplit sih di sini nggak ngebosenin,” kata Aqia, salah satu pengunjung.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Wedangan Pendhopo Padukan Nasi Kucing, Jangan Ndeso, dan Benda Antik



Solo

Wedangan Pendhopo tidak cuma menawarkan jajanan khas Solo. Tempat ini mengajak traveler untuk sejenak melambat sembari menyantap nasi kucing dan jangan ndeso (sayur kampung) di dalam sebuah museum mungil.

Sebuah rumah bertembok bercat putih dengan pintu biru muda di Jalan Srigading 1 No.7, Mangkubumen, Banjarsari Solo, Jawa Tengah tidak jauh dari Paragon Mall, mencolok dengan nyala lampu lebih terang dibandingkan rumah-rumah lain di deretan itu. Ada papan penanda Wedangan Pendhopo di atas pintu masuk.

Di teras, sejumlah pengunjung duduk sembari berbincang-bincang. Di meja, ada sejumlah piring dengan bermacam-macam gorengan, sate, dan sosis solo. Juga piring dengan nasi yang disiram kuah sayur.


Melewati pintu, dinding penuh dengan poster iklan lawas, dan mesin jahit bekas, meja dan kursi kayu, serta patung loro blonyo, serta botol-botol minuman beling dan minuman kemasan disuguhkan. Ada lagi ruangan lain dengan nuansa serupa, hanya saja ukurannya lebih kecil. Kemudian, ada pintu keluar di sisi kiri. Rupanya, pintu ini mengarah ke lapak jajanan, nasi kucing, dan meja kasir.

Di balik lapak, seorang perempuan sepuh, yang disapa Mbah Kati, menuangkan kuah santan di atas nasi dengan ukuran mini. Nasi kucing. Nasi putih dengan porsi kecil khas di wedangan Solo, juga angkringan di Yogyakarta.

Wedangan Pendhopo di SoloBarang antik terpajang di Wedangan Pendhopo di Solo (Femi Diah/detikcom)

“Kita tinggal ambil makanan di sini, kemudian dilaporkan ke kasir. nanti akan diantar ke meja kita. Sekalian saat di kasir pesan minum,” kata Shinta Aditya, general manager Solo Safari, yang mendampingi rombongan wartawan, termasuk detikTravel, beberapa waktu lalu.

Rupanya, setelah melaporkan makanan yang diambil ke kasir, piring beserta isinya tidak bisa langsung dibawa ke meja. Gorengan, sate, dan jadah, telor dadar, sosis Solo, dan jajanan lain lebih dulu dibakar. Setelah itu, barulah kemudian disuguhkan kepada pemesan. Agar tidak salah meja, piring-piring itu ditandai sesuai nama pemesan.

Yang bikin penasaran, di mana minuman dibuat?

Wedangan Pendhopo di SoloPeracik minuman di Wedangan Pendhopo di Solo (Femi Diah/detikcom)

Ternyata, pintu di belakang kasir bukan pintu keluar. Pintu itu mengarah ke tempat duduk lain berupa sejumlah balai-balai yang masih bagian dari Wedangan Pendhopo. Di sana juga ada satu blok untuk membuat macam-macam minuman.

“Minuman bermacam-macam, ada es teh atau teh panas, teh krampul, wedang jahe, dan yang khas dan banyak dipesan adalah JKJ jahe, kencur, jeruk,” kata Ustiani, pemilik Wedangan Pendhopo.

Tidak hanya menjelaskan soal beragam minuman, Ustiani yang melayani langsung para pembeli juga menyapa dan berbincang dengan pengunjung.

Koleksi Barang Lawas

Wedangan Pendhopo bukan sekadar tempat nongkrong. Kedai makan ini, laiknya sebuah museum mungil. Pengunjung menyantap makanan yang sudah dipesan di tengah-tengah koleksi benda antik milik keluarga Ustiani.

Di dalam rumah dengan fasad rumah lama khas Jawa itu tersimpan beragam benda-benda lawas. Mulai dari dinding kayu berukir, patung loro blonyo, toples tabung, kaleng kerupuk, lonceng kalung sapi, mesin jahit, peti beras, poster iklan jaman dulu, sampai sepeda kebo.

Wedangan Pendhopo di SoloKoleksi benda0benda lawas di Wedangan Pendhopo di Solo. (Femi Diah/detikcom)

“Sejak dulu kami mengumpulkan barang-barang ini. Dulu nggak di sini, di rumah. Di sebelah sana, ini rumah tetangga. Meja-meja ini juga,” kata Ustiani.

Tidak hanya Ustiani, yang merupakan pensiunan ASN Kota Surakarta itu, yang menyukai berburu benda-benda lawas, suami pun setali tiga uang, mempunyai hobi serupa. Mereka sama-sama suka traveling. Sama-sama suka mengumpulkan benda antik.

“Ternyata malah melengkapi wedangan ini,” kata Ustiani.

