Tag Archives: wisata yogyakarta

Bangunan Megah bak Kastil di Gang Sempit Kotagede



Yogyakarta

Membayangkan bagaimana indahnya jika arsitektur budaya Jawa, Thailand, Eropa, dan Yunani dipadukan maka Rumah Pesik-lah jawabannya. Lokasinya di Kotagede, Yogyakarta.

Berdiri kokoh masuk ke dalam gang sempit kawasan tua Kotagede, traveler tidak akan menyangka jika ada sebuah bangunan kuno dengan sentuhan arsitektur eksotis yang magical. Namanya adalah Rumah Pesik. Saat ini difungsikan sebagai kafe, hotel, dan mini museum.

“Awalnya buat keluarga aja sih, untuk ayah saya, lebih ke untuk pribadi, keluarga, kawan-kawan. Kadang kadang ada pejabat atau teman dari luar negeri datang, kita ajak ke sini,” kata Roky, anak dari Rudy J Pesik yang sekarang mengelola Rumah Pesik.


Ya, bangunan itu adalah rumah milik pengusaha ternama Rudy J Pesik. Dia pemimpin perusahaan jasa logistik DHL Indonesia.

Atas kecintaannya pada seni budaya, Rudy yang juga dikenal sebagai kolektor menyulap Rumah Pesik menjadi bangunan yang tiap sudutnya dihiasi ornamen bernilai seni tinggi.

Rumah Pesik dikelola menjadi sebuah hotel sejak sebelum pandemi covid-19. Namun, terhenti akibat Covid dan baru dibuka kembali sekitar 1 tahun.

Dituturkan oleh Roky, dari awal bangunan ini memang tidak didesain sebagai hotel, sehingga jumlah kamar yang banyak bukanlah suatu kesengajaan.

Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Setelah tutup bertahun-tahun, kini Rumah Pesik dibuka untuk umum. Jika hanya ingin berfoto-foto dan melihat saja, maka pengunjung dikenai biaya masuk Rp 25.000, namun jika menghabiskan waktu di kafenya dan membeli makan atau minuman maka biaya masuknya gratis.

Masuk ke Gang Soka, Kotagede, Rumah Pesik tidak akan sulit ditemukan. Jika dilihat dari luar bangunan ini mencolok dengan cat warna tembok hijaunya. Kemudian, masuk melewati salah satu dari ketiga pintu yang terbuka, traveler akan disambut bak terlempar ke dalam lorong waktu masa kerajaan.

Di salah satu pintu terdapat prasasti yang berisi daftar nama-nama tokoh penting dunia yang pernah menginap di sana, termasuk Lech Walesa, mantan Presiden Polandia pada tahun 1990-1995 dan penerima Nobel Perdamaian tahun 1993.

Sekilas jika dilihat dari luar, Traveler tak akan sangka jika di balik benteng hijau itu menyembunyikan bangunan-bangunan tinggi megah dengan arsitektur kental akan budaya. Terlihat bangunan dengan gaya arsitektur Thailand di dalamnya traveler bahkan akan menemukan patung arca buddha. Dari lantai duanya, pemandangan saat sunset begitu menakjubkan.

Bergeser ke sebelahnya, berdiri bangunan dua lantai dengan dominasi warna putih dengan gaya da vinci. Di pintu masuknya dijaga oleh dua patung ksatria Romawi yang membawa tombak. Untuk naik ke lantai duanya, traveler harus meniti tangga yang disekeliling temboknya dipenuhi foto keluarga besar Rudy J Persik.

Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Beralih ke bangunan ketiga, tepat berdiri di belakang kolam air mancur, bangunan dengan arsitektur Jawa penuh pahatan kayu. Lalu di seberangnya terdapat kafe dan resto.

Terdapat rumah kalang, yang diketahui ternyata menjadi bangunan utama yang bentuknya masih dipertahankan sejak awal berdirinya Rumah Pesik. Rumah itu menjadi mini museum dan memuat koleksi koleksi Rudy mulai dari keris, patung, arca, hingga barang-barang antik peninggalan dari berbagai negara. Museum hanya dibuka by request pengunjung dan harus membayar tiket masuk Rp 25.000

Setiap sudutnya begitu menawan dengan konsep yang unik dan artistik. Traveler bebas bisa berswaphoto di setiap sudutnya, karena tidak ada pembatasan area bagi pengunjung kecuali masuk ke dalam kamar hotelnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Rumah Pesik Jogja, Milik Kolektor Barang Antik, Libatkan 44 Pemahat



Yogyakarta

Rumah Pesik langsung membetot mata karena begitu megah, tetapi berada di antara bangunan tua dalam gang sempit di Kotagede, Yogyakarta. Bagaimana bangunan semewah itu berada di sana?

Keberadaannya tidak sulit ditemukan dengan tembok luarnya yang berwarna hijau menyala. Bangunannya unik dengan penggabungan antara arsitektur Jawa, Thailand, Eropa, dan Yunani dengan wajah sebagai kafe, hotel, dan mini museum.

Rumah Pesik itu kini menjadi salah satu rujukan destinasi wisata terlebih jika mengunjungi Kotagede. Kini, rumah itu juga dijadikan penginapan.


Selain bangunannya yang megah, rumah atau penginapan itu mencolok karena beragam tanaman dan patung-patung berukuran besar di halaman.

Wisatawan bergantian keluar masuk Rumah Pesik. Untuk sekadar foto-foto atau nongkrong atau ada pula yang menginap di sana.

Dulu bangunan itu sama sekali tidak diniatkan untuk dipergunakan sebagai hotel, apalagi destinasi wisata.

Ternyata ada cerita panjang rumah megah itu dibangun di sana. Berikut kisahnya.

Rumah Persik awalnya adalah rumah tinggal milik pengusaha DHL Indonesia, Rudy J. Pesik. Dia juga pernah menjabat sebagai dirjen di Kementerian Industri Kemaritiman saat periode Presiden Sukarno. Dia sosok penting dalam pengembangan IT di Pertamina.

Menurut Roky, putra Rudy, dalam catatan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Geomansi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang berbincang langsung dengannya alasan rumah itu dibangun di sana terkuak. Ternyata, rumah Pesik termasuk dari bagian rumah kalang.

“Termasuk dari bagian rumah kalang, kalau orang di daerah sini disebutnya rumah kalang, orang yang pandai dagang. Jadi bangunan aslinya rumah kalang sudah lebih dari 100 tahun,” kata Roky dalam perbincangan dengan detikTravel.

Rumah Pesik itu kini difungsikan sebagai mini museum yang menyimpan koleksi barang-barang antik Rudy mulai dari keris hingga arca. Bentuknya masih dipertahankan seperti pertama kali rumah itu di beli.

Roky mengungkapkan sebelum dibeli oleh ayahnya, rumah itu adalah milik sepasang suami istri Amerika-Indonesia. Sang suami adalah orang Amerika sekaligus teman Rudy.

Singkat cerita, rumah itu harus dijual dan jatuhlah kepemilikannya kepada Rudy J. Persik. Akhirnya, rumah tersebut diberi nama Rumah Pesik yang diambil dari nama belakang Rudy.

Di awal pembangunannya, rumah itu hanya difungsikan sebagai rumah tinggal keluarga besar Rudy dan rekan-rekannya jika berkunjung ke Jogja.

“Secara arsitektur agak berantakan, kami aslinya hanya beli bangunan utamanya saja. Kalau yang bagian lain itu baru 20-25 tahun lah. Bertahap, karena kan kami belinya juga tidak sekaligus semua tanahnya,” kata Roky.

Bangunan selain rumah kalang yang kini menjadi mini museum adalah bangunan tambahan yang didirikan langsung oleh keluarga Rudy.

Bersama dengan 44 pemahat, pengerjaan dimulai dengan ide dasar rumah Joglo. Perpaduan Eropa dan Thailand memiliki makna personal. Rudy telah lama tinggal di Eropa sedangkan Thailand bak rumah kedua bagi keluarga Rudy.

