Tag Archives: wonosobo

Misteri Telaga Warna dan Mitos Dieng yang Masih Dipercaya


Jakarta

Telaga Warna dan Dieng menyimpan misteri yang masih banyak dipercaya masyarakat. Inilah misteri Telaga Warna dan mitos-mitos yang ada di Dieng.

Telaga Warna di Dataran Tinggi Dieng adalah salah satu tempat wisata menarik di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dinamakan demikian karena warna telaga ini bisa berubah ubah, dari warna hijau, kuning, hingga pelangi.

Di balik keindahannya, ada misteri Telaga Warna dan mitos-mitos tentang Dieng yang masih banyak dipercaya oleh sejumlah masyarakat. Hal ini termasuk asal-usul, tempat keramat, hingga tradisi adat yang masih dijalankan.


Misteri Telaga Warna dan Asal-usulnya

Ada sejumlah versi cerita rakyat mengenai asal-usul Telaga Warna ini. Sebagian masyarakat mempercayainya dan sebagian menganggapnya sebagai dongeng belaka.

Berikut ini beberapa cerita mengenai misteri Telaga Warna dan penjelasan ilmiahnya:

1. Pakaian Ratu dan Putri

Perubahan warna pada Telaga Warna diyakini berasal dari pakaian ratu dan putri.

Suatu hari, seorang putri dan ratu mandi di sebuah telaga. Setelah melepas dan menggantung pakaiannya di pohon, tiba-tiba angin kencang menerbangkan pakaian mereka ke telaga.

Kemudian warna air telaga berubah sesuai dengan warna pakaian yang dikenakan sang ratu dan putri.

2. Cincin Bangsawan

Legenda lain mengisahkan sebuah cincin bangsawan yang menyebabkan air Telaga Warna berubah warnanya.

Suatu hari, cincin bangsawan tersebut jatuh ke dalam telaga. Konon, cincin tersebut sangat sakti sehingga bisa membuat warna air telaga berubah-ubah.

3. Kalung Putri Raja

Ada juga kisah tentang kalung putri raja yang membuat warna telaga berubah-ubah. Kisah ini sering dipentaskan dalam drama Telaga Warna.

Kisahnya tentang Putri Gilang Rukmini yang diberikan hadiah kalung untuk ulang tahunnya yang ke-17. Akan tetapi sang putri menolak dan membuang kalungnya.

Tingkah laku Putri Gilang Rukmini ini membuat permaisuri dan rakyat menangis. Bersamaan dengan peristiwa ini, tiba tiba muncul mata air yang tiada henti hingga menenggelamkan kerajaan. Warna di telaga ini pun berubah-ubah karena pantulan dari permata kalung sang putri.

4. Cupumanik Astagina

Masyarakat juga ada yang mengaitkan Telaga Warna dengan kisah Karmapala tentang Cupumanik Astagina, pusaka milik Batara Surya yang diberikan kepada Dewi Indradi. Namun, Dewi Indradi menunggu pujaan hatinya, Resi Gotama, yang sedang berperang memperebutkan dirinya.

Kemudian Batara Surya menyamar menjadi Resi Gotama dan memadu kasih dengan Dewi Indradi. Setelah menunjukkan wujud aslinya, Batara Surya memberikan cupumanik itu kepada Dewi Indradi.

Cupumanik itu disimpan oleh Dewi Indradi. Dewi Indradi lalu menikah dengan Resi Gotama dan melahirkan tiga orang anak, yaitu Dewi Anjani, Subali, dan Sugriwa. Namun keberadaan cupumanik itu diketahui Resi Gotama dan akhirnya dibuang.

Cupumanik itu jatuh terpisah di dua telaga, yaitu telaga Sumala dan Telaga Nirmala. Perubahan warna di Telaga Warna diyakini karena tumpahan dari isi pusaka tersebut.

5. Penjelasan Ilmiah

Secara ilmiah, perubahan warna telaga tersebut terjadi karena kandungan sulfur atau belerang yang cukup banyak di dalam telaga. Saat sinar matahari mengenai telaga, maka warna permukaan air akan tampak berwarna warni.

Mitos-mitos dan Misteri Dieng

Berikut ini sejumlah mitos dan misteri terkait Dataran Tinggi Dieng:

1. Gunung Kosmik

Dikutip dari buku Dieng: Data Geografis dan Wacana Umum (2021) oleh Otto Sukatno, Dieng diyakini sebagai gunung kosmik atau gunung primordial di masa purba. Tinggi gunung ini tidak terkira besarnya.

Akibat proses geologis dan vulkanologis, gunung itu terpenggal. Sisa-sisa penggalan itu membentuk Dataran Tinggi Dieng. Dataran tinggi ini sangat luas hingga muncul banyak puncak bukit dan puncak gunung di sekeliling Dieng.

2. Makhluk Penjaga Hutan Telaga Warna

Di sekitar Telaga Warna terdapat hutan yang masih dianggap keramat. Dikutip dari buku Bawana Winasis Dieng: Budaya Tak Terkatakan (2021) terbitan Kemdikbud, ada makhluk penjaga hutan bernama Kebondaru berbentuk kerbau dengan telinga yang menjalar ke bawah dengan badan dan tanduk yang besar.

Hutan ini merepresentasikan jagad alam tempat sumber air, makanan, dan sumber penghidupan lainnya. Kepercayaan ini membuat warga tetap melestarikan dan menjaga hutan dari perusakan oleh manusia.

3. Candi Tertua di Jawa

Berdasarkan situs indonesia.go.id, Dieng juga menyisakan misteri adanya candi yang diyakini sebagai candi tertua di Jawa, sedikit lebih tua dari Kompleks Candi Gedong Songo di Gunung Ungaran dan lebih tua dari Borobudur.

Tidak banyak prasasti yang ditemukan di sini. Satu-satunya prasasti adalah yang ditemukan di dekat Candi Arjuna. Disebutkan bangunan candi ini dibuat tahun 808-809 M. Namun, siapa yang membangun candi ini masih belum terungkap.

Awalnya diperkirakan ada puluhan bahkan mungkin mencapai 100 candi. Karena banyak peristiwa alam, candi yang ditemukan hanya tersisa 8 buah ketika ditemukan pada awal 1800-an. Pemerintah Hindia Belanda lalu merekonstruksi bangunan tersebut.

4. Banyak Gua Keramat

Ada banyak gua keramat di kawasan Dieng, seperti Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur, dan Gua Penganten yang berada di dekat Telaga Warna.

Gua Semar dipercaya sebagai tempat paling keramat. Konon, tempat ini digunakan raja-raja Jawa terdahulu untuk bersemedi dan mendapatkan wahyu.

