Tag Archives: wisata yogyakarta

Piknik di Pantai-Kulineran di Pasar



Yogyakarta

Tahun Baru 2025 sudah di depan mata. Traveler yang ingin menghabiskannya di Yogyakarta simak ide liburan tahun baru berikut ini:

Yogyakarta memiliki banyak pilihan liburan seru yang bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan kota. Dari menikmati alam hingga mengeksplorasi budaya.

Selain itu, ada berbagai aktivitas menarik yang bisa mengisi waktu liburan traveler.


Berikut sederet ide liburan tahun baru di Yogyakarta yang menarik:

1. Wisata Edukasi di Kebun Binatang

Liburan yang menyenangkan dan edukatif sering kali menjadi pilihan terbaik bagi keluarga, terutama yang membawa anak-anak. Mengunjungi kebun binatang bukan hanya menawarkan pengalaman menyaksikan hewan-hewan yang menarik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk belajar tentang berbagai jenis hewan.

Di Jogja, Anda bisa mengunjungi Gembira Loka Zoo, sebuah kebun binatang yang memiliki koleksi satwa dari berbagai belahan dunia. Selain itu, Suraloka Interactive Zoo juga bisa menjadi alternatif yang menawarkan suasana yang berbeda.

2. Berkeliling Taman

Bagi yang ingin menikmati udara segar dan suasana hijau, mengunjungi taman kota adalah pilihan yang tepat. Di taman kota, traveler bisa berjalan-jalan santai, bersepeda, atau sekadar duduk menikmati pemandangan.

Aktivitas ini memberikan kesempatan untuk melepaskan penat setelah rutinitas yang padat. Wisdom Park UGM, bisa menjadi pilihan yang tepat bagi traveler untuk melakukan aktivitas ini. Suasananya yang sangat asri dan teduh cocok untuk traveler yang ingin melakukan aktivitas outdoor namun tetap santai.

3. Wisata Budaya di Museum

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg (dok. IHA)

Jika traveler tertarik mengenal lebih dalam tentang sejarah dan budaya lokal, mengunjungi museum bisa menjadi pilihan yang menyenangkan. Di museum, traveler tidak hanya akan mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga menikmati atmosfer yang lebih tenang dan reflektif.

Museum Sonobudoyo, yang menyajikan koleksi seni dan budaya Jawa, adalah tempat yang sempurna bagi detikers yang ingin lebih mengenal warisan budaya Jogja. Selain itu, detikers juga bisa mengunjungi Museum Benteng Vredeburg atau Museum Sandi yang terletak strategis di tengah kota.

4. Staycation di Hotel

Tidak semua liburan harus menghabiskan waktu di luar kota. Staycation atau menginap di hotel lokal bisa menjadi alternatif yang menarik. detikers bisa menikmati fasilitas hotel, bersantai, dan menikmati waktu bersama keluarga tanpa harus bepergian jauh.

Beberapa hotel di Jogja menawarkan nuansa lawas yang kental, seperti The Phoenix Hotel, yang memiliki arsitektur kolonial yang indah, atau Hotel Tentrem yang menggabungkan kemewahan modern dengan sentuhan tradisional mungkin akan menjadi sensasi baru untuk detikers saat staycation.

5. Piknik di Pantai

Bagi traveler yang ingin liburan santai namun tetap menikmati alam terbuka, piknik di pantai atau danau bisa menjadi pilihan yang menyegarkan. Jogja memiliki beberapa pantai dan danau yang indah untuk dijadikan tempat piknik.

Contohnya seperti Pantai Parangtritis yang terkenal dengan pasir hitamnya dan pantai-pantai di Gunungkidul seperti Pantai Ngetun dan Wediombo. Nikmati suasana tenang sambil menikmati makanan ringan atau sekadar menikmati alam.

6. Jelajahi Kuliner Khas Jogja

Suasana di Pasar Beringharjo, Jogja, Selasa (26/12/2023).Suasana di Pasar Beringharjo, Jogja (Adji G Rinepta/detikJogja)

Liburan Tahun Baru juga bisa menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi kuliner lokal yang menggugah selera. Jogja dikenal dengan berbagai hidangan lezat yang sayang untuk dilewatkan.

Traveler bisa mengunjungi pasar tradisional untuk mencicipi makanan khas, atau menjelajahi tempat makan yang populer di kota ini. Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede dan Pasar Ngasem adalah tiga contoh rekomendasi tempat yang sempurna untuk berburu makanan lokal.

Ada gudeg, bakpia, dan aneka jajanan tradisional khas Jogja yang bisa dicoba traveler. Bagi traveler yang ingin berburu makanan dan jajanan otentik khas Jogja, maka pilihan ini cukup menarik untuk dimasukkan dalam rencana liburan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Sarsa, Dulu Jualan Alat Lukis, Kini Ruang Kreatif dan Healing Gen Z



Yogyakarta

Sarsa Creative Space hype di kalangan Gen Z Yogyakarta. Dulu, ternyata Sarsa adalah produk lukis yang dijual lewat media sosial.

Ruang kreatif Sarsa di Nglengkong, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), disebut-sebut sebagai tempat ideal untuk meredakan stress lewat kegiatan seni. Sarsa diinisiasi oleh Firza Ayubi dan Dian Agustina.