Mbah Kati, Pemegang Resep Sayur Ndeso

Belum ke Wedangan Pendhopo kalau belum mencicipi nasi kucing plus sayur ndesonya. Sayur santan ini sungguh menggoyang lidah.

Gorengan, tempa atau tahu bacem, bermacam-macam sate, jadah, atau sosis bisa ditemukan di wedangan lain di Solo. Teh Solo yang tersohor dengan cita rasa khas itu juga bisa jadi ada di setiap wedangan, tetapi tidak semua wedangan di Solo melengkapi nasi kucing dengan jangan ndeso ini.

Wedangan Pendhopo di SoloMbah Kati (kiri) dan pemilik Wedangan Pendhopo di Solo, Ustiani (Femi Diah/detikcom)

“Mbah Kati ini yang meracik bumbunya. Ini resep keluarga dan Mbah Kati sudah menjadi bagian keluarga ini sejak lama,” kata Ustiani.

Ustiani menyebut seluruh jajan dan makanan serta minuman di wedangan ini merupakan racikan sendiri. Bukan pesan di tempat lain. Jadi, cita rasanya pun tidak akan dimiliki wedangan lain.

Langganan Iriana Jokowi

Dari foto-foto yang dipamerkan di dinding Wedangan Pendhopo, sohor di kalangan pejabat. Sejumlah menteri dan istri Presiden Joko Widodo ada di antara foto-foto itu.

Wedangan Pendhopo di SoloFoto Ibu Iriana di Wedangan Pendhopo di Solo. (Femi Diah/detikcom)

“Bu Iriana sering ke sini. Biasanya telpon dulu buat datang, tapi ya datang saja tidak tutup untuk yang lain, tetap dibuka buat pengunjung lain. Gabung saja dengan yang lain. Kebetulan kami teman SMA, di SMA 3 Surakarta,” ujar Ustiani.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jalan-jalan di Kampung Batik Kauman Solo, Ada Apa Saja?



Surakarta

Menginvestasikan waktu berjalan-jalan di Kampung Batik Kauman Solo bisa dengan melakukan banyak aktivitas. Ngapain saja ya asyiknya?

Kampung Batik Kauman Solo terletak di Kecamatan Pasar Kliwon. Lokasi tepatnya strategis dekat dengan Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta. Untuk

menuju lokasinya traveler bisa mengarahkan maps menuju Gerbang Utama Kampung Wisata Batik Kauman yang terletak di sisi selatan Jalan Slamet Riyadi.


Konsep wisata yang dibawakan adalah ketenangan, sehingga kendaraan pribadi yang bisa masuk hanya roda dua saja. Itu pun traveler harus memarkirkan di dekat area gerbang utama. Untuk masuk lebih dalam, traveler hanya bisa berjalan kaki menikmati indahnya kauman yang kental dengan gaya tempo dulunya.

Hanya seluas 0,196 km persegi, traveler akan tersihir dengan suasana Kauman yang tenang dan bergaya vintage. Tanpa pungutan biaya masuk dan traveler bisa bebas berkeliaran di area kampung dengan nyaman. Namun tetap ingat untuk menjaga kondisi agar tidak bising dan menganggu warga.

Kampung Batik Kauman adalah lokasi yang menjadi sentra home industry batik di Solo. Sehingga lokasi ini dipenuhi dengan toko batik sepanjang gang. Bangunan gaya arsitektur khas Jawa Belanda juga tak luput menghiasi indahnya kampung ini.

Waktu terbaik untuk berkeliling di Kauman ada di pagi atau sore hari. Tepatnya ketika mentari tidak sedang di atas kepala. Udara segar di pagi hari dan cahaya oranye di sore tentu menjadi golden time yang sayang jika dilewatkan di Kauman.

Di sini traveler seolah bisa mendapatkan paket wisata yang komplit. Bisa makan, jalan-jalan, belanja batik, belajar membatik, berfoto cantik, hingga penginapan pun ada di sini.

Jika sudah sampai di lokasi ini, aktivitas apa saja yang bisa traveler lakukan? Yuk, simak daya tarik Kauman selengkapnya.

1. Hunting Spot Foto Instagramable

Sejak ditetapkannya Kauman sebagai kampung wisata pada tahun 2006, masyarakat kampung mulai berbenah untuk mendekorasinya. Setiap sudut di kampung ini begitu magical dan estetik. Terlalu indah jika tidak diabadikan di kamera ponsel dan dipamerkan di media sosial. Terlebih sejak Kauman menjadi viral di medsos, lokasinyanya semakin ramai diburu para foto hunter.

Di pusat kampung terdapat area taman yang paling populer. Letaknya ada di sebelah toko batik Gunawan. Taman tersebut menampilkan dekorasi dengan berbagai properti mulai dari meja kursi, papan nama, sepeda tua, payung, hingga bunga-bunga yang indah.

Sekali memasuki Kauman, traveler tidak akan kehabisan spot foto untuk diabadikan. Hal yang perlu traveler siapkan adalah ruang penyimpanan yang besar karena pasti akan habis dalam sekejap membingkai indahnya Kauman.