Berbicara tentang Thailand, Rudy adalah salah satu tokoh yang pernah mendapat penghargaan dari Kerajaan Thailand atas kontribusinya di bidang IT.

“Dulu awalnya kami bisnis IT. Perusahaan IT yang pertama kali menterjemahkan komputer ke aksara Thailand. Dari situ Rudy mendapat penghargaan dari Kerajaan Thailand,” kata Roky.

Pembangunan Rumah Pesik mengikuti hobi Rudy sebagai kolektor barang antik. Keseluruhan ornamen adalah milik Rudy yang sudah ia kumpulkan sejak awal tahun 1980-an. Keris dan kayu menjadi seni yang paling menonjol karena dinilai sebagai barang antik yang paling berharga.

“Kalau ditanya barang antik apa yang paling berharga dari Indonesia, itu pertama keris, kedua kayu besar. Karena keris itu dibuat pada ratusan tahun lalu, kalaupun baru, akan berbeda dari aslinya. Kalau kayu karena suatu saat nanti pohon-pohon akan dilarang ditebang, yang sudah jadi suatu produk kayu besar. Jadi, itu sebabnya rumah ini banyak keris dan kayu,” kata Roky.

Kesukaan Rudy terhadap barang antik dimulai ketika dirinya tinggal di Belanda setelah lulus kuliah di tahun 1964. Di sana ia diberi hadiah tempat garam antik oleh orang yang dianggap bak “ayah angkat”.

Ya, garam merupakan penyedap utama dan satu-satunya di Eropa kala itu, sehingga kepemilikan tempat garam, apalagi antik sangatlah berharga. Namun, reaksi Rudy terlihat biasa saja hingga sang ayah angkat menyebutnya sebagai bangsa yang tidak menghargai budaya.

Kesan atas ucapan tersebut membekas di hati Rudy hingga memantapkan hatinya untuk menjadi kolektor barang antik hingga sekarang.

“Dulu ada pertanyaan, kenapa orang indonesia tidak menghargai antik? karena Indonesia tidak makmur, nanti ketika Indonesia sudah makmur, tidak hanya mikirin perut, rumah, pakaian, baru bangsa kamu akan menghargai barang antik,” kata Roky.

Roky kembali menuturkan bahwa Rumah Pesik akhirnya dikomersilkan menjadi kafe dan hotel diperuntukkan sebagai upaya mengenalkan budaya bangsa.

“Karena memang marketnya memang kalangan atas. Karena, kalau dilepas murah, orang-orang yang datang takutnya orang yang tidak menghargai seni, peninggalan sejarah, jual mahal nggak ramai. Pelan-pelan saja,” kata Roky.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gems untuk Foto Kasual sampai Pre-wedding di Rumah Pesik



Yogyakarta

Traveler tau nggak sih ada spot menarik tersembunyi di Jogja yang biasa dipakai untuk foto pre-wedding bahkan yearbook, nih. Rumah Pesik jadi andalan photo hunter, baik untuk keperluan formal atau pun kasual, karena lokasinya yang unik.

Rumah Pesik sejatinya adalah rumah tinggal milik Rudy J. Persik yang kini dikomersilkan sebagai kafe, hotel, dan mini museum. Alasan tempat itu diburu banyak traveler sebagai spot foto karena gaya arsitekturnya yang unik.

Rumah di tengah permukiman Kotagede, Yogyakarta itu memiliki perpaduan antara ornamen Jawa dan Eropa, dihiasi arca patung bak era Yunani serta Romawi. Ada pula nuansa Thailand yang mencolok.


“Iya di sini hampir setiap hari ada yang sewa untuk Pre-wedding atau yearbook, jadi walaupun tidak ada tamu hotel tetap selalu ada pengunjung, apalagi akhir-akhir ini lumayan rame yang datang untuk sekadar foto-foto,” kata Slamet, staff Rumah Pesik Art and Heritage Hotel.

Biaya masuk ke Rumah Pesik cukup murah. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 25.000 atau membeli produk minuman atau makanan di kafe dan restonya. Tetapi jika ingin melihat koleksi keris dan arca lainnya milik Rudy di museum Rumah Kalang, pengunjung perlu menyiapkan Rp 25.000 lagi.

Meski dari luar terlihat seperti rumah biasa, namun ketika masuk pengunjung serasa dibawa melintasi berbagai benua di abad pertengahan. Dimulai dari atap bangunan Thailand yang mencolok hingga ornamen patung Buddha di dalamnya yang menawan.

Di area outdoor, traveler dapat langsung melihat kolam air mancur yang dikelilingi patung-patung Yunani bak masuk ke museum di Athena. Uniknya, di belakangnya persis berdiri pintu kayu Jawa gebyok dengan pahatan kayunya yang eksotis.

Rumah Pesik menyediakan beberapa pilihan paket social event package untuk traveler yang menginginkannya. Mulai dari Pre-wedding package, family photo package, graduation package, yearbook package, gathering package, dan weddings & engagement package. Seluruh paket itu dapat Traveler pesan melalui akun Instagram resmi @rumahpesik

Tidak hanya untuk formal occasion, casual pun boleh sangat di tempat ini. Pelayanan staffnya bintang 5, ditambah tempatnya yang mendukung untuk berfoto ria. Poin plusnya lagi, Rumah Pesik memiliki spot yang luas sehingga tidak usah khawatir mengantri jika ingin berfoto.

Jika lelah berkeliling dan berfoto, ada kafe dan restoran dengan berbagai menu yang tidak menguras kantong. Tersedia pula karaoke untuk pengunjung yang ingin bernyanyi melepas penat di situ.

Tempat ini untuk staycation bersama orang-orang tersayang cocok sekali. Namun, jangan kaget jika harga dibandrol cukup di atas rata-rata.

Dituturkan oleh Roky melalui catatan penelitian mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, anak Rudy J Persik, Hotel Rumah Persik memang ditargetkan untuk golongan menengah ke atas agar setiap detail ornamen barang antik di Rumah Persik tetap terjaga.

Jadi tunggu apalagi? Datang dan kunjungi Rumah Pesik sekarang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bukan Kopi, Tempat Nongkrong Ini Suguhkan Minuman Rempah



Yogyakarta

Saat berada ke Jogja jangan lupa mampir ke Wiratea Spices Bar. Kedai minuman ini menyuguhkan racikan rempah dengan sensasi intimate bar, cocok untuk bernostalgia sekaligus berjejaring.

Datang ke sini jangan berharap bisa menemui musik kencang atau pekerja ber-WFC layaknya kafe atau tempat nongkron lain di Jogja. Wiratea memilih untuk menjadi kedai minuman yang kehadirannya dekat dengan pelanggan dan bisa menjadi rumah untuk berelasi.

Tidak ada Wifi, bahkan tidak ada colokan, meja pun didesain memang untuk pengunjung datang mengobrol. Tak lupa sapaan hangat barista yang sudah menjadi SOP-nya.


“Permisi kak, apakah ada kritik dan saran?” ujar Manda, sang barista.

Kalimat itu menjadi kalimat magis awal pembuka rentetan obrolan panjang. Jika antusias, barista akan melanjutkan. Jika seperlunya, barista akan memberi ruang.

“Karena memang tujuan kita di sini itu, kenapa gaada wifi, gaada colokan kabel, biar temen-temen disini fokusnya untuk ngobrol. Buat berjejaring. Kita dari barista juga berusaha buat semisal ada pengunjung sendiri, kita ajak buat ngobrol bareng, sampai akhirnya terbentuk komunitas maupun circle yang baik,” kata Manda.

Wiratea Spices Bar di YogyakartaWiratea Spices Bar di Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Lokasinya tidak terlalu luas, dengan konsep outdoor di bawah remang lampu balon kekuningan. Tidak banyak kursi yang tersedia, maksimum kapasitasnya sekitar 25 orang. Jika hujan menerpa, seluruh pelanggan harus bermigrasi ke resto sampingnya yang sudah bekerja sama.

Uniknya, tanpa self claim apapun, pengunjung menautkan Wiratea sebagai bagian dari kafe bertemakan Ghibli. Padahal, Wiratea mengaku tidak terpikir ke arah sana sama sekali. Konsep yang mereka usung sejak awal adalah gaya humanis dan natural layaknya rempah yang berasal dari alam.