Firza menyebut masih kuliah ketika merintis Sarsa. Dulu, Sarsa tidak memiliki kedai dengan view sawah nan menenangkan seperti sekarang,


“Dulu Covid 19 sekitar tahun 2020 ga bisa keluar, harus di rumah aja. Kepikiran gimana kalau kita bikin semacam stress release, tanpa keluar rumah. Akhirnya bikin paket lukis, ada kanvas, kuas dan cat, lalu dipack. Awalnya nawarin by Whatsapp dan Instagram ke temen-temen,” Kata Firza dalam perbincangan dengan detikTravel, Senin (10/6/2024).

Ketika pandemi mulai berangsur menuju new normal, Sarsa mulai aktif ikut kegiatan offline. Mulai dari event kampus hingga bazar. Akhirnya Sarsa mulai dikenal oleh pasar. Sejak itulah muncul permintaan untuk mengadakan workshop.

“Banyak yang minta workshop dalam 1 tempat. akhirnya ada workshop by order 10-15 orang per rombongan,” kata Firza.

Sarsa Creative Space di Sleman, YogyakartaSarsa Creative Space di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Tiga tahun Sarsa aktif menjual lukisan, akhirnya di tahun 2023 berdirilah rumah kreatif Sarsa. Didorong oleh keresahan untuk membuat tempat nongkrong anti-mainstream, Firza memilih bangunan Jogja di tengah sawah itu.

Konsep yang coba diusung adalah healing dan stress release yang kembali ke alam. Firza ingin setiap pengunjung yang datang dapat melupakan penatnya dan meluruhkannya pada kegiatan seni. Sarsa kemudian menambah beberapa fasilitas seperti penyediaan jajanan jadul yang bisa bikin traveler bernostalgia. Juga gratis secangkir teh yang bisa diseduh sendiri setiap pembelian.

Sarsa Creative Space di Sleman, YogyakartaSarsa Creative Space di Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Awalnya hanya lukis, kini sudah mulai merambah pada kegiatan lainnya seperti meronce, menyusun micro block, hingga membuat clay. Firza menyebut bahkan mulai muncul banyak tawaran kerjasama barang untuk masuk ke Sarsa, seperti resin, batik, dan lainnya. Namun, Firza mengungkap ada tiga kriteria utama dalam pemilihan kegiatan di Sarsa.

“Bisa digunakan orang awam. Estimasi waktunya tiga jam mengerjakan sesuatu dan selesai. Dan terakhir affordable. jadi kalau melenceng dari 3 itu agak dipikir ulang,” kata Firza.

Sarsa sempat membuka cabang keduanya di salah satu gerai di Sleman City Hall, Jogja. Namun kini telah tutup karena dirasa telah melenceng dari konsep awalnya yang kembali ke alam.

Meski bukan menjadi satu-satunya ruang kreatif di Jogja, transaksi di Sarsa bisa mencapai 50 transaksi setiap hari. Bahkan, di hari libur angkanya dapat naik hingga 2-3 kali lipat.

“Yang kita jual experience, karena kalau produk pasti banyak. Kamu dateng, sama temen-temen atau sendirian, liat sawah, denger gemercik air, ada effortnya ke sana karena jauh,” kata Firza.

(fem/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Sarsa Creative Space Destinasi Pas buat Melepas Stress Lewat Seni



Sleman

Coba kunjungi Sarsa Creative Space untuk melepaskan stress dengan cara healing lewat seni. Tidak hanya melukis, ada pilihan lain seperti meronce, clay, hingga menyusun micro block.

Bangunan joglo di tengah sawah ini menawarkan konsep healing kembali ke alam. Berdiri sejak 12 Juni 2023, pengunjung akan diajak menepi sejenak dari hiruk pikuk bisingnya kota Jogja yang semakin ramai.

“Awalnya apa ya kita bikin tempat nongkrong tapi kalau coffee shop aja udah banyak, gitu-gitu aja. Bikin tempat alternatif tempat nongkrong enaknya apa ya,” kata Firza Ayubi, pemilik Sarsa Creative Space, saat diwawancarai detikTravel, Senin (10/6/2024).


Lokasi tepatnya ada di Nglengkong, Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Menuju ke lokasinya, traveler akan melewati jalan pedesaan dengan kiri kanan rumah warga dan pemandangan sawah. Sesampainya di lokasi akan langsung disambut dengan bangunan joglo tua dan halaman parkir yang luas.

Sarsa menjadi ruang kreatif untuk melepas penat dengan berbagai pilihan kegiatan menarik. Nama sarsa sendiri adalah singkatan dari kata “Kersa” dan “Sareng”, yang dalam bahasa Jawa artinya bekerja sama. FIrza menyebut, dirinya ingin antara Sarsa dan pengunjung dapat bekerja sama dalam harmoni meluruhkan stress yang ada.

“Lokasinya emang jauh, ga masalah tapi pinginnya pengunjung yang dateng itu lupa kalau lagi ada masalah, lupa kalau lagi capek,” kata Firza.

Uniknya, di sini juga tersedia jajanan jadul yang bisa bikin traveler bernostalgia. Juga akan disediakan secangkir teh gratis yang bisa diseduh sendiri setiap pembelian. Pilihan tehnya beragam, mulai dari basic tea hingga fruit tea.