2. Belanja batik

Sesuai fitrahnya sebagai kampung batik, tentu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah berbelanja batik. Di Kauman terdapat banyak pilihan toko batik yang bisa traveler pilih.

Saat ditemui oleh detikTravel beberapa waktu lalu, para pelayan begitu ramah menyambut wisatawan meskipun hanya sekadar bertanya. Jadi, jangan takut untuk masuk dan melihat koleksi batiknya ya. Siapa tahu ada yang sesuai minat dan kantong traveler.

3. Experience Membatik

Selain belanja, tak lengkap rasanya apabila traveler tidak mencoba pengalaman satu ini. Membatik menjadi salah satu kegiatan yang ditawarkan oleh Kauman untuk membuat wisatawan betah.

Workshop membatik ini tersedia di dua lokasi, yaitu Batik Gunawan dan Batik Gunasti. Untuk umum disediakan kelas membatik tulis menggunakan canting hingga pewarnaan. Biayanya seharga Rp 55.000 per orangnya.

Traveler dapat mengunjungi Kauman untuk workshop membatik hanya pada hari Senin sampai Sabtu pukul 08.00 pagi hingga 03.00 sore hari. Untuk hari Minggu toko tetap buka, namun tidak dengan workshopnya. Reservasi dapat dilakukan dengan menghubungi akun instagram @batikgunawansetiawan atau @batikgunasti_kauman.

Traveler juga bisa datang langsung tanpa melakukan reservasi terlebih dahulu. Nah, itu tadi untuk batik tulis. Sedangkan untuk batik cap tidak disediakan paket individu. Saat ini workshop batik cap hanya tersedia bagi paket group atau kelompok saja.

Pengalaman membatik langsung di kampung batik bersama pengrajinnya sayang sekali jika dilewatkan. Nantinya hasil batik tersebut dapat traveler bawa pulang sebagai kenangan telah berkunjung ke Kauman.

3. Kulineran

Bukan wisata namanya jika tidak diimbangi dengan kuliner. Lelah berkeliling Kauman, traveler bisa memilih untuk singgah di kafe dan resto yang ada di sini. Ada banyak lokasi yang bisa menjadi pilihan. Terdekat dengan taman ada Resto dengan tampak luar bergaya jawa rumahan bernama Wesja (Wedhangan dan Masakan Jawa).

Papan nama besar tertuliskan di atas pintu, traveler tidak akan kesulitan menemukannya. Konsepnya menawarkan menu yang berganti setiap hari dengan harga ramah di kantong.

Melipir sedikit ke arah utara terdapat Kooken Cafe and Resto yang berdampingan dengan Toko Batik Gunasti. Tampilannya lebih klasik dengan nuansa rumah belandanya.

Geser sedikit ke selatan ada Pelipur Kopi bagi traveler yang menyukai minuman kopi sambil nongkrong asik di Kauman. Tentunya masih banyak lagi area makanan yang bisa traveler pilih ketika ke Kauman, jadi siapkan diri untuk kebingungan dalam menentukan pilihan, ya.

4. Penginapan

Di awal sudah disebutkan bahwa Kauman menjadi wisata paket komplit. Traveler bisa memilih untuk tinggal lebih lama di sini dengan memanfaatkan fasilitas penginapan yang ada.

Mulai dari Collection O 90774 Homi Stay, Sans Hotel City Inn Solo, Kemuning Homestay, OYO 3308 Griya Wijayakusuma Syariah, Cakra Honestay, Istana Griya 1 (1 star), Hotel Kusuma Sahid, Hotel Wigati (2 star), dan The Royal Surakarta Heritgae (5 star). Beberapa penginapan tersebut berlokasi di sekitar Kauman yang bisa diakses dengan berjalan kaki. Traveler bisa pilih sesuai dengan budgeting dan keinginan.

Lengkap sekali bukan? Jadi, tunggu apalagi, jangan sia-siakan hidupmu dengan tidak mengunjungi Kampung Batik Kauman Solo.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

5 Destinasi Dekat Stasiun Kereta, Cocok Nih Didatangi Saat Long Weekend



Jakarta

Long weekend ini, traveler bisa berburu tempat cantik yang berada di dekat stasiun kereta api. Banyak kok tempat-tempat populer yang lokasinya tidak jauh dari stasiun kereta.

KAI pun membagikan beberapa spot destinasi yang lokasinya dekat dengan stasiun kereta. Catat ya!

Masjid Raya Al-Jabbar, Bandung


Umat Islam yang melaksanakan Shalat Idul Fitri di Masjid Raya Al Jabbar, Gedegage, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (22/4/2023). Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1444 H pada Sabtu (22/4). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nym.Masjid Raya Al Jabbar, Gedegage, Bandung, Jawa Barat, ( ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nym. Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Siapa yang tidak tertarik dengan kemegahan Masjid Raya Al-Jabbar atau dikenal dengan Masjid Terapung Gedebage? Dibangun sejak 2017, Masjid Raya Al-Jabbar dirancang berada di atas danau retensi yang merupakan salah satu penanggulangan banjir di Gedebage.

Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar yang didesain Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menjabat Wali Kota Bandung ini terinspirasi dari desain eksterior dan interior masjid di Turki dan Iran, dengan halaman yang luas dan melewati bangunan dengan nuansa berbeda. Ciri khas masjid megah ini memiliki 4 menara setinggi 99 meter, sebagai simbol Asmaul Husna. Sentuhan lain yaitu memiliki sentuhan khas Jawa Barat yang dapat dilihat pada puncak atap, yaitu ikon tusuk sate, seperti yang terdapat pada Gedung Sate dan kantor Gubernur Jawa Barat.

Kamu dapat menikmati kemegahan Masjid Raya Al Jabbar dengan akses yang sangat mudah. Jika kamu datang dari luar Kota Bandung, kamu dapat naik kereta tujuan Stasiun Bandung, lalu berpindah ke Commuter Line Bandung Raya atau Commuter Line Garut dan turun di Stasiun Cimekar. Dari sana, kamu hanya perlu berjalan kaki menuju kawasan Masjid Raya Al Jabbar. Selain itu, tersedia juga ojek pangkalan yang siap mengantarkanmu ke kawasan Masjid Raya Jawa Barat tersebut.

Candi Prambanan, Yogyakarta

Liburan ke Candi Prambanan Candi Prambanan Foto: Dok. InJourney

Peninggalan sejarah yang tidak boleh kita lewatkan dan telah ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia pada tahun 1991 adalah Candi Prambanan. Candi Hindu setinggi 47 meter ini dibangun oleh Dinasti Sanjaya pada abad ke-9. Bangunan candi terdiri dari tiga halaman tertutup. Candi utama terletak di halaman dalam dan dikelilingi oleh beberapa candi kecil disebut candi-candi ‘Perwara’.

Selain dapat menikmati kemegahan dari warisan sejarahnya, kamu juga dapat menonton pertunjukan budaya Sendratari Ramayana Prambanan yang biasanya digelar setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Tertarik untuk mengunjunginya? Kamu dapat mengunjungi Candi Prambanan dengan akses yang sangat mudah, yaitu menggunakan kereta rel listrik (KRL) dan turun di Stasiun Brambanan. Jarak antara Stasiun Brambanan dan Candi Prambanan cukup dekat, hanya sekitar satu kilometer. Dengan demikian, kamu dapat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau naik ojek menuju Candi Prambanan.

Masjid Raya Sheikh Zayed Solo (MRSZS), Surakarta

Suasana Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo, Rabu (1/3/2023).Suasana Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo, Rabu (1/3/2023). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng

Mulai dibuka untuk umum pada 1 Maret 2023 lalu, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo terus dibanjiri wisatawan dari berbagai daerah karena bangunan masjid yang begitu megah dan menawan berbeda dari bangunan masjid di Indonesia pada umumnya.

Arsitektur masjid ini dibuat mirip dengan Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi dengan empat menara, 82 kubah kecil, dan satu kubah utama bergaya Maroko. Kemegahan lain yaitu sebagian lantai dan dindingnya menggunakan marmer Italia. Namun ada ciri khas dari bangunan ini yaitu adanya motif batik di tiap-tiap komponen bangunan seperti kawung, kembang, dan bokor kencono sehingga tidak meninggalkan ciri khas Indonesia.

Masjid Raya Sheikh Zayed telah menjadi tempat wisata religi terbaru di Kota Solo yang patut untuk dikunjungi, terutama karena lokasinya yang dekat dengan Stasiun Solo Balapan.

Gua Maria Lourdes Pohsarang, Kediri

Khusus untuk umat Katolik, terdapat sebuah ikon yang menyerupai Sanctuary of Lourdes di Prancis, terletak di Kediri, yaitu Gua Maria Lourdes Pohsarang, yang juga dikenal sebagai Gua Maria Pohsarang, sebuah situs yang sangat istimewa.

Gua Maria Pohsarang adalah tempat rohani yang unik karena menggabungkan arsitektur khas dengan sentuhan budaya Jawa. Terletak di lereng Gunung Wilis, dengan ketinggian 400 mdpl, udara di sekitar Gua Maria ini sangat sejuk dan segar. Di dalam gua, terdapat replika patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus dengan tinggi 1,75 meter, kedua tangan terbuka seolah-olah menyambut umat Katolik yang datang.

Tidak kalah menarik, gerbang dari Gua Maria ini terbuat dari batu alam yang tersusun rapi dan estetik. Menariknya lagi di sana juga terdapat menara lonceng yang digunakan sebagai penghormatan kepada Santo, yang diberi nama Menara Santo Hendrikus. Di puncak menara, terdapat ayam yang berfungsi sebagai penunjuk arah mata angin.