“Nah, itu tercetus setelah gambar-gambar muncul. Banyak yang bilang ghibli trus aku liat, oh iya juga,” kata Manda.

Buka hanya dari pukul 16.00 hingga 22.00 malam, Wiratea memang cocok dikunjungi untuk ngobrol santai bersama orang tersayang. Apalagi ditemani dengan minuman rempah yang menghangatkan badan.

Mayoritas menu di sini berupa minuman rempah. Kopi, susu, dan jus buah yang diracik bersama kunyit, jahe, atau kayu manis. Wiratea memberi jaminan garansi pada customer yang tidak menyukai rasa minuman rempah tersebut.

“Kalau kita memang 95% fokus dan main menunya di rempah. dicampur dengan kopi, susu, jus buah. ada beberapa menu yang enggak ada rempahnya tapi itu jadi opsi terakhir. Kita coba buat teman-teman yang nggak suka itu pelan-pelan aja gitu. karena kan ga yang terlalu strong,” kata Manda.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Wiratea Spices Bar, Upaya agar Minuman Rempah Tak Punah



Jakarta

Anggapan rempah identik dengan jamu yang rasanya pahit ditepis oleh Wiratea Spices Bar Jogja. Kolaborasi antara cita rasa rempah yang otentik dipadu dengan minuman yang lebih populer bagi milenium hingga Gen Z, seperti kopi, susu, bahkan jus buah bisa traveler temui di sini.

Berlokasi di dalam Kampung Lawasan Heritage, Sleman, Yogyakarta, Wiratea adalah kedai minuman unik. detikTravel berbincang degan Fatah, si pemilik, tentang ide dan serba-serbi Wiratea beberapa waktu lalu.

Fatah mengisahkan bahwa dia awalnya seorang tim marketing di Kampung Lawasan Hotel. Saat bekerja di sana, dia melihat peluang menjanjikan di salah satu sudut hotel yang tidak terpakai.


Wiratea Spices Bar adalah slow bar yang 95% menawarkan minuman kopi yang diracik dengan rasa rempah seperti kunyit, jahe, hingga kayu manis. Tidak hanya kopi, ada pula susu hingga jus buah.

Untuk meneguk segelas minuman rempah, traveler hanya cukup mengeluarkan kocek mulai dari Rp 20.000. Lokasinya juga hanya bisa dikunjungi mulai dari pukul 16.00-22.00

Nah, ibu Fatah merupakan seorang penjual jamu gendong.

Peluang ruangan dan tradisi jamu dalam keluarga Fatah iu melahirkan Wiratea, yang dalam bahasa Jawa Kuno, wirati, yang artinya istirahat.

“Kepikiran konsep dari ibunya mas Fatah, memang karena pinginnya rempah-rempat itu nggak cuma orang-orang sepuh dan orang yang suka jamu doang,” kata Manda, Barista Wiratea Spices Bar Jogja.

Mengenalkan rempah untuk kalangan anak muda ternyata tidak mudah. Wiratea mencoba melakukan pendekatan lewat dekorasi kedai yang unik. Dengan bangunan 3 lantai di sudut teras hotel, nuansanya disulap bergaya humanis dan natural mengikuti asal sang rempah.

Dengan maksimum kapasitas 25 orang, kedai kecil itu berkonsep outdoor. Gambar-gambar dengan kertas menghiasi dinding bagian kasir sekaligus ruang bagi barista meracik minuman. Lambat laun, pengunjung melihatnya bak visualisasi anime ghibli.

Wiratea telah ada sejak Agustus 2022. Perjalanan hingga akhirnya mampu mewarnai ragam kedai kopi di Jogja butuh waktu 2 tahun perencanaan. Sampai pada titik 95% menu yang ditawarkan adalah minuman rempah.

“Kebetulan coffee shop di jogja udah banyak. Kalau kita bikinnya yang itu-itu aja susah bersaing,” kata Manda.

Proses barista mengenalkan minuman rempah pada customer dilakukan secara pendekatan personal. Wiratea berani menjamin garansi minuman baru jika customer tidak menyukai rasa minuman rempah itu.

“Ada beberapa menu yang enggak ada rempahnya tapi itu jadi opsi terakhir. kita coba buat temen-temen yang gasuka itu pelan-pelan aja gitu. karena kan ga yang terlalu strong,” Kata Manda.

Wiratea aktif mengikuti beragam event yang terselenggara baik di Jogja maupun luar. Terjauh, Wiratea pernah di dapuk sebagai welcome drink dalam acara Vietnam Internatinal Tourism Marker 2023.

Wiratea sendiri bekerja sama dengan pihak Kampung Lawasan Hotel, terlebih penyediaan ruang ketika hujan juga pemesanan makanan bagi customer. Menurut Manda, pikiran untuk membuka cabang baru belum ada, saat ini Wiratea fokus pada pendekatan dengan customer, mengikuti event, serta refreshment menu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Kopi Wongso, Tempat Ngopi dan Bikin Pizza dengan View Sawah di Jogja



Yogyakarta

Siapa sangka kedai kopi yang belakangan ramai jadi rujukan tempat nongkrong anak muda di Jogja ini adalah cara dari sang owner memaknai hidupnya. Penasaran bagaimana kisahnya?

Kafe itu adalah Kopi Wongso. Nama kedai kopi itu sesuai nama belakang pemiliknya, Ali Wongso. Wongso berasal dari nama sang kakek.

Saat ditemui detikTravel di lokasi langsung, Ali tampak sedang asyik bercengkerama dengan pelanggan dengan cara tidak biasa. Ali mengajak tamu-tamunya mengolah pizza.


Dengan tekun, Ali meniti setiap bahan pizza yang akan diolah. Dia mengajari pengunjung bagaimana memipihkan adonan pizza yang benar. Lalu membolak balik pizza di tungku api tradisional agar matang sempurna. Tampak jelas guratan senyum di wajahnya seolah ini adalah pekerjaan terbaik di dunia.

“Kenapa penasaran? Aku heran, semua orang yang datang selalu bertanya begitu, bukankah ini ide bisnis yang biasa saja dibanding kapital besar?” ujar Ali saat disodori pertanyaan awal mula membangun ide Kopi Wongso.

Saat pertama dirilis, yakni pada 2010, Kopi Wongso tidak di Sewon, Bantul seperti saat ini. Sebelumnya, Kopi Wongso berada di Perum Permata Hijau, Bangunharjo.

Tetapi, soal kopi tidak berubah. Dulu dan kini, Ali memilih kopi luwak original sebagai signaturenya.

Perbedaan lain adalah Kopi Wongso mulai mengenalkan pizza self-made by customer di kedai baru.

Meski sekarang fokus di pizza, penjualan kopi luwak tetap berjalan bahkan sudah merambah sampai ekspor ke Jepang.

“Di online amazon Jepang no 1 kopi luwak milikku,” kata Ali.

Kopi luwak dijual dalam bentuk per 100 gram. Ali menyebut dalam seminggu bisa mengirim hingga 81 paket per 100 gram. Kopi luwak tersebut ia ambil dari berbagai daerah yang sudah bekerja sama sejak tahun 2010.

Hingga di tahun 2020 lokasinya pindah ke Sewon, Bantul, di tengah pedesaan yang berseberangan langsung dengan sawah. Tahun kedua setelah pembukaan di lokasi baru, Kopi Wongso mulai menerapkan konsep pizza self-made by customer.

Terkuak juga bahwa ide konsep pembuatan pizza oleh customer datang tanpa disengaja. Ali menyebut, awalnya hanya iseng meminta temannya yang datang untuk membuat sendiri, tapi tanpa disangka menjadi konsep yang menarik pengunjung datang.

“Belum ada pizza di tahun pertama. Mulai ada di tahun kedua. Awalnya dari teman motor vespa, motor gede, bingung kan waktu covid, kusuruh bikin (pizza) sendiri. Dari dulu emang waktu masih di eropa, seneng liat tungku, vibesnya otentik menarik gitu. Lalu pada masak sendiri, terus waktu ada pengunjung, tak suruh bikin sendiri, lha kok pada suka, dan menjadi konsep sampai sekarang,” kata Ali.