Rumah bergaya Joglo ini didominasi oleh kayu. Terdapat sejumlah meja bundar dan meja panjang, jadi jangan khawatir tidak kebagian tempat. Traveler bisa memilih untuk duduk di tepi jendela yang mengarah langsung ke lahan sawah. Bahkan jika beruntung, view Gunung Merapi akan sangat cantik dilihat dari Sarsa.

Ruang kreatif Sarsa di dekor unik dengan menampilkan produk yang sudah selesai, mulai dari lukisan kanvas, totebag, bahkan ada wayang kulit di dinding atas pintu. Tumpahan cat pengunjung di atas meja seolah secara alami menjadi ornamen penghias meja. Di luar juga terdapat ayunan kayu untuk traveler yang ingin sekadar bengong atau membaca buku.

Sarsa secara khusus membiarkan pengunjung berkreasi semaunya tanpa didampingi oleh instruktur atau pendamping. Firza ingin kegiatan itu berjalan dengan alami. Namun, jika kesulitan, pengunjung tetap bisa bertanya pada penjaga, atau mencari referensi lewat QR Code yang sudah tersedia di setiap meja.

Mau ngonten? Sarsa juga menyediakan persewaan tripod dengan harga Rp 5.000. Serta sewa apron atau celemek di harga Rp 5.000 untuk menghindari baju terkena cat atau media seni lainnya.

Penasaran dengan kegiatan selengkapnya di Sarsa? Berikut rinciannya:

1. Paket Micro Block

Kegiatan ini adalah menyusun micro block menjadi bentuk yang diinginkan. Bisa dilakukan sendiri, berpasangan, atau bersama teman-teman. Tersedia dua pilihan dengan harga Rp 25.000 untuk ukuran kecil dan Rp 35.000 untuk ukuran besar.

2. Paket Meronce

Meronce adalah kegiatan menyusun manik-manik menjadi aksesoris seperti gelang, cincin, ataupun kalung. Tersedia dua pilihan paket, yang pertama di harga Rp 35.000 akan mendapat 2 meter benang elastis, gunting benang, dan 5 macam manik-manik seberat 30 gram. Kedua, seharga Rp 55.000 akan mendapat 2 meter benang elastis, gunting benang, dan 10 macam manik-manik seberat 60 gram.

3. Paket Airdry Clay

Clay adalah seni membuat bentuk tertentu dengan bahan dasar sejenis tanah liat. Air Dry clay ini akan mengering dengan sendirinya tanpa perlu dioven.

Selesai membentuk, traveler bisa melukisnya dengan cantik. Tersedia satu macam paket di harga Rp 40.000 yang menawarkan 200 gram airdry clay, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette. Tambahkan Rp 5,000 untuk membeli cairan varnish guna melapisi hasil clay supaya lebih mengkilap.

4. Melukis kanvas

Tersedia satu macam paket dengan ukuran kanvas 20×20 cm, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette seharga Rp 40.000

5. Melukis Bucket Hat

Bucket hat atau topi menjadi produk yang selesai dilukis dapat digunakan, dengan harga Rp 50.000 traveler akan mendapat satu buah bucket hat, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette.

6. Melukis Tote bag

Sama seperti sebelumnya, media yang digunakan adalah tote bag dengan harga Rp 50.000 akan mendapat satu buah tote bag, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette.

7. Melukis Pouch Make Up

Medianya kali ini adalah pouch make up dengan harga Rp 50.000 dan akan mendapat cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette.

8. Melukis Cermin

Dengan harga Rp 65.000, traveler akan mendapat sebuah cermin duduk atas meja, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette/

9. Melukis Pot Tanah Liat

Degan harga Rp 45.000, traveler akan mendapatkan pot tanah liat, cat dasar 1 warna, cat 12 warna, 2 buah kuas, dan piring palette. Lalu untuk paket dengan harga Rp 50.000 akan ditambah tanah media tanam beserta biji tumbuhannya. Layaknya bertani bukan?

10. Paket Paint by Number

Tidak perlu ragu jika belum atau bahkan tidak pernah mencoba melukis, ada pilihan alternatif menggunakan paket paint by number. Traveler hanya tinggal mewarnai sesuai kode warna di pola yang sudah ada. Tersedia versi canvas di harga Rp 65.000 dan versi tumblr.

(fem/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Jelajah Lorong Waktu di Diorama Arsip Jogja



Yogyakarta

Diorama Arsip Jogja menyodorkan wisata edukasi interaktif. Sama sekali tidak membosankan.

Di sini, traveler seolah diseret masuk menembus lorong waktu sejarah empat abad. Durasinya seperti menyaksikan film-film di bioskop atau Netflix, yakni selama 90 menit.

Di sini traveler diajak berkeliling langsung oleh tour guide melintasi 18 ruangan. Masing-masing ruangan merepresentasikan setiap era, mulai dari Panembahan Senopati hingga Keistimewaan Yogyakarta. Keunikannya, setiap ruangan tersedia visualisasi konten yang interaktif dengan durasi 5 hingga 10 menit. Traveler juga bisa memanfaatkan fitur AR (Augmented Reality) yang tersambung dengan aplikasi khusus yang akan dipandu oleh tour guide yang ada.