Buat kamu yang ingin berkunjung ke Gua Maria ini, tidak perlu bingung karena dapat diakses dengan mudah dari Stasiun Kediri. Kamu dapat melanjutkan perjalanan ke lokasi menggunakan ojek online atau angkutan umum setempat.

Klenteng Eng An Kiong, Malang

Persiapan Imlek di Klenteng Eng An Kiong Malang Klenteng Eng An Kiong Malang Foto: Aujana Mahalia/detikJatim

Sebagai Klenteng tua berusia 193 tahun berarsitektur gabungan Eropa dan Tiongkok mempunyai nilai sejarah yang tinggi, Klenteng Eng An Kiong berdiri menawan di tengah Kota Malang.

Klenteng Eng An Kiong merupakan klenteng Tri Dharma, yang artinya digunakan sebagai tempat ibadah bagi penganut agama Ji (Khonghucu), Too (Tao), dan Sik (Buddha). Bangunan klenteng dibangun pada 1825 (2564 tahun imlek) atas prakarsa Liutenant Kwee Sam Hway (Yauw Ting Kong), keturunan ketujuh dari jenderal di masa Dinasti Ming (1368-1644) di Tiongkok.

Bagi kamu yang ingin jalan-jalan ke Malang, kamu bisa menikmati keindahan Klenteng Eng An Kiong karena lokasinya yang mudah dijangkau dari Stasiun Malang.

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

16 Wisata Solo Terbaik, Sensasi Seru Jelajah Budaya-Kuliner dengan Keluarga


Jakarta

Wisata Solo terkenal dengan destinasi budaya Jawa yang sangat kental. Namun tahukah kamu jika kota ini menyimpan banyak objek wisata menarik lainnya?

Selain objek wisata sejarah dan edukasi yang lengkap, ternyata Kota Solo mempunyai wisata kuliner dan religi. Berlibur disini disebut sebagai wisata lengkap dan hemat karena biayanya yang murah bahkan beberapa juga gratis.

Berikut rekomendasi wisata Solo dan sekitarnya yang wajib dikunjungi bareng keluarga dikutip dari laman Pariwisata Kota Solo dan laman media sosial tiap destinasi liburan.


Wisata Budaya di Kota Solo dan Sekitarnya

Bagi detikers dan keluarga yang memilih jelajah budaya kota Solo, spot wisata berikut bisa jadi pilihan:

1. Puro Mangkunegaran

Pura Mangkunegaran adalah wisata favorit turis mancanegara karena sejarah dan budayanya. Terdapat koleksi benda bersejarah sejak tahun 1926 mulai dari topeng, perhiasan, wayang, alat musik, dan buku lama era Majapahit dan Mataram yang tersimpan di museum serta Rekso Pustoko Perpustakaan. Wisatawan juga bisa menikmati suguhan latihan tari Gaya Karawitan setiap Rabu dan karawitan setiap hari Sabtu.

Destinasi terbaru yang tidak boleh dilewatkan adalah pengalaman makan dengan nuansa kerajaan Jawa di Pracima Tuin. Pengunjung akan dimanjakan dengan menu yang telah diuji coba oleh KGPAA Mangkunegoro X dengan pemandangan air mancur, taman, dan kolam dengan arsitektur khas Puro Mangkunegaran.

Lokasi:

  • Jl. Ronggowarsito, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Jam Operasional:

a. Puro Mangkunegaran

  • Senin-Jumat: 08.30-14.00 WIB
  • Sabtu-Minggu: 09.00-13.00 WIB

b. Pracima Tuin

  • Setiap Hari: 10.00-21.00 WIB (4 sesi di 10.00 WIB, 12.00 WIB, 14.30 WIB, dan 19.00 WIB)

Harga Tiket:

  • Wisatawan lokal: Rp 20.000/ orang
  • Wisatawan mancanegara: Rp 40.000/ orang
  • Restoran Pracima Tuin: minimal memesan Rp 100.000 dengan reservasi di Instagram @pracima.mn.

2. Keraton Surakarta Hadiningrat

Keraton Kasunanan Surakarta ini adalah pengganti Keraton Kartasura yang porak poranda di tahun 1743 akibat Geger Pecinan. Keraton Surakarta Hadiningrat didirikan tahun 1744 oleh Susuhunan Pakubuwana II dan masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan hingga sekarang.

Bangunannya didominasi warna biru dan putih khas sentuhan istana tradisional Jawa. Pengunjung dapat melihat koleksi zaman dahulu berupa pusaka, gamelan, kereta kencana hingga pemberian raja Eropa di museumnya. Setiap malam 1 Suro terdapat arakan Kebo Bule oleh Kyai Slamet ke seluruh Kota Solo lengkap dengan ritual pembersihan pusaka.

Lokasi:

  • Jl. Kamandungan, Baluwarti, Kecamatan Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 09.00-14.00 WIB
  • Sabtu-Minggu: 09.00-16.00 WIB

Harga Tiket:

  • Wisatawan lokal: Rp 10.000
  • Wisatawan mancanegara: Rp 15.000
  • Membawa kamera profesional: Rp 3.500.