Perjalanannya menikmati hidup, mengamati dan memaknai arti kehidupan membawa Ali menjadi sosok yang dicintai customernya yang datang ke Kopi Wongso. Ali menuturkan ia tidak butuh marketing yang berisik dengan mengundang banyak influencer agar Kopi Wongso ramai. Berjalan dengan alami menurutnya akan jauh lebih menyenangkan.

Setiap hari pengunjung ramai berdatangan, bahkan dari luar kota sekalipun. Rata-rata merupakan muda mudi berpasangan, atau segerombolan sahabat. Konsepnya yang tanpa reservasi bahkan bisa membuat antrian hingga 4 jam. Saat ditanya tentang rencana perluasan lahan atau pembukaan cabang, Ali menyebut ia belum kepikiran.

“Saya tidak takut disaingi, karena kelebihan vibe ku ga akan bisa dimiliki tempat lain. Belum ada rencana perluasan atau cabang, karena nanti akan hilang eksklusivitasnya. Sengsara membawa nikmat. Vibes menunggu lama itu juga suatu kelebihan menurutku,” kata Ali.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Upgrade Ide Kencanmu dengan Bikin Pizza di Kopi Wongso



Yogyakarta

Ada satu kafe menarik di sudut Jogja yang menawarkan pengalaman membuat pizza langsung bersama pemiliknya. Lokasinya masih asri dekat dengan alam, cocok untuk ide ngedate traveler bareng pasangan.

Namanya Kopi Wongso, lokasinya di Sewon, Bantul. Butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Lokasinya menjadi viral karena tempatnya yang estetik dan langsung disuguhi pemandangan alam berupa persawahan dan gunung.

“Saya senang mengelola Kopi Wongso ini awalnya bersama istri, bagaimana mensinergikan alam dan knowledge saya tentang art, dan pengalaman dulu sering berinteraksi dengan customer saat jadi pemandu,” kata Ali Wongso, pemilik Kopi Wongso.


Kopi Wongso di Yogyakarta jadi rujukan tempat nongkrong anak muda. Ternyata kedai kopi ini adalah cara sang owner Ali Wongso memaknai hidupnya.Kopi Wongso di Yogyakarta jadi rujukan tempat nongkrong anak muda. Ternyata kedai kopi ini adalah cara sang owner Ali Wongso memaknai hidupnya. (Arawinda Dea Alisia)

Kopi Wongso sendiri telah berdiri sejak tahun 2010. Dulu saat masih berada di Bangunharjo, Ali mengandalkan kopi luwak alami sebagai signature-nya.

Sejak 2020 kedai dipindah ke Sewon dan di tahun kedua pembukaan, Ali menyediakan pizza sebagai menjadi salah satu menu andalan. Uniknya lagi, pengunjung diajak untuk membuat pizza sendiri.

Ya, Kopi Wongso menawarkan pengalaman membuat pizza sendiri yang cukup unik ditemani oleh owner langsung. Selain itu, lokasi yang asri dan masih sejuk, membuat suasana outdoor tidak begitu panas di siang hari.

Dengan merogoh kocek Rp 105.000, traveler akan disediakan satu loyang pizza lengkap dengan bahan, dan diajarkan cara membuatnya. Pizza akan dimasak dengan menggunakan tungku api tradisional, sehingga cita rasanya begitu otentik.

Di sini juga tersedia tripod untuk traveler yang hobi bikin konten video. Bahkan, tidak perlu sungkan jika ingin meminta tolong petugasnya mengabadikan moment traveler bersama pasangan.

Kopi Wongso di Sewon, Bantul, YogyakartaKopi Wongso di Sewon, Bantul, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Di Kopi Wongso, traveler tidak perlu melakukan reservasi jika ingin membuat pizza. Pengunjung akan dilayani secara bertahap sesuai antrian.

“Kadang-kadang antrenya sampai 4 jam. Kalau ga couple ga akan tahan, yang bikin betah karena ada pasangannya. Sengsara membawa nikmat. Vibes menunggu lama itu juga suatu kelebihan menurut saya,” kata Ali.

Tidak perlu takut bosan jika menunggu di sini karena tersedia berbagai menu lain yang wajib banget traveler coba seperti kopinya. Mulai dari harga Rp 15 ribu, traveler bisa menikmati suasana nongkrong di Kopi Wongso yang syahdu abis. Ada pula persewaan sepeda mulai dari Rp 10 ribu dan kolam renang anak Ro 15 ribu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ini 10 Tempat Wisata Sekitar Malioboro yang Wajib Dikunjungi


Jakarta

Ada banyak tempat wisata di sekitar Malioboro, Yogyakarta. Kawasan Malioboro sendiri selalu ramai dipadati pengunjung, apalagi saat memasuki musim liburan.

Karena sebentar lagi akan memasuki long weekend libur Idul Adha, tak ada salahnya untuk merencanakan liburan selama empat hari ke Yogyakarta. Jika tak ingin pergi ke tempat wisata yang jauh, masih ada tempat wisata sekitar Malioboro yang wajib dikunjungi.

Penasaran, apa saja tempat wisata sekitar Malioboro yang wajib dikunjungi saat liburan? Simak ulasannya dalam artikel ini.


Tempat Wisata Sekitar Malioboro yang Wajib Dikunjungi

Ada banyak tempat wisata di sekitar Malioboro yang patut dikunjungi. Namun perlu diingat, saat momen libur Idul Adha mungkin ada sedikit perbedaan jam operasional dan harga tiket masuk.

Biar nggak penasaran, berikut rekomendasi tempat wisata sekitar Malioboro, Yogyakarta:

1. Titik 0 Km

Rekomendasi yang pertama ada Titik 0 Km. Lokasinya yang berada di ujung selatan Malioboro ini menjadi salah satu spot yang selalu ramai oleh wisatawan.

Area pedestriannya begitu luas sehingga dapat menampung bayak orang. Saat malam hari, Titik 0 Km begitu meriah karena dihiasi lampu hias.

Kalau ingin berfoto-foto, disarankan datang pada sore menjelang malam hari dan saat cuaca sedang cerah. Sebab, gedung-gedung tua peninggalan kolonial Belanda di sekitar Titik 0 Km dapat memberikan kesan estetik.

2. Tugu Yogyakarta

Tugu Jogja menjadi salah satu spot favorit pegiat fotografi. Lampu-lampu jalanan hingga kendaraan bisa menjadi 'kanvas' untuk melukis cahaya di Tugu Jogja.Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Travelers tentu sudah tidak asing dengan landmark yang satu ini. Tugu Yogyakarta merupakan salah satu primadona dan selalu ramai dikunjungi wisatawan untuk berfoto-foto.

Meski begitu, kamu tak bisa foto secara dekat karena lokasinya berada di tengah perempatan yang ramai kendaraan. Tapi jangan khawatir, kamu bisa foto-foto dari atas trotoar sambil menikmati tugu yang tingginya sekitar 15 meter.

3. Taman Sari

Destinasi wisata yang satu ini juga wajib dikunjungi saat berlibur ke Yogyakarta. Daya tarik dari Taman Sari adalah terdapat kolam pemandian, lorong bawah tanah, dan memiliki desain bangunan unik.

Di lahan seluas 10 hektare lebih, Taman Sari memiliki 57 bangunan kokoh. Bangunan tersebut menggabungkan arsitektur Jawa dan Portugis.

4. Keraton Yogyakarta

Bangunan Bangsal Magangan di dalam kompleks Keraton Yogyakarta sedang menjadi perbincangan hangat karena tersebar foto penampakan ular melingkari salah satu tiang atau pilar Bangsal Magangan.Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Sekitar 10 menit dari Malioboro, detikers bisa berkunjung ke salah satu objek wisata paling terkenal di Kota Pelajar, yaitu Keraton Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta atau Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah salah satu destinasi untuk wisatawan yang ingin mengenal budaya Yogyakarta. Keraton didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada 1755.

