Tag Archives: yogyakarta

Mampir ke Pabrik Cerutu di Jogja, Konon Tertua di Asia Tenggara



Yogyakarta

Pabrik cerutu Taru Martani merupakan pabrik bersejarah di Jogja. Berdiri sejak 1918, pabrik cerutu ini diklaim sebagai yang tertua se-Asia Tenggara.

Pabrik cerutuTaru Martani terletak di Jalan Kompol BambangSuprapto,Gondokusuman, Yogyakarta.detikJogja sempat mampir ke sana dan melihat sejumlah lukisan dan foto pendiri pabrik yakni Adolphe Antoine Louis Marie Mignot.

Selain itu, ada pula sederet foto kunjungan tamu ke Taru Martani, di antaranya ada potret pejuang revolusi Kuba Ernesto ‘Che’ Guevara dan beberapa tokoh Indonesia.


Hingga saat ini, traveler juga dapat melihat aktivitas pegawai yang menjemur daun tembakau di belakang pabrik. Selain itu, ada pula proses pemisahan daun tembakau dari tulang daunnya.

Lalu tampak pula perempuan yang sibuk melinting cerutu dengan alat linting manual.

Pabrik cerutu Taru Martani 1918. Foto diambil Kamis (30/11/2023).Pabrik cerutu Taru Martani 1918. (Foto: Mahendra Lavidavayastama/detikJogja)

Kepala Divisi Produksi Taru Martani 1918, Adam Santosa menjelaskan jika perusahaan ini mulanya berada di Jalan Magelang, Jogja, pada tahun 1918. Perusahaan ini dulunya dimiliki oleh seseorang berkebangsaan Belanda keturunan Perancis.

“Jadi berdirinya (Taru Martani) tahun 1918 dulu dimiliki oleh pribadi bukan company. Awalnya di Jalan Magelang itu, pemiliknya bernama Adolphe Antoine Louis Marie Mignot, dia berkebangsaan Belanda tapi punya keturunan Perancis juga,” kata Adam saat ditemui di Taru Martani, pada Kamis (30/11/2023).

Seiring berkembangnya waktu, pabrik cerutu ini mengalami perkembangan yang pesat dan Adolphe memutuskan untuk membeli tanah di daerah Baciro yang menjadi lokasi saat ini. Di kawasan Baciro inilah, Adolphe memutuskan untuk mendirikan perusahaan yang lebih besar pada 1921 dan diberi nama N.V. Negresco.

“Kemudian 1921 (pabrik) dipindahkan, dia (Adolphe) merasa bahwa perlu mendirikan perusahaan yang cukup besar maka dia beli tanah di daerah sini, Baciro dari dulu tanah itu seluas ini. Karena usahanya berkembang dengan baik, waktu itu (nama) perusahaan N.V. Negresco waktu itu,” jelasnya.

Pabrik cerutu Taru Martani 1918. Foto diambil Kamis (30/11/2023).Pabrik cerutu Taru Martani 1918 (Foto: Mahendra Lavidavayastama/detikJogja)

Namun, pada masa penjajahan Jepang pada 1942 perusahaan ini diambil alih. N.V. Negresco ini pun berganti nama menjadi Jawa Tobacco Kojo.

“Ketika Jepang menduduki Indonesia saat itu tahun 1942, maka otomatis perusahaan ini direbut oleh Jepang kemudian diganti lah namanya menjadi Jawa Tobacco Kojo. (Mereka) Kemudian mengeluarkan produk-produk, kalau dulu ada namanya merek Panther dan lain sebagainya, oleh Jepang produknya diubah namanya menjadi ada Mizuho, Momo Taro, Koa,” ujar Adam.

Setelah masa pendudukan Jepang, pabrik ini diambil alih Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1945. Nama pabrik lantas diganti menjadi Taru Martani.

Pada 1961, pemerintah Indonesia melalui Bank Industri Negara menghidupkan kembali pabrik cerutu ini dengan melakukan kerja sama.