Ada juga Gua Jaran yang konon dijaga oleh seorang resi bernama Kendali Seto (penunggang kuda putih). Gua ini sering jadi tempat tujuan ziarah pasangan yang kesulitan memiliki keturunan.

Gua Pengantin juga dipercayai masyarakat sebagai tempat keramat bagi pasangan yang ingin menikah.

5. Sumber Mata Air Suci

Banyak pula sumber mata air di Dieng yang dianggap keramat dan suci oleh masyarakat. Sumber mata air ini berwujud tuk, sendang, sungai, sumur, atau telaga.

Salah satunya adalah Tuk Bimo Lukar yang merupakan tempat penyucian diri yang telah ada sejak dibangunnya candi-candi di Dieng. Tuk Bimo Lukar ditemukan setelah dilakukan babad alas Dieng.

Tumenggung Kolodete saat itu membuka kembali dan bertapa di sana. Dari pertapaan itu, ia menemukan tujuh tuk lainnya.

Tuk Bimo Lukar juga menjadi tempat penyelenggaraan acara paling besar, yaitu ruwat desa atau bersih-bersih desa. Biasanya warga Dieng yang berada di luar daerah atau merantau ikut pulang kampung untuk merayakannya.

6. Ruwatan Rambut Gimbal

Di Dieng terdapat ritual yang wajib dilakukan yaitu ruwat rambut gembel. Tradisi ini adalah mencukur rambut anak berambut gembel yang dilakukan setahun sekali. Dalam ritual ini, orang tua harus memberikan hadiah sesuai permintaan anak.

Pencukuran rambut gembel dulunya dilakukan berkeliling desa. Tapi kini pencukuran rambut dilakukan di pelataran Candi Arjuna bersamaan dengan acara Dieng Culture Festival.

Anak rambut gembel diyakini sebagai simbol keberkahan yang tak ternilai harganya. Munculnya anak rambut gembel bermula dari adanya anak yang demam tinggi hingga berhari-hari. Kemudian rambut si anak gimbal dengan sendirinya.

Setelah si anak sembuh, orang tuanya membiarkan rambut anak tersebut panjang sampai si anak meminta sendiri agar rambutnya dicukur.

Nah detikers, itulah tadi aneka misteri Telaga Warna dan mitos-mitos Dieng yang masih dipercaya hingga sekarang oleh sebagian orang.

(bai/inf)



Sumber : travel.detik.com

Wonosobo Memang Kota Dingin, tapi Air di Masjid Ini Hangat Alami



Wonosobo

Salah satunya adalah Masjid Jawahirul Akbar yang berada di Kelurahan Kalianget, Kecamatan Wonosobo punya fasilitas air wudu yang hangat dan alami 24 jam nonstop. Tentu ini jadi daya tarik di Kota Dingin Wonosobo.

Masjid yang berada di jalur utama Wonosobo-Dieng ini pun selalu ramai dikunjungi wisatawan terutama saat akhir pekan.

“Banyak orang yang salat di sini apalagi masjid ini di jalur wisata Dieng. Utamanya Jumat sampai Minggu. Tetapi ada juga yang sebenarnya tidak satu arah tetapi menyempatkan. Seperti kalau ke Semarang dan Jogja itu kan tidak searah tapi banyak yang mampir ke masjid sini,” ujar Takmir Masjid Jawahirul Akbar, Ahmad Ridho saat ditemui di lokasi, Rabu (20/3/2024).


Selain terdapat fasilitas air wudu hangat alami, juga ada kamar mandi dan bak air hangat yang bisa digunakan untuk berendam. Biasanya bak air hangat ini dimanfaatkan orang untuk menghilangkan rasa lelah dari perjalanan.

“Selain ada keran air wudu yang hangat juga ada kamar mandi dan juga bak untuk berendam. Semua airnya juga hangat. Jadi kalau orang yang lagi perjalanan biasa istirahat di sini berendam untuk melepas lelah,” sambungnya.

Masjid Jawahirul Akbar WonosoboMasjid Jawahirul Akbar Wonosobo Foto: Uje Hartono/detikJateng

Masjid dua lantai dengan kapasitas sekitar 800 jemaah ini sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 2010 lalu, masjid ini dipugar dan dibangun kembali dengan arsitektur yang lebih modern.

“Masjid ini sudah ada sejak zaman Belanda. Dibangun oleh salah satu tokoh ulama yang ada di Kelurahan Kalianget. Kemudian tahun 2010 ada pemugaran,” terangnya.

Sedangkan untuk fasilitas air hangat, baru tersedia mulai tahun 2014. Air hangat alami ini muncul dari sumber mata air hangat yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari masjid. Ridho menjelaskan jika di Kelurahan Kalianget banyak terdapat sumber mata air hangat di area persawahan.

“Di sini memang banyak dijumpai mata air hangat dengan skala kecil di area persawahan warga. Kemudian ada pengeboran dari pihak swasta untuk mencari sumber air, tapi ternyata muncul air panas. Kemudian warga meminta untuk dialirkan ke masjid,” jelasnya.

Ia mengatakan air hangat yang ada di Masjid Jawahirul Akbar ini aman untuk digunakan. Suhunya sudah turun jika dibandingkan pada titik mata airnya langsung.

“Kalau di sumbernya bisa mencapai 70 derajat, tapi di sini hanya 30 derajat. Jadi aman digunakan selama tidak dikonsumsi,” kata dia.

Ridho menambahkan, layaknya masjid pada umumnya, tidak ada biaya untuk beribadah atau beristirahat di Masjid Jawahirul Akbar. Termasuk jika mandi atau berendam air hangat.

“Kalau biaya tidak ada, ini gratis. Hanya memang ada infak itu pun sifatnya seikhlasnya,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang di detikjateng

(sym/sym)



Sumber : travel.detik.com

Semarang-Dieng Berapa Jam Naik Motor? Ini Rutenya


Jakarta

Dieng menjadi salah satu destinasi wisata favorit banyak turis. Daerah yang dijuluki sebagai “Negeri di Atas Awan” ini memang selalu memikat perhatian banyak wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dieng menawarkan pemandangan pegunungan dengan udara sejuk, komplek candi, hingga telaga yang indah. Alhasil, banyak wisatawan dari berbagai daerah yang datang ke sini, seperti dari Semarang.

Dieng bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan pribadi, seperti mobil atau sepeda motor. Namun, perjalanan dari kota Semarang menuju Dieng terbilang cukup jauh.


Berniat ingin pergi ke Dieng dari Semarang menggunakan motor atau mobil? Jika iya, simak dulu rute dan waktu tempuh perjalanannya dalam artikel ini.