“Yang menarik perhatian pengunjung paling banyak ada di ruang delapan, di lokomotif perubahan. Karena nanti kita, istilahnya kontennya kita berada di dalam kereta menuju moderenisasi Jogjakarta,” ungkap Ginza (26), salah satu pemandu saat ditemui tim detikTravel, Rabu (21/2/2024).

Menariknya, di sini traveler hanya bisa datang di jam-jam tertentu sesuai sesi yang telah ditentukan. Selain itu, untuk dapat masuk ke Diorama Arsip Jogja traveler wajib melakukan reservasi melalui website arsipjogja.id atau nomor whatsapp resmi yang dapat dilihat di akun instagram @dioramarsipjogja.

Diorama Arsip Jogja, YogyakartaDiorama Arsip Jogja, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Tidak hanya diajak untuk mengingat sejarah kerajaan, traveler juga akan melihat kilas balik dahsyatnya erupsi Gunung merapi tahun 2010 silam. Juga asal muasal lahirnya Yogyakarta sebagai kota yang erat dengan pendidikan, pariwisata, dan kebudayaannya. Tentunya, diorama ini tidak melarang pengunjungnya untuk berswafoto ria, selagi masih dalam batas aman dari koleksi.

“Unik banget sih ini, di sini walaupun museum tapi kita ga ngantuk karena tiap ruangannya ada visualisasi dan dijelasin komplit juga sama pemandunya jadi belajarnya nggak bosen,” kata Dila, salah satu pengunjung Diorama Arsip Jogja, Rabu (21/2/2024).

Sejak beroperasi pada tahun 2022, Diorama Arsip Jogja kini mulai viral kembali di media sosial karena menawarkan experience yang seru dengan harga cukup terjangkau. Penasaran dengan detail lokasi, jam operasional, harga tiket, dan cara reservasinya?

Yuk, simak ulasan dari detikTravel.

Lokasi, Harga Tiket, dan Jam Operasional Diorama Arsip Jogja

Diorama Arsip Jogja, YogyakartaDiorama Arsip Jogja, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Diorama Arsip Jogja berlokasi di Jalan Wonocatur, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Lokasi tepatnya adalah di Gedung Depo Arsip Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk menuju ke sini, traveler hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 20 menit menggunakan kendaraan pribadi dari Stasiun Tugu Yogyakarta.

Bagi traveler yang ingin menggunakan transportasi umum dapat memilih transjogja jurusan Bandara Adi Sucipto dan berhenti di pemberhentian bus depan Perpustakaan Grhatama Pustaka.

Mulai 2 Januari 2024, Diorama Arsip Jogja dikenai tarif retribusi disesuaikan dengan kategori yang ada. Berikut daftar lengkapnya :

1. Pelajar/mahasiswa : Rp 20.000 per orang
2. Masyarakat umum : Rp 30.000 per orang
3. Wisatawan asing : Rp 100.000 per orang
4. Pembuatan liputan/vlog/ konten Youtube : Rp 250.000 per sesi
5. Paket Outing Class : bayar seharga 23 tiket untuk 25 pengunjung

Tarif tersebut untuk satu sesi selama 90 menit, sudah termasuk dengan tour guide. Setiap sesi hanya dibatasi sejumlah 25 orang saja. Diorama Arsip Jogja beroperasi dari hari Selasa hingga Minggu dengan total 10 sesi setiap hari nya.

Berikut jadwal lengkap hariannya :

Sesi Pagi

1. Sesi 1 : 09.00 – 10.30
2. Sesi 2 : 09.20 – 10.50
3. Sesi 3 : 09.40 – 11.10
4. Sesi 4 : 10.00 – 11.30
5. Sesi 5 : 10.20 – 11.50

Sesi Siang

1. Sesi 1 : 13.00 – 14.30
2. Sesi 2 : 13.20 – 14.50
3. Sesi 3 : 13.40 – 15.10
4. Sesi 4 : 14.00 – 15.30
5. Sesi 5 : 14.20 – 15.50

Diorama Arsip Jogja bisa menjadi salah satu ide kencan menarik bersama teman, keluarga, atau pasangan tatkala menghabiskan waktu di Jogja. Berkunjung ke Jogja tapi bingung sama sejarahnya? Rugi dong jika melewatkan Diorama Arsip Jogja.

(fem/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Yuk! Nikmati Ngabuburit Komplet di Pasar Pasan Kotagede



Yogyakarta

Saat menunggu berbuka puasa tahun ini, akan seru jika ngabuburit di Kotagede. detikers bisa menikmati paket komplet di Pasar Pasan yang digelar sebulan penuh selama Ramadan.

Disebut paket komplet, karena tak hanya deretan pedagang makanan kekunoan hingga kekinian yang bisa dinikmati detikers saat ngabuburit. Namun juga pengajian dan Sadar Susur, yakni jalan-jalan lebih mengenal Kotagede dengan beragam khasanah sosial budaya di dalamnya. Karena bagi traveler, Kotagede adalah candu untuk kembali dikunjungi. Lanskap rangkuman kawasan cagar budaya bernilai tinggi.

Pasar Pasan memang lebih dari sekadar pasar tiban selama Ramadan. Dengan tajuk Kulonuwun Kotagede ini Pasar Pasan yang digelar mulai pukul 15.00 WIB ini mengusung konsep mendekatkan dinamika sosial di pasar dengan masjid.


