Tag Archives: wisata sumedang

‘Menara Eiffel’ dari Sumedang, Destinasi Baru di Kota Tahu



Sumedang

Ada destinasi wisata baru di Kota Tahu Sumedang. Destinasi itu adalah ‘Menara Eiffel’ ala kota Paris. Seperti apa wujudnya?

Berbicara objek wisata di Kabupaten Sumedang tentu tidak akan ada habisnya. Terbaru, landmark yang menjadi ikonik dunia tak lain yakni menara Eiffel telah mejeng di kota ini.

Menara Eiffel tersebut berdiri dengan kokoh di objek wisata Tanjung Duriat yang berada di Desa Pejagan, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Jelas berbeda dengan menara Eiffel asli, di sini menara Eiffel dikonsep berwarna merah serta ukuran yang lebih kecil.


Hadirnya menara Eiffel ini tentu menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Sebab, tak lain dan tak bukan wisatawan dapat berswafoto dengan berlatar belakang menara yang memiliki tinggi sekitar 15-20 meteran itu.

Salah satu wisatawan asal Sumedang, Nana (34), mengaku menikmati dengan adanya konsep bangunan dari menara Eiffel. Ia yang datang bersama dengan keluarganya langsung bergegas mengabadikan momen dengan background menara Eiffel.

“Sebelumnya udah pernah ke sini cuman kalau menara Eiffel ini baru pertama kali ngeliat, bagus sih konsepnya bisa foto-foto terus belakangnya ada menara Eiffel,” ujar Nana.

Nana mengatakan, meski berbeda dengan aslinya ia tetap merasakan keindahan yang berada di Objek Wisata Tanjung Duriat. Sebab, selain itu, ia bisa menikmati keindahan dari Waduk Jatigede.

“Ya biarpun bentuk dan tingginya jauh dari aslinya tapi masih keren lah, kalau ke Paris mah kan jauh banget sama mahal biayanya jadi boleh lah ini jadi alternatif,” katanya.

Sementara itu, menurut Manager Marketing Communication Tanjung Duriat, Karya Indra, konsep bangunan dari menara Eiffel baru dihadirkan saat momen libur lebaran 2024. Pihak pengelola tak ingin wisatawan yang datang terlihat bosan.

“Lebaran kemarin bisa dibilang peluncuran Red Eiffel atau Eiffel Merah, sebagai daya tarik baru di Tanjung Duriat,” kata Karya.

“Karena setiap tahun pengunjung selalu bertanya apa yang baru di tahun sekarang. Oleh karena itu kami menghadirkan salah satu ikon dunia yakni Menara Eiffel, kami sebut Red Eiffel,” ungkapnya.

Eiffel Merah sambung Karya, dengan latar belakang langsung perairan Jatigede, kata Karya, Eiffel Merah menjadi salah satu spot foto favorit saat lebaran kemarin.

“Sebetulnya konsep utamanya kami ingin ada spot yang dari atas untuk pengunjung bisa memfoto taman berbentuk hati. Warnanya merah mencolok, bisa dinaiki, dengan latar biru perairan Jatigede,” ucapnya.

Selain Eiffel Merah, daya tarik baru lainnya di Tanjung Duriat yakni kamera 360 derajat dan Giant Frame atau bingkai raksasa.

“Dengan 360 pengunjung bisa membuat video sudut pandang 360 derajat, seperti yang sedang ngetren sekarang,” pungkasnya.

Untuk bisa menikmati spot-spot yang berada di Objek Wisata dari Tanjung Duriat ini wisatawan hanya perlu merogoh kocek Rp 20 ribu saja untuk pintu masuk. Namun, untuk spot-spot tertentu wisatawan dikenakan tarif yang berbeda.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Bekas Tambang, Kini Jadi Destinasi Wisata Alam di Sumedang



Sumedang

Dulu tempat di Sumedang ini adalah bekas tambang galian C. Namun sekarang, destinasi itu berhasil disulap menjadi tempat wisata alam yang menawan.

Kabupaten Sumedang kini memiliki tempat wisata ekosistem. Menariknya, wisata ini merupakan hasil reklamasi dari bekas galian C.

Lokasinya berada di kaki gunung Tampomas, tepatnya di Dusun Ciseureuh, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.


Hadirnya wisata ekosistem di Sumedang ini ditandai dengan peresmian oleh Penjabat (Pj) Bupati Sumedang Yudia Ramli, pada Kamis (30/1). Menurut Yudia, kehadiran Tampomas ECO Park sendiri menjadi satu-satunya wisata di Sumedang yang berbasis pelestarian lingkungan.

“Hari ini saya meresmikan Tampomas ECO Park di Kabupaten Sumedang. Ini adalah yang pertama satu-satunya yang ada di Sumedang karena ini merupakan basis pelestarian lingkungan,” ujar Yudia.

“Kabupaten Sumedang tentunya merasa bangga dan terima kasih kepada pengagas Tampomas ECO Park,” sambungnya.

Wisata Agrowisata Tampomas ECO Park merupakan hasil dari reklamasi yang dulunya wilayah galian C. Destinasi ini menjadi salah satu daya tarik wisata baru di Sumedang khususnya.

“Yang menarik adalah ini dari reklamasi, kalau yang tidak reklamasi mah mudah tapi ini yang reklamasi yang luar biasa tadi disebutkan, dan ini bagi kita mudah-mudahan menjadi lingkungan menjadi baik, bisa menjadi destinasi wisata, masyarakat sekitar ekonominya bisa meningkat,” katanya.

Tampomas ECO Park yang berdiri di lahan bekas galian C di SumedangTampomas ECO Park Foto: Dwiky Maulana Vellayati/detikJabar

Yudia berharap, dengan kehadiran wisata Tampomas ECO Park bisa menjadi salah satu contoh wisata yang menjadi penggagas wisata dengan konsep reklamasi.

“Yang bagus ini bisa menjadi percontohan kalau secara nasional mudah-mudahan ini bisa menjadi laboratorium nanti misalnya kalau ada yang mana ECO park tuh contohnya di Sumedang ada reklamasi. Tapi bukan hanya lingkungan yang indah tapi juga bermanfaat,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama pengelola Tampomas ECO Park, Gilar Sabilah menyampaikan nantinya konsep wisata Tampomas ECO Park akan punya berbagai wahana, termasuk penginapan dengan pemandangan yang indah.

“Jadi konsep tempat ini tuh sebenarnya kita punya tagline di sini one stage hiling, jadi satu tempat banyak fasilitas. Jadi orang-orang yang datang kesini itu diharapkan tidak bingung karena apapun di sini ada, fasilitas dari mulai penginapan rumah kayu, terus ada vila, ada caffe, ada restoran makan Sunda, terus ada go car, ada camper van, ada camping ground, ada karaoke dan masih ada fasilitas penunjang lainnya,” kata Gilar.

Untuk menjadi sampai dengan sekarang, kata Gilar, proses reklamasi tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Hingga saat ini pembangunan sendiri baru mencapai 45 persen dan akan ditargetkan pada tahun 2026 sudah beroperasi sepenuhnya.

“Betul ini dulunya bekas galian C. Proses reklamasi kita hampir 4 tahun setengah, jadi dulu dari masih galian pasir sampai sekarang ini kita butuh waktu 4 tahun setengah,” kata dia.

“Kalau kita pembangunan sekarang hampir 45 persen target kita di tahun depan sudah 100 persen. Cuman di pertengahan tahun ini kita buka untuk umum,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com