3. Kampung Batik Kauman Solo

Kampung Batik Kauman Solo menjadi destinasi lengkap untuk mengenal dan melestarikan budaya Jawa. Terdapat spot estetik di sepanjang jalan desa yang dapat diabadikan saat tour kampung di pagi hari. Pengunjung dapat mengikuti workshop membatik dan melihat pameran batik karya 30 pengrajin disini.

Tersedia rumah batik, galeri batik, dan museum koleksi batik yang berpatokan pada motif keraton. Pengunjung juga bisa membeli oleh-oleh di toko suvenir, toko buku, dan kerajinan tangan lainnya yang hanya bisa dibeli dengan uang tunai.

  • Lokasi: Jalan Wijaya Kusuma no 17 Kampung Batik Kauman, Surakarta.
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-18.00 WIB)
  • Harga Tiket: gratis

4. Ndalem Hardjonegaran

Ndalem Hardjonegaran adalah kediaman Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Hardjonegaran atau Go Tik Swan. Rumah ini menjadi cagar budaya yang menyimpan 45 arca zaman Borobudur dari abad 8-15 yang didesain oleh presiden Soekarno.

Rumah ini dialihfungsikan sebagai rumah produksi batik dan galeri benda budaya koleksi Hardjonegaran. Batik disini adalah gabungan teknik batik Solo Jogja dari Sogan dan Pesisir. Sang Pemilik dari keturunan Tionghoa berhasil mendapatkan Satya Lencana Pejuang Budaya dan berperan juga dalam menghidupkan pembuatan keris di Indonesia.

  • Lokasi: Jl.Yos Sudarso no 176, Surakarta.
  • Jam Operasional: Setiap hari (09.00-18.00 WIB)
  • Harga Tiket: Gratis dengan reservasi lewat WhatsApp 0878-3605-0077 (KRRA. H. Hardjosuwarno).

5. Ndalem Djojokoesoeman

Destinasi baru di Kota Solo ini adalah cagar budaya untuk menikmati arsitektur Jawa dan koleksi zaman kerajaan. Ndalem Djojokoesoeman ditujukan untuk kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.

Uniknya pada beberapa hari tertentu, pengunjung dapat memainkan gamelan guna melestarikan budaya Jawa. Bangunan ini memiliki nilai sejarah perkembangan Surakarta di masa Kerajaan Mataram Islam yang bisa disewa untuk pre wedding atau acara umum lainnya.

  • Lokasi: Jalan Gajahan, Gajahan, Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah
  • Jam Operasional: Setiap hari (08.00-16.00 WIB)
  • Harga Tiket: Gratis kecuali untuk acara pre wedding atau keperluan komersial lainnya.

Wisata Sejarah

Kota Solo dikenal dengan sejarah panjang dengan jejaknya yang masih terjaga dengan baik. Bagi pengunjung yang ingin mengetahui atau mengenang kembali sejarah Solo, destinasi berikut bisa menjadi pilihan:

1. Benteng Vastenburg Solo

Benteng Vastenburg memiliki peranan penting bagi Belanda dalam mengawasi pergerakan di Keraton Surakarta. Terdapat parit di sekeliling benteng lengkap dengan jembatan di pintu depan dan belakang sebagai perlindungan wilayah.

Di sekitarnya masih terdapat puing bangunan pemukiman Eropa yang dominan dengan warna putih. Keberadaan barak dan bastion di sudut benteng menambah estetika ketika tertangkap di kamera. Selain sebagai spot foto yang estetik, Benteng Vastenburg juga digunakan untuk tempat upacara beberapa hari besar.

  • Lokasi: Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah
  • Jam Operasional: Setiap hari selama 24 jam
  • Harga Tiket: Gratis.

2. De Tjolomadoe

De Tjolomadoe adalah kompleks pabrik gula tua yang saat ini digunakan sebagai objek wisata bersejarah dan pusat konvensi di Solo. Bangunannya telah ada sejak tahun 1861 dengan revitalisasi dan berhasil dibuka untuk umum tahun 2018.

Objek wisata ini terdiri dari museum, aula konser Tjolomadoe, aula serbaguna Sarkara, restoran, dan toko suvenir. Pengunjung dapat menjelajah waktu di masa Eropa melalui mesin-mesin jadul untuk produksi gula lengkap dengan bangunan vintage yang estetik.

Lokasi:

  • Jalan Adi Sucipto No. 1 Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Jam Operasional:

a. Besali Cafe

  • Selasa-Minggu: 09.00-14.00 WIB
  • Museum De Tjolomadoe: Selasa-Kamis: 10.00-17.00 WIB dan Jumat-Minggu: 10.00-17.00 WIB

Harga Tiket: Museum Rp 40.000.

3. Gedung Djoeang 45

Gedung Djoeang 45 adalah bangunan penuh perjuangan dalam merebut kemerdekaan RI tahun 1945. Pemerintah Hindia Belanda membangunnya di tahun 1876-1880 untuk kebutuhan kantin VIP tentara Belanda (cantienstraat). Gedung ini juga digunakan untuk klinik tentara Belanda sebelum direbut oleh Jepang.