Keistimewaan Pasar Pasan bukan saja terletak pada nilai yang mendasari terbentuknya pengelolaan secara profesional pasar tiban. Namun juga melihat konteks Kotagede dan apa yang hidup di dalamnya selama Ramadan.

Mulai dari rekam jejak sejarah Mataram Islam, deretan bangunan heritage rumah Kalang, perajin perak, sampai jajanan khas Kipo, kue kembang waru dan Carang Gesingnya.

Saat menunggu berbuka puasa tahun ini, akan seru jika ngabuburit di Kotagede. detikers bisa menikmati paket komplet di Pasar Pasan yang digelar sebulan penuh selama Ramadan.Ngabuburit di Kotagede Foto: Erliana Riady

Acara ini diinisiasi oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PCM Kotagede bersama dengan Pemuda Muhammadiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah Kotagede dan berbagai kolaborator lainnya yang memangku, Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kotagede, Yogyakarta dan Kelurahan Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul.

“Event ini membuka ruang dialog baru dalam memahami muamalah di halaman Masjid Gede Mataram di Sayangan, Jagalan, Banguntapan, Bantul hingga sepanjang Jalan Mondorakan,” jelas Ketua Panitia, Primasjati, Jumat (15/3/2024).

Begitu tiba di lokasi Pasar Pasan, detikers bisa memilih beragam jajanan dan penganan jadoel hingga kekinian yang dijual di sepanjang Jalan Mondorakan. Aktivitas menunggu berbuka yang tak kalah asiknya adalah jalan kaki menyusuri Kotagede atau yang akrab disebut sasar susur
Sasar susur akan dilaksanakan empat kali.

“Sasar Susur Pasar Pasan menggandeng Bawahskor, Alon Mlampah, Writing Passion YK dan Ganggangan dengan kegiatan jalan-jalan tematik merespon irisan-irisan yang ada di sepanjang jalan. Mulai dari peristiwa sejarah Islam dan tokoh-tokoh Muhammadiyah hingga bagaimana berkembangnya sepakbola di Kota Yogyakarta,” paparnya.

Diantaranya panitia akan mengajak jalan-jalan menyusuri spot sejarah sepak bola ke wilayah Prenggan. Kemudian pekan berikutnya, berkolaborasi dengan komunitas Alon Mlampah akan diajak menyusuri labirin diantara lorong pergerakan Muhammadiyah mulai dari daerah Kauman-Karangkajen hingga Kotagede.

Sasar Susur juga juga mengajak detikers menyusuri arsip pergeseran urban di Kotagede bersama komunitas Gang-gangan. Serta jalan-jalan sketsa menyusuri kawasan cagar budaya Kotagede bersama komunitas seniman.

Menjelang Magrib, ngabuburit dilanjutkan dengan pengajian. Mencoba pendekatan selayaknya konser dengan guest star, pengajian yang ada di Masjid Mataram Kotagede bulan puasa ini cukup unik dengan perpaduan antara kepakaran masing-masing asatidz. Mendatangkan Ustadz Awan Abdullah Sp.J., M. Pd, Dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., M.Kes, Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag, Irfan Afifi, Dr. Okrisal Eka Putra, Lg., M.Ag. Dan Ridwan Hamidi, Lc, Mpi., MA. Pengajian menuju buka puasa ini dibuka untuk umum di Serambi Masjid Mataram.

Saat menunggu berbuka puasa tahun ini, akan seru jika ngabuburit di Kotagede. detikers bisa menikmati paket komplet di Pasar Pasan yang digelar sebulan penuh selama Ramadan.Pengajian menunggu buka puasa Foto: Erliana Riady

“Tiap hari ramai. Pengunjung warga lokal dan luar kota juga banyak. Tenant variatif dari kekunoan sampai kekinian ada semua. Harganya juga murah. Kalau mahal nggak bakal laku di Kotagede,” terang Upik warga Kotagede.

Para pengunjung tampak antusias merapat walaupun mendung bergelayut gelap. Deretan pedagang makanan lawas menjadi magnet traveler luar kota. Mereka yang selama ini hanya mendengar nama jajanan kuno, saat ini bisa membeli langsung dengan harga yang tak menguras kantong.

“Keren aja event ini. Seru abis kalau ngabuburit disini. Makanannya zaman dulu lucu-lucu, murah. Ada jalan-jalan menyusuri Kotagede, terus berakhir ikut pengajian di masjid Mataram. Komplet banget. Ada makanan, pengalaman baru dan ilmu agama,” pungkas Lia, traveler asal Malang, Jatim.

(ddn/ddn)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah wisata mobil اللهم صل على رسول الله محمد
ilustrasi gambar : unsplash.com / Thomas Tucker

Terungkap, Ini Makna Angka 46 di Nama Gedung BNI Titik Nol Jogja



Yogyakarta

Bila traveler melintasi Titik Nol Jogja, pasti tak asing dengan Gedung BNI 46. Rupanya, angka 46 itu memiliki makna tersendiri.

Pamong Budaya Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yunanto Eko Prabowo, menjelaskan angka 46 di belakang BNI itu merujuk pada peresmian bank tersebut.