Namun, upaya tersebut kurang membuahkan hasil. Akhirnya, Taru Martani di bawah kepemilikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX melakukan kerja sama dengan perusahaan Belanda yaitu Douwe Egberts.

Semenjak saat itu, mulai ada peningkatan penjualan yang pesat, bahkan karyawan pada saat itu mencapai 1.000 orang.

Taru Martani mencapai masa kejayaan pada 1997.

“Saya pertama masuk tahun 1997 itu pas gemilangnya, saat itu cerutunya lho sangat gemilang. Dulu di tahun 1997 satu bulan hanya Amerika saja itu 1,2 juta batang per bulannya,” kenang Adam.

Berita selengkapnya baca di detikJogja.

(pin/pin)



Sumber : travel.detik.com

Candi Abang, Candi Sisa Reruntuhan, Makam Jeng Yah di Series Gadis Kretek



Sleman

Candi Abang menjadi perbincangan setelah muncul di salah satu adegan serial Gadis Kretek. Candi ini ada pada episode terakhir sebagai makam Dasiyah atau Jeng Yah.

Candi Abang merupakan satu candi unik yang berada di Blambangan, Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jika berkunjung ke sini, traveler tidak akan menemukan bangunan candi megah atau bertingkat seperti candi-candi pada umumnya. Di sini hanya tersisa beberapa runtuhan dari candi.

Tidak diketahui pasti kapan Candi Abang ini dibangun, diperkirakan candi ini telah ada pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9 sampai abad ke-10. Pernah ditemukan sebuah prasasti bertuliskan tahun 872 Masehi pada candi ini, namun belum diketahui apakah tulisan tersebut merujuk pada tahun pembangunan candi.


Candi ini dinamakan Candi Abang karena material bangunannya yang berasal dari batu bata merah. Kata ‘Abang’ dalam bahasa Jawa memiliki arti merah.

Candi Abang bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit dari pusat kota Jogja, jalan menuju candi sudah cukup memadai, namun untuk sampai ke area candi, pengunjung harus berjalan kaki dengan jalan sedikit menanjak karena candi ini berada di atas bukit.

Terdapat gundukan tinggi menyerupai bukit yang berwarna hijau, traveler bisa melihat pemandangan alam dan gedung serta kesibukan Kota Sleman dari atas sini.

Setting makam Jeng Yah sendiri tidak bisa dilihat lagi karena sudah dibongkar. Namun candi ini tetap bagus untuk didatangi karena memiliki panorama indah yang estetik sebagai spot foto.

Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

Tiket masuk pun tidak perlu membayar mahal-mahal, cukup dengan membayar Rp 5000 dan parkir kendaraan Rp 2000 untuk motor dan Rp 5000 untuk mobil. Traveler bisa parkir di depan warung kecil yang berada di dekat gerbang masuk candi.

Pemilik warung mengatakan bahwa warungnya juga sempat dijadikan area syuting yang dilakukan pada bulan Mei 2023 lalu itu. Proses syuting dilakukan dalam waktu 1 hari 1 malam.

Candi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis KretekCandi Abang, candi di Sleman yang jadi tempat syuting series Gadis Kretek (Lintia Elsi)

“Pas itu warung saya ini disewa untuk syuting, jadinya nggak jualan. Ceritanya itu di sini untuk ngopi, sini cuma dikasih berapa aja renteng kopi terus makanan-makanan kecil. Terus sebelah ini ada jualan soto gitu,” katanya.

Jika ingin berkunjung ke sini, traveler disarankan untuk datang pada pagi atau sore hari untuk melihat sunset, karena siang hari matahari di sini sangat terik dan area candi hanya memiliki satu pondok kecil untuk berteduh. Jam operasional candi adalah pada jam 07.00 – 18.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kulon Progo Rasa Kayangan, Namanya Puncak Suroloyo



Kulon Progo

Yogyakarta punya banyak wisata alam yang memesona. Mungkin yang satu ini belum kamu tahu, namanya Puncak Suroloyo.