Rute Semarang-Dieng dengan Kendaraan Pribadi

Meski sama-sama di Jawa Tengah, namun perjalanan dari Semarang menuju Dieng terbilang cukup jauh. Belum lagi selama di tengah perjalanan travelers harus menepi sejenak untuk istirahat dan makan, tentu waktu perjalanannya bisa semakin lama.

Namun, jika travelers ingin jalan-jalan santai dari Semarang ke Dieng menggunakan kendaraan pribadi, bisa banget kok. Cek dulu rute perjalanannya di bawah ini:

Rute Semarang-Dieng Naik Motor

Dari pantauan Google Maps, setidaknya ada tiga rute yang bisa dipilih dari Semarang-Dieng menggunakan sepeda motor, yakni via Jalan Raya Pantura, via Ngalian Kendal, atau via jalan Patean-Boja.

Jika melalui Jalan Raya Pantura, jarak tempuhnya sekitar 92,5 kilometer. Lantas, Semarang-Dieng berapa jam naik motor dengan rute ini? Waktu yang ditempuh sekitar 2,5 jam.

Opsi kedua adalah via Ngalian Kendal, namun rutenya sedikit lebih jauh yakni 93,5 kilometer. Untuk waktu perjalanannya memakan waktu sekitar 3 jam.

Rute terakhir yang bisa dipilih yaitu via Jalan Patean-Boja dengan jarak tempuh sekitar 95 kilometer. Waktu perjalanan yang ditempuh dengan menggunakan motor sekitar 3 jam.

Menurut Google Maps, rute yang direkomendasikan adalah via Jalan Raya Pantura. Namun, tak ada salahnya jika travelers memilih rute yang lain.

Rute Semarang-Dieng Naik Mobil

Apabila travelers menggunakan mobil, ada tiga rute dari Semarang-Dieng yang bisa dipilih, yaitu via Jalan Tol Semarang-Batang, via Jalan Patean-Boja, dan via Jalan Sukorejo-Parakan.

Rute yang pertama terbilang lebih cepat karena detikers akan melalui Jalan Tol Semarang-Batang. Jarak tempuhnya sekitar 91 kilometer dengan waktu perjalanan kurang lebih 2,5 jam.

Apabila tak ingin melalui jalan tol dan ingin menikmati suasana pegunungan, detikers bisa memilih opsi kedua yakni Jalan Patean-Boja. Meski begitu, waktu yang ditempuh jauh lebih lama yakni sekitar 3,5 jam.

Rute ketiga yakni melalui Jalan Sukorejo-Parakan. Waktu perjalanannya sekitar 3 jam dengan total jarak mencapai 110 kilometer. Kalau memilih rute ini sebaiknya travelers memiliki sopir kedua, sehingga bisa bergantian kalau sudah merasa lelah.

Naik Transportasi Umum dari Semarang ke Dieng

Jika tak mau repot-repot mengendarai mobil atau motor, detikers bisa menggunakan transportasi umum seperti bus atau mobil travel dari Semarang ke Dieng. Namun, kamu tidak akan langsung sampai di Dieng, tetapi turun di kota Wonosobo.

Dari pantauan sejumlah situs travel agen online, kamu bisa menggunakan mobil travel dari Semarang ke Wonosobo dengan tarif mulai dari Rp 100.000 per orang. Opsi lainnya adalah menggunakan bus rute Semarang-Wonosobo dengan harga tiket mulai dari Rp 70.000 per orang.

Itu dia penjelasan mengenai rute Semarang-Dieng naik motor atau mobil serta total jarak dan waktu tempuhnya. Semoga artikel ini dapat membantu detikers.

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

9 Fakta Menarik Dieng, Negeri Para Dewa-Tempat Anak Bajang


Jakarta

Dataran tinggi Dieng termasuk destinasi primadona banyak wisatawan. Alamnya yang memukau bikin siapa saja yang berkunjung jatuh hati.

Jajaran perbukitan yang membentang sepanjang sisi utara dan selatan, danau yang menawan, hingga view sunrise yang elok akan menyambut para pelancong. Budaya lokalnya yang lestari juga menjadikan Dieng semakin memikat.

Tertarik berkunjung ke dataran tinggi satu ini? Simak dulu deretan fakta atau keistimewaan Dieng berikut.


Fakta Menarik Dataran Tinggi Dieng

Mulai dari lokasinya yang berada di dua kabupaten, wilayahnya ‘dituruni’ salju, hingga sederet julukan, berikut daftar fakta unik Dieng, dikutip dari pemberitaan detikcom dan laman Desa Dieng Kejajar:

1. Terletak di Dua Kabupaten

Meski dikenal berada di Wonosobo, sebagian kawasan Dieng sebetulnya juga masuk ke wilayah Banjarnegara. Keduanya merupakan kabupaten di Jawa Tengah. Bagian barat Dieng terletak di Banjarnegara dan bagian timurnya di Wonosobo.

2. Dikelilingi Pegunungan

Pemandangan alam di Dieng, dataran tinggi yang terletak antara Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah menakjubkan. Belum lagi aneka peninggalan bersejarah seperti candi di Dieng ini menjadi daya tarik tersendiri.Deretan pegunungan di Dieng, dataran tinggi yang terletak antara Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. (Arbi Anugrah)

Penamaan Dieng kerap disandingkan dengan sebutan ‘dataran tinggi’ sebab topografinya yang pegunungan. Kawasan itu dikelilingi oleh Gunung Prau, Pangonan, dan Pakuwojo. Lokasinya juga berdekatan dengan si kembar Gunung Sindoro dan Sumbing.

3. Tempat ‘Bersemayamnya’ Para Dewa

Nama Dieng berasal dari bahasa Sanskerta ‘Die Hieyang’ yang artinya indah dan langka. Dieng juga terdiri dari dua suku kata; ‘Di’ dan ‘Hyang’. ‘Di’ memiliki arti gunung atau tempat tinggi, dan ‘Hyang’ diartikan sebagai dewa-dewi atau ruh leluhur. Secara harfiah, nama Dieng berarti pegunungan atau tempat persemayaman para dewa.

4. Dijuluki ‘Negeri di Atas Awan’

Kawasan Dieng berada di ketinggian rata-rata 2.090 mdpl (meter di atas permukaan laut). Lokasinya juga dikelilingi pegunungan yang membuat pemandangan samudra awan tak jarang ditemukan, bahkan terlihat jelas oleh mata. Oleh karena itu, dataran tinggi Dieng kerap disebut ‘Negeri di Atas Awan’.