Luas area Keraton Yogyakarta sekitar 184 hektare. Di dalamnya terdapat tempat tinggal Sultan. Lalu, terdapat juga museum yang berisi barang-barang kesultanan, seperti hadiah dari raja Eropa, replika pusaka keraton, hingga gamelan.

5. Alun-alun Kidul

Salah satu alun-alun yang terkenal di Yogyakarta adalah Alun-alun Kidul. Selain digunakan oleh masyarakat untuk bersantai, Alun-alun Kidul juga terkenal dengan ritual masangin.

Masangin adalah suatu ritual dengan berjalan melintasi celah di antara kedua pohon beringin dengan mata tertutup. Berdasarkan mitos yang beredar, orang yang berhasil melewati beringin dengan mata tertutup berarti hatinya bersih dan lapang.

6. Museum Benteng Vredeburg

Museum Benteng VredeburgFoto: (dok. IHA)

Masih di sekitar Malioboro, ada salah satu objek wisata yang juga wajib untuk dikunjungi, namanya Benteng Vredeburg.

Di dalamnya terdapat museum yang berisi peninggalan sejarah di masa lalu, sehingga bisa berwisata sambil menambah pengetahuan. Selain itu, cat tembok yang serba putih juga menjadi buruan wisatawan agar mendapat spot foto keren dan estetik.

Sebagai informasi, Benteng Vredeburg mulai dibangun sekitar tahun 1760-an oleh Sri Sultan Hamengkubuwono. Arsitek dari benteng ini adalah Frans Haak.

7. Taman Pintar

Ingin jalan-jalan sambil menambah wawasan bagi anak-anak? Cobalah datang ke Taman Pintar. Di tempat ini, travelers dapat mencoba berbagai permainan yang seru dan edukatif, seperti wahana ekspresi, apresiasi, dan kreasi sains.

Hebatnya, Taman Pintar menjadi salah satu taman edukasi terbaik se-Asia Tenggara. Dinamai Taman Pintar karena di kawasan ini para siswa mulai dari prasekolah sampai sekolah menengah atas (SMA bisa memperdalam pemahaman materi pelajaran di sini.

8. Pasar Beringharjo

Suasana di Pasar Beringharjo, Jogja, Selasa (26/12/2023).Foto: Adji G Rinepta/detikJogja

Bagi kamu yang suka belanja dan mencicipi kuliner khas Yogyakarta, sempatkan diri untuk mampir ke Pasar Beringharjo. Umumnya, wisatawan yang datang ke sini ingin membeli batik khas Jogja.

Namun tak hanya batik, masih banyak sejumlah barang-barang menarik yang ditawarkan, mulai dari kaus, tote bag, dress batik, sandal batik, hingga berbagai oleh-oleh lainnya.

9. Kebun Binatang Gembira Loka

Yogyakarta juga memiliki kebun binatang yang besar lho, namanya Gembira Loka. Koleksi satwa di kebun binatang ini cukup beragam, mulai dari macan, harimau, hingga gajah.

Selain itu, terdapat juga berbagai koleksi tumbuhan di Gembira Loka. Oh ya, jangan lewatkan juga pertunjukan satwa seperti beruang madu, orang utan, dan burung merak.

10. Gudeg Yu Djum

Setelah lelah berkeliling di sekitar Malioboro, sempatkan diri untuk mampir ke Gudeg Yu Djum. Tentu, kurang lengkap rasanya kalau pergi ke Yogyakarta namun tak mencicipi nikmatnya sepiring gudeg dan sambal krecek.

Nah, salah satu restoran gudeg yang terkenal di Yogyakarta adalah Gudeg Yu Djum. Sepiring gudeg dibanderol mulai dari Rp 20 ribuan saja.

Jangan khawatir kalau penuh, sebab Gudeg Yu Djum memiliki banyak cabang, salah satunya ada di sekitar kawasan Malioboro.

Itu dia 10 tempat wisata sekitar Malioboro yang wajib dikunjungi. Sudah pernah datang ke salah satu tempat wisata di atas belum?

(ilf/inf)



Sumber : travel.detik.com

25 Wisata Yogyakarta Terpopuler dan Direkomendasikan, Ada Kampung Wisata


Jakarta

Wisata Yogyakarta menyimpan kenangan indah yang membuat siapapun ingin kembali dan mengeksplor lebih banyak tempat. Tidak hanya warga lokal, wisatawan mancanegara juga ketagihan berkunjung di kota istimewa ini.

Terdapat berbagai pilihan destinasi di pusat Kota Yogyakarta mulai dari sejarah, budaya, religi, kuliner, hingga berbagai desa wisata. Desa wisata adalah wujud perhatian Dinas Pariwisata setempat untuk menjaga dan mengenalkan tradisi pada masyarakat luas.

Lantas apa saja wisata Yogyakarta terbaik dan populer yang wajib dikunjungi? Berikut rekomendasi yang dikutip dari laman resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.


Rekomendasi Wisata Terbaik dan Populer Yogyakarta

Kota Yogyakarta tidak hanya terkenal sebagai kota pelajar, melainkan juga dengan destinasi yang menarik. Daftar wisata sejarah, budaya, dan edukasi tersedia lengkap sebagai berikut.

1. Keraton Yogyakarta

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah landmark penting dan bersejarah yang wajib dikunjungi di Yogyakarta. Meskipun sudah populer dan mainstream, banyak wawasan tradisi dan sejarah tentang keraton yang bisa dieksplor.

Wisatawan dapat mengetahui seluk beluk kerajaan, koleksi, hingga upacara adat yang masih dipertahankan hingga saat ini. Jika beruntung, detikers dapat melihat langsung pertunjukan seni asli yang tidak bisa ditemukan di tempat wisata lainnya.

Lokasi: Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Kedhaton: Selasa-Minggu (08.00-14.00 WIB)
  • Wahanarata atau Museum Kereta: Selasa-Minggu (09.00-15.00 WIB)
  • Tamansari: Setiap hari (09.00-15.00 WIB).

Harga Tiket:

a. Kedhaton

  • Anak-anak 0-2 tahun: gratis
  • Anak-anak 2-12 tahun (domestik): Rp 10.000
  • Dewasa (domestik): Rp 15.000
  • Anak-anak 2-12 tahun (mancanegara): Rp 20.000
  • Dewasa (mancanegara): Rp 25.000

b. Wahanarata (Museum Kereta)

  • Anak-anak 0-2 tahun: gratis
  • Anak-anak 2-12 tahun (domestik): Rp 15.000
  • Dewasa (domestik): Rp 20.000
  • Anak-anak 2-12 tahun (mancanegara): Rp 25.000
  • Dewasa (mancanegara): Rp 30.000

c. Tamansari

  • Anak-anak 0-2 tahun: gratis
  • Anak-anak 2-12 tahun (domestik): Rp 10.000
  • Dewasa (domestik): Rp 15.000
  • Anak-anak 2-12 tahun (mancanegara): Rp 20.000
  • Dewasa (mancanegara): Rp 25.000.

2. Museum Ulen Sentalu

Museum Ulen Sentalu adalah objek wisata bersejarah yang menawarkan koleksi budaya Jawa dari Kerajaan Mataram di Yogyakarta dan Solo. Museum ini menyimpan gamelan, lukisan, patung, batik, dan syair kuno dari masa lampau.

Wisatawan dapat memilih kategori tur yang akan diikuti selama 45 menit sesuai preferensi yang diinginkan. Tur Adiluhung Mataram mengisahkan seni dan budaya dari 4 keraton di Surakarta dan Yogyakarta. Sedangkan tur Vorstlanden menceritakan masa emas Kasultanan dan akulturasi yang terjadi melalui koleksi masterpiece Museum Ulen Sentalu.

Di sepanjang area ini juga terdapat beberapa destinasi lain seperti Kaliurang Park Botanical Garden, Lavatour Merapi Jogja, dan Taman Gardu Pandang Kaliurang.

Lokasi: Jl. Boyong No.KM 25, Kaliurang, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Selasa-Minggu (08.30-16.00 WIB).