Menilik Google Maps, destinasi satu ini berlokasi di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Dihitung dari kota Jogja, jaraknya sekitar 40 hingga 50 kilometer. Sementara jika diukur dari Wates, ibu kota Kulon Progo, jaraknya sekitar 35 kilometer.

Mengutip laman Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Puncak Suroloyo merupakan puncak tertinggi di Pegunungan Menoreh. Ketinggiannya mencapai 1017 meter di atas permukaan laut. Tak heran, pemandangan yang ditawarkannya begitu menawan dan memanjakan mata.


Untuk dapat mencapai bagian puncaknya, detikers perlu menaiki anak tangga dengan waktu sekitar 15 menit. Usai berada di bagian puncak, pemandangan indah nan menawan akan membayar semua rasa pegal yang terasa.

Puncak Suroloyo buka selama 24 jam. Namun, perlu detikers ketahui bahwa tidak ada penginapan atau villa di puncaknya. Meski demikian, di bagian bawahnya terdapat beberapa penginapan yang dapat dijadikan pilihan.

Pemilihan waktu agar mendapatkan pemandangan maksimal pun perlu dipertimbangkan. Agar dapat menyaksikan sunrise, disarankan untuk sampai di bagian atasnya sekitar jam 05.30 WIB. Sementara itu, untuk melihat sunset, detikers direkomendasikan berada di lokasi pada jam 17.00 WIB.

Puncak SuroloyoPuncak Suroloyo Foto: (Yusran Firmansyah Effendi/d’traveler)

Untuk dapat menikmati keindahannya, detikers hanya perlu membayar Rp 6.000 per orang. Biaya tambahan untuk parkir motor dan mobil berturut-turut adalah Rp 2.000 dan Rp 5.000.

Fasilitas di Puncak Suroloyo terhitung cukup lengkap, mulai dari mushola, kamar mandi, 3 pendopo untuk menyaksikan pemandangan, Warung dan kios

Daya tarik paling utama Puncak Suroloyo adalah pemandangan yang menawan. Selain sunrise dan sunset yang telah disebutkan, detikers juga dapat melihat hamparan kebun teh super hijau.

Mengutip laman resmi Kapanewon Samigaluh, dari puncaknya, pengunjung dapat menyaksikan empat gunung yakni Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro. Jika beruntung, kabut yang terhampar juga dapat dilihat laksana awan.

***

Baca berita selengkapnya di sini.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Sadranan, Surganya Pecinta Snorkeling di Gunungkidul



Gunungkidul

Jalan-jalan ke Gunungkidul tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi pantai-pantainya. Salah satu pantai yang wajib dikunjungi adalah Pantai Sadranan.

Pantai ini berada di Dusun Pulegundes II, Desa Sidoarjo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Pantai Sadranan memiliki keindahan alam yang eksotis sehingga menarik perhatian para wisatawan yang mencari keindahan alam pantai yang masih alami dan belum terlalu ramai.

Pantai ini bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi seperti motor dan mobil ataupun menggunakan bus pariwisata, akses jalannya pun memadai dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam – 2 jam dari pusat Kota Yogyakarta.


Begitu sampai di sini, traveler akan dibuat terpukau dengan hamparan pasir putih yang lembut dan air jernih dengan perpaduan warna biru dan hijau yang cantik. Pengunjung boleh berenang di area tepian pantai saja.

Pantai Sadranan di Gunungkidul, YogyakartaPantai Sadranan di Gunungkidul, Yogyakarta (Lintia Elsi)

Pesona paling menarik dari pantai ini adalah batu-batu karang yang tersebar di dekat pantai, memecah ombak di tengah sehingga pantai ini tampak lebih tenang. Pengunjung bahkan bisa berjalan-jalan di dekat beberapa batu karang karena airnya dangkal.