5. Ada Desa Tertinggi di Pulau Jawa

Di Dieng ada Desa Sembungan yang disebut sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa. Berada di ketinggian 2.300 mdpl, desa ini menawarkan panorama menawan dengan hamparan sawah berundak dan latar perbukitan hijau yang diselimuti kesejukan udara pegunungan. Pesonanya yang memikat berhasil menyabet gelar salah satu Desa Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

6. Wilayah ‘Bersalju’

Kain lap diletakkan di kompleks Candi Arjuna, Dieng, berubah menjadi kaku atau membeku, Jumat (21/6/2024) pagi.Dieng ‘bersalju’ (Uje Hartono/detikJateng)

Kabar dataran tinggi Dieng diselimuti ‘salju’ pada beberapa tahun silam sempat menyita perhatian publik. Nyatanya, salju di Dieng disebabkan oleh fenomena embun es (frost).

Mengutip situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena embun es terjadi ketika suhu udara sangat dingin dan embun yang terkondensasi membeku. Alhasil, lapisan es akan muncul dan menutupi tumbuhan serta permukaan tanah.

Ada kemungkinan fenomena frost terjadi di wilayah dataran tinggi seperti Dieng saat beberapa kondisi cuacanya terpenuhi. Fenomena Dieng ‘bersalju’ ini dapat terjadi pada musim kemarau (Juni-Oktober) dan berlangsung selama waktu terbatas.

7. Terdapat 22 Kawah

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), terdapat 22 kawah di seluruh kawasan Dieng. Kawah ini tersebar di Gunung Api Dieng, Banjarnegara, area Wonosobo, dan Kabupaten Batang.

Delapan kawah di Gunung Api Dieng antara lain Kawah Timbang, Kawah Sinila, Kawah Sigludug, Kawah Sileri, Kawah Condrodimuko, Kawah Sikidang, Kawah Sibanteng, dan Kawah Bitingan.

Empat kawah di Wonosobo yaitu Kawah Sikidang, Kawah Sikunang, Kawah Pulosari, dan Kawah Pakuwojo. Serta lima kawah di Kabupaten Batang; Kawah Sibanger, Kawah Wanapria, Kawah Wanasida, Kawah Siglagah, dan Kawah Pagerkandang.

Kawah Timbang, Sinila, dan Sikidang disebut berpotensi mengeluarkan gas beracun. Untuk Kawah Timbang, statusnya punya peluang berkembang menjadi berbahaya.

8. Punya Deretan Candi

Kompleks Candi Arjuna di Dieng, yang merupakan lokasi gelaran DCF 2022.Kompleks Candi Arjuna di Dieng (Uje Hartono/detikJateng)

Dieng sebagai tempat bersemayam para dewa, telah lama menjadi lokasi peribadatan masyarakat Hindu. Hal ini diketahui lewat beberapa candi beraliran Hindu Siwa yang ditemukan di dataran tinggi tersebut.

Deretan candi di Dataran Tinggi Dieng adalah Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, Gatotkaca, Dwarawati, dan Bima. Nama delapan candi ini berasal dari para tokoh dalam kisah Bharatayuddha. Di candi inilah, masyarakat Hindu ketika itu beribadah pada dewa yang dikenal sebagai Trimurti.

9. Anak Bajang Berambut Gimbal

Bocah atau anak bajang adalah warisan budaya khas di Dataran Tinggi Dieng. Para anak bajang ini memiliki rambut gimbal panjang yang hanya bisa dipotong setelah melewati ruwatan. Dikutiip dari situs Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, prosesi ini bisa disaksikan selama Dieng Culture Festival.

Anak bajang dipercaya merupakan titisan leluhur Dieng, yaitu Kyai Kolodethe untuk laki-laki dan Nyai Dewi Roro Ronce bagi perempuan. Sebelum ruwatan untuk memotong rambut gimbal tersebut, anak bajang biasanya memiliki permintaan yang dituruti orang tua atau lingkungan sekitar.

(azn/row)



Sumber : travel.detik.com

Nyaman & Cepat Sampai Tujuan



Jakarta

Wonosobo telah lama menjadi destinasi liburan dengan ikon wisata Dieng. Perjalanan dengan menggunakan kereta menjadi salah satu pilihannya.

Wonosobo pernah memiliki stasiun, namun kini sudah tidak beroperasi. Untuk tiba ke kabupaten di Jawa Tengah ini, wisatawan dapat naik kereta ke kota terdekatnya.

Ada 4 kota yang bisa menjadi pilihan yaitu Semarang, Jogja, Purwokerto dan Pekalongan. Setelah sampai di kota-kota ini, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan travel, bus atau sewa kendaraan pribadi.


Pilihan kereta menuju Wonosobo

Jakarta-Semarang

Dari Stasiun Gambir:

Argo Sindoro: (Eksekutif) Berangkat pukul 16:45 WIB dari Gambir dan tiba di Semarang Tawang pukul 21:55 WIB.
Argo Muria: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 07:00 WIB, tiba di Stasiun Semarang Tawang pukul 12:10 WIB
Gumarang: (Bisnis) Berangkat pukul 15.00 WIB, tiba di Semarang Tawang pukul 18.52 WIB.
Sembrani: (Eksekutif) Berangkat pukul 10.20 WIB, tiba di Semarang Tawang 15.25 WIB.

Dari Stasiun Pasar Senen:

Tawang Jaya Premium: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.45 WIB, tiba di Semarang Tawang pukul 12.53 WIB.
Dharmawangsa: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.50 WIB dan tiba di Semarang Tawang pukul 15.15 WIB.
Matarmaja: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 15.15 WIB dan tiba di Semarang Tawang pukul 21.52 WIB.
Menoreh: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 13.35 WIB dan tiba di Semarang Tawang 19.22 WIB.
Kertajaya: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.30 WIB dan tiba di Semarang Poncol pukul 02.36 WIB.
Tawang Jaya: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 23.55 WIB dan tiba di Semarang Poncol pukul 06.15 WIB.
Jayabaya: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen 19.06 WIB dan tiba di Semarang Poncol pukul 19.27 WIB.
Airlangga: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 11.30 WIB dan tiba di Semarang pukul 18.30 WIB.
Brantas: (Ekonomi/Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 13.30 WIB dan tiba di Semarang Tawang pukul 19.56 WIB.

Jakarta-Yogyakarta

Dari Stasiun Gambir:

Argo Dwipangga: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 08.50 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 15.39 WIB.
Taksaka: (Eksekutif) KA Taksaka Pagi berangkat dari Gambir pukul 09.20 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 15.30 WIB, sedangkan KA Taksaka Malam berangkat dari Gambir pukul 21.30 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 03.45 WIB.
Gajayana: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 01:26 WIB.
Argo Lawu: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 20.45 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 02.49 WIB.
Argo Semeru: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 06.20 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 12.54 WIB.
Taksaka Luxury: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 09.20 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 15.40 WIB. Kereta ini juga memiliki jadwal keberangkatan malam pukul 21.40 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 04.00 WIB.