Harga Tiket:

  • Tur Adiluhung Mataram: Rp 50.000
  • Tur Skriptorium: Rp 60.000
  • Tur Vorstenlanden: Rp 100.000
  • Sewa Tour Guide berbahasa Inggris: Rp 100.000.

3. Taman Pintar

Taman Pintar adalah wahana favorit bagi pelajar untuk bermain dan belajar dengan alat peraga yang ada. Lokasinya juga cukup strategis karena berada di dekat Benteng Vredeburg dan Jalan Malioboro.

Dikutip dari laman resminya, Taman Pintar dibangun dekat dengan Taman Budaya, Vredeburg, Gedung Agung, dan Societ Militer untuk memperkenalkan wawasan komplit kepada anak. Tidak hanya diedukasi dari sisi sains, wisata ini juga menjadi paket komplit untuk belajar sejarah dan melatih ketangkasan anak.

Lokasi: Jl. Panembahan Senopati No.1-3, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Senin-Minggu (08.30-16.00)
  • Khusus Simulator Gempa: 10.00-11.00 WIB dan 14.00-15.00 WIB.

Harga Tiket:

  • Gedung Oval Otak (Wahana Peraga Sains dan Teknologi Interaktif): Anak Rp 14.000 dan dewasa Rp 24.000
  • Program Kreativitas Kreasi Gerabah: Rp 15.000
  • Program Kreativitas Lukis Gerabah: Rp 17.000
  • Program Kreativitas Kreasi Batik: Rp 20.000
  • Program Kreativitas Lukis Kaos: Rp 48.000
  • Zona Lalu Lintas: Rp 15.000
  • Planetarium: Rp 13.000
  • Wahana Bahari: Rp 8.000.

4. Jalan Malioboro

Jalan Malioboro adalah destinasi wajib sebelum kembali ke rumah. Pasalnya disini adalah pusat kota yang menyediakan berbagai oleh-oleh dan kuliner khas Jogja.

Wisatawan dapat melihat Kantor Gubernur dan Gedung DPRD DIY dan berkunjung ke Pasar Induk Beringharjo serta Teras Malioboro. Sejak tahun 2022, seluruh pedagang telah ditertibkan dengan rapi dan membuat suasana jalan-jalan detikers semakin nyaman.

Lokasi: Salah satu jalan yang membentang dari Tugu Yogyakarta sampai titik nol kota.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

5. Museum Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg dalah saksi bisu terjadinya penjajahan kolonial Belanda untuk mengawasi area Keraton Yogyakarta. Mereka meletakkan tembak meriam dengan jarak dekat ke arah keraton untuk strategi penyerangan, intimidasi, dan blokade.

Museum ini sempat diambil alih oleh Jepang sebelum direbut instansi militer RI usai proklamasi kemerdekaan. Di dalamnya terdapat museum khusus perjuangan nasional yang menceritakan proses sebelum hingga setelah Indonesia merdeka.

Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Selasa-Kamis dan Sabtu-Minggu: 08.00-15.30 WIB
  • Jumat: 08.00-16.30 WIB
  • Senin: Libur.

Harga Tiket:

  • Anak-anak Rp 2.000
  • Dewasa Rp 3.000.

6. Museum Sonobudoyo

Meskipun terletak di dekat keraton, Museum Sonobudoyo bukan bagian dari Keraton Yogyakarta. Museum untuk pengembangan dan edukasi budaya ini dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.

Wisatawan dapat melihat koleksi geologi, biologi, arkeologi, hingga seni rupa yang berjumlah 62 ribu. Beberapa aktivitas menarik lainnya yang bisa dilakukan seperti menonton pagelaran wayang kulit, wayang orang, wayang topeng panji, dan film dokumenter di hari-hari tertentu.

Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Museum: Selasa-Minggu (08.00-21.00 WIB)
  • Pagelaran Wayang Kulit: Selasa (20.00-21.30 WIB)
  • Pagelaran Wayang Orang: Rabu dan Kamis (20.00-21.15 WIB)
  • Pagelaran Wayang Topeng Panji: Jumat, Sabtu, Minggu (20.00-21.15 WIB)
  • Bioskop Sonobudoyo: Selasa-Minggu (16.00, 17.00, 19.00, dan 20.00 WIB)
  • Workshop Tatah Sungging Wayang: Selasa Wage (16.00-21.00 WIB)
  • Live Music Sonobudoyo: Selasa Wage (16.00-22.30 WIB)
  • Perpustakaan Sonobudoyo: Senin-Kamis (08.00-16.00 WIB) dan Jumat (08.00-14.30 WIB).

Harga Tiket:

  • Anak-anak: Rp 5.000/orang
  • Dewasa: Rp 10.000/orang
  • Wisatawan Mancanegara: Rp 20.000/orang
  • Pagelaran Wayang Kulit: wisatawan domestik Rp 20.000 dan mancanegara Rp 50.000
  • Pagelaran Wayang Orang: wisatawan domestik Rp 20.000 dan mancanegara Rp 50.000
  • Pagelaran Wayang Topeng: wisatawan domestik Rp 20.000 dan mancanegara Rp 50.000.

7. Alun-alun Kidul

Alun-alun kidul adalah surganya kuliner di Yogyakarta yang lengkap dengan tempat bermain anak. Sehingga wisata ini sangat ramah anak dan rombongan keluarga.

Terdapat puluhan penjual kaki lima yang berada di trotoar area Keraton. Konon dua pohon di tengah alun-alun dipercaya mampu mengabulkan keinginan wisatawan yang berhasil melewatinya tanpa melenceng dengan penutup mata.

Lokasi: Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

8. Masjid Gede Kauman

Masjid Raya Yogyakarta atau Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman adalah bagian dari perkembangan islam di masa Kesultanan Yogyakarta. Masjid ini dibangun 29 Mei 1773 Masehi oleh Sri Sultah Hamengku Buwono I dan Sang Penghulu Keraton, Kyai Fakih Ibrahim Diponingrat.

Arsitektur Masjid Gedhe Kauman mengadopsi gaya Masjid Demak dengan 4 pilar utama sebagai saka guru. Setiap elemen bangunan memiliki makna filosofis tentang ilmu tasawuf dan iman kepada Allah SWT. Hingga saat ini, masjid tersebut masih digunakan untuk beberapa acara islam yang diadakan keraton dan dibuka untuk jamaah umum.

Lokasi: Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

9. Jelajah Kota Baru (Nieuwe Wijk)

Jelajah Kota Baru adalah kawasan perkampungan Eropa yang telah bercampur dengan arsitektur lokal. Wisata ini berkembang di sebelah timur Benteng Vedreburg dan Bintaran yang awalnya merupakan hunian kolonial.

Di sini, terdapat tanaman buah dan pohon-pohon besar di ruas jalan yang membuatnya semakin asri. Beberapa bangunan otentik dan klasik disini dapat menjadi spot Instagrammable yang patut diabadikan. Mulai dari RS DKT Dr. Soetarto, RS Bethesda, SMK Bopkri 1 Yogyakarta, Gereja Katholik Santo Antonius Kotabaru, Gedung RRI Yogyakarta, dan masih banyak lainnya.

Lokasi: Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

10. Kampung Wisata Yogyakarta

Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta mendirikan 24 Kampung Wisata untuk melestarikan budaya. Bahkan beberapa kegiatan dilakukan untuk memenuhi acara tahunan di kancah dunia.

Terdapat berbagai aktivitas menarik di bidang edukasi dan praktik tentang sosial dan budaya di Kota Yogyakarta. Beberapa kampung wisata lain juga menghadirkan wisata sejarah, religi, dan agrowisata dengan pengalaman luar biasa.

Umumnya paket wisata dibanderol mulai Rp 100.000-an dengan tiket reservasi via laman kampungwisata.jogjakarta.go.id. Berikut beberapa daftar Kampung Wisata di Yogyakarta.

11. Tebing Breksi

Tebing Breksi adalah wisata alam dan budaya yang estetik untuk dikunjungi. Bekas penambangan batu alam ini sempat ditutup tahun 2014 karena aktivitas vulkanis dari Gunung Api Nglanggeran.