Tidak perlu takut bosan berkunjung ke sini karena ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sini, salah satunya adalah mencoba naik perahu kano dengan membayar sewa mulai dari Rp 50 ribu.

Pantai Sadranan di Gunungkidul, YogyakartaKios oleh-oleh di Pantai Sadranan di Gunungkidul, Yogyakarta (Lintia Elsi)

Pantai Sadranan juga terkenal dengan keindahan bawah lautnya, sehingga banyak wisatawan yang tertarik untuk melakukan snorkeling di sini. Di sepanjang pantai banyak yang menyediakan penyewaan peralatan snorkeling.

“Seru banget seru, tadi juga ada pemandunya yang ngarahin jadi walaupun ini pertama kali snorkeling yang bener-bener gini gak masalah sih. Wajib dicoba,” kata Yuni, salah satu pengunjung.

Di sekitar pantai banyak berdiri warung-warung kecil, tempat makan, penjual pakaian, hingga penjual oleh-oleh. Pantai Sadranan juga sudah dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi untuk berganti pakaian, toilet, dan gazebo untuk bersantai.

Pantai Sadranan berada di dekat beberapa pantai lain di Gunungkidul seperti Pantai Krakal, Pantai Slili, dan Pantai Ngandong. Traveler bisa langsung mengunjungi pantai-pantai lain juga setelah dari pantai ini.

Harga tiket masuknya hanya Rp 10 ribu saja per orang, sudah mencakup semua pantai yang ada di area ini. Ada juga biaya parkir motor sebesar Rp 5 ribu dan mobil Rp 10 ribu. Pengunjung bebas datang kapan saja karena Pantai Sadranan buka selama 24 jam.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Mesra di Gunungkidul Dijuluki Miami-nya Jogja



Gunungkidul

Salah satu pantai di Gunungkidul, Yogyakarta yang sedang populer saat ini adalah Pantai Mesra. Pantai ini memiliki banyak spot-spot cantik untuk dijadikan tempat berfoto.

Pantai Mesra terletak di Jalan Pantai Kukup, Ngepung, Kemadang, Ngrawe, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Letaknya persis bersebelahan dengan Pantai Kukup, hanya dipisahkan oleh batu karang besar.

Untuk sampai ke pantai ini, traveler harus menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam jika berangkat dari kota Yogyakarta. Namun tidak perlu khawatir, karena akses jalan di sini sudah sangat bagus.


Sebelum sampai ke lokasi pantai, setiap pengunjung harus membayar tiket masuk dari arah jalan masuk sebesar Rp 10 ribu, setelah di area pantai cukup membayar biaya parkir saja sebesar Rp 3 ribu untuk motor dan Rp 5 ribu untuk mobil.

Pantai Mesra di Gunungkidul, YogyakartaPantai Mesra di Gunungkidul, Yogyakarta (Lintia Elsi)

Saat memasuki Pantai Mesra, traveler akan disambut dengan taman kecil dengan rerumputan hijau yang telah dilengkapi kursi dan lampu taman. Hal ini tidak akan traveler temui di pantai-pantai lain Gunungkidul dan menjadi saya tarik yang khas dari pantai Mesra.

“Berasa bukan di Jogja sih ini, dari beberapa pantai yang sudah saya datangi menurut saya Pantai Mesra ini yang paling bagus,” kata Murni, salah satu pengunjung.

Di sisi-sisi taman ini terdapat kios-kios yang berbaris rapi dengan bentuk dan warna seragam, di sini traveler bisa berburu es kelapa serta kuliner mulai dari makanan ringan hingga berat.

Terdapat pula rest area, mushola, serta toilet di sini. Traveler juga bisa menyewa payung atau tikar untuk dipakai di sekitar pantai.