“(Diresmikan) Tahun 1946, sejak diresmikan, BNI 46 mulai beroperasi dan berkembang di seluruh Indonesia setelah dari MAVRO tadi,” jelas Yunanto saat ditemui di Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Selasa (21/11/2023).


Mengutip situs Dinas Kebudayaan Kota Jogja, gedung itu resmi beroperasi pada 5 Juli 1946 atas prakarsa Margono Djojohadikusumo.

Keputusan tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1946 dengan tujuan kelancaran ekonomi dan keuangan masyarakat Jogja. BNI 46 kemudian diresmikan oleh Wakil Presiden, Mohammad Hatta dan sejak saat itu bank-bank BNI mulai beroperasi dan berkembang di Indonesia.

Sebelum menjadi gedung BNI 46, bangunan itu difungsikan sebagai kantor asuransi Belanda bernama Nederlandsch Indische Levensverekeringen en Lijfrente Maatschappij atau yang di singkat NILLMIJ.

Selain itu, gedung ini juga digunakan sebagai kantor dagang dan makelar Belanda. Maka dari itu, dalam satu gedung terdapat sejumlah perusahaan di dalamnya.

“Jadi kita lihat disini ada NHM (Nederlandsch Handel Maatschappij) ini kantor dagang, Escompto Maatschappij (lembaga keuangan swasta kedua setelah Bank of Java), dan juga bank makelar Buyn & Co, jadi beberapa perusahaan ada di satu kantor,” kata dia.

Kemudian, saat Jepang menduduki Jogja, Gedung BNI 46 digunakan untuk sebagai radio Jepang.

“Kemudian pada saat Jepang itu menduduki Jogja ini digunakan tentara Jepang sebagai kantor radio Jepang dengan nama Hoso Kyoku,” ujar Yunanto.

Namun, semenjak kekalahan Jepang, gedung tersebut kemudian difungsikan sebagai studio siaran radio MAVRO. MAVRO ini lah yang menjadi cikal bakal lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI).

“Pasca-kekalahan Jepang lalu dimanfaatkan sebagai siaran radio Mataramsche Vereeniging voor Radio Omroep (MAVRO). Itu yang dulu disini, yang menjadi cikal bakal RRI. Pada masa itu RRI Jogja juga dinamakan sebagai radio perjuangan karena turut mengambil peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,” ucapnya.

Berita ini sudah tayang di detikJogja.

(pin/pin)



Sumber : travel.detik.com

Mampir ke Pabrik Cerutu di Jogja, Konon Tertua di Asia Tenggara



Yogyakarta

Pabrik cerutu Taru Martani merupakan pabrik bersejarah di Jogja. Berdiri sejak 1918, pabrik cerutu ini diklaim sebagai yang tertua se-Asia Tenggara.

Pabrik cerutuTaru Martani terletak di Jalan Kompol BambangSuprapto,Gondokusuman, Yogyakarta.detikJogja sempat mampir ke sana dan melihat sejumlah lukisan dan foto pendiri pabrik yakni Adolphe Antoine Louis Marie Mignot.

Selain itu, ada pula sederet foto kunjungan tamu ke Taru Martani, di antaranya ada potret pejuang revolusi Kuba Ernesto ‘Che’ Guevara dan beberapa tokoh Indonesia.


Hingga saat ini, traveler juga dapat melihat aktivitas pegawai yang menjemur daun tembakau di belakang pabrik. Selain itu, ada pula proses pemisahan daun tembakau dari tulang daunnya.

Lalu tampak pula perempuan yang sibuk melinting cerutu dengan alat linting manual.

Pabrik cerutu Taru Martani 1918. Foto diambil Kamis (30/11/2023).Pabrik cerutu Taru Martani 1918. (Foto: Mahendra Lavidavayastama/detikJogja)

Kepala Divisi Produksi Taru Martani 1918, Adam Santosa menjelaskan jika perusahaan ini mulanya berada di Jalan Magelang, Jogja, pada tahun 1918. Perusahaan ini dulunya dimiliki oleh seseorang berkebangsaan Belanda keturunan Perancis.

“Jadi berdirinya (Taru Martani) tahun 1918 dulu dimiliki oleh pribadi bukan company. Awalnya di Jalan Magelang itu, pemiliknya bernama Adolphe Antoine Louis Marie Mignot, dia berkebangsaan Belanda tapi punya keturunan Perancis juga,” kata Adam saat ditemui di Taru Martani, pada Kamis (30/11/2023).

Seiring berkembangnya waktu, pabrik cerutu ini mengalami perkembangan yang pesat dan Adolphe memutuskan untuk membeli tanah di daerah Baciro yang menjadi lokasi saat ini. Di kawasan Baciro inilah, Adolphe memutuskan untuk mendirikan perusahaan yang lebih besar pada 1921 dan diberi nama N.V. Negresco.

“Kemudian 1921 (pabrik) dipindahkan, dia (Adolphe) merasa bahwa perlu mendirikan perusahaan yang cukup besar maka dia beli tanah di daerah sini, Baciro dari dulu tanah itu seluas ini. Karena usahanya berkembang dengan baik, waktu itu (nama) perusahaan N.V. Negresco waktu itu,” jelasnya.