Dari Stasiun Pasar Senen:

Mataram: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasan Senen pukul 21.40 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 04.35 WIB.
Bengawan: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.55 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 16.45 WIB.
Gaya Baru Malam Selatan: (Ekonomi) Berangkat dari Stasun Pasar Senen pukul 11.00 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 19.15 WIB.
Jayakarta: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 17.10 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 00.54 WIB.
Progo: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 22.30 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 07.05 WIB.
Bogowonto: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 18.10 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 06.09 WIB.
Singasari: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 20.55 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 05.25 WIB.
Jaka Tingkir: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 11.50 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 19.08 WIB.
Fajar Utama YK: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.40 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 14.37 WIB.
Fajar Utama Solo: (Eksekutif-Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 05.45 WIB dan tiba di Yogyakarta pukul 12.32 WIB.

Jakarta-Pekalongan

Dari Stasiun Pasar Senen

Menoreh: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.45 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 11.33 WIB.
Kertajaya:(Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.30 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 19.40 WIB.
Majapahit:(Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 17.40 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 22.02 WIB.
Dharmawangsa Ekspres: (Eksekutif/Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 08.10 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 13.56 WIB.
Brantas: (Eksekutif/Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 14.10 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 19.07 WIB.
Tawang Jawa Premium: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.45 WIB dan tiba di Pekalongan pukul 11.33 WIB.

Jakarta-Purwokerto

Dari Stasiun Gambir:

Argo Lawu: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 20.45 WIB dan tiba di Purwekerto pukul 00.54 WIB.
Argo Dwipangga: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 08.50 WIB dan tiba pukul 12.58 WIB.
Taksaka Malam: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 21.20 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 01.30 WIB.
Bima: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 17.00 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 21.16 WIB.
Gajayana: (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Gambir pukul 18.50 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 23.11 WIB.

Dari Stasiun Pasar Senen:

Fajar Utama Solo (Eksekutif) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 05.40 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 10.14 WIB.
Sawunggalih: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 06.30 WIB dan tiba di Purwokertp pukul 11.00 WIB.
Serayu: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 19.25 dan tiba di Purwokerto pukul 06.00 WIB.
Bangunkarta: (Ekonomi) Berangkat dari Stasiun Pasar Senen pukul 12.25 WIB dan tiba di Purwokerto pukul 17.23 WIB.

Tips Perjalanan

Berikut beberapa tips perjalanan yang perlu Anda ketahui:

– Pastikan Anda untuk membeli tiket kereta api secara online atau di stasiun kereta api terdekat.
– Datang lebih awal ke stasiun kereta api untuk menghindari antrean panjang.
– Bawa makanan dan minuman yang cukup untuk perjalanan.
– Jangan lupa untuk membawa dokumen penting seperti KTP dan tiket kereta api.

(bnl/wsw)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

5 Kota yang Cocok Buat Healing Sendirian Tanpa Keramaian


Jakarta

Healing sendirian biasa dipilih setelah sibuk dengan aktivitas padat sehari-hari dan sangat produktif. Metode relaksasi ini diharapkan bisa mengembalikan energi (recharge), kondisi emosi serta kejiwaan, pola pikir menjadi lebih sehat dan kondusif. Setelah me time, kondisi fisik dan mental lebih baik untuk beraktivitas kembali.

Kota yang Cocok Buat Healing Sendirian

Pengen tau kota yang tepat untuk healing sendirian? Berikut rekomendasinya dikutip dari arsip berita detik travel

Yogyakarta

Museum Ullen Sentalu SlemanMuseum Ullen Sentalu Sleman (dok. Shinta/detikTravel)

Kota Yogyakarta dan kawasan lain di sekitarnya adalah destinasi wisata yang sangat populer. Namun dengan pemilihan waktu dan tempat wisata yang tepat, kamu bisa dengan tenang healing tanpa ada gangguan. Termasuk menikmati aneka kuliner tanpa khawatir antrian pelanggan di warung dan kafe pilihan.


Rekomendasi:

  • Museum Ullen Sentalu di Kaliurang
  • Tembi Rumah Budata di Bantul
  • Bukit Klangon di Lereng Merapi.

Bandung

Orchid Forest CikoleOrchid Forest Cikole Foto: (Resa Noor Fauziah/d’Traveler)

Kota Bandung nyaris tak pernah sepi wisatawan dengan mudahnya akses transportasi, tempat wisata, dan harga terjangkau. Namun dengan pemilihan destinasi liburan yang tepat, kamu bisa relaksasi dengan nyaman tanpa merasa terganggu aktivitas pengunjung lain. Kamu juga bisa jalan-jalan di tempat sejuk dan aman tanpa merasa ragu.

Rekomendasi:

  • Dusun Bambu di Lembang
  • Glamping Lakeside Rancabali di Ciwidey
  • Orchid Forest Cikole di Lembang.

Ubud

Ilustrasi Melukat di Pura Tirta Empul, BaliIlustrasi Melukat (dok. Rachman_punyaFOTO)

Kota Ubud di Bali cocok buat yang ingin healing sendirian dengan berbagai alternatif wisata. Kamu bisa pilih galeri seni, pantai hidden gem, dan tempat yoga atau meditasi. Bali dengan pilihan destinasi wisata, fasilitas, dan tempat menginap bisa mengakomodir kebutuhan kamu yang lagi ingin sendirian. Setelah me time, kamu dijamin bisa kembali menjalani kesibukan harian.

Rekomendasi:

  • Forest walk di Campuhan Ridge Walk
  • Jalan-jalandi Istana Ubud
  • Melukat di Goa Gajah.

Purwokerto

CurugCurug Jenggala di Purwokerto (dok. Rizki Ramadan/d’Traveler)

Terkenal sebagai kota yang adem, sejuk, bersih, dan mudah dijangkau, Purwokerto sangat layak masuk rekomendasi tempat healing. Pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas ini juga terkenal serba murah, dengan layanan yang profesional dan berkualitas.

Rekomendasi:

  • Lokawisata Baturaden
  • Curug Jenggala
  • Taman Andhang Pangrenan.