Pantai Mesra ini tidak terlalu luas, di depannya terdapat beberapa pohon-pohon berukuran sedang serta tulisan ‘Pantai Mesra’. Pasirnya berwarna putih bersih dengan batu-batu karang besar yang menghiasi bibir pantai.

Di pinggiran tebing karang berdiri beberapa gazebo yang disewakan untuk pengunjung berteduh dan menikmati pemandangan pantai dari atas. Spot ini juga sempurna untuk menikmati sunset.

Pantai yang sering dijuluki Miami-nya Jogja ini memiliki ombak yang cukup besar sehingga para pengunjung dihimbau untuk tidak berenang di lautnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Rekomendasi Tempat Wisata di Malioboro: Museum Benteng Vredeburg



Yogyakarta

Berwisata di Malioboro tak sekadar belanja atau nongkrong. Traveler juga dapat belajar sejarah di Museum Benteng Vredeburg.

Museum Benteng Vredeburg berada di kawasan Malioboro atau tepatnya berada dekat Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Museum ini berdiri kokoh di tengah hiruk pikuk Malioboro yang dipenuhi wisatawan tiap musim liburan.

Museum Benteng Vredeburg menyimpan koleksi berupa bangunan peninggalan Belanda serta diorama yang berisi kisah pembentukan negara Indonesia. Pada diorama-diorama itu traveler dapat mempelajari perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka, persiapan menuju kemerdekaan, kondisi pascakemerdekaan, hingga masa Orde Baru.


Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Sejarah ini dijelaskan dengan cara yang cukup menarik menggunakan patung, foto, dan lukisan. Selain itu terdapat fasilitas interaktif termasuk layanan audiovisual untuk membantu pengunjung mendapatkan pengetahuan.

Tak cuma mengenal sejarah, banyak juga pengunjung yang datang untuk berfoto. Benteng bersejarah itu memang memiliki arsitektur yang indah dan megah sehingga kerap diabadikan sebagai latar foto.

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Jam Buka dan Harga Tiket

Museum Benteng Vredeburg buka Selasa-Minggu. Harga tiket bervariasi berdasarkan usia pengunjung. Berikut penjelasan lengkap mengenai jam buka dan harga tiket.

Jam Buka:

  • Selasa – Minggu : 07.30 – 16.00 WIB
Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg. Foto: Putu Intan/detikcom

Harga Tiket:

  • Wisatawan mancanegara : Rp 10.000
  • Wisatawan lokal
    – Dewasa perorangan : Rp 3.000
    – Dewasa rombongan : Rp 2.000
    – Anak-anak perorangan: Rp 2.000
    – Anak-anak rombongan : Rp 1.000

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com

Yang Hijau-hijau di Jogja, Wisata Tepi Sawah di Geblek Pari Nanggulan



Yogyakarta

Traveler yang berencana menghabiskan Tahun Baru di Yogyakarta, coba deh mampir ke Kulon Progo. Di sana terdapat restoran tepi sawah yang menarik bernama Geblek Pari.

Geblek Pari belakangan ini viral di kalangan wisatawan pemburu pemandangan hijau. Restoran yang terletak di Nanggulan, Kulon Progo itu memang berdiri di pinggir sawah dan menawarkan nuansa pedesaan.

detikTravel sempat berkunjung ke Geblek Pari beberapa waktu lalu. Untuk menuju Geblek Pari, traveler harus melewati desa yang sempit. Namun perjuangan itu terbayar lunas dengan suasana asri di sana.


Restoran ini cukup luas. Daya tampungnya dapat mencapai 700 orang.

Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaGeblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta. Foto: Putu Intan/detikcom

Selain tempatnya yang nyaman, traveler juga dapat menikmati masakan tradisional khas desa Kulon Progo. Di sini, traveler tak perlu memesan makanan melainkan langsung mengambil nasi dan lauk di dapur.

Menu andalan di sini antara lain bronkos hingga oseng klompong. Jangan lupa juga untuk memesan geblek yang merupakan ikon Kulon Progo.