Di puncak tebing ini, wisatawan dapat melihat keindahan Kota Yogyakarta dan relief indah dari seniman lokal. Jika beruntung, detikers juga berkesempatan menonton pertunjukan musik dan menyewa Jeep.

Lokasi: Jl. Desa Lengkong, RT.02/RW.17, Gn. Sari, Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (06.00-21.00 WIB).

Harga Tiket:

  • Wisatawan domestik: Rp 10.000
  • Wisatawan mancanegara: Rp 20.000.

12. Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko merupakan runtuhan kerajaan atau Keraton Boko yang berada di ketinggian 195,97 meter diatas permukaan laut. Bagian candi sangat cantik dengan menggabungkan aksen Hindu dan Budha.

Terdapat prasasti berusia 792 M bernama Prasasti Abhayagiriwihara. Candi Ratu Boko sangat menarik untuk dikunjungi karena terdiri dari Candi Batukapur, Candi PemBokoran, Paseban, Pendapa, Keputren, dan gua. Bahkan sejak di gerbang wisatawan telah dimanjakan dengan keindahannya.

Lokasi: Jl. Raya Piyungan-Prambanan No.2, Gatak, Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (07.00-17.00 WIB).

Harga Tiket:

  • Anak-anak (3-10 tahun): Rp 20.000
  • Wisatawan domestik: Rp 40.000
  • Wisatawan mancanegara: 362.500.

13. Wisata Alam Pinus Pengger

Hutan alam Pinus Pengger cocok untuk seseorang yang sedang ingin menenangkan pikiran. Sejuknya pepohonan rindang menyediakan oksigen segar yang tidak bisa ditemukan di kota.

Wisata alam ini sangat cantik ketika malam hari karena wisatawan dapat melihat bintang secara jelas. Beberapa spot foto Instagramable tersedia seperti Panca Wara, jembatan, akar melingkar, dan lain-lain dengan membayar harga sewa. Objek wisata disini juga masih asri karena terdapat banyak jenis flora dan fauna di dalamnya.

Lokasi: Jl. Dlingo-Patuk, Sendangsari, Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul.

Jam Operasional: Setiap hari (08.00-21.00 WIB).

Harga Tiket: Rp 3.000/orang.

14. Candi Prambanan

Candi Prambanan adalah candi hindu terbesar di Indonesia yang cocok sebagai wisata edukasi anak. Banyak spot estetik dari candi yang bisa diabadikan di media sosial.

Pada hari tertentu, wisatawan dapat menyaksikan pertunjukan Sendratari Ramayana dan Roro Jonggrang dengan membeli tiket tambahan. Tiket dapat dibeli secara online maupun offline dengan harga bervariasi tergantung kelas yang dipilih. Harga yang dipatok untuk sendratari sekitar Rp 200.000-Rp 450.000.

Lokasi: Jl. Raya Solo-Yogyakarta No.16, Kranggan, Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (06.30-17.00 WIB).

Harga Tiket:

  • Anak-anak (domestik): Rp 25.000/orang
  • Dewasa (domestik berusia lebih dari 10 tahun): Rp 50.000/orang
  • Anak-anak (mancanegara): Rp 240.000/orang
  • Dewasa (mancanegara berusia lebih dari 10 tahun): Rp 400.000/orang.

15. Kebun Binatang Gembira Loka

Kebun Binatang Gembira Loka menjadi wisata edukasi untuk anak dan keluarga untuk mengenal flora dan fauna lebih dekat. Terdapat pengelompokan hewan di sini mulai dari zona burung, cakar, mamalia, petting zoo, primata, dan reptil.

Anak-anak dapat memberi makan hewan-hewan tertentu yang akan memberikan kesan dan pengalaman tersendiri saat dewasa. Tersedia juga toko suvenir, wahana edukasi mamalia dan aves, serta tracking untuk olahraga yang sejuk dan menyegarkan.

Lokasi: Jl. Kebun Raya No.2, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 08.30-16.00 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Libur Nasional: 08.00-16.00 WIB.

Harga Tiket:

  • Weekday: Rp 60.000/orang
  • Weekend: Rp 75.000/orang.

16. Pantai Krakal

Pantai pasir putih ini cocok untuk bersantai dan bermain pasir untuk anak-anak. Pantai Krakal memiliki pesona batu karang yang indah sebagai pembatas dengan pantai lainnya.

Wisatawan dilarang bermain air terlalu jauh karena ombaknya yang cukup kencang. Namun wisatawan masih bisa menikmati kuliner dan pemandangana matahari terbit serta tenggelam.

Lokasi: Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket:

  • Weekday: Rp 7.000/orang
  • Weekend: Rp 10.000/orang.

17. Pantai Kukup

Pantai Kukup cocok untuk wisatawan yang ingin bermain air karena daerah lautnya yang dangkal. Jernihnya air laut dan putihnya pasir pantai membuat biota laut seperti kerang terlihat jelas dari atas.

Wisatawan dapat menyebrangi jembatan untuk sampai di pulau karang bernama Jumino yang indah. Terdapat gua karang besar yang digunakan untuk berteduh di bawah teriknya matahari.

Lokasi: Ngepung, Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Rp 10.000/orang.

18. Pantai Baron

Pantai Baron terkenal dengan suasananya yang sejuk karena hembusan angin dan pohon tinggi di sekelilingnya. Uniknya, pantai ini diapit oleh dua bukit karang yang membuatnya estetik.

Daya tarik lain yang ada yaitu aliran sungai yang cukup deras di sisi barat pantai. Wisatawan dapat melihat seluruh pantai dari atas mercusuar hanya dengan membayar tiket Rp 5.000/orang.

Lokasi: Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Rp 15.000/orang.

19. Heha Sky View

Heha Sky View menawarkan spot foto estetik atau sekadar kulineran dengan pemandangan cantik Kota Yogyakarta. Tempat wisata ini mmeiliki berbagai spot menarik seperti Sky Glass, Wall Climbing, Sky Baloon, Heha Aeroplane, Reflecting Pool, dan Selfie Garden. Wisatawan harus membayar biaya sewa untuk berfoto di spot tersebut mulai dari Ro 10.000-Rp 30.000/ orang.

Lokasi: Jl. Dlingo-Patuk No.2, Patuk, Bukit, Kec. Patuk, Kabupaten Gunung Kidul.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 10.00-21.00 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Hari Libur Nasional: 08.00-21.00 WIB

Harga Tiket: Rp 20.000/orang.

20. Heha Ocean View

Heha Ocean View adalah spot untuk melihat keindahan laut Yogyakarta dengan spot tinggi di atas karang. Berbeda dengan akses Heha Sky View yang mudah, disini pengunjung harus mendaki cukup jauh untuk sampai puncak.

Namun pemandangan diatas tidak pernah gagal untuk memuaskan dan melepaskan penat para pengunjungnya. Tiket masuk akan lebih hemat ketika detikers membeli paket kunjungan untuk Heha Ocean View dan Heha Sky View yaitu Rp 25.000/orang. Spot foto disini juga terbilang lebih beragam dengan patokan harga yang masih sama.

Lokasi: Bolang, Girikarto, Panggang, Kabupaten Gunungkidul.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 10.00-21.00 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Hari Libur Nasional: 08.00-21.00 WIB.

Harga Tiket: Rp 20.000/orang.

21. Tugu Jogja

Landmark Jogja lainnya ini tidak boleh terlewat untuk dikunjungi. Berada tepat di tengah kota, keindahan Tugu Jogja bisa dinikmati pada malam hari sambil ngopi di beberapa cafe sebrangnya. Detikers dapat mengambil foto dari atas gedung sehingga tampak keindahan Kota Yogyakarta secara menyeluruh.

Lokasi: Jl. Jend. Sudirman, Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Gratis.

22. Obelix Hiils

Obelix Hills menjadi tempat nongkrong Gen Z yang estetik dan dapat menyegarkan pikiran. Pasalnya wisatawan dapat menikmati kuliner dengan pemandangan perbukitan yang hijau di sekelilingnya.