Wonosobo

Kawasan Candi Arjuna dan Kawah Sikidang di dataran tinggi Dieng.Kawasan Candi Arjuna di dataran tinggi Dieng Foto: Uje Hartono/detikJateng

Daerah kabupaten di Jawa Tengah ini terkenal sejuk dengan udaranya yang bersih dan sangat nyaman. Fasilitas dan layanan serba murah plus warganya yang ramah jadi nilai tambah untuk mempertimbangkan Wonosobo sebagai lokasi healing. Di sini kamu bisa glamping, trekking, atau sekadar jalan-jalan di destinasi wisata.

Rekomendasi:

  • Dataran tinggi Dieng
  • Telaga Menjer
  • Kebun teh Tambi.

Tips Healing Sendirian

Buat yang ingin healing sendirian, kamu bisa ikuti tips ini agar rencana tidak berantakan karena destinasi wusata yang terlalu ramai.

Pilih waktu dan destinasi wisata yang tepat

Momen liburan jangan sampai berbenturan dengan libur sekolah, akhir pekan, libur nasional, atau cuti bersama.

Rencanakan perjalanan jauh-jauh hari

Kamu perlu menyusun jadwal dan budgeting yang tepat agar traveling impian bisa terwujud. Perencanaan juga memungkinkan kamu dapat diskon transportasi, penginapan, dan layanan lainnya.

Bawa uang cash

Traveler disarankan bawa uang cash secukupnya sebagai antisipasi jika layanan online terganggu. Pembayaran dengan uang cash memungkinkan kamu mengakses lebih banyak layanan di destinasi wisata.

Pastikan baterai gadget sudah terisi

Traveling identik dengan mengabadikan momen, meski dilakukan sendirian. Pastikan momen ini tak terganggu gadget low batt atau memori yang hampir penuh.

(row/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

10 Destinasi Alam di Jawa Tengah yang Belum Ramai Turis


Jakarta

Kangen wisata alam yang belum ramai turis? Detikers bisa mengunjungi rekomendasi destinasi wisata ini yang berlokasi di Jawa Tengah. Wisata ini sangat cocok untuk pengunjung yang ingin relaksasi sendiri atau bersama keluarga, tanpa ribet dengan kunjungan turis lain.

10 Destinasi Alam di Jawa Tengah yang Belum Ramai

Berikut rekomendasinya dikutip dari situs destinasi wisata alam terkait

Pantai Menganti (Kebumen)

Suasana di Pantai Menganti, Kebumen.Suasana di Pantai Menganti, Kebumen. Foto: Rinto Heksantoro/detikJateng

Lanskap alam ini terkenal dengan pasir putih, air laut biru hijau, dan tebing kapur (karst) yang mengelilinginya. Pantai ini juga punya mercusuar peninggalan Belanda yang menjadi daya tarik utama. Lanskap ini sangat cocok buat kamu yang butuh relaksasi dan healing time melihat keindahan alam.


Talaga Sunyi (Banyumas)

telagaTalaga Sunyi Foto: (Brigida Emi Lilia/d’Traveler)

Dikelilingi hutan pinus yang sangat rindang dan pepohonan hijau Talaga Sunyi menawarkan ketenangan bagi pengunjung. Talaga ini juga dikelilingi dinding batu yang di dalamnya ada aliran sungai kecil menjadi sumber air danau. Pengunjung harus trekking lebih dulu menuju Talaga Sunyi, yang terbayarkan saat melihat indahnya lanskap alam ini.

Waduk Bade (Boyolali)

Waduk atau bendungan ini sebetulnya adalah sumber air bagi lahan pertanian di sekitarnya. Namun, destinasi wisata ini sangat cocok bagi yang ingin rekreasi bersama keluarga. Pengunjung bisa mancing atau sekadar melihat indahnya pemandangan danau buatan.

Bukit Rangkok (Tegal)

Destinasi berkonsep via ferrata ini menawarkan wisata yang memicu adrenalin dan keindahan alam. Pengunjung harus mendaki lewat tangga besi yang ditancapkan pada tebing sesuai konsep via ferrata. Di ketinggian 384 mdpl, pengunjung bisa melintas jembatan single sling wire rope yang hanya terdiri dari seutas tali. Pengunjung juga bisa melewati jembatan balok yang bergoyang jika keseimbangan tidak dijaga dengan baik.

Curug Sebrangan (Banyumas)

Lokasi air terjun di pedalaman Banyumas ini sangat cocok bagi pengunjung yang mencari ketenangan, suasana sejuk, dan alam yang rupawan. Karena letaknya yang agak nyempil, pengunjung harus mempersiapkan fisik, uang cash, pakaian, dan pastinya gadget untuk ambil foto agar bisa menikmati curug dengan paripurna.

Curug Lawe dan Benowo (Semarang)

Curug LaweCurug Lawe Foto: (Rivai Hidayat/d’Traveler)

Dua air terjun ini berdampingan dengan Curug Lawe setinggi kurang lebih 30 meter dan Benowo 40 meter. Selain keindahan air terjun, alam sekitar dengan keanekaragaman flora dan fauna juga tidak boleh dilewatkan. Jika beruntung, pengunjung bisa lihat luntung saat melintas Jembatan Romantis yang dibangun di atas saluran air sepanjang 20-30 meter.

Watu Ireng (Pekalongan)

Seperti namanya, Watu Ireng adalah destinasi wisata berupa batu hitam yang dikelilingi perkebunan seluas 2 hektar dan pohon hijau. Keindahan alam ini banyak dikunjungi wisawatan saat musim liburan bersama keluarga atau sendiri, bagi yang ingin berjalan-jalan santai.

Bukit Cinta (Ambarawa)

Bukit Cinta Rawa PeningBukit Cinta Rawa Pening Foto: (Nfadils/d’Traveler)

Area perbukitan yang sudah tertata dengan rapi ini sangat cocok untuk healing menikmati keindahan alam. Wisatawan bisa santai bersama keluarga menikmati area Rawa Pening dan pesona perairan. Berlatar pemandangan Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran, pengunjung bisa menikmati semua keindahan sambil piknik dengan perahu sewaan.

Telaga Bleder (Magelang)

Salah satu obyek wisata air Telaga Bleder di Kecamatan Grabag Kabupaten MagelangSalah satu obyek wisata air Telaga Bleder di Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang Foto: Pertiwi/detikcom

Berlokasi di area sejuk dengan udara bersih, wisatawan bisa menikmati keindahan Telaga Breder yang dikelilingi pohon rimbun. Telaga ini adalah cekungan berisi air dengan sumber dari mata air di sekelilingnya. Selain lanskap sangat indah, pengunjung bisa berenang di kolam yang disediakan pengelola dan memberi ikan dalam kolam di gazebo.