Pabrik cerutu Taru Martani 1918. Foto diambil Kamis (30/11/2023).Pabrik cerutu Taru Martani 1918 (Foto: Mahendra Lavidavayastama/detikJogja)

Namun, pada masa penjajahan Jepang pada 1942 perusahaan ini diambil alih. N.V. Negresco ini pun berganti nama menjadi Jawa Tobacco Kojo.

“Ketika Jepang menduduki Indonesia saat itu tahun 1942, maka otomatis perusahaan ini direbut oleh Jepang kemudian diganti lah namanya menjadi Jawa Tobacco Kojo. (Mereka) Kemudian mengeluarkan produk-produk, kalau dulu ada namanya merek Panther dan lain sebagainya, oleh Jepang produknya diubah namanya menjadi ada Mizuho, Momo Taro, Koa,” ujar Adam.

Setelah masa pendudukan Jepang, pabrik ini diambil alih Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1945. Nama pabrik lantas diganti menjadi Taru Martani.

Pada 1961, pemerintah Indonesia melalui Bank Industri Negara menghidupkan kembali pabrik cerutu ini dengan melakukan kerja sama.

Namun, upaya tersebut kurang membuahkan hasil. Akhirnya, Taru Martani di bawah kepemilikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX melakukan kerja sama dengan perusahaan Belanda yaitu Douwe Egberts.

Semenjak saat itu, mulai ada peningkatan penjualan yang pesat, bahkan karyawan pada saat itu mencapai 1.000 orang.

Taru Martani mencapai masa kejayaan pada 1997.

“Saya pertama masuk tahun 1997 itu pas gemilangnya, saat itu cerutunya lho sangat gemilang. Dulu di tahun 1997 satu bulan hanya Amerika saja itu 1,2 juta batang per bulannya,” kenang Adam.

Berita selengkapnya baca di detikJogja.

(pin/pin)



Sumber : travel.detik.com

Rekomendasi Tempat Wisata di Malioboro: Museum Benteng Vredeburg



Yogyakarta

Berwisata di Malioboro tak sekadar belanja atau nongkrong. Traveler juga dapat belajar sejarah di Museum Benteng Vredeburg.

Museum Benteng Vredeburg berada di kawasan Malioboro atau tepatnya berada dekat Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Museum ini berdiri kokoh di tengah hiruk pikuk Malioboro yang dipenuhi wisatawan tiap musim liburan.

Museum Benteng Vredeburg menyimpan koleksi berupa bangunan peninggalan Belanda serta diorama yang berisi kisah pembentukan negara Indonesia. Pada diorama-diorama itu traveler dapat mempelajari perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka, persiapan menuju kemerdekaan, kondisi pascakemerdekaan, hingga masa Orde Baru.


Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Sejarah ini dijelaskan dengan cara yang cukup menarik menggunakan patung, foto, dan lukisan. Selain itu terdapat fasilitas interaktif termasuk layanan audiovisual untuk membantu pengunjung mendapatkan pengetahuan.

Tak cuma mengenal sejarah, banyak juga pengunjung yang datang untuk berfoto. Benteng bersejarah itu memang memiliki arsitektur yang indah dan megah sehingga kerap diabadikan sebagai latar foto.

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Jam Buka dan Harga Tiket

Museum Benteng Vredeburg buka Selasa-Minggu. Harga tiket bervariasi berdasarkan usia pengunjung. Berikut penjelasan lengkap mengenai jam buka dan harga tiket.

Jam Buka:

  • Selasa – Minggu : 07.30 – 16.00 WIB
Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Harga Tiket:

  • Wisatawan mancanegara : Rp 10.000
  • Wisatawan lokal
    – Dewasa perorangan : Rp 3.000
    – Dewasa rombongan : Rp 2.000
    – Anak-anak perorangan: Rp 2.000
    – Anak-anak rombongan : Rp 1.000

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

Yang Hijau-hijau di Jogja, Wisata Tepi Sawah di Geblek Pari Nanggulan



Yogyakarta

Traveler yang berencana menghabiskan Tahun Baru di Yogyakarta, coba deh mampir ke Kulon Progo. Di sana terdapat restoran tepi sawah yang menarik bernama Geblek Pari.

Geblek Pari belakangan ini viral di kalangan wisatawan pemburu pemandangan hijau. Restoran yang terletak di Nanggulan, Kulon Progo itu memang berdiri di pinggir sawah dan menawarkan nuansa pedesaan.

detikTravel sempat berkunjung ke Geblek Pari beberapa waktu lalu. Untuk menuju Geblek Pari, traveler harus melewati desa yang sempit. Namun perjuangan itu terbayar lunas dengan suasana asri di sana.


Restoran ini cukup luas. Daya tampungnya dapat mencapai 700 orang.

Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaGeblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta. Foto: Putu Intan/detikcom

Selain tempatnya yang nyaman, traveler juga dapat menikmati masakan tradisional khas desa Kulon Progo. Di sini, traveler tak perlu memesan makanan melainkan langsung mengambil nasi dan lauk di dapur.

Menu andalan di sini antara lain bronkos hingga oseng klompong. Jangan lupa juga untuk memesan geblek yang merupakan ikon Kulon Progo.

Geblek adalah makanan tradisional yang terbuat dari tepung tapioka dan bumbu bawang yang digoreng gurih. Geblek ini mirip dengan cireng di Jawa Barat.