Setelah merdeka, Gedung Djoeang 45 sempat dijadikan sebagai pusat kegiatan kemanusiaan, fasilitas pendidikan, dan markas militer Brigade Infanteri 6. Namun saat ini, bangunan tersebut digunakan untuk cagar budaya yang memiliki Monumen Laskar Putri Surakarta sebagai penanda keikutsertaan kaum wanita. Wisata Solo ini menyimpan banyak spot instagrammable yang cocok dipajang di media sosial.

Lokasi:

  • Jl. Kapten Mulyadi No.113, Kedung Lumbu, Kecamatan Ps. Kliwon, Kota Surakarta.

Jam Operasional:

  • Gedung Djoeang 45: 17.00-00.00 WIB
  • Kantinestraat_ : Sabtu-Kamis (12.00-21.00 WIB) dan Jumat (14.00-21.00 WIB)
  • Gelatokusolo_ : Setiap hari (10.00-22.00 WIB)
  • Bobakusolo_ : Selasa-Minggu (13.00-21.00 WIB)

Harga Tiket: Rp 15.000.

Wisata Edukasi dan Instagramable Keluarga

Tentunya bagi detikers yang ingin memperkaya wawasan atau memori bersama keluarga, Solo menyediakan pilihan tempat wisata sebagai berikut:

1. Solo Safari

Kebun binatang ini adalah revitalisasi dari Taman Satwa Taru Jurug yang berdiri diatas lahan seluas 13,9 hektar. Anak-anak dapat memberi makan hewan jinak dan mendapatkan wawasan tentang hewan liar lainnya.

Wisatawan juga bisa berinteraksi langsung dengan hewan seperti berfoto atau menunggang kuda. Koleksi hewan endemik Indonesia terbilang sangat lengkap mulai dari hewan air, unggas, hingga mamalia raksasa dirawat dengan baik disini.

Lokasi:

  • Jl. Ir. Sutami No.109, Jebres, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 08.30-16.30 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Hari Besar: 08.00-16.30 WIB

Harga Tiket:

a. Weekday Tiket Reguler

  • Anak-anak (di bawah 2 tahun): gratis
  • Anak-anak (2-6 tahun): Rp 45.000
  • Dewasa: Rp 55.000

b. Weekday Tiket Premium

  • Anak-anak (di bawah 2 tahun): gratis
  • Anak-anak (2-6 tahun): Rp 65.000
  • Dewasa: Rp 90.000

c. Weekend Tiket Reguler

  • Anak-anak (di bawah 2 tahun): gratis
  • Anak-anak (2-6 tahun): Rp 60.000
  • Dewasa: Rp 75.000

d. Weekend Tiket Premium

  • Anak-anak (di bawah 2 tahun): gratis
  • Anak-anak (2-6 tahun): Rp 80.000
  • Dewasa: Rp 110.000.

2. Cepogo Cheese Park

Destinasi ini terletak diantara Gunung Merapi dan Merbabu yang menyediakan paket wisata edukasi dan kuliner untuk keluarga. Anak-anak dapat menikmati serunya membuat keju, melihat susu perah, dan mencoba menyusui anak sapi.

Tersedia kebun binatang mini dan berbagai spot estetik yang cocok bagi orang tua sembari menunggu anak beraktivitas. Tidak hanya itu, terdapat persewaan ATV dan wahana play ground yang dapat melatih ketangkasan anak.

Lokasi:

  • Cepogo Cheese Park, Dusun II, Genting, Kec. Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah

Jam Operasional:

a. Senin-Jumat

  • Wisata: 08.00-18.00 WIB
  • Toko suvenir: 09.00-18.00 WIB
  • Restoran: 10.00-18.00 WIB

b. Sabtu-Minggu

  • Wisata: 08.00-18.00 WIB
  • Toko suvenir:08.00-19.00 WIB
  • Restoran: 09.00-18.00 WIB

Harga Tiket:

a. Weekday

  • Cheese Park: Rp 20.000
  • De Windmills: Rp 20.000
  • Paket 2 Wahana: Rp 35.000

b. Weekend

  • Cheese Park: Rp 25.000
  • De Windmills: Rp 25.000
  • Paket 2 Wahana: Rp 40.000
  • Deposit: Rp 10.000/orang.

3. Wahana Soko Alas

Wahana Soko Alas adalah galeri seni kerajinan kayu dengan spot yang sangat instagrammable. Wisata Solo ini memiliki embung, taman, dan resto Joglo yang siap merefresh pikiran saat liburan.

Wisatawan dapat berenang dengan latar pemandangan indah khas pegunungan. Tersedia gazebo di beberapa titik untuk duduk santai yang berada di dekat kolam ikan.