Curug Trocoh atau Curug Surodipo (Wonosobo)

Trocoh atau bocor dalam bahasa Indonesia, adalah nama yang tepat untuk menggambarkan aliran air terjun ini. Curug Trocoh kerap dikatakan punya tempat istimewa dalam perjuangan Pangeran Diponegoro, sebagai tempat persembunyian pasukan dan pemimpinnya meski belum terbukti. Air terjun lima tingkat dengan ketinggian 120 meter ini tentunya punya pemandangan yang sangat indah.

Nah, detikers yang perlu destinasi wisata alam tenang di Jawa Tengah kini tak perlu bingung lagi. Kamu bisa segera siap-siap piknik ke destinasi wisata alam pilihan lengkap dengan uang cash secukupnya, fisik prima, dan pakaian cadangan bagi yang ingin renang atau trekking.

(row/fem)

Sumber : travel.detik.com

Alhamdulillah اللهم صلّ على رسول الله محمد wisata mobil
image : unsplash.com / Thomas Tucker

5 Kota Sejuk di Indonesia yang Cocok buat Pensiunan



Salatiga

Indonesia ternyata punya beberapa kota yang sejuk dan enak sebagai tempat beristirahat. Kota-kota ini juga cocok untuk pensiunan. Kota mana saja?

Saat pensiun, biasanya kita mendambakan kehidupan yang tenang di pedesaan. Kota-kota berikut ini bisa jadi jawaban buat kamu yang mencari tempat untuk pensiun. Berikut ulasannya:

1. Salatiga

Kota pertama adalah Salatiga di Jawa Tengah. Kota mungil ini punya cuaca yang sejuk. Lokasinya yang berada cukup tinggi menjadikan cuaca sejuk menjadi teman sehari-hari.


Selain itu, suasana yang relatif sepi menjadikan kota ini sangat cocok untuk pensiunan menikmati slow living. Tertarik buat pensiun di Salatiga?

2. Temanggung

Berikutnya ada Temanggung yang juga ada di Jawa Tengah. Kota sejuk ini berada di atas ketinggian. Sama seperti Salatiga, Temanggung juga menawarkan kehidupan slow living pedesaan.

Kota yang terkenal dengan tanaman tembakaunya ini juga punya beberapa tempat wisata menarik, dari Wisata Alam Posong hingga gunung Sindoro-Sumbing.

3. Wonosobo

Wonosobo juga masuk ke dalam daftar. Cuaca yang dingin dan sejuk akan membuat traveler betah tinggal di sini, apalagi bagi Anda-anda yang sudah memasuki masa pensiun.

Di Wonosobo, ada dataran tinggi Dieng dengan aneka pesona wisata alam dan budayanya. Sangat cocok untuk ditinggali oleh pensiunan. Oh iya, harga sayur mayur di sini murah.

4. Malang

Kota berikutnya ada di Jawa Timur, yaitu Malang. Kota berhawa sejuk ini cocok ditinggali di masa tua. Bayangkan bisa menghirup udara segar pegunungan setiap harinya.

Di Malang juga ada banyak spot wisata, dari pemandian hingga wisata sejarah, dijamin tidak akan bosan tinggal di kota ini.

5. Ende

Terakhir ada kota Ende di NTT yang juga cocok untuk tempat pensiun. Kota tempat kelahiran Pancasila ini relatif sepi, namun udaranya sejuk khas pegunungan.

Wajar karena di Ende ada gunung Kelimutu dengan danau tiga warna yang memesona. Masyarakatnya yang ramah juga akan membuat Anda betah tinggal di sana.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Rute Kereta Jakarta-Dieng dengan Harga, Waktu Tempuh, dan Tips Lengkap


Jakarta

Dieng adalah kawasan wisata di Jawa Tengah yang dikenal dengan hawa sejuk nyaris dingin dan pemandangan indah. Bagi kamu yang ingin ke Dieng dari Jakarta naik kereta, sebetulnya tidak tersedia perjalanan yang langsung menuju Dieng. Traveler hanya bisa naik kereta sampai Stasiun Purwokerto, lalu naik kendaraan umum atau online menuju Dieng.

Rute Kereta Jakarta-Dieng dan Kendaraan Lainnya

candi arjunaCandi Arjuna di Dieng Foto: detik

Perjalanan Jakarta-Dieng naik kereta bisa dibagi menjadi Jakarta-Purwokerto, lalu lanjut ke dataran tinggi Dieng. Berikut penjelasan lengkapnya

Rute Kereta Jakarta-Purwokerto

Kereta rute Jakarta ke Purwokerto bisa ditempuh dari Stasiun Gambir dan Stasiun Pasarsenen


Gambir-Purwokerto

  • Argo Semeru: 4 jam 16 menit Rp 440 ribu
  • Argo Semeru Compartment: 4 jam 16 menit Rp 1,26 juta
  • Taksaka: 4 jam 10 menit Rp 475 juta
  • Taksaka Luxury: 4 jam 10 menit Rp 1,2 juta
  • Argo Dwipangga: 4 jam 8 menit Rp 520 ribu
  • Argo Dwipangga Luxury: 4 jam 8 menit Rp 1,2 juta
  • Manahan: 4jam 39 menit Rp 450 ribu
  • Bima: 4 jam 16 menit Rp 440 ribu
  • Bima Compartment: 4 jam 16 menit Rp 1,26 juta
  • Gajayana: 4 jam 21 menit Rp 460 ribu
  • Gajayana Luxury: 4 jam 21 menit Rp 1,375 juta
  • Cakrabuana (ekonomi): 4 jam 58 menit Rp 175 ribu
  • Cakrabuaba (eksekutif): 4 jam 58 menit Rp 360 ribu
  • Argo Lawu: 4 jam 9 menit Rp 520 ribu
  • Argo Lawu Luxury: 4 jam 9 menit Rp 1,2 juta
  • Purwojaya: 4 jam 14 menit Rp 360 ribu.