Terdapat live music setiap malam hari yang menambah suasana semakin syahdu. Terdapat beberapa spot foto berbayar mulai dari Rp 15.000-Rp 30.000 dengan menawarkan berbagai angle yang estetik. Misalnya Single Swing, Double Swing, Eagle Nest, dan Skywalk.

Lokasi: Dusun Klumprit I-II, Wukiharjo, Kapanewon, Prambanan, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional:

  • Senin-Jumat: 10.00-21.00 WIB
  • Sabtu-Minggu dan Hari Libur Nasional: 07.00-21.00 WIB.

Harga Tiket:

  • Weekday: Rp 20.000/orang
  • Weekend: Rp 25.000/orang.

23. Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis menjadi destinasi terdekat dari Kota Yogyakarta yang dapat dikunjungi 24 jam. Wisatawan dapat menikmati sunrise, sunset, atau sejuknya deburan pantai di malam hari disini.

Aktivitas menarik di siang hari yang dapat dilakukan seperti naik andong, ATV, maupun bermain di gumuk pasir. Wisatawan juga bisa mengabadikan momen di setiap sudut yang cantik dan menikmati olahan seafood khas pantai di Bantul.

Lokasi: Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul.

Jam Operasional: Setiap hari 24 jam.

Harga Tiket: Rp 15.000/orang.

24. Taman Nasional Gunung Merapi

Taman Nasional Gunung Merapi adalah objek wisata alam sekaligus sejarah dengan keberadaan museum di dalamnya. Wisatawan yang hobi menjelajah dan memacu adrenalin dapat menikmati aktivitas seru di dalamnya.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan seperti trekking, mengunjungi museum, maupun sekedar berfoto di area Bunker Kaliadem. Umumnya wisatawan akan membeli paket Lava Tour yang berada di kisaran Rp 450.000/orang untuk mengelilingi seluruh area.

Lokasi: Jl. Kaliurang KM 22,6, Hargobinangun, Pakem, Area Hutan, Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (09.00-15.00 WIB).

Harga Tiket: Rp 5.000/orang.

25. Jogja Bay Waterpark

Jogja Bay Waterpark adalah wisata air terbesar di Asia Tenggara yang diresmikan langsung oleh Sri SUltan Hamengkubuwono X. Destinasi ini cocok untuk rekreasi keluarga karena memiliki 19 wahana di dalamnya.

Tidak hanya berenang dan bermain air, anak-anak juga bisa menikmati wahana lainnya yang tidak kalah asyik seperti roller coaster mini dan museum air. Berbagai fasilitas juga tersedia sehingga membuat siapapun yang berkunjung merasa puas.

Lokasi: Jl. Utara Stadion, Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.

Jam Operasional: Setiap hari (09.00-16.00 WIB) .

Harga Tiket:

  • Dewasa (Senin-Jumat): Rp 90.000
  • Anak-anak (Senin-Jumat): Rp 60.000
  • Dewasa (Sabtu-Minggu): Rp 100.000
  • Anak-anak (Sabtu-Minggu): Rp 75.000
  • Anak usia 0-2 tahun: gratis
  • Orang tua berusia lebih dari 65 tahun: Rp 60.000.

Lokasi wisata Yogyakarta dalam tulisan ini tidak hanya meliputi kota, namun juga area provinsi. Tentunya masih banyak lokasi wisata lain di Yogyakarta yang bisa dikunjungi selama musim liburan.

Sebelum berkunjung, pastikan detikers telah update informasi destinasi wisata lebih dulu. Informasi terbaru membantu detikers bisa berwisata dengan aman dan nyaman.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cuma Bayar Parkir, Situs Warungboto Sungguh Instagramable



Yogayakarta

Keraton Jogja memiliki beberapa peninggalan lawas berusia ratusan tahun, salah satunya Pesanggrahan Rejawinangun atau Situs Warungboto. Bangunannya unik dan menawan.

Meski tidak sepopuler Taman Sari, bangunan Situs Warungboto justru memiliki poin plus tidak terlalu ramai pengunjung. Selain itu, fasadnya amat mencolok dengan corak khas terbuat dari batu bata tanpa struktur kayu.

Diperkirakan Situs Warungboto telah ada sejak tahun 1785 M dan menjadi salah satu karya Putra Mahkota KGPAA Hamengkunegara, yang kelak pada tahun 1792 naik tahta bergelar Sri Sultan Hamengku Buwana II.


Situs Warungboto berada di Kalurahan Rejowinangun di Kemantren Kotagede dan Kalurahan Warungboto di Kemantrén Umbulharjo. Jaraknya sekitar 4,6 km dari Taman Sari.

Kini, untuk masuk ke situs pengunjung tidak dikenai biaya sama sekali. Pengunjung cukup membayar parkir yang dikelola oleh warga sekitar. Selain itu, ada kotak sukarela yang digunakan sebagai biaya pembersihan dan pemeliharaan.

Saat ini, masih ada penggalian sejumlah di Situs Warungboto yang masih terpendam. Selain itu, ada perbaikan pada jalur yang akan dilewati pengunjung. Meski demikian, situs ini masih tetap beroperasi dan bisa dikunjungi seperti biasa.

“Nggak nentu, paling rame sehari bisa 50 kendaraan,” kata Sartono (69), pengelola parkir Situs Warungboto, terkait jumlah pengunjung berdasarkan kendaraan yang parkir di sana.

Pesanggrahan merupakan kawasan yang dibangun sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan pada zaman dulu. Situs Warungboto itu dulu adalah kolam pemandian yang di tengahnya terdapat sumber mata air. Salah satu buktinya adalah ditemukannya sebuah mata air yang disebut “tuk umbul”.

Dikutip dari situs pariwisata jogjakota, layaknya tempat beristirahat bagi keluarga, Pesanggrahan Warungboto dilengkapi dengan taman, segaran, kolam, dan kebun di sisi timur. Sementara itu, di sisi barat merupakan kompleks bangunan berkamar dan dua kolam pemandian.

Saat dikunjungi detikTravel, pada bagian kolam yang kering, tidak ada air sama sekali. Sejauh mata memandang masih berdiri kokoh tembok-tembok situs yang terbuat dari batu bata tanpa struktur kayu.

Situs itu berdiri tanpa atap dan bersebelahan dengan kompleks pemukiman warga. Sisi timurnya berbatasan dengan Sungai Gajah Wong, dan sisi barat berbatasan dengan Jalan Veteran Yogyakarta.

Lokasinya secara administratif berada di perbatasan antara Kelurahan Rejawinangun, Kecamatan Kotagede dan Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharja. Untuk menuju kemari butuh waktu sekitar 15 menit dari Tugu Yogyakarta.

Situs Warungboto dikelola sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. Tidak seperti tempat wisata pada umumnya, situs ini tutup saat hari Minggu dan hari libur nasional. DIbuka Senin sampai Jumat pukul 07.30-16.00, serta hari Sabtu pukul 07.30-12.30.

Waktu terbaik ketika mengunjunginya adalah saat pagi atau sore hari ketika matahari belum di atas kepala. Di sini traveler dapat mengamati langsung sisa sisa peninggalan kerajaan zaman dahulu sebagai upaya pelestarian budaya Jogja.

Aktivitas lain yang dapat dilakukan yakni berfoto ria. Setiap sudutnya estetik dengan dominasi warna coklat kekuningan. Serta beberapa corak lumut dan retakan kecil yang memvisualisasikan jejak waktunya. Ada sejumlah tangga yang akan mengantarkan ke atap bangunan. Dari sana, traveler dapat melihat situs secara jelas dari atas.

Cahaya matahari menjadi lighting alami karena bangunannya yang berdiri tanpa atap. Disarankan jika traveler ke sini, jangan lupa membawa kipas tangan atau payung terutama saat siang hari.

Untuk pengambilan foto dan video dengan tujuan khusus seperti pre-wedding atau penelitian ilmiah yang menggunakan kamera atau drone, wajib mengajukan permohonan izin ke Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X maksimal tiga hari sebelum berkegiatan.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com