Lokasi: Jl. Delanggu-Polanharjo, Area Kebun/Swah, Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 09.00-17.00 WIB
  • Sabtu-Minggu: 08.00-18.00 WIB

Harga Tiket: Rp 10.000/ orang

Wisata Kuliner dan Belanja

Nah, rekomendasi berikut cocok buat detikers dan keluarga yang ingin makan-makan dan shopping barang-barang lucu di Solo.

1. Pasar Gede Hardjonagoro Solo

Pasar ini adalah pusat kuliner dan jajanan tradisional yang telah berdiri sejak tahun 1927. Pasar Gede menjadi salah satu pasar tertua di Solo yang tidak jauh dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Berbagai kuliner legendaris Solo mulai dari gempol pleret, tahok, cabuk rambak, hingga es dawet ada disini. Wisatawan juga bisa membeli oleh-oleh dan kerajinan lainnya disini.

  • Lokasi: Jl. Jend. Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta
  • Jam Operasional: Setiap hari 24 jam
  • Harga Tiket: Gratis.

2. Pasar Antik Triwindu

Sesuai dengan namanya, Pasar Antik Triwindu menawarkan berbagai koleksi barang antik seperti guci, keramik, lampu antik, topeng, hingga uang kuno era 1800-an. Lokasinya terbilang strategis karena berada di tengah kota Solo dekat Candi Mangkunegaran.

Pasar ini sendiri dibangun untuk merayakan kenaikan tahta Adipati Sri Mangkunegara VII ke-24 yang disebut tiga windu (triwindu). Gen Z berbondong-bondong kesini untuk melakukan thrift kebaya untuk melengkapi outfit estetik saat di wisata budaya Solo.

  • Lokasi: Jl. Diponegoro, Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah
  • Jam Operasional: Setiap hari jam 09.00-16.00 WIB
  • Harga Tiket: Gratis kecuali untuk pre wedding dikenakan sewa Rp 125.000 per 2 jam.

Wisata Alam dan Religi

Tentunya, Solo menyediakan beberapa lokasi bagi wisatawan yang memenuhi kebutuhan rohaninya. Lokasi wisata tentu dilengkapi berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.

1. Kemuning Sky Hills

Kemuning Sky Hills menjadi daya tarik wisata Solo untuk menikmati pemandangan teh yang sejuk. Terdapat jembatan kaca di atas kebun teh sepanjang 65 meter dan tinggi 60 meter yang estetik untuk diabadikan.

Tidak hanya itu, wisatawan juga dapat menjelajahi bukit teletubbies yang berada di area tersebut. Beberapa aktivitas mengasyikkan lain yang bisa dilakukan seperti menaiki Jeep, ATV, paralayang, flying fox, dan giant swing.

Lokasi:

  • Jl. Karangpandan-Ngargoyoso, Sumbersari, Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Jam Operasional:

  • Setiap hari 09.00-18.30 WIB

Harga Tiket:

  • Tiket Masuk: Rp 10.000
  • Lewat Jembatan: Rp 30.000

2. Masjid Syeikh Zayed Solo

Masjid Raya Syeikh Zayed Solo adalah ikon baru wisata religi yang mirip seperti Masjid Sheikh Zayed Grand di Abu Dhabi. Fakta uniknya, masjid ini adalah hibah dari Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, putra mahkota UEA kepada presiden Joko Widodo.

Keindahan masjid tampak semakin megah ketika di malam hari dengan detail lampu biru di setiap kubah. Masjid Syeikh Zayed Solo dapat menampung 10.000 jamaah dengan berdiri di tanah seluas 8.000 meter persegi. Selain itu, terdapat wisata religi muslim lainnya seperti Masjid Agung Keraton Solo, Makam Ki Gede Sala, dan Makan Raden Ngabehi Yosodipuro.

  • Lokasi: Jl. Surya IV, Jebres, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah
  • Jam Operasional: Setiap hari (04.00-21.00 WIB)
  • Harga Tiket: Gratis.

3. Candi Putih

Candi putih adalah kompleks Vihara Dhamma Sundara yang memiliki bangunan estetik dengan atap limasan. Di gerbang utama, wisatawan akan disambut dengan patung sepasang singa hitam di kanan dan kiri.

Sebagai tempat ibadah yang aktif digunakan saat ini, tersimpan berbagai Arca Buddha, stupa, dan patung Sang Pendiri, Sundara Husea. Uniknya kompleks candi putih memiliki arsitektur yang mirip seperti bangunan di Thailand.

  • Lokasi: Jl.Ir.H.Juanda Nomor 223B, Pucangsawit, Jebres
  • Jam Operasional: Setiap hari (07.00-17.00 WIB)
  • Harga Tiket: Gratis.

Selain rekomendasi wisata Solo untuk liburan keluarga yang murah dan lengkap ini, tentu masih banyak lokasi lain untuk menghabiskan masa libur. Sebelum liburan pastikan telah update informasi terbaru tentang tujuan wisata, misal harga tiket dan rute, sehingga liburan bisa makin nyaman serta menyenangkan.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com