Geblek adalah makanan tradisional yang terbuat dari tepung tapioka dan bumbu bawang yang digoreng gurih. Geblek ini mirip dengan cireng di Jawa Barat.

Sebagai makanan khas Kulon Progo, geblek juga menginspirasi penamaan restoran ini. Koordinator Geblek Pari, Ardi, menjelaskan nama restoran itu memang mengangkat kekuatan geblek di Kulon Progo.

“Geblek makanan khas Kulon Progo seperti cireng. Pari itu padi. Jadi, Geblek Pari itu artinya makan geblek sambil lihat padi,” kata Ardi.

Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaMakan dengan view sawah di Geblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta (Foto: Putu Intan/detikcom)

Nama ini sangat cocok karena traveler dapat menikmati makanan sambil menikmati hijaunya persawahan dan perbukitan di Nanggulan. Suasananya sungguh syahdu dan menenangkan.

Bila sudah kenyang, traveler juga dapat berkeliling sawah dengan menyewa kendaraan. Geblek Pari menyewakan skuter hingga ATV untuk digunakan pengunjung.

“Harga sewa ATV per jam Rp 100 ribu. Kalau skuter per jam Rp 30 ribu – 40 ribu,” ujar Ardi.

Geblek Pari di Kulonprogo, YogyakartaGeblek Pari di Kulonprogo, Yogyakarta. Foto: Putu Intan/detikcom

Sementara itu, traveler juga dapat belajar membatik di Geblek Pari. Untuk harganya bervariasi tergantung media untuk membatiknya. Untuk kipas harganya Rp 40 ribu, totebag Rp 40 ribu, dan kain Rp 25 ribu.

Betah singgah di Geblek Pari, traveler juga bisa menginap di homestay. Geblek Pari memiliki 2 homestay yang masing-masing dilengkapi 4 tempat tidur. Untuk harga sewa per malamnya adalah Rp 400 ribu.

Geblek Pari buka setiap hari dengan jam operasional Senin – Jumat pukul 08.00 – 20.00 WIB. Sedangkan Sabtu – Minggu pukul 07.00 – 20.00 WIB.

(pin/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Baron Techno Park, Wisata Edukasi Punya Jam Matahari



Gunungkidul

Gunungkidul memiliki wisata edukasi yang berada tidak jauh dari area wisata pantai, yaitu Baron Techno Park. Jaraknya hanya sekitar 10 menit perjalanan dari Pantai Baron.

Baron Techno Park merupakan kawasan pengembangan energi terbarukan, pengunjung bisa melihat solar panel, menara kincir angin, dan pembibitan tanaman. Tempat ini berdiri pada tahun 2009 dengan dana hibah dari NORAD Norwegia.

Meskipun telah cukup lama berdiri, kawasan wisata ini masih tergolong sepi pengunjung. Padahal untuk masuk ke sini pengunjung tidak akan dikenakan tiket masuk.


Baron Techno Park terletak di Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Kawasan ini dibuka setiap hari Jam 09.00 – 17.00 WIB. Butuh waktu kurang lebih 1,5 jam untuk sampai ke sini jika berangkat dari pusat kota Jogja.

Daya tarik utama dari Baron Techno Park adalah Jam Matahari, kebanyakan pengunjung di sini datang untuk melihat monumen unik tersebut.

“Kan ini katanya tempat penelitian energi alternatif gitu ya tapi suka sih dibuka buat wisata juga, yang jelas bisa lihat Jam Mataharinya ini. Pemandangannya paling mantap daripada di pantai aja,” kata Darmi, pengunjung Baron Techno Park.

Saat masuk ke kawasan ini, akan ada petugas yang mengarahkan dan mengantar ke tempat Jam Matahari. Pengunjung harus berjalan sedikit di jalan setapak dan puluhan anak tangga untuk sampai di Jam Matahari.