Pasarsenen-Purwokerto

  • Fajar Utama Solo (ekonomi): 4 jam 34 menit Rp 185 ribu
  • Fajar Utama Solo (eksekutif): 4 jam 34 menit Rp 400 ribu
  • Fajar Utama YK (ekonomi): 4 jam 53 menit Rp 164 ribu
  • Fajar Utama YK (eksekutif): 4 jam 53 menit Rp 355 ribu
  • Sawunggalih (ekonomi): 4 jam 30 menit Rp 175 ribu
  • Sawunggalih (eksekutif): 4 jam 30 menit Rp 380 ribu
  • Gajahwong (ekonomi): 5 jam 15 menit Rp 210 ribu
  • Gajahwong (eksekutif): 5 jam 15 menit Rp 440 ribu
  • Gaya Baru Malam Selatan (ekonomi): 5 jam 7 menit Rp 231 ribu
  • Gaya Baru Malam Selatan (eksekutif): 5 jam 7 menit 425 ribu
  • Bangunkarta (ekonomi): 4 jam 58 menit Rp 185 ribu
  • Bangunkarta (eksekutif): 4 jam 58 menit Rp 380 ribu
  • Sawunggalih (ekonomi): 4 jam 21 menit Rp 175 ribu
  • Sawunggalih (eksekutif): 4 jam 21 menit Rp 380 ribu
  • Mataram (ekonomi): 4 jam 31 menit Rp 185 ribu
  • Mataram (eksekutif): 4 jam 34 menit Rp 400 ribu
  • Madiun Jaya (ekonomi): 4 jam 34 menit Rp 196 ribu
  • Madiun Jaya (eksekutif): 4 jam 34 menit Rp 425 ribu
  • Singasari (ekonomi): 4 jam 31 menit Rp 196 ribu
  • Singasari (eksekutif): 4 jam 31 mnit Rp 410 ribu
  • Bogowonto (ekonomi): 4 jam 34 menit Rp 164 ribu
  • Bogowonto (eksekutif): 4 jam 34 menit Rp 355 ribu
  • Senja Utama YK (ekonomi): 4 jam 34 menit Rp 164 ribu
  • Senja Utama Yk (eksekutif): 4 jam 34 menit Rp 355 ribu
  • Serayu: 11 jam 5 menit Rp 67 ribu
  • Jaka Tingkir: 4 jam 40 menit Rp 185 ribu
  • Jayakarta: 4 jam 44 menit Rp 203 ribu
  • Progo: 4 jam 39 menit Rp 189 ribu.

Rute Purwokerto-Wonosobo

Perjalanan selanjutnya bisa menggunakan transportasi online atau kendaraan umum dengan pilihan sebagai berikut:

  • Bus patas AC Puwokerto-Semarang Rp 80-90 ribu
  • Bus patas Purwokerto-Semarang Rp 50 ribu

Waktu tempuh Purwokerto-Wonosobo adalah 2-3 jam dalam kondisi tidak macet atau sangat ramai. Informasi harga tiket dan jenis bus yang tersedia bisa berubah sesuai kebijakan penyedia kendaraan serta pengelola transportasi.

Rute Wonosobo-Dieng

Di rute terakhir ini kamu bisa pilih kembali pilih angkutan umum atau transportasi online. Jika traveler mengambil paket wisata lengkap dengan antar jemput, kamu angkat dijemput di lokasi yang telah ditentukan sebelum ke Dieng.

Tips Liburan Jakarta-Dieng

The Heaven Glamping & Resto Wonosobo, tempat glamping dekat DiengThe Heaven Glamping & Resto Wonosobo, tempat glamping dekat Dieng Foto: Dok. Instagram @theheaven.wonosobo

Liburan Jakarta-Dieng bisa jadi makin menyenangkan dengan penerapan tips-tips berikut:

  • Pesan tiket Jakarta-Purwokerto jauh-jauh hari agar dapat harga murah
  • Tentukan akomodasi dengan mempertimbangkan review online, kualitas layanan, dan profesionalisme
  • Susun dan terapkan itinerary lengkap dengan budgeting agar tidak boncos, tapi tetap terasa menyenangkan.

Pesona Dieng yang dijuluki tanah para dewa karena punya banyak candi ini memang sayang dilewatkan. Dengan jarak yang tidak jauh dari Jakarta, jangan lupa masukin Dieng ke wish list liburan terbaru kamu ya.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Dieng Membeku, Ini 5 Spot Wisata Fotogeniknya



Wonosobo

Dieng yang membeku menarik perhatian wisatawan. Kembali terjadi di musim panas, fenomena ini sayang untuk dilewatkan.

Negeri di Atas Awan, itulah julukan destinasi di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut ini. Suasana berkabut menciptakan pemandangan memukau, apalagi saat fenomena embun es terjadi.

Berjarak 30 km dari pusat kota Wonosobo, ada 5 tempat wisata fotogenik yang bisa kamu kunjungi selama berada di Dieng.


5 Spot Wisata Fotogenik Dieng

1. Kawah Sikidang

Kawah ini terkenal dengan aktivitas vulkaniknya yang stabil dan mudah diakses. Kamu bisa melihat semburan uap panas dan kolam lumpur mendidih dari jarak yang cukup dekat, tentunya dengan tetap memperhatikan batas aman.

Kawah ini juga memiliki aroma belerang yang khas, sebaiknya kamu memakai masker. Ada satu kegiatan yang wajib dilakukan wisatawan yaitu, merebus telur mentah dan merebusnya langsung di kawah!

2. Bukti Sikunir

Bukit Sikunir menjadi lokasi berburu matahari terbit yang wajib di Dieng. Bahkan, Sikunir masuk dalam daftar spot sunrise terbaik di Indonesia dengan nama Golden Sunrise.

erjalanan menuju puncak Bukit Sikunir memang membutuhkan tenaga ekstra karena kamu harus mendaki selama kurang lebih 30 menit. Namun, lelahmu akan terbayar lunas begitu melihat indahnya mentari pagi yang perlahan menyinari barisan pegunungan.

3. Telaga Cebong

Telaga Cebong terletak di kaki Bukit Sikunir dan bisa kamu kunjungi sebelum atau sesudah menikmati sunrise. Telaga ini memiliki pemandangan yang memukau dengan air yang jernih dan dikelilingi perbukitan hijau.

Banyak wisatawan yang memilih berkemah di sekitar Telaga Cebong untuk merasakan suasana malam yang tenang dan pagi yang indah. Selain itu, di sini kamu juga bisa menyaksikan aktivitas masyarakat lokal yang bercocok tanam di ladang-ladang sekitar telaga.

4. Kompleks Candi Arjuna

Candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini bercorak agama Hindu. Tempat ini menjadi lokasi ritual Dieng Culture Festival yang menampilkan prosesi pemotongan rambut anak gimbal.

Dibangun pada abad ke-8, tempat ini sangat cocok untuk kamu yang menyukai wisata sejarah dan budaya.

5. Telaga Warna

Yang satu ini tak boleh kamu lewatkan saat liburan ke Dieng. Seperti namanya, air di telaga ini dapat berubah warna mulai dari hijau, biru, hingga kuning keemasan. Fenomena ini terjadi karena kandungan belerang di dalam air yang memantulkan sinar matahari dengan sudut berbeda.

Di sekitar telaga, kamu juga bisa menjelajahi gua-gua kecil seperti Gua Semar, Gua Jaran, dan Gua Sumur yang diyakini memiliki nilai spiritual.

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com