Sebagai makanan khas Kulon Progo, geblek juga menginspirasi penamaan restoran ini. Koordinator Geblek Pari, Ardi, menjelaskan nama restoran itu memang mengangkat kekuatan geblek di Kulon Progo.

“Geblek makanan khas Kulon Progo seperti cireng. Pari itu padi. Jadi, Geblek Pari itu artinya makan geblek sambil lihat padi,” kata Ardi.

Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaMakan dengan view sawah di Geblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta (Foto: Putu Intan/detikcom)

Nama ini sangat cocok karena traveler dapat menikmati makanan sambil menikmati hijaunya persawahan dan perbukitan di Nanggulan. Suasananya sungguh syahdu dan menenangkan.

Bila sudah kenyang, traveler juga dapat berkeliling sawah dengan menyewa kendaraan. Geblek Pari menyewakan skuter hingga ATV untuk digunakan pengunjung.

“Harga sewa ATV per jam Rp 100 ribu. Kalau skuter per jam Rp 30 ribu – 40 ribu,” ujar Ardi.

Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaGeblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta. Foto: Putu Intan/detikcom

Sementara itu, traveler juga dapat belajar membatik di Geblek Pari. Untuk harganya bervariasi tergantung media untuk membatiknya. Untuk kipas harganya Rp 40 ribu, totebag Rp 40 ribu, dan kain Rp 25 ribu.

Betah singgah di Geblek Pari, traveler juga bisa menginap di homestay. Geblek Pari memiliki 2 homestay yang masing-masing dilengkapi 4 tempat tidur. Untuk harga sewa per malamnya adalah Rp 400 ribu.

Geblek Pari buka setiap hari dengan jam operasional Senin – Jumat pukul 08.00 – 20.00 WIB. Sedangkan Sabtu – Minggu pukul 07.00 – 20.00 WIB.

(pin/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menikmati Jamu Racikan Leluhur di Desa Wisata Kiringan Yogyakarta



Bantul

Jamu merupakan minuman tradisional yang sarat akan khasiat dan budaya. Traveler dapat menikmati jamu warisan leluhur di Desa Kiringan, Yogyakarta.

Desa Wisata Kiringan di Bantul, Yogyakarta dikenal sebagai desanya para perajin jamu. Hingga kini, tercatat ada 132 perajin jamu yang aktif memproduksi minuman tradisional di sana.

Penasaran dengan desa jamu itu, detikcom berkunjung ke Desa Wisata Kiringan beberapa waktu lalu. Di sana, kami berjumpa dengan salah satu perajin jamu yakni Murjiati.


Murjiati merupakan ketua perajin sekaligus ketua Koperasi Jamu Kiringan. Ia memiliki produk jamu yang dinamakan Riski Barokah.

Di rumahnya yang sederhana, ia setiap hari membuat jamu untuk dijual di Pasar Imogiri. Setiap hari, ia menyiapkan sekitar 100 porsi jamu untuk para penikmat jamu yang sudah menjadi langganannya.

Desa Jamu Kiringan di YogyakartaDesa Jamu Kiringan di Yogyakarta. Foto: Ari Saputra/detikcom

Jamu yang ia jual beragam. Mulai dari kunyit asam, beras kencur, hingga uyup-uyup. Murjiati mengaku, jamu yang ia produksi ini mempertahankan resep dari para pendahulunya.

“Saya penjual jamu dari warisan nenek moyang. Dulu Si Mbah (nenek) saya jualan jamu antara tahun 60-an. Setelah Si Mbah sudah tua, diganti Ibu. Ibu sudah tua, saya yang menggantikan. Saya jualan jamu sejak 1985, sejak usia 15 tahun sudah mulai jualan,” kenangnya.

Menurutnya, resep jamu leluhur yang paling penting adalah menggunakan bahan alami dan tanpa pengawet. Dengan racikan itu, manfaat jamu untuk kesehatan akan menjadi maksimal.

“Semua perajin jamu di Dusun Kiringan tidak ada pengawet sedikit pun. Kita membuat jamu yang segar dan instan (kemasan seduh) secara alami, herbal. Tidak ada sedikit pun bahan yang untuk diawetkan, nggak ada. Jadi semua betul-betul alami,” kata dia.

Desa Jamu Kiringan di YogyakartaKetua perajin jamu di Desa Kiringan, Murjiati. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

detikcom yang penasaran dengan rasa jamu Desa Kiringan memutuskan untuk mencobanya. Keunikan meminum jamu di sini adalah tidak menggunakan gelas melainkan memakai batok kelapa.

Sensasi minum jamu secara tradisional ini yang membuat pengalaman itu semakin menyenangkan. Apalagi dengan pemandangan sawah pedesaan yang membuat hati senang.

Rasa jamu kunyit asam yang detikcom rasakan memang lebih segar dari pada jamu-jamu yang biasa dijual di Jakarta. Rasa rempah-rempahnya lebih mendominasi ketimbang manisnya gula. Setelah meminum sebatok jamu, badan juga terasa lebih bugar.

Sebatok jamu ini dihargai Rp 4.000 – 5.000 tergantung jenis jamunya. Selain menjual jamu segar, Murjiati juga memproduksi jamu instan dalam kemasan yang bisa diseduh sewaktu-waktu. Untuk sebotol jamu instan dihargai Rp 15 ribu.

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com