Baron Techno Park, Gunungkidul, YogyakartaBaron Techno Park, Gunungkidul, Yogyakarta (Lintia Elsi)

Jam Matahari merupakan sebuah tugu yang dibangun miring dengan lingkaran jam yang bertuliskan angka Romawi. Untuk mengetahui jam, maka bisa melihat di angka berapa arah bayangan tugu terlihat.

Pada area Jam Matahari ini lah, pengunjung akan disuguhkan panorama laut biru membentang, ombak yang menabrak tebing karang, tumpukan batu-batu karang, dan pohon-pohon rimbun di sekitarnya.

Jam Matahari ini dikelilingi dengan pagar pendek dengan rerumputan hijau di sampingnya. Pengunjung juga bisa melihat menara kincir angin dan menara mercusuar Pantai Baron dari Jam Matahari ini.

Jam Matahari Baron Techno Park ini sangat cocok dikunjungi di sore hari, dengan menikmati hembusan angin sejuk dan sunset yang berpadu dengan ketenangan lautan luas.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Gua Maria Tritis, Wisata Religi dengan Stalaktit yang Memukau



Gunungkidul

Selain pantai, Gunungkidul juga memiliki wisata gua yang menawan. Namanya Gua Maria Tritis.

Gua Maria Tritis berada di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Gua Maria Tritis berada tidak jauh dari area Pantai Kukup, berjarak sekitar 15 menit perjalanan. Jika berangkat dari pusat kota Jogja maka akan membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

Dulu, gua ini kerap menjadi tempat persinggahan pangeran dari Kerajaan Mataram. Kemudian, pada 1974 baru dikenal oleh umat Katolik setelah digunakan sebagai tempat Ekaristi Natal.


Nama ‘Tritis’ diambil dari air yang terus menetes dari stalaktit di langit-langit gua. Lalu ditambah dengan ‘Maria’ setelah gua ini mulai sering digunakan sebagai tempat peziarahan umat Katolik.

Gua ini terletak di kawasan perbukitan karst Gunungkidul. Saat memasuki kawasan gua, pengunjung akan diminta untuk memarkirkan kendaraan di tempat parkir yang berada di seberang toilet dan pondok Emmaus.

Gua Maria Tritis di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.Gua Maria Tritis di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. (Lintia Elsi)

Kemudian, pengunjung harus berjalan melewati jalan setapak yang menurun untuk sampai di depan gua. Di sini ada bangunan kantor pengurus dan toilet. Suasananya masih sangat asri dengan pohon-pohon rindang di sekitarnya.

Stalaktit dan stalagmit menghiasi bagian dalam gua, tempat duduk kayu untuk berdoa tersusun rapi di tengah-tengahnya. Terdapat patung Maria di salah satu sudut gua, juga patung Yesus di sudut lainnya.

Gua ini juga tampak indah dengan tanaman hijau alami di sisi-sisinya, jalan batu di depan, dan pagar yang membatasi area gua dengan lubang besar di sampingnya.

Pengunjung juga bisa mencoba menaiki jalanan menanjak untuk sampai ke puncak kawasan ini yaitu Bukit Golgota. Bukit ini merupakan bukit batu dengan tiga salib di atasnya.

Gua Maria Tritis di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.Gua Maria Tritis di Jalan Sapo Sari, Dusun Bulu, Paliyan, Gunung Dowo, Giring, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. (Lintia Elsi)

Tidak jauh dari Bukit Golgota terdapat stasi ke-14 di mana menjadi tempat Yesus dimakamkan. Dari atas sini pengunjung bisa langsung berjalan lurus hingga tembus ke area parkiran awal.

Saat detikTravel mengunjungi Gua Maria Tritis, gua ini tampak cukup sepi dan tenang.

“Biasanya pagi itu lumayan rame, kalau mau Natal agak sepi karena kan banyak yang pulang kampung, nanti tahun baru rame lagi,” kata seorang petugas kebersihan Gua Maria Tritis.

Gua Maria Tritis ini bisa dikunjungi siapa saja, tidak terbatas pada umat Katolik saja. Tidak ada biaya masuk yang ditetapkan, pengunjung bisa membayar di kotak yang terletak dekat tempat parkir seikhlasnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Menikmati Jamu Racikan Leluhur di Desa Wisata Kiringan Yogyakarta



Bantul

Jamu merupakan minuman tradisional yang sarat akan khasiat dan budaya. Traveler dapat menikmati jamu warisan leluhur di Desa Kiringan, Yogyakarta.

Desa Wisata Kiringan di Bantul, Yogyakarta dikenal sebagai desanya para perajin jamu. Hingga kini, tercatat ada 132 perajin jamu yang aktif memproduksi minuman tradisional di sana.

Penasaran dengan desa jamu itu, detikcom berkunjung ke Desa Wisata Kiringan beberapa waktu lalu. Di sana, kami berjumpa dengan salah satu perajin jamu yakni Murjiati.


Murjiati merupakan ketua perajin sekaligus ketua Koperasi Jamu Kiringan. Ia memiliki produk jamu yang dinamakan Riski Barokah.

Di rumahnya yang sederhana, ia setiap hari membuat jamu untuk dijual di Pasar Imogiri. Setiap hari, ia menyiapkan sekitar 100 porsi jamu untuk para penikmat jamu yang sudah menjadi langganannya.

Desa Jamu Kiringan di YogyakartaDesa Jamu Kiringan di Yogyakarta. Foto: Ari Saputra/detikcom

Jamu yang ia jual beragam. Mulai dari kunyit asam, beras kencur, hingga uyup-uyup. Murjiati mengaku, jamu yang ia produksi ini mempertahankan resep dari para pendahulunya.

“Saya penjual jamu dari warisan nenek moyang. Dulu Si Mbah (nenek) saya jualan jamu antara tahun 60-an. Setelah Si Mbah sudah tua, diganti Ibu. Ibu sudah tua, saya yang menggantikan. Saya jualan jamu sejak 1985, sejak usia 15 tahun sudah mulai jualan,” kenangnya.

Menurutnya, resep jamu leluhur yang paling penting adalah menggunakan bahan alami dan tanpa pengawet. Dengan racikan itu, manfaat jamu untuk kesehatan akan menjadi maksimal.

“Semua perajin jamu di Dusun Kiringan tidak ada pengawet sedikit pun. Kita membuat jamu yang segar dan instan (kemasan seduh) secara alami, herbal. Tidak ada sedikit pun bahan yang untuk diawetkan, nggak ada. Jadi semua betul-betul alami,” kata dia.

Desa Jamu Kiringan di YogyakartaKetua perajin jamu di Desa Kiringan, Murjiati. (Foto: Ari Saputra/detikcom)

detikcom yang penasaran dengan rasa jamu Desa Kiringan memutuskan untuk mencobanya. Keunikan meminum jamu di sini adalah tidak menggunakan gelas melainkan memakai batok kelapa.

Sensasi minum jamu secara tradisional ini yang membuat pengalaman itu semakin menyenangkan. Apalagi dengan pemandangan sawah pedesaan yang membuat hati senang.

Rasa jamu kunyit asam yang detikcom rasakan memang lebih segar dari pada jamu-jamu yang biasa dijual di Jakarta. Rasa rempah-rempahnya lebih mendominasi ketimbang manisnya gula. Setelah meminum sebatok jamu, badan juga terasa lebih bugar.

Sebatok jamu ini dihargai Rp 4.000 – 5.000 tergantung jenis jamunya. Selain menjual jamu segar, Murjiati juga memproduksi jamu instan dalam kemasan yang bisa diseduh sewaktu-waktu. Untuk sebotol jamu instan dihargai Rp 15 ribu.

(pin/fem)



Sumber : travel.detik.com